Waktu cepat berlalu, dan saat itu sudah hampir tengah malam.

Hongbin masih di sekolah bersama Wonshik. Ia kini hanya memakai boxernya saja. Ia tidak bisa berhenti tertawa. Mungkin pengaruh alkohol. Ia tidak pernah seperti ini.

Wonshik masih berpakaian lengkap, hanya saja 2 kancing bajunya terbuka memamerkan tato dan dadanya. Ia menegak beernya yang ke 5. Dan ia tidak separah Hongbin. Kepalanya bergerak mengikuti irama musik sambil melihat Hongbin yang menari tidak jelas di depannya. Hongbin terus tertawa. Ia heran, padahal Hongbin baru minum 3 botol dan ia sudah separah ini?

Wonshik tersenyum dan menggeleng melihat tingkah Hongbin.

Hongbin jalan sempoyongan ke arah Wonshik. Tangannya mencoba menarik tangan Wonshik.

"Hhahaha.. aayyyyyyooooooo.. daansssaaaaaa... hhhaaahhaaa... yeyeye" Hongbin benar-benar seperti anak-anak.

Wonshik menarik tangan Hongbin dan membuat Hongbin jatuh di pangkuannya.

Wonshik berbisik

"Kau mabuk? Huh?" Ejeknya.

Hongbin menggeleng sambil tertawa.

"Nnnnoooppppeee"

"Uh huh?"

Hongbin tertawa lalu ia memiringkan wajahnya ke Wonshik dan ia mencium Wonshik.

Wonshik kaget, dia terdiam.

Hongbin menggigit bibir Wonshik.

Wonshik lalu membalas ciuman Hongbin.

'Hmmm... sweet...'

Wonshik tau kalau ciuman Hongbin pasti terasa manis. Karena Hongbin masih lugu. Ia tahu itu dari cara Hongbin membalas ciumannya tadi sore. Tadi!

Wonshik tidak percaya ini! Dia baru bertemu dengan Hongbin semalam, dan sekarang, ia mengundang Hongbin masuk ke tempat rahasianya! Ia tidak pernah mengizinkan satu orang pun ke sini. Ia tidak suka dengan orang-orang di sekolahnya. Ia suka menyendiri. Dan ntah mengapa, ia membiarkan Hongbin masuk. Ia merasa tertarik pada Hongbin. Ia tahu dari ayahnya waktu itu, kalau akan ada murid pindahan bernama Lee Hongbin di kelasnya. Ayahnya juga mengingatkannya untuk tidak mendekati ataupun menyakiti Hongbin. Ayahnya bilang kalau Hongbin anak yang berprestasi dan ayahnya tidak ingin Wonshik merusak kehidupan Hongbin.

'Fuck it off!'

Disini dia, berciuman dengan Hongbin dengan penuh nafsu.

Wonshik mendorong Hongbin ke tempat tidur. Hongbin tertawa kecil di sela ciuman mereka. Wonshik melepas ciumannya dan ia mengamati Hongbin dengan lucu sambil melepas bajunya.

"Mmmm..." Hongbin mengelus otot di perut Wonshik lalu ia tertawa.

"Apa yang lucu?" Tanya Wonshik sambil berkacak pinggang.

"Mmmmm..." Hongbin menggeleng sambil tertawa lagi.

Wonshik tersenyum kecil.

'Anak aneh!' Pikirnya.

Wonshik lalu mendorong Hongbin hingga kepala Hongbin di atas bantal. Ia lalu menyelimuti Hongbin dan ia mengecup bibir Hongbin yang cemberut.

"Uhmmmm... mmmppwweeeeasseee" rayu Hongbin dengan suara imut sambil memukul pelan dada Wonshik.

Wonshik hanya menatap Hongbin sambil tertawa.

"Tidurlah!" Wonshik menepuk pelan rambut Hongbin hingga mata Hongbin terpejam.

Wonshik lalu pergi ke sofanya dan tidur.

Keesokan paginya,

Hongbin bangun dengan kepala yang sangat pusing, ia juga ingin muntah. Ia langsung tergesa-gesa ke kamar mandi yang ada di gudang Wonshik. Hongbin lalu muntah di wc Wonshik.

Wonshik sedang menggosok giginya ketika Hongbin masuk dan muntah di wc. Wonshik lalu berkumur-kumur. Ia lalu mengambil obat di kontainernya. Lalu ia menopang tubuh Hongbin dan membaringkannya di tempat tidurnya.

Wonshik mengambil segelas air lalu menyuruh Hongbin untuk minum obat yang diberinya.

Hongbin menatap obat itu dengan curiga.

"Ini... bukan ... uh... narkoba kan? Kau tidak akan ... umm.. mem... membunuhku kan?"

Wonshik memutar bola matanya dan ia pergi mandi. Hongbin bingung apakah dia harus minum obat itu atau tidak. Tapi Hongbin minum obat itu. Iya yakin Wonshik tidak akan membunuhnya.

Wonshik selesai mandi dan ia keluar hanya dengan handuk yang dililitkan di pinggulnya. Hongbin kaget. Mata Hongbin langsung besar, ia sesak nafas, dan pandangannya tak bisa lepas dari abs dan tato di tubuh Wonshik. Hongbin ingin menyentuh absnya itu.

'Hmmm.. chocolate abs! Mmmm...' pikirnya.

Hongbin masih menatap tubuh Wonshik dengan takjub.

Wonshik menatap Hongbin dengan senyum kecil dan ia berdehem.

"Ehhhemm! Uh Hongbin, kau boleh mandi. Aku punya sepasang seragam lagi dan aku juga punya handuk yang baru.

Hongbin masih melongo menatap Wonshik.

Wonshik tertawa kecil dan melepas handuknya.

Hongbin teriak kaget.

"WWHOOA!"

Wonshik tertawa sambil menggeleng kepalanya.

"Relax! Aku sudah memakai boxer kok!"

Hongbin masih menatapnya ngeri sambil mengangguk pelan dengan mulut yang terbuka.

Wonshik lalu memberi Hongbin handuk yang baru dan seragam sekolahnya yang baru.

Hongbin tersadar dari lamunannya.

"Uh umm... kau bilang apa?"

Wonshik tertawa terbahak-bahak.

Hongbin tersipu malu.

"Apa tubuhku terlalu mengalihkanmu?" Tanya Wonshik dengan alis yang terangkat dan menyunggingkan senyumnya.

Hongbin menatapnya kaget dan ia menunduk dan berlari ke kamar mandi.

"Uh uh.. a... aku mandi dulu!"

Wonshik tertawa melihat tingkah Hongbin yang kikuk.

Setelah selesai mandi, Hongbin keluar sambil merapikan rambutnya.

Wonshik sedang duduk menunggu Hongbin.

Mereka bertatapan dan membuat Hongbin merasa canggung.

"Uhm... sepertinya kita belum resmi berkenalan... umm aku Lee Hongbin." Hongbin tersenyum ramah pada Wonshik.

Wonshik tertawa

"Ya, aku tau. Aku Kim Wonshik"

Hongbin kaget.

"Kau tahu?"

Wonshik mengangguk

"Ayahku yang beri tahu"

Hongbin teringat kalau Wonshik anak kepsek.

Hongbin mengangguk pelan.

"Kau sudah selesai?" Tanya Wonshik sambil berjalan ke pintu.

Hongbin mengangguk dan mengikuti Wonshik.

Sampai di kelas, suasana sudah mulai ramai. Jaehwan dan Hakyeon sedang berbicara di bangku mereka. Dan mata Jaehwan langsung besar saat melihat ke pintu. Hakyeon mengikuti arah pandangan Jaehwan, dan ia juga shock.

Wonshik berjalan dengan santai dan wajah sombong, diikuti oleh Hongbin dengan wajah sedikit cemas.

Suasana kelas menjadi sepi dan semua mata tertuju pada Hongbin.

Setelah mereka duduk, Wonshik dengan santainya ia menaikkan kedua kakinya ke meja dan memainkan hp nya.

Hongbin yang duduk dengan gelisah mulai membuka bukunya.

Tak lama bel berbunyi dan Mr Taekwoon datang.

"Aku akan membagi kalian kelompok untuk membuat makalah."

Semua murid menggerutu.

"Baik! Kalau begitu setiap meja membuat makalah dan harus dengan 20 halaman. Diketik! Dikumpul minggu depan!"

Semua murid makin menggerutu.

Jaehwan dan Hakyeon menatap Hongbin yang pucat pasi.

Hongbin dengan takut melihat ke arah Wonshik.

Tapi Wonshik tidak menatapnya dan hanya peduli dengan hpnya.

"Baik. Kita mulai pelajaran hari ini."

Seperti biasanya, Mr Taekwoon menulis di papan tulis dengan diam.

Bel istirahat...

Wonshik segera pergi tanpa sepatah kata pun.

Jaehwan dan Hakyeon menghampiri Hongbin dengan wajah kasihan.

"Oh my God... Ooootttoookkaaajjjiii..." sahut Jaehwan sambil memejam matanya dan menggeleng kepalanya dengan imut.

Hongbin menghela nafas.

"You okay Hongbin-ah?"

"Sepertinya aku akan melakukannya sendiri" ia merengut.

"Yah! Kami akan membantumu.. okaaayy?" Kata Jaehwan sambil tersenyum pada Hongbin.

Hakyeon mengangguk setuju.

Bel masuk berbunyi.

Hongbin sudah duduk di bangkunya lagi dan membuka bukunya. Ia bermaksud untuk menanyakan Wonshik kapan mereka akan mulai belajar kelompok. Ia menunggu Wonshik tapi... guru sudah masuk.

'Ah mungkin dia terlambat'

1 jam berlalu tapi Wonshik tidak datang juga.

Hongbin menghela nafas.

'Kemana dia?'

Bel pulang sekolah berbunyi

Hongbin, Jaehwan dan Hakyeon berpisah haluan.

Mereka saling berpamitan.

Hongbin berjalan dengan cemberut dan menunduk.

'Huh! Tadi pagi dia peduli padaku, dan sekarang?'

Hongbin menendang batu.

'Issshh! Kemana sih dia!'

'Aish! Hongbin! Kau bahkan lupa minta nomor hpnya?! Aishhh'

'Gimana kalau dia gak masuk besok?'

Hongbin berhenti lalu ia teringat gudang.. um kamar Wonshik.

Hongbin memukul keningnya dan ia berbalik ke sekolah.

Saat itu sekolah sudah sepi. Tapi untungnya, penjaga sekolah belum mengunci sekolah itu.

Wonshik berlari menuju gudang.. Wonshik.

Lalu ia mengetuk pintu dengan nafas yang terengah-engah.

Tapi tidak ada jawaban.

Lalu dengan langkah berat ia berbalik dan pergi.

Tak lama ia mendengar suara jeritan anak perempuan. Hongbin langsung mendekati arah suara itu. Membawa Hongbin ke taman belakang sekolah mereka.

Perempuan itu berteriak lagi tapi diiringi oleh tawaan.

Hongbin mengintip di balik dinding.

Ia terkejut melihat Wonshik dengan teman gengnya. Ia melihat mereka sedang menyiksa seorang wanita.

Bukan! Bukan menyiksa!

Wanita itu membuka pakaiannya satu demi satu dengan gerakan yang menggoda.

Ia berteriak lagi saat satu dari teman Wonshik membuka paksa bajunya.

Hongbin yakin kalau wanita itu.. pasti perempuan gak benar!

Tapi ia melihat kelakuan mereka dengan benci.

Ia sangat benci dengan pemandangan itu.

Ia benci karena Wonshik melihat wanita itu dengan mata yang berat. Beer di tangannya dan ia melihat Wonshik meneguknya habis. Ia melihat Wonshik mengisyaratkan sesuatu kepada teman gengnya. Teman gengnya itu bersorak kuat dan mengerumuni wanita itu.

Tapi Wonshik pergi ke arah Hongbin.

Hongbin langsung berlari menuju pintu gerbang sekolah. Ia terus berlari dengan kencang, dan membuat suara kakinya bergema. Nafasnya terengah-engah.

Dia tidak tahu apakah Wonshik melihatnya atau tidak.

Tapi, belum sampai di pintu gerbang, ia terjebak di dalam gedung sekolah. Ia mencoba mendobrak pintu itu dengan sekuat tenaganya.

'Shit Hongbin!'

Ia meringis kesakitan dan ia memukul kuat pintu itu berharap ada yang mendengar.

'Bodoh sekali Hongbin! Tidak akan ada yang dengar!'

Jantungnya berdegup kencang. Ia sangat panik.

"Hongbin?"

Hongbin berdiri tegak dan perlahan menghadap ke belakangnya.

Wonshik berdiri tak jauh darinya dengan wajah yang senyum nakal. Ia melipat tangannya ke dada.

"Wae? Kau seperti baru melihat hantu"

Wonshik berjalan mendekatinya dengan lambat. Ia terus menatap Hongbin dengan tatapan nafsu.

Hongbin bisa mencium bau beer.

Hongbin mundur ke belakang hingga ia bersender di pintu.

"Atau... kau baru melihat? Sesuatu?"

Hongbin menelan ludahnya dan menatap Wonshik dengan ngeri.

"Sesuatu yang...tabu?"

Wonshik tertawa mengejek.

Ia akhirnya di depan Hongbin dan ia mendekati tubuhnya ke Hongbin dengan meletakkan satu tangannya di samping kepala Hongbin.

Hongbin melirik tangan Wonshik di sampingnya lalu ke lengan Wonshik yang berotot. Itu membuat Hongbin merasa lemas.

Wonshik memiringkan kepalanya ke Hongbin dan mencari-cari tatapan mata Hongbin.

Jantung Hongbin semakin tak karuan. Ia yakin Wonshik bisa mendengar suara degupan jantungnya.

Wonshik menyunggingkan senyumnya.

"Wae Hongbin? Kau menikmati pemandangan di belakang sana?" Bisik Wonshik dengan suaranya yang berat dan serak.

Hongbin bergidik mendengar suara Wonshik. Ia merasa takut sekaligus terangsang.

'Wait? Umm.. terangsang? Uhhh... noo'

Wonshik mendekatkan bibirnya ke telinga Hongbin.

"Apa itu membuatmu... terangsang?... Binnie? Hmm?"

Hongbin memejam matanya, ia merasa seluruh tubuhnya terasa geli dan membuat lututnya lemas.

Wonshik tertawa pelan dan ia berbicara di telinga Hongbin.

"Aku rasa aku benar.. hmm? You want that? Jujur Binnie... you want ... it!"

Hongbin semakin lemas dan ia merintih pelan.

Wonshik kehilangan kesabaran. Ia menarik Hongbin dengan paksa dan membawanya ke kamarnya.

Ia mendorong Hongbin masuk lalu menendang pintu. Ia bahkan tidak mengunci kamarnya.

Ia menatap Hongbin dengan nakal. Ia perlahan membuka kancing seragamnya.

Hongbin berdiri dengan shock.

Wonshik menghampiri Hongbin sambil mencampakkan seragamnya.

Wonshik melepas ikat pinggangnya dan membuka resleting celananya.

Satu tangannya memegang pundak Hongbin dan menarik Hongbin.

"Kau pikir aku tidak tahu apa yang ada di pikiranmu saat ini.. huh Binnie?"

Hongbin menatap Wonshik dengan ngeri. Dan ia menyukai panggilan barunya, "Binnie".

Wonshik mendorong Hongbin untuk berlutut, dan Hongbin patuh.

Wonshik menurunkan celana dan boxernya. Ia mengeluarkan membernya dan mengarahkannya ke mulut Hongbin.

"Suck it, Binnie!"