"Sweet Cotton Candy"

.

.

.

.

Cast : Seventeen Member

Main Pairing : SoonHoon

Genre : Romance, Fantasi, Angst

Summary : Sepeninggalan Soonyoung, Jihoon merasa hidupnya berubah. Sepi, sunyi, membosankan, terasa ada yang hilang. Sampai suatu saat Jihoon bertemu lagi dengannya. Namja yang kembali membuat hidupnya berwarna.

Warning : Typo bertebaran dimana - mana

.

.

.

.

Jihoon menggeliat dalam tidurnya. Matanya terbuka perlahan. Dan sebuah erangan langsung keluar dari bibir mungilnya saat merasakan kepalanya yang terasa sangat pening. Perlahan Jihoon bangkit dari posisi tidurnya, duduk sejenak mencoba menghilangkan rasa pusingnya. Saat dirasanya sudah lebih baik, Jihoon pun menyibakkan selimutnya, memakai sandal rumahnya lalu keluar dari kamarnya.

Jihoon terpaku sejenak melihat keadaan ruang tengah apartementnya yang berantakan. Masih dengan tangan yang memegang gagang pintu kamarnya, Jihoon menghela napas. Begitu banyak botol soju, kaleng bir, bahkan gelas berisi wine tumpah begitu saja membasahi karpetnya.

Jihoon memejamkan matanya dan kembali menghela napasnya. Ia tak tahu apa yang terjadi padanya beberapa hari ini. Hidupnya terasa jadi kacau sejak malam itu. Malam dimana ia kembali bertemu Soonyoung.

Jihoon lebih mirip zombi beberapa hari ini. Tak hidup juga tak mati. Dan itu hanya karena Kwon Soonyoung, namja yang seenaknya datang dalam kehidupannya dan pergi dengan seenaknya pula.

Jihoon bahkan masih tak percaya dengan apa yang terjadi padanya selama ini. Bertemu arwah, jatuh cinta padanya, sedih karenanya, dan hancur demi dia.

Jihoon berjalan menuju dapurnya, mengambil sebuah kantong plastik besar lalu berjalan kembali ke ruang tengahnya, memunguti semua botol-botol dan kaleng-kaleng kosong yang telah menemaninya semalam dan memasukkan semuanya kedalam kantong plastik itu.

Jihoon membuka pintu apartementnya, keluar untuk membuang sampahnya yang telah menumpuk beberapa hari ini. Sejak malam itu, Jihoon mengurung dirinya sendirian di dalam apartementnya. Tak berangkat ke kampus, tak menjawab telpon dari atasannya di perusahaan penerbitan, bahkan tak membukakan pintu dan mengabaikan Seokmin yang terus menerus menggedor-gedor pintu apartementnya karena terlalu khawatir.

Hari ini adalah pertama kalinya Jihoon kembali menghirup udara luar. Dan hari ini juga adalah hari pertama namja di seberang sana menampakkan senyumnya.

.

.

.

.

Malam itu Hoshi pulang dengan terhuyung. Kepalanya terasa sangat pening, mungkin itu efek setelah tubuhnya di rasuki oleh seorang arwah. Hoshi baru saja mengantarkan Jihoon pulang dengan kedua mulut mereka yang tertutup rapat, tak ada yang berniat buka suara hanya sekedar membahas kejadian malam ini.

Hoshi memasuki apartementnya dan segera menuju dapurnya, membuka kulkas dan mengambil sebotol air putih, tenggorokannya sungguh terasa sangat kering. Setelah merasa lebih baik, Hoshi berjalan hendak ke kamarnya namun langkah kakinya terhenti saat mata sipitnya menatap keadaan ruang tengahnya itu.

Hoshi menyipitkan matanya menatap banyak sekali buku-buku berserakan disana sini. Hoshi pun melangkah mendekat dan berjongkok mengambil sebuah buku yang tergeletak begitu saja di atas meja. Hoshi menyipitkan matanya begitu melihat buku apa itu.

"Bukankah ini novel karangan Jihoon ?" gumam Hoshi lalu mengambil buku yang lain. Matanya sipitnya bergantian melihat satu persatu buku-buku yang berserakan disana.

"Apa aku-maksudku apa hyung membaca ini semua ?" tanya Hoshi menatap lurus korden di hadapannya. Kini kepalanya berpaling, menatap layar laptopnya yang menyala dalam keadaan tidur itu.

Hoshi merangkak menghampiri laptopnya, tangannya terulur menyalakan laptopnya. Hoshi langsung terdiam begitu layar laptop itu menyala dan menampakkan wajah seseorang yang ia kenal dalam sebuah video yang tengah ter-pause. Jemari Hoshi pun menekan tombol play dan video itu kembali terputar, menunjukkan senyum manis seorang namja mungil yang sangat Hoshi sukai.

Video dimana Jihoon tengah di wawancarai satu tahun yang lalu. Dan Hoshi mengembangkan senyumannya saat Jihoon menyatakan cintanya dalam video itu.

"Hyung pasti terus mengulang bagian ini semalaman."

.

.

.

.

Tirai korden itu terbuka, membuat sinar matahari pagi itu masuk menyinari kamar minimalis namun terkesan mewah dengan banyak action figur tertata rapi di sisi seberang kamarnya itu terasa hangat.

Hoshi berdiri diam di depan jendela kamarnya, matanya menatap lurus kearah jendela di apartement seberangnya itu. Tiga hari telah berlalu namun tirai kamar itu tak juga terbuka.

Setiap hari Hoshi terus memperhatikan apartement itu, tempat Jihoon tinggal. Sejak malam itu Hoshi belum melihat lagi sosok Jihoon, namun Hoshi sangat yakin jika namja mungil itu ada di dalam rumahnya. Karena Hoshi tak pernah melihat pintu kamar Jihoon terbuka, bahkan saat sahabatnya datang berkunjung pun Jihoon sama sekali tak membuka pintunya.

Hoshi khawatir itu sudah pasti. Kekhawatirannya itu membuatnya setiap hari, pagi, siang, malam mengunjungi apartement Jihoon hanya sekedar mengantarkan makanan untuknya. Tapi tampaknya usahanya sia-sia saja.

Hoshi hanya bisa menghela napas beratnya saat ia menyadari bahwa makanan pagi yang ia bawakan masih utuh saat siang harinya dia hendak memberikan makan siang. Dan begitu seterusnya, Jihoon tak mengambil makan pagi, siang, dan malam yang Hoshi berikan meski Hoshi sudah mencoba memencet tombol apartementnya dan juga mengiriminya pesan agar keluar untuk makan.

Tapi Jihoon sama sekali tak pernah keluar...

Dan hari ini adalah pertama kali Jihoon membuka pintu apartementnya dan berjalan keluar. Hoshi yang melihat itu tersenyum senang. Setidaknya ia bisa bernapas lega karena namja mungil itu baik-baik saja dan masih hidup.

.

.

.

.

Jihoon baru saja pulang dari minimarket. Setelah membersihkan apartementnya yang berantakan akibat ulahnya sendiri saat mabuk itu, Jihoon pergi keluar untuk membuang sampah. Namun karena perutnya tiba-tiba saja berbunyi, akhirnya Jihoon pun memutuskan mampir ke minimarket dan membeli beberapa bungkus ramen. Beberapa hari tak makan Jihoon jadi rindu pada rasa ramen kesukaannya itu.

Jihoon mengangkat kantung plastik putih yang ia bawa dan tersenyum manis menatapnya. Namun saat ia hendak berbelok memasuki gedung apartementnya, matanya tak sengaja menatap sesuatu yang membuatnya mengerutkan dahi.

Perlahan Jihoon berbalik dan menatap sebuah mobil yang terparkir di samping gedung apartement di seberang gedungnya. Jihoon semakin menajamkan penglihatannya, Jihoon sungguh merasa tak asing dengan mobil sport berwarna biru laut itu.

Jihoon melangkah dengan pelan menghampiri mobil itu. Ditatapnya plat mobil sport itu dan kedua alisnya kembali bertaut. "Bukankah ini mobil Hoshi ?" gumamnya masih memperhatikan mobil itu dengan intens.

Ia yakin itu mobil Hoshi. Tapi kenapa mobilnya bisa terparkir rapi di tempat parkir khusus penghuni apartement seperti ini ? Jihoon terus bertanya-tanya sampai ia melihat seorang security tengah berjalan tak jauh darinya. Jihoon pun menghampirinya dan bertanya pada security itu.

"Annyeong~ mian mengganggu tapi bolehkah aku bertanya sesuatu ?" ucap Jihoon menyapa dan di tanggapi anggukan serta senyum ramah dari security itu. "Kenapa mobil itu ada disana ? Maksudku, bukankah tempat parkir untuk tamu ada disana." ucap Jihoon sambil menunjuk lahan parkir yang ada di tengah kawasan gedung-gedung apartement itu.

"Oh~ mobil itu bukan milik tamu tapi milik salah satu pemilik apartement disini."

Jihoon mengerutkan dahinya. "Nde ?"

Security itu menunjuk keatas, lebih tepatnya ke sebuah jendela. "Dia tinggal disana, penghuni baru, baru pindah sekitar 4 bulan yang lalu."

Setelah mendengar penjelasan dari security itu, Jihoon pun mengucapkan terima Kasih. Kini ia sibuk mendongak, menatap jendela apartement tang tadi ditunjukkan oleh sang security.

"Jika 4 Bulan yang lalu itu berarti di Bulan peringatan kematian Soonyoung." gumam Jihoon lalu pandangannya kini berjalan keseberang menatap jendela lain di seberangnya. "Dan itu adalah jendela kamarku."

Kini tatapan Jihoon berubah tajam. Jihoon langsung berjalan terburu-buru, menaiki tangga dan begitu sampai di depan pintu tujuannya, Jihoon segera menggebrak pintu itu tanpa ampun membuat sang pemilik pintu membukakan pintunya dengan kesal juga.

"Yakh~ dasar gila ! Disitu kan ada bel kenapa kau menggedornya dengan begitu keras. Kau pikir aku ini tuli ap-" dan gerutuan Hoshi terhenti begitu saja saat ia membuka pintunya dan menampakkan sosok Jihoon yang tengah menatap tajam kearahnya. "Jihoon ?"

Jihoon hanya menyunggingkan senyum sinisnya lalu melemparkan kantung plastik berisi ramen-ramennya itu ke wajah Hoshi.

"Dasar sialan." cibir Jihoon lalu melangkah pergi meninggalkan Hoshi yang masih terdiam terpaku. Setelah sadar dari keterkejutannya, Hoshi langsung mengejar Jihoon. Dilihatnya Jihoon sudah berlari pergi. Hoshi cukup terkejut karena Jihoon tak kembali ke apartementnya sendiri tapi malah berlari keluar kawasan gedung apartement itu.

Hoshi melihat ke langit gelap di atasnya, beberapa tetesan air hujan mulai turun, Hoshi pun semakin cepat mengejar Jihoon sebelum hujan deras mulai turun. Begitu menemukan sosok Jihoon berjalan lunglai di tengah hujan yang mulai deras, Hoshi langsung berlari menghampirinya dan menarik lengannya hingga tubuh Jihoon terhempas kebelakang dan berbalik menghadapnya.

"Lepas !" berontak Jihoon mencoba melepaskan genggaman tangan Hoshi.

"Ani ! Aku tak akan melepaskanmu kali ini."

"Kumohon lepaskan aku." meski tubuh dan wajahnya basah kuyup akibat guyuran air hujan, namun Hoshi masih bisa melihat aliran air mata yang mengalir deras dari pelupuk mata Jihoon.

"Kumohon... Lepaskan aku... Aku tak bisa... Aku tak sanggup... Kenapa harus kau ? Kenapa ?!" tangisan Jihoon semakin menjadi dan Hoshi langsung membawa tubuh ringkih Jihoon itu kedalam dekapannya, memeluknya erat mencoba menenangkan Jihoon meski sosok mungil itu terus memberontak.

"Soonyoung... Hiks... Soonyoung..." mendengar nama namja lain keluar dari sela-sela isakan Jihoon membuat Hoshi semakin mengeratkan pelukannya.

"Jangan menangis lagi kumohon Jihoon-ah~ aku disini... Aku ada disini untukmu..."

"Soon... Soonyoung ?"

Hening cukup lama hingga suara berat Hoshi kembali memecah keheningan di tengah hujan itu.

"Aku Kwon Hoshi... Dan kumohon lupakan Kwon Soonyoung..."

.

.

.

.

Jihoon menggeliatkan tubuhnya dalam tidurnya, udara pagi membuat tubuh mungilnya semakin meringkuk di bawah selimut dan hal itu membuat lengan yang memeluknya dari belakang itu semakin menarik tubuh mungilnya mendekat berbagi kehangatan.

Merasa ada yang aneh, mata Jihoon pun perlahan terbuka. Ia menatap tembok bercat pink didepannya itu cukup lama. Ia bisa merasakan sebuah lengan melingkar di perutnya dan hembusan napas hangat menerpa tengkuknya.

Jihoon meremas bantalnya, ia ingin berbalik tapi ia takut. Cukup lama Jihoon bergelut dengan pikirannya sendiri hingga akhirnya ia memutuskan untuk berbalik perlahan hingga kini wajahnya bertatapan langsung dengan sosok yang terus memeluk tubuhnya sedari tadi itu.

Jihoon menatap wajah itu cukup lama. Matanya mengerjap menatap kagum wajah tampan di hadapannya. Tanpa sadar sebuah senyum manis terukir Indah di bibir Jihoon. Dinyamankannya tubuhnya semakin merapat dan wajahnya pun semakin ia dekatkan hingga jarak wajah mereka berdua kini begitu tipis.

Jihoon kembali tersenyum sebelum tanpa sadar ia semakin memajukan wajahnya dan mempertemukan bibir mereka berdua. Mengecupnya dan menyesapnya cukup lama. Hingga sosok dihadapannya itu membuka mata dan membiarkan Jihoon terus melakukan hal itu hingga Jihoon berhenti sendiri.

Jihoon yang menyadari tatapan didepannya pun melepaskan tautan mereka dan kembali membaringkan kepalanya membalas tatapan sayu namja didepannya itu. Jihoon masih terus tersenyum hingga sosok didepannya itu berbicara dan membuat senyumnya hilang seketika.

"Aku bukan Soonyoung... Aku Hoshi..."

Jihoon langsung terkesiap dan bangkit duduk. Wajahnya ia palingkan tak berani menatap Hoshi. Mengusap wajahnya kasar lalu menggigit bibir bawahnya frustasi.

"Mianhae~" ucapnya langsung berlari turun dari ranjangnya, keluar kamarnya meninggalkan Hoshi yang hanya menatap langit-langit kamarnya itu dengan tatapan kosong.

"Hyung... Mianhae~"

.

.

.

.

Pertama kalinya Jihoon merasakan suasana sarapan yang sangat canggung seperti ini. Bagaimana pun juga Jihoon ingat betul apa yang terjadi semalam tapi yang sama sekali tak ia ingat adalah bagaimana bisa ia bangun dengan kenyataan bahwa ia baru saja menghabiskan malam bersama namja yang bahkan belum ia kenal betul itu.

Hoshi hanya terus memperhatikan tingkah Jihoon yang tampak sangat lucu di matanya itu. Sesekali Hoshi harus berusaha membekap mulutnya dengan punggung tangannya melihat Jihoon yang terus saja memukuli kepalanya dengan sumpitnya.

"Kenapa tak makan ?" tanya Hoshi tanpa dosa membuat Jihoon mendelik kearahnya.

"Kau masih bisa makan di saat seperti ini ?"

"Memang sekarang ini saat seperti apa ?"

Jihoon kesal, sungguh. Dikepalkannya tangannya yang memegang sumpit menahan amarah. Digigit nya bibir bawahnya mencoba menahan diri agar tak memaki namja bodoh di depannya itu.

"Lupakan saja." ucap Jihoon akhirnya setelah menghembuskan napas beratnya. Ia pun mulai menyuapkan nasi kedalam mulut mungilnya, mengunyahnya dengan tak sabar seakan tengah mengunyah Hoshi hidup-hidup.

"Sekarang jelaskan padaku semuanya." ucap Jihoon di sela-sela kesibukan mulutnya mengunyah makanan.

"Mwo ?" dan pertanyaan bodoh Hoshi itu langsung memdapatkan hentakan sumpit yang di banting Jihoon keatas meja. "Kau dan Soonyoung itu sebenarnya siapa ? Kenapa membuat hidupku runyam begini ha ?!" bentak Jihoon lalu kembali memasukkan sepotong sosis kedalam mulutnya.

"Aku adiknya. Soonyoung hyung itu adalah saudara kembarku. Tapi kami tinggal terpisah karena orang tua kami bercerai. Aku tinggal bersama ibuku di Jepang sedangkan Soonyoung hyung tinggal bersama ayahku di sini. Kami jarang bertemu tapi begitu kami bertemu kami sudah berada di dunia yang berbeda."

Jihoon menghentikan kunyahannya. Ditelannya sisa makanan yang berada di dalam mulutnya dengan susah payah. "Sudah berapa lama kalian tak bertemu ?"

"Kami baru saja bertemu seminggu yang lalu." ucap Hoshi langsung mendapat pukulan sumpit Jihoon di kepalanya.

"Jangan bercanda, aku sedang tak ingin bercanda sekarang."

"Aku tidak bercanda. Sungguh aku baru saja bertemu Soonyoung hyung minggu lalu." ucap Hoshi sambil mengelus-elus kepalanya yang terasa berdenyut, tangan kecil Jihoon tak bisa di remehkan begitu saja.

Hoshi melirik Jihoon yang kini terdiam menatapnya. "Soonyoung hyung tiba-tiba saja muncul di apartementku di malam setelah kita pergi menonton bersama. Melihatnya membuat bulu kudukku merinding. Bagaimana jika dia membunuhku karena tahu aku baru saja bersamamu."

Dan sebuah pukulan kembali di terima kepala Hoshi. Hoshi mengaduh lebih keras karena kini sebuah sendok yang menjadi tersangkanya.

"Bagaimana bisa hantu membunuh orang dasar bodoh ! Lagi pula dia kan kakakmu, kenapa juga musti takut."

"Meski dia kakakku tetap saja dia sekarang sudah jadi hantu." Hoshi memajukan tubuhnya lalu berbisik pada Jihoon. "Aku takut hantu."

Jihoon memutar bola matanya malas. "Lalu ?"

"Aku hanya ingat dia meminta maaf padaku setelah itu menghampiriku dan aku tak ingat lagi apapun setelah itu. Tau-tau aku sudah ada di taman bermain malam itu. Dan pemandangan pertama yang aku lihat adalah wajahmu yang menempel padaku dan bibir mu melumat bibir-euhm~" sebuah telur gulung langsung membungkam mulut Hoshi dengan begitu tak berperasaan, siapa lagi pelaku nya kalau bukan Jihoon.

"Aku tak akan menyalahkanmu. Aku tahu kau mencium Soonyoung hyung saat itu, bukan aku." ucap Hoshi dengan mulutnya yang sibuk mengunyah telur gulung. Tersirat kesedihan di akhir kalimatnya.

"Ah~ dan karena aku takut Soonyoung hyung akan mendatangiku lagi, aku putuskan akan pindah dari apartement itu."

"Benarkah ? Baguslah kalau begitu. Aku jadi tak perlu bertemu denganmu lagi."

Mereka berdua kembali melanjutkan acara makan mereka yang sempat tersendat karena mengobrol itu.

"Kapan kau pindah ?" tanya Jihoon memecah keheningan.

"Besok."

"Uhm~" ucap Jihoon lalu memberikan sepotong ayam ke mangkuk Hoshi membuat Hoshi meliriknya. Jihoon tersenyum. "Makan yang banyak. Anggap saja ini ucapan terima kasihku. Mungkin ini akan jadi pertama kali dan terakhir kalinya kau merasakan masakanku. Ah~ padahal Soonyoung dulu sangat suka semua makanan yang aku buatkan untuknya."

"Aku juga suka. Masakanmu bahkan lebih enak dari masakan buatan eommaku."

Mendengar pujian itu membuat Jihoon tersenyum. "Kau sudah dapat tempat pindah ?"

"Nde~"

"Kau akan kembali ke Jepang ?"

"Aniya~ aku tidak akan kembali lagi kesana."

"Wae ?"

"Karena cafe yang aku buka disini sedang banyak untung. Aku akan coba buka cabang di kota lain."

"Oh~ jadi kau akan pindah ke luar kota ?"

"Ani~"

"Jadi kau akan menetap disini ?"

"Nde~"

"Kau sudah dapat tempat ?"

"Nde~"

"Dimana ?"

"Disini."

Jihoon berhenti menyuapkan nasi ke mulutnya. Otaknya nampak berpikir, mencoba mencerna ucapan Hoshi barusan. Hoshi yang melihat wajah bingung Jihoon pun melanjutkan kata-katanya.

"Aku akan pindah ketempatmu ini. Disini. Kita tinggal bersama."

~ Brush ~

Semua nasi di mulut Jihoon langsung ia semprotkan begitu saja membuat Hoshi refleks langsung menjauhinya.

"Yakh~ kau jorok sekali !"

"Yakh~! Kau sudah gila ha ?! Siapa yang menyuruhmu hah ? Siapa yang mengijinkanmu tinggal disini ha ? Kau pikir rumahku ini penampungan apa ? Hanya karena aku menampung kakakmu dulu jadi kau juga bisa seenaknya tinggal dirumahku begitu ha ?"

Hoshi mengerjapkan matanya mendapat semburan dari mulut kecil Jihoon. "Aku hanya menuruti permintaan seseorang, kenapa kau malah membentakku seperti itu."

Jihoon menghela napas beratnya. "Siapa ? Siapa yang memintamu ha ?!"

Hoshi langsung mengangkat tangannya. Tunjuknya menunjuk tepat kedepannya. Jihoon pun mengikuti arah tunjuk jari Hoshi dan tangan mungilnya pun ikut menunjuk dirinya sendiri.

"Aku ?"

.

.

.

.

Jihoon memukul-mukulkan kepalanya ke tembok pembatas yang ia peluk didepannya itu. Jihoon kini ingat semuanya. Semua hal yang terjadi malam itu. Sungguh Jihoon sangat malu jika kembali mengingat kejadian malam itu.

Jihoon ingat di tengah hujan malam itu ia menangis di pelukan Hoshi. Ia kembali mengira Hoshi adalah Soonyoung. Dan yang paling parah adalah ia mengajak Hoshi minum malam itu.

Jihoon ingat saat Hoshi memintanya berhenti menangis, ia malah mengatakan bahwa ia akan berhenti menangis jika Hoshi menemaninya minum. Dan akhirnya mereka pergi ke kedai soju seberang jalan dan minum bersama hingga mabuk. Dan hal itu membuat malapetaka bagi Jihoon.

Ia yang masih mengira Hoshi adalah Soonyoung pun memaksa Hoshi ikut pulang ke apartementnya dan memaksa Hoshi menemaninya tidur. Dan entah pikiran dari mana ia meminta Hoshi untuk tinggal bersamanya dan membuat sebuah kontrak.

Kini Jihoon memandang penuh benci pada salinan kontrak yang telah menjadi bola lipat di tangannya. Kontrak perjanjiannya untuk tinggal bersama dengan Hoshi dan salinan satunya ada di tangan Hoshi.

"Aish~ aku benar-benar bodoh ! Kenapa aku malah membuat dua kontrak dan memberikan satu padanya !?" dan Jihoon kembali mendaratkan dahinya ke tembok pembatas di hadapannya.

Kini mata sipitnya menatap ke bawah, melihat sebuah truk dan beberapa orang yang sedari tadi mondar mandir membawa barang-barang milik apartement yang tepat berada di seberangnya itu.

Setelah selesai, truk itu pun pergi. Menyisakan seorang namja yang kini berdiri di bawah sana dengan sebuah tas koper di tangannya dan sebuah tas gendong di punggungnya.

Namja itu, Hoshi mendongak kearah Jihoon, menatapnya lalu tersenyum. Melambaikan sebelah tangannya lalu berjalan menghampiri Jihoon. Sedangkan Jihoon hanya bisa menghela napas beratnya saat Hoshi telah sampai di depannya.

"Kenapa aku harus mempertaruhkan apartementku ini untukmu !?" gerutu Jihoon sambil melangkah masuk ke dalam apartementnya yang diikuti Hoshi dari belakang.

"Kau sendiri kan yang menulisnya kalau aku tak mau tinggal denganmu maka kau akan menjual apartement ini dan pindah kerumahku."

"Tapi kan aku membuat perjanjian itu untuk Soonyoung."

"Tapi kan aku yang tanda tangan."

Jihoon hendak membalas ucapan Hoshi tapi ia urungkan. "Baiklah~ tinggal saja disini sesukamu. Jika aku sudah dapat tempat lain, aku akan segera pindah."

"Terserah. Tapi aku akan menikmati waktu ini sekarang."

Jihoon ingin sekali memukul kepala Hoshi. Namja didepannya itu bahkan lebih menyebalkan dari Soonyoung nya dulu.

"Aku capek jadi aku mau tidur, jangan ganggu aku dan jangan bikin keributan jika tak mau kuusir dari sini. Karena disini hanya ada satu kamar jadi kau bisa tidur di sofa. Soonyoung dulu juga tidur disana."

"Soonyoung hyung tidak tidur denganmu ? Kupikir kalian pacaran ?"

Jihoon kembali menahan emosinya. "Pacaran bukan berarti harus tidur seranjang. Apa kau biasa tidur seranjang dengan pacarmu ?"

"Aku tak punya pacar."

"Apa aku tampak peduli ?"

"Apa kau mau jadi pacarku ?"

"Mati saja kau Kwon Hoshi !"

~ Brak ~

.

.

.

.

Jihoon membuka pintu kamarnya. Awalnya ia hendak mengambil minum di dapur namun ia urungkan saat ia melihat Hoshi tengah duduk di samping kulkas dengan banyak tumpukan buku di sekitarnya.

Jihoon mengernyitkan dahinya, ia lalu menghampiri Hoshi. "Apa yang kau lakukan ?"

"Oh~ apartementmu sungguh penuh dengan berbagai macam barang ya~ hanya tempat ini yang kosong jadi biar aku taruh semua buku ini disini ya~" ucap Hoshi sambil menunjuk sela-sela diantara kulkas dan sebuah meja.

"Terserah kau saja." jawab Jihoon lalu memperhatikan buku-buku itu dengan intens. "Kau membaca semua novel buatanku ini ?" tanya Jihoon sambil menunjuk satu persatu buku-buku itu.

"Bukan aku yang membacanya, semua buku ini tiba-tiba saja sudah ada di apartementku padahal aku tak merasa pernah membeli atau membacanya. Kurasa Soonyoung hyung lah yang membacanya selama meminjam tubuhku waktu itu."

Mendengar penjelasan Hoshi, Jihoon hanya diam. Ia lalu duduk, mengambil tempat di sebelah Hoshi. "Jadi kau tak membaca karya hebatku ini ?" ucap Jihoon sambil mengangkat sebuah novel buatannya yang tadi ada di pangkuan Hoshi itu.

"Aku barusan selesai membacanya. Semuanya. Ah~ pantas novelmu ini laris manis di pasaran, aku merasa novel-novelmu ini telah menyihirku sampai aku rela menghabiskan waktuku semalaman hanya untuk menghabiskan semua serinya dari awal."

Jihoon hanya mengerjapkan matanya tak menyangka bahwa ada yang rela membaca novel buatannya itu semalaman tanpa henti.

Hoshi lalu mengambil novel yang ada di tangan Jihoon itu kemudian menyodorkannya pada Jihoon. "Bacalah."

Jihoon menautkan alisnya bingung. "Aku kan penciptanya, untuk apa aku membaca karya tanganku sendiri."

"Maksudku suratnya. Ada surat dari Soonyoung hyung didalamnya. Surat itu untukmu."

Jihoon terdiam menatap buku yang diulurkan Hoshi itu. Perlahan di raihnya buku itu lalu membuka lembar demi lembarnya, mencari surat yang dimaksud. Begitu menemukannya, Jihoon langsung membuka surat itu dan membacanya.

Jihoon-ah~ annyeong~

Kuharap kau selalu sehat. Dan aku juga berharap kau selalu bahagia meski tak ada aku disampingmu sekarang.

Aku senang kau bisa terus menjalani hidupmu meski tanpa diriku. Tapi hanya satu hal yang membuatku sedih...

Kenapa kau berhenti menulis ?

Aku akhirnya bisa membaca semua novel buatanmu. Aku hanya bisa tersenyum setiap membaca novel buatanmu. Semua itu kisah kita selama ini kan ?

Terima Kasih karena kau sudah menjadikanku Sumber inspirasimu. Aku sangat bangga dan tersanjung.

Tapi kau tak seharusnya berhenti menulis hanya karena aku sudah tak ada lagi. Kau bisa memulai semuanya dari awal. Jangan terus terpaku padaku dan carilah inspirasi lain di luar sana.

Dan aku sangat tak suka dengan novel terakhirmu itu. Bukankah itu novel permintaanku ? Dan kau bilang kau tak percaya Cinta pertama ? Kalau begitu apa kau juga tak percaya padaku selama ini ?

Semoga pemikiranku ini salah tapi...

Kumohon lanjutlah menulis. Buatlah sequelnya. Sequel kisah kita. Aku tak akan membiarkan kisah ini berakhir begitu saja karena aku tak terima ending yang menggantung seperti itu.

Sad ending atau happy ending... Itulah yang harus kau pilih...

Aku menunggunya... Seri selanjutnya... Aku menantikannya dan pasti akan membacanya jadi...

Tentukanlah endingnya...

Jihoon-ah~ gomawo...

Mianhae...

Dan...

Saranghae...

Tanpa terasa setitik air mata jatuh dari sudut mata Jihoon, membasahi lembaran kertas yang kini ia genggam dengan tangan bergetar itu. Hoshi yang melihat namja mungil di depannya ini kembali bersedih pun akhirnya mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Jihoon, mencoba memberinya kekuatan.

"Aku ada disini. Jangan bersedih lagi."

Jihoon mendongakkan kepalanya dan menatap Hoshi yang kini tengah tersenyum padanya. Hoshi lalu meraih bahu Jihoon, membawanya kedalam pelukan hangatnya. Dielusnya punggung Jihoon dengan lembut.

"Aku akan selalu bersamamu mulai sekarang jadi... Mari kuta buat seri barunya bersama."

Jihoon melepaskan pelukan Hoshi dan menatapnya penuh tanda tanya. Sedangkan Hoshi kini mengulurkan kedua tangannya dan menangkup pipi basah Jihoon.

"Aku ingin menjadi inspirasi barumu. Biarkan aku menjadi pemeran utama baru di seri berikutnya novelmu. Mulai sekarang mari... Kita tulis bersama lembar demi lembar novel ini. Bersama."

Dan ucapan Hoshi berakhir dengan bertautannya bibir mereka berdua. Hoshi menarik wajah Jihoon, menciumnya, menyalurkan apa yang tengah ia rasakan kini. Hatinya menginginkan Jihoon. Sudah sejak lama ia menahannya dan sekaranglah waktu yang tepat memulai segalanya dari awal.

.

.

.

.

1 Tahun Kemudian...

~ Ceklek ~

Hoshi membuka pintu kamar itu dan menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tubuh mungil Jihoon yang masih bergelung nyaman dengan selimutnya itu.

"Anak ini benar-benar hobi tidur ya !" Hoshi melangkah menghampiri kasur Jihoon, duduk di tepinya lalu mulai menarik lepas selimut yang menyelimuti tubuh mungil Jihoon.

"Yakh~! Lee Jihoon bangun !"

Jihoon yang merasa terusik pun tak mau melepaskan selimutnya dan kembali menarik selimut itu. "Dingin Hoshi-ah~"

"Kau tak lihat matahari sudah berada tepat diatas ubun-ubun." Kini Hoshi mencoba menggoyang-goyangkan tubuh Jihoon agar segera bangun.

"5 menit lagi~" gumam Jihoon malah semakin menarik selimutnya hingga menutupi wajahnya.

"Bangun sekarang atau aku seret kau ke kamar mandi sekarang !"

"Jangan bercanda !"

Hoshi memanyunkan bibirnya namun sedetik kemudian seulas seringaian menghiasi bibirnya. Hoshi pun semakin mendekati Jihoon, tubuhnya ia turunkan, kedua tangannya mengungkung Jihoon yang tengah memejamkan matanya dengan tubuh miring itu, dan wajah Hoshi semakin dekat dengan wajah Jihoon yang mulai terlelap lagi.

Seringaiannya kembali muncul saat bibirnya kini tepat di sebelah telinga Jihoon. Dan Hoshi pun mulai berbisik dengan suara yang sengaja ia rendahkan dan nada sexynya. "Jika kau tak bangun aku akan menambah ronde permainan kita semalam."

Bukannya Jihoon membuka matanya, yang ada malah tubuh Hoshi yang terhempas ke lantai dengan tak elitnya. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Jihoon.

"Yakh~!"

"Berisik !"

Dan sebuah teriakan menggelegar menghantarkan sebuah bantal melayang tepat ke wajah Hoshi. Hoshi yang geram hanya bisa menggertakkan giginya. Di hembuskannya napas beratnya menahan emosi.

Hoshi pun kembali berdiri lalu menatap Jihoon yang masih meringkuk di dalam selimutnya. "Baiklah~ kalau begitu aku gendong saja lalu kumandikan sekalian."

Tanpa permisi Hoshi langsung meraih tubuh Jihoon sekaligus selimut yang membungkus tubuhnya lalu menggendong tubuh mungil itu di pundaknya seperti karung beras.

Jihoon langsung membuka matanya dan berteriak histeris karena kepalanya terasa pening karena posisi kepalanya yang terbalik.

"Yakh~ dasar Kwon gila cepat turunkan aku !" teriak Jihoon sambil memukul-mukul punggung Hoshi dengan tangannya dan menendang-nendang perut Hoshi dengan kakinya yang menggelantung.

Begitu mereka sudah berada tepat di depan kamar mandi, Hoshi pun menurunkan Jihoon dan langsung mendapatkan tatapan tajam. Namun Hoshi sama sekali tak menghiraukan tatapan membunuh itu. Hoshi malah membalik tubuh Jihoon, memeluknya dari belakang lalu menuntunnya berjalan masuk kedalam kamar mandi.

"Apa kau sudah bangun ? Jika belum aku akan memandikanmu." ucap Hoshi melihat Jihoon dari cermin yang ada di atas wastafel.

"Mati saja kau Kwon !" maki Jihoon lalu menyikut perut Hoshi dengan sangat keras membuat Hoshi mengaduh dan melepaskan pelukannya. "Dasar mesum !" Begitu Jihoon berbalik, kembali kepala Hoshi yang tengah menunduk mendapat tepukan keras dari tangan mungilnya.

"Aw~ aish~ kenapa tangan semungil itu bisa sangat menyakitkan begini." gumam Hoshi sambil mengelus-elus kepalanya yang baru saja merasakan kekejaman tangan mungil Jihoon itu.

Hoshi yang melihat Jihoon kesusahan membuka hoodie nya itu pun maju membantunya. Kembali sebuah seringaian muncul di wajah Hoshi saat mata sipitnya tak sengaja menatap bahu Jihoon yang terekspos saat kerah bajunya yang longgar itu terjatuh kebahunya.

"Woah~ aku tak tahu kalau aku membuat tanda sebanyak ini pada tubuhmu semalam."

Jihoon langsung menyambarkan hoodienya yang masih ia genggam itu kearah tubuh Hoshi. Disambarkan berulang kali hoodie itu dengan membabi buta ke tubuh Hoshi tanpa ampun.

"Pergi saja kau ke neraka sana dasar Kwon mesum !"

~ Brak ~

Pintu tak berdosa itu langsung di tutup dengan sangat keras oleh Jihoon dan langsung ia kunci rapat-rapat agar Kwon mesum itu tak dapat melompat masuk kedalam saat ia tengah mandi nanti.

Jihoon kembali berjalan menuju wastafelnya lalu membasuh wajahnya berulang kali. Jihoon terdiam sejenak menatap pantulannya pada cermin di hadapannya itu. Perlahan tangan mungilnya meraih kerah kaos nya lalu menariknya turun, memperlihatkan bahu putihnya yang penuh dengan bercak keunguan yang sangat banyak.

"Dasar Kwon sialan ! Aku jadi tak bisa pakai baju terbuka di acara hari ini."

Setelah selesai membasuh badan dan berganti pakaian, Jihoon langsung berjalan menuju dapur dimana Hoshi tampak tengah berdiri di belakang pantry nya sambil sibuk memotong sesuatu.

Jihoon pun mendekati Hoshi dan memeluknya dari belakang. Hoshi sedikit terlonjak lalu tersenyum begitu ia menemukan Jihoon tengah mengusap-usapkan wajahnya di punggungnya.

"Wae ?"

"Dingin~" ucap Jihoon semakin merapatkan tubuhnya pada Hoshi.

"Jika tak mau jarimu kuiris maka kembalilah ke meja makan dan duduk manis disana menunggu makananmu jadi."

Tanpa banyak protes Jihoon langsung melepaskan pelukannya dan segera berlari kecil menuju kursinya dan duduk manis disana sambil menopang wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Senyumannya tak pernah luntur saat matanya terus tertuju pada punggung Hoshi yang tampak sibuk di belakang kompor itu.

"Tada~ makan siangmu sudah jadi." pekik Hoshi lalu membawakan semangkuk sup kehadapan Jihoon.

Wajah Jihoon pun langsung berbinar menatap sup yang tampak lezat itu. Diambilnya sendok yang ada di sampingnya lalu mulai menyuapkan sup kedalam mulutnya.

"Euhm~ enaknyaaa~"

Hoshi tekikik pelan melihat wajah Jihoon yang tampak berbinar itu. "Makannya hati-hati, pelan-pelan saja." ucap Hoshi lalu mengulurkan tangannya mengelap nasi yang tampak tercecer di sudut bibir Jihoon.

"Makan yang banyak. Kau harus tampak bertenaga untuk perilisan buku terbarumu nanti."

"Aku tahu~"

"Aku akan datang."

"Wajib itu."

"Soonyoung hyung juga akan datang."

Jihoon menghentikan aktivitasnya sesaat begitu mendengar ucapan terakhir Hoshi itu. Kemudian ia tersenyum tipis dan melanjutkan acara makannya.

"Aku yakin dia akan datang." lanjut Hoshi lagi.

"Aku juga berharap begitu." Jihoon kembali menghentikan acara makannya dan kini menatap Hoshi. "Aku membuat buku itu karena permintaannya, jadi dia harus datang."

"Pasti."

.

.

.

.

Jihoon kini menatap pantulan dirinya di depan cermin di hadapannya kemudian tersenyum saat ia merasa make up nya terlihat sangat pas di wajahnya. Ia sekarang sudah berada di ruang tunggu sebuah gedung pertemuan di mana sebentar lagi presscon perilisan novel barunya akan digelar.

Saat Jihoon hendak beranjak untuk berganti pakaian tiba-tiba saja ponselnya berbunyi singkat tanda ada sebuah chat masuk. Jihoon pun memeriksa ponselnya dan mendapati sebuah chat masuk dari Hoshi.

'Mianhae~ sepertinya aku tak bisa datang tepat waktu. Jalanan disini sangat macet '

Jihoon hanya mendengus, sama sekali tak berniat membalas chat itu. Ia malah menggeletakkan ponselnya begitu saja diatas meja rias dan beranjak berganti pakaian karena acara akan segera dimulai.

Kini Jihoon melangkah penuh hati-hati menaiki panggung dimana seorang MC dan dua buah sofa single telah menunggunya. Jihoon tersenyum lalu membungkukkan badannya menyapa sang noona MC.

"Jihoon-ssi lama tak bertemu. Woah~ aku pikir kau benar-benar akan menelantarkan perasaan kami semua." canda sang MC membuat Jihoon dan para penonton yang datang tertawa.

"Nde~ mianhae karena telah lama menelantarkan hati kalian semua." jawab Jihoon sambil menatap para penggemarnya yang telah rela datang jauh - jauh dan menerjang dinginnya salju diluar.

"Dan terima kasih banyak karena kalian semua sudah datang kemari meski di luar sedang turun salju. Kalian semua memang luar biasa." ucap Jihoon yang di akhiri dengan jari telunjuk dan jempolnya yang menjadi satu membuat sebuah hati dan hal itu sukses membuat para penggemarnya berteriak histeris.

Namun di tengah keramaian itu, Jihoon dapat melihat sosok seorang namja tengah duduk di tengah-tengah para penggemar yeojanya itu. namja itu terus menatap Jihoon tanpa berkedip sedikit pun. Jihoon sedikit mendengus namun ia mencoba untuk tetap tersenyum dan bersikap profesional.

'Dasar pembohong ! Dia bilang akan datang telat tapi nyatanya ia bahkan sudah duduk manis disana.'

"Nah~ Jihoon-ssi~"

"Nde ?" Jihoon sedikit terlonjak kaget begitu mendengar sang MC menyebut namanya tiba-tiba. Kini fokus Jihoon telah kembali kedalam acaranya malam ini.

"Pasti banyak penggemarmu yang penasaran dan bertanya-tanya, kenapa kau akhirnya memilih kembali menulis dan meneruskan cerita yang dulu kau bilang tak akan ada sequelnya ? Apa itu karena seseorang yang menjadi tokoh utamamu itu telah kembali ? Bukankah kau dulu bilang bahwa orang itu berada di tempat yang jauh ?"

Jihoon hanya tersenyum lemah menanggapi pertanyaan sang MC. "Dia tidak akan kembali. Tidak akan pernah."

"Ah~ jadi sequel ini menceritakan orang lain ?"

Jihoon tersenyum. "Nde~ dia tidak akan pernah muncul lagi di dalam ceritaku. Sequel ini sebenarnya menceritakan tentang bagaimana cara untuk move on dari rasa kehilangan seseorang. Setelah acara ini selesai, kalian bisa mulai membeli novelku ini di toko buku di seluruh penjuru Korea."

Jihoon mengambil sebuah buku yang sedari tadi tergeletak di meja didepannya lalu ia tunjukkan buku itu kearah para penggemar dan kamera yang merekamnya.

"Didalam buku ini aku hanya ingin menekankan bahwa jangan pernah terpuruk oleh masa lalumu. Masa lalu biarlah menjadi masa lalu. Yang harus kalian lihat sekarang adalah masa depan. Kalian hidup bukan untuk masa lalu tapi kalian hidup untuk masa depan." Jihoon mengatakan semua itu sembari menatap seorang namja yang sedari tadi juga menatapnya itu lalu tersenyum dan mendapat anggukan kepala dari sang namja.

"Woah~ aku pribadi jadi tak sabar untuk membacanya." MC noona itu lalu mengambil novel yang tadi di pegang Jihoon kemudian menunjuk cover novel itu. "Lalu apa artinya ini ? Setau kita semua novelmu sebelumnya itu bercover cotton candy berwarna pink. Tapi kenapa di sequel ini ada dua buah cotton candy dengan warna yang berbeda ? Apa kau mendua ?" pertanyaan terakhir sang MC sukses membuat para penonton dan Jihoon sedikit tertawa.

"Aniya~ aku ini orang yang sangat setia." canda Jihoon. "Aku hanya ingin menunjukkan meski sama tapi dua buah cotton candy itu memiliki rasa yang berbeda. Pink dan Biru... Kurasa merasa mereka juga seperti itu."

Dan acara itu pun terus berlangsung dengan beberapa pertanyaan sang MC yang kadang membuat Jihoon kelabakan untuk menjawabnya dan tertawa dengan pertanyaan-pertanyaan yang menurutnya lucu.

Setelah sesi question & answer selesai, kini giliran sesi fansign untuk 50 penggemar yang beruntung. Namun sebelum sesi itu dimulai, semuanya memutuskan untuk istirahat sebentar.

Jihoon pun bergegas turun panggung. Langkah lebarnya langsung menunjuk sosok namja yang sedari tadi membuatnya selalu mencuri pandang, menarik lengan namja itu lalu menyeretnya ke backstage yang sepi.

"Yakh~ Kwon Hoshi kau benar-benar hobi menipuku ya ?! Kupikir kau benar-benar akan datang telat. Ck~ lagi pula untuk apa kau tadi bilang akan menyusul dan menyuruhku berangkat duluan ?!" Jihoon menatap kedua tangan namja di depannya itu bergantian. "Kau tak bawa apa-apa ? Kupikir kau mau datang belakangan karena mau membelikanku sesuatu dulu."

Jihoon nampak cemberut dan kesal dengan bibir mungilnya yang ia kerucutkan. Sedangkan namja di depannya itu malah tersenyum manis.

"Kurasa kau berhasil melupakanku. Kau bahkan tak ingat lagi padaku. Syukurlah~"

"Nde ?" Jihoon yang merasa bingung hanya mengerutkan keningnya.

"Aku juga senang karena tampaknya Hoshi benar-benar sudah menyembuhkanmu." Dan Jihoon semakin mematung di tempatnya.

"Yakh~ Jihoon-ah~" Jihoon refleks membalikkan badannya begitu mendengar sebuah suara yang tak asing memanggilnya.

"Ho-Hoshi ?"

"Yakh~ kenapa ekspresimu melongo begitu ha ?! Seperti baru saja melihat hantu saja."

"Kurasa... Aku memang baru saja bertemu dengan hantu..." ucap Jihoon dengan nada mengambangnya.

"Mwo ?"

Jihoon langsung berbalik kembali, namun saat ia berbalik sosok yang sedari tadi berbicara dengannya pun telah menghilang.

"Ho-Hoshi-ah~ kurasa... Dia benar-benar datang..."

"Mwo ? Nugu ?"

"Soonyoungie~ dia benar-benar datang." Jihoon kembali berbalik menatap Hoshi. Kini wajah tersenyum nya telah basah oleh air mata. "Kupikir dia tadi kau. Dia sudah duduk disana sejak acara dimulai sampai berakhir. Dia... Menatapku... Dan tersenyum padaku..."

Hoshi pun meraih bahu Jihoon yang mulai bergetar karena menangis. Di rengkuhnya tubuh mungil Jihoon kedalam pelukannya. Diusapnya kepala belakang Jihoon yang tenggelam di dadanya itu dengan lembut dan penuh kasih sayang.

Hoshi tak berkata apapun. Ia tak berniat mengatakan apapun. Ia hanya menenangkan Jihoon dalam diam dengan tatapan yang terus tertuju kedepan. Kemudian bibir itu melengkungkan sebuah senyuman lalu menganggukkan kepalanya seolah tengah berbicara pada seseorang.

'Kau tak perlu khawatir. Mulai sekarang... Aku akan menjaganya hyung... Aku janji... Dan pasti akan aku tepati...'

.

.

.

.

"Yakh~ Jihoon-ah~ cepatlah~ film nya sudah mau mulai ini !"

"Sebentar !" suara lengkingan sahutan dari arah dapur pun terdengar.

Hoshi kini telah duduk nyaman diatas sofa, menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa, siap menonton film favoritnya dan Jihoon yang sebentar lagi akan di tayangkan di televisi itu.

"Yakh~ cepatlah ! Film nya sudah mulai ini !" kembali Hoshi berteriak memanggil Jihoon yang tak kunjung keluar dari dapur itu.

Dari tempat Hoshi duduk dapat dilihatnya sosok Jihoon yang tengah berdiri di belakang meja makan. Tak lama kemudian Jihoon pun menghampiri Hoshi dengan sebuh nampan di tangannya yang berisi 2 buah cola dan beberapa cemilan, termasuk pop corn khas bioskop.

"Uri Jihoonie memang yang terbaik." ucap Hoshi seraya mengambil beberapa popcorn di pangkuan Jihoon yang kini telah duduk dengan nyaman di samping Hoshi.

"Meski hanya menonton film di rumah, tapi tetap saja rasanya akan aneh kalau tidak ada makanan khas bioskop seperti ini."

"Kau benar." ucap Hoshi lalu tangan kanannya menyelinap kebelakang punggung Jihoon lalu menarik tubuh mungil Jihoon agar semakin mendekat padanya, membuat Jihoon sedikit merona akan tindakan Hoshi itu.

"Ah~ iya,, aku ingat ingin memberimu sesuatu." Hoshi pun beranjak dari duduknya dan, berjalan masuk kedalam kamar Jihoon, membuat Jihoon mengikuti arah gerak Hoshi dengan mata mengerjap bingung.

Tak lama kemudian Hoshi pun keluar dari kamarnya sambil membawa dua buah cotton candy berwarna pink dan biru. Hoshi pun memberikan cotton candy berwarna biru pada Jihoon yang diterima begitu saja oleh Jihoon dengan ekspresi bingungnya.

"Sebenarnya kemarin aku telat ke acaramu itu karena aku mampir dulu untuk membelikan cotton candy ini. Bukankah kau sangat suka cotton candy ? Aku berharap setelah makan ini kau akan lebih bersemangat kemarin. Tapi karena kejadian itu dan kau yang jadi sibuk sampai tak sempat pulang kerumah sejak kemarin aku jadi lupa memberikannya dan berakhir mengenaskan di kamarmu."

Jihoon tersenyum menatap cotton candy biru di tangannya kini. "Gomawo~"

"Semoga rasanya masih enak." ucap Hoshi begitu melihat Jihoon mulai membuka bungkus plastiknya lalu mengambil sedikit cotton candy itu dan memakannya.

"Ini enak~ sangat manis~ aku suka~" ucap Jihoon sambil terus memakan cotton candy itu hingga habis. "Tapi... Kenapa aku dapat yang warna biru ? Aku kan lebih suka yang warna pink." ucapnya sambil cemberut dan menunjuk cotton candy yang masih utuh di tangan Hoshi.

Refleks Hoshi pun menyembunyikan cotton candy miliknya di belakang tubuhnya kemudian menggelengkan kepalanya berulang kali. "Yang biru itu melambangkan diriku dan yang pink ini melambangkan dirimu. Kau kan sudah memakanku jadi sekarang giliranku yang memakanmu."

Perkataan terakhir Hoshi yang diakhiri dengan seringaian itu sukses membuat Jihoon membulatkan matanya dan memundurkan tubuhnya perlahan. Namun sepertinya Hoshi sedang tak main-main. Hoshi langsung menerjang tubuh Jihoon hingga tubuh mungil itu terbaring begitu saja diatas sofa.

Hoshi kembali menyeringai kemudian mulai di lancarkannya aksinya mengecupi bibir Jihoon dengan tak sabar. Hoshi mulai melumat bibir tipis Jihoon itu, menyesapnya, dan menggoda belahan bibir mungil itu dengan lidah nakalnya.

Serangan demi serangan yang dilancarkan Hoshi itu pun sukses membuat Jihoon melenguh di tengah-tengah ciuman panas mereka. Jihoon pun terlihat mulai menikmati permainan Hoshi dan membalas setiap kecupan dan lumayan yang di berikan Hoshi.

Kini tangan Jihoon bahkan sudah mulai memeluk leher Hoshi erat seolah tak ingin kehilangan moment berharga ini.

Merasa kebutuhan oksigen mulai menyerang mereka akhirnya Hoshi pun melepaskan ciumannya. Kini mereka berdua saling menatap satu sama lain dengan jarak yang sangat begitu dekat. Tangan Hoshi terulur membelai pipi chubby Jihoon yang merona dengan lembut.

Mereka berdua saling tersenyum satu sama lain. Dan kini Hoshi memberikan kecupan-kecupan ringan di pipi kanan dan kiri Jihoon secara bergantian, kemudian di dahinya, hidungnya, dagunya, hingga berakhir kembali mengecup singkat bibir mungil Jihoon.

"Saranghae~ Jihoon-ah~" ucap Hoshi membuat Jihoon kembali tersenyum.

"Nado saranghae Hoshi-ah~" kini giliran Jihoon yang menarik tengkuk Hoshi dan mengecup singkat bibir namja di atasnya itu. "Dan gomawo sudah datang ke hidupku dan berada disisinya sekarang."

Kembali mereka saling tersenyum. Hoshi kembali mengelus pipi merona Jihoon dan kembali mempertemukan bibir kedua kedalam sebuah ciuman hangat. Saling menyalurkan perasaan satu sama lain lewat ciuman dan kehangatan tubuh satu sama lain malam ini.

.

.

.

.

E

N

D

.

.

.

.

Ah~ mianhae karena aku lama sekali update FF ini~

Sedikit terjadi kemampetan ide cerita kemarin tapi untungnya dapat kuatasi dan selesai juga FF ini ^^

Semoga alur cerita dan endingnya tak mengecewakan ya~

Ditunggu reviewnya~^^

Gomawo n see ya~