Keesokan paginya,
Hongbin terbangun dengan tangan Wonshik di pinggangnya. Ia juga bisa merasakan nafas Wonshik di lehernya.
Ia tersenyum, lalu panik.
'Wait! Astaga aku.. kenapa aku ini!'
Ia lalu duduk dan ia segera berdiri.
"AAAHHH!" Teriak Hongbin dan membuat Wonshik langsung membuka matanya dan menatap ke sekelilingnya dengan bingung.
"Huh? What? What? What?" Pandangannya jatuh ke Hongbin yang sedang menutupi membernya sambil mencari boxernya.
"Uhh.. sorry... aku hanya... uhh... aahh ini dia"
Wonshik menghampiri Hongbin.
Dan Hongbin dengan kikuk memakai boxernya.
"JANGAN LIHAT!"
Wonshik tertawa kuat.
Hongbin menatapnya kesal.
"Aku sudah melihatnya semalam Binnie.. kau lupa?" Ia menatap Hongbin dengan senyum lebarnya.
Hongbin menjadi semakin malu dan ia segera memakai celananya.
Hongbin menyandang tasnya dan hendak memakai sepatunya.
"Kau mau kemana?"
Hongbin mengejeknya.
"Sekolah!"
Wonshik langsung menarik tangan Hongbin.
Hongbin menatap Wonshik dengan malas dan
"AAAHHH! ASTAGAAAA! BISAKAH KAU UGHHH!"
Hongbin menutup matanya, wajahnya merah.
"What? Aku kan tidak telanjang sepertimu" jawabnya santai dengan senyum bodoh di wajahnya.
Hongbin menatapnya jengkel.
"Lepaskan aku Wonshik!"
Wonshik lalu menggendong Hongbin dan membawanya kembali ke tempat tidur.
"Nnnopppeeee" jawabnya
"Aiiishhh! Aku mau belajar Wonshik! Aku tidak mau nilaiku turun! Aku"
Wonshik menurunkan Hongbin dan dengan cepat mencium Hongbin.
"No... hari ini hanya kau dan aku, disini!"
Hongbin shock.
"Wonshik!"
"Yeeeeeessss Binnie..." Wonshik mendorong tubuh Hongbin ke tempat tidur.
Hongbin merengek.
"Wonshikkkk! Kita juga harus mengerjakan makalah kita! Aku tidak mau nilaiku turun! Aku tidak mau dihukum! Pleaaaassseeee"
Wonshik melipat tangannya di dada dan menatap Hongbin dengan serius.
"Seragammu kusut dan... bau seks!"
Pipi Hongbin memerah.
"Uh... kau tidak perlu menyebut kata itu..."
Wonshik meminjamkannya sweater dan sweatpantsnya.
"Pakai ini! Dan baju seragammu letakkan saja di keranjang itu."
"Uh yeah, aku akn membawanya pulang dan melaundrynya. Ini seragammu Wonshik"
"Yeah i know. Letakkan saja disini, pelayanku nanti datang mengambil baju kotor. Sekarang kau mandi dan pakai ini!"
"Wonshik a"
Wonshik mencium mulut Hongbin yang protes.
"Aku akan melakukan itu jika kau kau terus protes, Bin-ah!" Bisik Wonshik.
Hongbin langsung berlari ke kamar mandi.
Setelah selesai, Hongbin keluar dan melihat Wonshik dengan kaos dan jeansnya.
"Kau sudah siap?"
"Uh... Wonshik... aku rasa... kita tidak mungkin ke sekolah seperti ini... umm"
"Siapa bilang kita ke sekolah?"
Hongbin menatap Wonshik dengan bingung.
Wonshik mengambil kunci di lacinya.
Lalu Wonshik menyuruh Hongbin ikut dengannya.
Mereka keluar dari kamar Wonshik lalu berbelok ke kanan, ke arah pintu.
'Umm.. ini mau kemana?'
Arah yang dibawa Wonshik bukan ke kelas tapi ntahlah... Hongbin juga baru mengetahui ini. Tapi Hongbin malah mengikuti Wonshik tanpa protes.
Ia percaya pada Wonshik.
Wonshik lalu membuka pintu dan Hongbin masuk dengan wajah yang takjub. Matanya membesar dan mulutnya membentuk "o". Ia bahkan berputar.
Wonshik membuka garasi dan membiarkan cahaya matahari masuk.
"Wow! Kau bahkan memiliki garasi! Di sekolahmu! Wow!"
Wonshik hanya mengangkat bahunya dan menghidupkan mesin mobilnya.
"Naiklah!"
Hongbin terkejut dan diam di tempat.
"Uhh.. apa garasi ini tidak di tutul kembali?"
"Ada yang mengurusnya" jawabnya santai sambil masuk ke mobil.
Hongbin pun ikut masuk ke mobil, di kursi belakang.
"Kau ngapain?" Tanya Wonshik dari jendelanya.
Hongbin tertawa frustasi.
"Manjat! Kau lihat aku sedang apa! Pertanyaan yang bagus Wonshik!" Sindirnya.
Wonshik memutar bola matanya.
"Aku tahu Binnie! Maksudku, ngapain kau duduk di belakang?"
"Jadi aku harus dimana? Di atas hood mobilmu? Di atap mobil? Atau di ban?"
Wonshik tertawa mendengar jawaban sinis Hongbin.
Wonshik turun dari mobil lalu menarik Hongbin dan membawanya ke kursi depan, di samping Wonshik.
Hongbin kaget tapi ia tidak melawan.
Lalu Wonshik membawanya ke rumah Wonshik.
"Umm... Wonshik? Ini dimana?" Hongbin menatap ke sekelilingnya.
Rumah Wonshik sangat luas. Bahkan untuk masuk ke rumahnya saja, mereka mengitari taman. Di tengah taman itu ada kolam ikan dan air mancur. Hongbin melongo hingga kepalanya berputar.
Wonshik tersenyum kecil dan ia memarkirkan mobilnya di teras rumahnya.
"Ayo" Wonshik keluar dari mobil dan diikuti oleh Hongbin.
Wonshik menarik tangan Hongbin dan masuk ke dalam.
Di pintu ada pelayan yang memberi hormat pada Wonshik.
"Oh Shikiieee... my baby boy..." ibu Wonshik memeluk Wonshik dengan lembut.
"Kenapa kau tidak sekolah hari ini? Hmm? Ayahmu akan marah nanti. Apa kau sakit honey? Oh! Dan siapa laki-laki tampan ini?" Ibu Wonshik tersenyum ramah pada Hongbin.
"Ahh.. saya Lee Hongbin Mrs..."
"Panggil saya Mrs Kim. Aahh... Lee Hongbin. Aku mendengar banyak tentangmu dari suamiku. Kau sungguh berprestasi." Mrs Kim tersenyum lebar dan menepuk pelan punggung Hongbin.
"Dan Wonshik! Sebaiknya kau contoh Hongbin! Kau juga harus rajin belajar! Jangan suka cabut! Aku lelah dengan sikapmu kadang! Dan ngomong-ngomong. Kenapa kalian berdua bolos?! Hongbin! Jangan katakan kalau Wonshik yang mengajakmu!" Mrs Kim melihat mereka dengan mata sipit.
"Mum... sudahlah... biarkan kami bolos sehari ini."
"Dan kau sudah terlalu banyak bolos Shikie! Mommy hates that!" Mrs Kim melipat tangannya.
"Yea yea yea... mianhe Mommy.. okay?"
"Please Wonshik! Jangan buat ayahmu marah nanti! Okay?"
"Yea Mommy..."
"Good, n-"
"Mommy, kami akan mengerjakan makalah bersama so please, jangan ganggu ya Mum..." Wonshik tersenyum pada ibunya dengan senyum yang paling manja.
Mrs Kim tersenyum sambil menggeleng kepalanya.
"Fiinneee honey, and Shikie? Ingat yang dibilang ayahmu? Behave!"
Wonshik mengangguk sambil mendorong Hongbin ke tangga.
"Bye Mrs Kim.. and thank you..." sahut Hongbin sebelum Wonshik menariknya ke tangga.
Sampai di kamar Wonshik
Wonshik menutup pintu kamarnya dan menguncinya.
Hongbin melihat sekelilingnya.
"Kau... aneh! Kau memiliki rumah yang besar dan luas, lalu pelayan, kamar yang superrrrrrr luas dan waaahhh rapi dan berkelas! Tapi... kenapa kau memilih di gudang sekolah?"
Wonshik mengangkat bahunya.
"Aku juga sering pulang kemari kok!"
Hongbin melihat ekspresi Wonshik yang terlihat sedikit kesal.
Lalu Hongbin bergumam "Oh".
"Terus, kita mau ngapain?"
Wonshik menghidupkan dvd playernya dan ia lalu mematikan lampu kamar dan menutup gorden jendelanya.
Hongbin menatapnya bingung.
Layar Tv berukuran 40 inchi itu mulai memainkan film dari dvd player.
Wonshik mengatur volumenya, tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar.
Lalu ia mengambil 2 botol sprite dan kacang dan meletakkannya di meja depan sofa.
Hongbin masih berdiri mematung.
Wonshik menepuk pelan sofa itu dan menyuruh Hongbin duduk di sampingnya.
Hongbin masih melongo menatap Wonshik.
"C'mon! Ini seru!"
Hongbin shock mendengarnya lalu ia melipat tangannya.
"No! Aku gak akan menonton itu bersamamu!"
Wonshik tertawa hingga kepalany di atas sandaran sofa.
"Ayolah Binnie"
Hongbin membuang muka dengan wajah cemberut.
Wonshik lalu berdiri dan menggendong Hongbin lalu menjatuhkannya ke sofa. Ia lalu menjebak Hongbin di bawah tubuhnya.
Suara film itu mulai memenuhi ruangan.
Hongbin semakin shock, wajahnya mulai memerah.
Wonshik lalu menekan "pause". Lalu ia duduk dan menarik Hongbin ke pangkuannya.
Mata Hongbin tak lepas dari wajah Wonshik.
Kini jarak wajah mereka sangat dekat, sampai mereka bisa merasakan nafas mereka.
"Filmnya di sana... Binnie" kata Wonshik dengan suara parau.
Hongbin merinding dan ia menggeleng pelan.
"Nno! Aku tidak suka film itu! Aku... aku... aku tidak menonton film itu! Aku-"
"Kau belum pernah menonton film porno?" Tanya Wonshik dengan senyum nakalnya.
"Uh... no! Aku tidak su-"
Wonshik mencium Hongbin dengan nafsu dan membuat Hongbin merintih.
Ia selalu lemas ketika Wonshik menciumnya. Jadi dia memegang kerah Wonshik dengan kuat.
Wonshik melepas ciumannya.
"Kalau kau tak mau menonton porno bersamaku... aku akan membuatmu menjerit, meneriakkan namaku, dengan kuat, sekarang juga" Wonshik berbisik dan membuat Hongbin gemetaran.
"Uh umm.. o.. okay... pplease... jjangan... bbuat aku teriak..." jawabnya lemah.
"Now... turn around, bersandar dan enjoy..."
Hongbin patuh dan ia duduk di sofa, bersandar dengan kakinya ditekuk ke dadanya.
Wonshik memutar kembali filmnya.
