Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

Pair : Sasuke & Sakura

Genre : Horror, Mystery, little romance (maybe)

.

.

.

Enjoy With This Story

.

.

.

Kejarlah aku sampai kau tak mampu lagi mengejarku,

Satu nyawa akan pergi jika kau tak mampu menemukanku,

Raga tanpa jiwa, berjalan dalam kegelapan malam,

Senandung sedih selalu ku lantunkan…

Temukanlah aku maka aku akan menemukanmu,

Mawar berdarah akan selalu menuntunmu,

Jerit kesakitan akan terngiang di kepalamu,

Jangan lari atau kau tak akan kembali,

Pilihan adalah salah satu kunci hidupmu,

Pilih satu atau kau akan terjebak disini bersamaku selamanya….

.

.

.

Chapter 4

"hah hah hah hah…"

Suara helaan nafas putus-putus keluar dari seseorang yang tengah berlari menyusuri koridor panjang. Kaki jenjangnya terus berlari dengan tergesa-gesa. Sesekali kepala yang dihiasi surai pirang panjang menengok takut kearah belakang. Wajah gadis itu terlihat takut dan pucat. Seragam yang ia kenakan sudah berantakan. Keringat lelah dan keringat dingin bercampur jadi satu membanjiri tubuhnya.

"hahh, hahh…hahh" Gadis itu berhenti berlari dan kedua tangannya menumpu pada kedua lututnya. Menghirup dalam-dalam oksigen disekitarnya. Matanya yang sewarna mutiara tak berhenti mengawasi keadaan sekitarnya. Mulutnya masih membuka menutup karena lelah.

"hah..Shitt…! siapa hahh dia…" ucap gadis itu dengan nafas yang masih putus-putus.

"kemarilah…jangan lari. Aku akan menggapai tanganmu…"

Sebuah suara rendah terdengar menggema di sepanjang lorong yang sepi. Gadis itu –Shion nama panggilannya- menegakkan tubuhnya kala mendengar suara itu.

'WUSHHH'

Hembusan angin lumayan kencang menerpa tubuhnya. Keadaan lorong yang gelap karena hari sudah petang menambah suasana semakin mencekam. Shion memegang tengkuknya yang terasa meremang.

'WUSHH'

Sebuah bayangan melintas di belakang Shion. Gadis itu lalu membalikkan tubuhnya kearah belakang. Tubuhnya gemetar kala tak ada siapapun yang terlihat.

"tunjukan ketakutanmu. Menjeritlah karena ketakutanmu… berputus asalah karena tak ada kesempatan bagimu…"

'DEGG'

Badan Shion semakin gemetar dan suhu tubuhnya semakin mendingin kala gendang telinganya mendengar sebuah bisikan dari samping kanan tubuhnya. Tubuhnya serasa kaku tak bisa bergerak. Hawa dingin semakin menyelimuti tubuhnya. Dadanya serasa sesak, seolah tak ada oksigen yang mampu ia hirup. Dengan memberanikan diri, Shion menolehkan lehernya agak kaku kearah kanan.

"aa..aa..a" tenggorokkan Shion serasa semakin tercekat kala melihat sosok menyeramkan yang tengah berdiri dekat di sampingnya. Mulutnya tak dapat menyuarakan teriakan, hanya membuka dan menutup. Sosok seram dengan baju putih, wajahnya yang menunduk tak terlihat dikarenakan rambut panjang sosok itu menutupinya. Namun Shion masih bisa melihat wajah pucat dan bibir pucat yang menyeringai dari balik celah rambut sosok itu.

"manjeritlah…"

"KYAAAAAAAAAAAAAAAAA….."

Seolah kata yang dikeluarkan sosok itu adalah mantra, Shion lansung menjerit dan melangkahkan kaki jenjangnya berlari menjauhi sosok itu yang masih mempertahankan seringaian seram. Shion terus berlari tak tentu arah. Kakinya terus berlari melewati lorong dan menaiki tangga. Gadis itu tak berniat untuk berhenti walaupun tubuhnya telah lelah dan nafasnya hampir habis. Yang ia pikirkan saat ini adalah bagaimana caranya agar ia tidak bertemu dengan sosok menyeramkan yang mengejarnya.

Tak mampu lagi berlari, Shion menghentikan langkahnya di lorong lantai 3. Tubuhnya bersender di tembok dingin lorong. Tak kuasa menahan lelah, tubuh Shion merosot terduduk di lantai. Nafasnya memburu. Dadanya naik turun tak teratur. Keringat megalir deras dari pori-porinya membasahi seragam putih yang ia kenakan. Shion menjambak rambut pirang panjangnya dengan kasar. Tawa keputusasaan keluar dari bibirnya yang bergetar.

"HAHAHAHAHAHAHA…."

Gadis itu lelah, gadis itu putus asa. Kakinya sedari tadi terus berlari namun tak kunjung bisa keluar dari gedung sekolahnya. Seolah sekolahnya tak memiliki pintu untuk keluar. Seolah dirinya telah terpenjara di bangunan ini.

"Hikss, hikss, hikss…" tangisan putus asa keluar dari bibir tipisnya. Ia memeluk lututnya, menenggelamkan wajahnya ditekukkan lututnya.

"raihlah tanganku dan kau akan terbebas dari ketakutanmu…."

Suara sosok misterius yang mengejarnya terdengar lagi. Tak memperdulikan suara itu, Shion terus terisak semakin keras.

"tak ada gunanya air mata. Tak ada gunanya kesedihan…kau terjebak disini dan aku menemukanmu…"

Sosok itu lalu muncul tepat di depan Shion yang masih terduduk di lantai. Merasakan kehadiran sosok itu, Shion dengan mata sembab mendongak menatap sosok itu dengan pandangan kosong. Sosok itu mengulurkan tangannya yang pucat kearah Shion. Seolah terhipnotis, tangan Shion perlahan terulur menggapai tangan sosok di depannya. Air mata terus mengalir dari kedua bola mata Shion. Tangan Shion perlahan bersentuhan dengan tangan dingin dari sosok itu.

"kau memilih pilihan yang salah…"

Cengkeraman tangan sosok itu semakin mengencang kala telapak tangan Shion meraih tangan sosok itu. Kuku sosok itu tiba-tiba memanjang dan menggores atau bahkan menusuk telapak tangan Shion. Darah segar menetes dari telapak tangan Shion. Kulit tangannya yang semula berwarna putih kini telah berwarna merah pekat akibat darah yang terus keluar. Tak ada teriakan kesakitan darinya. Mulutnya bungkam dan pandangan matanya kosong menatap lurus kearah sosok misterius itu.

Sosok itu lalu mengulurkan satu tangannya lagi menggapai leher jenjang Shion. Masih dengan mencengkeram erat telapak tangan Shion, sosok itu juga mengeratkan cengkeraman tangannya di leher Shion.

"aaa…a..aa" mulut Shion hanya mampu menyuarakan kata ambigu. Tak menghiraukan kesakitan dari Shion, sosok itu semakin mengeratkan cekikan di leher Shion. Memiringkan kepala Shion kesamping dan…

'KREKK'

Tulang leher Shion patah. Tubuh Shion lalu tergeletak berbaring di koridor yang gelap. Darah menggenang di lantai koridor yang berasal dari telapak tangan Shion yang tertusuk kuku tajam dari sosok itu. Shion meregang nyawa dengan keadaan leher patah, mulut terbuka, serta kedua matanya yang melotot. Raut wajahnya seolah menunjukan ketakutan dan kesakitan.

Sosok itu menegakkan kepalanya memperlihatkan sebagian wajah pucatnya. Kabut putih tebal perlahan muncul dang menyelimutinya. Sosok itu lalu melayang kearah ujung lorong yang gelap. Lalu dengan perlahan menghilang dengan membawa jiwa baru yang baru saja direnggutnya. Menyeret jiwa baru itu dengan menjambak rambut pirang panjangnya. Mereka menghilang dibalik kabut putih di ujung lorong koridor sekolah yang gelap dan sepi.

"aku datang menjemput kesakitan….aku datang membawa ketakutan….dengarkan senandungku dan kau akan tenang…"

"AAAAAAAAAAAAAAAAA…."

Teriak Sakura yang terbangun dari tidurnya. Mimpi buruk membangunkan tidurnya yang nyenyak. Keringat dingin membanjiri tubuhnya. Nafasnya juga tersengal-sengal.

"hahh, hahh…hahh. Mimpi…."

Sakura mengusap wajahnya dan memandang jam weker yang terletak di atas meja samping tempat tidurnya.

"jam 2 pagi…dan aku terbangun karena mimpi buruk? Hahhh…" gumam Sakura kepada diri sendiri. Menyingkap selimut tebal yang menutupi tubuhnya, Sakura lalu mendudukkan dirinya ditepi ranjang queen sizenya. Tangan putihnya lalu terjulur meraih segelas air putih yang ada di atas meja samping tempat tidurnya dan meneguknya hingga tinggal seperempat gelas. Sakura lalu berdiri dan melangkahkan kaki telanjangnya kearah jendela besar yang seperti pintu yang ada di kamarnya. Membuka jendela itu, Sakura lalu melangkahkan kakinya menuju balkon dan menyenderkan tubuhnya pada pagar balkon. Kepala merah mudanya mendongak menatap langit malam yang dipenuhi bintang. Bulan pun turut hadir dalam keremangan malam ini. Gaun tidur yang Sakura yang menjuntai sebatas mata kaki melambai-lambai tertiup angin malam yang dingin.

"mimpi tadi….seperti nyata…"

'WUSHHH'

Lagi-lagi angin berhembus lumayan kencang memasuki kamar luas Sakura dan berhembus membuka lembaran-lembaran buku diary di atas meja belajarnya yang Sakura temukan. Tanpa Sakura sadari, lampu di kamarnya berkedip-kedip. Sesosok makhluk berbaju putih panjang terlihat berdiri tepat di samping rabjangnya dengan wajah menunduk tertutupi helaian rambut panjangnya.

.

.

.

.

"wahhh, lagi-lagi ada korban.."

"kasihan sekali dia…"

"siapa yang melakukan ini ya…"

Bisik-bisik kerumunan siswa di koridor sekolah menjadi nada utama dipagi hari. Lagi-lagi salah satu siswa TSHS menjadi korban pembunuhan. Seorang gadis berambut merah muda –Sakura mendekati kerumuman siswa.

"ahh, gomen sebenarnya ini ada apa?" tanya Sakura kepaada salah satu siswa di koridor.

"Shion, siswi kelas XI-C menjadi korban pembunuhan seperti dua siswa kemarin…"

'DEGG'

Tubuh Sakura menegang kala mendengar nama seseorang yang tadi malam ada dimimpinya. Jantungnya mendadak berdetak lebih cepat. Tanpa permisi, Sakura lalu berlari menerobos kerumunan siswa. Seketika bola mata emeraldnya melebar tak percaya melihat mayat seorang gadis pirang yang terbaring di lantai dengan leher patah, mulut terbuka, mata melotot serta darah yang mengalir deras dari telapak tangan Shion yang terkoyak.

"ti-tid-tiddakk mungkin.." ucap Sakura membungkam mulutnya tak percaya. Sakura semakin terkejut kala melihat setangkai bunga mawar merah dengan daun hitam yang berada pada genggaman tangan Shion.

"ma-ma-mawarrr…"

Tubuhnya yang bergetar perlahan mundur kebelakang keluar menjauhi mayat Shion. Air mata perlahan mengalir dari emerald indahnya yang masih terbelalak tak percaya.

'BRUKK'

Langakah mundur Sakura terhenti kala punggung kecilnya menanabrak sesuatu yang keras.

"Sakura…" panggil seseorang yang Sakura tabrak. Suara itu, Sakura hafal betul suara milik siapa itu. Tanpa babinu lagi, Sakura segera membalikkan badannya dan langsung memeluk tubuh orang yang ada di belakangnya.

"Sa-sasuke-kun…hikss hikss…" Sakura menangis menenggelamkan kepala merah mudanya pada lekukan leher orang yang ia peluk dengan erat.

"heiii…ada apa?" orang itu –Sasuke bertanya dengan khawatir seraya membalas pelukan kekasihnya –Sakura.

"hikkss, hikss…a-aku me-melihatnya Sasuke-kun…" ucap Sakura dengan sesenggukkan. Sasuke mengerutkan dahinya tak mengerti dengan perkataan Sakura. Melepaskan pelukannya pada Sakura, Sasuke lalu memandang wajah Sakura tak mengerti.

"melihat apa Hime…?" tanya Sasuke dengan nada lembut semari tangan besarnya menghapus air mata yang mengalir di pipi Sakura.

"ak-aku, aku melihat Shion mati…"

"hn, dimana ?"

"didalam…mimpiku…" ucap Sakura dengan nada lirih seraya menundukkan kepalanya. Sasuke lalu menempatkan kedua telapak tangannya di kedua pipi Sakura dan mengangkat wajah Sakura dengan pelan. Onyx milik Sasuke memandang dalam emerald indah Sakura.

"ceritakan padaku…" tuntut Sasuke pada Sakura yang menganggukkan kepala merah mudanya menurut.

Dan disinilah mereka berada sekarang. Berada di ruang kesehatan sekolah dan membolos jam pelajaran pertama karena Sakura mendadak kepalanya terasa pening dan meminta Sasuke mengantarkannya ke UKS sekaligus Sakura akan menceritakan tentang mimpi buruknya semalam. Sakura berbaring di ranjang, sedanagkan Sasuke duduk di sampingnya sembari membelai sayang kepala Sakura.

"jadi….apa yang semalam kau mimpikan hmm…?" tanya Sasuke dengan memandang Sakura lembut.

"mimpi buruk kah…?" tanya Sasuke lagi.

"ya, aku melihat Shion mati dimimpiku…dan pagi ini terbukti mimpiku benar terjadi dengan keadaan Shion yang sama persis dengan mimpiku Sasuke-kun…"

"di koridor, leher patah, mulut terbuka, mata melotot, telapak tangannya terkoyak….dan, dan juga mawar merah itu Sasuke-kun…semuanya sama persis dengan mimpiku Sasuke-kun…" lanjut Sakura lagi dengan pandangan berkaca-kaca. Sasuke yang melihat kekasihnya seperti itu segera menarik kepala merah muda Sakura ke dalam dekapan hangatnya. Tangan Sakura mencengkeram kuat seragam putih milik Sasuke. Air mata pun melesak kembali dari mata emeraldnya.

"ssttt, jangan menangis Hime…mungkin itu hanya kebetulan saja…"

"ta-tapi…tapi ini seperti nyata Sasuke-kun. Bahkan aku melihat sosok yang membunuh Shion…sosok wanita menyeramkan dengan gaun putih panjang, wajahnya tertutup rambut panjangnya, dan…dan kuku tangannya yang panjang…semuanya terlihat jelas…" ucap Sakura seperti meracau.

"hikss…bahkan seringai seramnya masih teringat jelas olehku Sasuke-kun… hikss a-aku sangat takut hikss…" ucap Sakura lagi dengan tangis yang semkin kencang.

"apa pun itu…aku akan selalu berada disampingmu Sakura… jangan menangis dan jangan takut, dan semoga itu hanya sesaat saja…"

.

.

.

.

'SREKK SREKK'

Suara lembar buku terbuka menampakkan sederet tulisan rapi yang tersusun sedemikian rupa di dalam buku yang berjudul 'Justice'. Buku karya ilmuwan terkenal dari Spanyol. Buku ini menceritakan sebuah kehidupan kota terpencil yang masih jauh dari keadilan. Buku yang membuat sang pembaca merasa tertarik dan membacanya. Seorang gadis dengan helaian merah muda sepunggungnya yang poni panjangnya tergerai lembut dikedua sisi wajah ayunya. Sedikit peluh pada wajahnya karena pengaruh musim panas tidak membuat sang gadis terlihat berantakan namun lebih terkesan hot. Bola mata emerald indahnya ikut bergerak menyusuri deret demi deret tulisan yang terpampang di buku yang sedang ia baca. Gadis itu –Sakura- sedikit menghembuskan nafas dan mengerutkan dahi lebarnya kala membaca sederet kalimat yang menurutnya miris.

Keadilan yang berujung pada kematian. Keadilan yang absurd. Keadlian yang benar-benar bukan keadilan. Sesuatu yang membelenggu sebuah kota istimewa yang penuh dengan kemasyuran. Pemerintah tutup mata seakan tak peduli dengan keadaan sekitar. Hanya kekuasaan dan harta melimpahlah yang mereka pedulikan. Lalu dimanakah letak keadilan itu sendiri?

Sedikit decihan pelan keluar dari bibir tipis Sakura. Batinnya merasa tak terima dengan pemerintah yang dengan seenaknya tak peduli pada masyarakat terpencil. Lembar demi lembar buku kembali ia baca. Masih membaca dengan tak bersuara. Hanya bola matanya yang bergerak dan sesekali berbagai ekspresi ia tampilkan di wajahnya. Keadaan perpustakaan di sekolahnya semakin sepi dan hening. Semua siswi yang berada di perpustakaan tak ada yang bersuara karena memang begitulah peraturannya. Tidak ada yang boleh bersuara atau berisik di perpustakaan. Walau tanpa peraturan pun mereka tak akan berani bersuara dikarenakan sang penjaga perpustakaan yang terkenal sangat galak.

"lalalala….nananana…na~…"

Sebuah suara lirih seperti orang yang tengah bernyanyi tertangkap indera pendengaran Sakura. merasa terganggu, Sakura mendongakkan wajahnya melihat kearah sekitar siapa kiranya yang berani bersenandung di perpustakaan. Diliriknya satu persatu siswa di perpustakaan, namun nihil. Tak ada seorang siswi pun yang bersenandung. Semuanya larut dalam bacaan mereka. Berusaha acuh, Sakura lalu memfokuskan diri kembali pada buku yang berada di tangannya. Kembali menyusuri deret demi deret kalimat.

"nanana…nana…nanaana~…"

Lagi. Suara senandung itu terdengar lagi. Kali ini suara itu berasal dari sudut belakang perpustakaan. Sakura lalu meletakkan bukunya di atas meja dan melangkahkan kakinya dengan pelan kearah asal suara. Berjalan diantara rak-rak tinggi yang berisi buku-buku pengetahuan dan juga berkas-berkas lama sekolah. Langakah pelan Sakura terhenti kala gendang telinganya tak menangkap lagi senandung lirih itu. Netra hijaunya menelisik lewat celah-celah susunan buku yang sedikit renggang. Sepi. Tak ada siapapun. Tentu saja tak ada siapa-siapa. Mana mungkin siswa membaca di sudut perpustakaan yang sepi, gelap, dan berdebu. Kecuali jika orang itu ingin melakukan sesuatu yang tak senonoh tentunya. Langkah Sakura kemudian akan berbalik menuju bangkunya jika saja senandung itu tak terdengar lagi. Menajamkan indera pendengarannya, Sakura lalu melangkah kembali sembari bola matanya menelisik keadaan sekitar.

"aku disini….dengan kebenciaan dalam diriku~…."

Senandung itu semakin jelas terdengar. Kali ini senandung itu tidak berupa gumaman melainkan rangkaian kata namun masih dengan nada yang lirih dan miris.

"mencari suatu kepastian yang tak pasti…menunggu kau datang padaku dan menggenggam tanganku…lalalala…"

Suara senandung itu semakin terdengar. Sakura berhenti melangkah kala netra hijaunya menangkap sekelebat bayangan yang seolah melintas di belakangnya. Menengokkan kepala merah mudanya kebelakang namun tak menangkap seorang pun disana.

"mungkin hanya perasaanku saja…" gumam Sakura dan mulai melangkah lagi mencari sosok yang bersenandung dengan pilu. Bulu kuduknya entah kenapa mendadak meremang. Suhu disekitarnya berubah drastis menjadi pengap dan dingin.

"hiksss…kemana janjimu pergi…kemana cintamu bersambut…hikss hikss"

Disana, di antara rak ke-3 dan ke-4 dari belakang, terlihat seseorang dengan gaun putih panjang menutupi kakinya. Kepalanya tertunduk dengan kedua tangan putih pucatnya menutupi seluruh wajahnya. Rambut hitam panjangnya pun menjuntai panjang sebatas punggung. Suara isakan pilu serta untaian kata yang keluar darinya menambah kesan ada apa gerangan dengannya.

"hiksss, tak pernah bicara…tak pernah mencinta. Hiksss…aku…hiksss"

Suara isak tangisnya semakin menjadi. Dengan memberanikan diri, Sakura perlahan mendekat. Jarak dirinya dengan sosok itu tak lebih dari satu meter. Tangan kanan Sakura lalu terjulur mencoba menyentuh tubuh bergetar sosok yang ada di hadapannya. Tinggal beberapa centi lagi tangan Sakura menyentuhnya. Namun sebelum hal itu terjadi, sosok itu menoleh kearah Sakura dengan wajah pucat serta seringai yang mengerikan. Sakura tersentak kaget dan tubuhnya terdorong hingga membentur rak buku.

"Akhhhh…" ringis Sakura kesakitan dan memegang bahu kanannya yang terantuk rak kayu.

"heii…apa yang k-" bola matanya membulat tak percaya kala tak mendapati sosok yang barusan ia temui. Menegakkan tubuhnya lagi, Sakura menengok kekanan dan kiri mencari sosok bergaun putih. Namun tak ada, hanya angin yang berhembus melalui celah ventilasi jendela.

'SETTT'

Tubuh Sakura berbalik lagi kala merasakan ada seseorang yang lewat di belakangnya. Namun, selembar kertas dengan warna putih yang sudah menjadi coklat terjatuh menyentuh lantai penasaran, Sakura lalu membungkuk dan meraih kertas itu. Kosong. Tak ada tulisan apa pun di wajah kertas yang Sakura lihat. Ingin menelisik lebih lanjut, Sakura membalikkan kertas itu. Sehingga wajah kertas yang semula diatas menjadi di bawah.

'DEGG'

Tubuhnya menegang membaca 2 kata yang tersusun menjadi sebuah nama. Nama yang tak asing lagi baginya belakangan ini. Sebuah nama yang entah kenapa belakangan ini ia pikirkan. Sebuah nama yang tanpa sengaja atau mungkin disengaja yang muncul di buku diary bersampul merah pudar yang ia temukan disini –perpustakaan. Ya, nama itu adalah…

.

.

.

"Kurime Megumi..."

.

.

.

...Secret Ghost...

ToBeContinued….

Yoshh, apa kabar minna? Selalu baik kan…hehehe kali ini saya balik lagi dengan membawa chapter 4 dari 'Secret Ghost'. Gomen yang udah nunggu lama, dan gomen juga kalo lagi-lagi cerita saya kurang memuaskan….

Saatnya balas review~….

00 : hmmm…penasaran? Ikuti aja terus cerita saya, pasti kamu bakal tau deh…heheh (Author modus..:P) dan bukan Terumi Megumi, tapi Kurime Megumi. Tapi gpp kok, itu gak dipermasalahkan,… saya sudah sangat senang dengan kamu mereview fanfic gaje saya…hehehe semoga suka dengan chapter 4 ini ne… arigatou,

Mantika mocha : ya arigatou mantika-san (bolehkan panggil kaya gitu?hehe) dan ini chapter selanjutnya, semoga suka…:D

Uchiha Ouka : iyaaaa Ouka-san, ini juga udah di lanjut kok,.. dan Orochi? Hmmm, terimakasih sudah mau menebak…#plakkk hehe. Semoga chapter ini tidak terlalu mengecewakan ne…

Eysha Cherryblossom : iya Eysha-san,…Kurime Megumi itu OC. Entah kenapa saya langsung kepikiran nama itu…:D datang tak diundang itu nama…kekeke dan soal yang diincar semacam Lee dan Shion itu masih rahasia, #AuthorSokMisteriusXD# arigatou sudah me-Review lagi,,,:D

Huahhhh, arigatou gozaimasu buat minna-san yang sudah mengapresiasi cerita saya… akhir kata, KEEP REVIEW AND REVIEW AGAIN PLEASE….!

RnR