Tempat yang luas, megah dan dipenuhi oleh sebuah aksara berbentuk Rosario yang saling berhubungan satu sama lain. Berputar dan terus berputar sampai bentuknya mengecil, namun bukan itulah yang sebenarnya diamati.

Tetapi remaja dengan umur tak lebih dari dua belas tahun sedang duduk di atas sebuah kursi yang dimana tangannya di ikat kebelakang dan kedua kakinya tertancap sebuah paku. Jauh di bawah sana, berdiri seorang gadis yang tak diketahui siapa, namun terasa begitu familiar baginya.

Tetapi perhatian itu langsung berubah menjadi kemarahan ketika melihat pria dengan tubuh gemuk berdiri di depannya, membawa sebuah rantai yang dipenuhi oleh besi-besi tajam. Menjeratnya. Menyakitinya.

"Arrgghh!" Mulutnya yang sobek pada bagian ujungnya mengeluarkan raungan murka yang cukup untuk meretakkan udara. "H-hentikan…! Hentikan!"

"Naruto…" Sang pria menjawab, dengan suara sesantai berbicara dengan teman alat-alat tajam disekelilingnya. "Emosional seperti biasa…"

"L-lepaskan!"

"Maaf, tapi aku terpaksa tidak setuju" Jawaban sedingin es yang membekukan udara, keluar dari bibir pria gemuk dengan codet di sekujur tubuhnya. Tiba-tiba ia mengambil sesuatu dari meja di sebelahnya. "Bagaimana jika kumasukkan kelabang Cina ini kedalam telingamu?"

"H-hentikan …, Jangan … Grh!" geraman rendah adalah kata yang terakhir, yang mampu keluar dari mulutnya. Matanya melotot seakan mau keluar, tubuhnya bergetar hebat di ikuti oleh kakinya yang bergerak-gerak seakan ingin pergi dari tempatnya.

"Khahaha, yang lemah akan terinjak-injak, diserang, dihina, dan menderita" Pria itu tertawa bengis, menatap dengan wajah terhibur kearahnya. "Bencilah aku, dendamlah aku didalam hatimu… Jadilah kuat, agar kau bisa membawa kepala ini, hahaha!"

"…Grh!"

"Kenapa? Ooh… kau tahu? Aku membawa cuka dan garam dari dapur, aku ingin tahu apakah darahmu akan berhenti jika kubasuh dengan ini"

Namun sesaat sebelum hal itu terjadi, pandangannya terarah pada gadis yang berada di bawahnya. Seakan bisa merasakan, gadis itu membuka mata, dan mengarahkan pandangannya ke atas. Biru langit bertemu emerald dalam satu tatapan sekejab.

Tes!

"UAARRGGHHH!"


D.E.S.C.L.A.I.M.E.R

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Highschool DxD © Ichiei Ishibumi

.

.

.

:: White Shadow Killer ::

.

.

.

By : Draco Steelsel

.

.

.

Warning :

Over!Powered, Smart!Naru, Power!Full, Strong!Naru, Typo, Abal, Suram, OOC, OC, etc

Mungkin Aneh, Mungkin Jelek dan Mungkin OOC

.

.

.

Genre : Adventure

.

.

.

Rating : M

.

.

.

Chapter Dua:

Sebuah ingatan tentang masa lalu

.

.

Draco, in!

.

.

Selamat membaca

.


Dalam satu kedip, mimpi itu berakhir.

Pemuda dengan rambut perak yang berantakan itu duduk lebih tegak, kemudian menggosok-gosok mata kanannya untuk melenyapkan sisa-sisa kantuk yang masih menempel pada dirinya. Dengan mata yang masih sayu pemuda itu melempar pandangan ke sekeliling, hanya untuk melihat kalau tidak ada seorang pun disekitarnya.

"Hmm…" dia berdiri. "Sudah pagi yah"

Ia berjalan ke depan pintu, kemudian menatap bayangan dirinya yang terpantul pada kaca yang terdapat di sana. Mata biru muda yang sewarna langit, dan tato berbentuk api memanjang di dahinya dengan warna putih bening. dan setelah beberapa lama, barulah akhirnya ia menyadari kalau wajah ini memang wajah miliknya, bukan wajah pria yang selalu muncul dalam mimpinya.

Setelah itu, sembari menyapukan tangan ke wajahnya yang masih lembab oleh keringat, ia mendesah lirih.

"…Mimpi ini lagi…"

~•~

Naruto mengerutkan alis matanya dalam, menatap kearah pria yang tempo hari berbincang singkat kepadanya. Sirzech, tidak perlu berpikir panjang atau mencari jawaban yang tidak pasti, karena sudah jelas jika Sirzech, datang hanya untuk berbincang kepadanya, sudah pasti ada yang tidak beres. Hal itu juga berlaku pada wanita yang selalu ada disebelahnya. Seorang Wanita… tidak, makhluk itu tidak bisa lagi dikatakan sebagai manusia karena kumpulan orang di sekitarnya memang bukanlah manusia.

Tidak ada yang tahu apa dibalik wajah-wajah didepannya. Yang merupakan wajah para iblis, pada umumnya manusia pun pasti tahu jika iblis adalah makhluk yang tidak dapat dipercaya dalam segi ataupun bidang apapun. Iblis tetap saja iblis. Tidak peduli dia sudah bertobat pun, sesuatu yang Naruto ingat betul karena dirinya merupakan seorang manusia yang pernah berurusan dengan Makhluk dunia akhirat bahwa Iblis adalah makhluk yang tidak bisa dipercaya.

Dan juga tidak ada yang tahu apa dibalik pecahnya Great War bertahun-tahun yang lalu. Jutaan mayat yang bergelimpangan, dikubur massal tanpa menggunakan media perantara. Dibakar dan dibiarkan menjadi abu yang berterbangan.

Karena… mereka tak perlu lagi untuk mengangkat senjata untuk membunuh satu sama lain. Hidup tenang, memiliki pekerjaan yang berhubungan dengan alam, hidup tanpa perlu ada kebencian, tanpa ada rasa benci atau menyakiti satu sama lain.

Agar mereka mengerti.

Tapi… siapa yang akan percaya jika semua itu dilakukan oleh anak berumur lima belas tahun? Alasan mengapa mereka menghentikan perang dalam tempo satu hari. Namun…

Tidak ada yang mendengarkan Naruto.

Mencoba cara lain, namun semua itu sudah terlambat. Naruto itu kuat, sangat kuat. Naruto ahli dalam segala bidang yang berhubungan dengan pertarungan. Dirinya bisa berpikir ribuan lebih cepat dari mereka untuk menghasilkan strategi yang memiliki tingkat efisien dan kematangan yang tepat dengan pemikirannya. Tapi, ada satu kelemahan yang ia punya. Kelemahan yang membuat dirinya tidak bisa mewujudkan apa yang mimpi kecilnya impikan.

Dirinya hanyalah seorang manusia. Jika mereka para pendosa memiliki tingkat fisik dan kondisi di atas rata-rata, Naruto hanyalah seorang manusia yang disebut sebagai makhluk terlemah. Dan karena kelemahan tidak bisa mengerti yang lain, semua berjalan tanpa henti menuju pada kehancuran.

Dengan satu pemikiran itu.

Kiamat.

Kepunahan dan kehilangan.

Tanpa ada satu pun yang akan mengingat bahwa anak itu ada. Bahwa anak yang pernah menghentikan Great War dari segala ke mutlakan.

Entah mengapa memikirkan itu membuat dada Naruto sakit. Sesuatu yang seharusnya tidak pernah dirinya mengerti sama sekali pun terasa begitu menyakitkan. Sangat sakit bahkan detak jantungnya bisa ia dengar sendiri.

"Sebelumnya, aku tak pernah mendapat informasi kalau ada manusia yang memiliki kekuatan super di dunia ini" Sirzech mengetuk-ngetuk jari telunjuknya di atas meja, wajahnya tidak menyiratkan sedikitpun ancaman. "Dan apalagi dia mengaku menjadi kakak dari [Pion] milik Rias. Bukankah itu sebuah hal yang patut untuk dibicarakan?"

Naruto terdiam sebelum pada akhirnya ia menarik nafasnya yang dalam. Udara di sekitar ruangan menusuk kulit dengan rasa yang mendalam. Pergi atau diam, ia tidak akan tahu bagaimana hasilnya… namun entah mengapa dirinya tidak merasa takut. Tidak merasakan emosi yang menunjukkan hawa permusuhan seperti dirinya yang seharusnya menjadi lawan dari mereka.

Apakah itu mungkin takdir dari dirinya? Yang pada akhirnya harus menerima semua keputusan di tangan mereka… menunggu, sesuatu yang sangat menyebalkan saat dia harus bersabar dan terus bersabar menantikan kehadiran sosok yang sangat ia tunggu. Pertama kali merasakan dan memikirkan hal seperti ini, dan Naruto membenci hal itu. Menerima perilaku iblis di depannya dengan tangan terbuka, padahal jika ia bisa mengingat dengan jelas bahwa terakhir kali ia menerima musuh sebagai lawan bicara adalah saat Great War tepatnya seorang Satan. Tapi setelah memikirkan kembali dengan kepala yang dingin… mungkin hal itu tidak terlalu buruk. Hal ini memang bukan hal yang baru baginya, terasa asing bukan hal yang harus dibenci atau ditolak meskipun pemikirannya tentang Iblis itu selalu buruk.

Naruto tidak ingin mereka melihat dirinya sama seperti di Great War dulu, Naruto yang memiliki ekspresi bengis ketika membunuh dengan darah dingin dan brutal. Ia tidak ingin pandangan mereka akan Naruto Ootsutsuki berubah. Karena itulah ia memilih untuk menjadi Naruto Ootsutsuki yang baru karena lebih baik daripada diingat sebagai seorang Mesin Pembunuh.

"Tidak ada yang perlu dibicarakan, dari awal pembicaraan ini hanyalah sebuah omong kosong. Aku hanya mendaftar menjadi murid disini, bukan untuk meladeni kalian untuk menceramahiku"

Suatu pernyataan yang diluar perkiraan seorang Sirzech, mungkin ia berpikir bahwa pemuda ini akan membalas ajakan berbincangnya dengan baik-baik karena ia sudah mencoba untuk mempertahankan wajah tenangnya meski dibalik itu ia sangat khawatir jika pemuda ini menjadi musuhnya. Walaupun ia adalah seorang maou, itu tidak menutup kemungkinan ia harus mencari jawaban se efisien dan sematang mungkin untuk memperkecil dampak yang akan ia dapat untuk kepentingan Underworld nantinya.

Iris matanya menyipit, angin berhenti bertiup di dalam ruangan. Suasana hening tanpa suara bagaikan tidak ada yang menghuni. Wajah-wajah yang memiliki ekspresi impasif, seakan tidak ingin ikut campur dalam pembicaraan ini.

"Kenapa?-maksudku, kenapa kau menolak untuk berbicara? Apakah kau takut karena kami akan membongkar kedok ceritamu bahwa mengaku-ngaku menjadi kakak dari Hyoudou Issei?" Sirzech tersenyum menyeringai, memandang kearah Naruto dengan tatapan penuh kemenangan. 'Terpancinglah'

"Sayang sekali, kau mengetahui kedokku? Buahahaha jangan membuatku tertawa!" Naruto menegakkan tubuhnya, menatap lurus kearah Sirzech yang sedang menaikkan satu alisnya karena bingung. "Kau berkata seakan kau mengetahui siapakah aku? Jangan bercanda…"

Sirzech mengangkat tangannya, mencoba untuk menghentikan apa yang akan dilakukan oleh istrinya.

"Bodoh sekali…" Naruto menatap kearah mereka dengan satu tangan mencengkeram gelas yang pada akhirnya gelas itu pecah ketika hawa panas dari telapak tangan Naruto memberikan tekanan. "Sehebat apapun kau… setinggi apapun derajatmu... sebanyak apapun kenalanmu, kau takkan pernah bisa mendapatkan informasi tentangku. Karena apapun yang kau lakukan… tidak ada gunanya"

Sirzech mengerutkan alis matanya, dan keringat mulai menetes dari dahi. Pandangan fokus pada apa yang ada di depannya. Hanya satu yang berada di pikirannya saat ini. Sial. Sebuah ketidakberuntungan yang harus dihadapi pada waktu secepat ini. seharusnya tidak begini! Seharusnya ia hanya perlu membuat pemuda ini membongkar siapakah dirinya yang sebenarnya, apakah dia musuh dari Underworld atau bukan, jika terus dibiarkan.. maka Naruto akan membuat rencananya yang telah dibuat, berantakan jika dia sampai lepas kendali akan emosinya.

"Kuakui kalau aku memang tak bisa mendapatkan apapun tentangmu, bahkan itu tentang sejarah Great War dulu…"

Naruto tersenyum sinis, membuang mukanya kesamping sembari memasang wajah mengejek. "Tentu saja, karena aku…"

Sirzech melebarkan matanya, berharap kalau pemuda ini melanjutkan ucapannya. Tapi apa yang berada di pikirannya itu tidak terjadi sama sekali. Kenyataan yang ada hanyalah hal mustahil yang bahkan tidak pernah terjadi dalam sejarah Sirzech.

"…tidak bodoh untuk menjelaskannya kepada kalian"

Sirzech melihat, menyaksikan mata biru safhire itu telah berubah menjadi merah dengan tiga tomoe berputar. Mata yang begitu tajam, seakan membunuh siapapun yang menjadi lawannya dan akan terus merendahkan siapapun yang menangis di bawahnya. Dan tidak akan pernah ada seseorang yang akan mengubah pandangannya itu, karena mata itu melambangkan bahwa dirinya tidak pernah mendapatkan apa yang dimiliki orang lain selama hidupnya.

Sirzech tahu akan hal itu… mengerti dan menyadari arti dari tatapan itu, takdir yang begitu sulit dan rumit, pada akhirnya… selalu sendiri. Hanya pandangan itu yang ia lihat dari matanya, kesimpulan yang tidak akan pernah berubah bahkan sampai ia mati.

Karena itu…

Oleh sebab itu…

Ia harus menunjukkannya.

Karena hanya itu…

Membuktikan bahwa pemuda didepannya harus menemukan apa itu kebahagiaan dengan keberadaannya.

Naruto tidak memberikan perhatian lebih dari itu, wajahnya yang memang selalu datar seperti papan masih diam tidak bergerak.

"Hmm, aku tidak tahu bahwa ada seorang manusia yang mampu menggunakan afinitas elemen di dunia ini" Naruto tidak perlu melihat, dari nada suara itu dan frekuensi datangnya ia sudah tahu dimiliki oleh wanita yang saat ini menatapnya dengan datar juga. Surai perak yang mirip sepertinya, mata abu-abu yang terlihat sangat serius. "Manusia yang mampu mengalahkan iblis sekelas Riser Phenex, melawan para peerage nya hanya dengan satu serangan kuat. Bukankah itu sudah dikategorikan sebagai musuh? Mengingat kau telah melukai salah satu dari iblis murni"

"Aku bukan iblis…" Naruto menatap Grayfia dengan tajam. "Dan aku tidak ada sangkut pautnya dengan peraturan bodoh itu, biar kutanyakan satu hal…" kini matanya bergeser kearah Sirzech. "Jika Ise menjadi iblis kelas atas seperti Rias atau yang lainnya, haruskah ia terkena hukuman karena telah melukai iblis murni mengingat ia adalah Iblis Reinkarnasi"

"Ada beberapa hal yang perlu kami perhatikan dalam memberikan hukum-"

"Kalian memperhatikan?! Kutanya sekali lagi, memperhatikan!?" Nada Naruto naik dua oktaf langsung, membuat iblis disana berjengit karenanya. "Kau pikir aku bodoh! Aku hidup lebih lama dari kalian, semua hal tentang dunia ini sudah kuketahui dan kalian bilang kalian telah memikirkan?! Apakah kalian tidak ingat, peristiwa yang mengawali perang di Underworld?"

"M-mungkinkah…"

"Yah!" Naruto mengangguk sambil mengacungkan jari telunjuknya. "Hagoromo Ootsutsuki, manusia yang mengambil Juubi dari Makai. Membunuh sebagian dari Iblis Murni dan dijatuhkan hukuman mati. Namun dia bisa lolos karena bantuan Great Red, kau tahu mengapa?"

"Karena naga sekuat Great Red lebih percaya kepada manusia daripada Iblis!"

Terkejut.

Sirzech menutup matanya. Membiarkan emosi dirinya berubah menjadi tenang, semua seperti sudah jelas, tidak tahu apa yang terjadi… tapi dirinya hanya bisa menerimanya. Manusia tersebut lebih berbahaya daripada apa yang ia kira. Tapi.. entah kenapa dirinya sekarang lebih mudah terbawa emosi. Ya.. ini yang ingin ia rasakan, sudah lama ia tidak berkutik dalam sebuah perdebatan. Tidak karena benci atau dibenci, namun karena ini adalah jalan menuju tingkatan lebih tinggi.

"Fyuuhh~ melelahkan sekali, aku pikir aku dapat mengorek apa yang ada dalam pikiranmu. Kupikir aku harus menggunakan kemampuan dari Iblis Underworld untuk mendapatkan ingatanmu, tetapi semuanya sepertinya sia-sia" Suara itu terdengar kecil, namun dari keheningan tempat itu, nada sekecil itu sudah cukup untuk didengar oleh semuanya. "Baiklah, Naruto Ootsutsuki masuk kedalam kelas 2F"

Dengan begitu, Naruto berjalan dengan tenang keluar dari arena pertarungan. Pertarungan adu mulut dan pikiran yang membuat orang lain sakit kepala mendengarnya. Meninggalkan kaum iblis yang seperti masih tidak bergerak dari kata-kata tadi.

"Bahkan Great Red lebih memilih manusia daripada Iblis" Sirzech memandang langit yang luas, biru yang hampir sebiru mata pemuda tadi. "Kata-kata itu, yang membuatku cukup takjub"

"Jadi, apa yang harus kami lakukan. Onii-sama?"

Sirzech tidak menjawab, hanya diam tak bersuara sambil matanya menatap lurus kedepan hingga pada akhirnya ia buka suara. "Lakukan seperti biasa, karena aku yakin bahwa dia akan mulai ikut campur dalam dunia ini. Khususnya untukmu, Rias. karena dia telah menjadi kakak angkat dari Hyoudou Issei"

"Ha'i"

~•~

Suara langkah kecil terdengar bergema. Koridor yang sepi dan lantai yang mengkilat, menunjukkan satu langkah kaki yang terpantul. Warna coklat yang mendominasi semua pemandangan, dan aroma khas yang dimiliki gedung tersebut. Langkah itu terhenti, dan sebuah pintu dengan nama terhias dengan jelas di pintu. Jari perlahan memegang handel pintu, memegang dengan tenang sebelum ia membukanya.

Meja kecil dengan guru di belakangnya, pot bunga yang bertengger manis di atas meja dan beberapa tangkai bunga. Mengangkat satu tangannya yang memegang secarik kertas, sebelum ia berdiri di tengah-tengah.

"Hajimemashite, watashi wa Naruto Ootsutsuki… Dõzo yoroshiku."

Dan…

"Kyaa! Tampan sekali…"

'Aku memang tampan' batin Naruto narsis.

"Tidak, dia itu manis!"

'Yah, aku manis' kini kepedeannya sudah tingkat akut.

"Dia homo!"

Naruto menepuk wajahnya dengan satu tangan, menatap tajam kearah pria botak yang sedang tertawa bersama temannya. Ia berusaha mengenyampingkan pikiran itu disudut alam sadar, mencoba melupakan apa yang baru saja dikatakan oleh pria botak tersebut.

Kemudian setelah perkenalan, Naruto berjalan menuju bangku yang kosong dan mulai membuka bukunya. Sebuah kegiatan yang sudah sangat lama tidak ia lakukan semenjak beribu tahun yang lalu. Dan mungkin tangannya terasa kaku memegang bulpoin sehingga sulit rasanya untuk menulis di bukunya.

Naruto memejamkan mata dan menarik napas panjang, menatap kearah langit luas serta kedalamannya. Hanya menunggu kapan bunyi bel tanda pulang sekolah berdering…


Awan bergerak dengan santai, seakan-akan ada roda otomatis yang membawanya melewati udara yang berhembus pelan, beratapkan langit jingga yang luas tanpa batasan. Angin meniup rimbunnya daun pepohonan, kesejukannya membawakan nyanyian penuh kebahagiaan di tengah pohon sakura yang tengah bergerak-gerak, mengingatkan pada dunia bahwa musim akan segera berganti.

Dua bola mata biru sapphire itu beraksi ketika angin meniup seragam sekolahnya, tangan terbuka diangkat dan mata terpejam mengikuti alunan angin. Helaian surai perak nya bergelayut manja ketika angin menyambutnya, membiarkan sang pemuda melanjutkan perjalanannya kembali.

"Dunia yang indah…" gumamnya pelan, langkahnya mendramatisir kelopak bunga sakura yang memenuhi jalanan aspal. Membuat suara gemerisik yang menusuk gendang telinganya. "Namun tidak seindah isinya"

Merasakan, tapi apa yang bisa ia lakukan? Ia tidak memiliki kuasa atas takdir, dia tak seperti Tuhan yang punya kewenangan atas dunia, atas kehidupan dan kematian, atas kebahagiaan dan kemalangan. Dia hanyalah seorang manusia, cuma anak-anak, hanya satu makhluk hidup diantara luasnya alam semesta. Tapi dia memiliki kemampuan untuk mengubah takdir, jika ia melihat takdir yang sudah terukir di atas batu, maka ia akan menghancurkannya. Bahkan jika itu di udara sekalipun, ia akan memotongnya. Karena itu dia akan tetap berada di sini, terus berjalan di antara dua dunia menunggu sampai saatnya ia kembali, sampai waktu dimana ia harus menghentikan detak jantungnya…

Dia takkan berhenti berjalan…

"White-kun"

Sang pemuda menoleh, menatap kearah siapa yang baru saja memanggilnya. Disana, tepat di tengah-tengah jalan aspal dengan bunga sakura yang berguguran. Seorang gadis mungil, mahkota hitamnya bergerak memanjang dan senyuman yang tak pernah lepas dari wajahnya.

"…Ophis?" kata sang pemuda, matanya menatap heran. "Apa yang kau lakukan disini?"

"Tak ada, hanya berjalan-jalan dan menikmati akhir dunia yang terus bergerak." Hanya kalimat itu yang terlintas di benak Ophis dan keluar pada detik itu juga. Hening sesaat, tidak ada di antara keduanya yang tidak mengeluarkan kata-kata apapun. Ophis memandang pemuda di depannya dengan lembut, dirinya tidak tahu harus dimulai dari mana pembicaraan yang tepat. Karena ia datang bukan untuk berbincang, tapi hanya untuk melihat kondisi pemuda yang pernah membuatnya tertarik semasa pertarungan besar bertahun-tahun yang lalu.

Ophis memilih menghela nafas dan melangkahkan kakinya untuk mendekat, cukup lama dan berakhir dengan Ophis yang menekan kedua tangannya di dada pemuda itu dan menempelkan kepalanya. Satu detik kemudian, Ophis mendongak menatap kearah iris biru sapphire yang tak pernah berubah semenjak terakhir kali mereka bertemu. Dan melihat mata itu kembali membuatnya mengingat apa yang telah terjadi pada pemuda ini pada masa lalu.

"Aku tak tahu harus berkata apa, tapi melihatmu baik-baik saja…" Sang gadis itu menatap mata pemuda itu perlahan, dari gerakan pupil tersebut, Ophis menyadari dirinya telah membuat perubahan ekspresi yang saat ini ia gunakan. Membuatnya nampak begitu feminim di mata Naruto. "Melihatmu baik-baik saja membuatku tenang, seperti aku masih mengingat saat melihatmu sehat meskipun terkena serangan yang mematikan"

"Hei, aku tidak sedang dalam pertempuran tahu!" seru Naruto sambil mengerucutkan bibirnya. Akan tetapi, itu bukan berarti bahwa dia sedang kesal, wajahnya nampak mengukir sebuah senyuman tipis. "Tapi, kamu tenang saja. Aku baik-baik saja kok, tak perlu mengkhawatirkanku. Lagipula aku tidak sebodoh dulu yang langsung terjun ke medan pertempuran tanpa pikir panjang"

Ophis tersenyum sekilas sebelum tertawa kecil yang ia tutup menggunakan sebelah tangannya. "Kamu tidak pernah berubah, White-kun. Meskipun kamu tampak dewasa, tapi sifatmu sama seperti yang dulu"

"Benarkah?" Naruto menatap langit luas sembari menggaruk pipinya dengan satu jari. Yang kemudian jarinya ia gunakan untuk menunjuk gadis di hadapannya. "Tapi aku juga melihat kalau sifatmu itu tidak berubah"

Ophis hanya memiringkan kepalanya sedikit dan tersenyum manis. 'Karena hanya untuk kamu, aku tidak berubah'

"…kamu memang… cantik"

Suara itu keluar bagaikan bisikan kecil, namun Ophis cukup peka untuk mendengarnya. Bibirnya bergetar yang tidak terlihat terbuka perlahan, wajahnya berhenti menghadap pemuda yang berada di depannya karena wajahnya yang telah merona akibat perkataannya. Tangan kanannya ia gunakan untuk menggenggam dada kirinya yang terasa berdetak kencang, dan ujung sepatunya ia mainkan menandakan kalau ia sedang malu saat ini.

"Kamu juga… tampan, White-kun"

Meskipun Ophis tahu kalau pemuda ini memang bodoh dalam hal wanita, terutama ia tidak sadar tentang apa yang ia ucapkan yang mampu membuat gadis manapun akan terpesona dengan dirinya. Dengan bermodalkan kharisma dan kebaikan miliknya, membuat Ophis tak perlu membutuhkan pendamping yang kuat, karena yang ia suka dari remaja ini adalah apa yang ia miliki dalam dirinya. Yah, sifat tulus dan kebaikan yang dimiliki pemuda ini.

"Ahahaha, arigato…" Naruto tertawa sambil menggaruk rambut belakangnya, cengiran khas dirinya pun terpahat jelas di wajah tersebut. Hening beberapa detik sampai Naruto menghela nafas dan menatap kembali wajah Ophis yang tak pernah berubah semenjak mereka bertemu. "Aku jadi mengingat pertemuan denganmu pada waktu itu bukanlah yang pertama kali bagiku. Aku selalu bertindak tanpa keputusan yang pasti dan bergerak secara sembrono. Dan kau… ya, pada waktu itu kita bertemu saat aku sedang bertempur dengan Naga Surgawi dan aku sedang terluka. Pada saat itu aku mulai merasa kalau Tuhan memang benar-benar tidak adil, ingin aku menutup mata dan mengutuk-Nya di akhir hayatku tapi…" Naruto menjeda sejenak kalimatnya, dan melanjutkannya dengan pelan. "…kau datang dengan wajah khawatir, aku pikir kau hanyalah Naga yang haus akan kekuatan hingga dunia menjulukimu ketidakterbatasan. Tapi aku masih tidak tahu alasan kenapa kau menolongku, padahal kita belum pernah bertemu sebelumnya. Ketika menyadari ada yang masih mengkhawatirkanku, muncul rasa ingin tetap hidup dalam diriku dan Tuhan memberkatiku pada saat itu juga. Luka-luka yang kuterima pada saat itu hilang seketika, tergantikan dengan diriku yang belum masuk kedalam pertempuran. Menjadikanku sebagai satu-satunya pengguna Unsur Energi Chakra di dunia saat ini, tapi aku masihlah bocah yang berusia lima belas tahun… fisik tidak sejalan dengan kekuatan yang kuterima, dan akhirnya aku tewas. Tapi pada saat itu kau tahu apa yang kupikirkan?" tidak ada jawaban yang terdengar, Naruto melanjutkan dengan pelan. "…'apakah ada yang sedih setelah kepergianku? Lalu, apakah aku bisa bertemu denganmu lagi?' tapi aku tetap tidak tahu. Aku hanyalah bocah naif yang terlalu mengharapkan impian semu, tapi lagi-lagi Tuhan yang pernah ku cemooh dan berniat kubunuh memberikanku sebuah cahaya. Dia memberikanku kehidupan kembali, untuk menambal semua penderitaan dan kekerasan yang pernah kulalui. Dan karena apa yang dilakukan oleh-Nya itulah… dia membuatku seperti makhluk yang tak tahu diri, merasa bodoh, penuh penyesalan dan tak pantas untuk hidup."

Ophis menggelengkan kepalanya dengan pelan, tidak. Tidak benar apa yang dikatakan oleh Naruto, tidak benar bahwa pemuda ini merupakan makhluk yang tidak tahu diri ataupun tak pantas hidup. Karena Naruto itu manusia… manusia memiliki sifat yang membuatnya merasa seperti itu, sifat yang melandasi bagaimana perubahan yang akan dilalui oleh manusia itu sendiri. Akankah manusia itu menjadi pemurung, pemarah, pendendam, ataupun bijaksana. Dan Naruto adalah manusia yang putih, terlalu putih untuk tidak peka pada kegelapan. Dia bergerak atas apa yang ego ia miliki, ia marah kepada-Nya karena hati kecilnya yang membuatnya bertindak atas itu semua. Dari apa yang Ophis lihat, Naruto bergerak bukan atas unsur marah atau dendam tetapi karena ia sudah lelah dengan semua ini. Dia terlalu putih sebagai manusia, terlalu murni untuk hidup di tengah-tengah pertarungan. Tapi ia tidak mengatakan itu dengan suara, hanya ikut hening dan menunggu pemuda itu kembali berbicara.

"Dan disinilah aku, disaat aku sudah membuat keputusan pada hari itu… semuanya terasa terbalik, apa yang kukhawatirkan pada saat itu bukanlah apa yang kutakutkan, melainkan… sesuatu yang kuanggap sebagai perasaan tersendiri, jika aku mati, apakah kau akan khawatir denganku? Apakah kau akan sedih ketika aku pergi? Tapi, aku mulai sadar kalau kematianku bukanlah sesuatu yang berarti karena jika kau yang mati… aku tak tahu apa yang akan aku lakukan, hidup tanpa tujuan dan hampa… aku bertahan hanya sebagai ras terlemah, penuh dengan penyesalan"

Mungkin ini yang dinamakan Takdir?

Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut gadis itu, hingga Naruto hanya menangkap gerakan kecil dari sudut pandangnya ketika ia hendak pergi. Mata pemuda itu sedikit melebar ketika ia merasakan betapa mungilnya tubuh perempuan yang tengah memeluknya, nafas panas dari suhu tubuh ia rasakan di bagian lehernya.

"Karena kehadiranmu itulah… aku tetap hidup, hidup hanya untuk menunggumu kembali. Dan aku percaya itu, kau akan kembali ke dunia ini… karena aku tak ingin sendiri, dengan adanya dirimu itulah aku ingin kau menjadi orang yang kusayangi"

Naruto tidak memberikan jawaban yang pasti dari lisannya, hanya pelukan yang ia eratkan sudah cukup menjadi balasan atas perasaan apa yang diberikan. Sampai beberapa menit berlalu, keduanya pergi dengan senyuman yang terpahat di wajahnya masing-masing…

.

.

Meninggalkan perasaan yang membekas dalam suasana matahari tenggelam dikala itu.


~•••~

To be Continued

Mungkin inilah akhirnya. Chapter dua yang datang dengan sebuah pair, entah itu single pair atau harem pair. Tapi intinya, karena Naruto adalah anak asuh dari Great Red dan Hagoromo, hamba memutuskan untuk memilih pair yang memiliki kedekatan antara keduanya. Pertama-tama hamba memutuskan untuk menjadikan dewi sebagai pair Naruto karena Hagoromo menjadi Dewa Shinobi… tapi hamba yakin itu terlalu memaksakan, hingga muncullah pair ini.

Oke… kalau ada yang mau usul pair, katakan mau harem berapa dan namanya apa. Atau single pair aja…

Hmm, penggunaan kata yang rumit sudah jadi bagian dari diri hamba. Mohon maaf jika ada kekurangan ataupun kesalahan kata demi kata.

.

.

Arigatou dan Salam Ez-Life

-Hidup itu mudah, jangan dibuat sulit-

Draco, out!