BLIND DATE?
by RyeoTa Hasu
(Original Story by AliaZalea)
Cast :
Lee Sung Min (27-28 y.o)
Cho Kyu Hyun (35 y.o)
Lee Hyuk Jae aka Eunhyuk (25 y.o) as Sungmin's younger brother
Park Jung Soo aka Leeteuk (26 y.o) Sungmin's Blind Date Agent
Kim Jung Mo (32 y.o) as Sungmin ex. Boyfriend
Cameo :
Lee Jinki (26 y.o) as Sungmin's dating partner.
Choi Siwon (35 y.o) as Sungmin's dating partner.
Kim Jonghoon aka Yesung (30 y.o) as Sungmin's dating partner.
Disclaimer :
This original story is from Blind Date Novel by AliaZalea
Hasu hanya me-remake-nya dengan Kyumin sebagai main Cast dengan beberapa perubahan dan penyesuaian
Kyumin dan Cast lainnya milik Tuhan YME, Orang tua dan Agensi
Hasu hanya meminjam namanya untuk kepentingan cerita
Rate :
T
Warning :
Boy's Love / YAOI, OOC, MPREG, hurt/comfort, Typo menjamur
.
.
DON'T LIKE? DON'T READ!
MAKE IT SIMPLE
HAPPY READING ^.^
.
.
Chapter 2
o.o.o.o.o.o.o.
.
.
(Sungmin POV)
.
Bernama lengkap Lee Jinki, memiliki nama panggilan Onew, usia 26 tahun dan seorang mahasiswa seni dengan konsentrasi modern Art.
Yah...
Dia terlihat cukup ramah, tubuhnya tampak sehat dan proporsional dengan senyuman angelic yang manis. Aku suka penampilannya secara keseluruhan.
Merasa lebih positif, aku memberikan senyum terbaikku kepadanya dan siap mengenalnya lebih jauh.
Namun 45 menit kemudian aku siap bunuh diri karena bosan.
Awalnya dia terlihat malu-malu.
Melihat hal itu, aku pun mencoba mencari topik pembicaraan yang netral agar kami bisa saling mengenal.
Aku mulai dengan menanyakan di mana dia kuliah, yang dijawab dengan Wake Forest University. Lalu berada ditahun berapa, Jinki menjawab di tahun terakhir. Jurusan apa yang dia ambil, Jinki menjawab seni. Konsentrasi apa, dia menjawab modern art. Apakah dia bisa bernyanyi dengan baik, dia menjawab dengan satu anggukan kaku. Apa dia ingin menjadi penyanyi atau pencipta lagu atau produser, dijawab ketiganya.
Tidak lebih dari 3-5 kata.
Maka berlanjutlah makan malam kami dengan suasana membosankan, di mana aku akan menanyakan satu pertanyaan dan Jinki akan menjawabnya dengan tidak lebih dari lima kata.
Setelah selesai makan malam, Jinki masih juga tidak berkata-kata apapun sekedar bertanya balik tentang diriku seolah dia sungguh-sungguh tidak tertarik denganku.
Akhirnya, aku pun berkata, "Are you feeling okay?"
Jinki terlihat terkejut dengan pertanyaanku. "Ya. Apa ada yang salah?"
"Selama satu jam makan malam kita, kau belum pernah mengucapkan kalimat yang lebih panjang dari lima kata," balasku sambil meminum minumanku tanpa melepaskan pandanganku padanya.
Jinki terlihat malu mendengar penjelasanku. Wajahnya memerah.
Apa dia sungguh seorang 'top'? Dibandingkan denganku, dia terlihat lebih pasif dan mungkin justru akan menjadi 'bottom' ku nantinya.
Hah... sangat mengecewakan.
"Shall we go, then?" tanyaku.
"Aku... maafkan aku karena tidak bisa jadi teman bicara yang baik malam ini," ucap Jinki pelan.
Aku terkejut mendengarnya karena inilah kalimat terpanjang yang diucapkannya sepanjang malam.
"That‟s okay," balasku, mencoba tetap ramah.
Jika saja bukan karena tampang menggemaskannya, mungkin aku akan mengamuk didepannya. Dia telah membuang-buang waktuku yang berharga!
"Sebenarnya aku ada ujian besok, yang sedikit membuatku khawatir. Meskipun kurasa aku telah mempelajari semuanya, tetapi sepertinya otakku terlalu penuh hingga tidak bisa mengingat apa pun yang telah ku pelajari sebelumnya." Lee Jinki mengucapkan kalimat itu dalam satu tarikan napas.
Aku hanya bisa terdiam menatapnya, namun kemudian aku tertawa terbahak-bahak.
Lee Jinki menatapku bingung.
"Oh, jadi karena itu. Ku fikir kau diam saja karena tidak menyukai pertemuan ini. Baguslah jika bukan itu alasannya," jelasku, di antara tawaku.
Jinki terlihat terkejut dengan penjelasanku, lalu dia pun tertawa.
Untuk pertama kalinya aku bisa melihat Jinki yang begitu cute dengan gigi yang rapi dan suara tawa yang penuh kehangatan.
Aku yakin dia akan menjadi penyanyi, pencipta lagu sekaligus produser yang sukses suatu hari nanti.
Tiba-tiba Jinki berkata, "Awww... kau tidak perlu khawatir tentang itu, Sungmin-ssi. Kau terlalu menarik untuk diacuhkan. I would love to go out with you again next time."
"Apakah kalimatmu akan lebih panjang dari lima kata?" candaku.
Jinki tertawa mendengar pertanyaanku. "Aku janji, kalimat-kalimatku akan lebih panjang dari lima kata," balasnya.
"Then we have a deal." Aku mengulurkan tangan tanda sepakat.
Jinki tertawa dan menjabat tanganku.
Kami lalu membayar makan malam kami masing-masing, dan berpisah di depan pintu masuk restoran setelah bertukar nomor telepon.
Ini sungguh kencan yang sangat membosankan bagiku. Tapi, ya... mungkin kami bisa berteman saja. Dia cukup lucu menurutku. Dia seperti Eunhyukkie tapi versi lugu.
.
.
BLIND DATE?
.
.
Hari Sabtu siang.
Hari ini adalah jadwal pertemuanku dengan Choi Siwon.
Ketika aku sedang melangkah memasuki restoran tiba-tiba ponselku berbunyi.
Ternyata dari Leeteuk-ssi yang ingin memberitahukan bahwa Choi Siwon akan terlambat tiga puluh menit dari waktu yang sudah dijadwalkan.
Ini membuatku sedikit jengkel karena berarti aku harus menunggunya.
Aku benci orang yang tidak bisa datang tepat waktu.
Kim Kibum dan Lee Jinki saja bisa datang tepat waktu, mengapa Mr. Choi Siwon itu tidak bisa?
Awalnya aku menolak duduk di meja yang telah dipesan. Aku lebih memilih menunggu pria sok sibuk itu di bangku panjang dekat pintu masuk. Akan tetapi, setelah dua puluh menit dan tempat itu mulai penuh dengan orang-orang yang sedang menunggu meja, aku pun meminta hostess restoran mengantarku ke meja yang telah dipesan GBD.
Aku memilih hanya memesan segelas pink lemonade, sambil menunggu Choi Siwon yang sok sibuk itu.
Namun hingga sepuluh menit kemudian aku masih belum juga melihat batang hidungnya.
Dasar pria tidak bertanggung jawab.
Aku semakin kesal karena sepertinya restoran ini adalah salah satu restoran terfavorit di Burlington. Antrean orang yang menunggu meja terlihat cukup panjang. Beberapa orang di sekitarku mulai menatapku penuh tanda tanya. Aku bahkan hampir bisa mendengar pertanyaan-pertanyaan yang terlintas di kepala mereka.
Mengapa dia sendirian saja? Apakah mungkin kekasihnya sengaja tidak datang?
Mengapa dia tidak memesan makanan apapun? Dia sudah duduk di situ selama sepuluh menit.
Dia cukup manis, mengapa ada orang yang tega membiarkannya menunggu?
Aku sudah siap menelepon GBD agar membatalkan kencanku ketika kulihat hostess restoran yang tadi mempersilakanku duduk berjalan ke arahku diikuti oleh seorang pria yang sangat tampan dan atletis pernah kulihat sepanjang hidupku.
Wajah pria itu seperti aktor-aktor tampan yang sering berada di karpet merah pada acara Awards, pria itu sekelas dengan Tom Cruise atau Brad Pitt.
Apakah dia date-ku? Tidak mungkin.
Mana mungkin pria setampan dirinya itu memerlukan jasa blind date untuk menemukan pasangan? Terlebih Gays Blind Date.
Aku yakin wanita cantik diluaran sana atau bahkan pria berstatus uke manapun akan rela mendampinginya tanpa ada insentif apa pun juga.
Kulihat mata beberapa wanita yang duduk di meja-meja di hadapanku mengikuti setiap langkah pria itu.
Beberapa dari mereka bahkan mulai menelanjangi pria itu dengan matanya.
Mau tidak mau aku terpaksa tersenyum dan mengalihkan perhatianku pada ponselku lagi.
Aku mengalihkan perhatianku dari ponsel ketika kurasakan ada angin yang berembus di hadapanku, efek ketika seseorang tiba-tiba berhenti di hadapanku.
Tatapanku kemudian tertuju pada sepasang sepatu pria di hadapanku diikuti suara seseorang berkata, "This is your table. Have a nice lunch."
Saat itu juga kuangkat kepalaku dan bertatapan langsung dengan Pria tampan tadi.
"Maafkan saya karena membuat Anda harus menunggu saya. Penerbangan saya dari Boston mengalami penundaan. Tapi saya telah berkendara sebaik mungkin agar sampai tepat waktu disini. Apakah GBD telah menghubungi Anda untuk memberitahu mengenai keterlambatan saya?"
Pria itu mengatakan semua itu sambil menarik kursi yang ada di hadapanku dan duduk. Kemudian dia mulai membuka-buka buku menu.
Aku hanya mengikuti gerakannya dengan mataku tanpa mengatakan apapun.
Ternyata pria tampan ini memang Choi Siwon. Date-ku siang ini.
Semua perasaan kesalku hilang begitu saja tak berbekas. Aku justru beralih merasa malu karena telah merasa kesal terhadap pria setampan ini.
Beberapa orang yang tadi menatapku penuh tanda tanya sekarang mengerlingkan mata mereka penuh kekaguman.
"Oh, maafkan saya. Di mana sopan santun saya. Saya Choi Siwon," ucapnya, sambil mengulurkan tangannya.
Entah bagaimana aku bisa menggerakkan tanganku, yang jelas tiba-tiba tanganku telah menjabat tangan Choi Siwon. Pria ini menjabat tanganku dengan tegas dan mantap ala bisnisman.
"Sungmin imnida. Tidak apa Choi Siwon-ssi. Saya memakluminya. Penerbangan di saat weekend memang sering bermasalah." Ujarku sambil tersenyum kecil.
"Benarkah? Senang mendengarnya. Anda memang pria yang manis dan baik, Sungmin-ssi. By the way, apakah Anda sudah siap memesan makanan? I'm really starving. Let's see what's good in here."
Seketika aku tersadar dari keterpanaanku, dan berkata, "Spaghetti Bolognaise sepertinya enak." Meskipun suaraku agak bergetar namun masih terdengar cukup keras dan meyakinkan.
"Anda ingin memesan itu?" Choi Siwon menatapku heran.
"Ya, saya sedang ingin makan pasta hari ini," jawabku.
Otakku telah bekerja kembali dan bisa mengatakan kalimat itu dengan jenaka.
Choi Siwon tertawa mendengarku. "Sepertinya itu ide yang bagus, tapi saya lebih suka carbonara dibandingkan bolognaise. Bolognaise terlalu berlemak," balasnya, juga dengan jenaka.
"Baiklah, itu terserah Anda. Tapi saya lebih suka bolognaise."ujarku keras kepala.
"Tapi saya ingin pesan carbonara." Balasnya tak kalah keras kepala.
Kami lalu terdiam sesaat sambil saling menatap. Aku mencoba menyimpulkan, apakah pria ini sedang meledekku dengan kata-katanya atau dia serius.
Aku yakin dia hanya bercanda.
"Saya hanya bercanda," lanjutnya, sambil tertawa dengan keras. "Coba lihat ekspresi Anda tadi. How cute."
Aku tidak tahu seperti apa ekspresiku tadi yang dianggapnya 'cute', namun mendengar pujiannya membuatku merasa malu.
Aku lalu menarik napas berusaha untuk tidak salah tingkah, kemudian berkata dengan nada sesarkasme mungkin, "Hahaha. Terima kasih atas pujiannya."
"You're welcome." Balasnya sambil tersenyum lebar menunjukkan kedua dimplenya.
Oh my God! Pria ini memiliki dimple smile termanis yang pernah ku lihat.
Tawa Choi Siwon tadi membuat beberapa mata menatap kami. Kebanyakan mata itu adalah milik wanita. Dalam tatapan mereka seolah-olah terlintas beberapa pertanyaan dan komentar.
Aku tidak percaya ini, pria mungil itu bisa membuat pria tampan itu tertawa sampai terbahak-bahak?
Apakah kau pikir dia adik pria itu? Dia tidak mungkin pacarnya, pria setampan itu tidak mungkin gay.
Seorang waiter kemudian menghampiri meja kami untuk mencatat pesanan.
Seperti perkataanku tadi, aku tetap memesan Spaghetti Bolognaise, sedangkan Choi Siwon itu memesan Spaghetti Carbonara.
Waiter itu kemudian pergi untuk menyampaikan pesanan ke dapur. Beberapa menit kemudian waiter itu kembali membawa segelas soda pesanan Choi Siwon serta pink lemonade milikku.
"Bisakah kita berbicara sedikit santai? Suasana formal sedikit tidak cocok untuk sebuah kencan menurutku." Saran Choi Siwon sambil tak lelah mengumbar senyum.
Apa dia tak lelah terus menerus tersenyum?
"Sure. Tak masalah. Aku juga sedikit sungkan dengan pembicaraan yang terlalu formal." Balasku.
"Baguslah, Sungmin-ssi. Aku suka dengan gayamu." Komentarnya santai, terlalu santai.
"Aku memang seperti ini. Ini aku apa adanya." Ujarku dengan santai menyesuaikan gayanya. Pertemuan ini jauh lebih menyenangkan dibandingkan pertemuanku kemarin dengan Lee Jinki yang imut namun kikuk itu.
"Tapi, sejujurnya aku sempat mengira kau itu pribadi yang selalu serius saat melihatmu pertama kali tadi. Apakah sebenarnya kau itu selalu serius atau santai?" tanya Choi Siwon dengan sorot mata ingin tahu.
Aku menatapnya bingung. Apa maksudnya dengan pertanyaan itu?
"Serius? Kapan aku terlihat serius?" tanyaku bingung.
"Kau terlihat seperti... marah, ya marah. Saat aku datang menghampirimu tadi," jelasnya.
"Marah? Aku marah? Why?" ucapku terkejut.
Apakah memang wajahku terlihat marah ketika memandangnya tadi?
"Mungkin bukan marah, tetapi... kesal, ya mungkin kau kesal," tambahnya.
"Oh... Sebenarnya ya, aku memang sedikit 'kesal' karena kau telah membuatku menunggu lebih dari setengah jam. Aku sudah siap menelepon GBD untuk membatalkan kencan hari ini," balasku sengaja menekankan kata 'kesal' dalam penjelasanku.
"Oh, ya? Kau berniat membatalkan date kita ini?"
Aku mengangguk.
"Lalu? Mengapa tidak jadi?" tanyanya penasaran.
"Karena kau tampan dan secara fisik memuaskan, aku memaafkanmu." Jelasku sok acuh. "Aku baik kan?"
Choi Siwon tertawa mendengar jawabanku.
Untung saja kemudian waiter datang mengantarkan makanan kami sehingga pembicaraan absurd ini berakhir.
"Jadi, kau kerja sebagai financial analyst, Sungmin-ssi?" tanya Choi Siwon, setelah waiter berlalu.
Sambil mengaduk spaghettiku agar rata aku menjawabnya.
"Ya... di sebuah bank di Winston-Salem."
"That's sound good! Apakah kau keberatan jika aku bertanya-tanya mengenai beberapa investasi yang ku lakukan? Aku hanya ingin memastikan apakah aku sudah cukup berhati-hati dengan investasi itu."
Kami lalu membahas tentang keadaan keuangannya secara lebih mendetail sambil menyantap pesanan kami.
Secara tidak langsung Choi Siwon ini memberitahuku bahwa dia sudah sangat mapan dan siap melangkah ke jenjang selanjutnya, yaitu pernikahan.
Aku mencoba membandingkan pria ini dengan Kim Kibum dan Lee Jinki. Di usianya yang sudah menginjak 35 tahun, sangat wajar jika hidup pria ini sudah mapan, bahkan bisa dibilang cukup sukses.
Akan tetapi, fakta itu bukannya menenangkanku, malah justru membuatku sulit bernapas.
Jika Kim Kibum dan Lee Jinki, dengan usia mereka yang masih muda, aku bisa melihat potensi mereka dalam sepuluh tahun ke depan.
Sementara pada Choi Siwon, pria ini adalah pria yang sangat mapan yang tidak lagi memerlukan dorongan seseorang untuk meraih kesuksesannya.
Entah mengapa, aku merasakan ada sedikit kekecewaan ketika menyadari hal ini.
Well, harus kuakui, secara fisik aku tidak bisa menolak rasa ketertarikanku kepadanya. Aku pun cukup yakin, setelah satu jam pertemuan kami ini, dia juga akan tertarik kepadaku.
Sepertinya tidak ada salahnya mencoba mengenali pria ini lebih jauh lagi.
"Sudah berapa lama kau jadi anggota GBD, Siwon-ssi?" tanyaku, sambil menikmati dessertku, puding labu dengan ekstra madu.
"Hmm, hampir satu tahun," jawab Siwon sambil meminum kopinya.
Mau tidak mau keningku mengernyit.
Bagaimana mungkin dia sudah menjadi klien GBD selama hampir setahun dan belum juga menemukan pasangan yang cocok.
"Kau sudah hampir setahun tapi masih belum menemukan orang yang tepat?" pancingku.
"Ya... ada beberapa yang cocok."
"Lalu?" Aku mencoba menyembunyikan nada penasaran pada suaraku, tetapi gagal total.
Choi Siwon menatapku sambil memicingkan matanya. Aku merasa dia sedang mencoba menilaiku. Setelah puas dengan pengamatannya, pria ini menjawab, "Donghae."
Aku mengedipkan mata beberapa kali. Itu jawaban yang sama sekali tidak masuk akal bagiku.
Seingatku memang ada daerah Donghae yang terletak di pesisir pantai di provinsi Gangwondo, Korea Selatan.
By the way, pria yang belum lama ini dekat dengan Eunhyukkie juga bernama Donghae. Tentu saja mungkin tidak hubungannya dengan Choi Siwon ini.
Tapi, memang ada urusan apa pria ini di Donghae?
"Maksudmu?"
"Anak laki-lakiku. Choi Donghae."
Apa yang terjadi setelah itu di luar kontrol otakku. Tiba-tiba saja mulutku menyemburkan lemonade yang baru saja kutelan ke wajah, tangan, dan sebagian kemeja Siwon.
Semua orang yang ada di sekelilingku langsung menoleh ingin melihat apa yang sedang terjadi di meja kami.
Sekali lagi aku mencoba tidak menginterpretasikan tatapan orang-orang yang ada di sekitarku.
Aku memerintahkan imajinasiku untuk diam seribu bahasa. Aku sangat menghargai Choi Siwon yang tidak marah, dia bahkan tidak terlihat tersinggung dengan tindakanku ini.
Siwon hanya mengambil serbet yang ada di pangkuannya untuk mengusap tetesan-tetesan lemonade dari wajahnya.
"Are you okay?" tanyanya khawatir. Dia yang menjadi korban mengapa dia justru yang bertanya keadaanku?
Tanpa menghiraukan pertanyaannya aku meluncurkan pertanyaanku sendiri, "Kau telah memiliki anak?" ucapku dengan suara yang cukup keras.
Tiba-tiba waiter yang tadi melayani kami muncul dan menanyakan apakah semuanya baik-baik saja sambil menatapku khawatir.
Aku dan Siwon mengangguk bersamaan. Waiter itu pun berlalu.
Aku lalu mengulang pertanyaanku lagi, tetapi kini dengan berbisik. Pria dihadapanku ini mengangguk, dan tiba-tiba dia mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya.
"Umurnya delapan belas tahun," ucapnya, sambil menyodorkan selembar kertas kecil kepadaku. Ternyata foto seorang remaja laki-laki yang tampan, berambut hitam dan tersenyum polos.
"Wajahnya mirip denganmu." Aku mencoba terdengar seramah mungkin sambil membandingkan wajah anak itu dengannya.
Siwon tertawa. "Sebenarnya dia lebih mirip Eommanya kecuali bentuk wajahnya yang sepertiku."
Saat ini aku sedang memaki GBD di dalam hatiku. Bagaimana mungkin mereka memasangkanku dengan pria yang sudah memiliki anak? Bukankah Leeteuk-ssi telah berjanji akan mengusahakan pria 'single' untukku?
Pria ini, Choi Siwon, jelas-jelas pernah menikah, jika tidak bagaimana mungkin dia bisa memiliki anak?
Well, kecuali dia penganut budaya free sex, itu mungkin baginya memiliki anak tanpa pernikahan.
Dan lagi, delapan belas tahun?! Anaknya telah berusia 18 tahun sementara pria ini baru berusia 35 tahun.
Itu berarti dia memiliki anak diusia... 17 tahun?!
What the heck?!
Aku menggelengkan kepalaku mencoba mencerna semua informasi yang mendadak menghilangkan semua minatku pada pria ini.
"I'm so sorry. Seharusnya aku memberitahumu sebelumnya." Suara Siwon terdengar agak kecewa melihat reaksiku.
"No, no. Ini... ini bukan salahmu, Siwon-ssi. Ini salah GBD. Aku telah mengatakan kepada mereka bahwa aku hanya akan dating dengan pria single yang belum pernah menikah. Kelihatannya ada kesalahpahaman disini." Aku mengatakan semua kata-kata itu secepat mungkin agar tidak menyinggung perasaannya.
"Aku juga masuk ke dalam kategori itu. I'm single," balas Choi Siwon dengan suara tenang.
"What?" aku menatapnya tak mengerti.
Jadi?
"Stella Kim, Eomma Donghae dan aku tidak pernah menikah. Kami hidup secara terpisah. Kami berteman sejak junior high dan Stella melahirkan Donghae saat kami ditingkat 2 Senior High. Selama ini Donghae tinggal dengan Stella. Namun Stella meninggal dalam kecelakaan pesawat enam bulan yang lalu. Jadi, sekarang Donghae tinggal denganku."
Aku hanya ternganga mendengar penjelasannya.
Aku merasa seperti sedang menonton drama tv.
Bagaimana mungkin kejadian seperti ini bisa terjadi dalam kehidupan nyata?
"I'm sorry about... Stella Kim," ucapku akhirnya.
Siwon mengangguk dan tersenyum.
"Saat itu kami sama-sama mabuk setelah pulang dari pesta ulang tahun teman sekolah kami. Banyak hal terjadi saat itu. Dan ketika kami terbangun esok paginya, kami berdua ada di satu tempat tidur dan sama-sama tidak mengenakan apa pun. Lalu sebulan kemudian Stella mengatakan dia mengandung anakku."
Siwon menarik napas panjang sebelum melanjutkan. "Aku dibesarkan sebagai pria yang baik dan tahu sopan santun. Jadi aku pun berniat bertanggung jawab dengan menikahinya, tetapi Stella menolak. Dia tahu jika aku ini gay dan dia tidak ingin pertemanan kami menjadi rusak hanya karena sebuah tanggung jawab. Meskipun kedua orang tua kami memaksa kami agar menikah, namun Stella bersikeras menolak. Dan akhirnya, kami memutuskan untuk merawat Donghae bersama dan aku bersedia memberikan nama belakangku untuk Donghae sebagai bentuk tanggung jawabku."
"Lalu, sekarang Donghae ada di mana?" bisikku.
"Dia bersekolah di Washington. Aku ingin memastikan dia berada dalam pergaulan yang baik. Aku tidak ingin dia membuat kesalahan yang sama sepertiku dan Stella."
"Apa kau sering bertemu dengan anakmu?" tanyaku penasaran apakah pria ini merupakan sosok ayah yang baik.
"Sesering mungkin, sebisa mungkin aku akan mengambil cuti saat liburan musim panas dan musim dingin lalu bersenang-senang bersamanya."
Aku mengangguk, menyetujui keputusannya. Aku mendengarkan cerita Siwon dengan seksama.
Di satu sisi aku kagum karena dia telah memikul tanggung jawab sebesar itu pada usia yang sangat muda dan tetap bisa meraih sukses. Tapi di sisi lain sisi aku akhirnya tahu bahwa Donghae-lah penyebab mengapa aku, seperti juga beberapa klien GBD lainnya yang berkencan dengan Siwon, memutuskan mundur teratur.
Aku masih terlalu muda untuk jadi seorang 'ibu' dari Donghae yang hanya 9 tahun lebih muda dariku. Kami lebih cocok menjadi teman dibandingkan 'ibu' dan anak.
"Apa aku menakutimu?" tanya Siwon tiba-tiba.
Menurutmu?
"Ya. Jika boleh jujur, kau sudah membuatku takut setengah mati," ucapku blak-blakan.
Tanpa kusangka-sangka Siwon justru tertawa. "Setidaknya kau mengatakan yang sejujurnya kepadaku soal ini. Tidak seperti mereka yang mengatakan tidak mempermasalahkan hal ini saat pertemuan, tetapi kemudian tidak mau menjawab teleponku sama sekali."
"Benarkah?" tanyaku terkejut. Menurutku tindakan itu sangat tidak sopan.
Siwon mengangguk. "Apa kau sudah selesai?" tanyanya.
"Ya," jawabku singkat.
Kami pun membayar pesanan kami masing-masing dan berpisah setelah bertukar nomor.
Well, mungkin kami hanya akan berteman saja. Bagaimana pun, aku masih belum siap menjadi seorang 'ibu'.
Dalam perjalanan pulang aku menghubungi Leeteuk-ssi dan memberitahunya agar menambahkan satu lagi persyaratan yang harus dipenuhi oleh date-ku, yaitu mereka tidak boleh punya anak di luar pernikahan.
.
.
Tanpa terasa aku sudah menjadi klien GBD selama enam minggu. Niatku yang awalnya hanya iseng dan terpaksa, namun perlahan aku cukup menikmati kencanku dengan para pria dari GBD.
Kim Kibum sempat menghubungiku untuk mengajakku kencan seminggu setelah pertemuan kami, tetapi aku dengan tegas menolaknya.
Aku mengatakan kepadanya bahwa aku tidak bisa menjalin hubungan romantis dengannya, meskipun aku terbuka apabila dia masih mau berteman denganku.
Untunglah Kibum memahami penjelasanku dan kami sempat makan siang bersama ketika dia datang ke Winston-Salem untuk mengikuti seminar yang diadakan Wake Forest University.
Hingga kini Lee Jinki tidak pernah menghubungiku, dan aku sangat bersyukur karena hal itu.
Setelah Siwon, aku sudah pergi berkencan dengan 4 pria lainnya. Tiga dari mereka bahkan tidak aku pertimbangkan sama sekali.
Yang pertama, Lee Hongki sangat mengingatkanku akan Jungmo yang brengsek. Lalu, Jung Hoseok yang tidak berhenti membicarakan gaya dance baru yang diciptakannya. Lalu Jung Yunho, yang meskipun usianya sudah 35 tahun, masih memulai setiap kalimatnya dengan, "kata ibuku...".
Dasar anak mama.
Hanya satu dari mereka yang cukup menarik perhatianku.
Dia bernama Kim Jonghoon alias Yesung, dia berusia 30 tahun dan seorang komposer.
Meskipun wajah dan penampilan keseluruhannya bisa digolongkan biasa saja, tidak setampan dan semenawan Kibum dan Siwon, namun sepanjang kencan pertama kami aku selalu merasa nyaman dengannya. Beberapa kali dia menyenandungkan lagu-lagu yang diciptakannya untuk para penyanyi Korea yang akan melebarkan karier mereka di USA.
Suaranya sangat merdu. Sesuai dengan nama yang dipilihnya sebagai nama samarannya di dunia musik, Yesung, art of voice.
Aku sempat bertanya padanya mengapa dia lebih memilih menjadi composer dibandingkan sebagai penyanyi, dia menjawab bahwa dirinya tidak memiliki kepercayaan diri untuk tampil di depan umum.
Cukup aneh menurutku karena wajahnya sebenarnya tidak kalah dengan para penyanyi terkenal dari Korea yang menjadi kliennya itu.
Yah, mungkin dia hanya merendah. Jika dipikir-pikir, menjadi composer membuatnya tidak perlu sibuk mempromosikan lagu-lagunya itu, karena itu tugas penyanyi. Dia hanya perlu bekerja dibelakang layar dan mencari inspirasi untuk membuat lagu.
Pilihan yang sempurna.
Berbeda dengan Siwon yang menjatuhkan 'bom atomnya' kepadaku dua jam setelah aku bertemu dengannya, Yesung kelihatannya tidak memiliki rahasia yang harus disembunyikan. Dia menceritakan hampir semua hal mengenai dirinya yang layak untuk aku ketahui sebagai teman kencannya.
GBD mungkin sudah siap mencekikku karena setiap kali mereka menanyakan apakah mereka sudah mempertemukanku dengan pria yang berpotensi sebagai pasangan, aku akan menjawab 'COLD', yang berarti 'meleset jauh dari sasaran'. Atau 'WARM', artinya 'cukup mendekati sasaran'.
Khusus kencanku dengan Siwon, awalnya aku akan menjawab 'HOT' yaitu 'tepat sasaran' jika saja dia tidak memiliki anak yang umurnya lebih cocok menjadi adikku daripada anakku.
Sejujurnya, menurutku GBD telah melaksanakan tugas mereka dengan baik. Aku yakin, aku tidak akan bisa menemukan semua pria yang telah dipasangkan denganku oleh GBD jika aku mencari mereka sendiri.
Oleh karena itu, aku berencana menemui Yesung lagi malam ini untuk memastikan apakah aku bisa mengubah pendapatku tentangnya, dari 'WARM' menjadi 'HOT'.
Untuk kencan pertama kami Yesung datang dari Durham, tempat dia tinggal, untuk menemuiku di Winston. Untuk kencan kedua ini aku mengambil jalan tengah dan memintanya menemuiku di Burlington karena aku tidak ingin membebaninya datang jauh-jauh ke Winston lagi.
Aku berjanji bertemu dengannya di salah satu restoran Korea yang telah direkomendasikan temanku.
.
.
Aku sedang mengendarai mobilku di jalan raya yang menghubungkan Winston dengan kota-kota lainnya, ketika tiba-tiba kurasakan setir mobil terasa agak berat dan lari ke kiri.
Aku memang tidak terlalu mengerti urusan otomotif, tetapi aku tahu jika mobil yang biasa dikendarai terasa agak lain, maka pastilah ada komponen mobil itu yang tidak bekerja dengan sempurna.
Perlahan-lahan kutepikan mobil ke bahu jalan dan berhenti. Kubiarkan mesin tetap hidup dan hanya menarik rem tangan, kemudian keluar dari mobil untuk memeriksa keadaan.
Ternyata ban depan sebelah kiri memang agak sedikit kempes.
Aku mempertimbangkan, apakah dengan kondisi ban seperti itu aku bisa sampai ke Burlington, yang masih membutuhkan waktu lima belas menit lagi.
Kulirik jam tanganku, masih ada waktu setengah jam sebelum waktu pertemuanku dengan Jacob. Melihat kondisi ban mobilku, sepertinya ban itu tidak akan bertahan sampai di Burlington.
Aku pun segera mengambil keputusan. Aku akan mengganti ban disini.
Kumatikan mesin mobil, kemudian membuka bagasi dan mengeluarkan dongkrak serta kunci ban.
Ketika aku sedang memompa dongkrak itu dengan kakiku, tiba-tiba kulihat sebuah mobil SUV berhenti persis di belakang mobilku. Aku memperhatikan pemilik mobil itu, yang mengenakan kacamata hitam, keluar dari kendaraannya dengan langkah yang cukup tegas.
Apakah dia juga mengalami masalah dengan mobilnya sepertiku?
Tiba-tiba dia meneriakkan namaku. "Lee Sungmin-ssi!"
Aku menatapnya bingung.
Bagaimana dia bisa tahu namaku? Jelas-jelas aku tidak mengenalnya, tetapi tata krama tetap harus didahulukan.
"Yes?" Jawabanku lebih terdengar seperti pertanyaan.
"Bocor?" tanyanya lagi.
Tunggu, dia orang Korea? Apa dia kenalanku?
"Begitulah," jawabku lagi. Aku masih bingung. Siapa orang ini?
Kemudian seperti bisa membaca pikiranku, dia berkata, "Kau tidak mengingatku, ya?"
Aku tersenyum sopan kepadanya, tetapi aku yakin wajahku menggambarkan kebingunganku.
"Aku Cho Kyuhyun. Kau membantuku memilih lettuce di Fresh Market. Masih ingat?"
Pria itu melepaskan kacamata hitamnya, dan mata tajamnya langsung menatapku dengan jenaka. Saat itu juga aku bisa merasakan sengatan listrik yang menyerang tubuhku.
Aku tidak bisa bernapas.
Cho Kyuhyun, pria tampan, seksi dan... lucu yang membuatku gemetaran di fresh market itu. Dia ada dihadapanku!
Aku berhenti memompa dongkrak dengan kakiku, lalu tertawa cemas. "Ah, sorry. Kau terlihat sedikit... berbeda?" Suaraku agak bergetar.
Kulihat Kyuhyun sedang menarik lengan sweater cokelatnya sambil tersenyum.
"Ban serepnya di mana?" tanyanya, dan melangkah mendekatiku.
Tiba-tiba ada angin yang cukup kuat berembus melewati tubuh Kyuhyun yang kekar itu ke arahku, dan aku bisa mencium aroma cologne-nya.
Untuk mencegah imajinasiku agar tidak memikirkan hal yang tidak-tidak, aku buru-buru menjawabnya, "di bagasi," sambil menunjuk ke bagasi mobil yang terbuka.
Aku lalu berlutut di samping mobil dan mulai melepaskan semua baut ban satu per satu.
Kudengar ada suara gedebuk yang sangat halus, dan ban serep sudah berada di sampingku.
"Boleh aku membantumu?" tanyanya sambil mengambil kunci ban dari genggamanku.
Aku sebenarnya ingin protes karena aku pria yang kuat dan aku yang biasa mengganti ban sendiri, aku tidak memerlukan bantuannya.
Kyuhyun yang melihat ekspresi wajahku langsung menambahkan, "waktu itu kau telah membantuku, jadi kini giliranku membantumu."
Aku akhirnya mengangguk dan mempersilakannya mengganti ban mobilku. Dalam waktu lima menit dia sudah menyelesaikan semua pekerjaannya, lalu meletakkan ban yang kempes, dongkrak, dan kunci ban di bagasi mobil.
"Terima kasih," ucapku ketika Kyuhyun menutup bagasi mobilku. Kuserahkan selembar tisu basah kepadanya. Kyuhyun mengambilnya dan mengusap kedua telapak tangannya.
"Kau ingin pergi ke mana?" tanyanya.
"Burlington," jawabku. Tiba-tiba angin bertiup dan aku harus memeluk tubuhku untuk mengusir udara yang tiba-tiba terasa agak dingin.
Tanpa kusangka-sangka Kyuhyun menarikku ke pelukannya dan mengusap punggungku. Sekali lagi aku merasakan sengatan listrik yang tadi menyengatku.
Aroma cologne-nya yang tadi hanya samar-samar kini menyengat indra penciumanku dengan kekuatan penuh. Aroma cologne itu semakin mengingatkanku betapa tampan dan kerennya pria ini dan aku tahu aku harus menjauh darinya sebelum terlena dalam pelukannya. Akan tetapi, tubuhnya memang hangat sehingga aku tidak mencoba melepaskan diri.
Setelah beberapa detik, dia berkata, "merasa lebih baik?"
Aku hanya mengangguk.
Kyuhyun pun perlahan melepaskan pelukannya padaku dan beralih merangkulku.
Kyuhyun kemudian menuntunku menuju mobil, membuka pintu kemudi dan membiarkanku masuk. Setelah itu, ia menutup pintu mobil dan menunggu hingga aku menghidupkan mesin.
Kyuhyun mundur satu langkah untuk memeriksa banku sekali lagi, kemudian dia mengacungkan kedua jempolnya sebagai tanda oke.
Aku pun menurunkan kaca mobilku dan berkata, "Sekali lagi, terima kasih Kyuhyun-ssi," ucapku sambil tersenyum tulus.
"It was my pleasure," balasnya sambil tersenyum tampan.
Seketika seperti ada sesuatu dalam otakku yang berbunyi klik... klik... klik.... saat mendengar perkataannya itu.
Aku merasa kata-kata itu penting dalam konteks yang lain, tapi aku tidak bisa ingat di mana aku pernah mendengar kata-kata yang sama diucapkannya itu.
Aku melihat melalui spion mobil dimana Kyuhyun berjalan menuju mobilnya.
Kuperhatikan lalu lintas yang ada di sebelah kiriku melalui kaca spion, kemudian meluncurkan mobil kembali ke jalan raya setelah membunyikan klakson sekali untuk memberi tanda pada Kyuhyun.
Sepanjang perjalanan ke Burlington, aku merasa tidak tenang karena seperti ada sesuatu yang mengganjal.
Seperti ada suatu teka-teki yang tidak terselesaikan atau ditinggalkan dan tidak terjawab.
Yang jelas, aku tidak bisa menghapuskan aroma cologne Kyuhyun dan kehangatan tubuhnya dari kepalaku, terutama karena aroma cologne-nya itu sekarang menempel pada sweater-ku.
Pada akhirnya, kencanku dengan Yesung tidak berjalan sebaik yang aku harapkan.
Dan sepertinya Yesung sadar bahwa aku tidak menumpukan perhatianku kepadanya sepanjang kencan kami. Ia terlihat kecewa dan mengakhiri kencan kami lebih cepat dengan alasan dia harus mengunjungi salah satu penyanyi yang akan menjadi kliennya.
Sejujurnya, aku merasa bersalah terhadap Yesung. Akan tetapi, kepalaku terlalu penuh dengan pria bermata tajam pemilik smirk mematikan yang bisa menenggelamkanku hanya dengan tatapannya itu.
.
.
Blind Date
.
.
Seperti biasanya, Eunhyukkie akan meneleponku setelah kencanku untuk mengetahui hasilnya.
Dia bahkan lebih tertarik terhadap kencan-kencanku dibandingkan aku sendiri.
"Bagaimana date-nya, hyung?" tanya Eunhyukkie penuh semangat.
"Biasa saja," jawabku.
Aku baru saja membuka pintu depan apartemen ketika menerima telepon dari Eunhyukkie tadi.
"Lho? Memang kenapa? Ada yang salah?" suara Eunhyukkie terdengar curiga.
Tentu saja ada yang salah.
Bukannya memikirkan Yesung, selama perjalanan pulang dari Burlington aku justru memikirkan Kyuhyun dan aromanya yang memabukkan itu.
"Tidak, tidak ada yang salah," jawabku, sambil melangkah masuk ke dalam apartemen.
"Jadi? Kemarin hyung bilang dia sudah masuk zona 'HOT', kenapa tiba-tiba berubah jadi 'COLD'?"
Aku memang tidak pernah bisa berbohong kepada adikku ini. Dia terlalu pintar membaca pikiranku. Yah sesuai sih karena dia memang mengambil jurusan psikolog di universitasnya.
"Sepertinya... aku tidak tertarik lagi dengan Yesung." Kulepaskan sepatu dan berjalan menuju kamar tidur.
"Oh, man... padahal ku pikir akhirnya Minnie hyung akan memiliki kekasih lagi!" teriak Eunhyukkie kecewa.
Aku terpaksa tertawa mendengar suaranya yang penuh kekecewaan itu.
"So, kapan date selanjutnya?" tanyanya ingin tahu.
"Entahlah. Leeteuk-ssi belum menghubungiku lagi," jawabku acuh.
"Sudahlah. Aku kan belum terburu-buru ingin menikah. Santai saja." Lanjutku.
Eunhyuk mengembuskan napasnya, "terserah hyung saja."
"By the way, tadi aku bertemu dengan Cho Kyuhyun," ucapku tanpa basa-basi.
Daripada menyimpan rahasia ini dan berisiko mendengar kecerewetan Eunhyukkie karena aku tidak bercerita padanya, aku memutuskan mengambil jalan aman dan berkata jujur.
"Cho Kyuhyun? Pria yang di Fresh Market itu?!" Suara Eunhyukkie langsung terdengar ceria.
Aku memang sempat menceritakan pertemuanku dengan Kyuhyun beberapa bulan yang lalu itu kepada Eunhyuk. Pada saat itu aku belum memiliki perasaan apa-apa terhadap Kyuhyun selain fakta bahwa dia sangat tampan dan keren.
"Neee," jawabku, sambil mengatur ponselku pada mode loudspeaker.
Aku kemudian menanggalkan sweater dan celana jeans yang aku kenakan dan menggantinya dengan kaus longgar dan celana piyama.
"Di mana kau bertemu dengannya, hyung?" Kini suara Eunhyukkie semakin meninggi, yang menandakan dia sudah sangat tertarik terhadap topik pembicaraan mengenai Cho Kyuhyun yang tampan.
Aku lalu menceritakan pertemuanku dengan Kyuhyun, termasuk adegan dimana Kyuhyun memelukku.
Eunhyuk mendengarkan dengan seksama dan sesekali menarik napas karena kaget.
"Oh, my God! He is so sweet," ucap Eunhyukkie dengan nada memuja.
"Menurutmu begitu, Hyukkie?" tanyaku ragu. Aku tidak tahu apakah normal menyukai seseorang yang baru aku temui dua kali. Dan belum tentu juga dia itu gay.
"Tentu saja, Hyung! Aku jadi penasaran ingin lihat tampangnya. Wajahnya setampan dan sekeren apa ya?"
"Pokoknya perfect! Seperti member boygroup Korea itu loh! Cho Kyuhyun dari Super Junior. See? Bahkan namanya sama! Mungkin yang namanya Kyuhyun memang semuanya tampan." ucapku bersemangat.
Entah apakah aku terdengar seperti 'fanboy', tapi yang jelas, menurutku Kyuhyun memang cukup mirip dengan member boygroup yang melegenda itu.
Eunhyukkie tertawa mendengar perkataanku. "Sepertinya hyung benar-benar menyukai Cho Kyuhyun itu, ya?"
Kata-kata Eunhyukkie menyadarkanku akan perasaanku sendiri, tetapi aku tetap belum berani menerimanya sebagai suatu kenyataan.
"Ah, tidak. Aku hanya merasa dia itu baik dan tampan, itu saja!" balasku salah tingkah.
"Menurutku pria itu terlalu baik. Mana ada di zaman sekarang yang mau berhenti di pinggir tol hanya untuk membantu orang asing?"
"Kalau di Washington D.C. sih tidak mungkin, tetapi di sini masih ada banyak orang yang mau membantu orang lain. "Aku memberi penjelasan bahwa memang budaya di kota besar akan sedikit berbeda dengan di kota kecil.
"Tetap saja aneh, hyung. Dari cara pria itu berbicara ketika bertemu Minnie hyung... sepertinya dia berhenti bukan karena memang berniat membantu siapa saja, tetapi karena orang yang akan dia bantu itu adalah hyung."
"Yah! Jangan menggodaku!" omelku.
Eunhyukkie tergelak. "Sayang ya, Hyung tidak sempat minta nomor kontaknya. Mungkin saja kan kalian itu jodoh?"
"Kalau begitu doakan saja supaya aku bisa bertemu dengannya lagi. Mudah-mudahan kali itu aku tidak lupa minta nomornya. Eh, tapi... bagaimana caraku menanyakan nomornya ya?"
Meskipun aku cukup berpengalaman dengan pria sebelum aku bertemu dengan Jungmo, tetapi mereka lah yang meminta nomor kontakku terlebih dahulu sehingga aku tidak memiliki pengalaman melakukan sebaliknya.
"Ya, bilang saja Hyung ingin meminta nomornya, mudah kan?" Eunhyukkie terdengar geregetan.
"Aku malu Lee Hyuk Jae!"
"Kalau malu Hyung sendiri yang rugi!" balasnya tak mau kalah.
Tiba-tiba aku mendengar suara ketukan dari seberang telepn, kemudian kudengar suara Eunhyuk berteriak, "Be there in a sec."
Lalu Eunhyukkie berkata padaku, "Hyung, sudah dulu ya? Aku sudah ada janji."
"Kau mau ke mana, Hyuk?" tanyaku ingin tahu.
"Biasa... hang out." Jawabnya santai.
"Well, have fun," ucapku memberinya semangat.
"Tentu hyung! Oh... ya, jangan lupa hyung! Jangan malu untuk meminta nomornya jika bertemu lagi. Sayang loh jika pria seperti dia hyung lepas begitu saja."
Sebelum aku menjawab, Eunhyukkie sudah menutup teleponnya. "Semoga saja aku berani Hyukkie," ucapku pelan.
.
.
Blind Date
.
.
"Mari kita akhiri semuanya hari ini," ucapku tegas sambil duduk di hadapan Jungmo.
Jungmo terlihat terkejut mendengar nada bicaraku. Tetapi ketika dia melihatku duduk, dia pun menatapku dengan penuh harap sambil tersenyum.
Kemudian ketika pandangannya tertuju pada dua paper bag besar yang ada di genggamanku, senyumnya langsung hilang.
"Apa kau ingin memesan sesuatu, Minnie?" tanyanya tenang.
Aku heran dia masih bisa berbicara dengan setenang itu setelah apa yang dilakukannya, seolah tak ada rasa bersalah sedikitpun.
"Aku hanya ingin memberitahumu agar berhenti menggangguku. Aku tidak ingin ada hubungan apapun lagi denganmu sampai kapanpun juga." Jawabku tegas. Aku berusaha untuk tidak mempermalukan diriku dengan menamparnya meskipun tanganku begitu gatal ingin bersarang dipipinya itu.
Aku lalu berdiri sambil menyerahkan dua paper bag yang tadi aku bawa kepadanya.
"Aku sudah membereskan barang-barangmu yang masih tertinggal di apartemenku. Semuanya ada di dalam sini. Mengenai barang-barangku yang tertinggal di apartemenmu... kau bisa membuang semuanya. Have a nice life," ucapku lalu beranjak pergi meninggalkannya.
Jungmo menatapku dengan mulut terbuka.
Kemudian tanpa ku duga, Jungmo berdiri dan langsung menarik lenganku, menghentikan langkahku.
"Apa kau bahkan tak ingin tahu alasanku melakukan semua itu?" tanyanya kesal.
"Oh aku tahu alasannya, sangat tahu." Jawabku menekankan pada kata terakhirku.
Aku tahu alasannya dia selingkuh, karena seks.
Aku memang menolak berhubungan seks dengannya karena aku belum siap.
Siapa sangka dia akan melampiaskan semua hasrat terpendamnya itu pada wanita.
Itu membuktikan jika dia tidak benar-benar gay. Dia masih straight.
Mungkin dia hanya mempermainkanku selama ini. Menyedihkan.
"Untuk terakhir kalinya, tolong jawab pertanyaanku." Ujarku serius.
"Apa ada wanita-wanita lain sebelum Bella?"
Jungmo tidak menjawab, tetapi dari sorot matanya aku tahu jawabannya.
Dia memang masih straight. Sialan!
Aku menarik napas dalam, berusaha menahan diriku untuk tidak mengguyurkan minuman yang ada di hadapanku ini ke kepalanya.
Bagaimana mungkin aku tak menyadarinya selama ini? Bagaimana bisa aku sebuta ini?
Ku lepaskan cengkeraman Jungmo dari lenganku dan bergegas melangkah keluar restoran.
Sinar matahari yang terik langsung menyambutku.
Ku dengar suara pintu restorang yang dibuka kemudian ditutup dengan bantingan yang cukup keras. Aku menoleh.
Dapat kulihat Jungmo yang tengah menuju ke arahku.
Wajahnya terlihat merah menahan marah.
Aku tahu bahwa aku hanya akan mengundang masalah jika meladeninya, tetapi aku juga penasaran ingin tahu apa yang akan dikatakan atau dilakukannya di hadapan umum seperti saat ini.
"Apa kau tahu rasanya tidak melakukan seks selama dua tahun? Terlebih harus berhubungan dengan pria gay yang tidak peka sepertimu!" teriaknya keadaku.
Ku kerutkan keningku. Dia sudah gila!
Ini di tempat umum dan dia mengatakan semua itu! Dengan bahasa inggris yang tentu saja semua orang disini mengerti apa yang kami bicarakan.
Terlebih lagi dia mengumumkan orientasi seksualku di hadapan umum, brengsek!
"Aku pria normal yang membutuhkan seks tahu!? Tidak aneh sepertimu!"
"Oh,ya? Jadi kau tersiksa harus menjadi gay? Dan kau telah selingkuh selama setahun terakhir ini? Hanya demi seks? Dasar murahan! Munafik!"
Luapan kemarahan yang sudah coba ku tahan naik ke permukaan.
"Apa hanya itu yang ingin kau katakan? Apa kau tidak sadar telah mempermalukan dirimu sendiri dihadapan umum, hah?!"
Aku mendengar seseorang berteriak, "pria brengsek itu perlu dipukul manis!"
"Setuju!" seru beberapa orang lainnya.
Seakan baru sadar jika banyak orang yang menyaksikan pertengkaran kami, Jungmo langsung menoleh keseliling dan menyadari kami telah dikerumuni oleh banyak orang.
Jungmo terlihat semakin marah dan berjalan mendekatiku.
Aku bersiap-siap untuk menangkis jika dia akan memukulku. Beraninya dengan ahli martial art?! Mentang-mentang aku mungil dia meremehkanku!
Namun baru saja dia berjalan dua langkah, dua orang pria berbadan tinggi kekar mencengkeram lengan Jungmo dan mendorongnya untuk menjauh dariku.
Salah satu dari mereka berwajah oriental, mungkin orang Korea atau China, namun tidak terlalu jelas karena mengenakan kacamata hitam dan topi baseball.
"Walk away, man," ucap pria bertopi itu sambil menyunggingkan smirknya.
Jungmo kemudian berjalan menjauhiku sambil berteriak, "dasar pria gay menjijikan! Lihat saja, tidak akan ada pria yang mau denganmu! Kau pikir menjadi gay itu kebanggan? Wajah manismu itu munafik!"
Sepanjang hidupku aku belum pernah dihina oleh siapapun juga. Kim Jungmo sudah melewati batas!
Aku sudah berniat untuk melayangkan pukulanku padanya, tetapi terlambat karena orang lain telah menggantikanku.
Pria bertopi dan berwajah oriental itu melayangkan tinju dari tangan kekarnya itu ke sisi kanan wajah Jungmo. Aku bisa mendengar bunyi 'crack' yang cukup keras.
Ku lihat Jungmo mundur beberapa langkah karena terkejut dengan serangan tiba-tiba itu.
Darah segar mulai menetes dari pelipisnya.
"Watch your mouth, bastard!" geram pria itu.
Jungmo terlihat ingin membalas pukulan pria itu. Namun ketika pria itu bertolak pinggang sambil menyunggingkan smirk seolah menantang Jungmo, Jungmo terlihat beringsut menjauh.
Yah, dia kalah besar dibandingkan pria dengan otot-otot yang kekar itu.
Setelah memberikan tatapan tajam padaku, yang ku respon dengan tatapan galakku, Jungmo melangkah pergi diikuti teriakan 'wuuuu' dari orang-orang disekeliling kami.
"Are you alright sweety?" tanya pria bertopi itu lagi sambil berjalan ke arahku.
Aku tidak bisa melihat wajahnya secara jelas dibalik topi dan kacamata itu. Namun dari logat Inggrisnya aku bisa menyimpulkan dia juga orang Korea sepertiku.
Aku mengangkat tangan menghentikan langkah pria itu sambil menjawab, "Thank you for that."
"It was my pleasure," balas pria itu.
.
.
Aku terbangun dengan tubuh penuh keringat dan jantungku yang berdebar keras.
Aku bermimpi tentang kejadian beberapa bulan lalu saat aku berpisah dengan Jungmo dan mendapat pertolongan dari kedua pria Korea yang baik dan kekar.
Pria bertopi serta mengenakan kacamata itu mengingatkanku akan sosok pria yang ku temui di jalan tol kemarin sore dan telah menolongku.
Sosoknya yang tertutup kacamata hitam dan smirknya serta... kata-kata itu.
'It was my pleasure'
Apa pria itu Cho Kyuhyun?!
.
(Sungmin POV END)
.
.
TBC
.
.
Kembali lagi dengan Kyuhyun versi kekar lainnya! ^.^
Hasu tahu dan sadar Hasu banyak salah dan sering ingkar janji update asap.
Yah, mau gimana lagi.
Kesibukan mencari nafkah demi menyambung hidup dan membeli kuota plus PLN yang suka ngajak ribut, menjadi hambatan terbesar untuk update sesuai jadwal. #curcol
Ya, doakan saja semoga Hasu bisa mendapatkan jalan terbaik, hehe...
Hasu masih sayang ama Kyumin jadi ga bakal discontinue atau hiatus kok ^.^
Buat yg tanya fyi apa, artinya 'for your information' alias sekedar informasi aja bahasa gaulnya.
Tadinya ga mau disingkat, tapi lupa ga diedit, hehe...
Hasu juga minta maaf untuk my dubu Onew, my dongsaeng Jung Hoseok aka J-Hope BTS, Siwon yang tampan, Lee Hongki yang baik serta Yunho appa yang telah ku nistakan ni ff ini, mianhe T.T
Ya sudahlah.
Thank you for reading and...
Selamat menanti lanjutannya! ^.^
Salam Kyuhyun kekar!
Keep Reading ^.^
Gomawo
.
.
RyeoTa Hasu
