Trying to love.

Cast :

Jung Yunho

Choi Siwon

Kim Jaejoong

Etc.

This is only a fiction,not real.

Ff pertama yang dipublish dimohon untuk memberi saran dan komentar yang membangun.

.

.

.

Enjoy!

Suara omelan khas ibu-ibu terdengar didalam kamar yang bertema black white karena kamar tersebut hanya terdapat warna hitam dan putih. Dapat disimpulkan jika itu adalah kamar dari seorang lelaki.

"Sudahlah umma! Aku sudah besar. Aku tahu mana pakaian yang pantas untuk datang ke undangan tak berguna itu"

Sang ibu dengan cepat mengapitkan jari telunjuk dan jempolnya kearah telinga sang anak. Dengan rasa kesal menariknya dengan kencang membuat sang anak mengaduh kesakitan.

"Pakai pakaian yang formal Yunho!"

Yunho berusaha menarik tangan sang umma dari telinga kanannya. Jari ummanya memang lentik tapi jika menjewer rasanya akan sangat sakit.

"Kalau begitu aku tidak usah datang saja. Bukan urusan penting juga bukan?"

Sang umma menyambar lagi telinga kanannya lalu menarik dan memutarnya membuat Yunho berjingkrak kesakitan. "Turuti semua kata-kata umma Yunho!" Yunho menarik paksa jari ummanya dengan sumpah serapahnya. Yunho mengusap-ngusap telinganya yang memerah merata,ini sungguh menyakitkan sampai-sampai berefek pada area yang lain. Yunho merasa payah hanya dengan jeweran sang umma ia bisa menjerit kesakitan.

"Cepat ganti bajumu Jung Yunho! Kita akan telat!" Omel ummanya dengan geplakan dikepalanya. Yunho semakin kesal,ia berjalan menghampiri lemari pakaian dan mengambil setelan kemeja putih dengan celana hitam ditambah coat hitam sepanjang lutut.

"Umma keluarlah." Usir Yunho dengan cantik,mana mungkin ia buka baju dihadapan sang umma. Ia malu tentu saja.

"Ck. Umma sudah tahu semua lekuk tubuhmu Yun" Yunho tersedak ludahnya sendiri. Ia tak salah dengar? Kapan umma melihat tubuhnya? Ah,mungkin ketika ia masih seorang bayi.

"Ya. Ketika aku bayi,"

"Yang umma lihat adalah Jung Yunho yang sudah dewasa"

Mata sipit Yunho terbuka lebar. "Aku tidak percaya" ujar Yunho dengan wajah yang dibuat sesantai mungkin. Tangan kanannya ia pakai untuk merapikan rambutnya berhadapan dengan cermin yang hampir sama setinggi tubuhnya.

"Umma juga melihat itu Yun"

Yunho berbalik dengan wajah yang horror. Ia paham apa yang di maksud itu oleh ummanya.

"Umma!" tertawa puas setelah menggoda anaknya itu. Mimik wajah Yunho sangat absurd ketika ia sedang kesal.

Yunho mengunci pintu kamarnya ketika sang umma sudah keluar,mungkin jika yang berbicara itu temannya sudah ia pukul tapi ia masih ingat dan sadar itu adalah ummanya. Wanita paling cantik menurutnya ia bisa dikatakan anak durhaka jika melakukan tindakan kekerasan pada wanita,terlebih lagi itu ibunya.

Yunho berganti baju sesuai yang dikatakan ummanya. Malam ini adalah malam pertemuan dengan seorang nenek lampir dan ia sama sekali tidak berniat mendatanginya. Terpaksa,terpaksa demi kehormatan keluarga.

Lihat saja nanti,

Jika membahas tentang perjodohan ataupun pernikahan ia tak segan-segan akan langsung pergi meninggalkan tempat itu.

Yunho sedikit merapikan rambut coklatnya yang sedikit dipoles minyak rambut lalu menyisirnya searah.

Perfect.

Satu kata yang dapat menggambarkan Yunho saat ini. Yunho memang seorang lelaki dewasa tapi jangan salah mode fashionnya sangat lah elegan dan glamour. Dia seorang bussinesman handal,ia orang penting yang kadang-kadang menjadi sorotan dan headline disurat kabar akan kiprahnya didunia karir.

Yunho memang sedari kecil di didik untuk menjadi penerus ayahnya karena dirinya lah yang seorang anak lelaki satu-satunya. Sebenarnya Kakaknya pun bisa menghandel perusahaan almarhum ayahnya tetapi bisa dibayangkan bukan bagaimana beratnya tanggung jawab yang dibutuhkan. Sejak dulu kodrat Lelaki adalah seorang pemimpin,karena itulah Yunho adalah pewaris terbesar dibanding nuna nya Jung Hyeri.

Pintu kamar terbuka dan menampilkan Yunho yang sudah berpakaian rapi.

Ia menuruni tangga dengan cepat tanpa rasa takut terjatuh.

yang sejak tadi duduk menunggu langsung berdiri tegak dan menghampiri Yunho,

"Ya Tuhan. Anakku," berdiri dihadapan Yunho dan menepuk-nepuk dada bidang anaknya.

"Kau sangat tampan nak," dengan mata berbinar senang memuji Yunho. Yunho tersenyum tipis ketika mendengar pujian ummanya. Ia sudah sering mendengar pujian itu namun jika ummanya yang mengatakan rasanya beda.

Terlebih lagi jika Jaejoong yang mengatakannya.

O,

Ia jadi merindukan si kucing manis itu.

"Aku memang tampan" Jawab Yunho dengan senyuman percaya diri. Membuatnya semakin mempesona.

"Ayahmu bahkan lebih tampan saat muda dulu,"

Down.

Apa maksudnya ini? Awalnya memuji lalu dijatuhkan. Bukankah seharusnya ia yang lebih tampan?

Dasar. Yunho mencebilkan bibir hatinya dan berlalu menuju mobilnya.

tertawa,sifat Yunho memang seperti itu. Tak mau dikalahkan.

.

.

.

Yunho dan berjalan beriringan ketika masuk kedalam pintu utama restauran mewah yang menjadi lokasi pertemuan mereka.

Tangannya meng genggam jemari ibunya. Sesekali Yunho tersenyum pada ummanya,orang tua satu-satunya. Dan ia harus menjaga berlian langka ini,sesuai dengan ucapan appa nya.

Anak dan umma yang sangat harmonis.

Mereka berdua masuk kedalam ruangan yang sangat private dan tatapan musang Yunho dapat melihat wanita itu dengan kedua orang tuanya,dan Yunho yakini satu lagi wanita muda yang duduk disamping Ahra adalah putri kedua keluarga Go.

"Suatu kehormatan datang tepat waktu," Tuan Go -Go Seung Chul- bangun dari duduknya dan sedikit berbasa basi pada Umma Yunho.

"Tentu kami akan datang," ujar dengan senyuman yang merekah di bibir tebalnya yang berlapis lipstick mahal.

"Silahkan duduk,"

Yunho menarikan kursi untuk ummanya,Ahra yang melihat perlakuan Yunho terhadap ibunya semakin senang dan tak berhenti menatap gerak gerik Yunho sedari tadi. Menurutnya Yunho adalah laki laki yang sangat menghormati wanita. Gentleman.

Ia jadi membayangkan jika ia benar-benar menjadi pasti ia akan sangat dijunjung tinggi oleh pria tampan seperti Jung Yunho.

Jangan terlalu berharap

Yunho mengumpat dalam hati.

Tersisa kursi kosong untuknya dan sialnya ia harus duduk berhadapan langsung dengan wanita ini.

Ia tahu,ini telah terancana.

Terpaksa dan demi kenyamanan,ia duduk.

"Ah. Yunho sudah besar ternyata. Kau sangat bijak mendidiknya So Yeon ah. Yunho sangat sukses sekarang" ucap wanita paruh baya,istri dari tuan Go.

Yunho hanya tersenyum tipis.

"Ayahnya yang sangat menginginkan Yunho menjadi penerus. Jadi ia memang mendidiknya tentang bisnis ketika masih kecil"

mengangguk pelan.

"Bagaimana perusahaanmu Yunho ah?"

"Lancar" Oke. Ini memang sangat singkat sebagai jawaban. Tapi tak apa. Ia sangat malas menjawabnya dan rasanya ingin pergi.

"Yunho"

Yunho menoleh kearah wanita yang didepannya. Bola matanya yang tajam sangat tidak suka ketika menatapnya,lihatlah wajahnya yang memakai dempul terlalu tebal.

Bayangkan wajah Jaejoong saja. Ucapnya dalam hati.

"Kau sangat tampan hari ini"

"Ya benar. Yunho oppa sangat tampan unni"

Yunho juga sadar jika ia memang tampan.

"Gomawo," Yunho berusaha tersenyum.

Kakak dan adik sama saja ternyata. Yunho masih menatap Ahra dengan wajah datar. Ahra tersenyum kepadanya dan hanya dibalas dengan senyuman sengitnya.

"Baiklah. Kita mulai saja pembicaraanya" Tuan Go membuka suara yang lagi-lagi membuat Yunho malas.

Perjodohan. Pasti akan membahas kata penuh makna itu.

"Sesuai perjanjian kita semua. Kita sepakat untuk menjodohkan anak ki-"

"Sepakat?" Yunho bertanya ketika menurutnya ada kejanggalan.

"Ya"

"Siapa yang menyepakati? Bukankah aku belum menentukannya?"

Tuan Go tertawa pelan membuat Yunho bingung dan sedikit kesal akan suara tawanya. Seperti meremehkan.

"Ayahmu sendiri yang menyetujuinya Yunho"

"Mwoya?!"

Nada bicara sedikit meninggi ketika mendengar itu semua. Ia langsung menoleh kearah ummanya,ia butuh penjelasan. Sesungguhnya apa yang sedang disembunyikan?

"Dengarkan dulu Yunho" ucap ummanya setenang mungkin.

"Aku butuh bukti jika memang benar appa yang menyutujui"

Tuan Go menyerahkan beberapa kertas putih penuh tulisan penting kehadapan Yunho yang membuat Yunho semakin marah dan melempar lembaran kertas itu asal.

"Apa maksudnya ini?!"

Yunho bangun dari duduknya. Nafasnya menderu dengan dada yang naik turun karena emosi.

"Seperti yang kau baca"

Tuan Go tersenyum yang dibuat-buat.

"Ayahmu telah menanda tangani perjanjian. Kau tahu?"

"Atas dasar apa Ayahku menandatangani ini?"

Yunho bertanya dengan suara tegas.

"Persahabatan hahaha" Tuan Go tertawa mengejek. Tuan Jung memanglah sahabatnya sejak kecil.

"Jika kau tidak menerimanya 50% saham perusahaan milik ayahmu akan diberikan kepadaku. Dan aku tau kau tidak bodoh bukan? Akan seperti apa dampaknya nanti"

"Kenapa bisa begitu?"

"Karena Ayahmu juga tuan muda Jung Yunho"

Yunho menatap tak percaya setelah apa yang didengarnya. Sesak. Hatinya sesak mendengar itu semua,ayahnya dengan mudah begitu saja menyutujui akal busuk sahabatnya ini. Sekuat tenaga ia menahan emosi,matanya sudah memerah. Ia marah,sangat.

Ia menarik nafas kasar ketika melihat ibunya yang sedang menatapnya dengan tatapan berharap. Ia benci pada ibunya. Apakah ummanya tidak sadar jika ia menjodohkan anaknya dengan seorang wanita busuk itu.

"Dan satu hal lagi yang harus kau tahu. Ini adalah suatu perjanjian resmi yang tak bisa diganggu gugat."

Yunho menatap benci Go Seung Chul. Dengan emosi yang tak terkendali ia pun menendang kursi yang diduduki nya hingga terpental dan memecahkan guci besar yang berada diruangan itu.

"Yunho!" berteriak memanggil anaknya. Ya ampun kenapa dia sangat keras kepala sekali? Apa salahnya menerima perjodohan ini? Apa Ahra kurang cantik? Menurutnya bahkan sangat cantik.

Wajahnya memang cantik. Tetapi hatinya tidak.

Ahra yang melihat Yunho pergi hanya menatap sendu. Baru sekejap ia menatap wajah tampan Yunho sekejap juga Yunho meninggalkannya.

Tapi tak apa,sebentar lagi ia akan menjadi istri Yunho. Yang setiap saat dapat menatapnya dan mungkin mencumbunya sekalian.

Ahra menyeringai.

.

.

.

Mobil sedan berwarna hitam melaju dengan kecepatan tak terkira,bunyi klakson dari kendaraan lain saling bersahuta sebagai tanda peringatan dan kemarahan akan tindakan yang Yunho lakukan. Emosi yang membuatnya bertindak diluar akal sehat,mengemudi mobil dengan kecepatan tinggi dan tak sesuai aturan.

Secepat kilat juga ia sampai diapartemen nya. Yunho ingin mengurung diri untuk beberapa hari kedepan,ia ingin menenangkan semuanya. Emosinya saat ini sedang meletup-letup bahkan wajahnya pun ikut memerah. Yang ia herankan kenapa ummanya bersikap biasa-biasa saja?

Astaga. Ia sangat marah pada ummanya. Ini masalah besar. Dan otak pintarnya belum bisa berpikir untuk saat ini pikirannya campur aduk sama seperti perasaanya. Ia belum bisa memutuskan untuk apa kedepannya. Ia bingung sungguh.

Yunho keluar dari lift,langkah lebarnya terus melangkah kearah pintu apartemennya. Ia ingin istirahat untuk malam ini.

Langkahnya terhenti saat melihat namja pujaannya sedang berdiri didepan pintu kamarnya dengan kepalan tangan yang mengetuk pintu dan memencet bel bergantian.

Emosi Yunho mulai mereda ketika melihat mata bulat Jaejoong. Mimpi atau tidak Yunho melihat Jaejoong sedang tersenyum kearahnya.

Yunho tetap diam,dengan arah tatapan yang masih menatap Jaejoong. Dengan refleks ia melangkahkan kakinya mendekat kearah Jaejoong dan tak diduga memeluk Jaejoong dengan erat.

Jaejoong terkejut. Tubuhnya menegang kala ia merasakan rasa hangat menyergap sekujur tubuhnya,ia dipeluk. Dan ia merasa canggung,tubuhnya terbiasa dipeluk Siwon namun kini ia dipeluk orang asing.

Jaejoong mendengar Yunho terisak.

Ada apa? Pikir Jaejoong.

"Ju- jung?"

Panggilan terbata keluar dari bibir Jaejoong.

"Kau kenapa?" Jaejoong bertanya lagi. Tanpa sadar kedua tangannya membalas pelukan Yunho tangan kananya menepuk punggung lebar Yunho dengan pelan.

Yunho menggeleng dan mengeratkan pelukannya. Otomatis tubuh Jaejoong menegang lagi,jantungnya berdebar. Ia akui pelukan Yunho membuatnya merasa hangat dan nyaman.

Yunho melepaskan pelukannya tanpa menatap kedua mata Jaejoong.

"Maaf."

"Ya! Ada apa denganmu bodoh?!"

"Ada masalah"

"Dasar payah. Begitu saja sudah lemah"

"Kau juga lemah,"

"Apa maksudmu?!" Ini yang Yunho suka. Omelan sang mama muda.

"Tidak ada maksud apa-apa"

Jaejoong mendengus. "Ayo kita makan bersama. Changmin mengajakmu" ajak Jaejoong yang memang itulah tujuannya sedari tadi.

Yunho mengangkat alisnya sebentar. Tumben sekali si Nyonya Choi berbaik hati. Makan malam? Tak buruk juga secara tidak langsung apakah ini ajakan dinner? Tak apalah walaupun dengan Changmin juga. Yang terpenting adalah ia bisa melihat si kucing manis miliknya.

Ingat ia Milik Choi Siwon. Jung!

Seketika Yunho langsung menghela nafas ketika mengingat kenyataan itu.

"Kau mau tidak?"

Tatapan Yunho langsung terarah pada mata doe Jaejoong. Ia ingin mengumpat sekarang juga. Ia melihat Jaejoong hanya memakai kaus tanpa lengan muda dengan poni yang dijepit.

Jaejoong sangat sexy dan manis disaat bersamaan.

Tahan nafsumu Jung! Tahan.

Istri orang memang menggoda ternyata.

"Baiklah" Yunho menyetujui ajakan Jaejoong. Jaejoong tanpa peduli detakan jantung Yunho langsung menarik tangan Yunho untuk masuk kedalam rumahnya dan menikmati makan malam.

.

.

.

Changmin berlari kearah dapur ia masih mengenakan piyama biru dengan tokoh kartun Thomas. Kaki-kaki mungilnya terus berlari dan berteriak dengan suara cemprengnya.

"Ummaaa~"

Grep.

Changmin dengan kaki mungilnya berlari menuju tempat yang biasanya disinggahi oleh ummanya yaitu dapur. Ia terus berlari dengan cepat dan langsung memeluk kaki ummanya. Mengusap-ngusapkan kepalanya pada butt ummanya. Karena tinggi kepalanya hanya sebatas itu.

"Oh!"

Jaejoong melepaskan pelukan Changmin dan langsung menggendongnya. Menciumi semua wajah anaknya dengan teliti tanpa ada yang terlewat.

Changmin memeluk leher ummanya dengan manja.

"Umma!"

"Ya?"

"Apa min akan masuk sekolah hali ini?"

"Yes. Kau akan sekolah dan mempunyai banyak teman nanti. Ada Kyuhyun juga."

"Benal umma?"

Jaejoong mengangguk.

"Yeah! Min ingin belmain dengan Kyu,umma~"

"Nanti sayang. Sekarang ayo kita sarapan. Lalu bersiap-siap untuk sekolah"

Jaejoong mendekat kearah meja makan dan menurunkan Changmin dari gendongannya. Kedua tangan nya sibuk menuangkan masakannya ke piring menaruhnya didepan Changmin dan kembali ke counter dapur untuk membuatkan segelas susu Changmin. Ia kembali kemeja makan dan mulai menyantap makanannya bersama dengan anaknya.

"Makan pelan-pelan sayang"

Changmin mengangguk dengan mulut yang sibuk mengunyah.

Kring! Kring!

Bunyi ponsel Jaejoong membuatnya menaruh sendok dan merpgoh sakunya. Senyumnya langsung terkembang lebar ketika melihat suaminya meneleponnya. Dengan video call.

Tanpa menunggu lama dengan lincah Jaejoong menekan tombol terima. Ia pun bangun dan menghampiri Changmin.

"Appa menelepon sayang"

Layar handphone Jaejoong menampilkan wajah cerah Siwon yang sedang memakai seragam Pilot lengkap dengan topinya. Jaejoong terpesona melihat betapa gagah dan tampannya Siwon.

"Hai kedua malaikatku" Siwon menyapa keduanya dengan tangan melambai.

"Uwwaa appa!"

"Hai jagoan Choi. Apa kabarmu sayang?"

"Min dan Umma baik-baik saja appa. Appa! Appa! Hali ini min masuk sekolah" ucap Changmin heboh. Jangan lupakan dimulutnya masih ada makanan yang belum terkunyah semua.

"Benarkah? Kalau begitu Appa akan cepat pulang dan mengantarkan Min sekolah. Otte?"

"Ide bagus sayang. Cepatlah pulang,aku merindukanmu" Jawab Jaejoong dengan wajah yang sangat berseri-seri. Siwon tertawa pelan menampilkan lesung pipinya yang manis.

"Baiklah sayang. Min tunggu appa ok? Kunyah dulu sarapanmu Min"

Changmin mengangguk. Dan mengayunkan rahangnya dengan cepat lalu menelannya bulat-bulat.

"Appa sedang apa?"

"Appa sedang dibandara. Kau lihat itu? Itu kapal yang akan appa kendarai"

Layar handphone Jaejoong berubah menjadi menampilkan lapangan besar dengan pesawat jumbo berwarna putih.

Changmin berteriak heboh. Selain robot,Changmin juga sangat menyukai pesawat.

"Pesawatnya besal sekali appa! Min mau naik belsama appa~"

Siwon tersenyum. Melihat antusias anaknya. Ah ia jadi ingin pulang sekarang dan memeluk keduanya.

"Nanti arra? Appa,Umma dan Min naik pesawat bertiga lalu keliling dunia" Ucap Siwon dengan suara yang dibuat seceria mungkin.

"Awas kau tak menepati janjimu tuan Choi. Aku akan marah kau tahu"

"Hahaha. Aku janji istriku yang paling manis"

"Kalau begitu sebaiknya Appa bekelja dengan giat supaya kita bisa berlibul Appa"

Siwon mengangguk. "Siap kapten! Kalau begitu appa tutup dulu ne? Appa harus bekerja lagi. Baik-baiklah dengan Umma sayang,jangan nakal dan tunggu Appa kembali"

"Ne Kapten!"

"Jaga kesehatanmu Wonnie ya. Jangan telat makan arra?"

Siwon mengangguk lagi.

"Saranghae Choi Jaejoong"

"Saranghae Choi Changmin"

Klik.

Sambungan terputus.

.

.

.

Yunho terbangun dengan wajah berantakan ia masih memakai pakaian lengkap dengan jas nya. Tubuhnya mulai segar kembali tetapi pikirannya masih kalut teringat kejadian semalam. Mulai hari ini ia harus memutuskan semuanya dengan bijak jangan sampai ia bertekut lutut pada Ahra.

Hal pertama yang harus dilakukannya adalah menanyakan langsung perihal ini pada ibunya.

Yunho berjalan memasuki kamar mandi,ia akan berendam air hangat. Dan sambil berpikir sesekali.

.

.

.

Jaejoong dan Changmin saat ini sedang berada didepan gerbang taman kanak-kanak. Changmin terlihat tampan dan lucu ketika memakai seragam sekolah berwarna biru muda yang sangat pas ditubuhnya. Jaejoong jongkok untuk menyamai tinggi badanya dengan Changmin.

"Belajarlah dengan baik. Jika kau jadi anak pintar akan umma kasih hadiah" tangan Jaejoong mengusap kepala Changmin dengan lembut.

"Jangan nakal pada teman barumu. Pulang sekolah nanti kita akan makan siang direstauran yang paling enak"

Changmin dengan antusias mengangguk cepat dan mencium kedua pipi ummanya dan yang terakhir mencium bibir ummanya.

Jaejoong membalas ciuman Changmin dengan dipipi.

"Ne umma. Jangan lupa jemput Min"

"Ne. Cepat Masuk sayang" Jaejoong berdiri dan matanya terus menatap langkah Changmin yang sedang memasuki pintu sekolah. Jaejoong meRasanya senang sekali ketika melihat Changmin sudah mulai besar dengan berbagai tingkah konyolnya.

Setelah memastikan Changmin masuk Jaejoong berjalan kearah mobilnya. Hari ini ia akan menemui ibunya,sudah lama ia tak berjumpa. Inipun karrna ia ditelpon untuk datang dan membantu ibunya dibutik. Jaejoong adalah perancang busana dibutik ibunya. Karena itulah ibunya menyuruh untuk datang.

.

.

.

Pintu utama rumah bernuansa gold and silver itu terbuka. Pelaku yang membuka pintu adalah seorang namja dewasa,wajahnya yang tampan hanya menampilkan wajah yang datar dengan tatapan yang tajam.

"Tuan muda-"

Ucapan sang ketua butler terhenti ketika Yunho hanya melewatinya begitu saja. Tujuan kaki Yunho sekarang ini hanyalah kamar ibunya.

Cklek.

Tanpa ketukan terlebih dahulu Yunho langsung membuka pintu kamar ummanya. Umma nya terkejut melihat kedatangannya dengan tatapan yang tidak dapat diartikan.

"Yun-"

"Umma! Pokoknya aku tidak mau dijodohkan dengan Go Ahra!"

Ummanya langsung menggeplak lagi kepala Yunho.

"Apa alasanmu kali ini?"

"Dia bukan wanita baik-baik."

"Dasar bodoh! Apa susahnya bilang iya? Lagipula Ahra anak yang cantik dan sopan dari keluarga terpandang juga bukan? Bahkan ayahnya sahabat Appamu Yun."

"Tapi aku tidak menyukainya Umma! Aish" Yunho duduk diranjang ummanya dan mengacak rambutnya.

"Ingat Yunho 50% saham bisa dimiliki keluarga Go! Jangan bertindak bodoh!" Ummanya berusaha untuk membujuknya yang sekeras batu.

"Aku bisa mengendalikan itu nanti"

"Ini soal perjanjian resmi Yunho! Ayahmu sendiri yang menandatanganinya. Kita bisa dilaporkan jika menyalahgunakan sesuatu yang resmi. Umma mohon,menikahlah dengannya Yun"

Yunho berbaring dan mengacak-ngacak kasur ummanya yang sudah rapi.

"Ya! Dasar anak bodoh apa yang kau lakukan?"

mengomel dan menarik baju Yunho gemas. Kekanakan sekali.

"Cepatlah berangkat kekantor Yun"

Yunho masih berbaring telungkup. Rasanya ingin kabur dari sini agar ia dijauhkan dengan nenek lampir itu. Tapi jika ia pergi ia tidak bisa bertemu dengan Jaejoongnya.

"Cepat bangun!"

Dengan bantal guling ummanya memukul pantatnya dengan ganas dan bertubi-tubi. Aish ummanya benar-benar menyebalkan. Membuat moodnya turun saja.

"Nanti siang Ahra akan menemuimu Yun"

Yunho memutar bola matanya malas. Saat ini ia sedang badmood dan dihadapkan dengan kedatangan wanita itu siang nanti. Ia butuh hiburan,ia butuh kecupan Jaejoong jika boleh meminta.

Dasar otak mesum.

Yunho bangun dan berjalan keluar rumah tanpa kata pamit untuk ummanya. Ia sedang kesal.

.

.

.

Yunho sampai dikantornya dengan tak diduga si jidat lebar sudah ada disampingnya. Menampilkan cengiran menyebalkannya.

"Hai bung. Semakin tampan saja"

Yunho menyikut perut Yoochun dengan ganas. Ia merasa geli jika Yoochun mengatakan itu.

"Dan kau semakin jelek" ujar Yunho membuat Yoochun merasa sakit hati.

"Kau menyakiti ku Jung!"

Yunho berjalan dengan cepat tanpa menghiraukan si Yoochun. Sepertinya Yoochun butuh asupan,ia yakin pasti anak itu belum sarapan.

"Lebih baik kau sarapan Chun." Ucap Yunho

"Ayo kita sarapan bersama dan-"

"Dan kau yang membayar" potong Yunho cepat. Ia sangat hapal dengan kalimat ini. Anak ini memang tak pernah modal,modal jika didepan wanita saja.

.

.

.

Sesuai dengan yang dikatakan . Ahra datang ke kantor Yunho dengan dress berwarna putih dan rambut yang diikat rendah. Dengan percaya diri ia menghampiri meja resepsionis untuk menanyakan apakah Yunho ada diruangannya atau tidak.

"Apakah Yunho ada diruangannya?"

"Nde. Nona Go,beliau ada diruangannya" Ahra mengangguk dan langsung pergi. Ia jadi tak sabar melihat wajah calon suaminya ini. Pasti akan sangat tampan seperti hari hari sebelumnya.

Ahra mengetuk 3 kali pintu ruangan Yunho dan tanpa menunggu persetujuan dari Yunho ia masuk disertai senyuman lebar dibibirnya.

"Hai Yunho"

Yunho mengangkat kepalanya yang tadi sedang menunduk membaca dokumen. Melepas kaca mata bacanya dan menatap Ahra dengan malas. Ternyata benar apa yang dikatakan ibunya. Wanita ini akan datang.

"Kau sudah makan siang? Aku membawakanmu beberapa makanan. Cobalah"

Yunho memperhatikan cara berpakaian Ahra yang menurutnya sangat terbuka dibagian dada. Bukan ia sengaja untuk melihat bagian itu tapi memang kenyataannya lah yang begitu(?).

Yunho menghampiri Ahra dan duduk disofa lain. Tidak mungkin ia duduk disamping Ahra.

Ia melihat makanan yang dibawa Ahra dan menatapnya dengan penuh curiga. Ia yakin ini bukan Ahra yang memasaknya.

"Apa ini masakanmu?" Yunho bertanya sambil tangannya menyumpit daging bulgogi itu.

"Ah bukan. Yang membuatnya adalah koki dirumahku"

Yunho mengunyah pelan seolah merasakan rasa daging tersebut. Rasanya enak karena memang itu buatan seorang koki.

"Jadi kau tidak bisa memasak?" Tanya Yunho membuat Ahra merengut sebal.

"Kau tahu kan jika memasak kuku ku akan rusak"

Nah!

Ini yang Yunho tidak suka. Bukankah wanita seharusnya bisa memasak walau hanya memasak mie instan sekali pun? Bagaimana jadinya anaknya nanti jika ia menikahi Ahra?

Untuk hal ini Jaejoong lebih unggul dari Ahra dan bahkan rasa masakan Jaejoong lebih enak dan segar dari pada masakan koki ini. Bahkan kemarin malam ia ketagihan dan makan dengan lahap dirumah Jaejoong.

"Ya aku paham," Yunho beranjak bangun dari sofa dan kembali duduk dikursi kerjanya.

"Yun? Habiskan dulu makananmu" kata Ahra yang melihat Yunho tak melanjutkan makanannya yang bahkan tadi hanya memakan satu suapan.

"Tidak nafsu makan"

Ahra mengangguk paham. Ia pun menutup kembali makanan itu.

Yunho tersenyum kecut melihatnya. Bukankah sebagai calon istri yang baik seharusnya memaksa agar suaminya makan? Dan bahkan dia tidak menanyakan sama sekali bagaimana rasanya? Ataupun itu? Yunho semakin muak dengannya.

"Yun?" Panggil ahra dengan nada sedikit manja. Membuat Yunho yang mendengarnya geli.

"Hm"

"2 minggu lagi kita akan menikah jadi-"

"MWO?!"

.

.

.

TBC

Halo. Ini chap 5 nya ya. Gini doang? Ya cuman begini doang wkwk😂 semoga ada yang masih berniat buat baca lanjutan nih ff-_-.

Terima kasih yang sudah membaca dan voment dichap sebelumnya. Mulai saat ini saya usahakan untuk selalu update setiap. Jujur saat ini sibuk sekolah dan banyak tugas plus hafalan -gananya juga sih ya- maklum siswa baru masuk SMA/?

See you👄.

Thank You