Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
Pair : Sasuke & Sakura
Genre : Horror, Mystery, little romance (maybe)
.
.
.
Enjoy With This Story
.
.
.
Kejarlah aku sampai kau tak mampu lagi mengejarku,
Satu nyawa akan pergi jika kau tak mampu menemukanku,
Raga tanpa jiwa, berjalan dalam kegelapan malam,
Senandung sedih selalu ku lantunkan…
Temukanlah aku maka aku akan menemukanmu,
Mawar berdarah akan selalu menuntunmu,
Jerit kesakitan akan terngiang di kepalamu,
Jangan lari atau kau tak akan kembali,
Pilihan adalah salah satu kunci hidupmu,
Pilih satu atau kau akan terjebak disini bersamaku selamanya….
.
.
.
.
Chapter 13
.
.
.
"Ada apa denganmu Ino-pig?" tanya Sakura yang sedari tadi risih dengan sikap Ino yang seperti tengah menahan sesuatu. Ino meringis tertahan mendengar pertanyaan dari Sakura. Kedua kaki jenjangnya merapat dan bergerak-gerak gelisah. Bola matanya bergerak kekanan dan kiri dengan gelisah.
"Hei pig, coba katakan sesuatu…" Ino lagi-lagi meringis. Shikamaru yang ada di belakang Ino hanya memandang malas kekasihnya. Jika perilaku Ino sudah seperti itu maka Shikamaru sangat paham bahwa kekasihnya itu tengah menahan-
"Aku ingin ke toilet…"
-pipis.
Sakura mendelik mendengar perkataan dari sahabat pirangnya yang ternyata terlihat aneh karena menahan sesuatu yang biasanya disebut dengan 'panggilan alam'. Sementara Sasuke hanya mendengus dan Shikamaru yang sudah tahu apa masalah Ino hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ayo, aku sudah tidak tahan Sakura… apa kau ingin aku pipis disini heh?"
"Hufttt, baiklah. Sasuke-kun dan Shikamaru tunggu disini saja. Aku dan Ino akan ke toilet sebentar…"
"Hn, hati-hati.."
Setelah mendapat anggukan setuju dari Sasuke dan Shikamaru, Sakura segera menyeret Ino pergi ke toilet yang tidak jauh dari mereka sekarang. Hanya tinggal berjalan beberapa langkah lalu berbelok.
"Sakura kau tunggu disini, jangan pergi kemana-mana…"
"Iya-iya…sudah sana cepat." Sakura berdiri tepat di depan pintu toilet yang baru saja dimasuki Ino. Sakura tahu kalau Ino merasa takut, terbukti dengan Ino yang terus saja mengoceh pada Sakura. Mungkin dengan mengobrol mampu sedikit menghilangkan rasa takut yang melanda. Sebenarnya Sakura juga merasakan hal sama dengan Ino. Walaupun dirinya termasuk ke dalam golongan pemberani, tetapi dia juga wajar jika merasa takut dengan situasi yang dialaminya saat ini. Situasi yang tentunya tidak bisa disebut dengan main-main karena menyangkut nyawa seseorang.
"Sakura? kau masih disana?"
Sakura tersentak mendengar suara Ino yang memanggilnya. Ternyata ia sedari tadi melamun.
"Ya, aku masih menunggumu keluar Ino-pig…" sahut Sakura dengan suara lumayan keras. Tak berapa lama, Ino kemudian keluar dari toilet.
"Ahhh…leganya, ayo Sak-" perkataan Ino terhenti. Pandangan Ino kemudian tertuju kearah bilik wc yang berada paling ujung –pojok. Suara tetesan air yang berasal dari kran terdengar jelas. Ino dan Sakura saling berpandangan. Sakura mengendikkan bahunya dan dibalas dengan lirikan tajam dari Ino. Didorong oleh rasa penasaran yang tinggi, Ino memberanikan diri melangkah pelan menuju sumber suara yang sepertinya ada di dalam toilet paling pojok yang juga bertuliskan 'tidak bisa dipakai' di depan pintunya. Ino menelan ludahnya susah payah. Ino melirik takut-takut bergantian antara Sakura yang ada di belakangnya dengan pintu toilet yang bertempelkan kertas dengan tulisan 'tidak bisa dipakai'.
Detak jantung Ino semakin menggila kala dirinya telah sampai tepat di depan pintu. Keringat dingin membasahi tubuhnya yang gemetar. Suara tetesan air semakin terdengar jelas, bahkan sangat jelas di telinga Ino. Seolah-olah suara tetesan air itu lebih jelas dari suara apapun. Kepala miliknya seolah penuh dengan suara itu.
Perlahan tangan gemetar Ino terulur hendak menyentuh gagang pintu berbentuk bulat. Namun dia menarik kembali saat satu-satunya lampu yang menjadi penerangan di toilet itu tiba-tiba berkedip-kedip. Ino yang memang sudah sangat ketakutan segera berlari menghampiri Sakura dan sembunyi dibalik tubuh Sakura. Cengkeraman tangan Ino pada lengan Sakura terasa sangat kuat.
"Sa-Sakura, aku tidak bisa… itu ter-terlalu menakutkan," ucap Ino dengan sedikit terbata.
"Tidak akan terjadi apa-apa. Hanya memastikan apa yang ada di dalam toilet itu."
"Ayolah Ino… jika kosong, kita pergi." Ino menggelengkan kepalanga pirangnya dengan cepat. Tak habis pikir dengan Sakura. Sudah tahu kalau dirinya penakut, masih saja ngotot untuk menyuruhnya melihat ke dalam toilet.
"La-lu jika ada sesuatu yang me-menakutkan bagaimana?"
"Kita tidak akan tahu sebelum melihatnya. Ayo, jadilah sedikit lebih berani jika ingin keluar dari sini Ino…"
Ino meneguk ludah untuk kesekian kalinya. Sahabat merah mudanya tidak tahu apa, kalau dia sedang ketakutan saat ini?. Apa lagi ditambah dengan lampu yang sejak beberapa detik lalu berkedip-kedip. Sebulir keringat dingin turun dari dahi Ino melewati pipi putihnya lalu menetes pada bajunya. Dengan berat hati, Ino melepaskan pegangan tangannya pada lengan Sakura. Dengan perlahan dia mulai melangkahkan kakinya menuju toilet paling ujung walaupun langkahnya terasa sangat berat. Sakura terlihat sama sekali tak peduli dengan apa yang Ino rasakan saat ini.
Ino berhenti setelah langkahnya tepat berada di depan toilet. Dan saat itu juga lampu yang sejak tadi berkedip-kedip mendadak menyala dengan sebagaimana mestinya lagi. tangan putih Ino yang bergetar terulur hendak menyentuk knop pintu. Seluruh tubuhnya yang bergetar tiba-tiba disergap oleh hawa dingin yang menyesakkan.
'Krieeettttt'
Pintu berderit nyaring setelah Ino memutar knop dan membukanya sedikit. Bulu kuduknya sudah berdiri sepenuhnya. Pintu semakin terbuka, kepala irang Ino mulai melongok ke dalam toilet. Kakinya maju satu langkah untuk membantunya melihat ke dalam toilet.
'Wushhhh'
Kedua mata milik Ino sukses melotot dengan sempurna. Mulutnya terkunci rapat dengan wajah yang sepenuhnya pucat. Untuk yang pertama kalinya dia melihat secara langsung dengan jarak yang dekat sebuah mayat yang tergeletak dengan tubuh menyender pada tembok toilet. Apalagi dengan darah yang terlihat menempel pada tembok. Ino tahu betul siapa sosok mayat itu. Itu adalah Izumo. Sosok laki-laki paruh baya yang menjadi penjaga sekolahnya. Ino tak bereaksi apapun kecuali membuat gerakan membuka dan menutup mulutnya. Tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun apalagi untuk berteriak. Waktu serasa berhenti berputar kala kepala dengan penuh darah itu dengan gerakan perlahan menoleh kearahnya. Sepasang mata hitam milik Izumo berubah menjadi putih tanpa pupil. Dada Ino terasa sesak. Matanya tak bisa berpaling dari wajah penuh darah dari Izumo –penjaga sekolah. Ino mendapatkan suaranya kembali kala bibir pucat milik sosok mengerikan Izumo dengan perlahan terbuka. Lelehan darah terlihat dari mulut yang terbuka itu hingga membasahi seluruh tubuh Izumo dan mengalir membasahi lantai hingga menyentuh ujung sepatu putih milik Ino yang masih terdiam kaku.
"Kyaaaaaaaaaaa~….." Ino berteriak dan menutup pintu toilet dengan kencang sebelum berlari menghampiri Sakura yang kini menatapnya dengan khawatir.
"Ada apa pig? Kenapa berteriak?" tanya Sakura dengan mengguncang-guncang bahu Ino.
"A-ada ses-sesuatu yang mengerikan di sana…" ucap Ino gelagapan. Kedua telapak tangannya menutupi wajah penuh takut miliknya.
"Sesuatu apa? Aku tak melihat apapun."
"Ada mayat Izumo-san di sana, penuh darah dan mayat itu melihat kearahku !" Sakura mengernyitkan dahi lebarnya mendengar penuturan Ino.
"Apa yang terjadi? Aku mendengar Ino berteriak !" Shikamaru datang dengan tiba-tiba diikuti dengan Sasuke di belakangnya. Kekhawatiran jelas tergambar di wajah Shikamaru dan juga Sasuke.
"Shikamaru-kun…" Ino memeluk Shikamaru dengan erat. Berharap rasa takutnya sedikit berkurang.
"Sakura ada apa?" tanya Sasuke pada Sakura.
"Ino melihat sesuatu disana Sasuke-kun…" jawab Sakura seraya menunjuk toilet paling pojok. Sasuke lalu beralih menatap Ino yang masih memeluk Shikamaru dengan sebelah alis terangkat.
"K-kau bi-bisa lihat sendiri…"
Sasuke yang penasaran dengan apa yang dilihat Ino segera saja melangkahkan kakinya menuju toilet dengan tulisan 'tidak bisa dipakai'. Disusul dengan Sakura di belakangnya.
Dengan sedikit was-was, tangan putih Sasuke mulai meraih gagang pintu dan sedikit memutarnya sebelum membukanya. Setengah badan Sasuke mulai melongok ke dalam wc. Manik kelamnya bergulir menatap dengan tajam setiap sudut toilet. Dan, hanya ada toilet duduk, serta shower dengan air yang sedikit mengalir yang masih tergantung ditempatnya. Dan jangan lupakan juga segulung tisyu toilet yang berwarnya putih kusam. Selebihnya tak ada apapun. Tak ada mayat dan juga darah.
"Hn, tak ada apapun disini."
"Benarkah Sasuke-kun? Biar aku lihat…" Sasuke lalu memundurkan tubuhnya beberapa langkah dengan masih membiarkan pintu toilet terbuka sedikit. Sakura dengan cepat melongok sedikit ke dalam. Dan memang benar apa yang dikatakan Sasuke. Tak ada apapun yang bernama mayat disini.
"Benar. tak ada mayat penuh darah disini Ino…" ucap Sakura seraya menutup kembali pintu toilet itu. Ino melepasakan pelukannya pada Shikamaru dan menatap tak percaya pada Sakura dan Sasuke.
"Ti-tidak mungkin. Aku melihatnya dengan jelas Sakura ! ada mayat Izumo-san disana," ucap Ino dengan setegah berteriak. Bersikukuh dengan apa yang dilihatnya beberapa menit lalu.
"Kau bisa melihatnya lagi jika tidak percaya."
"Tap-tapi Sakura-"
"Mungkin kau hanya berhalusinasi saja Ino…" ucap Shikamaru memotong perkataan Ino.
"Hn, mungkin itu hanya bentuk dari rasa takutmu saja. Seseorang dengan rasa takut yang berlebihan bisa berhalusinasi sesuai dengan apa yang mereka takutkan." Sakura mengangguk meng'iya'kan perkataan Sasuke. Bibir Ino mengerucut sebal mendengar perkataan Sasuke. Bisa-bisanya pemuda pantat ayam itu mengatainya berhalusinasi? Sumpah demi apapun, dia melihat dengan jelas mayat penuh darah dari penjaga sekolahnya. Dia memang takut sangat takut malah. tapi Ino yakin 100% bahwa ia benar-benar melihatnya sendiri. Nyata tapi mungkin mayat itu tidak nyata?.
"Jangan-jangan Izumo-san memang sudah menjadi mayat dan yang barusan aku lihat adalah hantunya?" Ino bergidik ngeri membayangkan wajah dari Izumo yang ia lihat.
"Masuk akal juga," wajah Ino menjadi sumringah mendengar respon Shikamaru untuk spekulasi miliknya. Akhirnya ada seseorang yang sepaham dengan dirinya.
"Hn?"
"Tak perlu terlalu dipikirkan tentang apa yang dilihat oleh Ino. Itu semua masuk akal untuk saat ini. Hantu dan semacamnya bukankah ada disini?"
"Shikamaru-kun ! tentu yang aku alami harus dipikirkan dengan baik-baik !" seru Ino yang tak terima dengan apa yang Shikamaru katakan. Moodnya yang sempat membaik karena perkataan Shikamaru yang sebelumnya kini malah menjadi buruk lagi karena perkataan yang menyebalkan yang dikeluarkan Shikamaru. Bagaimana mungkin kejadian yang ia alami tidak perlu dipikirkan? Itu bukan kejadian sepele yang mudah untuk dilupakan. Bisa jadi itu merupakan suatu pertanda kalau Izumo memang benar-benar sudah tewas. Atau mungkin itu juga bisa menjadi pertanda untuk munculnya hantu-hantu menyeramkan yang akan mengepung mereka. Oh ayolah, gadis keturunan Yamanaka itu hanya ingin ada seorang saja yang mengerti jalan pikirannya yang sedang dalam tahap siaga.
"Hmmm, kalau begitu kita harus cepat-cepat keluar dari sini sebelum semakin tersesat dan hantu-hantu semakin banyak menunjukkan diri mereka…" ucap Sakura yang mendapat anggukan setuju dari kekasih dan sahabatnya.
"Hn, kita segera turun ke lantai satu. Dan setelah itu kita keluar."
"Ayo pergi…"
.
.
.
.
.
Semilir angin menerbangkan kelopak bunga sakura yang berguguran. Rambut hitam milik seorang laki-laki yang tengah bersandar pada pohon sakura bergoyang dengan lembut.
"Obito-kun…"
Kelopak mata yang sedari tadi terpejam kini mulai membuka menunjukkan sepasang onyx kelam miliknya. Laki-laki yang bernama Obito mengalihkan pandangannya ke sumber suara. Ekspresinya kemudian melembut dan sebuah senyuman tipis ia berikan untuk seseorang yang kini berdiri tak jauh darinya. Untuk sejenak Obito menatap tanpa berkedip pada sosok gadis dengan surai hitam panjangnya yang juga bergerak liar tersapu angin. Rona merah di kedua pipi gadis itu juga tak luput ia lihat.
"Sedang apa disini Obito-kun?" gadis cantik itu bertanya dengan malu-malu. Terlihat dari gerakan tangannya yang terangkat menyelipkan rambut panjangnya ke belakang telinga. Obito lagi-lagi tak dapat menahan senyumnya. Laki-laki berperawakan tegap dan memakai setelan seragam sekolah yang sedikit awut-awutan itu lalu segera berdiri. Kaki jenjangnya dengan perlahan melangkah dan berhenti tepat satu langkah di depan gadis tadi yang kini tengah menunduk.
"Ada apa Megumi-chan?"
Mendengar Obito bersuara, Megumi sontak mendongak menatap Obito yang lebih tinggi darinya. Rona merah di pipinya tak kunjung hilang. apalagi dengan jarak yang saat ini sangat dekat dengan Obito. Pipinya semakin bersemu dan jantungnya serasa berdetak dua kali lebih cepat.
"Etto…ak-aku mencarimu," Megumi berucap dengan sedikit gugup. Mata Megumi berpaling, tidak berani menatap langsung kedalam sepasang onyx yang sedang menatapnya dengan intens. Obito yang melihatnya kemudian menyeringai.
"Mencariku? Untuk apa?" tanya Obito dengan memiringkan sedikit kepalanya. Berpura-pura bersikap polos untuk menggoda Megumi.
"Uhhh, ak-aku su-sudah membuatkanmu ben-bento," ucap Megumi terbata-bata seranya menunjukan kotak bento yang sedari tadi ia bawa. Obito menatap sebuah kotak berwarna coklat muda yang dipegang oleh Megumi. Dia kemudian melengkah mundur beberapa langkah. Kedu tangannya ia masukkan kedalam saku celananya. Berusaha untuk menunjukkan sikap coolnya.
"Jadi…?"
"Ja-ja-jad-jad-" Megumi tak bisa mengeluarkan suaranya saking gugupnya. Sikap Obito padanya ternyata sangat berbahaya. Semua yang Obito lakukan padanya berefek sangat fatal untuknya. Benar-benar sangat menyebalkan dan menyenangkan disaat yang bersamaan.
"Hmmm? Jadi apa Megumi-chan?"
'glekk'
Megumi menelan ludahnya gugup. Sumpah demi apapun, berbicara dan bertatapan langsung dengan Uchiha Obito memang sangat mendebarkan. Oh ayolah, dia sudah mempersiapkan dirinya untuk hal ini. Dan sekarang dia harus memberanikan diri untuk mengatakan langsung pada Obito.
"Jadi ayo kita makan bersama !"
"Megumi…" Obito terbangun dari tidurnya setelah menggumamkan nama seseorang. Pria dewasa keturunan Uchiha itu lalu menegakkan tubuhnya yang sedari tadi tidur dengan kepala diatas meja kerjanya. Satu tangannya lalu terangkat guna mengusap penuh gusar wajah lelah miliknya. Ingatannya melayang pada mimpi yang baru saja yang merupakan potongan ingatannya dulu bersama dengan wanita tercintanya.
"Hahhhhh~…" Obito menghela nafas lelah. Lagi-lagi mimpi tentang kenangannya bersama dengan gadis yang ia cintai terulang lagi. Mimpi – mimpi itu terus datang disetiap tidurnya. Seperti sebuah puzzle yang menuntut untuk digabungkan kembali.
"Jam 2 pagi. Ternyata aku ketiduran," tak mau memikirkan mimpinya lagi, Obito lantas meraih beberapa kertas yang berserakan di meja kerjanya. Menumpuknya menjadi satu sebelum ia simpan di loker mejanya. Dia lalu meraih jas hitamnya yang tersampir di kursi kerja yang ia duduki. Kemudian melenggang pergi keluar dari ruang kerjanya. Tak lupa dengan mematikan lampu dan juga mengunci ruang kerja pribadi miliknya. Dan setelah Obito bernar-benar meninggalkan ruangannya, angin tiba-tiba berhembus. Menerbangkan tirai jendela, dan menjatuhkan sebuah kertas dari meja dengan sebuah tulisan 'Kurime Megumi'.
.
.
.
.
.
.
'Drapp drapp drapp'
"Cepattt….!"
"Sial, kita harus segera pergi dari sini…"
"Ino, kau harus berlari lebih cepat lagi !"
"Aku sudah menyeret kakiku Shikamaru-kun !"
Ino berusaha mengimbangi lari Shikamaru yang terbilang cepat. Walaupun Shikamaru juga menarik tangannya, tapi dia masih saja kewalahan untuk mengimbangi lari Shikamaru. Sedangkan Sasuke dan Sakura ada beberapa langkah di depan mereka.
Entah apa yang terjadi, setelah telinga mereka mendengar suara dentingan jam besar yang ada di auditorium, keadaan menjadi lebih kacau. Awal mulanya hanya suara-suara aneh yang terdengar. Seperti suara tawa dan juga benda-benda yang terjatuh. Dan tidak berapa lama kabut putih datang entah dari mana. Dan selanjutnya satu persatu sosok mengerikan muncul dan mengejar mereka. Mulai dari sosok putih yang tembus pandang, hingga sosok hancur lainnya. Tapi dari sekian banyak sosok hantu yang mereka lihat, mereka tak mendapati sosok Kurime Megumi seperti sebelumnya.
"Hihihihihi~…"
"Sial, aku ketakutan dengan suara itu." Ino masih sempat mengumpat disela-sela larinya. Dia sama sekali tidak pernah membayangkan akan terjebak dikeadaan yang mencekam seperti sekarang ini.
"Suara-suara itu tak akan menghilang dengan umpatanmu pig…" Sakura memutar kepala merah mudanya kebelakang untuk menatap Ino. Sekilas dia juga menangkap samar-samar sosok Shion yang mengacungkan jari kearahnya. Sakura lalu menatap ke depan lagi. Menatap punggung lebar Sasuke. Pegangan tangannya pada tangan Sasuke ia eratkan. Sakura tak akan menduga-duga apa yang selanjutnya akan terjadi. Yang dia butuhkan saat ini hanyalah Sasuke yang bersamanya tentu dengan Shikamaru dan Ino juga. Dari sekian banyak kesialan yang dia dapatkan malam ini, dia masih bersyukur karena dapat bertemu dengan Shikamaru dan Ino.
"Kenapa berhenti Sasuke-kun?" tanya Sakura yang heran karena Sasuke tiba-tiba saja berhenti berlari. Shikamaru yang berlari dibelakangnya mau tak mau ikut berhenti. kerutan heran tercetak di dahinya.
"Ada apa Sasuke?"
"Hn, kita harus lewat jalan lain." ucap Sasuke tanpa menoleh. Tatapannya masih terpaku ke depan. Sakura yang melihat tingkah aneh Sasuke juga merasa heran. Penasaran dengan apa yang menghentikan kekasihnya, dia lalu menggeser sedikit tubuhnya dan memiringkan sedikit kepalanya. Emerald miliknya sukses melebar.
"Sa-sasuke-kun it-itu…"
"Shikamaru cepat berbalik ! cepat !" Shikamaru yang mendengar teriakan Sasuke segera berbalik dan berlari menjauhi tempat tadi. Jantungnya berdetak tak karuan. Bukan hanya Shikamaru saja yang merasakannya. Sasuke, Sakura dan Ino juga sama. Tiba-tiba melihat seseorang berdiri menghadang lari mereka. Sosok berpakaian hitam dangan masker dan penutup kepala yang menyembunyikan seluruh rambutnya. Mengenakan sepatu boot bergigi tajam serta kedua tangannya yang masing-masing memegang rantai besi.
"Sial sial sial ! situasi macam apa ini !" untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun ini Sakura mendengar Sasuke mengumpat seperti ini. Jika Sasuke sudah seperti ini, itu berarti keadaan saat ini benar-benar sangat gawat.
"Se-sebenarnya siapa dia Sasuke-kun?"
"Yang jelas dia bukan hantu."
"Tetap bersama. Jangan ada yang terpisah !" kali ini Shikamaru yang berteriak. Situasi menegangkan saat ini mau tak mau membuat pribadi lain dalam diri Sasuke dan Shikamaru keluar. Siaga satu mereka sudah umumkan. Tak ada hal lain yang mereka pikirkan kecuali melarikan diri.
Sosok berpakaian hitam itu mengejar mereka dengan rantai yang diputar-putar. Seolah rantai itu siap mencambuk siapa saja yang menghalanginya.
"Belok kiri Sasuke !" menurut pada perintah Shikamaru, Sasuke berbelok kearah kiri dan kemudian mereka menuruni tangga. Tinggal dua tangga lagi dan sebuah lorong panjang untuk mencapai sebuah pintu keluar menuju halaman belakang.
'Trangg trangg'
Suara rantai yang sosok tadi bawa terdengar mengerikan ditelinga Sakura dan Ino. Kedua gadis itu saling berpandangan dalam ketakutan. Sesekali mereka berdua menelan ludah gugup.
"Cepat !"
Menuruni anak tangga terakhir, mereka berempat mempercepat lari mereka.
'Brukk'
Ino yang berada paling depan terjatuh telungkup. Kakinya seperti menyandung sesuatu. Tangannya yang menumpu pada lantai terasa seperti menyentuh sesuatu yang aneh. Berbentuk cair tapi sedikit lebih kental. Keadaan yang gelap membuat dia tak bisa melihat dengan jelas apa yang membuatnya terjatuh. Tapi hidungnya mencium sesuatu yang berbau anyir. Lalu dia juga meraskan perutnya tengah menimpa sesuatu yang lumayan keras. Panjang dan mengenakan kain. Seperti sebuah kaki milik seseorang. Tunggu? Kaki dan bau anyir? Darah?.
"Kyaaaaaaaaaaaaa~….." Ino menjerit sejadi-jadinya. Ternyata dia terjatuh karena tersandung seseorang. Dan seseorang itu ternyata tengah terkulai penuh darah. Ino segera berdiri lalu berlari memeluk Shikamaru yang sama terkejutnya dengan Ino tapi tidak berteriak tentunya.
"Bukankah itu…Izumo-san !" Sakura menatap ngeri pada sosok mayat yang ternyata penjaga sekolahnya –Izumo. Pantas dia tidak melihat penjaga sekolah itu sejak pertama kali masuk ke gedung sekolahnya. Karena biasanya pasti Izumo selalu berkeliling memeriksa setiap ruangan. Mereka semua tak menyangka kalau pria dengar umur 50an itu ikut menjadi korban disini.
'Tap tap tap'
Terdengar suara langkah kaki pelan yang menuruni tangga.
"Hn, kita harus segera pergi. Dia semakin mendekat." Sasuke lalu berlari lebih dulu dengan menggandeng Sakura. Disusul Shikamaru dan Ino di belakang.
Hanya berlari beberapa meter saja untuk sampai pada pintu besi mirip jeruji penjara yang tergembok.
"Ck, terkunci…"
"Lalu bagaimana Sasuke-kun?! Kita harus keluar dari sini…"
"Benar yang dikatan Sakura. Aku tidak mau malamku dihabiskan disini !"
Sasuke mengacak-acak rambutnya frustasi. Tak tahu lagi harus melakukan apa. Shikamaru sendiri mencoba untuk membuka gembok dengan tangannya.
"Hn, jepit rambut."
"Apa?"
"Sakura, berikan jepit rambutmu…" mendengar perintah Sasuke, Sakura lalu melepaskan jepit rambutnya dan segera memberikannya pada Sasuke.
"Apakah itu bisa untuk membuka gembok?" tanya Ino yang merasa tidak yakin dengan apa yang Sasuke lakukan.
"Hn, tidak akan tahu jika tidak mencoba." dengan serius, Sasuke mulai memasukkan ujung jepit rambut Sakura.
"Oh tidakkk…cepat Sasuke-kun ! orang itu datang !" Sakura berteriak takut kala sosok yang mengejar mereka terlihat menuruni anak tangga terakhir. Sasuke mencoba untuk bersikap setenang mungkin walaupun kenyataannya tidak bisa. Tangannya bergetar dan sudah berkeringat dingin. Terlebih lagi ditambah dengan teriakan Sakura dan Ino. Oh ayolah, dia harus berkosentrasi membuka gembok ini. Untunglah Shikamaru juga tidak ikut berteriak padanya.
"Tenangkan dirimu Sasuke,"
"Shikamaru-kun ! apa yang harus kita lakukan dia semakin mendekat !" Ino berteriak lagi seraya menarik-narik baju Shikamaru.
"Tenanglah Ino, kita pasti bisa keluar dari sini…" ucap Shikamaru berusaha menenangkan kekasihnya yang berisik itu. Pemuda yang biasanya bertampang malas itu kini malah mimik mukanya terlihat mengeras. Tubuh tegap Shikamaru lalu maju satu langkah. Menempatkan dirinya di depan Ino dan Sakura yang tengah ketakutan. Menjadi tameng untuk kedua gadis itu dan juga Sasuke yang tengah berusaha untuk membuka gembok.
Sosok laki-laki berpakaian serba hitam itu berjalan perlahan-lahan setelah berhasil menuruni anak tangga yang terakhir. Sosok itu berhenti melangkah sebentar sebelum melanjutkan jalannya lagi sembari memutar-mutarkan kedua rantai dengan panjang kurang lebih 1 meter yang dia pegang. Sepatu bootnya menimbulkan bunyi 'tak tak tak' yang lumayan keras. Entah kenapa sosok itu terlihat seperti bayangan hitam dengan kabut tebal dengan bias-bias cahaya bulan sebagai efeknya. Sepasang mata merahnya menatap tajam pada keempat remaja yang berada beberapa meter didepannya. Bibir dibalik masker hitamnya menyeringai melihat ekspresi takut dan frustasi dari keempat remaja itu. Langkah kakinya kemudian melangkah lebih cepat.
"Sasuke, lakukanlah dengan tenang !"
"Sasuke-kun aku mohon cepatlah !"
"Oh Kami-sama…aku tidak ingin berakhir disini,"
Sasuke semakin berkeringat. Mendengar seruan dari teman-temannya membuat dia semakin tak bisa tenang. Tangannya terus berusaha untuk membuka gembok. Sasuke sedikit melirik kearah belakang. Sebuah gerutuan lepas dari bibirnya untuk kesekian kalinya.
'Trang trang trang'
Sosok berpakaian hitam itu terus saja membentur-benturkan rantai yang dibawanya pada tembok. Menyebabkan retak pada tembok.
'Trang trang trang'
Lagi. Suara rantai beradu dengan tembok terdengar semakin mengerikan. Ditambah lagi dengan suara-suara aneh yang terdengar. Sosok hantu seperti Shion, Lee, Sasame, Anko, bahkan Izumo terlihat silih berganti. Muncul seperti sebuah hologram. Waktu juga serasa berehenti. Hawa dingin yang menyesakkan juga terasa menusuk hingga ketulang-tulang.
"Sa-sasuke-kun…" Sakura menutup matanya. Sudah terlalu takut untuk melihat apa yang ada di beberapa meter di depannya. Tangannya meremas ujung kemeja bagian belakang milik Sasuke.
"Kyaaaa, Shikamaru-kun…"
"Sasuke?"
"Hn, seberntar lagi."
'Clekk'
"Hn, terbuka." setelah berjuang keras selama beberapa menit, gembok akhirnya terbuka. Sasuke dengan cepat membuang gembok itu dan membuka pintu yang terbuat dari besi itu.
"Ayo !" dia kemudian menarik pergelangan tangan Sakura dan berlari keluar dari gedung tempatnya bersekolah. Begitu pula dengan Shikamaru dan Ino. Mereka semua dengan cepat menuju area parkir sekolah. Memasuki mobil mereka masing-masing. Shikamaru dengan Ino, dan Sasuke dengan Sakura. Tanpa babibu, mereka segera menginjak pedal gas dan melesat meninggalkan gedung sekolah mereka dan juga meninggalkan sosok berpakaian hitam itu yang tengah memandang kepergian mereka dengan mata merah yang terlihat menyala dikegelapan.
.
.
.
.
"Kalian tidak akan pernah lepas dariku bocah-bocah sialan…"
.
.
.
.
To be continued…
.
.
.
….Secret Ghost…
Yuhuuuu~… jumpa lagi dengan saya minna-san…! *peluk satu-satu XD*. Huahhh, akhirnya saya bisa mengeluarkan chapter ke 13 juga…hehehe gomen ne kalau readers sekalian lama nunggunya…:D terimakasih juga karena masih setia menunggu saya, hehehe. Dan chapter ini sudah lebih panjang kan? Kekeke. Semoga suka dan maaf juga kalau masih ada typo(s) yang berserakan ne…:D dan maaf sekali lagi karena gak bisa bales review kalian satu-satu…mohon dimaklumi ya, :D
Thanks to :
Emily Yama, haruno nikita, Hina Uchihyuu, Tatzune UchiKujyo himawari, Uchiha Au-chan, RUE ERU, Guest, nanda, putriasairsyaf, ghostttt, Uchiha Erika, AgnesiaCherry, Rachelyoo, Sheryl euphimia, andy cyanx suthi , Byun429, Wizma Ryuzaki Tsukiyama, misakiken, ikalutfi97, Herawaty659, NikeLagi, suket alang-alang, ayuniejung, Jun30, FiaaTiasrisqi
Review tetap ditunggu. Dan kalau ada yang mau PM saya boleh kok…hehehe
Oke deh, Thank you very much and see you again guys…:D
