.

.

-It Has to be You-

.

.

Aku memelankan langkahku ketika mendekati kamar mandi yang ada disamping taman tempat aku berbincang dengan Yesung tadi pagi. Sebelum pintu kamar mandi ada lorong pendek dengan banyak jendela kaca di sisinya, aku langsung duduk di bawah salah satu jendela. Kakiku lemas, dan dadaku rasanya sesak sekali, aku tidak tahu lagi harus berbuat apa. Akhirnya aku menumpahkan seluruh sisa air mata yang tadi belum aku keluarkan saat bernyanyi. Menangis sesenggukkan untuk luka dihatiku yang entah kenapa, tidak berdarah namun sakit sekali. Aku membenci diriku sendiri, mengapa aku membiarkan diriku hanyut pada perasaan semu bernama cinta. Atau bahkan perasaan itu tidak pantas disebut cinta, karena hanya aku yang merasakannya.

Berkali-kali aku menghapus sisa air mata yang jatuh dipipiku, dan berkali-kali juga air mata baru tumpah dari liangnya. Ini sungguh menyedihkan. Tunggu, maksudku aku lah sangat menyedihkan.

"Kau sangat jelek kalau menangis seperti itu." suara mengejek Minho membuatku langsung menoleh ke arahnya.

Aku menghapus air mataku dan membuang wajah dari hadapan Minho yang kemudian duduk disebelahku.

"Kenapa kau menangis disini?" tanya Minho. Aku pun hanya diam tidak menanggapinya.

Sunyi beberapa saat dan hanya terdengar suara hembusan nafas kami berdua. Apa yang Minho inginkan dari menungguku disini?

"Sebenarnya apa yang terjadi? Kau menangis saat ujian karaoke, dan membuat semua orang di kelas berasumsi macam-macam tentangmu." Minho kembali bersuara setelah sunyi yang sangat menyiksa.

"Apa pedulimu?" sahutku tanpa menoleh pada Minho.

"Apa peduliku?" Minho mendengus sebal. "Tentu saja bagimu harusnya aku tidak peduli tentang apa pun kan, termasuk tentang dirimu."

"Kalau kau memang peduli padaku, kenapa malah berbohong padaku, kenapa berpura-pura tidak tahu padahal kau tahu semuanya?" aku menaikkan suaraku agar Minho tahu bahwa aku lah yang seharusnya merasa sebal disini, bukan dia.

"Kau ini bicara apa? Siapa yang berbohong?" Minho menatapku dengan wajah yang meyakinkan.

"Yesung dan Jihyeon sudah bertunangan. Kau pasti tahu kan?!" aku langsung menuduh Minho.

Minho kaget, ia mengalihkankan pandangannya, dan menolak melihatku, "Kau tahu, dan kau menyembunyikannya dariku." suaraku tercekat saat aku mengatakannya.

"Bukan seperti itu maksudku. Aku hanya.." Minho berhenti bicara dan ia hanya menatapku dengan mata sendunya.

"Aku hanya tidak ingin kau terluka.." akhirnya Minho menyelesaikan perkataannya.

"Kau hanya menimbun lukaku semakin dalam, sampai akhirnya aku tahu sendiri dari Yesung."

"Yesung sudah kembali?" Minho sepertinya baru tahu bahwa Yesung sudah kembali hari ini.

"Jadi apa tujuanmu menyembunyikan hal itu? Kau tahu kan aku menyukai Yesung, harusnya kau tidak menyembunyikan hal itu dariku!" aku tidak menjawab pertanyaan Minho dan menanyakan tujuan Minho sebenarnya.

"Karena kau terlalu menyukainya, makanya kupikir kau akan terluka jika tahu bahwa Yesung sudah bertunangan dengan Jihyeon. Aku tidak memberitahumu agar kau tidak merasa sedih, dan lihat hasilnya, kau menangisi dirimu sendiri seperti ini, kau menyedihkan, Hyerin!"

"Tutup mulutmu, Minho! Kau benar-benar laki-laki menyebalkan! Kau melukai hatiku seperti yang Yesung lakukan kepadaku!" aku mengamuk dan memukul-mukul Minho.

"Hei, hentikan Hyerin! Aku tidak akan melukaimu seperti yang Yesung lakukan, aku tidak akan pernah melakukannya!" Minho menahan kedua tanganku agar aku tidak memukulnya.

"Yah! Kau tidak akan melukaiku seperti yang Yesung lakukan, karena kau terlalu pengecut!" aku memukul Minho lagi, dan lebih keras.

Minho menatapku garang, "Apa maksudmu, Park Hyerin?"

"Harusnya aku yang bertanya padamu, apa maksudmu memberikanku buga mawar putih selama ini di depan pintu kamarku?" Minho langsung menciut saat aku menanyakan tentang mawar putih itu padanya. Aku tahu sekarang bahwa yang dimaksud Yesung adalah Minho, dan aku harus tahu alasan sebenarnya ia telah membuatku salah sangka bahwa Yesunglah yang memberikanku bunga itu.

"Katakan padaku apa maksudmu? Kau membuatku malu di depan Yesung!"

"Cih!" Minho mendengus. "Kau tidak malu saat kau menangis di depan kelas tadi? Kau benar-benar sudah kehilangan otakmu!"

"Kau! Yahh! Kau yang tidak punya otak, apa maksudmu berkata seperti itu, apa maksudmu memberikanku bunga itu? Jelaskan padaku, Choi Minho!" aku kembali memukulnya dengan sekuat tenaga, emosiku sudah meluap-luap dan aku harus menghukum Minho atas perlakuannya padaku.

"Tentu saja karena aku menyukaimu, bodoh!" Minho meneriakkan kalimat itu sambil menahan kedua tanganku.

Aku terkejut dengan pernyataannya dan hanya memandangnya dengan wajahku yang aneh.

"Aku menyukaimu, dan yang kau pedulikan hanya Yesung. Bagaimana rasanya bertepuk sebelah tangan? Apa kau menyukainya?" Minho mencengkram tanganku semakin keras. "Bagaimana rasanya saat hatimu terus menerus merasa terluka untuk hal yang sama berulang kali? Aku merasakannya selama ini, dan yang bisa kulakukan hanya berdiri di belakangmu, dan menunggumu untuk menoleh kepadaku."

"Lepaskan aku!" teriakku pada Minho.

"Kau terluka karena Yesung, dan aku terluka karenamu. Dan kau masih berpikir bahwa aku juga ikut melukaimu. Kau benar-benar egois Hyerin!" Minho tak bergeming dan masih terus mencengkram kedua tanganku.

"Minho, lepaskan aku!" kataku sekali lagi saat Minho terus menatapku dengan mata tajamnya. Aku mulai ketakutan saat ia menahanku hingga punggungku membentur kaca. "Minho, tolong lepaskan aku.. Sakiiiitt.." aku merintih karena Minho tak juga melepaskanku. Ia mendekatkan wajahnya, sampai-sampai hembusan nafasnya bisa kurasakan diwajahku. Aku terpaksa memejamkan mataku saat Minho terus mendekat, sepertinya ia akan menciumku, bagaimana iniiii?

"Andwaaaeeeee!" aku berteriak saat sedikit lagi bibir Minho menyentuh bibirku.

"Yahh! Bisakah kau tidak berteriak seperti itu?!" Minho akhirnya melepaskanku dan mengacak-acak rambutnya frustasi.

"Kau sungguh keterlaluan, bagaimana mungkin kau mau menciumku dengan cara seperti ini?!" aku memarahinya sambil mengangkat daguku.

"Kau berisik sekali, lain kali aku tidak akan mau menciummu lagi!" Minho memalingkan wajahnya dari hadapanku.

"Choi Minho, kau.. Namja pabo chorom!" aku berteriak sambil menahan tangis, dia benar-benar bukan pria sejati, bagaimana mungkin dia memperlakukan orang yang disukainya seperti ini?

"Yahh! Kau jangan menangis lagi, Hyerin-ah.." Minho kembali menghadapkan wajahnya padaku.

"Kau bilang kau menyukaiku, dan ini yang kudapatkan dari orang yang mengaku menyukaiku?!" lagi-lagi aku menangis seperti anak kecil.

"Heii, mianhae.. Aku tidak bermaksud seperti itu. Kau selalu saja membuatku kesal, dan aku bahkan tidak tahu bagaimana aku mengatakannya padamu dengan cara yang benar. Kau tidak pernah memberikanku kesempatan untuk melakukannya."

Aku menatap Minho sambil menangis, "Aku membencimu!" ucapku dengan nada bergetar.

"Aku menyukaimu.." jawab Minho pelan.

Aku tetap menatapnya untuk meyakinkan apakah Minho benar-benar mengatakannya dengan serius.

"Aku menyukaimu, Hyerin-ah.. Aku mencintaimu.." kali ini Minho mengatakannya dengan sangat jelas. Tidak ada sedikit pun keraguan dari matanya. Minho menghapus sisa air mata dari pipiku sambil tersenyum. "Maaf aku baru mengatakannya dengan benar. Maafkan aku karena hanya menaruh bunga-bunga itu di depan pintu kamarmu, dan tidak langsung memberikannya padamu." Ia menyentuh pipiku dan menyisipkan rambutku ke balik telinga.

"A..aku.."

"Yahh! Hyerin-ahhh..!" tiba-tiba Sohee muncul di ujung lorong dan berlari menghampiriku.

"Kenapa selalu ada saja yang mengganggu moment ku, sial!" Minho menggumam saat Sohee sampai di tempat kami berdiri, dan berjalan sedikit untuk menghindarinya.

"Kau kemana saja, sih? Sulit sekali mencarimu!" Sohee terlihat lelah, mungkin karena ia sudah berkeliling kampus untuk menemukanku.

"Aku tidak kemana-mana. Ada apa?"

"Apa kau baik-baik saja? Aku kaget sekali saat kau berlari keluar dari kelas.." Sohee tampak memeriksa tubuhku. "Matamu semakin bengkak, Hyerin-ah.. Kau harus menceritakannya padaku setelah ini sebenarnya apa yang terjadi padamu hari ini!"

Aku mengusap kedua mataku, "Aku tidak apa-apa. Apa ujiannya sudah selesai?"

"Yah, tentu saja sudah. Ujian berlangsung sangat cepat setelah kau keluar dari kelas. Dan, oh! Aku hampir saja lupa, aku mencarimu karena kau dipanggil oleh .."

"Apaa? Waee?" kenapa aku masih bertanya pada Sohee, tentu saja ini pasti karena ujianku yang sangat memalukan tadi.

"Entahlah, ia ingin segera bertemu denganmu seusai kelas tadi. Sebaiknya kau segera menemuinya, kalau tidak bisa-bisa aku yang kena marah ."

Bagaimana ini? Apa aku masih punya muka untuk menemui ? Bisa-bisa aku langsung dikeluarkan dari universitas.

"Apa yang kau pikirkan, segeralah ke ruangannya!" Sohee mengajakku pergi tapi kakiku rasanya berat sekali untuk melangkah.

"Hyerin, sebaiknya kau temui dan jelaskan bahwa kau sedang sakit, jadi kau bisa menggunakan alasan itu agar tidak menghukummu." Minho memegang kedua bahuku erat.

"Kurasa itu tetap tidak akan membantu, pasti tetap akan menghukumku." suaraku tercekat.

"Yaa, kau bilang kalau kau sedang sakit tadi, katakan saja pada , setidaknya kau memiliki alasan yang bagus.." Sohee mendukung alasan yang diutarakan Minho.

"Pergilah, aku akan mengambil barang-barang kita di kelas dan akan menyusulmu ke ruangan .." Minho mengelus kepalaku dan menyuruh Sohee untuk mengajakku pergi. Ia tersenyum sebelum ia juga ikut pergi ke arah sebaliknya. Aku tidak tahu kenapa, tapi kurasa senyumnya menyiratkan bahwa aku akan baik-baik saja. Semoga.

"Mwo?!" aku merasa seperti ini adalah mimpi karena apa yang baru saja kudengar dari mulut Produser Kang tidak mungkin terjadi jika ini di dunia nyata.

"Kami benar-benar terkesan dengan penampilanmu. Bahkan improvisasinya terkesan dramatis saat kau menangis tadi." Produser Kang terlihat sangat sumringah saat mengatakannya dihadapanku. Sementara aku hanya bisa tersenyum kikuk karena justru itu terdengar seperti sindiran daripada pujian.

" sungguh beruntung memiliki mahasiswi berbakat seperti kau, Hyerin.." Produser Kang tertawa bahagia sambil bertepuk tangan disamping .

"Terima kasih atas pujianmu, Produser Kang. Park Hyerin memang salah satu mahasiswi dengan bakat musik yang bagus. Ia memiliki kepekaan terhadap nada-nada rendah dan tinggi yang sulit. Tidak heran jika saat ia sakit seperti ini pun ia tetap bisa menyanyi dengan sangat baik.." memandangku dengan penuh kebanggaan yang terpancar jelas dari matanya. Justru apa yang baru saja dikatakan oleh lah yang terdengar berlebihan. Ia bahkan tidak pernah memujiku dengan sangat manis seperti tadi, dan sekarang aku seperti golden treasure yang sangat berharga bagi bangsa dan negara.

"Kami tahu kau pasti masih bingung dengan kejadian ini, tapi saya pribadi berharap kau bisa segera menerima tawaranku untuk pergi." Produser Kang tampak sangat berharap.

"Kesempatan emas ini tidak akan datang dua kali, Hyerin. Kau bisa mengembangkan bakatmu, dan belajar untuk menjadi penyanyi terbaik di sana. Saya yakin Produser Kang bisa membimbingmu hingga saat itu. Jangan sia-siakan bakat yang kau miliki, dan ikutlah dengan Produser Kang ke Inggris." tambah dengan wajah seriusnya.

"T-tapii.. Ini sangat mendadak. Aku bahkan tidak yakin aku memiliki bakat seperti yang u-ucapkan.." jawabku terbata-bata.

"Saya tidak pernah main-main dengan penilaian tentang musik, Hyerin. Sudah 3 tahun sejak kau jadi mahasiswiku, kau dan juga Minho memang memilki bakat yang tidak semua orang miliki. Kau mendapat nilai 90 berdasarkan penilaian objektifku, tanpa campur tangan Produser Kang. Saya merasa bahwa kau memang pantas mendapatkan nilai tersebut, dengan tambahan poin bonus seperti yang kujanjikan maka nilaimu menjadi 93, tertinggi diantara angkatanmu. Saya tidak pernah memberikan penilaian setinggi itu selama ini, kau harus bersyukur karena hari ini saya juga membawa Produser Kang, ia menyadari bakatmu, dan ia yakin kau mampu. Yang harus kau lakukan adalah membuktikannya pada kami, pada orang tuamu, pada teman-temanmu, dan pada semua orang bahwa kami benar dengan penilaian kami terhadapmu." benar-benar serius dengan apa yang diucapkan, ia memang tidak pernah basa-basi soal musik.

"Jika itu saya, pasti sudah kuberikan nilai 100 untukmu." tambah Produser Kang sambil tertawa. "Saya berharap kau mau mempertimbangkannya, ah, tidak! Saya berharap kau mau menerimanya sekarang. Saya akan segera mengurus semuanya dan kau hanya tinggal bersiap-siap untuk berangkat." seru Produser Kang menggebu-gebu.

"S-saya tidak tahu harus bagaimana. Bisakah jika kalian memberikanku waktu untuk berpikir?" aku bingung apakah aku harus menerimanya atau tidak, ada banyak pertimbangan yang harus aku pikirkan sebelum aku menerima tawaran hebat ini, dan lagi masalah yang lainnya. Okey, maksudku masalah dengan Minho bahkan belum selesai kan?

"Saya tidak bisa menunggu lama, kami akan menunggu keputusanmu sampai besok pagi pukul 10.00 di ruangan . Saya sangat berharap kau memikirkan dengan baik, Park Hyerin." Produser Kang tersenyum manis sesaat sebelum aku beranjak pergi dari ruangan itu.

"Pergilah.." ucap Minho setelah kami tenggelam dalam kesunyian selama hampir hingga setengah jam.

Aku menoleh dengan cepat dan memandang Minho tak percaya. Ia bahkan mengucapkannya dengan yakin.

"K-kau bilang apa?!" tanyaku masih tak percaya.

"Kau pergilah, seperti kata kesempatan emas ini tidak akan datang 2 kali." Minho berkata lagi sambil menoleh padaku. Kurasa Minho mendengar semua yang dikatakan dan Produser Kang padaku.

"Kau punya bakat yang bagus, pergi ke Inggris dan mendapat pelatihan disana akan membuka kesempatanmu untuk debut. Produser Kang mungkin sudah merencanakan masa depanmu dari sekarang. Kau hanya tinggal menjalaninya dengan baik, dengan begitu impianmu bisa terkabul, kau bisa membuktikan pada orang tuamu bahwa kau bisa menjadi penyanyi seperti yang kau ucapkan pada mereka." Minho berkata lagi tanpa melihatku sedikit pun.

Tiba-tiba suasana di kamarku menjadi suram dan sedih. Bukan. Bukan ini yang ingin kudengar dari Minho. Kami bahkan tidak membahas sedikit pun tentang kejadian tadi siang. Tentang pengakuan perasaan Minho padaku. Aku pun belum mengucapkan perasaanku yang sesungguhnya. Apa Minho bahkan tidak ingin mengetahuinya? Kenapa ia harus membicarakan tawaran ke Inggris itu?

"Jangan menolaknya, dan katakan pada mereka bahwa kau akan pergi!" Minho bangun dari duduknya. "Aku akan kembali ke kamarku." Ia beranjak menuju pintu kamarku.

"Chakaman!" pekikku sebelum ia menyentuh gagang pintu. Aku maju selangkah mendekati Minho, "Hanya itu?" tanyaku dengan nada bergetar.

"Waee?" tanyaku lagi menuntut sesuatu dari Minho. "Aku tidak mau membahas masalah itu denganmu. Aku akan menolaknya besok." kataku lagi dengan lantang.

Minho segera berbalik menghadapku. Lagi-lagi ia menatapku dengan mata tajamnya. Entah sudah berapa kali aku tenggelam dalam kelamnya warna mata Minho. Ia tampak tidak suka dengan ucapanku barusan. "Apa kau sedang bercanda sekarang? Kalau iya, itu sama sekali tidak lucu, Park Hyerin!" jawabnya dengan suara berat khas Minho saat ia sedang marah.

Aku beringsut mundur karna takut mungkin Minho akan membentakku setelah ini. "A-aku.. aku akan memikirkannya nanti, ada hal yang kurasa lebih penting dari ini. Mengapa k-kita tidak menyelesaikan masalah tadi siang?"

"Masalah tadi siang sudah selesai, Hyerin-ah.." nada bicara Minho kembali melemah. "Kau sudah tahu perasaanku yang sebenarnya, dan maafkan aku soal mawar putih itu. Aku memang seorang pengecut, dan kuharap kau mau memaafkanku." Minho mengucapkan sambil menunduk dan aku tidak bisa melihat raut wajahnya.

"Aku sudah tidak mempermasalahkan hal itu lagi, aku suka bunga mawar putih itu, dan aku bodoh mengira bahwa Yesung yang memberikan bunga itu padaku. Tapi sungguh itu bukan lagi masalah, karena setelah tahu bahwa kau lah yang memberikan bunga itu, bukan kah seharusnya ada hal lain selain ungkapan perasaanmu tadi siang?" kata-kataku meluncur deras seperti air terjun. Minho malah memalingkan wajahnya dan hal itu justru membuatku malu. Sebenarnya apa yang baru saja ku katakan? Ini memalukan! Tetapi dalam hatiku, aku ingin penjelasan, bukan hanya ungkapan, sebuah permintaan dari Minho untuk kejelasan hubungan kita. Apakah itu salah?

"A-aku tidak yakin dengan hal ini, maksudku a-akuu-" Minho tergagap dengan wajahnya yang merona. Apa sulit sekali mengaku padaku sampai-sampai ia harus menahannya seperti ini?

"Palliii juseyoo, Minho-yaaa!" teriakku tidak sabaran. Okey, aku benar-benar memalukan. Mengharapkan kalimat itu keluar dari mulut Minho, aku seperti anjing kelaparan yang meminta makanan pada majikannya.

"Aku tidak bisa.." kalimat aneh itu meluncur dari mulut Minho dan aku hanya bisa tercengang. Aku mendengus tidak senang, apa maksudnya ini? Bisa-bisanya Minho mengatakan itu padaku, ini tidak seperti harapanku, apa Minho sedang main-main denganku?

"Jika kau sedang main-main dengan ucapanmu tadi, aku bersumpah akan memukulmu sampai mati, Choi Minho!" aku berteriak, tidak tahan lagi dengan situasi yang tercipta diantara kami.

"Aku tidak pernah main-main, Park Hyerin!" jawab Minho. "Aku tidak bisa mengatakannya padamu sekarang, karna hal itu hanya akan mengikatmu disini. Kau punya banyak hal yang harus kau lakukan, dan aku ingin kau bebas melakukan apa pun disana. Memiliki sebuah ikatan denganku hanya akan menjadi beban untukmu, dan aku tak ingin itu terjadi."

Aku hanya tercengang setelah mendengar apa yang Minho ucapkan. "Minho, jika ini tentang kepergianku ke Inggris, dengar, aku tidak mau pergi. Aku ingin disini, di Korea Selatan, denganmu dengan kedua orang tuaku, dengan Sohee, Yesung, dan juga Jihyeon. Seperti katamu, ada banyak hal yang bisa aku lakukan, aku bisa mewujudkan keinginanku menjadi seorang penyanyi tanpa harus pergi ke Inggris, kita bisa melakukannya bersama-sama.." kataku menatap Minho.

"Kau harus pergi, ini kesempatan emasmu, dan kau igin membuangnya begitu saja? Kau yang harus mendengarkanku, aku mungkin tidak seberuntung kau, tapi aku pun akan membuktikan bahwa aku bisa menjadi penyanyi, sama sepertimu tapi mungkin dengan jalan yang berbeda. Bukankah seharusnya kau juga berjuang untuk mimpimu? Kau hanya akan merendahkanku jika alasanmu menolak pergi ke Inggris agar kita bisa berjuang bersama-sama disini."

"Hei, bukan itu maksudku! Aku hanya ingin membuat kejelasan diantara kita. Bagaimana bisa kau bahkan tidak menahanku sedikit pun untuk tinggal?" aku menggeram karna frustasi dengan tingkah dan pikiran Minho.

"Aku akan menunggumu. Entah berapa lama itu, tapi aku akan menunggu." Minho memegang kedua bahuku erat. "Selagi kau berjuang di sana, aku pun akan mencari jalanku sendiri. Akan aku buktikan saat kau kembali nanti, aku akan menjadi seorang penyanyi terkenal yang tampan." ucap Minho sombong.

Aku mendengus geli. "Lalu bagaimana denganku? Kau bilang bahwa kau tidak ingin mengikatku, apa itu berarti aku bisa berkencan dengan pria Inggris?" aku menggoda Minho sambil mengerlingkan mataku.

Minho hanya mengelus rambutku, "Gwaenchanayo.." katanya lembut.

"Jangan harap aku akan mengucapkan hal yang sama seperti dirimu saat aku tahu kalau kau berkencan dengan gadis lain, aku bersumpah akan menghajarmu!" ancamku sambil menunjukkan kepalan tangan kananku. Minho hanya tertawa kecil, ia kembali mengelus rambutku. "Kau bebas berkencan dengan siapa pun disana, tapi akan ku pastikan bahwa kau akan tetap kembali padaku." Minho menunjuk dirinya sendiri dengan bangga, dan kali ini aku yang tertawa. Bagaimana mungkin aku jatuh pada laki-laki sombong ini? Tiba-tiba saja Minho memelukku dengan erat, dan aku sempat tertegun untuk beberapa detik dan baru sadar dari keterkejutanku saat Minho semakin mengeratkan pelukannya.

"Cepatlah kembali.." katanya lirih. Aku mengangkat kedua lenganku dan membalas pelukannya. Tubuh Minho begitu hangat sampai-sampai mungkin aku bisa tidur didalam pelukannya.

"Belum apa-apa dan kau sudah merindukanku?" jawabku menggodanya. Minho melepaskan pelukannya dan menatapku dengan wajahnya yang sulit kugambarkan. Ia mengerutkan alisnya dan tersenyum. Senyuman yang dipaksakan, dan terlihat jelas bahwa ia sedang menahan sesuatu.

"Gomawo, Minho-yaa.. Aku mencintaimu." kataku saat ia memegang kedua bahuku. Ia mendekatkan wajahnya, dan menciumku. Sebuah ciuman yang dalam dan aku bahkan bisa merasakan kesedihan saat aku membalasnya. Aku mengalungkan tanganku di belakang leher Minho, dan Minho menarikku pinggangku agar lebih dekat dengan tubuhnya. Kuharap ini bukan ciuman terakhir kami, karna ciuman ini terlalu sedih untuk menjadi yang pertama. Sampai bertemu lagi, Choi Minho..

To be continue..