Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

Pair : Sasuke & Sakura

Genre : Horror, Mystery, little romance (maybe)

.

.

.

Enjoy With This Story

.

.

.

Kejarlah aku sampai kau tak mampu lagi mengejarku,

Satu nyawa akan pergi jika kau tak mampu menemukanku,

Raga tanpa jiwa, berjalan dalam kegelapan malam,

Senandung sedih selalu ku lantunkan…

Temukanlah aku maka aku akan menemukanmu,

Mawar berdarah akan selalu menuntunmu,

Jerit kesakitan akan terngiang di kepalamu,

Jangan lari atau kau tak akan kembali,

Pilihan adalah salah satu kunci hidupmu,

Pilih satu atau kau akan terjebak disini bersamaku selamanya….

.

.

Chapter 3

'BRUGHH'

Sakura menghempaskan tubuhnya kasar pada ranjang queen sizenya. Rasa lelah menghampiri tubuhnya dikarenakan dia pulang menaiki busway dan tak mendapat tempat duduk. Mencoba memejamkan matanya dan meletakkan lengannya untuk menutupi matanya. Berulangkali gadis yang identik dengan musim semi itu menghembuskan nafas lelah.

'Drrrttttt Drttttt Drrrrttttt'

Smartphone canggih milik Sakura yang diletakkan diatas meja rias bergetar tanda ada pesan masuk. Dengan masih memejamkan mata, Sakura meraba meja riasnya dan mengambil smartphonenya.

From : Sasuke-kun

Text : kau sudah pulang ?

Sakura tersenyum simpul kala membaca pesang singkat dari sang kekasih. Dengan senyum, jari lentiknya mulai mengetik balasan untuk sang kekasih.

To : Sasuke-kun

Text : ya, baru saja…

Aku benar-benar sangat lelah Sasu~…

Send,

Tak perlu menunggu lama, pesan balasan dari Sasuke telah masuk. Tangan mungilnya kembali meraih smartphonenya dan membaca pesn balasan dari Sasuke.

From : Sasuke-kun

Text : hn, kalau begitu istirahatkan tubuhmu sejenak.

Aku tak ingin kau sakit.

Jangan dibalas. Cepat tidur...

Senyum Sakura semakin lebar kala membaca pesan dari Sasuke. Kekasihnya ini benar-benar perhatian padanya. Ya, Sasuke memang tak seperti pemuda pada umumnya. Tak banyak berkata romantis tapi denga kata-kata yang terdengar memaksa yang sarat akan rasa perhatian mampu membuat Sakura tersenyum senang. Pemudanya bukanlah pemuda yang romantis. Pemudanya bahkan jarang sekali mengungkapkan kata cinta untuknya. Tapi Sakura sangat yakin kalau pemuda yang sudah 2 tahun menyandang sebagai kekasihnya itu benar-benar sangat mencintainya. Terbukti dari tatapan matanya saat dia memandang Sakura, membelai kepala Sakura dengan lembut, dan juga selalu memeluknya jika Sakura merasa sedih. Semua itu sudah lebih dari cukup bagi Sakura. tak perlu kata romantis, baginya kehadiran Sasuke di sampingnya sudah membuatnya merasa bahagia lebih dari apapun.

Sakura lalu meletakkan kembali smartphonenya di atas meja rias. Tanpa sengaja iris emeraldnya melihat buku usang bersampul merah pudar yang ia bawa dari perpustakaan sekolahnya yang ia letakkan di atas meja belajarnya. Tiba-tiba rasa kantuk dan lelahnya hilang. Badan mungilnya lalu bangkit dan menuju meja belajar yang terletak di kamarnya. Sakura menggeser kursi belajarnya dan mendudukkan pantatnya di situ. Tangan mungilnya meraih buku bersampul merah pudar itu dan mulai membuka lembar ke-3 buku itu. Sedikit menghela nafas, Sakura kemudian mulai membaca baris demi baris kata yang tertera dalam buku usang itu dalam diam.

Hari valentine, hari penuh kenangan denganmu..

Tapi tidak untuk saat ini,

Kau mengacuhkanku lagi. Kau berpaling dariku lagi..

Kau membuang coklat penuh perjuangan dariku.

Hingga saat ini aku tak mengerti apa yang ada di pikiranmu,

Sampai saat ini aku tak mengerti kenapa kau begini,

Sampai saat ini pun aku tak mengerti apa kesalahanku,

Dan sampai saat ini pula aku tak bisa memahamimu…

Dahi Sakura mengkerut. 'benar-benar keterlaluan…' batin Sakura ikut menyuarakan apa yang dia rasakan. Entah kenapa setiap kalimat yang telah ia baca dari buku itu Sakura seolah emosinya ikut tersulut.

'WUSHHH'

Angin tiba-tiba masuk melalui jendela kamar Sakura yang terbuka. Lagi-lagi perasaan takut menghampiri Sakura sama seperti saat di perpustakaan tadi. Mengabaikan rasa takutnya, tubuhnya lalu beranjak berdiri untuk menutup jendela kamarnya dan setelahnya kembali duduk melanjutkan kegiatan membacanya. Tangan lentiknya mulai membuka lembar selanjutnya.

Kenapa kau lakukan ini padaku?

Datang dan mencumbuku sesukamu…

Hatiku serasa tercabik saat kau tak lagi menghargaiku,

Sebenarnya apa salahku?

Hubungan kita benar-benar penuh keambiguan…

Inikah yang kau namakan cinta?

Dan inikah yang disebut dengan hubungan?

Atau hanya aku saja yang mencinta?

"benarkan…cinta sepihak." Ucap Sakura membenarkan pendapatnya yang ternyata benar. Lembar demi lembar kertas ia buka. Tiap baris kalimat yang tertera Sakura baca dengan cermat. Sesekali desahan sedih meluncur dari bibir mungilnya. Sebagai seorang wanita, Sakura memiliki perasaan yang peka jika menyangkut tentang suatu perasaan. Oleh sebab itu ia sangat mengerti apa yang dirasakan oleh si penulis buku diary yang kini telah dengan lancang ia baca. Sampai akhirnya dahi lebarnya mengernyit heran kala dalam buku itu terselip setangakai bunga mawar kering yang telah menipis. Hidung mungil Sakura menangkap bau ganjil dari bunga mawar yang terselip di buku usang itu. Bau seperti bau karat dan sedikit bau amis.

"seperti bau darah…." Ucap Sakura seraya memperhatikan bunga mawar yang kini ia angkat tepat di depan bola mata emeraldnya. Ia letakkan bunga mawar kering itu di atas meja belajarnya lalu pandangan Sakura beralih pada tulisan yang mulai pudar pada buku diary yang ia temukan.

Aku….aku hampir gila dengan semua ini,

Batinku tersiksa karena terus memikirkanmu…

Aku tak sanggup lagi untuk bertahan denganmu,

Tolong beri alasan kenapa aku harus berada di sampingmu,

Aku lelah menunggumu, luka yang kau torehkan terlalu dalam,

Maaf karena aku tak sanggup lagi,

Maaf jika aku memilih pergi,

Dan maaf jika aku memilih mati…

Sakura menutup mulutnya terkejut. Tak disangka si penulis yang menurutnya adalah seorang wanita memilih mengakhiri hidupnya. Penantian cinta yang tak tersambut dan akhirnya berujung pada sakit dan keputusasaan sang wanita. Entah kenapa batin Sakura merutukki kebodohan pemuda yang telah menyia-nyiakan cinta tulus dari sang wanita. Tak lama terlarut dalam perasaan, Sakura dengan pelan membalik lembar berikutnya. Di sana hanya tertera beberapa kata dalam satu rangkaian kalimat. Ada bercak noda merah yang tertera di lembaran itu. Membuat Sakura sedikit bergidig melihatnya.

Sudah aku putuskan, pilihanku adalah mati dan membencimu dengan cinta yang aku miliki….

Sakura lalu membuka lembar-lembar berikutnya. Namun nihil, tak ada tulisan lagi. Yang ada hanya noda merah yang mengering di setiap lembarnya. Juga ada sedikit bekas jari tangan yang samar.

"sebenarnya siapa pemilik buku diary ini…?" gumam Sakura sembari meletakan bukunya di atas meja belajar. Kepala merah mudanya lalu menoleh kearah jam weker yang terletak di sudut meja.

"jam setengah 6 sore…"

Sakura lalu beranjak berdiri dari duduknya dan menghampiri lemari besar di kamarnya. Mengambil sebuah tanktop berwarna putih serta celana jeans pendek 3 cm diatas lutut, lalu melangkahkan kaki jenjangnya kearah kamar mandi pribadi di kamarnya. Kucuran air terdengar mengalir dari dalam kamar mandi.

Sementara Sakura sibuk dengan kegiatan mandinya, buku usang yang di letakkannya di atas meja belajar perlahan terbuka. Angin tiba-tiba berhembus kencang entah dari mana datangnya. Lembar demi lembar buku itu terbuka dengan kasar oleh angin. Hingga pada lembar yang terdapat bercak merah paling banyak, goresan merah tiba-tiba terukir membentuk sebuah nama. Mawar kering yang terletak di samping buku tiba-tiba melayang lalu menyelip di antara lembar buku.

'BUKKK'

Buku tertutup dengan sedikit kencang. Sosok misterius berbaju putih panjang terlihat berdiri di samping meja belajar Sakura. Kepala sosok itu menunduk sehingga rambut hitam kusam yang panjangnya mencapai pinggang tergerai seram menutupi seluruh wajahnya. Tangan putih pucat sosok itu perlahan terangkat. Kuku hitam panjangnya yang tajam tiba-tiba keluar dari jarinya, disusul dengan tetesan darah yang mengalir dari ujung lengannya. Bibir pucat dari sosok itu yang terlihat dari celah rambutnya perlahan memerah karena darah. Lidah sosok itu keluar dan menjilat darah yang mengalir disekitar mulutnya. Lampu kamar Sakura tiba-tiba berkelap-kelip. Setelahnya, sosok itu menghilang meninggalkan tetes darah di lantai keramik kamar Sakura.

.

.

.

"Kurime Megumi"

.

.

.

..Secret Ghost

'BRUKK'

"heii, heii…ada apa Forehead..? kenapa terburu-buru seperti itu heh,…" ucap Ino yang merasa heran dengan kedatangan sahabat merah mudanya yang tiba-tiba menubruk bangkunya. Untung kelas mereka masih sepi karena memang jarum jam masih menunjukan pukul 06.30 sedangkan kelas mereka akan dimulai sekitar 30 menit lagi.

"gomen Pig…hehehe" ucap Sakura dengan cengiran tanpa dosanya.

"memangnya ada apa heh…?"

Menghiraukan pertanyaan Ino, Sakura lalu merogoh tas selempangnya dengan terburu-buru.

"kau akan terkejut dengan ini Pig…" ucap Sakura serya menunjukan buku bersampul merah pudar yang ia temukan kemarin di perpustakaan sekolah.

"lihat…" ucap Sakura meletakkan buku itu di atas meja.

"buku…?" tanya Ino heran kenapa Sakura mengeluarkan buku dari tasnya.

"buku diary lebih tepatnya…"

"Diary? Milik siapa? Kau mencurinya?" tanya Ino dengan beruntun. Perempatan sudut siku-siku muncul di kepala Sakura.

"aishhh…aku tidak mencurinya Pig, aku menemukannya di perpustakaan…"

"lalu, apa pentingnya buku diary itu…?" tanya Ino lagi seraya menunjuk buku diary itu dengan jari telunjuk lentiknya.

"buku ini misterius Ino…"

"maksudmu..?"

"dengar, buku ini tak ada nama pemiliknya. Dan lihat…." Sakura lalu membuka lembar ke 10 buku itu. Mengambil setangkai bunga mawar kering yang terselip disana.

"mawar ?" ucap Ino dengan nada bertanya kala Sakura menyodorkan bunga mawar kering itu kepada Ino.

"ya, mawar ini terselip di buku ini…aku rasa aku akan percaya pada Naruto Ino…"

"tentang…?"

"pembunuh itu adalah hantu…" ucap Sakura sedikit berbisik.

"bagaimana mungkin…" ucap Ino yang ikut berbisik.

"nanti aku jelaskan jika kita sudah berkumpul. Dan kurang 10 menit lagi bel masuk, apa kau sudah mengerjakan PR dari Kurenai-sensei…?" tanya Sakura dengan mengibas-ngibaskan buku tugasnya di depan wajah Ino.

"ahhh, ya ampunnnnn…aku belum mengerjakannya. Kenapa kau tidak bilang dari tadi sih Forehead…" ucap Ino heboh yang kemudian mengambil –merebut buku tugas milik Sakura. Sakura sendiri hanya terkekeh pelan dan menggeleng-gelengkan kepala merah mudanya.

"Dasar Ino-pig…"

.

.

.

.

"jadi ada apa Sakura-chan…?" tanya Naruto kepada Sakura penasaran kenapa Sakura menyuruh mereka berkumpul di atap sekolah saat istirahat.

Ya, saat ini mereka –Sakura, Sasuke, Naruto, Ino, Shikamaru dan juga Hinata sedang berkumpul di atap sekolah karena ajakan Sakura. Sakura, Ino, dan Hinata duduk di samping kawat pembatas, Naruto dan Shikamaru duduk menyender pada kawat pembatas, sedangkan Sasuke sendiri berdiri dengan kedua tangan di saku celananya sedangkan tubuhnya ia senderkan pada kawat pembatas.

"begini, aku menemukan ini…" ucap Sakura sembari menunjukan buku diary usang yang ia temukan.

"ap-apa i-itu Sakura-chan…?" tanya Hinata –kekasih Naruto- dengan sedikit tergagap karena memang Hinata adalah gadis pemalu walaupun itu dengan sahabat-sahabatnya sendiri.

"ini buku diary yang aku temukan di perpusatakaan sekolah kemarin sore. Dan aku rasa buku ini ada sangkut pautnya dengan kejadian pembunuhan 2 hari lalu…"

"maksudmu…?" tanya Shikamaru terlihat lebih penasaran. Sakura lalu memandang mata ke-4 sahabatnya dan juga kekasihnya dengan serius. Lalu tangan lentiknya membuka lembar ke-10 buku itu dan menunjukkan bunga mawar kering kepada sahabat-sahbatnya.

"mawar…?" ucap serempak Naruto, Hinata dan Shikamaru minus Sasuke yang memandang datar, sedangkan Ino hanya mengangguk saja karena memang dia sudah diberitahu oleh Sakura tadi pagi.

"ya, apa mawar di tubuh Lee seperti ini Naruto…?"

"hmmm, mawar di tubuh Lee berwarna merah darah sedangkan tangkai dan satu daunnya berwarna hitam. Tapi mawar yang Sakura-chan pegang mirip dengan mawar itu…" jelas Naruto dengan menaruh jari telunjuknya di dagu tirusnya.

"aku menemukan buku diary ini di sudut perpustakaan, dan juga ada banyak noda merah seperti darah di buku ini. lihat…" ucap Sakura seraya membolak-balik lembaran buku diary. Tapi beberapa detik kemudian tangan Sakura berhenti membuka lembaran buku dan sedikit melebarkan bola matanya terkejut.

"ada apa Forehead…?" tanya Ino bingung melihat Sakura terdiam.

"I-ino….se-sebelumnya tak ada tulisan ini…" ucap Sakura dengan terbata dan tangannya yang tengah memegang buku mendadak gemetar. Sasuke yang melihat kekasihnya seperti itu segera menghampiri Sakura dan menenangkannya.

Ino lalu merebut buku yang tengah Sakura pegang. Dahi Ino mengernyit kala membaca sebuah tulisan yang tertera di buku diary itu.

"Kurime Megumi…" ucap Ino membaca tulisan itu. Naruto, Shikamaru, Hinata dan Sasuke lalu menoleh ke arah Ino. Masing-masing menyuarakan nama itu dalam hati mereka.

"memangnya ada apa dengan itu Saku…?" tanya Sasuke kepada Sakura yang masih gemetar dipelukannya.

"saat kemarin aku membacanya, tak ada tulisan itu di buku…tulisannya hanya sampai lembar ke 15 saja. Seterusnya hanya lembaran kosong dengan noda merah…" jelas Sakura sudah tidak gemetar lagi. Shikamaru lalu mengambil buku yang dipegang Ino. Memperhatikan tulisan itu dengan tulisan yang sebelumnya. Hidung mancungnya juga mengendus buku diary usang itu.

"jika diperhatikan, tulisan di lembar 1 sampai 15 sedikit pudar dan itu wajar karena memang buku ini sudah usang dan lama. Tapi di tulisan pada lembar selanjutnya bukan bertinta hitam tapi merah…dan juga tulisannya belum memudar. Seperti baru ditulis. Dan juga…" Shikamaru berhenti berucap lalu sekali lagi mengendus lembaran buku diary itu beserta dengan bunga mawar kering.

"bau buku ini anyir dan karat seperti bau darah. Mawar ini pun sama..dan juga aku rasa noda merah ini bukan noda merah biasa melainkan noda darah yang sudah mongering…" lanjut Shikamaru lagi.

"kau benar Shikamaru. Dan satu lagi, penulis itu mati bunuh diri…" tambah Sakura.

"da-dari mana Sa-Sakura-chan tahu…?" tanya Hinata masih dengan logat terbatanya.

"aku membacanya sampai tuntas Hinata, di buku itu tertulis kalau si penulis mati bunuh diri karena cintanya bertepuk sebelah tangan. Dan di lembar 15, tertulis kalau si penulis memilih mati dengan membenci lelaki yang ia cintai…"

"be-benarkah…? Me-menyedihkan…"

"ya Hinata… jadi aku rasa si penulis memiliki dendam terhadap laki-laki yang ia cintai sampai ia mati.."

"jadi kau mau bilang kalau pembunuhan yang terjadi bersangkutan dengan buku ini…?" tanya Sasuke sengan memandang Sakura. Sakura yang ditanya hanya menganggukkan kepala merah mudanya membenarkan pernyataan Sasuke.

"jadi…yang membunuh mereka benar-benar hantu…?" kali ini Naruto yang bertanya.

"ya begitulah, sejak aku menemukan buku ini, aku merasa ada yang selalu mengawasiku. Selalu mengikutiku…sekarang pun aku merasa ada sepasang mata yang tengah mengawasi kita…" ucap Sakura dengan bola mata yang memandang ke kanan dan kiri gelisah.

"ja-jangan menakutiku Sakura-chan…" kata Naruto sedikit merasa takut.

"aku tidak menakutimu Naruto… ah dan satu lagi. Ada tetesan darah di lantai samping meja belajarku. Sebelumnya tak ada…"

"kita harus menyelidikinya…" suara Shikamaru menginterupsi.

"tak seperti biasanya kau tertarik dengan yang seperti ini Shika…"

"ini berbeda Ino, aku tak ingin ada korban lagi…hoammmm" kata Shikamaru dengan sebuah uapan di akhir kalimatnya.

"hn, aku ikut dengan Shikamaru…" setuju Sasuke dengan nada datarnya. Mendengar pernyataan Sasuke, Naruto, Sakura, Hinata, Shikamaru dan Ino memandang kearah Sasuke dengan heran. Pasalnya Uchiha satu ini tak pernah peduli dengan hal-hal semacam ini. Tentunya jika hal ini menyangkut Sakura maka akan lain ceritanya.

"Hn, apa?" tanya Sasuke dengan sebelah alis terangkat.

"kau Uchiha Sasuke kan…?" tanya Naruto dengan memajukan tubuhnya kearah Sasuke sehingga kini wajah Naruto berada tepat di depan wajah Sasuke.

"cih, tentu saja idiot…" jawab Sasuke dengan mendorong wajah Naruto menggunakan telapak tangannya sehingga Naruto terjengkang ke belakang.

"aww., dasar Teme…! Kasar sekali sih…" ucap Naruto seraya mengelus-elus pantatnya yang mendarat sedikit kasar di lantai atap.

"aku juga akan ikut kalian…" ucap Ino.

"ak-aku ju-juga akan i-ikut…" ucap Hinata dengan wajah menunduk malu.

"yoshhh, karena kalian semua ikut, aku pun akan ikut dattebayyo…!" seru Naruto penuh semangat. Sakura yang melihat itu menyunggingkan senyum manis.

..Secret Ghost

To Be Continued...

huahh... akhirnya saya publish juga chapter ini, hehehe. sebenernya sih saya sudah ada beberapa chapter yang selesai, dan niatnya chapter ini bakal publish 2 hari lagi. tapi ini sudah saya publish. kok bisa? yahhhh, begitulah semangat masa muda...#labil hehehe oya, gomen ne kalo masih banyak typo..

yoshh saatnya balas review :

ntika blossom : arigatou sudah ff gaje saya. dan ini juga udah dilanjut kok...:)

Eshya CherryBlossom : wahhh beneran? saya gak tahu kalo hantunya mirip sama fanfic yang kamu baca, ya mungkin saja bisa mirip..kan tak ada yang tak mungkin jika Tuhan sudah menghendakki, hehe tapi arigatou atas sarannya...:) sangat membantu..:)

Shinohara Akari : iya, ini chapter 3 udah keluar kok,. arigatou sudah menyempatkan diri untuk ...:)

Guest : wehhhh, arigatou. ini juga udah lanjut kok...

Kimura Megumi : saya jadi merasa tersanjung, hehe gak sehebat itu kok, masih banyak kekurangan...:D ini udah dilanjut kok...hehe

nah, akhir kata RnR Pleaseeeee... Arigatou~