Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

Pair : Sasuke & Sakura

Genre : Horror, Mystery, little romance (maybe)

.

.

.

Enjoy With This Story

.

.

.

Kejarlah aku sampai kau tak mampu lagi mengejarku,

Satu nyawa akan pergi jika kau tak mampu menemukanku,

Raga tanpa jiwa, berjalan dalam kegelapan malam,

Senandung sedih selalu ku lantunkan…

Temukanlah aku maka aku akan menemukanmu,

Mawar berdarah akan selalu menuntunmu,

Jerit kesakitan akan terngiang di kepalamu,

Jangan lari atau kau tak akan kembali,

Pilihan adalah salah satu kunci hidupmu,

Pilih satu atau kau akan terjebak disini bersamaku selamanya….

.

.

.

Chapter 6

'BRUKK'

Sakura menjatuhkan tubuh rampingnya berbaring di ranjang Queen sizenya dengan lengan kanan yang menutupi matanya. Tubuhnya hari ini benar-benar merasa lelah. Padahal ia tak melakukan sesuatu yang berat. Hanya tadi sore saja ia berlari dari perpustakaan menuju tempat parkir di sekolahnya. Selebihnya dia masih santai-santai saja. Ah, mengingat tentang perpustakaan, Sakura sedikit berpikir kenapa sosok itu muncul dengan aura yang berbeda pada saat ia bertemu sebelumnya. Yah…walaupun bagaimanapun juga hantu itu seram, tapi entah mengapa sosok perempuan yang Sakura jumpai tadi sore sangat berbeda dengan saat ia melihatnya di sudut perpustakaan. Sosok hantu perempuan tadi sore lebih terkesan menyeramkan, sangat dingin, tidak bersahabat, dan juga seolah penuh kebencian. Sedangkan sosok hantu perempuan yang sebelumnya lebih bersahabat. Auranya pun tak semenyeramkan tadi sore. Sosok yang ia temui di sudut perpustakaan terkesan sangat menyedihkan dan amat sangat rapuh.

Kelopak mata Sakura semakin memberat. Ia merasa sangat mengantuk sekarang. Masih dengan seragam sekolah yang melekat ditubuhnya, Sakura dengan perlahan tertidur menuju alam mimpinya.

.

.

.

.

Seorang gadis berumur sekitar 17 th berjalan menyusuri sebuah lorong panjang. Suara gesekan kakinya dengan lantai terdengar jelas menggema. Rambut merah muda panjangnya berayun kekanan dan kiri. Bola mata sewarna batu emeraldnya memandang intens setiap sudut ruangan. Kaki jenjangnya melangkah dengan ringan. Uap nafasnya terlihat mengepul dari mulut dan hidungnya dikarenakan suhu yang dingin. Lorong atau koridor yang sepi dan gelap tak membuat gadis berambut merah muda yang bernama Sakura untuk menghentikan langkahnya. Langkah kakinya membawa tubuhnya kesebuah ruangan luas dengan banyak rak-rak buku yang menjulang tinggi.

Langkahnya terhenti di tengah perpustakaan. Sakura memutarkan tubuhnya 360° dengan iris emeraldnya yang ikut berputar menelisik perpustakaan. Ruangan perpustakaan seolah ikut berputar seperti dirinya. Tak ada cahaya lampu yang menerangi perpustakaan. Hanya kelip cahaya kilat yang silih berganti membias keremangan perpustakaan yang sunyi dan gelap.

"Aku tak mampu menggapaimu…tak pernah bisa~…"

Sebuah senandung tertangkap gendang telinga Sakura. senandung lirih namun terdengar menggema di ruang perpustakaan. sebuah senandung yang seolah-olah berputar karena terdengar menggema di setiap sudut perpustakaan. Lagi-lagi Sakura merasa seperti berputar-putar.

"Kau jerat aku dengan semua tipu dayamu…kau lepas aku dengan semua kebohonganmu…"

Lagi. Senandung itu semakin keras terdengar oleh gadis merah muda yang sedari tadi masih setia berada di tengah perpustakaan dengan kepala merah mudanya yang selalu bergerak gelisah mencari sesuatu. Sampai saat emerald indahnya menangkap sesosok perempuan bergaun putih yang berada tak jauh di depannya. Dengan masih serasa berputar, Sakura memfokuskan emeraldnya kearah sosok perempuan itu yang menatapnya. Mata sosok itu tak terlihat dikarenakan sebagian wajahnya tertutupi oleh helaian rambut hitam kusamnya. Bibir pucat sosok itu terus bergerak menyuarakan seuntaian kalimat putus asa.

"Aku disini terjebak dengan jiwaku yang lain. Sisi kelam diriku selalu menguatkanku…"

'SETTT'

Dengan sekejap mata, kini sosok itu telah berdiri berhadapan dengan Sakura. mungkin jarak antara Sakura dengan sosok perempuan itu hanya sekitar setengah meter. Saling tatap. Itulah yang terjadi diantara kedua perempuan berbeda alam itu. Seolah tak punya rasa takut, Sakura semakin memandang intens sosok yang berdiri di hadapannya mencoba melihat kedalam mata tanpa pupil yang tersembunyi dibalik rambut yang menutupi wajahnya. Sakura hanya terpaku pada sosok itu. Tak bersuara atau mungkin tak bisa bersuara karena terlalu terkejut akan keadaannya saat ini. Sakura masih bingung dengan keadaan yang dialaminya saat ini. Setahunya, ia sedang tidur di kamarnya karena kelelahan. Tapi kenapa tiba-tiba dia berada di gedung sekolahnya tepatnya perpustakaan sekolahnya saat tengah malam begini?. 'apa ini mimpi?' begitulah pikir Sakura.

"Kau yang menemukannya, kau lah yang bertanggung jawab…"

Sosok itu bersuara dengan lirih dan dingin. Sakura tak mengerti apa yang dikatakan sosok itu. Ia hanya diam dan mendengarkan setiap kata lirih dari sosok perempuan atau lebih tepatnya hantu perempuan yang ia dan teman-temannya selidiki.

"Temukan aku atau akan ada banyak jiwa terbelenggu bersamaku.."

Sekarang Sakura mengerti kemana arah pembicaraan dari sosok itu. Ia tidak bodoh tentu saja. Prestasinya menempati posisi 5 besar di TSHS. Tentu saja dengan otak yang encer ia dapat dengan mudah memahami pembicaraan hantu didepannya. Namun ia memilih bungkam. Sejujurnya Sakura merasa sedikit rasa takut dalam dirinya. Bagaimanapun juga sosok di hadapannya merupakan sosok astral yang gelap dan menyeramkan. Oh, dan jangan lupakan bahwa sosok itu yang membunuh teman seangkatannya dengan keji.

"Kurime Megumi…" entah kenapa mulut Sakura malah menyuarakan nama misterius yang akhir-akhir ini mengganggu pikirannya. Sosok itu sedikit mendongakkan kepalanya kala mendengar gumaman dari Sakura.

"Dua sisi diriku akan saling berbenturan. Lemah itulah diriku, gelap itulah kekuatanku…"

Tangan pucat sosok itu terulur. Jari telunjuk dan jari tengahnya menyentuh dahi lebar Sakura. Dingin. Itulah yang Sakura rasakan ketika ujung jari pucat sosok itu menyentuh dahinya. Tubuh Sakura menegang. Tubuhnya semakin kaku tak bisa digerakkan. Nafasnya serasa sesak dan berat kala emerald indahnya bertatapan langsung dengan mata dari sosok perempuan di depannya. Mata yang berwarna hitam itu menatapnya dengan berbagai ekspresi yang terpendam. Sedih, kecewa, putus asa, bahkan rindu ada pada bola mata itu.

"Diriku yang lemah akan menuntunmu. Tapi…larilah jika diriku yang gelap yang kau temukan…"

'SETTT'

'DEGG'

Tubuh Sakura semakin menegang saat sosok hantu perempuan yang ada di hadapannya menghilang dan kembali muncul di belakangnya. Secepat mata Sakura berkedip, sosok itu dengan cepat menghilang dan muncul lagi di tempat yang berbeda. Kanan, kiri, depan, belakang, sosok itu seolah mempermainkan bola mata emerald Sakura yang terus mengikutinya. Perpustakaan itu bagi Sakura serasa berputar dengan semakin cepat mengikuti atensi menghilang dan muncul kembali sosok itu yang semakin cepat pula. Kepala Sakura serasa pening karena perputaran yang ia rasakan.

'BRUGHH'

Tubuh Sakura tiba-tiba terlempar membentur tembok perpustakaan. Sakura merintih kesakitan memegang bahunya yang menghantam keras tembok.

"Ughhh~…." Suara lenguhan sakit semakin menjadi. Sosok hantu perempuan pelaku pelemparan tubuh Sakura berdiri di tempat tadi Sakura berdiri dan menatap Sakura dengan tajam. Sakura memberanikan diri mendongak menatap sosok itu tepat pada bola mata tanpa pupil yang nyalang. Berbeda. Begitulah pikir Sakura. Tak ada lagi bola mata hitamnya, tak ada lagi kesedihan, kekecewaan, dan kerinduan yang terpancar. Sekarang yang ada adalah pancaran kemarahan, dendam, dan kebencian.

'gelap. Inikah dirinya yang lain yang ia maksud?' tanya Sakura dalam hati. Sakura mencoba berdiri dengan menyangga tubuhnya pada tembok perpustakaan. iris emeraldnya melebar menatap sebuah kursi kayu yang tak jauh darinya yang bergerak bergetar. Sakura lalu memandang sosok perempuan yang tengah menganggkat tangannya menunjuk bangku kayu itu. Emerald Sakura semakin melebar kala melihat bangku kayu yang tadi bergetar kini terangkat dan dengan cepat melayang kearahnya.

'BRAKK'

Hancur. Kursi kayu itu hancur berkeping-keping membentur tembok. Sakura menghela nafas lega karena dapat menghindar dari hantaman kursi kayu itu. Melihat ada kesempatan untuk menghindar dari sosok itu, Sakura meraih knop pintu perpustakaan dan membukanya dengan tergesa. Kaki jenjangnya berlari dengan sekuat tenaga menjauhi perpustakaan dan juga menjauhi sosok hantu perempuan yang mengerikan.

'DRAP DRAPP DRAPP'

Suara langkah kaki Sakura menuruni tangga. Dengan nafas terengah, Sakura masih berusaha berlari berusaha keluar dari gedung Sekolahnya. Sakura berhenti di pertigaan koridor sekolahnya. Sakura berhenti dan membungkukkan tubuhnya dengan kedua tangan yang memegang lututnya. Meraup oksigen disekitarnya dengan rakus. Benar-benar lelah dan menyesakkan. Bola mata Sakura melebar kembali kala sosok yang ia takuti kini berada tepat di hadapannya lagi. Sakura yang masih membungkukkan badannya hanya mampu melihat bagian bawah sosok itu yang tertutupi gaun putih panjang.

"Inilah sisi gelap dalam diriku…."

Tangan putih hantu perempuan yang ada dihadapannya menyentuh leher Sakura. Perlahan, tubuh Sakura terangkat naik. Cekikan sosok itu semakin kencang.

"Aaa…aa.." nafas Sakura semakin sesak. Kedua tangan putih Sakura berusaha sekuat tenaga melepaskan cekikan kuat sosok perempuan di depannya. Rontaan kaki Sakura turut andil dengan menendang-nendang udara berharap akan terlepas. Sosok itu hanya menyeringai seram tak menghiraukan gadis dalam cekikannya yang terus meronta. Tak putus asa, tangan kanan Sakura lalu beralih merogoh saku rok kanannya dan mengeluarkan sebuah alat tulis yaitu pulpen tanpa penutup yang entah dari mana ada di saku roknya.

'CRUKK CRUKK'

Dengan sekuat tenaga Sakura menusukkan ujung pulpen yang runcing pada tangan pucat yang tengah mencekiknya. Darah berwarna merah kehitaman mengalir dari luka bekas tancapan pulpen. Wajah putih Sakura tak luput dari noda darah itu.

'BRUKK'

Cekikan dari sosok itu terlepas dan tubuh Sakura terjatuh di lantai dengan cukup keras. Melihat sosok itu yang masih terdiam sambil melihat tangannya yang mengeluarkan darah, Sakura lantas berdiri dan dengan terseok melangkah menaiki tangga untuk menghindar dari hantu yang mengejarnya. Dan disinilah akhirnya Sakura berada. Di atap sekolahnya yang berbatasan langsung dengan langit malam. Sakura berjalan semakin mundur hingga kakinya menyentuh tepi atap.

"Pergi….apa yang kau inginkan hah?!" teriak Sakura kepada sosok hantu berbaju putih yang masih mengikutinya dan sekarang berada beberapa meter didepannya dengan senyum mengerikan yang menghiasi wajah pucatnya.

Kepala merah muda Sakura memandang kebawah. Terlihat jalan aspal yang ia yakini jika ia terjatuh dari atap akan langsung meregang nyawa. Gadis yang identik dengan musim semi ini semakin bergetar. Dengan susah payah ia menelan ludahnya sendiri dan menatap ngeri kebawah.

"Kumohon jangan mendekat….KUBILANG JANGAN MENDEKAT…!" suara Sakura semakin keras kala sosok itu semakin mendekatinya. Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya keras sedangkan kedua tangannya mengepal dengan erat berusaha mengurangi ketakutannya.

"Mati….itulah yang aku inginkan….."

Sosok itu berujar dingin seraya semakin mendekat kearah Sakura. Sosok itu lalu mengulurkan kedua tangannya seperti hendak menerkam Sakura. Sakura yang melihatnya hanya mampu berteriak menyuruh sosok hantu dihadapannya untuk menjauh. Air mata sudah mengalir dari sudut matanya. Tubuhnya bergetar dan keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Nafasnya seakan tercekat kala sebuah dorongan menerpa dirinya dan secara slowmotion tubuh ramping Sakura perlahan terjatuh dari atap.

'Kami-sama….apakah aku akan mati?' hal terakhir yang Sakura lihat sebelum dirinya jatuh dalam kegelapan adalah sebuah seringaian mengerikan dari sosok yang tengah menatapnya dari atap sekolah. Tapi ada satu yang janggal. Ya, dirinya sangat yakin bahwa sosok hantu itu mengalirkan air mata deras dari kedua sudut matanya.

.

.

.

"Hahh…Hahh..hahh"

Sakura terbangun dari mimpi buruknya. Peluh membanjiri seluruh tubuhnya. Dadanya naik turun tak teratur. Seragam sekolah yang sejak tadi melekat di tubuhnya kini sedikit basah akan peluhnya sendiri. Sakura mendudukkan dirinya dan mengusap wajah penuh peluhnya dengan sedikit gusar. Gadis yang memiliki surai sewarna bunga sakura itu lalu mengerling jam weker di atas nakas.

"Pukul 7 malam…" gumamnya pada diri sendiri.

"Saku-chan…cepat turunnnnnn….! Makan malam sudah siaaapppp…" suara teriakan nyaring dari Kaa-san Sakura terdengar.

"Ha'I Kaa-san…" jawab Sakura tak kalah kerasnya. Sakura lalu beranjak dari kasurnya dan melangkah menuju lemari untuk mengambil baju gantinya sebelum ia masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Suara air yang mengalir dari shower menandakan Sakura telah memulai acara mandinya.

Rasa segar jelas terasa oleh Sakura kala air dingin yang mengalir membasahi kulit tubuhnya. Tanpa disuruh, ingatan Sakura tiba-tiba mengingat mimpi yang beberapa menit lalu ia alami. Mimpi itu, entah kenapa Sakura merasa mimpi itu seperti nyata. Tentang sosok hantu perempuan yang menangis, tangan pucatnya yang mencekik lehernya, suara serak yang miris, hingga seringai menyeramkan yang terpampang jelas di wajah mengerikan sosok itu. 'Tidakk tidak' Sakura menggeleng keras mencoba untuk tidak mengingat tentang sosok itu. Wajah pucat itu, rintihan sedih itu, air mata itu….

"Arrrgghhhhh…." Sakura menggeram kesal. Tangan putihnya lalu menyambar handuk kering dan melilitkan di tubuh mungilnya. Segera saja ia keluar dari kamar mandi dan mengenakan pakaian yang telah ia siapkan. Tak mau lebih lama lagi berkutat dengan pikirannya tentang sosok itu, Sakura lantas segera turun untuk makan malam bersama dengan keluarganya. Mungkin keramaian bisa menghilangkan 'dia' ne, Sakura….

…..Secret Ghost

'Tap Tap Tap'

Langkah kaki pelan dari seorang pemuda berambut hitam yang dikuncir tinggi terdengar jelas. Seperti seorang pencuri, pemuda itu mengendap-endap sembari bola mata hitamnya terus mengawasi keadaan sekitar. Tak ada siapa pun tentu saja. Jarum jam baru menunjukan pukul 05.30 pagi. Tentu saja masih sangat pagi bagi perpustakaan di TSHS untuk ramai. Bahkan mungkin siswa yang baru datang di sekolah itu bisa dihitung dengan jari.

Entah apa yan membuat keturununan Nara ini yang sangat pemalas bisa berada di perpustakaan sepagi ini. Mungkin jika ada Naruto disini, teman pirangnya akan sangat heboh dan mengatakan kalau seorang Nara Shikamaru adalah seorang alien.

"Ck, bodoh…." Dengus Shikamaru mengingat tingkah idiot Naruto. Entah bagaimana cara Shikamaru ini masuk padahal pintu perpustakaan masih terkunci dengan rapat. Hey, bukankah si jenius ini berbakat menjadi pencuri eh?.

Kepala nanas Shikamaru terlihat diantara celah buku yang berada dirak perpustakaan. Wajahnya yang biasanya menunjukan rasa kantuk pun tak terlihat. Hanya ada raut wajah yang penuh penasaran. Terbukti dengan tatapan mata hitamnya yang tak berkabut dan menatap serius keadaan. Langkah kakinya lalu terhenti di depan sebuah lemari kayu tanggung yang sempat kemarin ia buka bersama dengan teman-temannya. Masih dengan gerakan yang pelan, Shikamaru mulai membuka pintu lemari. Suara berderit nyaring terdengar. Tangan kekarnya lalu terulur kedalam lemari meraih sebuah buku –berkas bersampul kuning kotor.

'SREKK'

Jemari tangannya membuka lembar yang ia inginkan. Lembar yang sama seperti kemarin sore ia dan teman-temannya lihat. Lembar yang terdapat sebuah foto hitam putih berukuran 3x4 yang menampakkan seorang gadis berseragam berambut hitam panjang tengah tersenyum tipis. Kekasih dari Yamanaka Ino ini masih saja terfokuskan pada deret demi deret kalimat yang berada di bawah foto.

"Kurime Megumi…"gumam Shikamaru seperti berbisik.

"Alamatnya ada di Busan street No.13…"

Bermenit-menit berlalu. Pemuda Nara itu masih asyik dengan kegiatannya mencari data-data dari seseorang yang menjadi misteri. Tangan terampilnya telaten membolak-balik lembar demi lembar buku yang ia temukan. Otak jeniusnya ikut andil dalam mengingat setiap data keterangan yang sekiranya penting untuknya. tanpa ia sadari, sedari tadi setiap gerak-geriknya selalu diawasi oleh sepasang mata tanpa pupil.

"Huftt…dia pintar…"

Shikamaru menutup buku kusam yang dipegangnya. Menegakkan tubuhnya yang semula menyandar pada rak buku, Shikamaru lalu meletakkan buku itu di lemari kayu dan melangkahkan kaki jenjangnya keluar dari perpustakaan. Dia lalu menutup pintu perpustakaan dengan hati-hati, tubuh tegapnya terlonjak kaget kala indera pendengarannya menangkap sebuah suara baritone yang agak cempreng.

"Sedang apa kau disini Shika…?"

"Na-naruto…kau mengagetkanku saja…hahh" ucap Shikamaru sedikit tergagap menjawab pertanyaan dari Naruto yang tiba-tiba muncul dibelakangnya.

"Heh, kaget? Aku kan bukan hantu yang tiba-tiba muncul untuk menakutimu…" balas Naruto memicingkan mata safirenya kearah Shikamaru.

"Ah, sudahlah…aku mau ke toilet dulu. Jaa ne Shikamaru…hati-hati, pagi-pagi begini biasanya masih banyak penghuni malamnya lho…" ucap Naruto yang berlalu sembari melambaikan tangannya kearah Shikamaru yang memandang Naruto dengan tatapan heran.

"Dia bodoh atau apa…toilet kan ada di samping Lab Biologi. Kenapa si kepala durian itu malah menuju halaman belakang…?"

"Ck, mendokusai na~…"

Tak ingin ambil pusing, Shikamaru kemudian berjalan cuek meninggalkan perpustakaan. Pemuda berkuncir itu menguap malas dan meletakkan kedua tangannya di belakang kepalanya. Setiap langkah yang ditimbulkan oleh sepatunya yang bergesekan dengan lantai keramik terdengar menggema. Namun kali ini tidak sesepi beberapa menit lalu. Saat ini sudah lumayan banyak siswa yang terlihat di sekolah.

Langkah kakinya terhenti di depan sebuh pintu bertuliskan '2-2'.

"GREKK"

Pintu digeser sedikit kasar oleh Shikamaru. Mata hitamnya sontak membelalak tak percaya melihat seseorang berambut pirang yang baru saja ditemuinya kini sudah berada dikelas lebih tepatnya di bangkunya sedang serius menyalin tulisan pada sebuah buku.

"Na-Na-Naruto…" ucap Shikamaru terbata layaknya Hinata.

Pemuda pirang yang dipanggil Naruto lalu menoleh dan tersenyum lebar kearah Shikamaru.

"Yo Shika… kau sudah berangkat rupanya…"

"Naruto…bukankah kau tadi ke toilet?"

"Toilet? Tidak…sedari tadi aku disini menegerjakan PR dari Ibiki-sensei. Memangnya ada apa?" tanya Naruto dengan sebelah alis terangkat.

"Ahh, tidak. Tidak ada apa-apa…lanjutkan saja menyalin PRnya…"

Menggelengkan kepalanya heran, Naruto lalu melanjutkan kembali kegiatan rutinnya setiap ada PR.

'Naruto sejak tadi ada disini, lalu yang aku temui di perpustakaan itu siapa…' batin Shikamaru setelah mendudukan diri di bangkunya.

"Jangan-jangan….."

…..Secret Ghost

To Be Continued…..

Halooooo minnaaaaaa~… author datang lagi bawa chapter 6 dari 'Secret Ghost' nih..hehehe kan bener kan, author updetnya hari kamis, kekeke… (kali ini author tepat waktu…XD). Btw, gomen ne kalo masih ada typo yang bertebaran dimana-mana… soalnya author lg sibuk sama jadwal les yang bejibun jadi gak fokus ngeditnya…:D (Author sok sibuk…#plakk) -_- ya udah deh, saatnya buat bales ripiu dari para readers…

Eysha Cherryblossom : hahaha. Kembaran yang terpisah mungkin…#plakk (gomennasai Kimura Megumi-san…). Hmmm, bingung soal berita di koran? Authornya juga bingung…-_- hehe nggak kok bercanda.. tapi intinya koran itu juga masih jadi misteri jadi kata-katanya rada ambigu gitu…. Dan terimakasih udah mau review lagi, and review again?

: hontou ? jadi mali…#tutupMuka. Ini juga udah updet kok, semoga suka dan kamu berkenan review lagi…hehehe

Fin Uzumaki Belpois : terimakasih… author jadi tambah malu nih (#garukPipi). Ummm, pasti bakal ada yang terbunuh lagi kok, tunggu aja ne (psstttt, author suka adegan gore…XD), review again?

CelestyaRegalyana : Terimakasih sudah mau menebak…J semoga tebakanmu benar….:D

Sherlock holmes : hohoho tenang aja, author kan fans fanatic SasuSaku…pasti nanti chapter kedepannya bakal banyak adegan SasuSaku kok…ditunggu aja ne, Ganbatte !

Tamura H : uhhh, etto…*garukpipi* Tamura-san, reviewmu banyak sekali…jadi bingung author balesnya…hehehe tapi terimakasih banyak sudah mau baca dan review semua chapter yang sudah author post, author seneng deh bacanya…hehehe semoga chapter ini juga kamu baca dan review lagi ne…:D

Akhir kata REVIEW PLEASE?