Previous Chap 9 :
Sasuke dengan berani menengokkan kepala emonya kebelakang yang justru disambut dengan sebuah cahaya terang yang menyorot kearahnya. Dengan refleks, kedua matanya menyipit karena silau.
"Aku menemukan kalian…"
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
Pair : Sasuke & Sakura
Genre : Horror, Mystery, little romance (maybe)
.
.
.
Enjoy With This Story
.
.
.
Kejarlah aku sampai kau tak mampu lagi mengejarku,
Satu nyawa akan pergi jika kau tak mampu menemukanku,
Raga tanpa jiwa, berjalan dalam kegelapan malam,
Senandung sedih selalu ku lantunkan…
Temukanlah aku maka aku akan menemukanmu,
Mawar berdarah akan selalu menuntunmu,
Jerit kesakitan akan terngiang di kepalamu,
Jangan lari atau kau tak akan kembali,
Pilihan adalah salah satu kunci hidupmu,
Pilih satu atau kau akan terjebak disini bersamaku selamanya….
.
.
.
Chapter 10
.
.
.
"Kakashi-sensei !" ucap Sasuke tanpa bisa menutupi keterkejutannya. Sakura yang mendengar seruan Sasuke segera saja membalikan tubuhnya. Bola matanya membelalak terkejut melihat salah satu gurunya berada di hadapannya.
"Ka-kakashi-sensei?"
"Apa yang sensei lakukan tengah malam disini?" tanya Sasuke dengan cepat yang merasa curiga kenapa senseinya yang berambut perak melawan gravitasi ini berada di TSHS. Sasuke lalu berdiri dan melangkah menjauhi keranjang berisi bola basket diikuti dengan Sakura. sehingga posisi Sasuke kini tepat di samping Kakashi, sementara Sakura disamping Sasuke.
"Aku? Seharusnya aku yang bertanya seperti itu pada kalian. Sedang apa kalian malam-malam di sini hm? Bukankah jam pelajaran sudah usai sejak pukul 3 sore tadi?" Tanya Kakashi dengan sedikit menelengkan kepala peraknya. Mata heterokimia miliknya yang terhalang kacamata kotak tipis menyipit menandakan dia tengah tersenyum dibalik masker hitamnya. Sasuke menatap senseinya dengan sengit. Masih saja memasang tameng waspada walaupun itu adalah senseinya sendiri. Tapi toh beberapa detik kemudia ia akhirnya menjawab dengan nada khas Uchiha miliknya.
"Hn, menyelidiki sesuatu. Dan kenapa sensei bisa ada disini?" tanya Sasuke balik dengan sebelah alis terangkat.
"Hanya kebutulan lewat dan aku melihat gerbang sekolah terbuka. Ditambah lagi ada 2 mobil milik muridku yang terparkir asal. Yah…aku masuk untuk memastikan murid-muridku tak melakukan sesuatu yang menyalahi aturan sekolah. seperti perbuatan…yahh, kalian tahu sendiri kenakalan remaja sekolah akhir-akhir ini kan?" Kakashi menjawab dengan tenang seraya melipat kedua tangannya di depan dada. Sasuke mendecih tak suka mendengar jawaban dari Kakashi. Jelas saja ia tak suka. Jawaban senseinya secara tak langsung merendahkan harga dirinya. dia dari keluarga Uchiha yang terpandang tak akan berbuat seperti apa yang senseinya pikirkan itu.
"Kami tak melakukan apapun sensei. Dan sensei bilang tadi ada 2 mobil?" kali ini Sakura yang bertanya.
"Ya, sepertinya mobil itu milik teman kalian yang bernama Shikamaru. Aku pernah melihat mobilnya seperti itu.."
"Apa sensei bertemu Shikamaru?" tanya Sakura lagi.
"Tidak. Hmmm…bukankah kalian sedang menyelidiki sesuatu? Aaa, aku tebak kalian pasti sedang menyelidiki pembunuhan yang akhir-akhir ini sering terjadi."
"Dari mana sensei tahu?" kali ini Sasuke yang bertanya.
"Kalian mudah ditebak. Anak-anak muda yang penuh ambisi dan juga rasa keingintahuan yang tinggi."
"Hn, lalu…bagaimana bisa sensei menemukan kami?" tanya Sasuke dengan seduktif. Mata hitamnya tak lepas dari Kakashi.
"Yahhh, aku melihat bayangan kalian masuk ke dalam ruangan ini. Jadi aku memutuskan untuk masuk juga. Dan…kenapa kau bertanya seperti aku ini orang jahat saja Sasuke?" kali ini Kakashi yang balik bertanya. Mata heterokimia miliknya menatap Sasuke balik.
"Hn, hanya terkejut saja melihatmu berada disini. Dan selebihnya, hanya berjaga-jaga dari kemungkinan terburuk."
"Wow, sepertinya aku harus berperilaku sebaik mungkin agar kemungkinan buruk yang kau bilang itu salah,"
Sakura menatap bergantian antara Sasuke dan Kakashi. Bisa-bisanya disaat seperti ini kekasih dan gurunya menampakkan aura yang kurang enak. Saling mendominasi satu sama lain. Dan keadaan itu membuat Sakura agak risih.
"Berhenti mencurigai Kakashi-sensei seperti itu Sasuke-kun… dia itu sensei kita. Jadi tak mungkin berbuat jahat. Dan…bisakah sensei membantu kami?"
"Hm? Apa yang bisa aku bantu untuk muridku yang sedang tersesat ini?"
"Aku akan menceritakan apa yang sedang kami alami sekarang sensei. Dan bisakah sensei membantu kami untuk menemukan Shikamaru dan keluar dari sini?" tanya Sakura dengan serius. Perlahan, Sakura menceritakan kejadian yang dia alami walaupun dengan tatapan dari Sasuke yang entah kenapa tidak bersahabat. Dia menceritakan tentang bagaimana dia bisa kesini, tentang sosok Kurime Megumi yang mengejar mereka, hingga Shikamaru yang menyusul mereka. Dan yang terpenting Sakura menceritakan tentang kematian salah satu guru perempuannya serta keluhan mereka yang tak bisa kunjung keluar dari sekolah. Kakashi menampakkan raut muka sedikit terkejut mendengar penuturan dari Sakura. otak genuisnya mencoba menyimpulkan apa yang saat ini telah terjadi.
"Baiklah.., kita akan temukan Shikamaru terlebih dahulu. Dan soal Anko, memang benar apa yang Sasuke katakan padamu. kita lapor polisi setelah keluar dari sini."
"Ha'I/Hn." Jawab Sakura dengan berbinar-binar. Sementara Sasuke hanya menjawab dengan ogah-ogahan. Dari dulu dia memang tidak begitu suka dengan senseinya yang terkenal suka terlambat dan mesum karena sering atau bahkan setiap detik membaca buku mesum bersampul orange. Bukannya dia meragukan kemampuan Kakashi sebagai seorang guru. Tapi mata berbeda warna milik senseinya itu seolah menyimpan cerita lain. Senyum dari balik masker milik Kakashi menurutnya adalah senyum yang berbeda dari senyuman yang lain. Tapi dia masih belum menemukan jawaban dari senyum aneh senseinya itu.
Mereka bertiga lantas keluar dari ruang olahraga. Berjalan dengan menyisir setiap ruangan berharap dapat menemukan Shikamaru.
"Tapi aku masih tidak percaya tentang sosok hantu yang kau ceritakan Sakura…" Kakashi berucap memecah keheningan. Sakura dan Sasuke yang mendengar perkataan Kakashi segera saja menolehkan kepala mereka.
"Ini zaman modern. Tak ada hal-hal mistis seperti yang kalian alami sekarang. Mungkin saja sosok yang disebut hantu oleh kalian adalah sosok manusia yang masih hidup dan berniat meneror kalian." Kakashi berkata seraya terus memeriksa satu persatu ruangan. Lampu senternya terus menerus menyorot setiap sudut ruangan yang gelap. Belum ada yang menanggapi perkataan dari Kakashi. Sasuke hanya diam. Sampai suara tersendat dari Sakura mengalihkan perhatiannya.
"Sa-sasuke-kun, it-itu.." Sakura berucap gagap dengan jemarinya yang menunjuk kearah belakang dengan bergetar. Obsidian milik Sasuke membelalak terkejut dengan apa yang dilihatnya. Sementara Kakashi sendiri tak menyadari apa yang Sakura dan Sasuke lihat. Sampai badannya berbalik karena perkataan Sasuke padanya.
"Sensei akan percaya dengan mistis jika berbalik." Kedua bola mata milik Kakashi membelalak terkejut dengan apa yang dia lihat. di sana, berjarak sekitar 20 meter jauhnya, retina matanya mampu menangkap sosok bergaun putih panjang yang kusam. Separuh wajahnya tertutupi oleh rambut hitam yang tergerai bukan itu yang mengejutkannya. Melainkan karena sosok itu melayang. Kakinya sama sekali tak berpijak pada lantai. Sosok itu lalu menyeringai kearah mereka. Dan dalam sekejap mata, sosok itu sudah tak terlihat lagi. Hilang ditelan malam.
'TAPP'
'TAPP'
"Sensei !" Sakura berteriak memanggil Kakashi yang tiba-tiba saja berlari menuju sosok itu. Dan selanjutnya, dia dan Sasuke segera berlari menyusul Kakashi yang kini telah sampai di tempat sosok tadi muncul. Tangan Kakashi kini memegang sesuatu yang tergeletak di lantai.
"Sensei…"
"Mawar hitam…" ucap Kakashi yang memandang kearah Sakura dan Sasuke seolah menuntut penjelasan.
"Mawar hitam itu selalu ada saat sosok itu muncul sensei… dan sebelumnya, mawar hitam itu juga ditemukan di tubuh orang yang menjadi korban pembunuhan misterius itu." Jelas Sakura.
"Kalau begitu, kita hanya perlu menemukan mawar hitam untuk menemukan sosok itu kan?" Kakashi berucap seraya hendak melnagkah pergi mencari sosok yang barusan ia lihat. namun, sebuah tarikan ditangannya membuat dia berhenti dan mengurungkan niatannya itu.
"Hn, kau lupa sensei? Aku pikir sensei akan lebih mementingkan keselamatan muridnya daripada memenuhi rasa keingintahuanmu yang sama besarnya dengan kami hm? Aa..atau bahkan rasa keingintahuan sensei lebih besar dari kami?" suara dingin dn datar dari Sasuke membuat Kakashi melirik sedikit sinis. Dia lalu melepaskan cengkraman tangan Sasuke pada lengannya dan kemudian tersenyum dari balik maskernya.
"Aaa…tentu saja Uchiha-san. Tak ada yang lebih penting daripada keselamatan muridnya. Kalau begitu, ayo lekas cari Nara Shikamaru yang tersesat sama seperti kalian…" ucap Kakashi dengan membetulkan kacamatanya yang sebenarnya tidak melorot. Nada yang ramah namun terdengar ada sedikit geraman disana. Dengan masih mempertahankan senyumnya, Kakashi lalu berbelok arah dan berjalan dengan santai dengan kedua tangannya yang ia masukkan ke dalam saku celananya. Sementara Sasuke dan Sakura berjalan bersisihan di belakang Kakashi.
Dahi Sasuke sedikit mengernyit dengan tingkah laku dan perkataan senseinya itu. 'ini…aneh,' insting Uchiha miliknya muncul kembali. Kemunculan Kakashi yang tiba-tiba, senyum yang terkesan misterius, dan juga reaksi yang diluar dugaan dari senseinya ketika mendengar cerita dari Sakura tentang sosok yang meneror TSHS. Itu semua membuat keadaan menjadi semakin rumit. Terlebih lagi Sasuke benar-benar tidak melihat tanda-tanda kehadiran Shikamaru. Dalam keadaan sepi seperti ini, seharusnya suara kecil seperti langkah kaki akan terdengar. Tapi ini, tak ada suara apapun.
…..Secret Ghost…
Osaka, 12.30AM
'SREKK'
'SREKK'
Kertas putih yang ternoda tinta hitam terlihat bergesekan. sebuah jemari kekar milik seseorang terlihat membalikkan lembar demi lembar kertas dokumen berjilid. Gurat-gurat kelelahan jelas terlihat pada wajah tampan sosok bersurai hitam jabrik miliknya. Sebulir keringat terlihat menetes dari dahi putihnya. Sesekali lelaki yang berumur hampir kepala tiga itu mengurut pangkal hidungnya. Helaan nafas lelah juga kerap kali terdengar. Hari yang sudah hampir lewat tengah malam tak juga menyurutkan lelaki yang bernama Uchiha Obito untuk berhenti berkutat dengan tumpukan dokumen yang ada di meja kerjanya. Ciri khas Uchiha yang selalu bekerja keras tanpa mengenal waktu.
"Hahhhh…"
Lagi. Helaan nafas lelah ia keluarkan. Laporan yang sedari tadi ia baca ternyata masih kurang dari apa yang ia harapkan. Dia sedikit kecewa dengan kinerja para bawahannya dengan hasil laporan yang diterima. Menjadi seorang direktur disalah satu perusahaan besar milik Uchiha tentu saja menjadi beban tersendiri baginya. Dia harus ekstra bekerja keras untuk selalu menaikkan persen keuntungan perusahaan. Ego Uchiha miliknya selalu tak puas dengan hasil yang menurut orang lain sudah lebih dari cukup. Tak jarang ia selalu lembur untuk sekedar menandatangi berkas-berkas yang setiap hari menumpuk, membaca laporan dari bawahannya, serta melakukan meeting dengan client. Kerja cerdas dan juga kerja cepat. Itulah paman dari Sasuke –Uchiha Obito yang tak lain adalah adik dari ayah Sasuke sendiri.
'Bukkk'
Obito menutup laporan yang ia baca dan menaruhnya dengan sedikit kasar di atas meja kerjanya. Dia lalu sedikit melirik kearah jam dinding yang menempel di tembok, lalu menyeruput kopi hitam yang telah mendingin miliknya.
"12.30…"
Dia lalu menyenderkan tubuh lelahnya pada senderan kursi kerjanya. Pandangan mank hitamnya tiba-tiba berubah menjadi sendu. Tatapan matanya seolah menerawang jauh masalalu. Masa-masa dimana dia masih memiliki seseorang yang sangat dikasihinya. Masa sekolah menengah yang penuh dengan drama romantika miliknya. yang sama sekali tak pernah bisa hilang dari benaknya. Sebuah senyum manis seorang gadis bersurai hitam panjang terlintas dipikirannya. Obito lalu memejamkan matanya. Berusaha memperjelas wajah gadis dalam pikirannya. Tangan besar Obito terangkat menutupi sebagian wajahnya. Deru nafasnya terdengar memberat dan sedikit sesak. Bahu miliknya juga terlihat sedikit bergetar.
'TES'
Setetes cairan bening mengalir dari balik matanya yang terpejam dan mengalir melewati pipi hingga dagu sampai akhirnya menetes di kerah kemeja miliknya. Obito menangis dalam diam. Selalu. Hampir setiap malam ia meneteskan cairan bening dari matanya. Menangis lalu tertidur dengan sebuah mimpi tentang masalalu yang terus menghantuinya.
…..Secret Ghost…
"Hah..hah..Shikamaru-kunnhh…"
Ino berucap lelah. Keringat membasahi seluruh tubuhnya.
"Aku lelah, Shika…." Sekali lagi Ino berucap kepada Shikamaru yang masih saja menyeretnya untuk terus berlari. Shikamaru pun sama seperti Ino. Lelah dengan peluh yang membanjiri tubuhnya. Sedari tadi mereka terus saja berlari mengejar sosok yang selalu saja muncul lalu menghilang kembali.
"Berhenti !" Ino menyentakkan genggaman tangan Shikamaru dengan kasar. Dia lalu duduk dengan kaki berselonjor. Tubuhnya sudah tak kuat lagi untuk berlari. Kakinya serasa sakit dan pegal.
"Ino…" Shikamaru berucap lelah. Dia lalu berbalik dan menghampiri kekasihnya yang tengah duduk dengan memijiti kaki. Shikaru berjongkok tepat dihadapan Ino. Tangan kekarnya lalu bergerak menyeka keringat di pelipis Ino.
"Kau lelah?"
"Hahhh, ya. Bisakah kita berhenti sejenak Shika? Kakiku serasa mau copot jika terus berlari terus seperti tadi." Pinta Ino kepada Shikamaru.
"Demo, kalau kita tidak mengikuti sosok itu kita tak akan bertemu dengan Sasuke dan Sakura.."
Ino terdiam sejenak mendengar kata-kata Shikamaru. Dia tentu ingin menemukan sahabatnya, tapi tubuhnya benar-benar terasa lelah. Dengan penuh keyakinan dan harapan, Ino menarik nafas dalam-dalam. Dia tak boleh berhenti karena hal sepele seperti lelah. Dia harus segera bertemu dengan Sakura dan Sasuke lalu keluar dari gedung sekolah mereka.
"Hahhhh…baiklah," Ino lalu bangkit dari duduknya. Shikamaru diam-diam tersenyum tipis melihat kekasihnya yang kembali bersemangat. Shikamaru sangat menyukai tatapan penuh keyakinan dari sepasang aquarime dari gadis yang dicintainya.
"Setelah menemukan Sakura, dan keluar dari sini…kau harus mengabulkan satu permintaanku. Bagaiman hm?"
Shikamaru hanya menaikkan sebelah alisnya sebagai respon dari pertanyaan Ino padanya.
"Itu sebagai motivasi untukku." Ino berkata sembari mengedipkan sebelah matanya pada Shikamaru. Melihat kelakuan genit dari Ino, malah membuat Shikamaru mendengus geli. shikamaru lalu berjalan melewati Ino begitu saja. Namun, sebuah bisikan kecil ditelingan Ino mau tak mau membuat gadis keturunan Yamanaka itu mengulas sebuah senyum dan menyongsong Shikamaru dengan sebuah pelukan erat di lengan pemuda berambut nanas itu.
"Apapun untukmu nona…"
Ah, sepertinya terjebak di gedung sekolah membuat sisi romantis Shikamaru keluar ne Ino?
.
.
.
.
.
"Ck, sekolah macam apa ini Shika? Sedari tadi kita tidak bertemu dengan Sasuke dan Sakura…" keluh Ino untuk kesekian kalinya. Kini mereka tengah berjalan menaikki tangga yang menuju lantai tiga sekolah mereka.
"Entah. Hoammm…" jawab Shikamaru acuh dengan menguap lebar.
"Dasar. Disaat seperti ini pun masih bisa mengantuk. Huh, kalau mereka bisa dihubungi kita pasti sudah bertemu dengan Sasuke dan Sakura…" Ino masih mengeluh. Gadis cantik itu sedikit merutuki Sasuke dan Sakura yang tak bisa dihubungi.
"Akan aku pastikan mereka membayar ini semua setelah kita keluar dari sini…bla-bla-bla"
Ino terus mengoceh tanpa henti. Shikamaru sendiri bingung dengan sikap Ino yang gampang sekali berubah. Beberapa menit yang lalu dia ketakutan, dan sekarang? See, dia mengoceh seperti sedang berbelanja di mall. Benar-benar ajaib. Shikamaru bahkan masih ingat saat Ino ketakutan karena dia berbohong soal hantu yang dia lihat.
"Dan kau tahu, entah kenapa sekarang aku tidak merasa tak-"
'WUSHH'
"Shi-shikamaru-kun…" suara Ino berubah menjadi tergagap. Dia berhenti dari langkahnya. Aquarime miliknya membelalak terkejut dengan apa yang ia lihat. dengan masih terpaku, tubuh Ino lalu bergerak sendiri karena diseret Shikamaru.
"K-kau ju-juga melihatnya?"
"Ya..." jawaban Shikamaru cukup untuk membuat Ino semakin terdiam. Ketakutan tiba-tiba melanda Ino kembali. Melihat seseorang yang berjalan cepat tak jauh dari dia dan Shikamaru membuat pikiran-pikiran buruk singgah di kepalanya.
"Ba-bagaimana jika dia han-"
"Tak akan tahu jika tidak kita pastikan." Potong Shikamaru dengan cepat. Mereka lalu berbelok kearah kiri mengikuti kemana perginya sosok yang mereka lihat. mata Shikamaru lalu menangkap salah satu ruangan yang pintunya sedikit terbuka. Dengan menggandeng Ino, dia lalu berjalan cepat menuju ruangan yang membuatnya penasaran. Shikamaru dan Ino dengan perlhan melangkahkan kaki mereka memasuki sebuah ruangan dengan sebuah tulisan 'Lab. Komputer' yang tertera pada sebuah papan putih persegi panjang yang menempel pada pintu. Suasana gelaplah yang pertama kali menyambut Shikamaru dan Ino.
"Tak ada siapapun di sini Shika…" cicit Ino dengan suara yang lirih. Shikamaru lalu mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan. Memang tak ada siapapun disini selain barisan komputer yang berjejer rapi. Pandangan Shikamaru lalu terpaku pada sebuah cahaya di barisan komputer paling ujung yang lurus dengannya.
"Ada komputer yang menyala Shika…" ucap Ino yang mengikuti kemana arah pandang dari Shikamaru. Tanpa berpikir lama, Shikamaru segera bergerak menuju komputer yang menyala. Shikamaru dan Ino lalu terpaku dengan apa yang mereka lihat. Komputer yang menyala itu ternyata tengah menampilkan jendela yang berisi sebuah kalimat dengan kursor yang berkedip-kedip yang mampu membuat Shikamaru dan Ino merinding.
"i-ini…"
"Sial…"
'BRAKKK'
.
.
.
.
"Selamat datang di dunia malam kami yang panjang…."
.
.
.
.
To Be Continued
…..Secret Ghost…
Hahh~….saya berkali-kali menghela nafas minna, akhirnya saya bisa apdet chapter 10 'Secret Ghost' yang penuh perjuangan karena ide yang kadang-kadang muncul. Dan juga mungkin karena pengaruh mood yang masih labil kali yeee….(#plakkk) fanfic ini jadi mengalami sedikit keterlambatan…wkwkwk. Dan Untuk NaruHina sampai sejauh ini belum muncul banyak soalnya kan mereka lagi ada di Hokkaido…hehehe. Dan lagi, kayaknya alur dari Secret Ghost makin panjang deh..huhhh saya musti kerja keras buat nyelesain ini fanfic (#Ganbatte!). Ya udah deh, dari pada banyak omong…saatnya balas review dari minna-san….
Kurime Megumi : Hontou? Hahaha…arigatou…gomen telat apdetnya, semoga suka..:)
Finn Uzumaki Belpois : arigatou sudah membaca cerita saya Finn-san…J hmm, ada yang dibunuh ya? Kita liat aja nanti ne…wkwkwk. Semoga suka dengan chapter 10 ini, review again?
kim la so : ini kelanjutannya kim-sannnnnnn…..hehehe. semoga suka ne^^
CelestyaRegalyana : ini juga udah dilanjut kok…semoga suka^^
Kimura Megumi : uwaaaa~…arigatou sudah merasa KEPO, hehehe. Ini juga udah apdet Kimura Megumi-san… gomen telat. Semoga suka ne^^
FiaaATiasrisqi : arigatou karena sudah penasaran…hehehe. Ini juga udah apdet kok. Gomen telat dan semoga tambah penasaran lagi..
Eysha CherryBlossom : pertanyaan Eysha-san akan terjawab di sini… gomen telat apdet. Semoga suka dan berkenan untuk review lagi..:)
sahwachan : sengaja bikin akhir chapter yang ngegantung biar ada rasa penasarannya,..hehe. ada yang jiwanya diambil sama kurime? Hohoho., tebakkan yang bagus…:D
mantika mochi : siapa yang datang? Sudah terjawab di chapter ini kan? hehe.
Yoshhh…arigatou atas review dari kalian semua…J gomen jika masih ada typo yang berserakan..hehehe. Oiya, buat chapter selanjutnya, saya gak janji bakalan updet tepat waktu minna, gomenne… Akhir kata, KEEP READING AND REVIEW AGAIN PLEASE !
