Hongbin sengaja berlama-lama di toko itu. Sesekali pandangannya keluar, memastikan teman Ravi itu tidak mengejarnya.

Hari sudah mulai gelap, Hongbin keluar dan ia berlari ke rumahnya.

"CHEEEERSSSSS! YEEEAAAHHHHH!" Wonshik dan teman-temannya meminum beer sambil berjoget tidak jelas di suatu bar.

"Bos! Aku dengar ada anak baru di sekolahmu"

Wonshik tertawa kecil dan ia menyisir rambutnya dengan jarinya.

"Bos! Aku juga dengar kalau dia itu... lumayan kaya bos."

Wonshik memukul meja dengan keras.

"Aku yang terkaya!" Kata Wonshik dengan sombong.

"Tapi kenapa kau selalu memeras orang lain bos? Kau k"

"Diam!" Bentak Wonshik.

Wonshik menegak beernya lagi.

"Aku tidak ingin uangku habis.." jawabnya singkat.

"Wooooooooooooooo" sahut teman-teman Wonshik dengan serentak.

"Jadi... bagaimana dengan anak baru itu?"

Wonshik mengangkat jarinya.

"Biar aku saja yang menanganinya." Wonshik tersenyum nakal.

Keesokan harinya, Hongbin datang lebih awal. Keadaan sekolah sangat sepi saat itu. Ia sengaja, karena ia sangat menyukai ketenangan.

Sampai di kelas, ia terkejut, ia terdiam di tempat.

"Hei anak baru!" Wonshik mendekati Hongbin dengan wajah yang sangar.

Hongbin mengambil langkah mundur perlahan hingga ia bersandar pada dinding di belakangnya.

Wonshik mengejeknya.

"Kau takut?" Tanyanya dengan alis yang terangkat.

Hongbin melihat penampilan Wonshik sekilas.

Kini Wonshik telah mengecat lagi warna rambutnya menjadi silver-grey. Dan ia menata rambutnya sedikit basah. Bajunya terlihat ketat di dadanya dan memamerkan ototnya. Dan tatonya. Hongbin melihat tato Wonshik di lengannya dan di bawah kerah.

Sebenarnya menurut Hongbin, Wonshik terlihat... sexy. Dia heran kenapa temannya bilang Wonshik itu menakutkan.

"Kau takut?" Ulang Wonshik dan kini ia di depan Hongbin.

Mereka saling bertatapan.

Pandangan Wonshik jatuh di bibir Hongbin yang pink dan terbuka sedikit.

Wonshik menjilat bibirnya dengan pelan.

Hongbin menelan ludahnya dan ia sangat lemas melihat Wonshik seperti itu. Ia ingin tahu bagaimana rasanya jika lidah itu menari di mulutnya.

Wonshik meletakkan kedua tangannya di samping kepala Hongbin. Membuat Hongbin terperangkap.

Wonshik mencondongkan tubuhnya hingga mereka bisa saling merasakan nafas mereka.

Hongbin bisa mencium bau beer dan asap rokok. Tapi ia menyukai itu.

Wonshik bisa mencium bau cologne Hongbin yang menyegarkan.

"Aku menantangmu! Untuk menemuiku jam 3 sore nanti di sini! Di ruangan ini!"

Hongbin menelan ludahnya lagi. Kakinya gemetaran.

"Dan kalau kau tidak ada... kau akan menyesal nanti!"

Wonshik tertawa mengejek lalu ia pergi meninggalkan Hongbin.

Hongbin masih berdiri mematung. Ia masih shock. Ia masih bisa mencium bau Wonshik.

'Aaapa... apa... dia tahu... semalam...ooh ottoke ottokeeeee...'

Hongbin mengigit jarinya dan ia panik.

"Hongbin-ah!" Hakyeon menepuk bahu Hongbin pelan.

"WWHAAAAA" Hongbin melompat kaget dan matanya membesar.

Jaehwan dan Hakyeon tertawa kuat melihat Hongbin.

Hongbin menatap kedua temannya itu dengan kesal. Lalu ia pergi duduk di bangkunya.

Hakyeon dan Jaehwan masih tertawa. Lalu mereka menghampiri Hongbin.

"Kkau... hahahha.. kau harus ... melihat... ahhaahhaahhaha dirimu tadi... hahahahahhah" Jaehwan tertawa kuat sambil terduduk.

Hakyeon menepuk punggung Jaehwan dan ikut tertawa.

Hongbin memutar bola matanya dengan kesal.

Setelah Jaehwan dan Hakyeon puas tertawa, mereka minta maaf pada Hongbin lalu duduk ke bangku mereka saat bel berbunyi.

Hongbin masih fokus ke pelajarannya. Ia mencuri pandang ke pintu masuk. Ia menghela nafas. Ia merasa tidak semangat karena Wonshik tidak hadir. Ia juga heran kenapa dia malah kepikiran Wonshik.

Bel pulang pun berbunyi..

Hongbin tetap duduk di bangkunya dan berpura-pura sibuk mencatat.

"Hongbinnie... kau tidak pulang? Kau bisa mengerjakannya di rumah kan?" Kata Jaehwan sambil menggandeng tangannya dengan Hakyeon.

"Uhh.. yea.. sebentar lagi... kalian duluan saja."

"Oh okey! Telepon kami kalau kau kenapa-kenapa. Ok?"

Hongbin tersenyum dan mengangguk.

"Bye Binnieeee..." sahut keduanya dan pergi.

Hongbin kembali mencatat sambil mendengarkan lagu.

Tiba-tiba seseorang menutup bukunya dan memasukkannya ke tas Hongbin.

"Hey!"

Wonshik mematikan hp Hongbin juga lalu memasukkannya ke tas Hongbin.

Hongbin menatapnya tak percaya.

Wonshik menantang tatapannya sambil mendekatkan wajahnya ke Hongbin.

"Apa maumu?!" Tanya Hongbin dengan santai. Ntah kenapa ia menjadi berani sekarang. Padahal tadi pagi ia rasanya ingin pingsan berada sedekat ini.

"Kau" Wonshik tersenyum nakal.

Mata Hongbin membesar dan ia berdiri lalu menggandeng tasnya.

"Kalau kau hanya ingin main-main. Maaf, aku sibuk!"

Wonshik menarik tangan Hongbin dan mendorongnya ke dinding di belakang mereka.

Wonshik menahan tubuh Hongbin dengan tubuhnya.

Hongbin kaget, ia membiarkan posisi mereka seperti ini.

Wonshik mengambil rokoknya lalu menghidupkannya. Ia lalu menghembuskan asap rokok ke wajah Hongbin.

Hongbin terbatuk dan mengipas asap rokok Wonshik dengan tangannya.

"Kau benar-benar tidak sopan! Urghhh!" Hongbin mencoba mendorong Wonshik tapi Wonshik semakin menekan tubuhnya.

"Aah.." Hongbin merintih saat celana mereka bergesekan.

Wonshik tertawa mengejek. Ia lalu mundur sedikit dan ia mengisap lagi rokoknya.

"Don't!"

Wonshik kembali mengembus asapnya ke Hongbin.

Hongbin geram, dan ia mencoba mengambil rokok di mulut Wonshik.

Tapi Wonshik dengan cepat mengelak. Ia lalu mengejek Hongbin.

Hongbin menghela nafas dan menatap Wonshik dengan jengkel.

"Kau mau apa?!"

Wonshik membuang rokoknya dan menatap Hongbin dengan tatapan yang Hongbin yakin akan membuat wanita tergila-gila padanya. Mungkin Hongbin mulai tergila-gila padanya.

Hongbin tersipu malu dan ia menghindari tatapan Wonshik.

Wonshik menarik tangan Hongbin dan membawanya ke gudang.

Hongbin merinding. Ia teringat kata-kata Jaehwan kalau Wonshik suka menyakiti murid disini.

Saat Wonshik membuka pintu gudang, Hongbin mencoba melarikan diri. Tapi lagi-lagi Wonshik menahannya dna mendorongnya masuk ke gudang.

Hongbin berpikir kalau gudang sekolah akan terlihat kotor, berdebu, berantakan, dan tikus. Hongbin takut tikus.

Tapi gudang yang ia masuki ini terlihat seperti kamar. Ada tempat tidur king size, lemari, keyboard, speaker, dan.. waah lantainya dilapisi oleh karpet yang lembut. Hongbin menatap ke sekelilingnya. Bahkan ada lemari es? Ac? Wow!

Hongbin menatap takjub. Bukannya dia kampungan tapi, baru kali ini dia melihat gudang seperti ini.

"Ini kamarku! Aku jarang di rumah. Aku lebih suka disini" kata Wonshik sambil berbaring di tempat tidurnya.

Hongbin membentuk "o" di mulutnya.

"Ambil beer itu" kata Wonshik sambil menunjuk ke rak botol.

Hongbin melongo.

"Kau tuli?"

Dengan patuh Hongbin mengambilnya dan memberikannya ke Wonshik.

Tangan Wonshik menarik Hongbin sehingga Hongbin terjatuh di atas tempat tidur.

Wonshik langsung berada di atas Hongbin dengan senyum nakalnya.

Hongbin merasakan jantungnya yang berdegub kencang.

"Let's have fun" bisik Wonshik sambil menjilat bibir Hongbin.

Itu membuat Hongbin memejam matanya. Ia tidak pernah merasakan sensasi ini. Ia juga tidak pernah ciuman. Oh my god!

Wonshik mengambil beer di tangan Hongbin lalu ia duduk dan meminum beer itu.

Ia menarik Hongbin untuk duduk dan menyodorkan beer itu ke mulut Hongbin.

Hongbin menatap Wonshik dengan ragu.

Wonshik mengangguk.

Lalu Hongbin meminum beer itu sambil menatap Wonshik yang tersenyum nakal.

Lalu Wonshik meminum beer dari bekas mulut Hongbin. Ia menatap Hongbin dengan tatapan sexy. Ia melihat Hongbin menjilat bibirnya. Mereka sudah berciuman secara tidak langsung. Dan Wonshik ingin mencium bibir pink itu.

"Habiskan ini!" Perintahnya sambil menyodorkan beer itu lagi ke mulut Hongbin.

Hongbin patuh dan ia menegak habis.

Ini pertama kalinya ia minum beer. Ntah kenapa dia menjadi suka beer. Apakah karena beer itu milik Wonshik.

'Wait? Aku... aku menyukai Wonshik? No way!'

Wonshik menghidupkan speakernya kuat. Dan Hongbin mendengar Wonshik menyanyi.

'Whaaaatt'

Wonshik memutar lagu The Weeknd - Or Nah.

Lagu itu membuat Hongbin bergairah dan kepalanya sedikit pusing.

Kepalanya mulai menari mengikuti irama.

Dan Wonshik memegang dagunya dan mencium mulutnya kuat.

Hongbin terkejut tapi ia mencium Wonshik kembali.

Hongbin bahkan mengerang di mulutnya.

Hongbin memejam matanya. Lidahnya beradu dengan Wonshik.

Hongbin teringat kata-kata Jaehwan...

'Jauhi dia Hongbin'

'Dia misterius'

'Dia suka menyakiti orang'

'Hiiiiiii... semua orang takut padanya'

Tapi Hongbin, menyingkirkan suara Jaehwan yang ada di pikirannya.

Dan ia menikmati ciuman Wonshik si pria misterius.