.

.

-It Has to be You-

.

.

Aku berjalan ke kelas dengan langkah gontai. Mataku agak bengkak karna tidak bisa tidur dengan nyenyak semalam. Demi apa pun, rasanya ingin sekali aku kembali pulang dan tidur lagi di kamar. Kalau saja hari ini tidak ada kelas Prof Lee, dan tugas deadline-nya untuk membuat aransemen lagu, sekarang ini aku mungkin sudah masuk dalam dunia mimpi.

"Hyerin.." seseorang memanggilku. Aku terus saja melangkah, menghiraukan panggilan tersebut.

"Park Hyerin!" tegur suara yang sama. Ia kini berdiri di hadapanku. Aku mendongak, "Eh, ya?" jawabku kikuk.

"Kau ini daritadi dipanggil juga!" Sohee, teman sekelasku, ia menyerahkan buku absen.

"Oh, maaf.." aku mengambil buku absen itu, dan mencari namaku di sana.

"Cepat tandatangani, dan mana tugas mu? Aku harus mengumpulkannya sekarang beserta bukti daftar absen itu segera pada Prof Lee." Sohee memberiku pulpen, menungguiku dan mengambil kembali absen tersebut. Aku membuka tas dan mengambil paper tugas untuk dikumpulkan. Aku bersyukur tidak menunda mengerjakan tugas itu saat Prof Lee memberikannya minggu lalu, dan aku langsung menyelesaikannya hari itu juga.

"Okey, gomawo Hyerin.." katanya sambil mengambil paper itu. "Jangan sampai kau terlambat ujian karaoke yah nanti!" tambahnya lagi.

Aku memandangnya kaget, "Apa?!" Bukannya ujian vokal biasa? Atau aku lupa bahwa ujiannya memang karaoke? Shit! Aku lupa kalau Prof Lee memang mengganti ujian vokal dengan ujian karaoke hari ini. Ini semua karena masalah Yesung yang terus-terusan berputar dalam kepalaku sampai-sampai hal sepenting ini terlupakan olehku.

"Yaa, ujian karaoke.. Ku harap kau tidak lupa, lagipula kenapa kau ke arah sana? Ruang karaoke kan diujung sana.." Sohee menunjuk ke arah berlawanan dari yang aku tuju tadi.

"Oh, yah.. Aku tahu, a-aku hanya ingin ke toilet.." jawabku bingung.

"Hm, baiklah.. Aku duluan yah.. Aku ingin berlatih lagi, kau tidak akan tahu kan kejutan apa yang mungkin dihadirkan oleh Prof Lee? Setiap kali aku berhadapan dengan mata kuliah ini aku selalu saja tidak bisa tidur dengan tenang pada malam sebelumnya. Ku harap hari ini aku bisa melewati ujian dengan baik. Kau juga jangan sampai terlambat, dan setidaknya berlatihlah sedikit, walau aku tahu kau pasti dapat nilai bagus lagi kali ini. Hahaha.. Annyeonggg.." Sohee melambaikan tangannya.

"Pabo! Pabo chorom, kau Hyerinnn!" aku memukul keningku sendiri, memaki dalam hati, bisa-bisanya aku lupa ujian hari ini! Pantas saja dari kemarin Minho terus berlatih, dan parahnya lagi ia tidak mengingatkanku! Menyebalkan! Aku melihat jam tanganku, masih ada satu jam, cukup untuk memilih lagu dan berlatih! Bisa gawat kalau aku tidak berhasil melewati ujian ini, karena si empunya mata kuliah, yaitu Prof Lee, sang dosen killer yang siap memberi nilai E atau bahkan F sekalipun untuk suara yang menurutnya 'Kau beruntung bisa masuk Fakultas Seni Musik, dan berdiri di hadapanku sekarang dengan suaramu yang standar, hingga aku sendiri bahkan tidak tahu mengapa bisa aku masih bisa menahan diri untuk tidak memaki atau mendorongmu dari lantai ini ke bawah sana, karena kesalahanmu yang main-main dan tidak serius berlatih vokal di kelasKU!'. Yahh, Prof Lee sangat menyukai orang-orang dengan bakat menyanyi yang luar biasa, tapi ia akan lebih senang jika ada orang yang dengan bekerja keras untuk belajar mencapai sebuah kemampuan bernyanyi sesuai standarnya.

Aku sendiri merasa sangat beruntung dan bersyukur karena aku memiliki suara yang menurut Prof Lee merupakan suatu anugerah karena aku mampu mencapai high note dengan sangat baik, bahkan saat sedang menampilkan koreografi, atau tetap stabil saat mengeluarkan nada rendah sekalipun. Tapi tentu itu bukan suatu jaminan aku akan selamat kali ini, karena aku sendiri bahkan tidak tahu harus menyanyikan lagu apa saat ujian karaoke nanti. Well, bisa jadi kali ini aku akan berakhir dengan kata-kata amarah atau sorot kekecewaan dari Prof Lee yang sangat membanggakan aku di hadapan para dosen Fakultas Seni Musik lainnya jika ia tahu aku lupa berlatih untuk ujian karaoke.

Seperti namanya, ujian karaoke disini berarti karaoke dalam arti sebenarnya. Kita memilih lagu yang akan dinyanyikan, dan mesin karaoke akan memberikan nilai. Tetapi, bukan Prof Lee namanya kalau nilai mahasiswanya hanya ditentukan dari mesin karaoke. Ini yang masih terus menjadi misteri bagi anak jurusan Seni Musik, mengapa Prof Lee repot-repot ujian karaoke kalau nilainya tidak disesuaikan dengan nilai dari mesin? Nilai yang diberikan pasti tidak sesuai, dan kadang berbanding terbalik dari nilai mesin. Nice!

Aku harus ke taman sekarang! Aku harus berlatih dengan amat sangat keras! Aku berlari kecil untuk segera turun ke lantai dasar, dan saat itu seseorang dengan suara yang sangat aku kenal, yang sangat aku rindukan, memanggilku..

"Hyerin-ah.."

"Kim Yesung?!" aku nyaris berteriak ketika menoleh dan melihat Yesung berdiri di hadapanku. Ia tersenyum saat aku masih terbelalak, dan berjalan mendekatiku, "Park Hye Rin.." katanya sambil tertawa. "Kau tidak perlu memanggil nama lengkapku seperti itu."

"Kau kembali?" aku menutup mulutku masih tidak percaya.

"Ne.." jawabnya sambil mengelus rambutku. "Kau mau ke mana? Aku ingin bicara denganmu sebentar, kalau kau tidak buru-buru sekarang.."

"Ohh, aniiyo.. Aku ingin ke taman tadi, kau mau bicara apa?" jawabku malu.

"Hm, baiklah.. Kita ke taman saja.."

Taman di belakang kampus masih sepi, mungkin hanya kami berdua sekarang. Aku dan Yesung duduk dibangku taman dekat pohon besar di samping kolam.

"Uhm, a-apa kabarmu?" tanyaku canggung.

Yesung tertawa kecil, "Aku baik.. Yah, seperti yang kau lihat, aku masih baik-baik saja sekarang.."

"Kau tahu, mengikuti perkataanku, dan membahayakan jiwamu itu sungguh sangat tidak kuharapkan terjadi! Apa yang akan dilakukan Jihyeon jika ia tahu kau tidak kembali hari ini? Mungkin ia akan menerkamku, atau menyeretku ke meja operasi untuk mengeluarkan semua organ-organ tubuhku!" aku bergidik ngeri saat aku membayangkan tubuhku diiris-iris pisau oleh Jihyeon.

Yesung tertawa lagi, "Hei, tenanglah Hyerin.. Jihyeon tidak mungkin melakukan itu padamu.." ia mengelus rambutku lagi. "Aku minta maaf karena sudah membuatmu, Jihyeon, dan Minho khawatir.. Aku sungguh menyesal.." katanya sambil menatapku.

"Itu sudah seharusnya kan?" jawabku merajuk.

"Yah, aku menyesal tidak memberitahu kalian sebelumnya bahwa aku tidak pulang, tapi aku sama sekali tidak menyesal sudah mengatakan yang sebenarnya pada Ayahku." Yesung tersenyum menatap kolam disampingnya. "Kau benar, Ayahku mengamuk setelah aku bilang padanya tentang keinginan bermusikku." lanjut Yesung lagi.

"Lalu? Apa ia benar-benar marah besar?" tanyaku takut.

"Ia memarahiku saat itu, tapi untungnya Ibuku membelaku. Aku menjelaskannya sekali lagi agar Ayahku mengerti, dan berjanji 1 hal padanya.." wajah Yesung tampak tegang, ia menghela nafas panjang. "Aku berjanji akan tetap menjalani pendidikan kedokteranku, asal Ayah mau memberiku ijin untuk tetap bermusik."

"Mwo?! K-kau membuat perjanjian dengan Ayahmu?" kataku kaget.

"Ne.." jawabnya sambil menoleh kepadaku. "Dan akhirnya.. Aku berhasil..!" senyum Yesung merekah, dan ia tampak lega. "Yah, meskipun aku tetap harus belajar lebih giat untuk memperbaiki nilaiku diujian kemarin, aku senang sekarang aku bisa bermusik lagi.."

"Ne, aku juga senang.." kataku gembira. "Mungkin kapan-kapan kita bisa bernyanyi bersama.."

"Tentu, Hyerin.. Itu yang aku tunggu-tunggu kau ucapkan padaku daritadi.." dan kami pun tertawa bersama.

"Gomawo, Hyerin-ah.. Aku beruntung ada kau sebagai sahabatku.."

"Kau berlebihan, aku pasti akan terus mendukungmu.." jawabku malu. "Lagipula aku sungguh merasa bersalah padamu, gara-gara kau pergi ke cafe bersamaku waktu itu, kau jadi tidak bisa berlatih, dan alhasil ujianmu berakhir dengan nilai B.." aku menunduk malu.

"Itu bukan salahmu, akulah yang bodoh.." Yesung berubah muram. "Bukan hanya nilai itu saja, tapi aku hampir saja melukai Jihyeon, aku hampir saja membunuh gadis yang kucintai.."

"A-apaa?" tanyaku kaget. Apa aku tidak salah dengar? Jihyeon dan Yesung? "K-kau? Dan Jihyeon? Kau mencintai..nya?" kataku terbata-bata.

"Ohh, yah.. Maaf tidak memberitahumu sebelumnya. Aku dan Jihyeon memang sudah bersama sejak lama. Beberapa bulan yang lalu kami baru saja bertunangan. Tapi aku dan Jihyeon memang sengaja tidak memberitahu siapa-siapa termasuk kau.." jawab Yesung sambil tersenyum.

Mataku mulai panas, dan seolah-olah ada banyak kaca menutupi retinaku. "T-ta..Ttapi, kupikir.. Aku? Kau.. Maksudku.. Aku sama sekali tidak berpikir bahwa kau.. Dengan Jihyeon?" aku meracau tidak karuan. Hatiku seperti tertusuk dalam sekali dan rasanya perih.

"Yahh, aku sudah berpacaran dengannya sejak 3 tahun yang lalu. Aku tahu kau berpikir bahwa Jihyeon gadis yang cuek dan pemarah. Terkadang Minho juga menyebutnya gadis menyebalkan. Tapi, mungkin kalian hanya tidak mengenalnya dengan baik, karna sebenarnya Jihyeon gadis yang menawan juga ramah." Yesung mengucapkan setiap kata dengan wajah berbinar.

Hatiku seperti ditusuk belati, sesak sekali sampai aku sulit bernafas. Apa aku harus menumpahkan air mata yang sudah berkumpul dikelopak mataku? Atau aku harus mengucapkan selamat pada Yesung atas pertunangannya? Atau aku harus tetap diam mendengar bagaimana sempurnanya Jihyeon bagi Yesung? Yang mana yang harus akau lakukan sekarang? Lalu bagaimana dengan mawar putih itu? Untuk apa Yesung memberikannya padaku, kalau dia sendiri sudah bersama Jihyeon?

"T-tapi, kau? Mawar putih itu? A-apa maksudmu?" suaraku tercekat. Pertanyaanku lebih seperti menuduh Yesung atas perbuatannya yang telah membuatku berharap terlalu banyak. Yesung pasti bisa mendengar nada parau dari kalimatku itu.

"Mwo? Wae?" tanya Yesung bingung. Aku mulai frustasi, mataku semakin panas. Mana mungkin Yesung lupa ia sudah menaruh bunga itu di kamarku?!

"Kau menaruh mawar putih di kamarku! K-kau tidak mengingatnya?" aku mencoba menahan air mataku, aku tidak ingin menangis di depan Yesung. Dan lebih sulit lagi, aku harus menahan amarahku, bagaimana mungkin Yesung berpura-pura tidak mengingatnya?

"Mwo? Mawar putih di kamarmu?" Yesung mencoba mengingatnya. "Ahh, bunga itu! Aku memang menaruhnya di meja kamarmu, tapi aku hanya memungutnya." Aku masih terus berpikir, menunggu penjelasan Yesung dengan wajah penasaran. "Saat kau keluar kamar waktu itu, bunganya tidak sengaja kau tendang, kau bahkan tidak menyadari hampir saja menginjaknya, dan pergi buru-buru sekali. Daripada bunga itu terinjak oleh orang lain, aku memungutnya dan menaruh bunga itu di mejamu. Mian, karena masuk kamar tanpa seijinmu.."

"Jadii, bukan kau yang memberiku bunga itu?" aku tertunduk lemas. "Kupikir selama ini.. Maksudku, aku.. Aku berharap kau yang benar-benar memberiku bunga itu. Aku menunggu memastikan hal itu, aku bahkan yakin bahwa perasaanku benar, aku yakin bahwa perasaanku terbalas.." suaraku semakin tercekat. Mataku basah, tapi aku terus menahan agar aku tidak menangis. Ini lebih sakit saat aku tahu Yesung telah bersama Jihyeon, kupikir tidak masalah walau sainganku Jihyeon, asal Yesung bisa memberikan kesempatan untukku merasa bahwa aku cukup berarti untuknya, bahwa aku juga ada di hatinya.

Yesung menepuk bahuku pelan, "Mianhae, Hyerin-ah.. Mianhae, ini salahku yang tidak menjelaskannya padamu. Kau tahu aku menyayangi Jihyeon, ia segalanya bagiku."

"Tapi aku menyukaimu.. Aku menyayangimu, Yesung.." akhirnya aku mengatakannya pada Yesung dengan bulir-bulir air mata yang jatuh dipipiku. "Aku tidak salah, karena aku merasakannya di hatiku.." aku menghapus air mataku yang masih deras keluar dari liangnya.

Yesung manatapku iba. Ia hanya memegang bahuku. "Hyerin-ah.. Aku tahu, aku berterima kasih atas perasaanmu yang tulus itu, tapi maafkan aku.."

"Kau tahu kan aku menyukaimu, sudah lamaa.. Saat pertama kali aku melihatmu, aku tahu itu.. Perasaanku benar.." aku mulai sesenggukkan.

"Mianhae Hyerin-ah.. Mianhae.. Aku tidak bisa menerima perasaanmu, kau juga pasti tahu aku menyayangi Jihyeon, ia satu-satunya orang yang aku cintai.." Yesung terus meminta maaf padaku. "Kau pantas mendapatkan yang lebih baik dariku, kau tahu, si pemberi mawar putih itu, aku yakin ia mencintaimu dengan sepenuh hati. Mungkin saat ini kau masih belum menyadari siapa orang yang memberikan bunga itu diam-diam, tapi percayalah, orang itulah yang benar-benar pantas untukmu. Aku yakin kau tahu, karna selama ini kau hanya ingin menyangkalnya saja. Kau berpikir bahwa perasaanmu padaku itulah yang benar, tapi sebenarnya, ada perasaan lain yang kau sembunyikan dari dirimu sendiri.." kalimat Yesung satu per satu masuk dalam otakku. Aku seperti tersentil oleh kata-katanya barusan. Haruskah aku mengiyakan semua yang diucapkan Yesung dan mengakui kebodohanku karena sudah terlalu berharap?

Saat aku sadar bahwa ada orang lain selain Yesung di hatiku, aku malu mengakuinya dan membiarkan keegoisanku bertindak menutupi hal itu dengan mengatakan bahwa perasaanku pada Yesunglah yang benar. Lalu sekarang siapa orang lain itu? Aku sudah tidak bisa berpikir lagi, yang aku rasakan sekarang adalah bahwa aku malah membenci si pemberi mawar itu. Siapa pun dia, mengapa ia tidak datang langsung saja padaku dan mengatakan yang sebenarnya agar aku tidak harus merasakan sakit di hatiku.

"Kau pasti tahu.." Yesung membuyarkan lamunanku.

"Aku tidak tahu.." jawabku pelan.

"Kau tahu, aku yakin.." Yesung mengatakannya lagi dengan nada meyakinkan. "Sudahlah.. Kau tahu, aku tetap menyukaimu Hyerin-ah.. Kaulah satu-satunya teman, sahabat yang terbaik bagiku" Yesung menghapus sisa-sisa air mataku.

"Go-Gomawoo, Yesung.." jawabku masih sesenggukkan.

"Baiklah, kurasa aku harus segera kembali ke kelasku, aku sudah bilang pada Jihyeon aku tidak akan lama, aku harus mengikuti ujian setelah ini. Senang sekali bisa bertemu denganmu Hyerin.. Gomawo, aku pergi dulu, nee.."

Yesung pergi dan menghilang setelah ia berbelok diujung lorong. Bagaimana aku bisa sebodoh ini? Hatiku rasanya seperti teriris, tidak berdarah memang tapi sakit sekali. Aku beranjak dari bangku taman dan pergi ke kelasku. Aku mencoba untuk berhenti menangis, tapi air mataku terus menerus jatuh. Aku harus berkali-kali menghapusnya, dan aku yakin sekarang mataku pasti sembab dan merah.

To be continue..