BLIND DATE?

by RyeoTa Hasu

(Original Story by AliaZalea)

Cast :

Lee Sung Min (27-28 y.o)

Cho Kyu Hyun (35 y.o)

Lee Hyuk Jae aka Eunhyuk (25 y.o) as Sungmin's younger brother

Park Jung Soo aka Leeteuk (26 y.o) Sungmin's Blind Date Agent

Kim Jung Mo (32 y.o) as Sungmin ex. Boyfriend

Cameo :

Kim Kibum (27 y.o) aka Brian Trevor Kim as Sungmin's 1st dating partner.

Disclaimer :

This original story is fromBlind Date Novel by AliaZalea

Hasu hanya me-remake-nya dengan Kyumin sebagaimain Castdengan beberapa perubahan dan penyesuaian

Kyumin dan Cast lainnya milik Tuhan YME, Orang tua dan Agensi

Hasu hanya meminjam namanya untuk kepentingan cerita

Rate :

T

Warning :

Boy's Love / YAOI, OOC, MPREG, hurt/comfort, Typo menjamur

a.n :

Setting ff ini di USA alias Amerika Serikat. Sengaja sih, mau bikin ya beda aja ^.^

Jeongmal mianhae untuk typo di chap prolog kemaren. Tadinya mau dibuat GS, tapi di detik terakhir mau posting, Hasu berubah pikiran, jadi diubah jadi yaoi. Kemaren salah posting file, begitu dicek ternyata salah. Tapi udah diganti kok ama yg udah di edit.

Ini YAOI, ok?

So,

DON'T LIKE? DON'T READ!

MAKE IT SIMPLE

HAPPY READING ^.^

.

.

Chapter 1

o.o.o.o.o.o.o.

.

.

(Sungmin POV)

.

TIK... TOK... TIK... TOK....

Bunyi jam dinding itu semakin membuatku tidak nyaman.

Meskipun aku dapat mendengar alunan musik klasik yang menggema di antara bunyi jam dinding itu, namun semuanya tak ada yang bisa mengalahkan suara detak jantungku sendiri.

Dengan perlahan aku menghampiri meja yang berada tepat di hadapan pintu masuk.

Disana, seorang pria manis yang mendekati cantik duduk di belakang meja kaca berbentuk seperti angka delapan. Di meja itu terdapat papan bertuliskan RECEPTION.

Pria muda itu tersenyum ramah kepadaku. Aku pun membalas senyumannya dengan canggung. Di dadanya tersemat name tag, Nick, ah jadi namanya Nick.

Sesungguhnya aku masih tidak percaya bahwa aku mendatangi tempat ini, sebuah kantor Agensi Blind Date, catat Blind Date.

Dan ini bukan Agensi Blind Date biasa, ini adalah Agensi Blind Date khusus BoysLove alias Gay.

Selama ini aku selalu berpikir bahwa seseorang, baik pria maupun wanita, yang mengikuti blind date adalah tipe orang yang:

1. Berwajah jelek, atau tidak percaya diri dengan penampilan fisiknya.

2. Berpenampilan buruk, termasuk tidak tahu cara memilih pakaian yang sesuai dengan bentuk tubuh sehingga terlihat seperti badut.

3. Tidak memiliki tata krama, misalnya suka berbicara kasar atau makan dengan tidak sopan.

4. Terlalu tua sehingga pilihannya menjadi sangat terbatas.

5. Dipaksa orangtua untuk menikah secepatnya.

6. Senang menggoda, dan hanya menginginkan pasangan untuk hiburan mereka.

Aku tidak memiliki satu pun karakteristik itu.

Pertama, aku tahu bahwa aku tidak cantik seperti wanita, tentu saja karena aku pria. Tapi wajahku cukup manis untuk kategori pria pada umumnya, bahkan banyak yang mengatakan wajahku terlihat sangat muda dibandingkan usiaku yang terbilang matang. Tubuhku cukup proporsional dengan tinggi 175 sentimeter dan berat badan 55 kilogram. Kulitku juga putih bersih layaknya pria Korea pada umumnya. Secara fisik, aku tidak merasa minder dan sangat mensyukuri apa yang ku miliki.

Kedua, banyak yang mengatakan aku seorang yang fashionable. Dan aku cukup percaya diri dengan selera berpakaianku.

Ketiga, sebagai orang Asia yang menjunjung tinggi tata krama dan sopan santun, aku berusaha untuk menjaga sikap dan perilakuku.

Keempat, umurku masih 27 tahun, masih cukup muda. Karirku di Amerika juga masih panjang dan semakin menanjak.

Kelima, orangtuaku tidak pernah memaksaku untuk menikah secepatnya, mereka bahkan terkesan tidak peduli apakah aku akan menikah atau tidak.

Terakhir, meskipun aku tidak pernah mengalami masalah untuk mendapatkan teman kencan, baik pria maupun wanita, namun aku bukanlah pencinta One Night Stand. Aku menyukai hubungan yang serius dan setia. Aku sendiri tidak yakin apakah orientasi seksualku adalah garis lurus alias gay karena aku pernah beberapa kali dekat dengan wanita-wanita muda yang cantik dan pintar. Ya, meskipun pacar terakhirku adalah seorang pria.

Jadi, mengapa aku ada di sini?

Aku ada di sini karena taruhan dengan Eunhyukkie, adikku, saat bermain game dua hari yang lalu. Taruhannya adalah... siapapun yang kalah harus mau mengikuti kencan dari agensi blind date selama satu tahun. Dan karena aku kalah, terpaksalah aku datang ke tempat ini.

Aku mengetahui Agensi Gay's Blind Date inidari Eunhyukkie, adikku yang sedang keranjingan situs-situs blind date dan sering flirting dengan teman kencan onlinenya disela-sela kesibukan mengerjakan desertasinya. Dan Agensi Gay's Blind Date atau sering disingkat GBD ini menurut Eunhyuk, tengah populer di kalangan teman-teman chattingnya.

Entah kebetulan atau memang takdir, ternyata GBD juga memiliki cabang di Greensboro, North Carolina, kota terdekat dengan tempat tinggalku, Winston-Salem.

Setelah memberanikan diri mendaftar ke situs resmi GBD dan lolos kualifikasi sebagai calon klien serta mendapatkan janji pertemuan, yaitu hari ini, aku pun merelakan diriku berkendara sendirian dan menempuh jarak sekitar 45 menit dari rumahku.

Berdasarkan informasi yang telah aku dapatkan dari situs internet GBD, agensi ini didirikan sejak tahun 1985 atas dasar pengalaman seorang pria bernama Raynold Einshower dari Chicago, yang merupakan penyuka sesama jenis alias gay dan kesulitan untuk mencari pasangannya.

Sejak didirikan hingga kini jumlah klien mereka sudah mencapai ratusan ribu orang. Dalam proses penerimaan pun mereka memberikan seleksi yang ketat untuk menjamin klien mereka merupakan orang-orang yang berkualitas dan dapat dipercaya.

Dalam situsnya, GBD juga memberikan pernyataan bahwa hampir setiap hari mereka menerima berita pertunangan ataupun pernikahan dari klien-klien mereka. GBD bahkan membantu proses perijinan pernikahan bagi pasangan yang kesulitan untuk mengurus perijinan tersebut. Pernikahan garis lurus memang belum mendapat tempat luas dalam hukum dan masyarakat di Amerika. Jika tidak memiliki orang-orang yang berpengaruh akan sulit untuk mengurus ijinnya.

Overall, cukup meyakinkan. Berarti GBD adalah agensi yang berkualitas dan tidak mengecewakan.

Setidaknya, mungkin ada manfaatnya aku mendaftar ke agensi ini.

Setibanya aku di hadapan meja resepsionis itu, sang pria manis bernama Nick itu langsung mengulurkan tangannya sambil tersenyum lebih ramah.

"Hi, welcome to GBD. I'm Nick Jonas. Please call me Nick."

"Hello. I'm Lee Sungmin." Aku membalas senyumannya sambil menjabat tangannya.

"Mr. Lee. Please this way."

Tanpa basa-basi lagi Nick langsung membimbingku menuju ke sebuah ruangan. Amerika memang tidak terbiasa berbasa-basi, aku suka ini, langsung to the point.

Nick mengetuk pintu ruangan tersebut beberapa kali. Begitu mendapat sahutan dari dalam, Nick pun membuka pintu ruangan itu kemudian mempersilahkan aku masuk.

Di dalam ruangan itu, telah ada seorang pria yang sepertinya berasal dari Korea sama sepertiku, yang terduduk di belakang mejanya dan tengah membaca beberapa data dalam genggamannya.

Begitu mendengar langkah kakiku yang memasuki ruangan, pria itu mendongakkan kepalanya dan langsung menyunggingkan senyuman ramah kepadaku.

"Welcome to GBD, Sir." Sapanya padaku. Aku hanya membalasnya dengan senyuman sambil mengangguk.

Dia beralih pada Nick yang berdiri di belakangku, "thank you Nicky."

Nick pun berpamitan keluar dari ruangan itu, dan meninggalkanku bersama dengan pria ini.

"Please take a seat, Sir." Pintanya sambil menunjuk kursi empuk di seberang mejanya.

Dengan patuh aku pun duduk di tempat yang di tunjuknya itu. Kami hanya dipisahkan oleh meja kerjanya.

"Well, karena kita berdua sama-sama berasal dari Korea, apakah Anda tidak keberatan jika kita berbicara dengan bahasa Korea saja?" tawarnya.

"Sure. Tentu saja, dengan senang hati." Sambutku langsung dengan bahasa Korea. Tentu ini lebih baik, aku juga merasa lebih nyaman dan leluasa.

"Baguslah. Sebelumnya, perkenalkan, Park Jungsoo imnida. Tapi Anda bisa memanggil saya Leeteuk. Hmm, Mr. Lee Sungmin?" ujarnya sambil melihat pada kertas yang ada di genggamannya kemudian kembali menatapku sambil tersenyum.

Senyumannya terlihat sangat damai layaknya senyuman malaikat, meskipun aku tentu saja belum pernah melihat malaikat.

"Nde. Lee Sungmin imnida. Anda bisa memanggil saya Sungmin." Jawabku sambil membalas senyumannya.

"Baiklah Sungmin-ssi, jika Anda tidak keberatan saya akan membacakan kembali apa yang telah Anda tuliskan mengenai persyaratan yang Anda inginkan dari pasangan date Anda. Kami hanya ingin memastikan agar tidak terjadi salah paham." Leeteuk-ssi terdengar serius, meskipun wajahnya masih tersenyum ramah.

Aku hanya mengangguk.

"Anda menulis bahwa Anda menginginkan pasangan date dengan tinggi antara 175 hingga 180 sentimeter?"

"Ya, apakah itu akan bermasalah?" tanyaku ragu.

Aku memang tidak suka pria yang terlalu tinggi karena mereka akan membuatku merasa seperti kurcaci. Meski ku akui tubuhku memang sedikit lebih mungil dari pria Korea kebanyakan.

"Tidak, tidak ada masalah. Menurut data kesehatan Anda, Anda memiliki tinggi 175cm." Leeteuk-ssi membacakan kembali data pribadiku yang dimilikinya.

"Ya, itu tinggi saya."

"Kemudian untuk kategori umur, Anda memilih antara 26 tahun hingga 40 tahun, benar?"

Aku hanya mengangguk.

"Baik, tidak ada masalah. Kami memiliki banyak klien berkualitas dalam kategori umur tersebut."

Leeteuk-ssi kembali membacakan daftar persyaratan yang sebelumnya telah ku isi melalui website GBD saat mendaftar waktu itu.

"Anda juga terbuka dipasangkan dengan pria dari berbagai ras. Tapi Anda melingkari pria Asia sebagai prioritas untuk date Anda. Ya, saya rasa saya bisa mengerti alasan Anda. Itulah mengapa saya yang ditunjuk sebagai agent Anda." Leeteuk-ssi mengedipkan matanya kepadaku sambil tersenyum.

Aku tertawa melihat ekspresinya.

Ya benar.

Sebenarnya aku lebih berharap jika pasangan date-ku berasal dari Asia, lebih bagus lagi jika sama-sama dari Korea. Well, menurut cerita Eunhyukie, yang teman kencan onlinenya mayoritas adalah pria Amerika, para pria 'gay' Amerika umumnya memiliki pikiran yang hanya berorientasi pada hubungan seksual semata. Belum lagi dengan kegemaran mereka yang menyukai hardcore sebagai aliran aktivas seksual mereka.

Itu sangat menyeramkan bagiku. Aku belum siap memikirkan hal-hal seperti itu.

Well, aku bersyukur agenku adalah Leeteuk-ssi yang sama-sama orang Korea dan memahami pikiranku tanpa perlu ku jelaskan.

Mungkin Leeteuk-ssi ini agen yang khusus menangani klien-klien yang berasal dari Asia.

"Lalu untuk status, Anda menginginkan pasangan date Anda berposisi sebagai 'TOP', benar?"

Leeteuk-ssi melirik kearahku sambil mengangkat alisnya.

Aku hanya mengangguk malu. Well, mengakui sebagai 'bottom' dalam hubungan seperti ini memang sedikit memalukan karena disamakan dengan posisi yang di miliki oleh wanita dan dianggap feminin. Aku mungkin lemah lembut tapi aku tidak feminin. Aku cukup 'tomboy' sebenarnya.

Leeteuk-ssi tertawa kecil melihat reaksiku.

"Anda tidak perlu malu, saya juga sama seperti Anda. Fyi, saya sudah menikah." Ujar Leeteuk-ssi sambil menunjukkan jari manis tangan kirinya.

Ya, memang ada cincin disana.

"Wah, selamat Leeteuk-ssi." Ucapku tulus.

"Terima kasih Sungmin-ssi." Jawab Leeteuk-ssi sambil tersenyum." Baiklah, saya lanjutkan. Anda juga mengharuskan pasangan date Anda single dan unattached. Apakah Anda bersedia dating dengan pria yang statusnya dalam proses perceraian, baik dengan istri wanita maupun 'istri' pria?" tanya Leeteuk-ssi. Pada dua kata terakhir Leeteuk menggerakkan dua jari membentuk tanda kutip.

Tanpa berpikir aku langsung menjawab.

"Tentu saja tidak. Saya ingin mereka benar-benar single. Tidak duda cerai manapun, dan terutama tidak untuk pria yang secara hukum masih terikat pernikahan, meskipun mereka mengatakan sudah berpisah dengan 'istri' mereka. Kecuali, jika istri mereka, istri yang manapun, meninggal secara wajar dan mereka juga tidak memiliki anak. Well, sebenarnya saya juga agar ragu dengan golongan ini, mereka masih meragukan karena mereka pernah menikah dan perpisahannya pun karena kematian. Takutnya, mereka hanya mencari pelarian saja."

Ini adalah salah satu persyaratan yang sempat kubahas panjang-lebar dengan Eunhyukkie.

Aku dan Eunhyuk setuju, aku sebaiknya tidak melayani pria beristri karena memiliki resiko yang tinggi. Mereka belum tentu juga benar-benar 'gay'. Begitupun dengan pria yang ber'istri' pria. Itu lebih berbahaya.

Pendapat kami agak berbeda mengenai duda cerai.

Menurut Eunhyuk, pria yang sudah pernah bercerai bukan berarti mereka tidak bisa menjadi suami yang baik. Ada begitu banyak faktor yang bisa menjadi penyebab perceraian.

Walaupun begitu, aku tidak mau mengambil risiko.

Kami juga membahas mengenai duda yang ditinggal mati 'istri'nya, baik istri wanita maupun istri pria.

Akhirnya, kami setuju bahwa lebih baik tidak duda manapun jika bisa.

"Baiklah, kami akan mengusahakan yang benar-benar 'single' untuk Anda." Ujar Leeetuk-ssi sambil kembali menunjukkan senyum malaikatnya.

Leeteuk-ssi memang agen yang terbaik dan profesional. Sangat perhatian dan pengertian.

"Anda mencentang pilihan untuk area North Carolina saja," lanjut Leeteuk-ssi.

"Saya rasa akan lebih baik bagi saya memulai dengan pria yang tinggal cukup dekat dengan saya. Tetapi apakah saya bisa mengubahnya nanti apabila saya tidak bisa menemukan pasangan yang cocok setelah enam bulan?" Aku mencoba menjelaskan alasanku mencentang pilihan itu.

"Oh, Anda tidak perlu khawatir soal itu. Saya cukup yakin Anda akan menemukan pasangan yang cocok dalam waktu enam bulan." Leeteuk-ssi terdengar sangat yakin.

"Benarkah?" tanyaku bingung dan kaget.

Leeteuk-ssi mengangguk. "North Carolina adalah kota yang dipilih oleh mayoritas pendatang dari Asia, terutama Korea. Klien kami pun banyak yang berasal dari kota ini dan statusnya pun 'single'. Sebagai tambahan, Anda memenuhi kriteria sebagai tipe yang paling banyak di inginkan oleh mereka." Pada kalimat terakhir Leeteuk-ssi mengedipkan matanya genit.

"Oh, baiklah." Itu adalah satu-satunya kalimat yang keluar dari mulutku.

Sesungguhnya aku tidak menyangka akan semudah itu untuk menemukan yang sesuai dengan kriteria yang ku tulis. Dan lagi, harus kah aku senang dengan kenyataan tipe sepertiku menjadi favorit bagi 'mereka'?

Leeteuk-ssi tertawa melihat reaksiku.

"Anda tidak harus menjawab pertanyaan berikut ini. Tetapi jika Anda berkenan menjawab, itu akan sangat membantu kami lebih memahami Anda dan menemukan pasangan yang paling cocok untuk Anda."

"Silahkan, Leeteuk-ssi," ucapku, mengizinkan Leeteuk-ssi menyampaikan pertanyaannya.

"Apakah yang membuat Anda datang ke GBD?"

Ah, apa yang harus ku jawab?

Tidak mungkin kan aku menjawab, 'karena kalah taruhan dari adikku saat bermain game, dia memaksaku mendaftar kemari'. Itu terdengar sangat kasar dan tidak sopan.

Aku tertawa malu-malu sebelum menjawab. "Saya baru putus dari hubungan yang cukup serius beberapa bulan yang lalu. Setelah berusaha move on serta melakukan makeover, termasuk memotong pendek rambut saya, saya memutuskan melanjutkan hidup dan datang ke GBD."

"Oh, Sungmin-ssi," balas Leeteuk-ssi penuh pengertian. "Pasti sangat berat saat itu. Untunglah Anda bisa segera move on dan memulai hidup baru."

Aku tertawa terbahak-bahak mendengar komentarnya.

Kini aku memang bisa menertawakan keadaanku, tetapi tidak tiga bulan yang lalu.

Aku tidak menceritakan kejadian sebenarnya bahwa aku melihat Jungmo, pria yang telah menjalin hubungan denganku selama tiga tahun, selingkuh dengan asistennya di kantornya sendiri.

Aku masih ingat kejadian pada akhir bulan Mei lalu itu. Kejadian yang takkan pernah ku lupakan selamanya.

.

(Flash back)

Kim Jungmo, kekasihku itu, selama satu tahun ini telah tinggal di New York. Dia bekerja disana sebagai pengacara di sebuah firma hukum terkemuka. Dan kami menjalani LDR alias Long Distance Relationship selama setahun terakhir dengan berbekal kepercayaan.

Seperti biasa setiap 3 bulan sekali, aku mengunjungi Jungmo di New York kemudian menghabiskan waktu bersamanya selama satu minggu sebelum kemudian aku kembali lagi ke Winston-Salem.

Hari ini, seperti biasa aku datang mengunjunginya. Dan saat aku baru saja sampai di apartemennya, tiba-tiba dia menghubungiku dan memintaku untuk menunda kencan kami karena dia harus lembur. Dia berjanji akan menhubungiku kembali setelah pekerjaannya selesai.

Aku tentunya tidak berkeberatan. Aku justru senang karena kekasihku itu begitu rajin dengan pekerjaannya.

Beberapa minggu ini Jungmo memang sering bercerita di telepon bahwa dia sering pulang malam karena salah satu klien terbesarnya sedang terkena kasus.

Sebagai salah satu pengacara termuda dikantornya, aku justru merasa bangga karena para partner di kantornya melibatkan dia untuk menyelesaikan kasus itu sehingga aku sama sekali tidak curiga akan jam kerjanya yang tiba-tiba berubah.

Aku pun menyempatkan diri untuk memasak makanan kesukaannya karena aku berfikir dia pasti akan datang dengan wajah kelaparan, seperti biasanya.

Akan tetapi, setelah menunggu hingga pukul tujuh malam dan Jungmo masih belum menghubungiku juga, akhirnya aku pun menghubungi kantornya.

Anehnya tidak ada yang mengangkat.

Aku lalu menghubungi ponselnya, tetapi panggilanku langsung masuk ke voicemail.

Dengan pemikiran bahwa aku akan memberikannya kejutan jika muncul di kantornya dengan membawa makan malam untuknya, aku pun menempuh jarak 30 menit untuk tiba di bangunan kantornya yang terlihat sepi kecuali di bagian lobi kantor.

"Hello, Mr. Lee, coming to see ?" tanya Arnold, petugas keamanan kantor Jungmo.

Ia tersenyum ramah dan aku bisa melihat deretan giginya yang putih, kontras sekali dengan kulitnya yang berwarna coklat gelap, dia seorang Afro-Amerika.

"Yes, is he still here? Saya membawakannya makan malam," balasku tidak kalah ramahnya. "Apakah kamu sudah makan malam?"

"You are so kind, Mr. Lee. Ya, saya sudah makan sekitar satu jam yang lalu, thanks for asking."

Aku tersenyum mendengar jawaban Arnold. Aku menyukainya karena dia sangat ramah. Setiap aku mengunjungi Jungmo di kantornya, aku akan menyempatkan diri berbicara santai dengannya jika dia tengah bertugas, dia sangat menyenangkan untuk menjadi teman diskusi.

"Mr. Kim masih ada di ruangannya dengan Miss Bella. Wait a minute, saya akan menghubungi beliau untuk memberitahu bahwa Anda ada di sini," ujar Arnold lagi.

Dia lalu mengangkat telepon dan menghubungi Jungmo.

Aku mengangguk.

Sepertinya kasus yang Jungmo hadapi memang cukup serius karena bahkan Bella, asistennya, juga harus ikut lembur.

"Tidak ada yang menjawab." Arnold terlihat sedikit bingung. "Mungkin sebaiknya, saya antar Anda ke ruangannya, Mr. Lee. Sepertinya Mr. Kim sangat sibuk," ucap Arnold.

Arnold membimbingku ke lift kemudian mengantarku ke ruangan Jungmo di lantai delapan.

Ketika pintu lift terbuka, lantai itu terlihat sepi dan redup.

Kami kemudian berjalan menyeberangi ruangan yang dipenuhi dengan meja-meja yang dipisahkan oleh beberapa sekat, tempat para asisten pengacara bekerja.

Aku tidak melihat Bella di mana pun juga. Apa dia ada di ruangan Jungmo?

"Sepi sekali," gumamku.

Arnold hanya mengangkat bahunya dan kami terus berjalan menuju ruangan yang berseberangan dengan lift.

Kami berdiri di depan pintu kayu berwarna cokelat tua yang tertutup. Ruang kerja Jungmo.

Jendela sepanjang dua meter, yang terletak di sebelah pintu, juga tertutup oleh tirai kayu horizontal. Ada sinar terang yang menembus ke luar, menandakan masih ada orang di dalamnya.

Arnold bersiap-siap mengetuk pintu itu, tetapi aku mengentikannya.

"Biar saya yang melakukan. Saya ingin membuat kejutan untuknya."

Arnold menyeringai, dan berjalan kembali menuju lift, meninggalkanku di depan ruangan Jungmo.

Aku tersenyum melihat wajah Leonard. Dia pasti berfikiran macam-macam.

Setelah menarik napas aku pun membuka pintu itu perlahan-lahan, sebisa mungkin tidak mengganggu konsentrasi Jungmo apabila dia sedang bekerja.

Akan tetapi, apa yang kulihat cukup membuatku ternganga.

Dihadapanku, Jungmo dan Bella dalam posisi 'doggy style'. Pakaian mereka masih cukup lengkap di bagian atas, tetapi tidak ada sehelai pakaian pun dari pinggang ke bawah.

Aku mendengar suara orang berteriak kaget, dan aku baru sadar bahwa suara itu adalah suaraku sendiri. Tempat makan yang ku bawa terjatuh begitu saja ke lantai depan pintu ruangannya.

Otomatis dua pasang mata langsung mengarah kepadaku.

Mata Jungmo langsung melebar ketika melihatku.

"Excuse me," tergesa-gesa aku langsung berlari menuju lift. Aku tidak berhenti berlari hingga sampai di dalam mobilku.

Aku bahkan tidak menghiraukan Arnold, yang menanyakan apakah ada masalah ketika melihatku berlari melewati lobi bagaikan dikejar setan.

Aku tidak bisa berkata-kata, bahkan tidak mampu menangis.

Aku masih shock.

Hari itu juga aku langsung mengarahkan mobilku kembali ke Weston-Salem.

Aku tak ingin berada lebih lama di kota yang kini akan memberikan kenangan buruk untukku.

.

(Flashback END)

.

Pertanyaan Leeteuk-ssi menarikku kembali ke masa kini. "Jadi, Anda memilih 'Looking for a serious relationship' sebagai pilihan Anda, benar?"

"Ya. Saya merasa sekarang tampaknya waktu yang tepat untuk memulai suatu hubungan yang super serius," jelasku.

Ada beberapa alasan lain tentunya, tetapi aku tidak akan menceritakannya kepada Leeteuk-ssi. Dia adalah agenku, bukan seorang psikolog.

Leeteuk-ssi tertawa terbahak-bahak mendengar penjelasanku. "Saya mengerti maksud Anda. Anda tidak perlu khawatir. Banyak klien kami yang menginginkan hal yang sama."

Aku hanya mengangguk. Sebenarnya, aku tidak terlalu berharap akan mendapatkan pasangan disini. Ini hanya terpaksa, oke?

"Baiklah, Sungmin-ssi, ini pertanyaan terakhir. Untuk body type, Anda menulis 'Athletic, I don't mind chubby but not obese'. Itu benar?"

Aku tertawa mendengar Leeteuk membacakan kriteria yang ku tulis (ketik) itu.

"Oh... man, I sound so shallow now that you are reading it back to me."

Leeteuk-ssi pun ikut tertawa.

"Tidak, Sungmin-ssi... jangan khawatir tentang hal itu. Jika itu memang pilihan Anda, kami akan berusaha sebaik mungkin menemukan pasangan yang cocok untuk Anda."

Yah, jika memang GBD bisa menemukan pria yang benar-benar sesuai dengan semua kriteriaku itu, setidaknya tidak percuma aku mempermalukan diriku dengan mengikuti blind date, aku bisa mendapatkan kekasih idealku.

Dan mungkin aku juga akan segera menikah?

Setelah sesi interview ini selesai, Leeteuk-ssi lalu menjelaskan perjanjian yang harus aku tanda tangani.

Garis besar perjanjian itu berisikan tentang hak-hak yang aku miliki sebagai klien, serta beberapa peraturan yang sebaiknya dipatuhi oleh setiap klien. Beberapa peraturan itu adalah:

1. Untuk setiap kencan pertama, GBD yang akan mengatur jadwalnya. Jika masing-masing klien menemukan kecocokan, maka GBD memberi kebebasan pada mereka untuk mengatur kencan berikutnya.

2. Pada kencan pertama, calon pasangan 'date' akan bertemu di restoran yang telah ditentukan oleh GBD, ini salah satu cara MBD menjaga keselamatan klien.

3. Klien diwajibkan menghubungi GBD sebelumnya, jika akan datang terlambat lebih dari 15 menit dari waktu kencan agar pasangan blind date tidak harus menunggu lama, atau apabila pertemuan harus dijadwal ulang karena mendadak berhalangan datang.

4. Setiap klien wajib membayar makanan mereka masing-masing.

5. Sebaiknya klien tidak menerima barang mewah pemberian pasangan blind date di pertemuan pertama, karena dikhawatirkan akan menimbulkan masalah dikemudian hari.

Setelah membacanya, aku pun menandatangani perjanjian itu. Tak lupa aku menyetujui pembayaran dengan menggunakan kartu kredit. Itulah gunanya kartu kredit kan?

Lebih praktis dibandingkan uang tunai, karena sejujurnya aku sayang jika harus membayar menggunakan uang tunai. Masih banyak kebutuhan yang harus ku penuhi daripada membayar blind date yang belum tentu akan memberikanku hasil baik.

Perjanjian ini akan mengikatku dengan GBD selama satu tahun ke depan.

Setelah memastikan semuanya telah disepakati dengan baik, kemudian Leeteuk-ssi membimbingku ke luar ruangannya dan mengantarku hingga ke mobil.

Dia berjanji akan menghubungiku lagi secepatnya untuk mengatur jadwal kencanku.

.

(Sungmin POV END)

.

.

.ooO

.

.

Dengan tergesa-gesa Sungmin meninggalkan kantornya tepat pukul enam sore untuk blind date pertamanya di Village Tavern, sebuah restoran yang cukup bergengsi di Winston-Salem.

Sebelumnya, Sungmin telah berkonsultasi dengan Eunhyuk mengenai pakaian yang harus dia kenakan untuk kencan pertamanya ini. Dan Eunhyuk menyarankan agar Sungmin sebaiknya tampil apa adanya.

Setelah sebelumnya meluangkan waktu untuk mencuci muka dan merapikan penampilannya, Sungmin langsung berangkat menuju restoran itu.

Teman kencannyamalam ini bernama Brian Trevor Kim, seorang pria Korea, tingginya 180 cm, berumur 27 tahun dan seorang mahasiswa kedokteran.

Sungmin tiba di sana tepat pukul enam lewat tiga puluh menit.

Sungmin langsung menghampiri hostess restoran dan memperkenalkan dirinya.

"Please come with me, your date is already here," ucap hostess itu, sambil tersenyumdan mengantarkan Sungmin menuju sebuah meja di sudut restoran.

Beberapa menitkemudian Sungmin telah berhadapan dengan Brian Trevor Kim, teman kencannya, yang memiliki rambut berwarna hitam gelap dengan kacamata minus bertengger di atas batang hidungnya yang runcing.

Segalasesuatu yang ada pada pria itu mencerminkan statusnya sebagai mahasiswakedokteran.

Pria itu terlihat cukup ramah, tubuhnya tampak atletis dengan bahu yang cukup lebar dan dada yang terlihat bidang.

Tepat mendekati ciri-ciri fisik yang diinginkan Sungmin sebagai partner datingnya yang di tulisnya di lembar aplikasi.

Begitu melihat kedatangan Sungmin, pria itu langsung menyunggingkan senyumnya, yang dalam hati Sungmin mendapat penilaian sebagai 'the best killer smile'.

Dengan canggung bercampur malu-malu Sungmin membalas senyumannya dan langsung mengambil tempat duduk di hadapan pria itu.

"Maaf telah membuatmu menunggu lama," ujar Sungmin sambil tersenyum meminta maaf.

"Tidak, sama sekali tidak. Aku saja yang terlalu antusias sehingga datang lebih awal dari waktu perjanjian kita. Oh, ya. Kim Kibum imnida. Brian Trevor adalah nama Amerika-ku. Senang berkenalan denganmu," ucap Kim Kibum sambil mengulurkan tangannya.

Dengan sigap Sungmin langsung mengulurkan tangan dan menjabat tangan Kibum, "Lee Sungmin imnida. Senang berkenalan denganmu juga, Kim Kibum-ssi."

"Kibum saja, please." Pinta Kibum sambil tersenyum. Sepertinya pria ini memiliki hobi mengumbar senyum kepada siapapun.

"Baiklah, aku juga, Sungmin saja." Balas Sungmin gugup. Tak dapat dipungkiri, Sungmin terpesona dengan senyum Kibum yang seolah mampu melumpuhkannya dalam sekejap saja. Ini bahkan belum ada satu jam dari pertemuan mereka.

"Oke, Sungmin-ssi. Jadi, apakah kau sudah siap memesan makanan? Let's see what's good in here." Ujar Kibum sambil membuka buku menu.

Seketika Sungmin tersadar dari keterpanaannya.

Dengan gugup dibukanya buku menu dan beralih memusatkan perhatiannya pada deretan menu makanan yang ada disana.

"Mmm, Shrimp ravioli dengan white sauce kelihatannya enak." Meskipun suaranya terdengar agak bergetar, tapi masih terdengar cukup keras dan meyakinkan.

"Kau ingin memesan itu?" tanya Kibum sambil menatap Sungmin.

Sungmin berusaha untuk tidak terpengaruh dengan tatapan Kibum yang memikat.

"Ehm. Ya, Shrimp ravioli with white sauce," jawab Sungmin tenang.

"Kedengarannya enak. Baiklah aku juga ingin pesan itu." Kibum memberi tanda pada waiter.

Seorang waiter pun mendatangi meja mereka.

"Kami berdua ingin memesan Shrimp ravioli with white sauce." Ujar Kibum pada waiter.

Pandangannya kembali pada Sungmin. "Kau ingin yang lain, Sungmin-ssi?"

Sungmin menggeleng pelan, "tidak, itu saja. Terima kasih."

"Cukup itu saja untuk saat ini." Ujar Kibum kembali pada waiter.

Waiter itu pun memohon diri untuk mengantarkan pesanan mereka ke dapur.

Setelah waiter itu berlalu, Kibum kembali mengalihkan pandangannya ke Sungmin, ditatapnya Sungmin dengan pandangan hangat.

"Apakah kau selalu terlihat seperti ini?" tanya Kibum sambil menaikkan alisnya.

Sungmin menatap Kibum bingung.

'Apa maksudnya dengan pertanyaan itu?'

"Apa maksudmu?" tanya Sungmin balik.

"Kau terlihat ehm... manis, dan aegyo. Apalagi saat aku tersenyum padamu, wajahmu langsung terlihat bersemu dan imut sekali." Puji Kibum sambil tersenyum.

Dan memang, wajah Sungmin seketika bersemu dan dia refleks langsung tertunduk malu.

'Tentu saja karena aku malu! Senyummu begitu indah hingga ingin membunuh hatiku Kim Kibum!' batin Sungmin berseru.

"Benarkah? Tidak, ah! Aku normal-normal saja. Jangan menyebutku seperti itu, Kibum-ssi! Aku pria bukan wanita." Elak Sungmin sambil tetap menunduk.

Setelah merasa wajahnya tidak lagi merona, Sungmin mendongakkan wajahnya dan memasang wajah sok tenang.

'Jaga image, Lee Sungmin! Jangan centil!' seru batin Sungmin.

"Mungkin kau bukan wanita, tapi kau memang aegyo Sugmin-ssi. Akuilah, itu pujian dariku loh!" ujar Kibum sambil tak lelah tersenyum.

"Baiklah-baiklah aku mengalah. Aku memang aegyo, kau bukan orang pertama yang memujiku seperti itu. Hanya saja, kau terlalu blak-blakan padahal ini adalah pertemuan pertama kita. Kau tidak bermaksud merayuku kan?" tuduh Sungmin sambil menatap Kibum dengan tatapan menuduh.

Kibum tertawa mendengar tuduhan Sungmin.

"Tidak, tentu tidak. Aku bukan pria perayu. Aku mengatakan kenyataan, itu saja." Balas Kibum santai.

"Kau juga tampan, Kibum-ssi. Kau satu-satunya pria Korea dengan killer smile yang baru pertama kali pernah ku lihat di Amerika selama aku berada disini, ups..." Sungmin refleks menutup mulutnya karena kelepasan memuji Kibum.

Kibum kembali tertawa melihat Sungmin yang salah tingkah.

"Yah, kau juga bukan orang pertama yang memuji senyumanku, Sungmin-ssi." Balas Kibum sambil mengedipkan mata.

Untunglah makanan mereka tiba sehingga Sungmin memiliki waktu beberapa menit untuk mengatur detak jantungnya agar kembali ke normal.

"Jadi, kau kerja sebagai financial analyst?" tanya Kibum, setelah waiter berlalu.

Sungmin sangat bersyukur Kibum tidak mengangkat kembali topik pembicaraan yang tadi sempat terputus.

Dengan segera Sungmin menjawab pertanyaan Kibum. "Ya... di sebuah bank di Winston-Salem."

"Wah, aku selalu merasa kagum dengan para Financial Analyst. Kalian begitu memperhatikan setiap pergerakan ekonomi, tidak hanya dalam negeri tapi juga internasional. Kalian sepeti pahlawan bagi penduduk dunia yang sangat mengkhawatirkan kondisi ekonomi mereka dan berusaha untuk menjaga agar kondisi finansial mereka stabil dan jika bisa mengalami peningkatan status. Teman-temanku dari fakultas ekonomi selalu bercerita jika kelak mereka ingin menjadi financial Analyst yang handal dan bisa membantu negara masing-masing agar bebas dari krisis ekonomi yang mungkin akan mengancam negara mereka. Aku sendiri juga sering memiliki keinginan untuk memakai jasa financial analyst untuk memastikan apakah keuanganku telah terkelola dengan baik." Jelas Kibum.

Dan akhirnya, sembari memakan makanan mereka, Kibum dan Sungmin mulai membahas tentang informasi kehidupan mereka masing-masing termasuk kondisi keuangan mereka secara lebih mendetail.

Sungmin menceritakan mengenai awal kedatangannya ke Amerika secara singkat dan juga pengalaman kerjanya sebagai Financial Analyst. Sungmin sedikit memberitahu Kibum mengenai keluarganya yang tinggal di Ilsan, Korea. Lalu mengenai adiknya, Eunhyuk, yang juga tinggal bersamanya di Amerika, meski tinggal di apartemen yang berbeda, adiknya yang tengah menempuh pendidikan sebagai mahasiswa S3 di bidang psikologi di Washington University. Juga tak lupa mengenai dirinya yang menempati apartemen sewa di Weston-Salem. Sungmin melewatkan mengenai pengalaman percintaannya, karena dirasa terlalu privasi. Sungmin menjelaskan mengenai penghasilannya secara garis besar dan rencana masa depannya secara umum mengenai pernikahan dan pembagian masalah ekonomi dalam pernikahannya nanti. Dia tidak ingin menjadi 'benalu' bagi pasangannya dan akan membiayai sendiri kebutuhannya, kecuali jika pasangannya ingin memberinya nafkah, Sungmin tidak akan menolaknya.

Kemudian, bergantian Kibum menceritakan bahwa dirinya berkuliah di Los Angeles University dan telah berada di tahun terakhirnya. Dia akan mengambil Spesialisasi pediatrics atau spesialis anak karena dia sangat menyukai anak-anak. Sebenarnya Kibum tinggal di Park Lea Sea, California ( kota kecil di bagian barat Los Angeles). Di Weston dia memiliki apartemen yang ditempatinya belum lama ini sebagai tempat 'menyepi'-nya. Kibum juga mengatakan jika keluarganya tinggal di Seoul, tidak terlalu jauh dengan Ilsan, tempat asal Sungmin dan tempat dimana kedua orang tuanya tinggal.

Kibum sendiri menyatakan jika dia menikah (tentu dengan pria karena dia dengan tegas menyatakan dia benar-benar gay), dia berencana untuk menetap di Amerika untuk sementara waktu agar bisa menyesuaikan diri serta mempersiapkan mental dia dan pasangannya kelak ketika mereka pindah ke Korea tidak merasa minder dan takut bersosialisasi dengan masyarakat Korea yang masih mendiskriminasikan golongan mereka (baca: kaum gay).

Kibum memiliki penghasilan sendiri yang berasal dari hasil kerja part time-nya sejak tingkat senior high school yang dikumpulkannya, kemudian diinvestasikan di beberapa bursa saham di Los Angeles dan berhasil memberikannya pemasukan rutin setiap tahunnya. Dia juga memiliki beberapa deposito dan rekening tabungan, diluar tabungan khusus pendidikannya.

Secara tidak langsung Kibum memberitahu Sungmin bahwa dia sudah sangat mapan dan siap melangkah ke jenjang selanjutnya, yaitu pernikahan.

"Apakah kau yakin siap untuk suatu komitmen yang serius? Kau masih muda. Kau juga masih menempuh pendidikan di unversity. Apa kau tidak ingin 'berkencan' dahulu?" tanya Sungmin penasaran.

Keingintahuannya telah mengalahkan tata kramanya, tetapi Sungmin tidak peduli. Dia begitu penasaran dengan kepribadian dan tekad Kibum itu.

Kibum tertawa mendengar pertanyaan Sungmin.

"Well, ada beberapa orang yang mengatakan bahwa usia 27 masih terlalu muda untuk suatu hubungan yang serius. Bagaimana denganmu Sungmin-ssi? Kau juga 27 tahun, tapi kau memiliki karir yang mapan dan menjanjikan. Apakah kau tipe yang 'ingin segera menikah' atau 'ingin berkencan dahulu'?" tanya Kibum balik.

Mau tidak mau Sungmin ikut tertawa melihat logika pernyataan Kibum itu.

"Oke, aku mengaku. Mungkin keduanya?" ujar Sungmin santai.

Kibum tertawa mendengar jawaban Sungmin sambil mengacungkan jari, salut dengan jawaban Sungmin yang diplomatis dan cenderung main aman.

"Jawaban yang bagus. Sangat diplomatis." Puji Kibum.

Sungmin memperhatikan Kibum dengan lebih teliti.

Cara Kibum berbicara tidak seperti pria berumur 27 tahun pada umumnya. Setiap kalimat yang keluar dari mulutnya seperti telah dipikirkannya terlebih dulu sebelum dikatakan.

Pembawaan Kibum yang sedikit terlalu tenang dan santai serta hobinya yang selalu meengumbar senyum, membuat Sungmin agak sedikit minder duduk berhadapan dengan Kibum.

Kibum bahkan berdiri dari duduknya ketika Sungmin permisi ingin pergi ke toilet, hal yang tidak pernah dilakukan pria mana pun kepada Sungmin sebelumnya.

Sungmin jadi merasa seperti wanita yang berhadapan dengan seorang gentlemen Korea yang sangat mempesona dan sulit ditolak.

Dan akhirnya, pertemuan malam itu mereka akhiri dengan saling bertukar nomor kontak.

Dalam hati Sungmin menaruh Kibum dalam daftar 'most favorite man'-nya.

.

.

.ooO

.

.

Minggu berikutnya, Leeteuk menghubungi Sungmin untuk memberitahukan jadwal kencan Sungmin selanjutnya di minggu ini.

Sungmin akan memiliki dua janji kencansekaligus akhir minggu ini.

Hari Jumat malam Sungmin akan bertemu dengan Lee Jinki, berasal dari Korea, memiliki tinggi 176 cm, berumur 26 tahun, dan seorang calon psikolog.

Mereka akan bertemu di kota Concord. Sungmin membutuhkan waktu berkendara sekitar 45 menit dari rumahnya di Weston-Salem. Sedangkan teman kencannya, Lee Jinki, akan datang dari Charlotte, yang jaraknya sekitar 75 menit dariConcord.

Kemudian pada hari Sabtu siangnya, Sungmin akan bertemu dengan Choi Siwon, seorang pengusaha Korea yang tengah melebarkan sayapnya di Amerika. Tingginya dan berumur 35 tahun.

Mereka akan bertemu di Burlington, sekitar satu jam dari Winston-Salem.

.

.

.

Sore itu sepulang dari kantornya, Sungmin langsung menuju Fresh Market untuk berbelanja.

Persediaan bahan makanan di apartemennya sudah sangat minim.

Selain itu, Sungmin berencana mencoba resep yang di lihatnya beberapa hari yang lalu di Cooking Channel.

Sewaktu Sungmin masih tinggal bersama Eunhyuk, adiknya itulah yang dijadikannya korban untuk mencoba resep terbarunya. Dan ketika Sungmin masih menjalin hubungan dengan Jungmo, pria itu yang harus rela menjadi korban menggantikan Eunhyuk.

Tapi kini, mungkin tetangga apartemennya akan sudi untuk menjadi korbannya, karena kemampuan memasak Sungmin sudah lumayan baik dibandingkan saat awal-awal kehidupannya di Amerika.

Setelah berada di dalam Fresh Market, dan Sungmin langsung memulai perburuannya. Dengan pensil Sungmin mencoret list dari barang-barang yang sudah ada di dalam trolley satu per satu.

"Susu putih full cream, satu blok keju cheddar, satu kotak Frosted Flakes, hmm..." Sungmin memperhatikan lagi list barang yang ingin di belinya.

"Daging ayam fillet, cream cheese, hmm... Ah, parsley!"

Sungmin langsung mendorong trolley ke bagian sayuran.

Ketika dia sedang memilih parsley yang paling segar, tiba-tiba terdengar suara seseorang yang berbicara disampingnya.

"Excuse me, Ma'am, but do you know which lettuce that I supposed to get if I want to make a caesar salad?" orang itu menepuk bahunya, meyakinkan Sungmin bahwa dirinyalah yang dimaksud orang itu.

Sungmin pun menoleh, dan dia langsung mundur selangkah.

Sungmin menatap pria yang memanggilnya itu dengan pandangan aneh campur bingung. Seorang pria berwajah Asia, yang kalau Sungmin tidak salah duga adalah orang Korea sama sepertinya.

Pria itu menatap Sungmin sambil mengerutkan dahinya. "Ma‟am?" tanya pria itu lagi.

Sungmin terkesiap mendengar panggilan pria itu padanya.

"Sorry, kau berbicara denganku?" tanya Sungmin memastikan. Tanpa sadar Sungmin berbicara dengan bahasa Korea dan banmal pula.

Pria itu mengerutkan dahinya sambil menatap Sungmin aneh, "tentu saja, memang ada orang lain lagi selain kita?" tanya pria itu balik, kali ini berbicara dengan bahasa Korea banmal.

Sungmin menatap pria itu dengan kesal.

"Maaf, tapi kau menggunakan panggilan yang salah padaku. Aku ini seorang pria."

Pria itu memperhatikan Sungmin lekat-lekat. Sungmin sedikit risih dengan kelakuan pria asing dihadapannya itu.

"Ah, benar juga. Kau memiliki jakun dan..." pria itu menatap dada Sungmin, "dadamu rata." Sambungnya acuh.

Sungmin membelalakan matanya mendengar komentar tidak sopan dari pria di depannya ini.

"Tidak sopan!" seru Sungmin kesal sambil membalikkan badannya. Dia memutuskan untuk tidak memperdulikan pria aneh yang sudah menghina dirinya ini. Sudah mengatainya wanita, pria itu juga menatap tubuhnya dengan tidak sopan dan tanpa rasa bersalah sedikitpun.

Namun pria itu tak melepaskan Sungmin begitu saja. Pria itu langsung menghadang Sungmin dengan berdiri satu langkah di hadapan Sungmin.

"Aku butuh bantuanmu sweety." Sungmin mendelik mendengar sapaan pria itu padanya.

Tapi pria itu tak memperdulikan delikan mata Sungmin yang menurutnya sama sekali tidak menyeramkan, justru terlihat manis.

"Aku ingin bertanya apa kau tahu selada apa yang cocok untuk membuat Caesar Salad?"

Sungmin memicingkan matanya memandang pria yang menurutnya sangat menyebalkan ini.

'Wajahnya sih tampan. Tubuhnya juga atletis dan sangat proporsional. Meski kulitnya agak sedikit pucat, seperti Robert Pattinson Korea. Tapi mulutnya itu, menyebalkan!' batin Sungmin menilai pria di depannya ini.

"Jadi? Apa aku tahu Bunny?" tanya pria itu lagi.

"Bunny? Memangnya aku kelinci!" sergah Sungmin sewot.

"Tapi kau memang seperti kelici, kelinci yang manis."

Jika saja pria ini tidak membuatnya kesal di awal, mungkin Sungmin akan merelakan dirinya merona mendengar perkataan pria ini yang seperti tengah merayunya.

Sungmin menarik nafas dalam untuk menenangkan amarahnya. Mereka ini hanyalah orang asing yang tak sengaja bertemu, dan mereka juga tengah berada tempat umum, tidak baik jika meneruskan perdebatan konyol mereka tadi.

Sungmin ppun akhirnya memutuskan untuk membantu pria ini agar bisa lekas terbebas dari pria uhuk mengagumkan uhuk tapi menyebalkan ini.

"Romaine. Kau membutuhkan Romaine Lettuce atau selada Romaine untuk membuat caesar salad." Ujar Sungmin acuh.

Pria itu memandang Sungmin dengan bingung seolah Sungmin tengah membicarakan alien yang datang dari mars.

"Ah, kau pasti juga tidak tahu bentuk selada romaine seperti apa." Sungmin berdecak.

Sungmin kemudian menuju ke rak selada dan mengambil satu buah selada romaine, setelah memasukkannya ke dalam plastik, Sungmin memberikannya kepada pria itu.

"Apakha ini cukup untuk enam orang?" tanya pria itu polos sambil menggenggam plastik berisi selada itu.

"Enam orang?" tanya Sungmin untuk memastikan.

Dilihatnya pria itu mengangguk polos.

"Namja atau yeoja?"

"Namja, semuanya namja," pria itu sambil tersenyum.

Sungmin buru-buru mengalihkan wajahnya untuk menghindari senyuman pria itu yang menurutnya terlihat keren.

Sungmin kembali mengambil satu buah selada romaine dan memasukkannya ke dalam plastik yang di pegang pria itu.

Kemudian pria itu memasukkan plastik selada itu ke dalam trolley-nya.

Sungmin mencuri-curi pandang pada trolley pria itu.

Ada 2 lusin kaleng bir, 5 botol soda berukuran 1.5 liter, serta beberapa bungkus besar snack beraneka jenis dan rasa.

"Ada acara nonton bersama dengan teman?" tanya Sungmin sambil menunjuk Trolley pria itu.

"Begitulah. Ada pertandingan MLS (Liga Sepak bola Amerika) malam ini. Apa kau juga suka sepak bola?" tanya pria itu balik sambil tersenyum, matanya berbinar-binar.

"Lumayan, tapi tidak terlalu mengkuti MLS. Aku lebih suka Liga Europe. Kalau tidak salah malam ini LA Galaxy akan berhadapan dengan , kan?"

Pria itu mengangguk lagi, senyumnya semakin melebar.

"By the way, aku Cho Kyuhyun," ucap pria itu sambil mengulurkan tangan kanannya.

Sungmin menyambut uluran tangan pria yang bernama Cho Kyuhyun itu. Dapat dirasakannya jabatan pria itu yang terasa hangat. "Lee Sungmin imnida."

"Nice to meet you, Sungmin-ssi," ujar Kyuhyun sambil tersenyum.

"Nice to meet you, too, " balas Sungmin sambil balas tersenyum.

"Senyummu sangat imut, Sungmin-ssi," ucap Kyuhyun sambil menatap Sungmin dalam.

Sungmin meneguk ludah mendapati tatapan Kyuhyun yang cukup mengintimidasinya.

"I better go then. Have fun watching the game," ucap Sungmin bersiap-siap mendorong trolley ke kasir untuk menghindar dari tatapan Kyuhyun yang seakan-akan menarik semua oksigen dari saluran pernapasannya.

"Apakah... kau tahu apa lagi yang dibutuhkan untuk membuat caesar salad?"

Sungmin menghentikan langkahnya dan berpikir sejenak.

"Kau membutuhkan parmigiano cheese, black pepper, dan tentunya mayonaise untuk caesar salad. Kau juga bisa menambahkan croutons di atasnya jika mau."

Kyuhyun menatap Sungmin bingung. "Aku sama sekali tidak mengetahui apapun yang kau sebutkan tadi. Yang ku tahu hanya black pepper alias lada hitam," ucapnya sambil berbisik.

Tanpa bisa ditahan Sungmin tertawa ketika mendengar kata-kata Kyuhyun serta melihat ekspresi wajahnya yang tersipu-sipu.

Dalam hatinya, Sungmin bertanya-tanya. Bagaimana mungkin pria cool seperti Kyuhyun yang tadi begitu menyebalkan bisa terlihat menggemaskan.

Sungmin menjadi tidak tega meninggalkan Kyuhyun yang jelas-jelas memerlukan bantuannya.

Sungmin pun mendorong trolley belanjaannya ke salah satu sudut yang aman agar tidak mengganggu jalan customer lain.

"Baiklah, apa boleh buat. Aku akan membantumu mencari semua bahan yang kau perlukan. Ini ku lakukan atas dasar solidaritas sesama orang Korea, arraseo?" ujar Sungmin sambil menatap Kyuhyun tegas agar Kyuhyun tidak salah paham dengan keputusan Sungmin.

Kyuhyun terlihat terkejut dengan tawaran Sungmin, tetapi kemudian dia langsung menerimanya dengan senang.

Sambil berjalan menuju ke bagian keju Sungmin pun bertanya karena penasaran.

"Mengapa kau ingin membuat caesar salad jika kau tidak tahu apa saja bahan-bahan yang diperlukan?"

"Ini... karena taruhan. Teman-temanku mengatakan bahwa aku sama sekali tidak bisa memasak. Jadi aku ingin membuktikan bahwa mereka salah. Sebenarnya aku juga tidak akan memakan salad ini karena aku tidak menyukai sayuran. Aku hanya membuatnya untuk membuktikan diri pada mereka. Aku rasa membuat salad tidak terlalu sulit, karena itulah aku memilih membuat ini."

Sungmin menahan tawa ketika mendengar alasannya.

'Jadi hanya karena taruhan!? Dia bahkan tak menyukai salad sayur.'

"Kau ingin menertawakanku?" tuduh Kyuhyun curiga.

"Tidak," jawab Sungmin sambil membuang muka agar Kyuhyun tidak bisa melihat tawanya yang Sungmin yakin akan meledak sebentar lagi.

Dalam hati Sungmin meyakini bahwa sepertinya Kyuhyun tidak tahu jika membuat salad tidak bisa digolongkan dalam kategori memasak karena tidak ada bahan-bahan yang perlu dimasak.

Dari sudut matanya Sungmin melihat Kyuhyun yang sedang memperhatikan wajahnya.

"Kau memang menertawakanku," katanya putus asa.

Sungmin pun tidak bisa menahan tawanya lagi. Untungnya mereka sudah tiba di rak keju, Sungmin segera mengambil satu pack parmigiano cheese dan meletakkannya di dalam trolley yang didorong Kyuhyun.

"Sekarang kita ke bagian mayonaise. Ada mayonaise instan untuk caesar salad, jadi kau tidak perlu membuatnya secara manual. Aku yakin kau juga tidak tahu kan seperti apa bentuknya," ucap Sungmin sambil berjalan mendahului Kyuhyun menuju rak mayonaise.

"Kau mengatakan seolah-olah aku benar-benar buta dengan dunia memasak," protes Kyuhyun dengan nada kesal.

Sungmin tertawa kecil mendengar nada kesal Kyuhyun.

Mereka tiba di depan rak panjang berisi berbagai jenis caesar dressing. Sungmin mengambil brand kesukaannya kemudian meletakkannya ke dalam trolley Kyuhyun.

"Memangnya kau pernah memasak apa saja?" tanya Sungmin menantang sambil menatap Kyuhyun.

"Hmm, ramyun?" jawab Kyuhyun polos. "Menurut Eommaku, ramyun buatanku lezat seperti Han Gang."

Sungmin sontak tertawa mendengarnya.

"Ya. Pengalaman yang lumayan." Sungmin memutuskan untuk sedikit memuji Kyuhyun agar tidak merasa terhina. Sejujurnya Sungmin mengerti benar apa maksud Eomma Kyuhyun dengan 'lezat seperti Han Gang?' itu berarti kemungkinannya dua, rasa kuahnya seperti air sungai (asin atau hambar) atau... airnya kebanyakan seperti air sungai yang meluap.

"Kau menertawakanku lagi?" tuduh Kyuhyun.

"Tidak," jawab Sungmin sambil membuang muka agar Kyuhyun tidak bisa melihat tawanya yang Sungmin yakin akan meledak lagi.

"Ehm," Sungmin berdeham untuk meredakan rasa geli yang melandanya, Kyuhyun benar-benar lucu menurut Sungmin. Rasa kesal yang sempat dirasakannya pada Kyuhyun hilang begitu saja. Sungmin begitu menikmati berbicara dengan Kyuhyun.

"Kau punya lada hitam di rumah atau kau ingin membelinya juga?" sungmin segera mengalihkan pembicaraan.

"Mungkin ada, tetapi aku tidak begitu yakin. Lebih baik kita beli saja, untuk berjaga-jaga," balas Kyuhyun sambil nyengir kepada Sungmin.

Sungmin mencoba tidak menghiraukan kata-kata Kyuhyun yang menggunakan kata 'kita' dan bukan 'aku' seolah mereka berdua yang akan membuatnya bersama.

Sungmin mendahului Kyuhyun dan berjalan ke ujung rak panjang untuk mengambil satu botol lada hitam dan menyerahkannya kepada Kyuhyun.

"Apakah kau ingin croutons untuk saladmu? Atau mungkin, kau bisa menggantinya dengan membuat grilled chicken breast fillet (fillet dada ayam panggang)." Sungmin berdiri di hadapan Kyuhyun sambil berkacak pinggang.

Kyuhyun menunjukkan smirk-nya sambil menatap Sungmin dengan pandangan menggoda.

Merasa canggung dengan tatapannya, Sungmin pun menurunkan tangan dari pinggangnya.

"Wae geurae?" tanya Sungmin sok kesal.

"Tidak, sepertinya kita tidak memerlukan croutons maupun ayam," ucap Kyuhyun. Sekali lagi dia menggunakan kata 'kita' seakan-akan mereka akan membuat salad itu berdua.

"Okay, then you are set," balas Sungmin sambil tersenyum dan mulai melangkah kembali menuju trolley belanjaannya.

Dari sudut matanya Sungmin melihat Kyuhyun mendorong trolley belanjaannya mengikuti Sungmin.

"Sepertinya begitu." Kyuhyun terdengar ragu ketika mengucapkan kata-kata itu.

Sungmin hentikan langkahnya dan menatap Kyuhyun.

"Kau tahu cara membuat salad, kan?" tanya Sungmin curiga.

"Aku pernah melihat cara membuatnya," jawab Kyuhyun dengan wajah memerah.

"Di mana?" Sungmin semakin curiga.

"Di TV." Jawab Kyuhyun polos.

Meledaklah tawa Sungmin.

Kyuhyun pun ikut tertawa bersamanya. Suara tawa Kyuhyun terdengar berat namun merdu. Dan Sungmin tidak akan mengelak jika Kyuhyun terlihat berkali lipat lebih cool saat tertawa dibandingkan saat dia menyunggingkan smirk-nya.

"Oh Man... you're hopeless," canda Sungmin.

"Kau bisa bertanya apapun tentang elektronik atau yang berhubungan dengan dunia game kepadaku. Tetapi jika untuk urusan makanan dan fashion... give up," ujar Kyuhyun sambil mengangkat bahu dan masih tertawa.

Mereka pun bersama-sama berjalan menuju trolley belanjaan Sungmin.

"Sangat mudah untuk membuat caesar salad. Kau hanya perlu memotong romaine lettuce-nya dengan ukuran sedang, jangan terlalu kecil, kemudian taruh dalam mangkuk besar. Bumbui dengan black pepper secukupnya, jika kau punya olive oil bisa tambahkan itu sedikit. Lalu masukkan mayonaise dan aduk rata. Terakhir, sajikan dalam piring dan taburi dengan parmigiano cheese yang telah di parut. Finish!" Sungmin mencoba menggambarkan sedetail mungkin cara membuat caesar salad.

Kyuhyun mendengarkannya dengan saksama. Kemudian Kyuhyun mengulangi instruksi Sungmin tadi dengan sedetail-detailnya.

"Good. Kau ingat semua langkah-langkahnya persis seperti yang sudah ku jelaskan tadi," puji Sungmin sambil bertepuk tangan.

"Ingatanku cukup kuat," balas Kyuhyun sambil mengetuk pelipisnya dengan jari telunjuknya.

"Arraseo, Mr Eiinstein. Sebaiknya kau segera bergegas. Kau akanketinggalan pertandingannya nanti," kata Sungmin sambil mendorong trolley belanjaannya menuju kasir.

"Thanks for your help!" teriak Kyuhyun.

Sungmin hanya mengangguk dan melambaikan tangan sambil tersenyum.

.

.

(Sungmin POV)

.

Ketika sampai di rumah dan membongkar belanjaanku, aku baru menyadari ternyata aku lupa membeli parsley.

Aku pun tertawa keras.

Ternyata Kyuhyun telah memenuhi pikiranku lebih daripada yang telah aku perkirakan.

Pria seperti Kyuhyun memanglah tipe yang sulit untuk diacuhkan siapapun.

Sebenarnya, jika dibandingkan dengan Kim Kibum... Kyuhyun terlihat lebih menyenangkan.

Tapi...

Ah sudahlah. Dia hanyalah orang asing yang tak sengaja ku temui.

Jangan sampai aku terlalu larut dalam khalayan semu tentangnya.

Belum tentu juga kami akan bertemu kembali.

Well, karena malas kembali lagi ke fresh market, aku memutuskan membuat menu makanan lain dan menunda mencoba resep dari Cooking Channel ituuntuk lain waktu.

Setelah makan malamku siap, aku menyalakan TV dan mencari channel CNN untuk menonton world news.

Aku ingin mengikuti setiap perkembangan yang terjadi di dunia internasional. Aku takut apabila sesuatu yang buruk terjadi di Korea, misalnya gempa bumi plus tsunami seperti yang pernah menimpa Jepang. Atau mungkin tiba-tiba saja Korea Utara memutuskan untuk memulai perang saudara tahap kedua dan menyerang perbatasan. Meski tidak terlalu dekat, namun tempat kedua orang tuaku tinggal, Ilsan, Gyeonggi, tidak terlalu jauh juga dari perbatasan. Jika sampai terjadi sesuatu dan aku melewatkannya, tentu aku akan sangat menyesal seumur hidupku.

Mungkin saat libur natal nanti, sebaiknya aku mengambil cuti panjang dan mengajak Eunhyuk pulang ke Korea. Kedua orangtuaku pasti sangat merindukan kami karena sudah hampir satu tahun aku tidak pulang.

.

(Sungmin POV END)

.

.

TBC

.

.

Aloha! Hasu is back!

Sambutan yang lumayan... ^.^

Ah, mianhae ne karena Kyumin momentnya sedikit, namanya juga first meet.

Gomawo buat reviewnya. #bow

Buat yg bertanya2 soal prolog nya, itu... sebenarnya bocoran chap2 terakhir, hehe...

Jadi, yg pada penasaran... keep reading ne, hehe

Dan juga, jeongmal mianhe karena Too Far belum bisa update. Chap terakhir kehapus T.T

DAN DODOLNYA, Hasu LUPA bikin back upnya T.T

Jadi di edit lagi deh.

Huh... Padahal tinggal di update aja. ,

Hasu ga janji, tapi... silahkan coba cek besok malam, mungkin Hasu dah bisa update chap 17 nya sekaligus pengumuman jadwal update untuk chapter book 3.

Jadwalnya nanti sesuai permintaan terbanyak dari reviewers.

Dan... sejauh yang Hasu baca, rata-rata pada minta no.3 tapi ga diskip :P

Yah, nanti lihat aja deh besok.

Keep patient, ok?

Buat ff ini, karena ga perlu di translate, cuma ngetik ulang dari bukunya ama dirombak jadi cerita yaoi, mungkin bisa update seminggu 2-3 kali #ga janji juga, tapi diusahain.

At least,

Keep reading ^.^

Gomawo

.

.

RyeoTa Hasu