Pukul sepuluh malam.
Langit cerah. Seorang pemuda terus melaju di tengah hamparan lautan. Kedua kakinya terlihat berjalan di atas permukaan air, seperti bisa mengambang disana. Malam ini ia sedang amat bersyukur, ia bertemu kembali dengan Ophis semenjak kejadian pada saat itu. Besok lusa, saat kembali menuju Jepang, ia akan segera bertemu dengan Azazel untuk membahas sesuatu yang berhubungan dengan diplomatik.
Langkah kaki Naruto terhenti tepat beberapa langkah ketika ia melihat paus biru. Naruto segera mendekat untuk memastikan, tapi itu bukan paus biru ataupun lumba-lumba. Itu ribuan ikan terbang. Astaga! Naruto terkejut, ikan-ikan itu melompat keluar dari permukaan laut, seperti terbang, kemudian menyelam lagi ke laut. Melihat satu ekor saja sudah menakjubkan, apalagi ribuan. Rombongan ikan itu bagai peluru, melesat di atas permukaan laut, terbang, berkejaran. Menyelam lagi, loncat lagi seolah terbang.
Naruto menatap tanpa berkedip.
Itu pemandangan yang mengagumkan.
Ophis hanya tertawa kecil melihat wajah lucu tersebut, di tatapnya wajah Naruto yang penuh akan tetesan air yang diakibatkan oleh ikan-ikan tersebut. Memfokuskan kedua matanya dengan lembut untuk melihat teman masa kecilnya, Ophis mengangkat kedua bahunya dan menurunkannya kembali sebelum akhirnya bersandar di bahu pemuda tersebut. Ditatapnya kedua mata sapphire yang berbinar-binar dan penuh akan keteduhan itu.
Ophis mengetahui hal tersebut, mungkin Naruto-kun nya ini tidak pernah melihat sesuatu yang indah seperti itu. Kehidupannya yang terus diselimuti oleh peperangan membuatnya tak tahu bagian mana dari dunia ini yang indah, terkadang dia merasa kalau dunia diciptakan hanya untuk bertarung bukan untuk dinikmati. Dalam hidupnya, Naruto Ootsutsuki menganggap dirinya orang yang rusak. Ia memang tidak menyukai banyak hal, tapi itu bukan berarti ia membenci hal tersebut. Ia hanya tidak peduli, ia tidak akan memperdulikan hal-hal yang tidak penting dan yang merugikannya ataupun tidak menguntungkannya. Kegelapan yang terus berjalan bersamanya itulah yang membuat dirinya beranggapan kalau ia adalah sosok yang rusak. Bahkan sampai saat ini, Naruto tengah berjalan untuk melanjutkan takdirnya…
…berjalan di antara dua dunia.
Yang dimana sosok tersebut adalah pembawa perkara, selalu membawa masalah. Dan setiap kali ada orang lain yang berada di dekatnya akan merasakan sebuah firasat yang tidak enak. Karena itulah… Ophis yang merupakan ketidakterbatasan mampu bertahan di dekatnya, ia berada di level yang sangat jauh dari kata 'lemah'.
Naruto kemudian mengangkat sebelah tangannya hingga sebuah aura berwarna hitam menyelimuti tangannya. Dengan satu kibasan tangan, pemuda berambut perak itu menciptakan sebuah robekan di udara, hingga bagi orang yang melihatnya itu seperti sebuah udara yang berlubang. Suara hembusan angin yang cukup kuat menerpa mereka dan juga telapak kaki yang mulai menghilang di atas permukaan air.
"Dimenshon o Rippingu" (Robekan Dimensi)
D.E.S.C.L.A.I.M.E.R
.
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
Highschool DxD © Ichiei Ishibumi
.
.
.
:: White Shadow Killer ::
.
.
.
By : Draco
.
.
.
Warning :
Over!Powered, Smart!Naru, Power!Full, Strong!Naru, Typo, Abal, Suram, OOC, OC, etc
Mungkin Aneh, Mungkin Jelek dan Mungkin OOC
.
.
.
Genre : Adventure
.
.
.
Rating : M
.
.
~••~
Arc I
-Ketika Sang Legenda Kembali-
Chapter Tiga:
(Serangan pada malam hari) – Part 1
.
.
Draco, in!
.
.
Selamat membaca
.
Bulan purnama bersinar terang menyinari jalanan Kuoh yang sudah sunyi karena malam telah menyelimuti dunia yang silih berganti mengubah wajah dunia dari tempat yang mulanya terang kemudian gelap. Naruto duduk dengan santai di pagar balkon, mata tertutup menikmati angin malam yang menyegarkan.
Angin meniup daun-daun yang kering, menyiulkan suara gemerisik yang menenangkan saraf, sebuah efek khusus yang hanya bisa disajikan ketika memasuki… musim gugur. Namun perhatian Naruto terpecah ketika mendengar suara derit pintu terbuka di belakangnya, perlahan kelopak mata itu terbuka bersamaan dengan rambut peraknya yang berkibar ketika angin meniupnya.
"Naruto-kun," suara yang penuh kelembutan dan begitu merdu sampai seakan-akan dewi kelembutan telah memanggilnya, sampai pemuda itu terdiam dalam waktu yang cukup lama hanya untuk mencerna siapakah yang memanggilnya. "Kamu sedang apa?"
"Hmm entahlah… aku hanya merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi. Seperti mainan yang dibanting oleh anak-anak," jawab Naruto dengan tatapan kosong yang menatap lurus kedepan.
Ophis yang mendengar itu pun menaikkan satu alisnya, karena bagaimanapun juga Ophis tahu kalau firasat yang di rasakan oleh pemuda itu selalu menjadi kenyataan. Tak peduli seremeh apapun masalahnya. Pernah suatu kali Naruto berfikiran kalau ada sesuatu yang berputar akan berhenti, Ophis beranggapan itu adalah waktu yang berhenti akibat ulah seseorang, namun pada kenyataannya itu adalah Bianglala yang ada di taman bermain mengalami kerusakan dan seorang anak kecil terperangkap di atas sana.
Ophis tertawa kecil mengingat hal itu, ia masih ingat betapa gigih Naruto-kun nya yang rela mati-matian memanjat bianglala tanpa alat bantu apapun hanya untuk menyelamatkan anak kecil tersebut. Dan berakhir di rumah sakit ketika tubuhnya terpeleset setelah berhasil membawa anak tersebut. Tentu saja, perilaku pemuda itu sudah cukup sebagai indikasi kalau Naruto adalah seseorang yang rela mengorbankan dirinya untuk menolong orang lain.
…hanya saja, kali ini Ophis agak kaget saat menemukan sesuatu yang tersembunyi dari perkataan itu. Mainan yang dibanting akan hancur, dan kata itu sudah cukup bagi Ophis untuk mencerna kalau firasat yang di akibatkan oleh pemuda ini bukanlah hal yang main-main.
"Naruto-kun," Ophis membuka mulut tepat setelah ia duduk bersebelahan dengan Naruto, lalu menunggu dengan sabar sampai pemuda itu menatapnya. "Apa kamu bermimpi buruk lagi…?"
Yang ditanya hanya diam sambil merasakan kalau kepala Ophis telah menyandar di pundaknya, membiarkan pertanyaan itu berlalu tanpa jawaban. Tentu saja, Ophis tahu kalau Naruto sedang membutukan seseorang, alias dirinya, untuk menenangkan pemuda itu dan memberinya kedamaian batin.
Namun sayang momen itu berhenti ketika sebuah bulu gagak yang jatuh di hadapan mereka, menampakkan seorang pria paruh baya dengan yukata hitam tengah memasang wajah serius. Naruto tak bisa menghindari tatapannya dari wajah yang penuh akan kekhawatiran setiap kali menatap wajah yang dilanda gundah itu. "Azazel?"
"Naruto, a-aku butuh bantuanmu!"
Kening Naruto berkerut mendengar hal itu. Tapi entah mengapa, firasatnya tidak enak saat ini. Azazel tidak sebodoh atau selemah itu sampai meminta bantuan kepadanya. Seberapa hebatnya Azazel, tidak akan mungkin jika kekalahan mampu merebut kemenangan dari otak genius miliknya. Kecuali, jika Azazel sudah terlalu banyak bermain dengan wanita sampai ia benar-benar kehilangan kepintarannya saat ini. Tidak… itu tidak mungkin, Azazel masih di level yang sama seperti apa yang ia prediksikan ketika pertama kali bertemu.
"Jadi, kenapa kau berkunjung ke rumahku kali ini?" Naruto mendorong pelan kepala Ophis yang bersender di bahunya untuk menyuruh gadis itu pergi sesaat dalam usaha agar Azazel tidak mengetahui kalau gadis kecil itu adalah Ophis. "Dan kalau kau datang kemari hanya untuk menyuruhku melakukan hal-hal yang merepotkan, aku mau minta maaf karena aku takkan mau melakukan hal itu. Jujur saja, aku masih lelah akibat perjalanan kemarin"
"Tenang saja, aku membutuhkanmu selama beberapa hari kedepan," tepis Azazel sambil menggoyangkan tangannya. "Mungkin ini sedikit merepotkan seperti yang kau bilang, tetapi aku tak bisa melakukannya dengan ceroboh sekarang"
Alis mata Naruto langsung tertekuk sekarang. "…apa maksudmu?"
Membutuhkan waktu selama belasan menit bagi Naruto untuk mencerna dan menelan semua informasi yang harus ia kronologiskan agar lebih mudah dimengerti.
Pertama, adalah info bahwa Excalibur yang hancur kini telah ditempa kembali menjadi tujuh pedang dengan kekuatan yang berbeda-beda.
Kedua, tiga dari enam pecahan Excalibur di tangan kubu Gereja yang berada di Vatikan telah dicuri oleh salah satu petinggi pihak Datensi, salah satu pemegang jabatan dalam Organisasi yang dipimpin oleh Azazel. Datenshi yang bernama Kokabiel itu telah melarikan diri ke Jepang, atau tepatnya kota yang dekat dengan tempat Naruto diami sekarang.
Ketiga, Michael sebagai salah satu pemimpin Fraksi Malaikat tidak terima akan hal itu pun mengirim dua gadis Exsorcist bernama Xenovia dan Shidou Irina untuk mengambil kembali Excalibur yang telah dicuri, atau mungkin kalau tak bisa, maka mereka akan mengambil jalan untuk menghancurkan Excalibur yang dicuri tersebut agar pihak musuh tidak mendapatkan apapun dari tujuannya. Dan kini mereka sudah sampai di salah satu gereja yang jaraknya tak kurang dari lima puluh meter dari tempatnya.
Naruto menghembuskan napasnya dengan berat. "Azazel… sumpah, aku bingung dengan keadaan Fraksi saat ini. Beberapa minggu yang lalu kau memintaku untuk membantu Hyoudou Issei untuk menyelamatkan Rias Gremory dari si Phenex itu, tapi sekarang sudah ada masalah lagi?" Naruto menggelengkan kepalanya dengan pusing. "Dan sekarang adalah masalah dari Fraksimu dan Fraksi Malaikat?! Terlebih lagi Kokabiel adalah salah satu bawahanmu sendiri…"
"Karena itulah aku meminta bantuanmu. Aku dan Kokabiel tidak pernah memiliki satu pemikiran yang sejalan, dia memilih untuk menikmati pertikaian yang akan membahayakan Tiga Kubu. Sedangkan aku lebih memilih untuk mengutamakan gencatan senjata ini"
"Jadi… bagaimana kau akan mengatasi masalah ini?" Tanya Naruto sambil bersidekap. "Aku yakin kau memiliki rencana tersendiri"
"Memang itulah yang aku pikirkan. Lebih dari itu, aku sangat yakin bahwa Kokabiel sedang menuju Kuoh yang merupakan teritori kekuasaan ahli waris Klan Gremory dan Klan Sitri. "Azazel mengaku. "Sebagaimana yang kau pikirkan, Kuoh adalah tempat yang menjadi sasaran empuk untuk memecah kembali Great War. Dan alasan itu juga lah aku meminta bantuanmu."
"…Hah?" Naruto tertegun sesaat. "Lantas kenapa tidak kau sendiri yang melawannya?"
Azazel tersenyum kecut. "Aku pun juga berpendapat demikian, tapi aku tahu konsekuensi apa yang akan terjadi jika kami bertarung. Kokabiel tahu seberapa jauh kekuatanku, dan dia juga pasti akan langsung mengeluarkan kekuatan penuhnya dari awal untuk membunuhku. Dan konsekuensinya adalah… kota ini akan hancur"
Tak butuh waktu dari lima detik sampai akhirnya Naruto mengusap wajahnya. "Kau benar…"
"Tepat sekali. Dan untuk alasan kenapa aku meminta bantuanmu adalah aku mengenal betul sifat dan karakter dari Kokabiel. Dia terlalu percaya diri dengan kemampuannya, arogan dan memandang rendah kaum lain. Kau bisa menyamakannya dengan Riser Phenex yang kau lawan minggu lalu," Azazel mencubit dagunya. "Akhir keputusan yang kubuat adalah aku akan mengambil alih pertentangan antar Tiga Fraksi"
"Tapi lebih dari itu," Azazel melanjutkan sebelum Naruto memberikan respon. "Aku tahu, bahwa sehebat apapun kekuatan yang kau tunjukkan dalam pertarunganmu melawan Riser Phenex, kau masih belum menunjukkan seperti apa kekuatanmu yang sebenarnya, Naruto-kun."
Naruto menyipitkan matanya. "Kau sepertinya patut dicurigakan, Azazel"
Azazel tertawa renyah. "Tak perlu memasang wajah seperti itu. Walaupun aku sudah setua ini, informasi adalah hal yang segalanya bagiku. Aku jauh lebih pintar dari persentase terburuk yang kau berikan kepadaku."
Naruto mendengus. "Aku tak bisa menjamin kalau Kokabiel akan benar-benar menghancurkan kota ini ketika mengetahui siapakah aku, Azazel. Tapi setidaknya aku bisa membuatnya diam di Tartarus."
"Itu sudah cukup untukku, tapi kalau bisa jangan kau bunuh oke?" sahut Azazel sambil berbalik. "Kami masih membutuhkan beberapa informasi yang ada di dalam otak dengkulnya itu." Ketika dia mengembangkan sayap-sayapnya yang siap untuk lepas landas, Azazel berhenti dan menoleh sekali lagi. "Oh, Naruto-kun?"
"Hm?"
"Kau tahu? Anak murid yang suka absen sepertimu sepertinya harus diberikan pelajaran, apakah kau tidak tahu betapa buruknya pandangan para murid terhadapmu?"
Sepeninggal Azazel, Naruto sempat termenung sebelum akhirnya ia membelalakan matanya. "Oh, sial! Urusannya sama OSIS ini mah."
…: Draco :…
Dan akhirnya Naruto mengerti betapa orang-orang lebih memilih untuk langsung mencari uang daripada harus sekolah. Padahal ia tak perlu melakukan hal semacam ini hanya untuk mencari pendidikan di institut Akademi Kuoh, seharusnya ia tak melupakan fakta bahwa ia tidak seperti manusia yang harus bekerja keras dengan segala jerih payahnya. Naruto bisa dengan mudah mencari pekerjaan baik itu menjadi pedagang, pelayan atau mungkin aktris sekelas model bermodalkan tampangnya saat ini.
Dengan sebuah hembusan napas panjang, Naruto melonggarkan dasi yang mengikat lehernya dengar erat tersebut sembari berjalan menyusuri koridor Akademi Kuoh yang telah ramai setelah matahari muncul dari permukaan. Dia sudah hampir mencapai tangga yang akan membawanya ke lantai dua ketika sebuah suara berhasil menghentikan langkahnya.
"Yankee-kun."
Naruto meneguk ludahnya dengan susah payah ketika kakinya masih terangkat untuk mencapai tangga paling atas, memutar kepalanya hanya untuk melihat bahwa seseorang telah menunggunya di bawah tangga. Melihat senyum yang terukir dengan manis di bibir tipis itu membuat Naruto harus menyunggingkan senyum yang pahit.
Di bawah sana, berdiri seorang gadis muda dengan rambut hitam dan mata yang berwarna ungu, wajahnya yang kecil dihiasi oleh kacamata yang bertengger di hidungnya. Cewek yang Naruto kenali sebagai Shitori Souna atau mungkin lebih tepatnya Sona Sitri, Seito-Kaichou dari Organisasi Intra Sekolah, yang wajahnya tidak pernah mengukir sebuah senyuman. Dan kini bibir itu tengah menukik ke atas, membuat Naruto menyadari bahwa masalah yang amat besar sedang menunggunya.
"Sebenarnya ada yang ingin kutanyakan, apakah bisa aku mengganggu waktumu sebentar saja, Yankee-kun?" Sona mendorong kacamatanya yang melorot hingga mengkilap diterpa oleh sinar matahari. "Ada alasan kenapa satu minggu ini kau selalu absen dan tidak ada kabar sama sekali?"
"Ahaha… etto, a-anu bisakah kau tidak memanggiku Yankee, Kaichou-san?" Naruto nampak kikuk sambil satu jarinya menggaruk pipinya. "Panggilan itu terkesan kalau aku adalah siswa yang err… brengsek?"
"Eh, benarkah?" Sona berusaha memasang ekspresi polos dan bingung. "Kurasa itu sama seperti kelakuanmu yang menghilang selama ini."
Naruto menahan diri untuk tidak menghela napas berat. "Oke, oke… aku mengaku kalah darimu, Kaichou-san."
Sona mengangguk. "Baiklah, kita kembali ke inti masalah. Satu minggu ini kau pergi tanpa memberikan kabar, bahkan kami sudah berusaha untuk mengontakmu dan juga mendatangi apartement dimana kau tinggal. Tapi semua yang kita lakukan itu sia-sia…"
Naruto tidak menjawab, dia hanya memasukkan satu tangannya ke kantung celana dan mendongak setinggi-tingginya sebelum ia merenggangkan otot lehernya. Ketika ia kembali mengalihkan pandangan ke arah Sona lagi, matanya berubah menjadi serius dan ekpsresinya tidak tergambar lagi sebuah kemalasan. "Excalibur…"
Sona melebarkan matanya dengan wajah yang dipenuhi rasa tak percaya. "K-kau… mengetahui hal itu?"
"Yah…" Naruto mencoba mencari alasan bahwa sebenarnya ia tidak melakukan hal itu, padahal ia pergi bersama Ophis ke Aesir untuk menakhlukkan beberapa Naga Jahat yang ada disana. Tapi sepertinya informasi yang diberikan Azazel semalam cukup membantunya kali ini.
"Kau tidak berbohong kan?"
Naruto terbatuk. "Uhuk, eh? Untuk apa aku berbohong?"
Sona menyipitkan matanya untuk mengintimidasi cowok di depannya, namun selama beberapa detik akhirnya ia memejamkan mata dan menghela nafas pelan. "Baiklah… jadi bisa kau katakan apa yang sebenarnya terjadi? Dan juga alasan kau mencari informasi tentang Excalibur yang hilang itu."
"Aku mengerti…" Naruto melemaskan punggungnya yang tegang dalam waktu beberapa saat itu. "Tapi sebelum itu, bisa nggak kalau kita bicara di tempat lain? Paling tidak tempat yang ada kursinya supaya aku bisa duduk dan santai sedikit, dan juga aku tak mau mengundang banyak perhatian orang lain di sini"
"Baiklah, kita pergi ke Ruang OSIS. Bagaimana?" tanya Sona mengusulkan.
Naruto bersidekap sembari memasang wajah berpikir. "Oke"
~•~
Naruto berhenti tepat satu langkah dari pintu masuk, tepat di belakang sosok Sona yang telah menggeser pintu di depannya. "Silahkan masuk."
Naruto mengangguk sebelum melangkah masuk, dan langsung merasakan sesuatu yang aneh. Sesuatu yang membuatnya merasa enggan untuk kembali melangkahkan kakinya, bukan karena ruangan yang telah terkontaminasi oleh hawa dingin Air Conditioner di dalam ruangan ataupun suara gemerisik dari ketukan pulpen di seberang. Hanya saja, ketika dia melangkahkan kaki melewati pintu itu, semua pasang mata yang ada di dalam ruangan langsung tertuju padanya dengan tatapan yang tak berkedip.
"A-anu, permisi?" Naruto mengusap kepala belakangnya, entah merasa kalau perbuatannya itu benar atau tidak. Bagaimanapun juga Naruto tidak begitu suka dengan pandangan iblis-iblis muda di dalam ruangan yang terus memandangnya dengan tatapan tajam. Terlebih lagi beberapa di antara mereka memiliki sikap disiplin yang kuat, membuat Naruto mau tak mau harus menjaga image-nya untuk tidak berbicara asal-asalan seperti cara bicaranya kepada orang lain.
"Silahkan duduk," Sona berucap singkat sambil berjalan ke mejanya yang ada di depan jendela. Walaupun merasa enggan untuk berjalan kesana, yang entah kenapa harus melewati tatapan mata-mata itu, Naruto hanya bisa mendesah pasrah sembari kakinya yang melangkah dalam diam.
Ketika melihat gestur tubuh pemuda di hadapannya sudah tenang, Sona tersenyum tipis sebelum menatap kearah Tsubaki. "Buatkan teh untuk Tsuki-kun"
"A-ah tidak perlu repot-repot, dan juga… apa maksudnya panggilan itu?" Naruto bersidekap dan mencemberutkan wajahnya, hingga nampak seperti seorang bayi yang lagi ngambek sampai-sampai Sona jadi agak gemas dibuatnya.
"Namamu terlalu sulit untuk diucapkan, jadi aku lebih memilih untuk menyingkatnya. Apakah tidak boleh, Ootsutsuki Naruto-kun?"
"Yah, sebenarnya sih tidak apa-apa…" sahut Naruto dengan tenang.
Tsubaki berjalan ke samping Naruto, ia mengamati Naruto sesaat sebelum memberi komentar. "Silahkan di minum tehnya, Tsuki-kun."
Naruto menoleh ke arah Tsubaki, lantas tersenyum dan mengangguk. "Terimakasih… maaf merepotkan."
"Tidak perlu, itu sudah menjadi kewajiban kami."
Ketika Tsubaki membungkukkan badannya lalu mundur, Naruto mengembalikan arah pandangannnya pada Sona. "Jadi…?"
"Aku akan jujur padamu, Tsuki-kun," Sona memautkan jari-jarinya lalu mengistirahatkan dagunya di puncak. "Aku akan memberikanmu beberapa informasi yang terkait dengan Excalibur. Rias kemarin memberitahuku tentang dua pihak gereja yang datang, mereka meminta agar Fraksi Iblis di kota ini tidak ikut campur dalam urusan mereka."
Naruto memberikan sebuah gestur dengan dagunya. "Lanjutkan."
"Dan mungkin mereka akan bergerak tepat malam ini. Jika kau bertanya siapakah mereka, aku mungkin hanya bisa memberikan sedikit kronologisnya."
Membutuhkan waktu sekitar lima menit bagi Naruto untuk mendengarkan penjelasan Sona, yang dimana semua informasi itu hanyalah singkatan dari apa yang dijelaskan oleh Azazel. Naruto sendiri juga tidak menyalahkan Sona atas hal ini, karena Naruto tahu kalau mereka hanyalah mendapatkan apa yang ada di depan mata mereka sendiri.
"Aku ingin mendengarkan informasi apa yang kau dapat dari pencurian Excalibur…" Sona meletakkan kedua tangannya di atas meja tanpa membuat suara. "Karena kami tak bisa tinggal diam jika ada kubu lain yang memicu terjadinya perang."
"Aku tak bisa menjamin bahwa aku akan berhasil memenuhi rasa ingin tahumu, Kaichou." kata Naruto setelah menyeruput kembali teh nya. "Tapi setidaknya, aku bisa berjanji untuk mencoba menjawab dengan jujur."
"Itu sudah cukup untukku, Tsuki-kun." Sahut Sona sambil mengulas senyum tipis yang membuat laki-laki berambut coklat pudar disana menganga dengan lebar. Genshirou Saji yang baru beberapa bulan menjadi iblis di bawah naungan Keluarga Sitri itu memalingkan wajahnya yang memucat dan berkeringat dingin ke belakang, dan rasa panik mengisi hatinya ketika melihat sosok dengan rambut hitam yang berdiri di belakang Kaichou-nya itu telah memberikan hawa intimidasi yang kuat.
Lalu Naruto mulai berkata.
"Akademi Kuoh…"
Para Anggota OSIS hanya bisa terdiam ketika menatap kearah jari telunjuk Naruto yang mengacung ke bawah, bermacam pemikiran mulai berseliweran di otak mereka saat melihat wajah remaja itu tidak menunjukkan sedikitpun rasa gugup yang tadi diperlihatkannya. Hanya mampu meneguk ludah mereka sendiri ketika mendengarkan ucapan selanjutnya yang berisi nada tidak main-main.
"Akan hancur."
Saji menggertakkan gigi dan matanya mulai berseliweran ke segala arah, namun sekeras apapun otaknya berusaha, ia tak bisa menemukan perkataan untuk menyangkal bahwa cowok itu adalah pembohong. Bagaimana mungkin seorang manusia bisa mengetahui apa yang akan terjadi kedepannya? Mungkin Saji mengakui kalau cowok itu bukanlah manusia biasa, tapi apa mungkin memprediksi masa depan itu mungkin?
"Jangan bercanda, brengsek!" Saji menggebrak meja kerjanya dengan gigi yang menggigit bibirnya. Sadar bahwa apa yang baru saja ia lakukan adalah kelewatan, mata Saji kembali mengeras, tangannya sudah terkepal erat bersiap untuk menghajar Naruto.
Tapi detik berikutnya, hanya desingan angin yang mulai berhembus memenuhi ruangan. Saji hanya bisa menyaksikan shock tergambar jelas di matanya selagi sudut matanya melirik kearah pedang yang menggores kulit lehernya. Dalam keadaan ini mungkin ia sudah terlalu lemah untuk menang, tapi itu tak berarti dia akan menyerah begitu saja tanpa perlawanan!
"Kau kira aku takut dengan ancaman semacam ini dari manusia pembohong sepertimu brengsek?! Hadapi aku dan mengakulah!"
"Menghadapimu?" nada suara Naruto terdengar datar dan tak mengandung emosi, namun ada nada sinis yang tersembunyi di dalamnya. "Kau tidak lihat situasi ini sedang genting? Kau kira aku punya waktu untuk mengurus bocah sepertimu yang tak pernah mendengarkan orang lain seperti kau? Urusan bocah Hyoudou sudah membuatku rumit, terlebih lagi sekarang harus mengurusmu juga?"
"Apa kau bilang?!" Saji menggertakkan giginya kuat-kuat, di tangan kanannya sudah terukir sarung tangan naga dengan mata ungu yang bersinar. "Aku tak peduli walaupun situasi seperti ini sangat rumit! Penipu sepertimu tidak pantas untuk hidup! Sebaiknya kau-"
…
Dan suara tamparan terdengar.
…
Suasana lengang seketika, dan pandangan mereka dibuat fokus pada sebuah tangan yang telah menampar pipi pemuda berambut cokelat pudar yang saat ini tengah memandang kosong kedepan. Membuka matanya, Saji ditemukan dengan wajah Sona yang sudah memerah menahan amarah.
"Saji… sejak kapan aku mengajarkanmu untuk berbuat seperti itu…" wajah Sona kini telah berubah menjadi merah padam, menahan kemarahan yang hampir membludak dari isi hatinya terdalam. "Jangan menghina orang lain, terlebih lagi Tsuki-kun hanyalah seorang manusia… kau tahu apa artinya? Aku tak tahu alasan kenapa kau kesal kepada Tsuki-kun, tapi itu bukan menjadi alasan bagimu untuk menghina Tsuki-kun. Kau harus melihat dirimu sendiri, dia hanyalah seorang manusia… sedangkan kau Iblis, seharusnya kau tahu hal dasar seperti itu…"
"Gomen Kaichou…" Saji hanya mampu menundukkan kepalanya, membiarkan rasa panas meresap kedalam pipinya. Karena, betapa kerasnya pukulan yang dilayangkan ke kepalanya tidak ada apa-apanya dibandingkan emosi yang ditampakkan oleh Kaichou-nya.
Saji tidak tahu harus berbuat apa lagi. Apa yang dikatakan Naruto dari awal memang benar… tanpa ada satupun yang salah. Situasi saat ini sedang genting, peperangan akan segera terjadi jika mereka salah bertindak.
Kemudian ia mendongakkan kepalanya melihat Sona dan juga anggota peerage yang lain. kenyataan memang sudah berada di depan mata. Tidak peduli sebanyak apapun ia melontarkan berbagai macam alasan, karena hasilnya akan sama saja. Ia yang salah. Tidak mungkin ia bisa mengelak dari masalah ini, katakanlah bahwa takdirnya sudah terukir di atas batu.
Dengan menghela nafas. Naruto melihat kearah Sona dan kemudian Saji… pemuda itu sudah lebih dulu keluar dari ruangan dengan wajah merah menahan amarah, Naruto sempat mendapatkan tatapan sinis darinya sebelum meninggalkan ruangan.
"Sudahlah, aku tidak mempermasalahkan hal itu saat ini. Bukankah kita memiliki masalah yang lebih penting disini?" Naruto memecah keheningan yang berlangsung selama beberapa saat. Dirinya tahu bahwa hanya itu yang di perlukan untuk menghentikan masalah yang terjadi di pihak Iblis di hadapannya ini.
Sedangkan dengan Sona yang kini berada di kursinya hanya bisa mengangguk. Setiap detik yang berlalu merupakan waktu yang berharga. Ia juga harus mulai menyusun rencana untuk mencegah adanya peperangan antara kedua belah pihak.
Gadis iblis berambut hitam itu kemudian melihat wakilnya yang berada di samping, yang dari tadi menyaksikan kejadian dengan ekspresi datarnya. Tatapan masih tertuju pada Saji. Namun ketika Sona memerhatikannya, Tsubaki kemudian mengangguk.
"Baiklah Tsuki-kun, bisa kita lanjutkan?"
Naruto mengangguk.
"Saat ini kami sedang mencari informasi mengenai pergerakan yang dilakukan oleh Kokabiel," Perempuan itu menatap mata biru Naruto, lantas membungkukkan badannya yang langsung di ikuti oleh peerage lainnya. "Sebelumnya kami minta maaf karena telah membawamu kedalam masalah yang Fraksi kami buat."
"Ah, tidak perlu. Lagipula…" Naruto mencoba untuk mengatakan sesuatu namun hanya mampu menutupnya kembali ketika matanya bertemu dengan mata violet Sona yang memicing tajam. "…ahaha, lupakan."
"Sekali lagi, kami minta maaf."
"Hmm…" menggumam tidak jelas pada dirinya sendiri, Naruto kembali dipaksa untuk menahan dirinya untuk tidak langsung berjengit saat Sona kembali menatapnya tajam.
Menatap bangunan tower Tokyo melalui kaca jendela di sampingnya, Naruto dan Sona segera mengangguk, tidak sabar untuk segera menyudahi pembicaraan ini secepat mungkin. Atau setidaknya, itulah yang mereka harapkan.
"Terimakasih atas rasa toleransimu kepada kami, Tsuki-kun," Naruto tersenyum kecil saat mendengar ucapan yang terlontar dari bibir tipis Sona. Beberapa kali ia mencoba untuk mengingatkan bahwa gadis ini tidak perlu terlalu sopan kepadanya, semuanya tetap akan sia-sia.
"Yah… kau tidak perlu sungkan, Kaichou. Walau memang hanya untuk menahan salah satu Petinggi Malaikat Jatuh, tapi tetap saja…" Naruto memejamkan matanya sambil berkata lirih. "Sangat mustahil bagi kalian untuk membuat Kokabiel mempercayai kata-kata kalian. Bagaimanapun juga pertumpahan darah akan tetap terjadi…"
Mendengar kata-kata dari Naruto, Sona segera menegakkan kepalanya dan memandang lurus ke arah Naruto dengan pandangan tajam, berusaha untuk memperingatinya.
Tapi Naruto tidak terpengaruh, ia hanya mengangkat sedikit salah satu ujung bibirnya dan berjalan menuju pintu. Ketika dia sudah memegang knop pintu dan bersiap untuk pergi, Naruto berhenti dan menoleh sekali lagi. "…Karena, Kokabiel bukanlah lawan yang bisa kau hadapi dengan kata-kata."
.
.
.
To be Continued~
Authors Note: Sebelumnya hamba minta maaf karena belum bisa meng-update Fic Uzumaki Rinnegan. Hamba masih labil dalam penulisan tersebut, banyak kesalahan dan tidak nyambung. Tapi pokoknya, hamba akan terus memperbaiki kesalahan-kesalahan yang hamba buat. Jadi untuk para readers, mohon berikan kritik dan sarannya sekaligus apa yang kurang dari cerita hamba… agar hamba bisa memperbaikinya, meskipun tidak maksimal ^^
Thanks for Review…
Next Chapter : Serangan pada malam hari – Part 2
Draco, out!
