"Healing With Cotton Candy"

.

.

.

.

Cast : Seventeen Member

Main Pairing : SoonHoon

Genre : Romance, Fantasi, Angst

Summary : Sepeninggalan Soonyoung, Jihoon merasa hidupnya berubah. Sepi, sunyi, membosankan, terasa ada yang hilang. Sampai suatu saat Jihoon bertemu lagi dengannya. Namja yang kembali membuat hidupnya berwarna.

Warning : Typo bertebaran dimana - mana

.

.

.

.

Selama beberapa hari setelah kecelakaan tragis itu terjadi, Soonyoung hanya terus terpaku menatap tubuhnya yang terbaring lunglai dengan berbagai macam alat bantu kehidupan di sekujur tubuhnya. Sampai suatu hari ia bertemu dengan Seokmin di rumah sakit.

Soonyoung yang saat itu menyadari bahwa Seokmin melihat keberadaannya pun langsung mengejar Seokmin. Seokmin terus menghindar, berpura-pura tak melihat Soonyoung. Namun bukan Soonyoung namanya kalau ia menyerah begitu saja.

Saat tau Seokmin datang hampir setiap hari kerumah sakit, Soonyoung terus saja menempel padanya. Bahkan Soonyoung sangat ingin mengikuti Seokmin sampai ke rumahnya, tapi ia tak bisa meninggalkan tubuhnya sendirian di rumah sakit. Bagaimana kalau tiba-tiba terjadi sesuatu pada tubuhnya ? Soonyoung sangat takut dengan hal itu.

Soonyoung pun mencari tahu untuk apa Seokmin sering datang ke rumah sakit karena sepenglihatan Soonyoung, Seokmin itu sangat sehat dan segar bugar jadi mana mungkin orang itu sakit parah. Dan Soonyoung pun tahu saat ia mengikuti Seokmin, dari luar pintu bercat putih itu ia melihat seorang namja mungil tengah duduk menyandar di kepala ranjang salah satu kamar di rumah sakit itu. Soonyoung terpaku saat melihat namja mungil itu tersenyum di sela-sela obrolannya dengan Seokmin. Entah kenapa senyuman itu membuat bibir Soonyoung ikut terangkat.

"Manisnya~"

Dan Seokmin yang kembali menyadari Soonyoung berdiri di ambang pintu pun hanya bisa menghela napas beratnya. Namja mungil yang di jenguk itu menatap heran pada Seokmin yang tiba-tiba terdiam.

"Waeyo ? Apa kau melihat hantu ? Apa ada hantu disini ?"

"Sepertinya begitu."

Dan jawaban santai Seokmin itu membuat mata namja mungil itu membulat. "Mwoya ? Yakh~ jangan bercanda !"

"Ini rumah sakit Jihoon-ah~ jadi wajar jika banyak hantu bergentayangan disini." ucap Seokmin membuat namja mungil bernama Jihoon itu meringkuk di dalam selimutnya.

"Kau membuatku merinding." cibirnya membuat Seokmin terkekeh.

"Aku keluar dulu."

"Eoh~ mau kemana ? Yakh~ jangan melarikan diri setelah membuatku takut begini !" nada protes Jihoon membuat Seokmin kembali terkekeh.

"Aku hanya mau membeli minuman dingin, hari ini kenapa begitu panas."

"Aku mau cola !"

"Yakh~ kau baru saja selesai operasi usus buntu ! Jangan makan dan minum hal-hal yang aneh-aneh dulu !" ucapan Seokmin itu membuat Jihoon mengerucutkan bibirnya.

Tanpa memperdulikan berbagai cibiran yang keluar dari bibir Jihoon, Seokmin melangkah keluar, menatap sekilas punggung Soonyoung yang kini berdiri di persimpangan lorong. Seokmin melangkah mendekati Soonyoung lalu menepuk punggung Soonyoung.

"Ikut aku." ucapan yang lebih terdengar seperti bisikan itu membuat Soonyoung mengerjapkan matanya dan sedetik kemudian ia tersenyum dan mengikuti langkah Seokmin.

"Jadi apa yang bisa kubantu." ucap Seokmin langsung ke intinya begitu mereka sampai di taman rumah sakit itu dan duduk di salah satu bangku yang ada disana.

"Kau... Bisa melihatku ?"

Seokmin memutar bola matanya mendengar pertanyaan bodoh itu. "Aku sedang berbicara denganmu, aku tadi bahkan menepuk punggungmu, apa kau pikir aku perlu menjawab pertanyaan bodohmu itu ?"

Soonyoung hanya menyengir seperti orang bodoh.

"Apa kau mau hidup lagi ?" mendengar ucapan tiba-tiba Seokmin itu membuat Soonyoung terdiam. Sedetik kemudian ia menjatuhkan pantatnya ke samping bangku tempat Seokmin duduk.

"Apa bisa ?" tanya Soonyoung penuh harap.

Seokmin mengangguk. "Tentu saja. Kau kan belum mati. Kau hanya jiwa yang terlepas dari tubuhmu."

Soonyoung menutup mulutnya tak percaya. "Bagaimana kau tahu ?"

"Tubuh dan hawa di sekitarmu itu terasa hangat, itu artinya kau masih ada di dunia ini. Kau hanya tersesat, tak tahu jalan kembali pulang. Jika kau sudah jadi hantu, maka hawa di sekitarmu akan terasa dingin." jelas Seokmin membuat Soonyoung mengangguk mengerti.

"Jadi... Apa ada cara agar aku bisa kembali ke dalam tubuhku ?" Seokmin mengangguk membuat Soonyoung makin antusias. "Apa itu ? Bagaimana caranya ?"

"Ada dua cara."

"Apa itu ?"

"Cari orang biasa yang tak memiliki kelebihan sepertiku, buat dia percaya padamu, lalu ambil setengah energi darinya."

Soonyoung mengerutkan keningnya. "Caranya ?"

"Buat dia rela memberikan tubuhnya padamu. Satu malam cukup." ucapan Seokmin itu membuat Soonyoung berpikir.

"Yakh~ kau memintaku menidurinya begitu ?!" teriak Soonyoung begitu keras. "Kau bercanda. Kalau cara yang kedua ?"

"Cari pelaku yang telah membuat tubuhmu kehilangan raganya ini, lalu bujuk dia untuk mengakui kesalahannya."

Soonyoung mengernyit. Kenapa dua cara itu terlihat mustahil semua. Mencari orang biasa yang rela menyerahkan tubuhnya padanya dan membujuk pelaku yang sama sekali tak bisa melihatnya. Bagaimana bisa Soonyoung melakukan itu semua ?

.

.

.

.

Soonyoung berjalan sembari mengacak-acak rambutnya dengan gemas. Kepalanya terasa mau pecah setiap kali teringat pada ucapan Seokmin. Dari dua cara yang pernah Seokmin sebutkan itu hanya satu yang kini bisa Soonyoung lakukan, yaitu mencari si pelaku. Dari pada mencari satu orang yang bisa melihatnya di antara berratus juta jiwa yang tinggal di Seoul ini, Soonyoung lebih memilih mencari si pelaku yang sedikit-sedikit ia ingat rupanya.

Tapi ternyata hal itu tak mudah. Sudah beberapa hari ini ia berkeliaran di luar sana untuk mencari pelaku tabrak lari. Mulai dari kembali ke tempat kejadian dimana tubuhnya tergeletak, sampai ke kantor polisi mencoba melihat berkas kasusnya, namun hasilnya nihil.

Soonyoung sudah seperti orang gila mencari orang yang telah menabrak dirinya hingga membuat jiwanya terpental keluar dari tubuhnya sendiri seperti ini. Soonyoung bahkan bersumpah jika ia menemukan orang itu, ia akan menghantuinya sampai jiwanya ikut terpental dari tubuhnya.

Tapi tolong ingatkan Kwon Soonyoung bahwa hal itu hanya akan merugikannya. Bukannya ia kembali ke dalam tubuhnya, malahan ia akan menghilang selamanya dari muka bumi ini.

Kakinya menendang sembarangan setiap benda yang ada di jalanan yang ia lalui itu. Tak di hiraukannya tatapan takut orang-orang yang lewat melihat kaleng, bungkus rokok, bahkan batu yang terlempar jauh akibat ulah kaki Soonyoung itu.

Dan tanpa sadar kakinya menendang cukup keras kerikil yang ada di depannya hingga terlempar cukup jauh dan sukses mengenai kepala seseorang yang tengah duduk di salah satu bangku yang ada di pinggir jalan itu.

Soonyoung yang terkejut akan ulahnya sendiri itu hampir saja berlari menghampiri namja mungil yang tengah menunduk itu untuk minta maaf jika saja ia tak ingat bahwa dirinya kini hanyalah sebuah roh yang tak terlihat.

Menyadari hal itu membuat mood Soonyoung makin memburuk. Soonyoung pun melangkahkahkan kakinya, matanya tak sengaja menangkap sosok mungil yang tadi terantuk kerikil akibat ulahnya itu tengah menangis.

Soonyoung menghentikan langkahnya tepat di samping namja mungil itu lalu membungkuk memastikan suara isakan yang ia dengar tadi memang dari namja di depannya ini.

"Hiks~ dasar Seungcheol brengsek ! Hiks~ bagaimana bisa ia mencampakkanku begini !" Soonyoung mengerjapkan matanya mendengar umpatan yang samar-samar terdengar, suara namja di hadapannya ini suara sungguh sangat kecil. Sangat sesuai dengan ukuran tubuhnya.

"Yakh~!" tapi sedetik kemudian tubuh Soonyoung terlonjak kebelakang begitu dengan tiba-tiba namja itu mendongak dan berteriak sangat kencang.

"Dasar namja sialan ! Kurang ajar ! Keparat ! Brengsek ! Bagaimana bisa aku dibandingkan dengan Yoon Jeonghan centil itu ! Aku ini jauh~ jauh~ bahkan sangat jauh lebih baik dan lebih imut darinya. Bagaimana ia bisa meninggalkanku demi namja sok cantik itu ha ?!"

Tiba-tiba saja bulu kuduk Soonyoung meremang begitu mendengar teriakan menggelegar dari mulut kecil itu. Soonyoung menggeleng-gelengkan kepalanya dan menarik kesimpulan, sepertinya namja di depannya ini baru saja putus dari kekasihnya.

Tapi dalam hati Soonyoung, ia kasihan saat melihat mata sipit itu dipenuhi buliran air mata yang mengalir tanpa henti. Diliriknya sebuah buku di yang tergeletak di samping namja itu. Soonyoung menyipitkan matanya untuk membaca tulisan di atas sampulnya.

'Lee Jihoon ? Sepertinya itu nama anak ini.' tebak Soonyoung dalam hati lalu tersenyum.

"Yakh~ Lee Jihoon, jangan menangis lagi. Kau itu imut, jika menangis seperti ini wajahmu terlihat jelek. Mana ada orang yang akan melirikmu jika kau terlihat jelek begini. Bukan waktunya untuk bersedih, ini waktumu untuk membalas orang yang mencampakkanmu. Carilah orang lain yang lebih baik darinya, kurasa akan banyak yang mengantri untukmu." ucapan Soonyoung itu ia akhiri dengan kekehan kecil.

Jihoon yang kini telah berhenti menangis, mengusap kasar air matanya dengan sweater yang ia pakai. Jihoon mengernyit bingung, ia yakin baru saja ada seseorang yang berdiri di sampingnya dan berbicara padanya. Samar-samar Jihoon melihat sosok orang itu meski matanya kabur akibat genangan air mata yang menumpuk di pelupuk matanya.

Jihoon mengedarkan pandangannya ke sekeliling tapi tak menemukan siapapun. Jihoon pun meraih tas dan bukunya lalu berjalan menuju pinggir jalan untuk menyeberang ke rumah sakit yang ada di seberang jalan itu.

Sebenarnya ia ada jadwal kontrol hari ini, maka dari itu ia datang ke rumah sakit hari ini. Namun karena kejadian kekasihnya, Choi Seungcheol yang memutuskan hubungan mereka secara sepihak di kampus tadi membuat Jihoon sedih dan berakhir menangis meraung-raung seperti tadi.

Saat Jihoon hendak menyeberang, menunggu lampu hijau bagi pejalan kaki menyala, mata sipitnya tak sengaja menangkap sosok seorang namja tengah berjalan dengan santainya menyeberang jalan. Dan dari sisi yang berlawanan dapat Jihoon lihat mobil yang berjalan cukup cepat menghampiri tubuh namja itu.

Jihoon yang melihat hal itu langsung saja membelalakkan matanya. Dijatuhkannya tas dan buku-buku bawaannya itu sembarangan kemudian berlari kencang menghampiri namja itu. Jihoon langsung mendorong tubuh namja itu hingga dirinya dan juga namja itu terpental ke tengah jalan, menghindari mobil yang hampir menabrak mereka.

Dan mobil yang hampir menabrak tubuhnya itu langsung berhenti tepat di samping mereka. Si pengemudi langsung menurunkan kaca jendelanya dan berteriak memarahi Jihoon.

"Yakh~ dasar pemuda gila ! Apa kau mau mati ha ?! Kalau mau mati, mati saja sendiri jangan sembarangan melompat ke mobil orang !"

Namun Jihoon sama sekali tak menghiraukan teriakan kemarahan pengemudi mobil itu. Ia malah menatap garang ke arah namja yang telah ia selamatkan itu. "Apa kau gila ? Apa kau buta ? Apa kau tuli ha ?! Ada mobil melaju tepat di sebelahmu kenapa kau tak menyingkir ha ?!"

Dan teriakan Jihoon itu pun juga tak di dengarkan oleh sosok di hadapannya. Soonyoung, namja yang ternyata di selamatkan Jihoon itu hanya bisa terdiam menatap tak percaya ke arah Jihoon.

'Dia... Bisa melihatku...?'

"Yakh~ kenapa diam saja ha ?! Apa kau juga bisu ?!"

'Dia... Juga tak menyadari siapa aku ?'

"Dasar menyebalkan ! Orang gila tak tahu terima kasih !"

Dan Soonyoung hanya tersenyum menanggapi segala umpatan yang di lontarkan Jihoon padanya.

.

.

.

.

Jihoon langsung terkesiap dari alam mimpinya. Ia terbangun, terduduk dengan keringat dingin mengucur di seluruh wajahnya. Napasnya pun memburu tak menentu. Di pegangnya dadanya yang naik turun. Kini tangan mungilnya mengusap wajahnya kasar.

Mimpi itu kembali lagi. Mimpi yang sama masih saja terulang sejak beberapa Bulan terakhir ini. Lebih tepatnya sejak Soonyoung pergi, Jihoon selalu memimpikan hal itu. Sejak mimpi itu datang, Jihoon sadar bahwa Soonyoung bohong saat menyatakan perasaannya di gedung kampus tahun lalu itu.

Karena pertama kali mereka bertemu bukanlah saat mereka bertabrakan di depan pintu masuk gedung kampus tempatnya menimba ilmu itu, namun pertama kali mereka bertemu adalah di jalan depan rumah sakit. Jihoon yang bodoh mengira Soonyoung ingin bunuh diri dengan sengaja menabrakkan diri pada mobil yang melaju. Namun kini Jihoon sadar jika waktu itu dia terasa sangat bodoh di hadapan Soonyoung. Bagaimana bisa ia memarahi hantu di depan banyak kerumunan orang ? Pantas saja banyak pasang mata yang menatap aneh kearahnya. Mereka pasti mengira dirinya gila waktu itu.

Jihoon menghela napasnya yang sudah mulai teratur itu, melirik meja nakas di samping tempat tidurnya kemudian tangannya terulur untuk meraih segelas air putih yang ada di sana. Diteguknya air putih itu dengan cepat. Sesaat Jihoon memejamkan matanya. Saat ia kembali membuka mata, tatapannya berubah sayu.

Setelah beberapa saat tenggelam dalam pikirannya sendiri, Jihoon kemudian menatap kalender yang terpajang di atas meja nakasnya. Kembali Jihoon menghela napasnya.

"Sudah satu tahun ya ? Benar-benar tak terasa." gumam Jihoon sambil menatapi sebuah tanggal yang ia lingkari dengan spidol merah itu.

Setelah meletakkan gelasnya kembali, Jihoon pun akhirnya beranjak dari kasurnya. Berjalan ke arah lemari pakaiannya, mengambil satu style pakaian kemudian berjalan keluar kamar menuju kamar mandinya. Jihoon harus segera membersihkan diri dan segera pergi menemui Soonyoung.

Kini Jihoon tahu kenapa mimpi itu kembali lagi mengusiknya. Jihoon hanya berpikir bahwa mimpi itu adalah pertanda dari Soonyoung bahwa dia merindukan Jihoon. Soonyoung ingin bertemu dengannya. Soonyoung sedang menunggunya.

Dan disinilah Jihoon sekarang. Setelah cukup lama menaiki bus, sampailah Jihoon di sebuah gedun, tempat dimana Jihoon akan menemui Soonyoung kembali setelah satu lalu lamanya ia tak berjumpa dengannya.

Jihoon melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung itu. Menaiki anak tangga satu persatu hingga kakinya menginjak lantai ketiga dari gedung itu. Jihoon terus melangkah, dan langkahnya berhenti tepat di depan pintu sebuah ruangan. Jihoon tersenyum menatap sesuatu di dalam ruangan itu.

Kembali Jihoon melangkahkan kakinya masuk hingga ia kembali berhenti tepat di sebuah rak kaca dimana Soonyoung berada. Jihoon tersenyum manis menatap sebuah guci bertuliskan nama Soonyoung di dalam salah satu tumpukan rak kaca yang ada diruangan itu.

Tangan kanannya terulur mengusap lembut kaca di hadapannya seolah tengah mengusap wajah lembut Soonyoung. Kini tangan kirinya menempelkan sebuah bucket bunga kecil yang sedari tadi ia bawa pada kaca itu kemudian kembali tersenyum.

"Lama tak bertemu Soonyoung-ah~ aku membawakan bunga ini untukmu, semoga kau suka. Aku sudah memilihkan yang warnanya ungu, bukankah itu warna kesukaanmu."

Jeda sebentar saat manik Jihoon menatap dua buah foto di dalam rak kaca itu secara bergantian. Foto sebelah kanan adalah fotonya bersama ibunya, sedangkan foto satunya adalah fotonya bersama sang ayah.

"Ayah dan ibumu pasti sangat merindukanmu. Tapi... Ini kan peringkatan hari kematianmu, kenapa tak ada bunga yang lain ? Apa aku yang pertama kali datang kemari ? Apa mereka tak bisa meluangkan waktu sejenak dari Jepang untuk menjengukmu ?"

"Kau pasti sangat merindukan mereka kan ? Apa... Kau juga merindukanku ?"

Beberapa saat kesunyian menyelimuti tempat itu. Setetes air mata mulai menggenangi pelupuk mata Jihoon. "Aku sangat merindukanmu Soonyoung-ah~" dan kalimat itu sukses membuat air mata yang sedari tadi Jihoon tahan mengalir begitu saja.

Tubuh Jihoon merosot, berjongkok dengan isakan yang terus keluar dari mulutnya. Setelah puas menangis melampiaskan rasa rindunya, Jihoon mengusap bekas air mata yang mengalir di pipinya kemudian berdiri, kembali menatap guci yang berisi abu Soonyoung.

Tiba-tiba saja ponselnya berdering. Dilihatnya siapa yang menelponnya dan begitu nama pemilik perusahaan penerbitan yang menaunginya itu muncul, Jihoon segera berjalan keluar ruangan itu dan mengangkatnya.

"Yeoboseyo~"

"Jihoon-ssi, sekali lagi bisakah kau pertimbangkan permintaanku tempo hari ?"

"Nde ?"

"Sequel. Kumohon buatlah sequel untuk novelmu itu."

"Itu..."

"Yakh~ novelmu kemarin sangat laku keras di pasaran tapi kenapa kau harus membuat ceritanya menggantung begitu ha ?! Bukan happy ending ataupun sad ending."

"Aku hanya tak bisa menentukan endingnya waktu itu."

"Maka dari itu, karena sekarang kau sudah tahu endingnya jadi kau harus menuliskannya. Buat sequelnya kumohon."

"Mianhae~ tapi aku tak akan membuat sequelnya."

Dan sambungan telepon itu langsung di putus sepihak oleh Jihoon. Setelah memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya, Jihoon pun berbalik hendak kembali ke ruangan tadi. Tapi saat ia berbalik, mata caramelnya tak sengaja menangkap sosok seseorang.

Sosok seorang namja yang baru saja berlalu di persimpangan. Sosok itu begitu mirip dengan Soonyoung. Meski hanya sekilas, Jihoon sangat yakin bahwa itu adalah Soonyoung.

Segera saja Jihoon berlari untuk mengejarnya. Yang ada dalam benak Jihoon sekarang hanyalah Soonyoung. Soonyoung datang. Soonyoung pasti datang karena dia merindukan dirinya. Dan Jihoon kini sangat berharap dapat bertemu dengan Soonyoung kemudian berlari ke dalam dekapannya. Ia ingin sekali memeluk tubuh Soonyoung meskipun tubuh itu hanya berupa roh.

Namun tak seperti yang di harapkan. Saat Jihoon sampai di persimpangan itu sosok Soonyoung sama sekali tak ada. Jihoon mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru tempat itu. Kembali berlari mengelilingi gedung itu. Tapi nihil, sama sekali tak ada Soonyoung disana.

Jihoon menyerah, mungkin itu tadi hanyalah halusinasinya saja. Akhirnya dengan langkah lunglai Jihoon berjalan kembali ke ruangan Soonyoung. Dan dahi Jihoon mengerut begitu ia sampai di sana. Di depan rak kaca itu kini tak hanya tertempeli bucket bunga yang ia bawa tadi tapi ada satu lagi bucket bunga lain di sebelahnya. Bunga yang sama dengan warna serupa seperti yang Jihoon beli tadi.

"Apa ada orang lain yang datang tadi ?"

.

.

.

.

Jihoon baru saja pulang dari jadwal kuliahnya. Hari sudah mulai gelap. Jihoon berjalan menuju lift apartementnya. Cukup lama Jihoon menunggu hingga akhirnya pintu lift itu terbuka juga. Jihoon melangkah memasuki lift kosong itu kemudian menekan angka 6 pada tombol lift, lantai di mana apartement miliknya itu berada.

Pandangan Jihoon terus saja menatap kedepan. Tatapannya kosong. Sudah beberapa hari ini dia sering sekali melamun. Sejak kemunculan Soonyoung di rumah duka kemarin lusa itu membuat Jihoon tak bisa berpikir jernih. Ia tetap melakukan kegiatan sehari-harinya namun pikiran Jihoon entah melayang kemana.

Dan saat pintu lift itu hampir tertutup, kembali Jihoon menangkap sosok Soonyoung yang berjalan melewati pintu lift itu. Jihoon yang sadar akan siapa yang barusan ia lihat itu langsung terkesiap, tersadar dari lamunannya dan segera menekan tombol buka pintu pada lift.

Jihoon terus menekan tombol itu dengan tak sabaran. Sampai akhirnya pintu itu terbuka, Jihoon langsung saja berlari keluar mengejar Soonyoung ke arah pintu keluar. Tapi lagi-lagi tak ada pertanda Soonyoung disana. Jihoon mencoba berlari mengitari sekitar apartemennya itu namun sosok Soonyoung sama sekali tak terlihat.

Jihoon menghela napas beratnya di sela-sela napas memburunya. Jihoon pun memutuskan berhenti mencari dan kembali ke apartemennya. Sesampainya Jihoon di depan pintu apartemennya, kening Jihoon mengernyit bingung melihat sebuah gulali tergeletak di depan pintunya.

Jihoon pun melangkah mendekati pintunya dan berjongkok untuk mengambil gulali itu. Jihoon terus memandangi gulali itu dengan berbagai macam pikiran berkecamuk jadi satu di dalam otaknya.

"Apa tadi Soonyoung benar-benar datang kemari ?"

.

.

.

.

Dan entah kenapa kejadian yang sama terulang lagi. Jihoon berlari cukup kencang dari halte bis hingga ke kampus nya ini. Jihoon bangun kesiangan, dan akhirnya ia harus bertarung melawan waktu seperti ini.

Dulu saat Soonyoung masih tinggal bersamanya, ia tak perlu khawatir akan kata telat karena Soonyoung ada di sisinya. Soonyoung, namja itu selaku membangunkan Jihoon yang memang hobi tidur, memaksanya mandi kala matanya masih terpejam ngantuk, dan membuatkan roti panggang untuknya sarapan.

Tapi kini semua berbeda. Dalam hitungan detik semuanya berubah begitu saja. Tak ada lagi orang yang membangunkan Jihoon dan mengingatkan jadwal kuliah paginya. Tak ada yang membuatkan roti panggang untuknya dan mengomelinya karena belum mandi. Dan hal yang paling Jihoon tak suka adalah tak ada lagi sosok yang menemani tidur.

Jihoon kini telah sampai di dalam gedung kuliahnya. Kaki-kaki mungilnya langsung menaiki anak-anak tangga itu untuk menuju ke lantai 4 dimana kelasnya berada. Jihoon tak memperdulikan orang-orang yang juga berjalan di sampingnya. Jihoon terus menerjang mereka.

Jihoon tersenyum sekilas saat ia hampir sampai di lantai 4. Dan saat Jihoon berbelok di persimpangan tangga, lagi-lagi Jihoon merasakannya. Merasakan keberadaan Soonyoung.

Jihoon langsung menghentikan larinya begitu ia menyadari Soonyoung yang baru saja berlalu melewati nya di persimpangan tadi. Jihoon langsung membalikkan badannya dan berlari kembali mencoba mengejar sosok yang mirip dengan Soonyoung itu. Tapi lagi-lagi sosok itu tak terkejar olehnya.

Apa itu benar Soonyoung ? Atau hanya halusinasi Jihoon ?

Berbagai macam pertanyaan bercampur aduk di dalam benaknya. Jihoon pun berjalan kembali menuju kelasnya. Beruntung dosen yang mengajar hari ini belum datang membuat Jihoon dapat bernapas lega. Jihoon lalu berjalan menuju bangku favoritnya di pojok ruangan.

Tubuhnya terpaku begitu saja saat matanya melihat sebuah permen lolipop tergeletak di atas mejanya. Jihoon mengernyitkan dahinya. Itu adalah permen lolipop kesukaannya dan Soonyoung. Juga... Hanya Soonyoung yang tahu tempat duduk favoritnya ini.

"Apa Soonyoung benar-benar kembali ?"

.

.

.

.

Jihoon terus memukuli dan menjambak rambutnya. Jihoon merasa bahwa kepalanya yang mulai tak normal itu kini butuh dihajar. Bagaimana ia bisa berpikir bahkan berharap bahwa Soonyoung kembali hidup ? Soonyoung bahkan jelas-jelas mati di depan matanya dan ia pun yang mengkremasi jasadnya.

Lalu siapa dia ?

Kenapa dia selalu muncul di sekitar Jihoon dan tahu banyak hal kesukaannya ?

Jihoon pun membenturkan kepalanya ke meja di hadapannya. Jihoon kini tengah duduk di sebuah cafe baru yang ada di dekat kampusnya. Tak ia pedulikan tatapan-tatapan aneh beberapa pasang mata yang duduk di sekitarnya melihat sikapnya itu.

"Yakh~ apa kau tak punya mata ha ?!"

"Maaf~ maafkan saya nona. Saya tak sengaja."

"Lihat ! Kau menumpahkan jus ke bajuku, astaga... Apa kau tahu berapa harga baju ini ? Apa gaji pelayan sepertimu bisa mengganti baju ini ha ?!"

"Ma... Maaf..."

"Maaf ? Gampang sekali kau mengucapkan maaf dasar pelayan rendahan !"

"Kami akan mengganti baju lusuhmu itu." suara seorang namja menginterupsi pertengkaran itu.

"Kau pikir bajuku ini baju murahan ha ?!" teriak yeoja itu tak terima.

Jihoon yang mendengar keributan tepat di sebelahnya pun mengangkat kepalanya lalu menatap seorang yeoja yang menatap yeoja lain yang tengah menunduk takut itu dengan mata nyalangnya.

Tiba-tiba saja yeoja itu meraih gelas berisi jus tomat milik Jihoon lalu melemparkan jus itu tepat di wajah pelayan yang berdiri di sebelah Jihoon membuat beberapa jus ikut mengenai tubuh Jihoon.

"Nona kau sudah sangat keterlaluan. Cepat keluar dari cafe ku ini sebelum aku menelpon petugas keamanan dan menyuruh mereka menyeretmu keluar." ucap namja tadi lalu mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya. Yeoja itu mendumel lalu pergi dengan langkah menghentak setelah menerima uang ganti rugi dari namja yang ternyata pemilik cafe itu.

Dan saat yeoja itu berlalu menampakkan sosok namja yang sedari tadi tak terlihat mata Jihoon, membuat Jihoon melebarkan matanya. Dirinya terpaku. Ia sudah tak peduli dengan tubuhnya yang ikut terkena jus tomat. Segala perhatian Jihoon kini hanya tertuju pada sosok namja itu. Namja yang mengaku sebagai pemilik cafe ini.

"Mianhae tuan~ aku akan mengganti uang tuan tadi." ucap pelayan itu dengan bibir bergetarnya.

Namja itu hanya tersenyum dan menggeleng. "Aniya~ tidak perlu kau ganti. Aku melihat kejadiannya tadi dan kau sama sekali tak salah. Yeoja tadi saja yang berjalan sembarangan."

"Sekali lagi maafkan saya." sekali lagi yeoja itu membungkukkan tubuhnya meminta maaf.

"Lebih baik sekarang kau bersihkan tubuhmu itu."

"Nde~ sekali lagi gomawo tuan." pelayan itu pun berlalu pergi.

Namja pemilik cafe itu kini menatap Jihoon yang sedari tadi diam saja di kursinya. Mata mereka berdua bertemu, itu membuat hati Jihoon berdetak begitu cepat. Jihoon masih terdiam terpaku di tempatnya meski namja itu kini berjalan menghampirinya dan duduk di depannya.

"Gwaenchana ?" tanya namja itu namun sama sekali tak mendapat jawaban dari Jihoon.

'Soonyoung...'

"Ah~ mianhae~ kau jadi kena imbasnya begini. Aku sungguh minta maaf. Aku akan mengganti pakaian kotormu ini."

'Apa ini kau...'

"Maaf~ apa kau baik-baik saja ?" namja itu menggerakkan tangannya ke depan wajah Jihoon yang sama sekali tak ada pergerakan itu. Lalu tangannya terulur menyentuh tubuh Jihoon, menggoyang-goyangkan badannya pelan membuat Jihoon akhirnya tersadar.

"Ka... Kau..." ucap Jihoon terbata mencoba bertanya pada namja yang begitu mirip dengan Soonyoung itu.

"Ah~ perkenalkan namaku Hoshi. Kwon Hoshi."

'Ah~ hanya mirip.'

"Mianhae~ kau terlihat sangat mirip dengan seseorang yang aku kenal." ucap Jihoon akhirnya membuka suaranya lalu menundukkan kepalanya. 'Benar~ Soonyoung tak mungkin kembali.'

Namja itu menatap Jihoon yang menunduk lalu tersenyum. "Jihoon-ssi ?"

Mendengar namanya di sebut, Jihoon langsung mendongakkan kepalanya. "Kau... Mengenalku ?"

Namja itu terkekeh. "Tentu saja."

Jihoon sudah merasa senang. Meski hanya sedikit tapi Jihoon masih berharap bahwa sosok di hadapannya ini adalah Soonyoung-nya. Namun harapannya itu harus kembali pupus saat namja itu melanjutkan ucapannya.

"Kau adalah penulis novel terkenal seantero Korea, jadi siapa yang tak akan mengenalmu." namja itu tersenyum.

Jihoon menatap senyum namja itu. Senyum itu sangat mirip dengan senyum Soonyoung.

"Tuan Hoshi ada yang mencarimu." ucap salah satu pelayan membuat Hoshi menoleh ke meja kasir lalu tersenyum mengangguk. "Katakan padanya aku akan segera kesana." pelayan itu mengangguk kemudian berlalu.

"Aku senang bertemu denganmu, tapi aku harus menemui temanku dulu. Nanti kita lanjutkan lagi ngobrolnya. Kau tahu, aku ini salah satu penggemar novelmu." ucap Hishi lalu mengedipkan sebelah matanya kemudian berlalu meninggalkan Jihoon menuju meja kasir.

Dantatapan mata Jihoon masih terus mengikutinya. Menatap namja yang mengaku penggemarnya itu dari ujung kaki hingga ujung rambutnya. Semua tampak sama persis. Postur tubuhnya, senyumnya, sifat riangnya. Semua yang ada pada namja itu mengingatkannya pada Soonyoung.

Setelah Hoshi selesai mengobrol dengan temannya, ia berniat kembali lagi menemui Jihoon. Namun saat ia berbalik, sosok mungil itu sudah tak ada di mejanya. Hoshi pun menghela napas kecewanya.

.

.

.

.

Tiga hari berlalu dan kini Jihoon kembali lagi ke cafe itu. Jihoon berdiri di depan pintu cafe, menatap kedalam mencari sosok yang ia cari. Saat matanya telah menemukan apa yang ia cari, Jihoon menghela napas beratnya. Ia mencoba menetralkan detak jantungnya.

Jihoon pun melangkah masuk dan langsung menuju meja kasir dimana orang yang ia cari itu berada. Jihoon langsung berdiri di hadapannya membuat orang itu, Hoshi menatapnya.

"Aku kemari untuk menagih utangmu." ucap Jihoon to the point membuat Hoshi mengerjapkan mata sipitnya dan tersenyum. 'Bahkan bentuk matanya sangat mirip.'

"Kenapa kau baru datang setelah 3 hari menghilang ?"

"Nde ?"

"Aku berharap kau kembali lebih cepat." Jihoon memiringkan kepalanya bingung dengan ucapan Hoshi barusan. "Kajja~" sahut Hoshi lalu meraih lengan Jihoon dan menyeret namja mungil itu keluar bersamanya, membuat Jihoon terpaksa tersadar dari lamunannya.

"Kita mau kemana ?" tanya Jihoon yang terus melangkah mengikuti Soonyoung yang masih memegang pergelangan tangannya.

"Ke toko baju. Bukankah aku harus mengganti bajumu yang terkena tumpahan jus waktu itu ?"

Sesampainya di toko baju, Hoshi langsung mengambil beberapa pakaian yang menurutnya cocok untuk Jihoon lalu menyuruh Jihoon mencoba semua pakaian itu. Dan mata Jihoon langsung terbelalak lebar saat melihat Hoshi mengeluarkan kartu kreditnya dan membayar semua pakaian yang tadi dicoba Jihoon.

Kini mereka sudah keluar dari toko baju dengan Jihoon yang membawa banyak tas di kedua tangan mungilnya.

"Kurasa ini berlebihan. Kenapa kau membelikanku banyak sekali pakaian. Kau hanya perlu mengganti satu saja."

Hoshi tersenyum. "Hanya ingin saja."

"Nde ?" Jihoon ingin kembali bertanya tapi ia urungkan saat melihat Hoshi sudah masuk ke dalam taksi dan berlalu meninggalkan Jihoon sendirian dengan banyak tas belanjaan di kedua tangannya. Jihoon ingin protes tapi entah kenapa lidahnya selalu kelu setiap melihat wajah itu.

Jihoon lalu menunduk, menatap tas belanjaan di kedua tangannya itu lalu tersenyum. "Baiklah Lee Jihoon, anggap saja Soonyoung yang membelikan semua ini untukmu."

.

.

.

.

Awalnya Jihoon menganggap itu sebagai keberuntungan, namun setelah di pikirkan berulang kali, pakaian-pakaian gratis itu membuatnya tak bisa tidur semalaman. Jika dipikir lagi ini salah. Jihoon sama sekali tak mengenal namja pemilik cafe itu. Jihoon bahkan tak mengetahui latar belakangnya. Mungkin saja kan namja itu hanya awalnya saja yang baik namun dibalik kebaikannya itu tersimpan rencana buruk.

Yang Jihoon tahu hanyalah wajahnya yang begitu mirip dengan Soonyoung. Sepertinya Jihoon kini harus mempercayai mitos tentang setiap orang memiliki 7 kembaran yang tersebar di seluruh bumi ini.

Karena semua pemikiran itulah membuat Jihoon kini kembali ke cafe itu lagi. Dengan banyak tas belanjaan di kedua tangan mungilnya, Jihoon melangkah masuk kedalam cafe dan langsung menuju meja kasir tempat dimana Hoshi sering berada itu.

Begitu Jihoon berdiri tepat di depan meja kasir, Jihoon langsung saja membanting semua tas belanjaan itu tepat di depan Hoshi membuat beberapa pasang mata memperhatikan mereka.

"Aku kembalikan semua pakaian milikmu." ucap Jihoon dingin.

Hoshi mengernyitkan dahinya. "Ini bukan pakaianku."

"Tapi kau membeli semua ini dengan uangmu jadi ini adalah milikmu."

"Aku kan membelikannya untukmu."

"Kau hanya cukup mengganti satu saja. Aku sudah ambil pakaian yang paling aku suka jadi sisanya aku tak perlu."

"Bukankah semua pakaian ini adalah seleramu ? Jadi ambil saja semua jika kau suka."

"Aku tidak bilang suka dengan semua pakaian ini, bukankah kau yang asal mengambilnya tanpa bertanya padaku ?" Hoshi tersenyum mendengar ucapan Jihoon barusan. "Dan siapa kau sok tahu dengan seleraku segala. Pokoknya aku kembalikan semua ini. Terima Kasih dan selamat tinggal."

Jihoon langsung berbalik dan melangkah pergi sampai sebuah suara menginterupsinya dan membuatnya berbalik cepat.

"Jihoon-ssi~ ayo kita nonton bersama." ajakan Hoshi itu membuat Jihoon mengernyit bingung. Melihat ekspresi bingung dari wajah namja mungil itu, Hoshi pun melanjutkan ucapannya. "Aku sadar aku yang salah. Jadi anggap saja ini sebagai permintaan maafku."

Jihoon hanya diam, tak berniat untuk menjawab ajakan itu. Entah kenapa tubuhnya terasa kaku, tangannya mengepal menahan sesuatu.

'Kenapa harus ke bioskop ?'

.

.

.

.

'Kenapa harus ke bioskop ?'

Pertanyaan yang sama terus menerus terulang di dalam benak Jihoon. Ini semua hanya ketidaksengajaan atau memang sebuah takdir ? Jihoon merasa keadaannya kini seperti deja vu.

Jihoon kini duduk tepat di samping Hoshi, di ruangan gelap ini, menonton film favoritnya sambil memakan pop corn. Keadaan yang sama persis seperti satu tahun yang lalu. Jihoon melirik kearah samping kirinya. Tepat di sebelahnya kini ada seorang namja yang menemaninya.

Namja yang setiap Jihoon menatapnya selalu membuatnya teringat pada Soonyoung. Dulu Soonyoung juga selalu duduk di sampingnya seperti ini, dan tempat mereka duduk sekarang adalah tempat favorit Soonyoung.

Dulu hampir setiap weekend mereka habiskan untuk menonton film bersama. Kencan yang sangat membosankan bagi Jihoon saat dirinya belum mengetahui segalanya. Namun kini kencan yang sangat membosanku itu menjadi kencan yang paling ia rindukan.

Tak perlu pergi ke tempat yang romantis ataupun melakukan hal-hal romantis layaknya pasangan lainnya, tapi duduk berdampingan dan menikmati pop corn bersama seperti inilah yang paling Indah bagi Jihoon.

Jihoon tak tahu bahwa ia akan sangat merindukan saat-saat seperti ini. Sejak Soonyoung pergi meninggalkannya, Jihoon selalu datang ketempat ini sendirian. Hampir setiap hari waktu Jihoon habiskan di dalam ruangan gelap ini. Ia hanya berharap dapat bertemu Soonyoung kembali di tempat ini. Namun semuanya sia-sia saja. Karena Soonyoungnya tak akan pernah kembali lagi.

"Kau tidak mau pulang ?" suara Hoshi itu menyadarkan Jihoon dari lamunannya. "Film nya sudah selesai, apa kau tak mau pulang ?"

Jihoon langsung bangkit dari duduknya. "Film nya terlalu bagus, aku sampai tak sadar kalau sudah selesai." ucap Jihoon sambil berjalan pergi tanpa menghiraukan Hoshi.

Hoshi pun berlari kecil untuk mengejarnya. "Mau kuantar pulang ?"

Jihoon menggeleng dengan kaki yang masih terus melangkah. "Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri."

"Kau tak perlu merasa sungkan padaku. Ini sudah malam jadi akan kuantar kau pulang."

Jihoon menghentikan langkahnya lalu menatap Hoshi yang ikut berhenti. "Aku bilang tidak perlu. Aku tak mau menerima ucapan maaf darimu lagi."

Jihoon kembali berjalan meninggalkan Hoshi yang menghela napas beratnya. Bukan Hoshi namanya jika ia menyerah begitu saja. Namja mungil itu membuat dirinya menjadi bersemangat sekarang.

"Kalau begitu aku kan mengantarmu sampai halte bis." teriak Soonyoung yang tak mendapat penolakan maupun kata setuju dari Jihoon membuatnya tersenyum setelah berhasil menyamai langkah Jihoon lagi.

"Kuanggap diammu itu sebagai kata setuju."

.

.

.

.

Hoshi terus saja tersenyum sejak keluar dari bioskop tadi. Ia benar-benar menemani Jihoon menunggu bis nya sampai datang dan itu butuh waktu yang cukup lama ternyata. Jihoon yang merasa tak enak pada Hoshi sudah berulang kali menyuruhnya untuk pulang saja. Tapi Hoshi menolaknya dan bersikeras menemaninya hingga bis datang kecuali Jihoon mau ia antar pulang.

Akhirnya dengan sedikit berat hati Jihoon pun mengiyakan ajakan Hoshi untuk pulang bersama. Entah kenapa saat mendengar hal itu Hoshi ingin sekali berteriak senang, namun ia masih tau tempat dan keadaan jadi ia hanya tersenyum dan segera mengambil mobilnya dan mengantarkan Jihoon sampai ke apartementnya.

Setelah memastikan Jihoon masuk ke dalam apartementnya, Hoshi pun segera melajukan mobilnya ke persimpangan tak jauh dari gedung apartement Jihoon, berbelok ke gedung apartement lain yang ada diseberang gedung apartement Jihoon lalu memarkirkan mobilnya disana.

Masih dengan senyum merekah di bibirnya, Hoshi keluar dari mobilnya dan berjalan menaiki tangga gedung apartement itu hingga ke lantai 4, berbelok sedikit dari tangga dan sampailah ia di apartement miliknya. Tempat dimana Hoshi tinggal selama ini.

Setelah menekan beberapa nomor password, pintu bercat putih itupun terbuka. Hoshi meraih kenop pintu itu dan berniat masuk namun tiba-tiba saja ia berhenti dan berbalik, menatap sebuah pintu yang sama dengan miliknya di gedung seberangnya itu.

Sebuah senyum kembali terukir di bibir Hoshi sampai ia masuk kedalam apartementnya. Hoshi berencana mengambil segelas air putih di dapur, namun langkah tiba-tiba saja terhenti.

Sedikit demi sedikit ia menolehkan tubuhnya ke arah samping kanannya. Tubuhnya tersentak kebelakang dan matanya terbelalak lebar menatap seseorang yang kini tengah berdiri di hadapannya itu.

"Hyung ?!"

.

.

.

.

Hoshi keluar dari kamar mandinya dengan rambut basahnya. Ia baru saja membersihkan diri dan kini duduk di sofa ruang tamunya. Tangannya meraih sebuah buku yang tergeletak di meja di depannya. Disandarkannya punggungnya ke sandaran sofa, diangkatnya kedua kakinya keatas meja, mencoba merilekskan tubuhnya yang terasa sangat lelah itu.

Di tatapnya sebuah buku yang ia ambil tadi, melihat sampul sebuah novel yang baru saja ia beli di toko buku dekat apartementnya itu. Sebuah senyum tipis terukir di bibir Hoshi. "Kenapa dia membuat sampul yang begitu kekanakan seperti ini. Cotton Candy ? Jika ini menceritakan kisah Cinta mereka seharusnya ia memajang foto kekasihnya itu."

Dibukanya lembar demi lembar novel itu. Matanya membaca dengan begitu seksama setiap kata yang tertulis di novel itu. Dan malam itu berlalu begitu cepat. Hoshi menghabiskan malam itu hanya untuk membaca habis novel buatan Jihoon.

Ditutupnya novel itu begitu ia telah selesai pada halaman terakhirnya dan kata 'END' mengakhiri cerita itu. "Benar kata orang-orang, ceritanya sangat gantung."

Dilemparnya novel itu sembarangan ke sofa kosong di sebelahnya. Hoshi menutup matanya. Matanya terasa sangat berat dan capek karena semalaman tak tidur. Tapi beberapa menit kemudian kelopak mata itu kembali terbuka. Hoshi beranjak masuk kedalam kamarnya kemudian kembali keluar dengan membawa sebuah laptop.

Dinyalakannya laptop itu. Jemarinya langsung menari lincah diatas keyboard untuk mencari sesuatu. Hoshi sibuk mencari sebuah video di aplikasi pencarian video online. Tak butuh waktu lama untuk menemukan video itu. Begitu ia menemukan apa yang ia cari, Hoshi langsung membuka video itu dan menekan tombol play.

Begitu video itu mulai, muncullah wajah seorang yeoja yang memperkenalkan dirinya sebagai MC dan sosok mungil yang duduk di sebelahnya, Lee Jihoon. Hoshi terus menonton video itu sampai habis. Video wawancara Jihoon beberapa Bulan yang lalu.

Dan ada satu scene yang terus Hoshi ulangi berulang kali. Scene saat Jihoon menyatakan perasaannya pada seseorang yang telah jauh dari Jihoon saat ini. Entah kenapa kalimat itu membuat Hoshi termenung. Tangannya tanpa sadar menekan tombol rewind berulang kali. Hanya untuk kalimat itu.

"Aku tahu ini sudah sangat telat. Aku bahkan tak yakin apakah kau akan mendengarnya. Mianhae Soonyoung-ah~ karena aku telat menyadari bahwa kau sangat berarti bagiku. Soonyoung-ah... " Jihoon menjeda sejenak untuk menyiapkan sebuah kata yang selama ini ia pendam.

"Soonyoung-ah... Saranghae~"

.

.

.

.

Akhir pekan akhirnya tiba juga. Jihoon berencana untuk tidur seharian hari ini. Di hari Minggu yang mulai dingin ini memang sangat cocok untuk bermalas-malasan. Jihoon pun merapatkan selimutnya dan semakin meringkuk di bawah sana. Tidurnya benar-benar sangat nyenyak sampai sebuah dering ponselnya mengganggu kesunyian di kamar itu.

Dengan sangat malas Jihoon mengeluarkan tangan mungilnya dari balik selimut tebalnya untuk meraba meja nakas di samping kasurnya, mencari ponsel yang sedari tadi berdering tak berhenti meski sudah tak dihiraukan Jihoon. Dengan malas Jihoon membuka sedikit matanya hanya untuk melihat siapa orang sialan yang berani mengganggu pagi tentramnya itu.

Jihoon mengernyit melihat nomor tanpa nama tertera di layar ponselnya. Jihoon sama sekali tak mengenal nomor itu tapi kenapa nomor itu terus menghubungi Jihoon tanpa henti sedari tadi ? Jihoon pikir mungkin ada hal yang penting jadi diangkatnya panggilan itu.

"Yeoboseyo~"

"Jihoon-ah~ kau sudah bangun ?" Jihoon langsung menjauhkan ponselnya dari telinganya dan mengerutkan keningnya menatap layar ponselnya. Suara yang sok akrab tapi Jihoon merasa tak asing dengan suara itu.

"Nuguseyo ?" ucap Jihoon masih dengan nada malasnya.

"Yakh~ apa kau tak mengenali suaraku ? Padahal semalam saja kita baru saja bersama. Kita menonton film bersama bahkan aku mengantarmu pulang."

Mata mengantuk Jihoon langsung terbelalak lebar. "Hoshi ?"

"Ah~ kau ingat padaku rupanya. Kkk~ aku sangat senang."

"Bagaimana... Bagaimana bisa kau tau nomorku ?"

Dan Soonyoung langsung tersenyum penuh arti di seberang sana. "Aku dapat dari kartu memberimu di cafeku. Aku tak menyangka kau jadi member di cafe ku juga."

Jihoon mengumpat dalam hati. "Itu karena aku ingin diskon." dan Jihoon semakin mengumpat begitu mendengar kekehan Hoshi di seberang sana. "Lagi pula untuk apa kau menelponku pagi-pagi begini eoh ?"

"Hanya ingin mengetes nomormu saja. Ternyata bukan nomor palsu."

"Nde ?" Jihoon sangat tak percaya kalau acara tidurnya terganggu hanya karena alasan konyol seperti itu. "Ada alasan lain ?"

"Ani~"

"Kalau begitu aku tutup telponnya."

"Ayo jalan-jalan ke Lotte World." Jihoon langsung menghentikan gerakannya begitu mendengar ucapan cepat Hoshi itu. Di tempelkan kembali ponselnya di daun telinganya.

"Kau bilang apa barusan ?"

"Ayo... Kita jalan bersama."

.

.

.

.

Sepanjang perjalanan Jihoon sama sekali tak bersuara. Telinganya bahkan sudah terlalu panas mendengar ocehan yang sedari tadi keluar dari mulut namja yang baru saja memaksanya menemaninya jalan-jalan itu. Jihoon awalnya menolak ajakan Hoshi itu namun entah bagaimana Jihoon bisa mengenal namja gila sepertinya yang terus menekan bel pintu apartementnya sampai berpuluh-puluh menit itu.

Jika bukan karena para tetangganya yang protes karena berisik, Jihoon tak mungkin mau membuka pintunya sampai sekarang. Begitu masuk ke apartementnya, Hoshi bahkan mengancam tak akan pulang sampai Jihoon mau menemaninya jalan-jalan ke Lotte World hari ini.

Jihoon yang hampir gila dengan sikap tiba-tiba Hoshi yang berubah aneh ini pun akhirnya mengiyakan ajakan Hoshi itu. Daripada sampai besok ia harus melihat wajah menyebalkannya itu, lebih baik ia menuruti keinginannya dan semua ini akan segera berakhir. Setidaknya itulah yang Jihoon harapkan.

"Jihoon-ah~ apa kau berita yang sedang heboh akhir-akhir ini ? Aku benar-benar kudet karena lama tak melihat televisi."

"Siapa group idol yang sedang tenar sekarang ? Aku dengar ada sebuah group rookie bernama SVT yang menarik perhatian publik ?"

"Dan kudengar sekarang banyak idol yang berpacaran juga ? Woah~ ddaebak~ pasti banyak netizen yang mencibir mereka."

"Ah~ aku jadi kangen menjadi seorang haters. Kau tahu aku dulu ikut klub penggemar dan klub haters secara bersamaan, bukankah itu lucu ?"

"Aku bahkan ingat kalau aku hampir masuk penjara karena komentar pedasku pada Kim-"

"Bisakah kau diam ? Kenapa hari ini kau begitu berisik ? Siapa kau sebenarnya ?" Hoshi mengeratkan genggamannya pada setir di hadapannya dan tersenyum.

"Menurutmu... Aku siapa ?"

Jihoon menghela napasnya kasar, sepertinya namja di sampingnya ini sedang tak waras. "Apa tadi pagi kau terjatuh di tangga ? Atau terpeleset ? Apa kepalamu itu terbentur sesuatu ? Kau terlihat begitu aneh hari ini."

"Aneh apanya ?"

"Tiba-tiba mengajakku jalan ke Lotte World."

"Aku hanya ingin merayakan pertemuan kita saja." Jihoon menoleh hendak protes namun baru ia mau membuka mulutnya, Hoshi malah kembali bersuara. "Kita sudah sampai."

Dan Jihoon mengurungkan niat protesnya dan memilih kembali mengatupkan mulutnya.

Begitu Hoshi memarkirkan mobilnya, Hoshi langsung keluar, memutari bagian belakang mobilnya lalu membukakan pintu Jihoon. Jihoon hanya menatapnya heran kemudian keluar dari mobil itu.

"Sejak kapan kita berteman eoh ?!" setelah Jihoon mengatakan itu tepat di depan wajah Hoshi, ia lalu berjalan meninggalkan Hoshi yang tersenyum simpul lalu berlari kecil untuk mengejar Jihoon yang kini sudah hampir sampai di pintu masuk Lotte World.

"Jihoon-ah~ kau mau naik apa dulu ?" tanya Hoshi begitu mereka masuk kedalam area Taman bermain itu.

Mendengar panggilan Hoshi membuat Jihoon mengernyit sekilas hendak protes karena Hoshi memanggilnya tak formal begitu, namun ia urungkan dan lebih memilih lebih memilih memikirkan pertanyaan Hoshi barusan. Tubuhnya berputar melihat berbagai macam wahana disana. Dan bibir kecil Jihoon menyunggingkan senyum saat ia menemukan apa yang ia cari.

"Itu... Aku mau naik bianglala itu."

"Baiklah~ kalau begitu mari kita naik kira-kira dulu."

"Mwo ?" Jihoon hendak protes saat tangannya ditarik Hoshi agar mengikutinya. "Yakh~ kau menyuruhku memilih kenapa aku sekarang harus menuruti keinginanmu ha ?!" protes Jihoon begitu mereka sampai di antrian untuk membeli karcis.

Hoshi hanya tersenyum. "Nanti kita akan main itu setelah kita lakukan beberapa pemanasan."

"Mwo ?"

Dan kini wajah Jihoon mulai merengut. Bibirnya terus mencibir namja yang berjalan di depannya itu. "Pemanasan apa yang sampai malam begini." meski pelan namun Hoshi masih bisa mendengar nada protes bercampur kesal itu.

Hoshi hanya tersenyum dalam diam. Dia tak mau menyela, atau Jihoon akan mengamuk dan berjalan pulang sekarang juga. Hoshi cukup sadar kalau sikapnya sejak siang itu membuat namja mungil itu kesal.

Bagaimana tidak kesal jika Jihoon hanya dipaksa naik segala macam wahana yang diinginkan Hoshi saja. Sudah berulang kali juga Hoshi menyuruh Jihoon memilih wahana yang ingin dia naiki, dan sudah berulang kali pula Jihoon memberikan jawaban yang sama. Namun pertanyaan itu bagaikan angin sepoi yang bertiup. Untuk apa bertanya jika akhirnya tangan mungil Jihoon akan berakhir paksa di genggaman Hoshi yang memaksanya ikut naik ke wahana lainnya.

"Apa dia sedang mempermainkanku ?" terbesit sebuah pertanyaan itu di benak Jihoon, begitu ingin ia suarakan pada Hoshi namun ia urungkan.

Jihoon melangkah lemas, sudah berjam-jam mereka berjalan tanpa istirahat. Saking lelahnya, Jihoon bahkan tak menyadari bahwa Hoshi telah berhenti berjalan tepat di depannya, membuat kepala Jihoon sukses menyundul punggung Hoshi.

Jihoon yang kaget langsung mundur beberapa langkah dan Hoshi berbalik. "Astaga... Aku lapar, ayo kita cari makan dulu."

Jihoon hanya menatap malas punggung Hoshi yang berjalan semakin jauh itu. Jihoon bahkan sampai detik ini tak tahu kenapa ia bisa terdampar di tempat ini dan menuruti segala keinginan bodoh namja menyebalkan itu.

Tanpa pikir panjang, Jihoon pun mengikuti langkah Hoshi, tak ada gunanya juga jika ia pulang sekarang, susah mendapatkan bis di jam segini, lagipula perutnya juga lapar, lumayan menghemat uang karena ia akan di traktir. Setidaknya itulah pemikiran Jihoon sebelum sampai di kedai mie di dekat wahana itu.

"Kita bayar sendiri-sendiri." ucap Hoshi saat mie ramen pesanan mereka datang.

Jihoon langsung drop. Bagaimana ada namja yang sama sekali tak modalan sepertinya ini. Sekarang Jihoon jadi meragukan jika namja di depannya ini adalah seorang pemilik cafe.

Di tengah-tengah kegiatannya menikmati mie ramennya, Hoshi sempat mencuri pandang kearah Jihoon. Ia tersenyum di sela-sela makannya melihat bagaimana rakusnya Jihoon melahap mie ramen miliknya itu.

"Apa sebegitu laparnya kau Jihoon-ah~"

Jihoon langsung membanting sumpitnya keatas meja begitu mendengar Hoshi berbicara tak formal lagi padanya. "Yakh~ bukankah kita tak begitu dekat ? Kenapa dari tadi kau selalu memanggilku 'Jihoon-ah~ Jihoon-ah~'. Kita bahkan bukan teman jadi jangan sok akrab denganku." ucap Jihoon lalu kembali melahap mie ramennya yang telah ludes dan hanya tersisa kuahnya saja itu.

Mendengar protesan itu membuat Hoshi tersenyum tipis. Ia sedikit menunduk untuk melihat wajah Jihoon yang kini tengah mengerucut karena mie ramen kesukaannya itu telah habis. "Apa kau masih lapar ?"

Jihoon mengangguk pelan, masih dengan bibir mengerucut dan tangannya yang sedari tadi tak bisa diam mengaduk-aduk kuahnya.

"Kalau begitu pesan saja lagi."

Jihoon menggeleng pelan. "Aku mau tambah tapi aku tak mau keluar uang double."

"Ck~ anak ini benar-benar !" dengus Hoshi hendak memukulkan sumpitnya ke kepala Jihoon namun ia urungkan. "Kalau begitu makan saja punyaku. Aku tak terlalu suka makan ramen."

Tawaran Hoshi barusan membuat mata Jihoon bersinar. "Kau tidak akan minta ganti rugi kan ?"

Dan gelengan kepala dari Hoshi langsung membuat senyuman mengembang di wajah Jihoon. Segera saja tangan-tangan mungilnya menarik mangkuk ramen milik Hoshi dan menghabiskannya dengan lahap.

"Kalau kau tidak suka ramen kenapa kau mengajakku makan disini ?" ucap Jihoon di tengah-tengah kunyahannya.

"Karena kau sangat suka makan ramen."

Mendengar jawaban Hoshi itu membuat Jihoon diam dan mengerjapkan matanya. Hoshi yang ditatap begitu oleh Jihoon hanya tersenyum. Tanpa disangka Hoshi mengulurkan tangannya kearah wajah Jihoon, lebih tepatnya kearah bibir Jihoon. Lalu menyapukan jempolnya di permukaan bibir Jihoon membuat sang empunya bibir langsung mengatupkan bibirnya kedalam.

"Ada saus di bibirmu." ucap Hoshi yang sadar akan tatapan terkejut Jihoon itu.

Jihoon yang merasa detak jantungnya tiba-tiba tak karuan itu langsung menunduk, mencoba mengalihkan pandangannya dari Hoshi. Bahkan Jihoon kini bisa merasakan kedua pipinya terasa panas.

Hoshi yang melihat sikap gugup Jihoon itu kembali tersenyum. Ditopangnya kepalanya dengan tangan kananya masih Setia memandangi sikap salah tingkah namja mungil di depannya itu.

"Apa kau tak ingat tempat ini ? Kita bahkan pernah duduk bersandingan di meja ini." ucap Hoshi kelewat pelan namun masih bisa didengar Jihoon meski sangat samar.

"Kau bilang apa barusan ?"

Hoshi menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Aniya~ aku hanya menguap tadi. Apa kau sudah selesai ? Kalau sudah selesai ayo kita lanjutkan acara jalan-jalan kita. Aku akan bayar makanannya dan kau tunggulah didepan pintu masuk bianglala."

"Yakh~ ramennya bahkan belum habis !" teriak Jihoon pada Hoshi yang telah berdiri didepan petugas kasir. "Ah~ masa bodoh !" pekik Jihoon lalu kembali menyumpit mie nya dan memakannya dengan sangat cepat.

"Kita tidak punya banyak waktu lagi." ucap Hoshi sambil menarik tangan Jihoon begitu saja, membuat Jihoon yang masih sedang meminum kuah ramennya itu sedikit tersedak.

"Yakh~ aku bilang aku belum selesai makan !"

Hoshi sama sekali tak mendengarkan protesan Jihoon. Ia terus menarik lengan Jihoon menuju wahana bianglala yang tak jauh dari kedai itu. Begitu sampai di depan loket, Jihoon kembali protes.

"Yakh~ jika tahu kau yang kan bayar semua, aku tak akan sungkan untuk memesan lagi tadi." gerutu Jihoon.

"Kajja~ kita harus naik wahana yang paling kau sukai ini sebelum waktunya habis." ucap Hoshi lalu meraih tangan kanan Jihoon dan menggenggam tangan mungil itu.

Jihoon hanya merengut dan mengikuti ajakan Hoshi. Mereka bergandengan tangan sampai masuk kesalah satu bilik bianglala. Bianglala itu pun bergerak, berputar beberapa kali lalu berhenti saat bilik yang mereka tumpangi tepat berada di posisi paling atas.

"Woah~ lihatlah itu ! Indah sekali. Seoul memang benar-benar sangat Indah~" pekik Jihoon dengan mata berbinar melihat pemandangan dari atas bianglala.

Hoshi yang duduk di depannya kembali tersenyum. "Apa kau suka ?"

Jihoon menganggukkan kepalanya. "Nde~! Kenapa tidak dari tadi kita naik ini." kembali sebuah protes keluar dari bibir Jihoon.

"Bukankah pemandangan saat malam begini terlihat lebih Indah ? Semakin malam akan terlihat semakin Indah."

"Benar juga~" balas Jihoon dengan wajah yang masih Setia menoleh kearah kiri, menikmati pemandangan indah dibawah sana.

"Apa kau senang ?"

"Nde~ gomawo~"

.

.

.

.

Setelah puas menaiki bianglala, mereka pun memutuskan untuk pulang. Mereka berjalan bersandingan menuju tempat parkir. Taman hiburan itu sudah terlihat sangat sepi karena waktu pun sudah menunjukkan hampir tengah malam.

Saat melewati sebuah taman di dekat pintu keluar, Hoshi melihat seorang penjual permen kapas tak jauh dari tempat mereka berjalan kini. Hoshi pun tersenyum.

"Tunggu disini sebentar ya, aku mau membelikanmu sesuatu."

Belum sempat Jihoon bertanya, Hoshi sudah berlari meninggalkannya. Jihoon menatap Hoshi dari kejauhan. "Apa yang dia lakukan disana ?"

Merasa bosan menunggu, Jihoon pun menunduk, mencari apa saja yang bisa ia tendangi untuk mengurangi rasa bosannya itu. Namun tak lama kemudian Hoshi kembali, berlari ringan lalu menyodorkan sebuah permen kapas kearah Jihoon, membuat Jihoon perlahan mengangkat kepalanya dan menatap Hoshi.

"Ini untukmu."

Jihoon sama sekali tak bergerak untuk menerima permen kapas itu. Ia malah menatap Hoshi begitu intens. "Kenapa kau memberi ini ?"

Hoshi langsung tersenyum. "Karena kau terlihat sangat manis seperti permen kapas ini."

"Ish~" dengan kasar di rebutnya permen kapas itu dari tangan Hoshi. "Aku tak manis dan jangan menyebutku manis !"

"Baiklah imut~"

"Yakh~! Apa kau mau mati ditanganku malam ini ha ?!" teriak Jihoon lalu berjalan mendahului Hoshi sembari memakan permen kapas itu.

"Ish~ siapa juga yang mau mati dua kali." cibir Hoshi sangat pelan lalu berlari kecil mengejar langkah Jihoon.

"Waktu benar-benar tak terasa ya~ cepat sekali berlalu. Padahal aku tak ingin hari ini cepat berakhir." ucap Hoshi begitu ia telah berhasil menyamai langkah Jihoon.

"Wae ?" tanya Jihoon tanpa menoleh, ia masih menikmati permen kapasnya.

"Karena kau."

Mendengar jawaban Hoshi itu membuat Jihoon menghentikan langkahnya lalu menoleh menatap Hoshi. "Wae ?"

"Karena setelah hari ini berakhir aku tak akan bisa bertemu denganmu lagi."

"Wae ?" pertanyaan yang sama terus menerus keluar dari bibir Jihoon. Ia sungguh tak mengerti.

"Bukankah kau tadi bilang bahwa hari ini kau merasa senang ? Aku juga sama... Aku juga merasa sangat senang karena sudah bisa menepati janjiku padamu."

Jihoon mengerutkan dahinya. Ia sungguh dibuat semakin bingung sekarang. Kapan Hoshi pernah membuat janji padanya ?

"Aku sudah menepati janjiku untuk membawamu kemari, jadi aku sekarang bisa pergi dengan tenang. Ah~ betapa leganya perasaanku yang mengganjal selama ini." ucap Hoshi sambil kembali berjalan pelan, meninggalkan Jihoon yang masih berdiri diam terpaku di tempatnya.

"Ah~ aku juga lupa berterima kasih padamu." Hoshi berbalik dan tersenyum menatap Jihoon yang mematung disana. "Gomawo~ gomawo karena kau juga telah menepati janjimu untuk membawa permen kapas itu di hari ulang tahunku, meski aku tak bisa bangun dan memakannya bersamamu."

"Kau..."

"Aku senang karena kau tak terlalu terpuruk saat aku pergi."

"Soon... Soonyoung ?"

Hoshi tersenyum begitu mendengar nama itu disebut.

"Aku selalu ingin mengatakan ini padamu. Maaf... Karena aku tiba-tiba muncul dalam kehidupanmu dulu. Dan maaf... Karena aku harus pergi seperti ini meninggalkanmu selamanya."

Setetes air mata berhasil jatuh dari pelupuk mata Jihoon. Di jatuhkannya permen kapas yang sedari tadi ia genggam erat itu lalu berlari, menghampur kedalam dekapan hangat Soonyoung.

"Hiks~ Soonyoung-ah~ kenapa kau tak bilang jika ini adalah kau. Hiks~ aku merindukanmu... Sangat merindukanmu bodoh !"

Mendengar perkataan yang bercampur umpatan dari Jihoon itu membuat Soonyoung tersenyum tipis dan mengeratkan pelukannya. Merasakan hal itu, Jihoon pun balas mengeratkan lengannya, membawa tubuh mungilnya semakin tenggelam dalam pelukan namja yang sudah setahun tak ia temui itu.

Dirasanya cukup, perlahan Soonyoung melepaskan pelukannya. Tangannya terulur menghapus air mata yang telah tumpah membasahi seluruh wajah Jihoon. Diusapnya lembut kedua pipi Jihoon, membuat namja mungil itu menutup matanya, menikmati sentuhan yang telah lama tak ia rasakan.

Jihoon meraih tangan Soonyoung yang masih Setia mengelus pipinya. Digenggamnya tangan itu lalu perlahan Jihoon membuka kedua kelopak matanya. Mata sembabnya menatap Soonyoung yang kini begitu dekat dengannya.

"Kenapa kau begitu jahat padaku ?!"

"Mianhae~"

"Kenapa kau meninggalkanku ?"

"Mianhae~"

"Kenapa kita tak bisa bersama seperti dulu ?"

"Mianhae~"

"Kenapa kau selalu mengatakan mianhae !? Apa kau tak punya kata lain untuk menjawab pertanyaanku ?!"

Habis sudah kesabaran Jihoon. Namja mungil itu tak bisa lagi menahan emosi dan luapan perasaannya. Sedangkan namja yang ia teriaki sedari tadi itu hanya menatapnya tanpa berniat menjawab satu pertanyaan pun.

"Apa-hiks~ kau sungguh-hiks~ tak ada-hiks~ yang mau kau katakan padaku ? Setidaknya bicara-"

"Saranghae~"

Dan pernyataan Cinta Soonyoung itu mengakhiri semuanya. Ditariknya tengkuk Jihoon hingga kedua bibir mereka bertemu. Jihoon bungkam dan Jihoon harus menikmati ciuman yang telah lama tak ia rasakan ini. Jihoon bahkan tak tahu kapan ia akan bisa merasakan bibir manis milik Soonyoung ini. Jihoon bahkan tak yakin apakah ia masih bisa menikmati bibir yang setiap hari menjadi candunya ini.

Namun kini semua itu terjawab. Malam ini Jihoon kembali merasakannya. Rasa manis yang sangat ia rindukan. Kecupan manis itu. Lumayan basah itu. Gigitan lembut itu. Benar-benar ciuman yang sangat Jihoon rindukan. Bahkan Jihoon kini dapat merasakan rasa asin dari air mata yang mengalir hingga ke sudut bibir Soonyoung. Soonyoung menangis.

Hal itu membuat Jihoon semakin memperdalam ciumannya. Jihoon tak bisa melepasnya. Jihoon tak akan pernah melepaskan Soonyoung. Jihoon tak akan membiarkan Soonyoungnya pergi lagi.

Itu keinginan Jihoon. Itu harapan Jihoon.

Namun tak lama setelah lidah mereka bertemu, tiba-tiba saja tubuh Soonyoung nampak berubah menjadi asap dan keluar dari tubuh Hoshi.

Hoshi yang mulai sadar perlahan membuka matanya. Betapa terkejutnya ia saat menemukan wajah Jihoon tepat berada di hadapannya tanpa jarak. Hoshi membelalak lebar. Dengan refleks, Hoshi mendorong tubuh Jihoon menjauh hingga tersungkur ke tanah, membuat kontak bibir diantara mereka berdua terlepas.

Jihoon yang ikut terkejut akan dorongan tiba-tiba pada tubuhnya pun limbung dan terjatuh ketanah begitu saja.

"Apa yang kau lakukan ?"

Hoshi bertanya masih dengan wajah terkejutnya. Diusapnya salah satu pipinya yang terasa basah. Hoshi mengerutkan keningnya.

'Aku menangis ? Kenapa aku menangis ?' tanyanya dalam hati.

Namun sedetik kemudian ia menyadari sesuatu. Dibalikkannya tubuhnya perlahan kebelakang, menatap sosok yang kini telah berdiri tak jauh dari mereka. Sosok itu menatap Hoshi dan Jihoon yang masih terduduk di tanah secara bergantian. Mata sayu yang menyiratkan kesedihan. Namun senyuman manis langsung muncul di bibirnya kala maniknya bertemu dengan manik Hoshi.

"Soon...young...hyung...?"

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

AAAHHHHHH~ Banyak yang bilang cerita kemarin gantung jadi muncullah cerita baru ini xD

Aku tak tahu kenapa FF yang awalnya Cuma mau Oneshot sekarang malah jadi ber-chapter gini~

.

Sudahlah~ sudah terlanjur tak apa ya~ xD

Semoga nie FF nggak jadi aneh xD

.

Tenang aja nggak bakal panjang-panjang kok~ paling chapter depan udah END beneran xD

Cerita sebelumnya juga responnya cukup bagus jadi aku putuskan untuk bikin lanjutan nie FF xD

.

Gomawo buat yang udah meluangkan waktu membaca FF yang cukup panjang ini xD

Gomawo juga untuk review-reviewnya~

.

Yang mau cepet lanjut… RnR pleeeaasseeee~ xD

.

.

.

.

MiNi_DdangKie