.

.

-It Has to be You-

.

.

Dari luar rumah, aku sudah bisa mendengar Jihyeon meracau bertanya pada siapa pun tentang keberadaan Yesung.

"Jihyeon-ah.. Yesung sekarang ada di rumahnya, kau tidak perlu mencarinya lagi." kataku setelah ia membanting handphonenya ke sofa.

Ia menoleh dengan cepat, dan menghampiriku, "Mwo?! Dari mana kau tahu, hah?"

"Aku menghubunginya tadi, dan ia bilang ia baik-baik saja.. Katanya kau juga tidak perlu menghubunginya, ia pasti akan segera kembali.."

"Apa?! Kau berhasil menghubungi oppa?" tanya Jihyeon kaget.

"Daritadi subuh aku menghubunginya, tapi tidak bisa! Kau pikir aku akan percaya kata-katamu?" Jihyeon terlihat marah.

"Hei, kalau kau tidak percaya yasudah!" sanggah Minho.

"Aku tahu ini akan terjadi, Yesung oppa terlalu baik padamu, makanya sekarang ia jadi seperti itu! Ia tidak bisa menjadi musisi, tapi kau malah menghasutnya untuk memberontak!" Jihyeon semakin berapi-api.

"Aku tidak menghasutnya, sungguh..!" kataku mengelak.

"Terus saja kau mengelak! Aku tidak yakin oppa akan selamat kali ini. Kalau ia sampai tidak datang besok lusa untuk ujian, kau adalah orang pertama yang akan aku marahi!" Jihyeon menunjuk jarinya yang mungil itu kewajahku.

"Mianhae, aku tidak bermaksud seperti itu.. Yesung bilang ia menyukai musik, bahkan mungkin melebihi aku atau Minho.. Ia tidak ingin masuk kedokteran!"

"Kau! Berani sekali kau bicara seperti itu? Siapa kau? Kau tidak tahu apa-apa tentang oppa! Gara-gara kau, oppa hampir gagal dalam ujian kemarin, dan yang lebih parahnya ia hampir membunuhku! Kalau saja ia berlatih bersamaku, dan bukan pergi ke cafe bersamamu, ia tidak mungkin salah menusuk jarum infus ke lenganku! Untung saja aku berhasil, dan dosen itu mau memberi kami nilai B! Menjadi dokter adalah keinginan Ayah Yesung oppa, kau tidak perlu mengaturnya! Arraseo?!" jari telunjuk Jihyeon kini semakin dekat ke wajahku. Ia bahkan sempat mendorongku di akhir kalimatnya itu.

"Heii, Jihyeon! Ada apa denganmu, hah? Kau jangan melimpahkan kesalahan pada Hyerin seperti itu!" Minho menghadang Jihyeon.

"Ma.. Maafkan aku, Jihyeon.. Aku tidak bermaksud seperti itu.. Aku melihat Yesung tidak merasa nyaman akhir-akhir ini, makanya akuu.."

"Cukup! Kau memang menyebalkan! Lama-lama, Yesung oppa juga sama menyebalkannya denganmu! Jangan dekati oppa lagi, atau aku tidak akan tinggal diam!" Jihyeon langsung pergi begitu saja meninggalkan aku dan Minho.

"Hyerin, sudahlah.. Tidak perlu memikirkan apa yang dikatakan Jihyeon.. Dia memang seperti itu.." Minho menepuk bahuku.

"Jihyeon benar, aku menyebalkan.. Aku hanya ingin.. Aku tidakk.. Maksudkuu.." aku berbicara seperti orang bodoh.

"Hyerin-ah.." Minho mengguncang bahuku, "Sudahlah.. Kembalilah ke kamarmu.. Tidak usah memikirkan dia lagi.." Minho menatapku tajam.

Aku menggeleng pelan, "Aku hanya tidak bisa tenang.. Gara-gara aku, Yesung jadi seperti ini.."

"Sudah ku bilang kan ini bukan salah mu, tapi kau terus saja menyalahkan dirimu sendiri. Jihyeon mungkin benar kau memang menyebalkan, itu karena kau keras kepala! Kau hanya memikirkan dia, dan tidak mau mendengarkan aku.." Minho berbalik dan membelakangiku.

"Kau bukan satu-satunya yang mengkhawatirkan Yesung, aku dan Jihyeon juga.. Tapi kau bertindak seolah-olah kau adalah orang yang paling mengerti Minho, padahal kalian hanya sebatas teman. Berhentilah bersikap seperti itu, aku tahu kau menyukainya, tapi di depanku, bisakah kau menganggap aku benar-benar ada?" nada bicara Minho naik ditiap kalimatnya. Ia lalu pergi meninggalkan aku sendirian. Okey, kali ini apalagi salahku? Apa aku memang benar-benar menyebalkan? Bukan hanya Jihyeon, Minho pun mengatakannya dengan jelas kepadaku. Aku hanya mengkhawatirkan Yesung, memangnya itu salah? Aku tahu aku bukan Ibu atau kekasihnya, tapi aku ingin bertindak seperti itu agar Yesung tahu bahwa aku menyukainya. Dan mengapa Minho harus berkata seperti itu? Aku bahkan belum sempat mengelak, atau mengucapkan sepatah kata pun, Minho hanya menilaiku tanpa memberiku kesempatan untuk berbicara. Justru sekarang Minholah yang menyebalkan!

Hari Minggu kali ini terasa sangat suram. Dari pagi tadi aku belum berbicara sepatah kata pun pada seseorang. Bibi Han bahkan segan sekali saat menegurku tadi. Kemana sih penghuni rumah ini? Okay, mungkin saja Jihyeon tidak akan berbicara padaku lagi setelah kemarin, tapi di mana Minho? Dia pasti merajuk dan aku harus minta maaf lagi padanya. Entah kenapa aku jadi seperti orang yang kesepian. Dan juga menyedihkan. Dan kenyataannya itu benar.

Aku mondar mandir terus dalam kamar, sampai akhirnya aku bosan, dan pergi keluar. Dari halaman belakang, aku mendengar suara gitar, dan melodinya tidak asing bagiku. Pasti Minho! Aku bergegas turun dan pergi ke halaman belakang, Minho duduk di kursi taman sambil memainkan gitarnya. Hari ini cerah sekali, dan pemandangan di sekitar Minho itu benar-benar bagus, kolam renang yang jernih, juga pohon-pohon rindang yang menaungi Minho. Minho mengenakan kaos lengan panjang warna putih dan celana pendek selutut. Ia mengenakan kacamata, dengan frame kotak yang cukup keren. Jarang sekali Minho memakai kacamata, jangan-jangan kacamatanya bohongan?

"Sedang apa kau disana?" sahut Minho mengagetkanku. Tanpa sadar aku telah berjalan mendekati tempat Minho, dan sekarang aku jadi bingung harus berkata apa.

"Haah? Oh, annii.. Aku hanya.., ehm, jalan-jalan.."

Minho mengalihkan pandangannya dan menghiraukan jawabanku. Aku duduk saja di samping Minho, dan melihatnya bermain gitar, tapi Minho hanya terus memetik senar itu tanpa memainkan musik yang jelas.

"Minho.. Coba mainkan lagu yang kutahu.." pintaku sambil memeluk lutut. Minho menoleh tanpa berkata apa pun. "1 lagu saja, please.." kataku sambil tersenyum.

Minho tetap diam tapi ia mulai memainkan sebuah lagu. Intro berjalan pelan, aku pun memejamkan mataku. Lagunya agak asing, meskipun aku pernah mendengar lagu ini sebelumnya.

Neol chajaganda chueogi bonaen tingkeobel ttaranaseotdeon neverland

Geu gose naega neowa barabomyeo utgo isseo

Nan yeongwonhan neoui piteopaen. Geu sigane meomchun ne namja

Seotuljiman neomu saranghaetdeon naui neoege danyeoga

Reffnya punya lirik yang bagus. Apalagi Minho menyanyikannya dengan sangat baik. Aku membuka mataku dan menatap Minho, ia masih terus menyanyikan lagu itu sambil memandangku. Tatapan Minho sendu sekali, aku jadi penasaran, apa yang ada dalam pikiran Minho sekarang. Angin berhembus kencang sekali, daun-daun kering jadi berguguran dan mataku pun jadi kelilipan. Aku meringis, "Aah.. Aduh, anginnya kencang sekali.." aku mengucek mata kananku.

"Jangan dikucek seperti itu..!" Minho menghalau tanganku.

"Tapi ini perih sekalii.." kataku mencoba menguceknya lagi.

"Diamlah, biar aku lihat dulu.." Minho menahan tanganku, dan memperhatikan mata kananku dengan seksama. Ia meniupnya pelan-pelan, "Sudahh, kau jangan menguceknya lagi.."

"Hmm, baiklah.." aku mengedip-ngedipkan mataku. "Eehm, gomawo Minho.." kataku sambil tersenyum. Minho terus saja memandangiku, wajahnya pun terus mendekat. Aku jadi risih dan mundur terus, tapi Minho menahan bahuku.

"Ehm, kau kenapa Minho?" kataku ragu sambil mengalihkan pandanganku dari wajahnya yang semakin mendekat. Tangan kanan Minho mendekati wajahku, aku pun langsung memejamkan mataku. Ya ampuun! Minho mau apa sih? Jantungku berdetak tak karuan, tubuhku jadi lemas, apa yang harus aku lakukan kalau badanku saja tidak bertenaga seperti ini?

Minho menyisipkan rambut yang terurai di samping telingaku, dan mengambil sesuatu di sana.

"Ada daun kering di rambutmu.." katanya pelan sambil menunjukan sehelai daun ditangannya.

Aku membuka mataku dan mengambil daun itu, "Ooh.." kataku lega.

"Wae?" tanya Minho sambil membuang daun itu dari tanganku.

"Wae? Mwo?" aku balik bertanya.

"Kenapa kau terlihat sangat tegang? Dan kenapa juga kau memejamkan matamu?" pertanyaan Minho seperti mencubit pipiku.

"Anni.. Kupikir kau.." jawabku salah tingkah. Sial! Apa yang harus aku katakan padanya?

"Aku apa?" tanyanya lagi.

"Yah, kupikir kau ingin melakukan sesuatu padaku.." kataku sambil merenggut menutupi baju yang kupakai.

"Haah?" Minho tertawa mengejekku. "Kau ini geer sekali, siapa juga yang mau melakukan itu padamu, hah?"

"Yah bisa saja kan kau mengambil kesempatan dalam kesempitan untuk menciumku misalnya.." aku membela diriku, enak saja Minho berkata seperti itu.

Minho memalingkan pandangannya. "Aku bukan orang yang serendah itu. Aku tidak akan melakukan hal itu padamu.." suaranya pelan, tapi intonasinya tegas sekali. "Tapi, jika ada pria lain yang mau melakukan itu seenaknya padamu, katakan padaku, aku akan menghajarnya untukmu.."

"Tenanglah.. Aku bisa menjaga diriku. Justru kaulah yang membuatku merasa tidak aman." jawabku sambil menyikutnya.

"Kau itu bahkan tidak bisa menilai orang dengan baik.. Denganku saja kau merasa tidak aman. Aku khawatir kau justru akan lebih percaya pada orang jahat daripada percaya padaku. Entah kapan kau akan dewasa mengingat umurmu yang sudah setua itu, tetapi pemikiranmu masih saja seperti anak kecil. Kau juga terlalu baik, polos, persis seperti.."

"Mawar putih?" sebelum Minho selesai berucap, aku memotongnya. Aku merasa de javu, kata-kata Minho persis seperti yang dikatakan Yesung beberapa hari lalu.

"Kau.. Darimana kau tahu aku ingin mengatakan itu? Kau membaca pikiranku?" tanya Minho curiga.

"Aniiyo.. Aku hanya teringat, Yesung juga pernah berkata seperti itu padaku. Katanya aku seperti mawar putih.." aku memegang kedua pipiku. Rasanya senang sekali kalau mengingat kejadian itu.

"Yesung mengatakan itu?" tanya Minho kaget.

"Ne.. Aku bahkan melihatnya menaruh bunga mawar putih di dalam kamarku.."

"Yesung?! Menaruh bunga itu?" Minho bertanya lagi dengan nada yang sama.

Aku mengangguk senang. "Kau benar-benar berpikir Yesung yang memberikan bunga itu?" Minho terlihat serius sambil menatapku.

"Ne! Kan aku sudah bilang kalau Yesung yang menaruhnya di kamarku.. Kau tidak yakin sekali sih? Kalau kau suka pada seseorang, begitulah seharusnya yang dilakukan oleh seorang pria.. Yesung romantis sekali 'kan?"

"Kau benar-benar menyebalkan! Pabo chorom!" Minho mengataiku. "Kalau begitu saja, aku pun bisa melakukannya.. Dimatamu, dipikiranmu, dihatimu, hanya ada Yesung, kau bahkan tidak tahu yang sebenarnya. Bagaimana caranya agar aku bisa membuatmu sadar, bahwa aku benar-benar ada?"

"Aku menganggapmu ada, kau temanku.. Sahabat terbaikku.. Jangan berbicara seperti itu, aku 'kan hanya ingin kau tahu bahwa aku menyukai Yesung.. Bisakah kau berhenti mengataiku bodoh? Kau seharusnya mendukungku, bukan seperti ini!" aku mencoba menyanggah perkataan Minho.

"Aku temanmu, tapi bisakah kau melihatku dari sisi yang berbeda, dari sisi dimana aku tidak kau bandingkan dengan Yesung! Kalau aku menyuruhmu untuk berhenti menyukainya karna takut kau akan terluka nanti, apa kau mau mendengarkanku sebagai temanmu? Lihatlah, aku berada di posisi yang serba salah! Kau terus saja memberi tahuku tentang perasaanmu, tapi pernahkah kau lihat aku bukan karena aku temanmu? Pernahkah kau lihat aku sebagai..." Minho terlihat frustasi, ia masih mencoba untuk berbicara, tapi kemudian ia malah bangkit berdiri. "Sudahlah.. Aku malas bicara dengan mu..!" Minho beranjak pergi sambil membawa gitarnya.

"Minho-yaa.. Waeyo?!" teriakku memanggilnya. Minho pergi menghiraukanku, dan melewati Jihyeon yang entah sejak kapan berdri di dekat kolam. Ia melihatku dengan tatapan mengejek, ia membawa segelas juice jeruk ditangan kanannya, lalu datang mendekatiku.

"Kau itu benar-benar pabo chorom yah?" kalimat mengejek dari Jihyeon mengalir pelan tapi tepat menusuk hatiku. Aku menoleh dengan tatapan marah, "Aku tidak sedang ingin berdebat denganmu! Cukup Minho saja yang mengataiku bodoh, tidak usah kau juga!"

Mengapa orang-orang mengataiku bodoh sih? Minho dan Jihyeon benar-benar orang yang menyebalkan! Lama-lama mereka berdua jadi mirip sekali! Apa yang salah sih kalau aku menyukai Yesung? Sebagai sahabat kan seharusnya Minho mendukungku.

"Menurutku kau bukan seperti mawar putih, karena kebodohanmu yang lebih mencolok dari kepolosanmu.. Bisa-bisanya kau berpikir bahwa Yesung oppa yang memberimu bunga itu, padahal sudah jelas sekali kalau kau itu bertepuk sebelah tangan.." Jihyeon kemudian meminum jusnya. "Dengar.. Berhentilah terlalu berharap, jangan melakukan pembenaran pada dirimu sendiri, karna selain hal itu sangat menyebalkan untukku, hal itu juga akan melukai hatimu.." ia berbicara lagi, tapi kali ini ia tampak serius.

"Kau ini bicara apa sih? Mengapa kau dan Minho terus saja berbicara hal yang sama?! Memangnya salah kalau aku ingin menjaga perasaanku, dan tetap menyukai Yesung?" aku mulai marah pada Jihyeon.

"Tentu saja salah.." jawabnya santai. "Uhm, bagaimana yah.. Aku ingin mengatakannya pada mu, tapi aku sudah berjanji untuk diam. Menurutku, sebaiknya kau lakukan apa kataku sekarang, aku hanya tidak ingin kau terluka, Hyerin.." lanjutnya lagi sambil meminum jusnya. Kemudian ia bangkit berdiri, "Yahh, begitulah nasihat dariku.. Terserah kau mau mendengarnya atau tidak.." Jihyeon lalu melenggang pergi.

Aku masih saja terdiam memikirkan kata-katanya, apa maksud Jihyeon coba? Apa ia kekasih Yesung sampai-sampai ia harus menegurku seperti itu? Dan saat Jihyeon berbelok masuk dalam rumah ia menyeringai.

"Heii, Jihyeon! Apa maksudmu, haah?" teriakku geram. Perempuan ini memang menyebalkan! Dan lebih buruknya lagi Minho sudah hampir sama menyebalkannya dengan Jihyeon!

"Aarrghh!" aku mendengus sambil menyandarkan punggungku di kursi taman! Aku bosan, aku lelah dengan situasi ini, dan aku ingin melihat Yesung. Ini baru 2 hari aku tidak bertemu dengannya, dan seperti sudah lama sekali. Rumah ini, tanpanya terasa sepi. Bahkan sewaktu Jihyeon meracau tidak karuan, atau saat Minho bernyanyi dengan gitarnya, rumah ini tetap terasa begitu sunyi. Mungkin bukan kesepian yang aku rasakan sekarang, tapi kerinduan. Yaa, benar. Aku merindukan Yesung..

To be continue..