Hongbin terbangun di tempat tidur Wonshik yang empuk. Ia mencari-cari Wonshik di sampingnya tapi tidak menemukannya. Ia membuka matanya perlahan dan melihat sekelilingnya. Ia melihat selimut yang menutupi tubuhnya.
'Aku... tertidur? Seriously?! Hongbin you are so sssstuuupiiiddddddd' pikirnya sambil memukuli kepalanya sendiri dengan pelan.
Terdengar pintu kamar mandi terbuka.
Hongbin segera duduk tegak dan berdehem.
"Oh! Kau sudah bangun?" Kata Wonshik dengan senyum lebar.
Hongbin menjauhi tatapannya dan ia mengangguk.
Tiba-tiba ia merasakan ada hembusan angin pelan di wajahnya. Ia menoleh dan kaget.
Wonshik tersenyum lebar dan jarak bibir mereka hanya beberapa inchi.
Hongbin menolak Wonshik pelan.
"Ahh! Aku kaget Wonshiiiikk!"
Wonshik tertawa pelan dan ia duduk di dekat Hongbin sambil memberinya air minum.
Hongbin dengan patuh meminun air itu.
Wonshik menatapnya dengan mesum.
Hongbin menatapnya jengkel.
"Jangan berpikir yang aneh-aneh!" Kata Hongbin dengan tatapan serius.
Wonshik mengangkat bahunya.
"Temanmu tadi meneleponmu. Dan aku bilang ke mereka kalau kau tidur. Mungkin me-"
"Jaehwan? Hakyeon? Oh my God! Aku lupa kasi tau mereka!" Hongbin sedikit panik.
"Aku sudah beritahu mereka" jawab Wonshik santai.
Hongbin menatapnya dengan horor.
"K... kau bilang apa?" Tanyanya pelan.
Wonshik tersenyum nakal. Lalu ia mendekati wajah Hongbin dan berkata..
"Aku bilang, kalau kau tertidur di kamarku, karena kau kelelahan bercinta dengan ku semalaman." Jawabnya dengan senyum lebar.
Wajah Hongbin shock.
"Kau!"
Wonshik hanya membalas menatapnya dengan senyum lebar dan alis yang terangkat.
Hongbin tidak percaya ini.
'Oh God! No no no! Reputasikuuu...'
"AAAAIISSHHHHHH!" Hongbin segera meraih leher Wonshik dan mulai mencekik lehernya.
Wonshik hanya tertawa kuat dan ia terjatuh di bantalnya, membuat Hongbin yang tanpa busana di atasnya.
Hongbin panik, ia baru tersadar kalau dia masih telanjang. Segera tangannya menarik selimut Wonshik dan menutupi dirinya.
"Wae Hongbin? Aku suka pemandangan itu." Jawabnya sambil cekikikan yang membuat Hongbin semakin kesal.
Hongbin mencari boxernya di sekelilingnya dan memakainya.
Ia lalu mengecek hpnya dan ia memberitahu teman-temannya kalau dia baik-baik saja dan jangan mengkhawatirkannya. Lalu ia juga memberitahu pada orang tuanya ia akan kembali nanti malam.
Hongbin lalu memakai bajunya lalu mencuci mukanya dan menyisir rambutnya dengan jarinya.
Wonshik menghampirinya.
"Kau sedang apa?"
Hongbin meliriknya lewat cermin dengan wajah sinisnya.
"Menurutmu?!"
"Kau marah?"
"Menurutmu?!"
"Aku rasa tidak.."
Hongbin diam.
"Sebenarnya aku tidak mengatakan seperti itu. Aku tadi hanya bercanda."
Wonshik menatapnya dengan senyum lebar.
Hongbin masih menatapnya jengkel.
"Aku hanya bilang kalau kau sedang tidur karena kau sedang tidak enak badan."
Hongbin mengangkat bahunya.
"Aku serius Hongbin-ah... aku tidak mungkin memalukanmu seperti itu."
Hongbin lalu menghadap Wonshik.
"Ter-se-rah!"
Hongbin hendak membuka pintu tapi Wonshik dengan cepat menggendongnya dan menjatuhkannya di tempat tidur.
"Aaarghh Wonshiiiiikkkk!"
Wonshik lalu menekan kedua tangannya dan ia menatap Hongbin.
"Please.. jangan pergi Binnie... okay okay i'm sorry... aku salah..." jawabnya dengan nada sedih.
Hongbin tertawa mengejek.
"Kenapa? Kau takut aku pergi? Wae? Kau selalu membuatku kesal."
Hongbin membuang muka.
"Mianhe... please..."
Hongbin tidak percaya ini. Dia mendengar dari teman-temannya kalau Wonshik itu berbahaya, jauhi dia, jangan dekati dia, dia suka menyakiti orang, dia misterius. Tapi Wonshik di dekatnya ini, sedang meminta maaf padanya. Dia berpikir mungkin kepala Wonshik terbentur atau mungkin dia tadi jatuh dari tangga dan membuat otaknya eror dan dia jadi aneh seperti ini.
"Binnie pweaseeee... huhuhuh... don't gooooooo" rengek Wonshik.
Hongbin menatapnya aneh.
"Dasar aneh! Fine! Tapi kita harus mengerjakan makalah kita. Sekarang!"
"Yesssssss" Wonshik mengangkat tangannya ke udara dengan gembira.
Wonshik langsung menarik Hongbin ke ruang kerja milik ayahnya.
"Woooooaaahhhhhhh... ddaeebaakkk..." bisik Hongbin dengan wajah takjub.
Wonshik menyukai wajah Hongbin seperti itu.
'Am I in love?' Pikirnya.
Wonshik menggeleng kepalanya dan ia tersipu malu.
'Aaah no nooo waaay Wonshik.'
"Wonshik... tolong ambilkan beberapa kertas dan pulpen please.. aku akan mencari buku tentang makalah yang akan kita buat nanti."
"Ooh okay..."
Beberapa jam kemudian, hari sudah malam.
Dan Hongbin meluruskan badannya di lantai. Wonshik kembali dengan membawa makan malam mereka.
"Wow.. Wonshik kau baik sekali"
"No prob. Kau sudah membantuku menyelesaikan makalah."
"Kita satu kelompok Wonshikkk..."
"Ah yeahh... tapi... aku baru ini mengerjakan... tugas"
Hongbin shock.
"What? Aku benci tugas" jawab Wonshik dengan santai.
Hongbin hanya mengangguk dan mereka makan dengan tenang.
2 jam kemudian
"Hooaammmm" Hongbin menguap untuk kesekian kalinya.
"Sudahlah... kita bisa mengerjakannya lagi besok. Lagian kan tinggal 3 lembar lagi." Jawab Wonshik dengan nada mengantuk.
"Uhh.. yeah.. aku akan menemuimu besok."
Hongbin mulai membereskan semuanya.
"Kau mau kemana Binnie?"
"Huh? Pulang. Ini sudah malam"
Wonshik langsung berdiri.
"No!"
Wonshik menahan tangan Hongbin.
Hongbin menatapnya bingung.
"Wonshik..."
"Kau bisa memakai seragamku besok, kau boleh memakai bajuku, deodoranku, semuuuanya... kita bisa pergi bersama besok, but pleeeaseeeee... jangan pergi.." Wonshik merengek.
'Seriouslyyyyyy?' Hongbin menatapnya aneh.
"Wonshik?"
"Hmm?"
"Kau... sakit?" Hongbin mengecek temperatur di kening Wonshik lalu mengecek di bawah mata Wonshik.
"No"
Hongbin menatapnya dengan aneh.
"Kau aneh..."
"Ya.. aku juga merasa begitu"
Hongbin tertawa kuat mendengar jawaban Wonshik.
Wonshik menatap Hongbin dengan takjub. Ia suka melihat Hongbin seperti ini.
'Shit! Am I in love?'
"Kau lucu sekali Wonshik."
Hongbin mulai berbalik.
Wonshik dengan cepat menarik tubuh Hongbin dan memeluknya dari belakang.
"Let's just... have fun..." bisik Wonshik.
Hongbin merinding mengingat kejadian tadi pagi.
Tangan Wonshik mengelus paha Hongbin.
"Kita bisa bersenang-senang... disini... atau... di kamarku... berdua... dan... wine... dan... film... hmm?"
Suara Wonshik mulai menggoda di telinga Hongbin.
"Kau menikmatinya kan?... kita bisa melakukannya lagi..."
Tangan Wonshik mulai masuk ke celana Hongbin.
"Lagi..." bisik Wonshik dan tangannya semakin turun.
"Dan lagi..." semakin turun
"Sebanyak yang kau mau..." hingga ia mengelus member Hongbin dengan pelan.
Hongbin lemas di pelukan Wonshik.
"Mmmmhhh" Hongbin menyandarkan kepalanya di bahu Wonshik.
"Say it Binnie..." rayu Wonshik sambil memompa member Hongbin pelan.
Hongbin tidak tahan dengan perlakuan Wonshik. Dia benar-benar lemah. Tapi ia menyukai itu.
Jantung Hongbin berdegup kencang, ia mulai merasa terangsang. Nafasnya mulai terengah-engah.
Tangan Wonshik kembali ke atas meninggalkan member Hongbin yang tegang.
"Beg to me Hongbinnie... i will give it to you.." bisik Wonshik dengan suara sexy di telinga Hongbin.
Hongbin benar-benar terangsang.
"Pplease..."
'Ooh Hongbin... nooo don't!' Pikiran Hongbin mengatakan ini tidak benar tapi tubuh Hongbin berkata lain.
Hongbin semakin menyandarkan dirinya ke tubuh Wonshik dan merintih pelan.
Tangan Hongbin mulai masuk ke boxernya dan mengelus dirinya sendiri.
Wonshik menarik tangannya dan menahannya.
"Please what Binnie? Hmmm...?" Goda Wonshik.
Hongbin merintih dan mencoba melepas pegangan Wonshik.
"Ppplease Shikie... pleaseee"
"Say it!" Wonshik mendekatkan membernya ke bokong Hongbin.
"Aaah.. uhh wow... uhh Shikie... ssso harrdd... Shhikkie.."
Wonshik tertawa mengejek.
"What do you want Bin-ah?" Bisiknya lagi.
Suara Wonshik yang dalam dan parau membuat Hongbin semakin terangsang. Ia menggeliat di tubuh Wonshik, membuat Wonshik merintih.
"Pplease Wonshik... please"
Wonshik diam di tempat dan tetap menahan tangan Hongbin.
Hongbin terus menggesekkan bokongnya ke member Wonshik. Ia tidak bisa berpikir jernih saat ini.
Wonshik mencoba mengontrol nafasnya dan menahan dirinya. Ia ingin mendengar Hongbin memelas padanya.
"Uuhhhhhh... mmmmm... Shikie... pleaseeee"
Hongbin menengadah ke Wonshik. Wajahnya menatap Wonshik dengan sangat mesum.
Wonshik menarik rambut Hongbin.
"Say. It!"
"Uuhhh Shikiee... fuck m- uummhhh"
Wonshik kehilangan kesabaran, ia langsung mencium Hongbin dengan nafsu.
Wonshik mendorong Hongbin ke dinding. Lalu ia melepas ciuman mereka dan membalikkan tubuh Hongbin sehingga Hongbin membelakanginya.
"Fuck!" Wonshik menurunkan celana Hongbin dan ia memasukkan jarinya ke mulut Hongbin.
Hongbin dengan patuh membasahi jari-jari Wonshik dengan air liurnya.
Suara yang dibuat Hongbin membuat Wonshik semakin terangsang.
Tangan Wonshik yang lain melepas celananya dan mulai memompa membernya sendiri.
Tangan Hongbin juga memompa dirinya sendiri.
Wonshik menarik tangannya dan ia mendorong tubuh Hongbin ke dinding lalu tanpa aba-aba ia langsung memasukkan jarinya ke lubang Hongbin.
Hongbin berteriak kaget tapi ia merasakan senang.
Gerakan jari Wonshik lambat.
"Unngghh Shikie.. please fuck me... pleaseeee Shikiee.. haaarrdd... aah... Shi-"
Wonshik mengeluarkan jarinya, dengan cepat ia memasukkan membernya dengan kuat.
Hongbin terdiam, matanya terpejam kuat, mulut yang terbuka, ia menahan sakit.
"Shit! Sssshiit! Binnie... you want me to move?"
Wonshik tidak membutuhkan jawaban Hongbin. Ia langsung menggerakkan membernya dengan gerakan sedikit cepat. Ia merasakan lubang Hongbin yang sangat rapat. Ia menyukai itu.
"Aaah.. ahhh.. aaahh... Shi... Shikiee.. uuuhhh... hhaa.. hhhaarrdd..."
Tangan Hongbin mencakari dinding.
"Hhhaard? Uhh.. hhaard? Aaaahh... llike... tthiis?... yyea?... hmmm?... Binnie... you ffucking... tight... OOOHHH GODDDD... BBINNIE..."
Wonshik menggerakkannya dengan cepat dan dalam. Ia mengenai prostat Hongbin, membuat Hongbin berteriak sangat kuat. Ia yakin orang di rumahnya mendengar jeritannya.
"WWONN... WWOOONNNNSSHHIIIKKKKK TTHHHAAA...TSSSS ... AAAHH.. UUHHH GGFF... SSHIIKKK..."
Wonshik semakin brutal. Ia lalu mendengar erangan dan jeritan Hongbin yang panjang. Ia tahu kalau Hongbin sudah ejakulasi. Tak lama ia pun menyusul.
Keduanya terengah-engah.
Hongbin menyandarkan kepalanya di dinding, dan Wonshik memeluk Hongbin dari belakang.
"Wonshik? Umm.. aku mengotori dindingmu..." bisik Hongbin.
Wonshik tidak melepas membernya dari Hongbin, dan dengan pelan ia memutar tubuh Hongbin menghadapnya.
Mereka berdua merintih kuat, member mereka masih sensitif.
"Anak nakal!" Ejek Wonshik sambil mencium bibirnya.
Hongbin menikmati ciuman Wonshik.
"Kau harus dihukum!"
Mata Hongbin membelalak.
Wonshik mengangkat kaki Hongbin dan melingkarkannya ke pinggangnya. Dengan membernya masih di lubang Hongbin. Ia membawa Hongbin kembali ke kamarnya.
"Aku akan menghukummu!"
Hongbin merintih lemah dan ia membenamkan wajahnya di leher Wonshik dan Wonshik tersenyum nakal.
