Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

Pair : Sasuke & Sakura

Genre : Horror, Mystery, little romance (maybe)

.

.

.

Enjoy With This Story

.

.

.

Kejarlah aku sampai kau tak mampu lagi mengejarku,

Satu nyawa akan pergi jika kau tak mampu menemukanku,

Raga tanpa jiwa, berjalan dalam kegelapan malam,

Senandung sedih selalu ku lantunkan…

Temukanlah aku maka aku akan menemukanmu,

Mawar berdarah akan selalu menuntunmu,

Jerit kesakitan akan terngiang di kepalamu,

Jangan lari atau kau tak akan kembali,

Pilihan adalah salah satu kunci hidupmu,

Pilih satu atau kau akan terjebak disini bersamaku selamanya….

.

.

.

Chapter 9

.

.

.

Sebuah mobil mewah berwarna hitam mengkilap melaju kencang membelah jalan kota Tokyo yang lengang. Dua orang berbeda gender di dalam mobil itu menampakkan raut yang berbeda. Shikamaru yang duduk di kursi kemudi berwajah serius dengan tatapan mata yang berkonsentrasi penuh terhadap jalan di depannya. Sementara Ino yang duduk di sebelahnya menampakkan raut wajah cemas dengan terus menggumamkan kata-kata entah apa itu. Sepasang aquarime miliknya lalu beralih menatap Shikamaru dengan cemas.

"Tenanglah Ino, mereka pasti akan baik-baik saja." Ucap Shikamaru yang menyadari tatapan Ino padanya.

"aku harap begitu…"

Tak banyak pembicaraan selama perjalanan mereka. Hanya hening yang senantiasa menyelimuti. Rumah Ino berada di perumahan Konoha Street sehingga memerlukan waktu sekitar 15 menit dengan kecepatan penuh untuk sampai di TSHS.

'CKITTTTT'

Bunyi rem mobil mendadak. Tanpa pikir panjang, Shikamaru yang melihat pintu gerbang TSHS terbuka lebar segera saja memasukkan mobilnya kehalaman sekolahnya. Sampai di tempat Parker, mereka segera turun dan berlari memasuki gedung sekolah mereka dengan berbekal sebuah senter di kedua tangan mereka. Dengan menggandeng tangan Ino, Shikamaru berlari cepat memasuki gedung sekolahnya untuk mencari keberadaan Sasuke dan Sakura.

'Aku harap kalian baik-baik saja…'

'DRAPP DRAPP DRAPP'

Suara derap langkah kaki Shikamaru dan Ino terdengar jelas. Bias-bias cahaya bulan menyelinap dari balik celah ventilasi. Tirai jendela bergerak liar tersapu angin malam. Suasana yang mencekam dengan gelap yang menyelimuti. Suara hewan malam seperti kelelawar dan burung hantu terdengar menyapa gendang telinga. Ino yang merasa sedikit merinding semakin mengeratkan genggaman tangannya pada Shikamaru. Pikirannya yang kalut tertuju pada sahabatnya, Sasuke dan Sakura. Perasaan khawatir tentu ia rasakan. Batinnya terus berdoa untuk keselamatan sahabat-sahabatnya.

"Sasuke ! Sakuraaaaaa…" Shikamaru berteriak memanggil. Tapi tak ada jawaban. Hanya gema suaranya yang menjawab. Sama sekali tak ada suara kecuali suara hewan malam dan juga ranting pohon yang bergesekan dengan kaca jendela.

"Sakuraaaa…" teriak Ino mengikuti Shikamaru walaupun dengan suara yang sedikit bergetar. Keadaan yang sepi membuat gadis yang biasanya berani ini menjadi sedikit menciut nyalinya. Tentu saja takut. Sekarang ia berada di gedung sekolahnya yang sepi. Terlebih lagi malam hari dan juga jangan lupakan fakta tentang pembunuhan yang dilakukan disini. Gedung sekolahnya yang mewah ternyata terlihat seperti bangunan kosong yang mengerikan saat malam hari. Seandainya ada Naruto, pasti tak akan sesepi ini. Setidaknya Naruto yang berisik mampu mengurangi suasana yang mencekam. Tapi sayangnya saat ini Naruto dan Hinata sedang ada di Hokaido untuk melakukan pertukaran pelajar selama kurang lebih 1 bulan. Dan ia sendiri sangsi apakah Naruto bisa berisik jika sudah disini.

"Tetap di belakangku Ino…" Shikamaru berucap seraya menggenggam balik telapak tangan Ino yang sedikit dingin. Ia mengarahkan lampu senternya kearah pertigaan koridor lantai 1 sembari berjalan dengan was-was.

"Ada apa Shika…?" tanya Ino heran. Shikamaru lalu berhenti melangkah. Ia berbalik menatap Ino lekat-lekat.

"Ada yang mengawasi kita."ucap Shikamaru sedikit berbisik namun sepasang mata hitamnya terus bergulir mengawasi keadaan sekitar.

"Be-benarkah? Siapa yang mengewasi kita Shika?" tanya Ino dengan suara lirih yang bergetar.

"Ap-apakah han-hantu?" lanjut Ino lagi. Shikamaru mengernyit mendengar pernyataan Ino. Tatapan Shikamaru berubah mengintimidasi. Ia lalu menarik ino lebih dekat padanya sehingga jarak wajah mereka hanya terpaut 5 centi saja.

"Dia…"

Jeda sejenak. Tubuh Ino bergetar. Tak kuasa melihat tatapan Shikamaru yang terkesan horor, Ino menutup matanya rapat-rapat.

"….ha-han-hantu?" bisik Ino lirih dengan segala spekulasi ketakutannya sendiri. Walaupun awalmulanya dia tidk mempercayai tentang hal-hal mistis, tapi toh nyatanya setelah misteri pembunuhan yang misterius terjadi di sekolahnya dan juga kejadian-kejadian aneh yang menimpa Sakura, sedikit demi sedikit ia mulai percaya akan adanya sosok lain selain manusia. Tentunya makhluk berbeda alam yang tak kasat mata.

"Tentu-"

"Manusia…" ucap Shikamaru kemudian.

'CTAKK'

"Aww…" Shikamaru meringis sakit mendapat sebuah jitakan dari Ino.

"Kau, dasar tuan pemalas ! berani-beraninya mempermainkanku dengan ekspresi serius seperti itu hah!" Ino menatap Shikamaru dengan garang. 'sial dasar Shikamaru baka' umpatnya dalam hati merasa sebal. Bagaimana tidak sebal, dengan ekspresi sangat sangat serius yang Shikamaru perlihatkan padanya, ia pikir Shikamaru benar-benar melihat hantu Kurime Megumi yang belakangan ini berurusan dengan mereka. Tapi ternyata? Shikamaru ternyata punya bakat melucu juga.

"Kau membohongiku Shika ! kau tak melihat hantu itu, dasar pembohong !" Ino membuang mukanya sebal. Ia tak habis pikir, bisa-bisanya Shikamaru bercanda disaat menegangkan seperti ini.

"Ck, aku tidak mengatakan kalau aku melihat hantu Ino…"

"Tapi wajah horormu itu mengatakan kalau yang kau lihat itu hantu..."

"Berarti itu hanya dugaanmu saja kan…"

"Cih, sepertinya tuan Shikamaru yang genius dan pemalas ini sudah mulai pandai beralibi," kata Ino seraya melangkah dengan menghentakkan kaki meninggalkan Shikamaru yang kini malah menggaruk pipinya yang tidak gatal. Sebelum Ino benar-benar menjauh, Shikamaru terlebih dahulu memegang pergelangan tangan Ino dengan erat.

"Lepask-"

"Tetap di sampingku Ino, aku tak bohong mengenai seseorang yang mengawasi kita…"

"…." Ino diam. Lidahnya kelu tak tahu akan menanggapi ekspresi Shikamaru yang kembali serius. Perasaan takut melanda dirinya lagi. Ia menggigit bibir bawahnya dengan gemetar. Pandangannya secara kaku menjelajahi keadaan sekitar yang gelap dan sepi.

"Da-darimana kau tahu?" tanya Ino yang masih sedikit tak percaya. Bagaimanapun juga Shikamaru tadi sempat menipu dirinya dengan menunjukkan ekspresi serius seperti sekarang ini. Bahkan kali ini tatapan Shikamaru padanya menjadi tajam menusuk.

"Insting…" jawab Shikamaru singkat. Tanpa menunggu Ino berkata kembali, Shikamaru segera saja menggandeng Ino kembali menyusuri lorong sekolah dengan hati-hati.

"Bagaimana kalau instingmu salah Shika?"

"Tak ada hantu yang memiliki bayangan Ino…" jawab Shikamaru dengan sedikit malas.

"Kau…melihatnya?" lagi-lagi Ino bertanya kepada Shikamaru. Jangan tanyakan kenapa ia terus bertanya. Karena jawabannya adalah Ino tidak menyukai keadaan sekarang ini yang benar-benar sunyi. Sebenarnya ia sudah mempercayai Shikamaru tapi entah kenapa mulutnya terus saja bertanya tentang benar atau tidak. Jadi yah, mungkin karena dia merupakan gadis yang cerewet jadi mau bagaimanapun keadaannya pasti dia akan selalu mengelurkan suara.

"Ya aku melihatnya…tapi hanya sekilas," ucap Shikamaru seraya mengarahkan lampu senternya ketempat dimana ia melihat sosok yang mengawasi mereka.

"Disini, di pertigaan koridor ini aku melihatanya. Bayangannya terlihat karena orang itu berdiri tepat dimana sinar bulan yang melewati celah ventilasi mengenai tubuhnya, sehingga bayangannya terlihat memanjang." Jelas Shikamaru panjang lebar.

"Kalau begitu, apa mungkin itu Sasuke atau Sakura?"

"Ck, tentu bukan Ino. Jika itu Sasuke ataupun Sakura, pasti mereka sekarang sudah bersama kita…"

"Jika bukan, lalu apa yang harus kita lakukan Shika?" tanya Ino dengan menatap Shikamaru cemas.

"Tetap berjalan dengan hati-hati. Semoga kita bisa menemukan Sasuke dan Sakura.."

"Dan apapun yang terjadi, tetap pegang tanganku dan jangan lepaskan." Lanjut Shikamaru lagi yang kali ini dibarengi dengan usapan lembut di kepala pirang Ino. Pipi Ino bersemu merah mendapat perlakuan tak terduga dari kekasihnya. Dia merasa sangat senang dan terlindungi. Shikamaru ada bersamanya jadi tak ada yang perlu dikhawatirkan. Shikamaru pasti akan menjaga dirinya.

"Ayo kita cari Sasuke dan Sakura lagi Shika…" ajak Ino yang kini mulai bersemangat lagi. Melihat Ino yang seperti itu, mau tak mau membuat Shikamaru sedikit menarik ujung bibirnya.

"Ya…"

Mereka lalu melangkah kembali menyusuri koridor demi koridor. Sementara punggung Shikamaru dan Ino yang semakin menjauh, dari balik tembok koridor tempat seseorang yang Shikamaru lihat, muncul sosok tegap yang mengenakan pakaian serba hitam dengan sepasang matanya yang tersembunyi dibalik kacamata kotak tipisnya. Seringai penuh misteri sosok itu perlihatkan.

"Dasar bocah…"

.

.

.

.

.

Jemari Sakura bergerak perlahan. Ia mengerjapkan matanya pelan. Wajah lelah dan penuh lebam milik Sasuke lah yang pertama kali ia lihat. sepasang onyx kelam kekasihnya tersembunyi dibalik kelopak matanya. Deru nafas milik Sasuke sedikit tak teratur. Menyadari tubuh mungilnya ada dalam dekapan Sasuke, Sakura lalu sedikit menarik tubuhnya kebelakang memberi jarak. Sakura lalu memandang Sasuke yang bersandar pada tembok dengan pandangan sayu. Jemari miliknya terulur hendak menyentuh wajah lelah Sasuke kalau saja kepalanya tak berdenyut sakit.

"Ughh…" lenguh Sakura menahan sakit. Kepalanya benar-benar serasa tertusuk jarum. Sangat sakit.

"Sakura…" panggil Sasuke lirih dengan mata setengah terbuka.

"Sa-sakit Sasuke-kun…" ucap Sakura sedikit merintih. Emeraldnya terpejam erat menahan sakit dengan lelehan liquid bening.

"Ughh…" lagi-lagi sebuah erangan sakit lolos dari bibirnya. Tangan Sasuke yang lemah menggapai pundak ringkih Sakura dan menariknya perlahan dalam dekapanya kembali.

"Tenanglah, semuanya akan bail-baik saja…" mendengar suara berat Sasuke, dengan perlahan rasa sakit dikepalanya mulai berkurang. Tapi entah kenapa air matanya masih saja mengalir. Dengan penuh lelehan air mata, Sakura mendongak menatap Sasuke yang saat ini tengah tersenyum tipis kearahnya. Sebuah tepukan hangat Sasuke daratkan pada kepala merah muda Sakura.

"Sa-sasuke-kun…"

"Aku baik-baik saja Sakura, tak perlu khawatir seperti itu.."

"Tap-tapi Sasuke-kun terluka karena aku…" Sakura tersentak dengan ucapannya sendiri. Kepala merah mudanya lalu menunduk dalam-dalam penuh penyesalan.

"Maaf…" ucap Sakura lirih namun masih jelas terdengar oleh Sasuke.

"Bodoh…" bahu Sakura bergetar kembali. Isak tangis yang sedari tadi ia tahan akhirnya lolos dari bibirnya. Dia yang menyebabkan Sasuke terluka. Kekasih macam apa dirinya yang membuat kekasihnya terluka seperti ini.

"Lebih baik aku yang terluka daripada gadis yang aku cintai yang terluka…"

"Hikss…hiksss" mendengar pernyataan Sasuke mau tak mau membuat Sakura terisak semakin dalam.

"Aku baik-baik saja Saku…percayalah," Sasuke berucap meyakinkan Sakura. keadaannya memang tak terlalu buruk. Hanya sudut bibirnya yang sobek, pelipisnya juga sedikit mengeluarkan darah, dan juga Sasuke merasa tulangnya seperti remuk semua karena benturan keras. Selebihnya ia baik-baik saja. Masih sadar dan juga yang terpenting ia masih bisa bernafas.

"Hn, 11 malam.." gumam Sasuke setelah melihat jam tangan hitam yang melingkar di perelangan tangannya. Dia lalu merogoh saku celana depannya dan mengeluarkan ponsel berwarna putih miliknya.

"Ck, sial…" umpat Sasuke yang mendapati ponselnya ati tak bisa dihidupkan.

"Ada apa Sasuke-kun?"

"Hn, aku pikir bisa menghubungi Shikamaru."

"Shikamaru?"

"Ya, sebelum kesini aku sempat mengirim pesan padanya. Ponselmu?" Sakura menggeleng mendengar pertanyaan Sasuke. Ponsel miliknya ada di dalam tas selempang miliknya. Tapi sekarang tasnya hilang entah kemana.

Dengan sebelah tangan yang memegang pada tembok, Sasuke dengan perlahan bangkit berdiri walaupun dengan susah payah. Sakura yang melihat Sasuke agak kesusahan segera saja membantu Sasuke berdiri.

"Kita harus segera keluar dari sini," ucap Sasuke setelah berdiri dengan Sakura yang menopangnya.

"Tapi bagaimana dengan Anko-sensei?" tanya Sakura sembari menatap mayat senseinya yang tergeletak beberapa meter dari mereka. Selangkah demi selangkah Sasuke mulai berjalan meninggalkan tempat mereka sedari tadi. Dengan Sakura yang memapahnya, Mereka berdua mencoba untuk keluar dari gedung sekolah mereka.

"Kita akan menghubungi polisi setelah kita keluar dari sini dengan selamat."

"Tap-tapi.."

"Tetap awasi keadaan sekitar. Kita masih belum aman Sakura…" Ucap Sasuke memotong perkataan Sakura. Bukannya ia tak peduli dengan senseinya sendiri. Tapi saat ini keadaan mereka sedang terdesak dalam bahaya. Bukan saatnya untuk mementingkan seseorang yang sudah tiada. Sasuke memang egois tentu saja. Tapi untuk keadaan mereka yang sekarang ini, egoisme dari seorang Uchiha memang diperlukan. Itulah solusi terbaik. Keluar dengan selamat, dan menghubungi polisi. Bukankah raga dengan nyawa lebih diutamakan daripada raga tanpa nyawa hn?.

'DENGG DENGG DENGG'

Suara jam besar tua yang ada di ruang guru berdentang. Menandakan kedua jarum jam berada lurus kearah angka 12. Waktu terus berputar. Kesunyian semakin merambah. Bahkan hawa dingin menusuk tulang sudah menjadi selimut mala mini. Deru nafas Sasuke dan Sakura serasa semakin memberat. Oksigen yang mereka hirup sudah tercampur dengan sedikit uap air karena suhu yang semakin menurun. Waktu seakan berjalan angat lambat bagi mereka. Jalan keluarpun seolah semakin panjang. Sungguh mereka tersesat di sekolah mereka sendiri. Dimana semua pintu keluar? Kenapa sedari tadi mereka hanya berputar-putar saja tanpa menemukan pintu keluar?

"Kenapa kita tak bisa keluar juga Sasuke-kun? Bukankah kita sudah melewati jalan yang benar?" tanya Sakura yang sudah lelah.

"Hn, kita seperti terjebak dalam ilusi. Bangunan ini serasa seperti labirin." Ucap Sasuke dengan nada lelah. Tubuhnya ia senderkan pada tembok sebuah ruangan dengan tulisan lab bahasa yang tertera di pintu.

"Jika seperti ini terus, kita akan terjebak di sini sampai pagi.." keluh Sakura sedikit merasa putus asa. Tubuh mungilnya ikut melorot bersender pada tembok dengan memelk kedua lututnya. Membenamkan kepala merah mudanya pada lipatan lututnya. Tak hanya tubuhnya yang lelah, batinnya pun ikut lelah karena memikirkan keadaan sekarang.

'DRAPP DRAPP DRAPP'

Tubuh Sasuke menegak kala indera pendengarannya menangkap sebuah suara seperti langkah kaki. Langkah kaki itu terdengar secara berkala. Kadang berhenti, lalu berlanjut lagi. Sasuke dengan tiba-tiba berdiri kembali kala menyadari langkah kaki yang semakin mendekat kearahnya dan Sakura. tanpa babibu lagi, Sasuke segera meraih tangan Sakura dan menyeretnya untuk pergi.

"Ada apa Sasuke-kun?" tanya Sakura dengan wajah kebingungan.

"Aku mendengar langkah kaki seseorang." Ucap Sasuke dengan masih menyeret Sakura dengan langkah cepat.

"Bagaimana jika itu Shikamaru?"

Sasuke berhenti melangkah setelah mendengar pertanyaan Sakura. Tapi kemudian dia melangkah kembali.

"Saat ini yang dapat kita pikirkan adalah kemungkinan terburuk. Shikamaru atau bukan, kita tetap waspada." Ucap Sasuke dengan serius. Sasuke kemudian meraih handle pintu dan membukanya dengan cepat lalu menutupnya kembali. Dia menarik Sakura untuk bersembunyi di dalam ruangan yang berisi alat-alat olahraga.

"Kenapa kita bersembunyi disini Sasuke-kun?"

"Untuk memastikan kemungkinan terbaik itu adalah Shikamaru." Tutur Sasuke seraya kepala emonya melongok sedikit dari balik kaca jendela.

Bermenit-menit berlalu dengan sebuah ketegangan dan kewaspadaan. Jemari Sakura yang masih digenggam Sasuke serasa berkeringat dingin. Jantungnya berdetak lebih cepat.

"Tak ada sia-"

"Sssttttt, dia datang…" ucap Sasuke berbisik dengan jari telunjuknya yang ia tempelkan pada bibirnya. Membuat isyarat kepada Sakura untuk diam tak bersuara.

'DRAPP DRAPP'

Sasuke semakin bersembunyi sembari memeluk Sakura. Sasuke mendengus kala bola mata hitamnya tak menangkap bayangan sosok itu. Rupanya sosok itu datang dari arah yang berlawanan. Langkah kaki yang Sasuke dengar berhenti tepat di depan pintu tempat ia dan Sakura bersembunyi. Handel pintu bergerak-gerak seperti hendak dibuka. Tanpa pikir panjang, Sasuke menarik Sakura masuk kedalam ruang olahraga dan bersembunyi dibalik keranjang besar yang penuh dengan bola basket.

"Sa-sasuke-kun…"

"Dia bukan Shikamaru. Jadi diamlah.." ucap Sasuke berbisik dengan mendekap Sakura erat.

'KRIETTT'

Suara pintu ruang olahraga yang berderit terbuka.

'TAP'

'TAP'

'TAP'

Suara langkah kaki terdengar memasuk ruangan dengan pelan. Sasuke dan Sakura yang mendengarnya kontan saja semakin menyembunyikan diri mereka. Sakura memejamkan matanya takut-takut dan berharap jika orang yang melangkah itu adalah Shikamaru ataupun orang lain yang bermaksud baik. Langkah kaki itu semakin dekat dan dekat. Hingga kini Sasuke dan Sakura dapat merasakan kehadirannya yang berada tepat di depan keranjang basket tempat ia dan Sakura bersembunyi. Untuk memastikan siapa orang itu, Sasuke dengan berani menengokkan kepala emonya kebelakang yang justru disambut dengan sebuah cahaya terang yang menyorot kearahnya. Dengan refleks, kedua mata Sasuke menyipit karena silau.

"Aku menemukan kalian..."

.

.

.

.

.

To Be Continued…..

…..Secret Ghost

Hallo minnaaaaaa~….. ughh, gomen ne author telat updetnya. Soalnya minggu kemarin author sibuk belajar buat Try Out pertama. Maklum author kan udah kelas XII, jadi lagi sibuk-sibuknya belajar sama bimbel. Dan untuk chapter 9 ini semoga para readers sekalian suka ne…J dan author juga lagi seneng banget nih, soalnya SASUSAKU jadi CANON…kekeke arigatou gozaimasu Masashi Kishimoto-sensei…(kiss #plakkk). Ya udah deh, langsung aja, author mau bales review dulu…hehehe cap cusssss….

CelestyaRegalyana : iya ini juga udah dilanjut kok,, semoga suka^^

3 : hai juga meme-san..hehe syukur deh kalo masih deg-degan itu tandanya kamu masih hidup..kekeke. Obito sahabatnya si hantu? Hmmm, gimana ya, yaaaa gitu deh, (Author sok misterius XD). Anko pacar Obito? Ya gitu lagi dehh…hehehe (kalo dibocorin disini jadi gak asikk, :P). Obito kapan muncul? Tenang bentar lagi muncul kok, dia sedang mempersiapkan diri..:D. gpp kok, terimakasih sudah mau meRevie lagi, maaf author telat updatenya … semoga suka dengan chapter ini ne,

Yollapebriana : ini juga udah lanjut kok, semoga suka^^

Eysha CherryBlossom : hahaha, arigatou atas reviewmu Eysha-san..:) dan soal Anko yang punya hubungan sama Obito, yaaa….gitu deh…kekeke maaf terlambat update, review again?

Sakurazawa Ai : hahaha, gpp kok Ai-san…:D terimakasih atas pujiannya untuk si hantu,hehehe berbakat jadi pujangga? Tapi author kan perempuan..masa pujangga..:3 ini juga udah dilanjut kok, semoga suka ne… and review again?

UchihaHaruno Ai : fic ini nyampe berapa chap? Kayaknya bakal panjang deh, 15 keatas mungkin..hehe gpp kok baru review, dan author juga gak bakal berhenti update kalo cerita ini belum end. Tanggung jawab author kan menyelesaikan cerita sampe bener-bener tuntas…kekeke ini juga udah update kok, tapi author telat updatenya,.. terimakasih sudah meReview…J semoga suka dengan chap ini..

sherlock holmes : terimakasih sudah mau gereget..wkwkwk. hohoho iya author juga sadar kok banyak typo yang bertebaran. Soalnya kemaren author sibuk belajar buat T.O pertama. Jadi ngeditnya rada buru-buru gitu… semoga suka dengan chap ini ne..review again?

sahwachan : iya author udah doain kok, gimana? Bisa tidur? Hehe

yoshh, terimaksih banyak untuk yang sudah mereview "Secret Gosht". Dan semoga gak kapok buat review lagi ne…hehehe terimaksih lagi dan maaf jika masih ada typo yang bertebaran…KEEP READING AND REVIEW AGAIN PLEASE !