BLIND DATE?

by RyeoTa Hasu

(Original Story by AliaZalea)

Cast :

Lee Sung Min (27-28 y.o)

Cho Kyu Hyun (35 y.o)

Lee Hyuk Jae aka Eunhyuk (25 y.o) as Sungmin's younger brother

Park Jung Soo aka Leeteuk (26 y.o) Sungmin's Blind Date Agent

Kim Jung Mo (32 y.o) as Sungmin ex. Boyfriend

.

Cameo :

Cho Hankyung (62 y.o) as Kyuhyun father

Kim Hee Chul (62 y.o) as Kyuhyun mother (MPREG)

Cho (Kim) Ryeo Wook (37 y.o) as Kyuhyun older brother (MPREG)

Kim Jong Woon (Hoon) (38 y.o) as Ryeowook Husband

Cho (Shim) Chang Min (36 y.o) as Kyuhyun's youngest brother

Cho (Im) Yoon Ah (36 y.o) as Changmin twins / Kyuhyun youngest sister

Lee Seung Gi as Yoona boyfriend

Kim Jongin (KAI) as Ryeowook's son

.

Disclaimer :

This original story is from Blind Date Novel by AliaZalea

Hasu hanya me-remake-nya dengan Kyumin sebagai main Cast dengan beberapa perubahan dan penyesuaian

Kyumin dan Cast lainnya milik Tuhan YME, Orang tua dan Agensi

Hasu hanya meminjam namanya untuk kepentingan cerita

.

Rate :

T

.

Warning :

Boy's Love / YAOI, OOC, MPREG, hurt/comfort, Typo menjamur

.

.

DON'T LIKE? DON'T READ!

MAKE IT SIMPLE

HAPPY READING ^.^

.

.

Chapter 4

o.o.o.o.o.o.o.

.

.

(Sungmin POV)

.

Sinar matahari telah masuk melalui jendela kamar yang tirainya kubiarkan tidak tertutup semalam.

Aku terbangun dari tidurku karena terkejut. Terkejut karena kejadian yang terjadi dalam mimpiku tadi.

Aku bahkan harus menenangkan diri selama beberapa menit sambil terduduk di atas tempat tidurku.

Kulirik jam yang ada di meja samping tempat tidur. Sembilan lewat lima pagi.

Aku baru tidur kurang dari lima jam.

"Mimpi yang aneh," gerutuku sambil beranjak bangun.

Aku berjalan menuju kamar mandi tanpa memperhatikan langkahku hingga akhirnya menabrak keranjang pakaian kotor yang terletak di samping pintu kamar mandi.

Refleks aku pun mengumpat.

Sambil menahan sakit, aku terpaksa meloncat dengan satu kaki memasuki kamar mandi. Aku duduk di atas toilet memeriksa keadaan ibu jari kakiku. Bagian yang tadi tertabrak keranjang terlihat sedikit memar, tetapi tidak mengeluarkan darah. Setelah rasa sakit agak reda aku pun berdiri menuju wastafel. Kubasuh wajahku dengan air dingin.

Ketika aku mendongak menghadap cermin dengan air yang masih menetes, aku langsung berhadapan dengan raut wajahku yang terlihat tegang dan stres. Ada lingkaran hitam di bawah mata dan kulitku terlihat kusam.

Kuseka wajahku dengan handuk sambil berjalan keluar kamar menuju dapur untuk membuat sarapan. Aku sedang malas memasak sehingga hanya mengeluarkan susu dari dalam lemari es dan menarik kotak sereal dari atas lemari es.

Kutuangkan sereal itu ke dalam mangkuk, kemudian kusiram dengan susu. Setelah meletakkan susu dan sereal pada tempatnya, aku duduk di meja makan.

Aku melipat kaki, lalu memasukkan satu sendok sereal ke dalam mulutku. Pelan-pelan kukunyah sarapanku.

Aku mencoba mengingat kembali mimpiku.

.

Aku sedang berlari sekuat tenaga karena ada seseorang yang sedang mengejarku, tetapi aku tidak bisa melihat wajah orang itu. Kusadari kemudian, di hadapanku ada bukit yang cukup terjal. Aku yakin, aku tidak akan bisa mengalahkan orang yang sedang mengejarku jika aku menaiki bukit itu, tetapi aku tidak punya pilihan lain.

Aku menoleh ke belakang dan melihat orang yang mengejarku sudah semakin dekat ketika tiba-tiba aku terjatuh karena telah menabrak sebuah dinding, sesuatu yang tidak mungkin karena di bukit tentu tidak ada dinding. Ketika aku melihat penyebab mengapa aku jatuh, aku baru sadar ternyata aku bukan menabrak dinding melainkan seseorang bertubuh tinggi tegap dan dada bidang. Ia sedang menatapku dari balik mata tajamnya.

Aku berkata, "Kyuhyun, kau harus membantuku. Ada yang mengejarku tapi aku tidak tahu itu siapa."

Kyuhyun-ssi yang di dalam mimpiku awalnya hanya menatapku bingung, tetapi kemudian dia berkata, "jangan khawatir, aku akan mengurusnya."

"Bagaimana caranya?" tanyaku bingung.

Dan tiba-tiba Kyuhyun-ssi mengangkat tubuhku dan memanggulku.

"Kyuhyun-ssi?! Apa yang kau lakukan?!" teriakku panik.

"Aku harus membawamu melewati garis 10-yard untuk touchdown," jawabnya santai dan mulai berlari menuruni bukit.

Touchdown? Memangnya dia sedang bermain American football dan aku sebagai bolanya? Kami bahkan tidak sedang berada di lapangan football.

Tetapi suasana tiba-tiba berubah dan kami kini berada di lapangan football yang dikelilingi oleh lautan orang dengan baju berwarna biru dan oranye. Kulihat ada beberapa orang dengan kaus football dan celana ketat biru sedang mengejarku, atau lebih tepatnya mengejar Kyuhyun yang sedang memanggulku.

Salah seorang di antara mereka adalah Jungmo, tetapi dia masih mengenakan kostum Zorro walaupun tanpa topeng.

Jungmo berteriak, "mau ke mana kau, Sungminnie?! Mau lari?! Kau tidak akan bisa lari dariku!"

Aku berteriak kepada Kyuhyun, memintanya berlari lebih cepat dan menjauhkanku dari Jungmo.

Kyuhyun menjawab teriakanku, "Aku sedang berusaha sekuat tenaga, kau juga harus membantuku!"

"Bagaimana caranya?"

"Aku akan menurunkanmu, lalu kau harus berlari bersamaku, oke?"

"Oke," balasku.

"Aku akan menghitung sampai tiga. Begitu aku bilang tiga kau langsung berlari."

"Oke. Aku mengerti!"

"Satu... dua... tiga!" Kyuhyun menurunkanku dan aku langsung berlari sekuat tenaga di sampingnya menuju garis 10-yard. Tangannya menggenggam tanganku.

Tapi anehnya, bukannya semakin dekat, garis itu justru terlihat semakin menjauh.

"Kyuhyun, aku tidak bisa berlari lagi." Lariku mulai berkurang kecepatannya.

"Kau harus bisa! Kau harus mencoba!" bujuk Kyuhyun.

Dia tersenyum kepadaku.

Aku sudah siap melebarkan langkahku ketika tiba-tiba ada yang menarikku.

"KYUUUUUU...HYUUUUUN...!" teriakku.

Tanganku mencoba menggapainya, tetapi tidak mendapatkan apa pun kecuali udara kosong.

.

Kemudian aku terbangun.

Sekali lagi aku menggerutu.

"Weird dream."

Mimpi itu betul-betul tidak masuk akal. Aku bahkan sama sekali tidak mengetahui tentang permainan American football atau warna seragam masing-masing timnya.

Tapi jika dipikir-pikir, mimpi itu bahkan tidak ada hubungannya dengan kejadian tadi malam.

Sangat aneh.

Lebih anehnya lagi, dalam mimpiku ada Jungmo dan juga Kyuhyun.

Mengapa aku bisa memimpikan mereka? Terlebih Kyuhyun, pria yang baru 3 kali kutemui itu.

Jangan-jangan ada gangguan dengan kewarasanku?!

Yang jelas, aku rasa sumber dari semua kegilaan ini tidak lain dan tidak bukan berasal dari pria brengsek bernama Kim Jungmo, yang menolak menerima kenyataan bahwa aku sudah tidak menginginkannya sama sekali.

Entah dia mendapat ide dari mana untuk meyakinkan dirinya bahwa aku masih mencintainya.

Ingin rasanya aku membunuhnya tadi malam.

.

.

(Flashback)

Setelah aku beranjak dari sisi Kyuhyun, aku menarik napas dalam-dalam.

Lalu aku berbalik menghadapi Jungmo untuk yang kedua kalinya malam ini. Aku harus membuatnya mengerti bahwa aku tidak lagi mencintainya, dan aku ingin dia meninggalkanku supaya aku bisa menjalani hidupku dengan damai.

Kuhentikan langkahku agak jauh dari Jungmo.

"Bagaimana keadaan wajahmu?" tanyaku datar dari tempatku berdiri. Aku berusaha sebisa mungkin tidak menghampiri Jungmo untuk mengurus lukanya. Meskipun aku masih peduli padanya, aku tidak mau memberinya sinyal yang salah. Dia sudah bukan lagi kekasihku, dia sudah bukan tanggung jawabku lagi.

"Tidak terlalu parah," ucap Jungmo pelan, mungkin bibirnya terasa sakit jika berbicara terlalu keras dan cepat. Wajahnya memang terlihat lebih parah dari Kyuhyun. "Aku masih tidak percaya kau memukulku."

"Kau memang pantas dipukul," balasku sambil menatapnya serius.

Melihat reaksiku, Jungmo hanya terdiam.

"Siapa sebenarnya pria itu?" tanyanya kesal.

Awalnya aku ingin berpura-pura tidak memahami siapa yang Jungmo maksud, tetapi aku sedang malas main tebak-tebakan malam ini.

"Hanya... teman," balasku pendek.

Pikiranku kembali kepada pria bermata tajam itu, yang tampaknya telah menjadi lebih dari sekadar teman bagiku. Pria itu sudah seperti malaikat penyelamatku, yang akan muncul tiba-tiba tanpa aku minta ketika aku sedang membutuhkannya.

"Well, temanmu itu harus belajar untuk tidak mencampuri urusan orang lain," Jungmo menggerutu sambil menatapku dengan memicingkan matanya.

"Aku rasa tidak juga," balasku datar.

Memang Kyuhyun sedikit terlalu ikut campur, tapi... aku tidak keberatan jika akan bertemu dengan Kyuhyun lagi. Meskipun itu berarti aku harus berada dalam keadaan darurat lagi, aku rela.

Aku memaksa pikiranku kembali kepada Jungmo. Aku terdiam sesaat memikirkan apa yang akan aku katakan selanjutnya.

"Aku ingin kau mengerti, aku tidak ingin kejadian seperti tadi terulang lagi. Kau mengerti maksudku, kan?"

Jungmo menggeleng sok polos.

Aku menarik napas putus asa. Keras kepala sekali pria ini!

Aku baru saja akan mengatakan sesuatu, tetapi tiba-tiba kata-kata meluncur dari mulut Jungmo. Aku langsung diam mendengarkannya.

"Aku minta maaf soal kejadian barusan. Percaya atau tidak, rencanaku malam ini hanyalah ingin bicara denganmu dan meminta maaf. Tetapi begitu aku melihatmu, rasa rinduku padamu selama beberapa bulan ini seolah terobati. Hidupku sangat kacau tanpamu, Sungminnie."

Mendengar pengakuannya hatiku sedikit luluh.

Tapi sudah terlambat untuknya.

Aku tak memiliki perasaan apapun lagi padanya, tidak lagi.

Perlahan-lahan aku berjalan mendekatinya, memperpendek jarak kami.

"Aku ingin kau tahu, Kim Jungmo, aku sudah memaafkanmu. Aku bahkan tidak pernah lagi memikirkan semua kejadian di masa lalu itu."

Untuk pertama kalinya aku menyadari ternyata aku memang sudah memaafkan Jungmo atas perbuatannya. Mungkin itu sebabnya mengapa aku sudah bisa melanjutkan hidupku.

"Benarkah? Kau bersedia memaafkan aku setelah aku menyakitimu seperti itu?" Jungmo terlihat sangat terkejut.

Aku tertawa melihat ekspresinya.

Kuhentikan langkahku sekitar satu meter darinya, kemudian mengangguk.

"Ya, memaafkanmu itu mudah. Hanya saja, rasanya aku tidak akan pernah bisa melupakan kejadian itu. Kejadian dimana seorang pria memergoki kekasih prianya sedang make out dengan wanita yang merupakan rekan kerja kekasihnya sendiri. Kenyataan bahwa kekasihnya masihlah 'normal' dan menyembunyikan hasrat itu dibelakangnya, menurutmu bagaimana perasaanku saat itu dan sekarang? Jika kau menjadi diriku, akankah kau mudah melupakan semuanya?" tanyaku balik.

"Memaafkanmu itu mudah, tapi perbuatanmu itu... seperti mimpi buruk yang terus menerus berputar ibarat film rusak di pikiranku. Membuatku semakin jijik dan muak dengan semua wanita serta para pria bertipe penggoda sepertimu."

Suasana hening selama beberapa detik. Kami hanya saling bertatapan dalam diam.

"Jika aku memohon, mencium kakimu dan berjanji tidak akan pernah mengulang perbuatanku lagi, apakah kau mau menerimaku kembali?" tanya Jungmo dengan wajah penuh harap.

"Kau serius?" tanyaku tak percaya. Apa pria ini bersungguh-sungguh dengan perkataannya itu?

"Sangat serius," jawabnya dengan penuh keyakinan.

"Begitukah? Tapi sayangnya tidak," jawabku tegas. "Tidak akan, Kim Jungmo."

"Wae?" Wajahnya terlihat kecewa.

Aku menggigit bibir bawahku, gemas. Pria ini tulalit atau tidak peka sih!? Aku tak percaya mantan kekasihku setulalit ini.

"Kau pasti tahu alasannya, Kim Jungmo! Seperti yang ku katakan sebelumnya, mudah untuk memaafkanmu, tapi tidak dengan perbuatanmu itu. Dan apa kau ingat perkataanmu saat kita berpisah beberapa bulan yang lalu di kafe itu?" aku menjeda perkataanku untuk melihat reaksinya. Dia masih terdiam seolah masih belum peka. Dasar!

"Kau mengatakan jika kau telah melakukannya dibelakangku selama setahun lebih sebelum akhirnya aku memergokimu hari itu. Itu telah membuktikan semuanya. Kau tidak benar-benar gay, Jungmo-ya! Kau masih membutuhkan belaian para wanita berdada seksi itu dibandingkan pria kaku berdada rata sepertiku, kau menyadari itu juga kan? Kau tidak siap dengan hubungan tanpa hasrat seksual seperti yang kita jalani selama dua tahun sebelumnya itu. Aku memang kaku, aku mungkin memang kolot, tapi aku tipe yang setia Kim Jungmo. Aku serius dengan setiap hubungan yang tengah aku jalani. Dan kau bukan tipe yang cocok denganku. Kau... kau... kau seorang petualang. Kau masih ingin coba-coba. Kau tidak cocok dengan hubungan serius yang memikirkan masa depan. Bukan juga hubungan serius dengan pria sepertiku yang tentu kau tahu belum memiliki tempat di mata masyarakat Korea pada umumnya. Hubungan sesama jenis yang ku jalani masihlah tabu. Itu adalah salah satu alasan mengapa aku lebih memilih tinggal dan bekerja disini, di Amerika. Aku bisa menjadi diriku sendiri disini, tidak harus memperdulikan pandangan orang lain. Kau... dan aku... kita tidak akan pernah bisa cocok, tidak akan pernah bisa."

Kualihkan pandanganku ketika mendengar suara ramai yang menuju basement tempat parkir mobil tempat kami berada. Kulirik jam tanganku, waktu sudah menunjukkan pukul 00.30. Tampaknya pesta Halloween sudah selesai karena aku melihat beberapa orang berjalan menuju ke basement dan menghampiri mobil mereka yang terparkir di basement ini.

Aku tidak ingin terlihat bersama Jungmo oleh rekan-rekan sekantorku. Jadi aku harus segera pergi dari sini atau gosip akan segera menyebar di kantor.

Aku pun berkata padanya, "sebaiknya kau pulang dan mintalah seseorang untuk mengobati lukamu itu. Aku harus segera pergi."

Aku lalu berbalik badan dan berjalan menuju mobil. Sosok Kyuhyun sudah menghilang dari atas kap mobilku.

Dalam hati aku menyumpah.

Meskipun memang aku tidak memintanya untuk menunggu tapi setidaknya aku berharap dia sedikit peka dan tetap menungguku.

Tapi dia telah pergi. Sayang sekali!

"Jadi? Hanya itu saja? Kau akan meninggalkan aku begitu saja?!" teriak Jungmo.

Aku menghentikan langkahku dan berbalik menghadapnya.

"Bukan aku yang meninggalkanmu, tapi kau lah yang membuatku meninggalkanmu. Ingat itu!" teriakku, lalu memutar tubuhku lagi dan melanjutkan langkahku menuju mobil.

"Kau tidak akan bisa hidup tanpa aku. Aku hanya perlu menunggu sampai kau mau mengakui itu!" teriak Jungmo lagi, masih tidak mau kalah.

Kalimat terakhir yang diucapkan Jungmo itu telah mengubah pendapatku tentangnya, yang selama beberapa menit sebelumnya merasa kasihan kepadanya. Ternyata dia masih tetap pria brengsek yang aku campakkan lima bulan lalu.

Dia tidak berhak menerima simpatiku sama sekali.

"You need to grow up, Kim Jungmo. Wake up!" balasku tetap melanjutkan langkahku sambil melambaikan tanganku tanpa menatapnya lagi.

Aku akan membuktikan bahwa aku bisa hidup, terus akan hidup dan bahkan hidup lebih baik tanpanya.

(Flashback end)

.

.

Sekali lagi kutatap sarapanku, yang baru setengah termakan. Kulirik jam yang tergantung di dinding dapur.

Pukul sepuluh pagi.

Segera aku habiskan sarapanku, kemudian mencuci mangkuk dan sendok yang ku pakai.

Kusempatkan diriku untuk menelepon orangtuaku yang ada di Korea.

Aku bertanya kapan mereka akan datang berkunjung lagi ke Amerika?

Eommaku menjawab bahwa sebaiknya aku dan Eunhyukkie saja yang pulang ke Korea karena Eomma dan Appaku sudah tidak sanggup terbang berjam-jam ke Amerika hanya untuk bertemu denganku dan Eunhyukkie.

Meskipun aku telah mengiming-imingi mereka dengan tiket pesawat Executive Class, tetapi Eommaku tetap bersikeras tidak akan pernah terbang ke Amerika lagi. Kecuali bila situasinya memang darurat.

Kemudian Eommaku bertanya, apakah aku sudah memiliki kekasih lagi.

Aku berusaha menghindar dan hanya mengatakan aku masih terlalu sibuk dengan pekerjaanku. Walaupun begitu, aku berjanji sebisa mungkin meluangkan waktu agar bisa mencari 'calon suami' yang baru.

Ya, kedua orangtuaku memang mengetahui orientasi seksualku ini, begitupun juga dengan Eunhyukkie. Tentu saja, karena aku dan Eunhyukkie terlahir sebagai 'male pregnant". Kami adalah dua dari sebagian kecil penduduk berjenis kelamin pria yang ada di dunia yang beruntung karena mendapat anugerah sebagai 'male pregnant', kami adalah golongan pria yang langka dan masih tabu di kalangan masyarakat umum, terutama di Korea.

Itulah sebabnya kami sangat berhati-hati dalam memilih pasangan termasuk dalam hal bergaul dengan pasangan kami.

"Ingat pesan Eomma ya, Sungminnie. Kau boleh saja sibuk bekerja, tapi jangan lupa cari pasangan untuk teman hidupmu kelak. Tentu harus kau seleksi dengan baik, jangan kecolongan seperti kemarin, kau mengerti kan?" pesan Eomma padaku.

"Iya Eomma, aku mengerti," jawabku patuh.

Setelahh satu jam berbicara dengan Eomma, aku menutup telepon dengan perasaan lebih lega karena orangtuaku dalam keadaan baik.

Biasanya ketika weekend, aku menghabiskan waktuku dengan pergi ke toko buku untuk berburu komik dan novel terbaru, atau ke toko aksesoris untuk menambah koleksi aksesoris berwarna pink milikku, kemudian mampir ke toko wine langgananku untuk mencoba varian wine terbaru.

Tetapi hari ini rasanya aku malas keluar.

Lagipula, cucianku yang sudah menumpuk di keranjang pakaian kotor menuntut perhatianku.

Aku pun memutuskan hari ini adalah waktunya untuk membersihkan apartemenku.

Setelah menaruh cucianku ke dalam mesin cuci dan mengatur waktu mencucinya, sembari menunggu kutata rapi tempat tidur, kemudian merapikan lemari pakaian, setelah itu membersihkan karpet ruang tamu dengan vacuum cleaner sampai dua kali untuk memastikan karpet sudah super bersih.

Terdengar bunyi timer mesin cuci, segera kuangkat cucianku kemudian memindahkannya ke mesin pembilas dan pengering.

Setelah semua cucianku kering, ku pilih beberapa seragam kerja dan pakaian sehari-hariku, kemudian kusetrika semuanya dengan rapi, lalu memasukkannya ke dalam lemari.

Sisa pakaian yang lainnya ku lipat rapi kemudian ku masukkan ke lemari pakaian bersih, mereka akan ku setrika nanti jika tidak malas.

Setelah memastikan semua telah bersih, aku memutuskan untuk mandi.

.

Kulirik lagi jam, yang sudah menunjukkan pukul dua siang.

Aku lalu beranjak ke dapur untuk membuat makan siang.

Aku memakan makan siangku sembari menonton tv. Kuganti channel beberapa kali, mencari acara yang menarik.

Aku memilih menonton salah satu acara variety show yang menurutku cukup lucu dan menghibur.

Setelah selesai makan, entah mengapa aku kembali merasa mengantuk. Aku pun memutuskan untuk tidur di sofa ruang tamuku.

.

.

Ketika aku terbangun, hari sudah gelap.

Kunyalakan beberapa lampu di dalam apartemen. Jam dinding sudah menunjukkan pukul enam sore.

"Mengapa dia belum menghubungiku?!" aku mengerang frustrasi.

Sejak tadi pagi aku memang telah menunggu telepon dari Cho Kyuhyun. Aku ingin mengetahui berapa hutangku untuk mengganti biaya dry cleaning sweater Armani-nya.

Akh! Sungmin pabboya!

Tentu saja dia tidak akan menghubungiku hari ini. Dia mungkin belum sempat membawa sweater itu untuk di laundry.

Tiba-tiba saja muncul keraguan di hatiku.

Mungkin saja dia tidak akan pernah menghubungiku meskipun sweater itu sudah di-dry clean.

Ada dua hal yang mungkin menjadi alasannya.

Pertama, dia tidak menganggap kejadian tadi malam adalah kesalahanku. Oleh karena itu, aku tidak bertanggung jawab atas sweater-nya. Kedua, dia tidak mau berhubungan denganku dan mantan pacarku yang gila.

Rasanya alasan yang kedua lebih masuk akal.

YAH! Mungkin kami memang tak berjodoh!

.

.

.

BLIND DATE

.

.

.

Satu bulan pun berlalu dan Natal akan tiba dua minggu lagi. Aku sudah berkencan dengan delapan pria dan tidak satu pun dari mereka yang mampu menarik perhatianku.

Dan akhirnya aku menyadari alasannya, ternyata karena aku membandingkan mereka semua dengan Cho Kyuhyun.

Pria yang ini terlalu pendek, yang itu terlalu tinggi. Meskipun pria yang ini memiliki tatapan yang tajam, tetapi tidak setajam tatapan Kyuhyun. Pria itu memiliki aroma yang mirip dengan Kyuhyun, tetapi aku lebih menyukai aroma Kyuhyun. Pria ini memiliki warna rambut yang kecokelatan dan mirip dengan Kyuhyun, tetapi rambut Kyuhyun lebih berkilau dan cenderung sedikit memerah jika terkena cahaya. Pria itu suaranya berat seperti Kyuhyun, tetapi suara Kyuhyun jauh lebih merdu dibandingkan dia, dan semua alasan lainnya untukku menemukan kesalahan pada setiap date-ku. Lebih parahnya lagi, aku selalu menahan napas setiap kali ada mobil SUV berwarna perak lewat di hadapanku, berharap itu adalah mobil Cho Kyuhyun.

Aku sungguh telah terobsesi pada seorang Cho Kyuhyun!

Aku salut dengan Leeteuk-ssi yang masih bisa terdengar ceria setiap kali meneleponku untuk menanyakan tentang kencanku dengan para pria yang telah dipilihkannya untukku.

Sering aku bertanya-tanya dalam hati, apakah dia tidak bosan mendengar komentarku yang seperti ini, 'Ya, dia memang baik, tetapi sepertinya dia bukan pria yang tepat untuk saya?' untuk menjawab pertanyaannya itu.

Kenyataannya, aku harus mengakui kekagumanku terhadap Leeteuk-ssi dan semua staff GBD yang pantang menyerah mencarikan pria yang tepat untukku.

Sebenarnya, jauh di dalam hati kecilku aku tahu, pria yang tepat untukku adalah pria berbadan tinggi, bermata tajam menghanyutkan, memiliki aroma yang memabukkan, serta memiliki mobil jenis SUV berwarna perak.

Pria yang seakan-akan menghilang dari hidupku sebulan yang lalu.

Selama dua minggu pertama sejak pertemuan itu, aku masih mengharapkan telepon darinya. Terkadang aku duduk menatap ponselku dan berharap benda itu berdering. Tanpa sadar aku sering bergumam, 'Ring... ring... ring... came on! Just ring!'

Dan ketika ponselku itu tidak juga berdering, aku akan memaki 'ponsel bodoh! Berdering saja tidak bisa!' sambil menunjuk-nunjuk ponselku.

Untunglah kegilaanku ini dapat teratasi setelah Eunhyukkie datang mengunjungiku dengan membawa kekasih 'pria' nya yang bernama Donghae, yang terlihat lebih muda dari Eunhyukkie dan sepertinya masih seorang pelajar high school.

Ini adalah pertama kalinya aku bertemu dengan kekasihnya itu. Oleh sebab itu, aku sedikit terkejut ketika melihat Donghae.

Dia masih sangat muda!

Dan setelah satu jam bersama Donghae dan Eunhyukkie, akhirnya aku tahu jika Choi Donghae ini adalah murid privat dari Eunhyukkie. Dia baru saja akan menghadapi ujian negara dan berencana untuk masuk ke universitas yang sama dengan Eunhyukkie, dan jurusan yang sama juga yaitu psikologi.

Oh Tuhanku! Choi Donghae ini 7 tahun lebih muda dari Eunhyukkie! Apa adikku sudah berubah menjadi pedofil atau apa?

Sebelumnya Eunhyukkie memang telah bercerita jika dia memiliki kekasih yang lebih muda darinya, tapi... 7 tahun dan masih pelajar?!

Apa kata Eomma dan Abeoji nanti jika tahu?!

Tapi, aku melihat jika Donghae ini seolah tidak mempermasalahkan perbedaan umur mereka yang cukup jauh itu. Malah, ternyata Donghae ini bersikap jauh lebih dewasa dibandingkan umurnya, dia mampu mengimbangi adikku yang agak nyentrik itu.

Well, umur memang bukan penentu kedewasaan.

Donghae hanya menginap selama seminggu di apartemenku, kemudian dia kembali ke Washington D.C sendirian sementara adikku masih menetap hingga setelah tahun baru.

Setelah Donghae pergi, aku pun mulai menginterogasi adikku.

"Hyukkie-ya, apa kau dan Donghae serius?" tanyaku sambil menyiapkan makan malam untuk kami berdua.

Eunhyukkie yang sedang membantuku merapikan meja makan menjawab dengan nada ragu, "mmmhhh... belum yakin juga sih. Tapi, memangnya kenapa hyung?"

"Ya... kau juga tahu alasanku bertanya, Hyukkie-ya. Dia masih terlalu muda, sangat muda untukmu," ujarku sambil membalik daging yang ada di atas panggangan.

Hyukkie menatapku sedikit kesal namun kemudian dia mengangkat bahu cuek.

"Tapi dia cukup menarik dan lucu. Kau lihat sendiri kan Minnie Hyung, betapa menggemaskan Donghae itu! Dan yang penting, pemikirannya jauh lebih dewasa dibandingkan umurnya itu. Itulah yang membuatku tertarik padanya, hyung. Dia itu berbeda dengan pria-pria sebayaku yang ku kenal selama ini. Dia apa adanya dan mandiri."

Eunhyukkie menceritakan alasannya menyukai kekasihnya itu dengan sedikit berapi-api.

"Ya... aku akui dia memang mengesankan. Tapi, sepertinya kalian tidak akan bisa menikah dalam waktu dekat kan? Orangtuanya tidak akan setuju."

Eunhyukkie menghentikan kegiatannya dan beralih duduk disalah satu kursi di meja makan.

"Tentu saja, hyung! Aku juga belum ingin terburu-buru menikah. Lagipula, Minnie hyung yang harus menikah lebih dulu, baru aku menyusul."

Aku telah selesai memanggang daging dan beralih menatanya di piring saji kemudian membawanya ke meja makan yang telah rapi.

Aku pun mengambil tempat disamping Eunhyukkie dan mulai menyantap steak bagianku. Sementara Eunhyukkie, dia juga langsung memakan steak bagiannya.

"Mmm, by the way Hyung, aku sudah lama tidak mendengar cerita tentang Cho Kyuhyun. Apa hyung masih belum bertemu lagi dengan dia?" tanya Eunhyukkie tiba-tiba.

Aku hampir tersedak daging yang kutelan karena pertanyaan mendadaknya itu.

Mengapa dia tiba-tiba menanyakan pria itu sih?! Padahal sudah dua minggu ini aku cukup berhasil mengusir Kyuhyun dari pikiranku setelah dua minggu sebelumnya sedikit bersikap gila karena pria mengagumkan itu.

"Hmmm..." aku sengaja menjeda ucapanku untuk mencari jawaban yang tepat, "aku tidak tahu bagaimana kabarnya, dan aku belum bertemu dengannya lagi sejak malam itu," ucapku pelan.

"Sudahlah. Jangan bicarakan pria menyebalkan itu! Makanlah dengan benar! Lihat, kau kurus sekali Eunhyukkie!" omelku, dengan maksud mengalihkan topik pembicaraan kami.

Eunhyukkie tersenyum sambil mengunyah daging yang ada di dalam mulutnya.

"Steak ini enak, Hyung!" serunya ceria sambil kembali menyuap daging ke dalam mulutnya.

"Benarkah? Kalau begitu habiskan!"

.

.

.

BLIND DATE

.

.

.

Hari Natal telah berlalu dan tahun baru pun tiba, berarti aku sudah resmi berumur 28 tahun.

Eomma menghubungiku pukul enam pagi, Eomma dan Abeoji memberi ucapan selamat sambil menyanyikan lagu untukku. Tak lupa Hyukkie juga ikut bergabung dengan mereka menyanyikan lagu ulang tahun untukku. Untuk Hyukkie, dia menyanyi sambil menari-nari lucu dihadapanku, adikku ini memang sangat menghiburku.

Setelah mandi dan berganti pakaian, aku dan Eunhyukkie beranjak ke pergi dari apartemenku. Kami memutuskan untuk merayakan ulang tahunku di salah satu restoran Korea yang ada di Winston dan makan sebanyak-banyaknya.

Sesampainya di restoran itu seorang waiters menyambut kami dengan ramah. Semua waiters dan waitress di restoran ini memang sudah mengenalku karena aku cukup sering datang kemari. Pelayan itu pun langsung mempersilakan kami duduk di meja favoritku yang ada di tengah ruangan.

Restoran terlihat cukup padat dengan orang-orang yang ingin merayakan tahun baru dengan makan-makan di restoran ini. Kulihat meja terbesar restoran ini, yang terletak di pinggir ruangan sudah terisi oleh satu keluarga besar.

Di meja itu terdapat sepasang harabeoji dan halmeoni dengan rambut yang sudah hampir putih semua, seorang pria berwajah cantik berambut cokelat caramel yang sedang memasukkan sepotong kimbab ke dalam mulut anak kecil yang duduk di samping kanannya. Kemudian seorang wanita berambut hitam panjang yang berwajah cantik duduk di sebelah kiri pria cantik itu. Di depan mereka ada empat orang lagi duduk membelakangiku. Semuanya berambut kecokelatan dan sepertinya mereka pria.

Dari raut wajah dan suara-suara mereka yang berbicara satu sama lain, tampaknya mereka sedang membahas topik tentang MLS(sepak bola Amerika) dan betapa serunya game Go Pokemon yang belum lama ini diluncurkan.

Tiba-tiba salah seorang di antara mereka yang duduk membelakangiku berdiri dan berbalik. Dan aku langsung bertatapan dengan wajah malaikat pelindungku.

Aku harus mengedipkan mataku berkali-kali untuk memastikan bahwa aku tidak sedang berhalusinasi.

Aku benar-benar tidak sedang bermimpi karena wajah itu kini sedang tersenyum lebar ke arahku.

"Sungmin-ssi!" teriak pria itu aka Cho Kyuhyun. Dia seolah terlihat sangat senang karena telah bertemu denganku.

"Cho... Kyuhyun," balasku, masih dengan suara agak tersedak. Aku refleks langsung berdiri dari dudukku. Eunhyuk juga ikut berdiri dari duduknya.

Cho Kyuhyun kemudian maju beberapa langkah dengan penuh semangat, sebelum berhenti persis di depanku dan terlihat agak ragu. Dan aku baru sadar, percakapan seru yang tadi terdengar di meja mereka kini sunyi. Delapan pasang mata di seberang sana sedang menatapku penuh rasa ingin tahu.

"Apa kau sudah makan?" tanyanya akhirnya, setelah beberapa detik hanya menatapku sambil mengerutkan kening.

"Kami baru saja akan memesan," jawabku gugup.

"Bagaimana jika kalian bergabung dengan kami disana?" tawar Kyuhyun dengan sedikit antusias. Kulihat Kyuhyun mengangguk kepada Eunhyuk.

Sebelum aku bisa menolak, kulihat tiga pria yang tadi duduk bersamanya melambaikan tangan kepada waiter untuk meminta ekstra kursi. Dan hanya dalam hitungan detik, meja mereka semakin padat dengan dua kursi tambahan.

Tampaknya aku tidak memiliki pilihan, selain menerima tawaran itu.

Aku duduk bersebelahan dengan Kyuhyun sedangkan Eunhyuk duduk di sebelahku. Kedua pria yang sebelumnya duduk di kursi yang sekarang kami duduki telah menyingkir ke kedua ujung meja, di kursi tambahan.

Aku dan Eunhyukkie lalu memesan makanan dan minuman kami. Kini sembilan pasang mata menatapku dan Eunhyuk, tetapi aku sadar bahwa fokus tatapan mereka adalah aku.

Situasi ini sangat membuatku tidak nyaman, apalagi aku menyadari aku duduk terlalu dekat dengan Kyuhyun sehingga bahu kami hampir bersentuhan.

Bagaimana mungkin aku bisa menerima tawaran duduk dan makan siang dengan orang-orang tidak aku kenal ini?!

Oh, ya, aku ingat... aku telah tergila-gila pada pria yang duduk di sebelahku ini sehingga tidak memperdulikan apapun lagi, bahkan sekedar rasa malu maupun segan.

"Kenalkan, aku Changmin," ucap pria yang duduk di ujung meja sebelah kiriku dengan tiba-tiba, kemudian membungkuk dan mengulurkan tangannya menyalamiku.

Aku menyambut uluran tangannya dengan ragu sambil tersenyum tipis.

Ketika dia melakukan itu, kudengar beberapa orang di meja ini berteriak pada saat yang bersamaan.

"Yak Chwang! Kau tidak sopan!"

"Lihat, dia merasa terganggu dengan sikapmu itu!"

Aku sedikit terkejut dengan respon mereka itu. Sebenarnya aku sama sekali tidak merasa terganggu dengan tindakan Changmin-ssi tadi. Tapi, ya... aku memang merasa sedikit canggung dengan sikap pria itu yang sedikit to the point.

"Kyuhyun-ah, apa kau tidak keberatan untuk mengenalkan kami pada pria manis ini hm?" pria cantik yang tadi sedang menyuapi anak kecil di sampingnya itu berkata sambil melemparkan senyum ramahnya kepadaku.

Kyuhyun memberikan tatapan gemas kepadanya sebelum menjawab, "Sungmin-ssi, ini keluargaku. Eommaku, Kim Heechul dan Abeojiku, Cho Hankyung," ucapnya sambil menunjuk kepada sepasang halbeoji dan halmeoni yang duduk diseberangku dan sedang tersenyum ramah kepadaku. Ups! Ternyata halmeoni, maksudku Eomma Kyuhyun itu seorang namja! Tapi beliau sangatlah cantik! Seorang male pregnant.

Hmm, Abeoji Kyuhyun juga tampan, tak heran anaknya begitu mengagumkan!

"Ini kakak laki-lakiku, Ryeowook hyung dan anaknya Jongin," ia menunjuk pria cantik tadi serta anak kecil yang duduk disampingnya. Pria itu kembali menyuguhkan senyum semanis madunya padaku.

Oh, satu lagi seorang male pregnant yang sama sepertiku. Cukup banyak male pregnant disini ternyata.

"Ini suaminya, Kim Jongwoon hyung." Kyuhyun menunjuk pria yang duduk di pojok meja sebelah kanan.

"Lalu, ini adikku, Yoona, satu-satunya wanita dalam keluarga kami." Kyuhyun menunjuk satu-satunya wanita yang ada di meja ini. "Kekasihnya, Lee Seunggi," Kyuhyun menunjuk pria yang duduk di sebelah Eunhyukkie.

Kyuhyun menarik napas, kemudian melanjutkan, "Terakhir, adik laki-lakiku sekaligus saudara kembar Yoona, food monster, Changmin." Dia menunjuk Changmin-ssi yang duduk di pojok kiri, persis didekat Kyuhyun.

"Hey!" teriak Changmin-ssi tersinggung, diikuti gelak tawa semua orang yang duduk di meja itu.

"Salam kenal semuanya. Saya Lee Sungmin dan ini adik saya Lee Hyukjae," ucapku memperkenalkan diri sambil mengumbar senyum manis terbaikku. Aku menyikut Eunhyukkie untuk memberinya isyarat agar memperkenalkan dirinya.

"Lee Hyukjae imnida, tapi Anda semua bisa memanggil saya Eunhyuk. Salam kenal semuanya," ucap Eunhyukkie dengan sopan sambil mengangguk.

Bagus saeng, kau harus sopan dihadapan calon keluargamu ini.

Yah, itu harapanku.

"Salam kenal Sungmin-ssi, Eunhyuk-ssi. Tidak perlu bersikap terlalu sopan pada kami. Bersikaplah santai dan anggap saja kami keluarga kalian, benarkan yeobo?" Eomma Kyuhyun, Heechul-ssi menyunggingkan senyum keibuannya padaku, membuatku tiba-tiba merindukan Eommaku yang jauh di Korea. Beliau mengalihkan senyumnya pada suaminya, Hankyung-ssi yang meresponnya dengan kecupan manis di pipi 'istrinya' itu.

"Tentu sayang. Sungmin-ssi, Eunhyuk-ssi, senang bisa mengenal kalian. Kalian sangat manis dan imut," pujinya membuatku dan Eunhyuk tersipu. Well, ini bukan pertama kalinya kami mendapat pujian seperti itu. Tapi tetap saja ini membuat kami menjadi malu.

Tak lama makanan yang kami pesan pun tiba.

Diam-diam aku memperhatikan sekelilingku. Semua perhatian anggota keluarga Kyuhyun teralih pada makanan pesanan mereka masing-masing.

Setidaknya ini memberikanku waktu beberapa menit untuk bernapas.

"Aku menunggu penjelasanmu, hyung," bisik Eunhyukkie lirih sambil mencondongkan tubuhnya ke arahku, alih-alih mengambil botol merica yang ada di hadapanku.

"Hmm," jawabku dengan gumaman. Tidak mungkin aku menjawabnya dengan suara keras disaat Kyuhyun berada sangat dekat tepat disebelah kiriku, kan?

"Bagaimana kabarmu, Sungmin-ssi? Maksudku, sejak terakhir kali kita bertemu," tanya Kyuhyun pelan.

"Aku? Aku baik, terima kasih telah bertanya," jawabku pendek, sambil menyuap sesendok bibimbap ke dalam mulutku.

"Apakah pria itu masih mengganggumu setelah malam itu?" lanjut Kyuhyun masih dengan suara pelan. Dia menatapku dengan wajah tampannya yang terlihat tenang.

Aku tahu siapa yang dia maksud, Kim Jungmo.

Mau tidak mau aku tersenyum mendengar pertanyaannya. Ternyata dia masih mengingat kejadian hari itu.

"Tidak, dia tidak pernah menggangguku lagi," jawabku dengan tenang sambil tersenyum tipis, berusaha menyembunyikan nada senang dalam suaraku. Apa dia mengkhawatirkanku?

"Syukurlah. Ya, aku sangat mengkhawatirkanmu," lanjutnya, kemudian kembali pada makan siangnya, meninggalkanku dengan mulut agak menganga dan hati berbunga-bunga.

Dia bilang dia mengkhawatirkanku? Apa dia bisa membaca pikiranku?

Tanpa sadar aku masih menatapnya dan melupakan makananku.

Kyuhyun yang mungkin merasa aku memandanginya pun beralih menoleh padaku.

"Ada masalah?" tanyanya dengan wajah penasaran yang tenang dan tetap tampan.

"Ya? Tidak, tidak ada masalah." Aku langsung mengalihkan perhatianku kembali pada makananku, mencoba menyembunyikan ekspresi wajahku yang bisa memperlihatkan bahwa aku merasa tersanjung dengan perhatiannya.

"Bagaimana dengan hidungmu?" tanyaku sambil mengaduk-aduk bibimbapku. Rasanya bibimbap ini jauh lebih menarik dibandingkan memandangi wajah menawan Kyuhyun, dan membuat dia menyadari betapa aku mengagumi wajahnya itu.

Aku melirik gerakan tangan Kyuhyun yang menyentuh hidungnya sekilas kemudian berkata, "sepertinya baik-baik saja dan masih berfungsi."

Aku menoleh padanya yang disambut dengan senyum lebarnya yang menawan.

Ugh, jantungku!

Aku membalas senyumannya dengan canggung dan langsung kembali menyantap bibimbapku untuk menenangkan jantungku.

Please, kuatkan dirimu, Lee Sungmin!

"By the way, dimana kau mengenal Kyuhyun hyung?" tanya Changmin-ssi tiba-tiba, yang diikuti dengan teriakan, "Oowww, itu sakit Hyung!" darinya.

Kulirik Kyuhyun yang sedang menghunjamkan tatapan tajam ke arah Changmin yang sedang meringis kesakitan. Sepertinya dia mendapatkan serangan kaki dari salah satu orang yang duduk didekatnya, Kyuhyun mungkin, atau Hankyung-ssi, ayahnya sendiri.

"Biarkan mereka makan dahulu sebelum kalian melakukan interogasi."

Heechul-ssi menolongku. Aku memandangnya dengan tatapan penuh terima kasih.

"By the way Chwang, bagaimana pihak rumah sakit memperlakukanmu sekarang?!" tanya Jongwoon-ssi dari ujung meja pada Changmin-ssi.

"Seperti sampah, that's all I could say," balas Changmin-ssi. "Saranku, jika kau memutuskan untuk kuliah, jangan pernah mengambil jurusan kedokteran," lanjutnya sambil menatap Eunhyukkie, yang mengerlingkan matanya kepadaku dengan bingung.

Aku harus menahan tawaku.

Eunhyukkie memang berwajah dan berpenampilan seperti seorang pelajar. Terutama dengan postur tubuhnya yang tidak seperti pria lain yang seusia dengannya. Jadi, aku tidak bisa menyalahkan orang-orang yang menyangka dia baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-16.

"Jika aku boleh tahu, kau sudah tahun ke berapa Eunhyuk-ssi?" tanya Changmin-ssi lagi kepada Eunhyukkie.

"Tahun keempat," balas Eunhyukkie sopan dengan nada tenang. Tapi aku tahu dalam hati dia pasti tengah menahan gemas.

Kulihat Heechul-ssi menggelengkan kepalanya melihat kelakuan anaknya, yang seakan-akan tidak menghiraukan kata-katanya untuk membiarkan kami makan dahulu sebelum bertanya-tanya.

"Ah! Senior high school. Dimana?" tanya Changmin-ssi semakin antusias.

"George Washington," jawab Eunhyukkie lagi, masih tenang.

Kulihat Changmin-ssi mengerutkan keningnya. "Itu bukan di Winston, ya? Aku tidak pernah mendengar ada George Washington High School di sini."

"Itu di Washington D.C."

Aku bisa merasakan Eunhyukkie yang menikmati permainan tebak-tebakan ini.

"Washington D.C.?!" teriak Changmin-ssi terkejut.

"Dia sudah kuliah, pabbo. George Washington University, arra?"

Kudengar Yoona-ssi mengomentari dengan nada sarkasme.

"Aku tidak mengerti bagaimana bisa kau diterima kuliah di jurusan kedokteran dengan kebodohanmu ini," lanjutnya.

Changmin-ssi mengerlingkan matanya kepada Yoona-ssi yang membalas dengan kerlingan matanya juga.

"Jadi, apa kau akan segera lulus tahun depan?" tanya Ryeowook-ssi penasaran sambil mengelap mulut anaknya yang berlepotan saus tomat.

"Mungkin belum. Saya masih mengerjakan disertasi saya. Mudah-mudahan saya akan lulus secepatnya." Eunhyukkie menjawab pertanyaan itu dengan penuh senyum.

Aku tahu, dia selalu menganggap kejadian di mana seseorang menyangka dia masih mengambil S1 dan bukannya S3 sebagai hiburan yang tidak akan pernah dia lewatkan.

Kulihat semua orang kecuali aku dan Eunhyukkie tampak bingung, namun kemudian ekspresi wajah mereka berganti dengan kekaguman setelah mereka akhirnya memahami maksud Eunhyukkie.

"Kau akan meraih gelar PhD dalam konsentrasi apa sayang?" Heechul-ssi bertanya sambil memandang Eunhyukkie dengan tatapan keibuan.

"Psikologi, Ahjumma," jawab Eunhyukkie malu-malu.

Aku tersenyum bangga melihat Eunhyukkie mencoba menjelaskan kepada Kyuhyun dan keluarganya tentang bidang yang ditekuninya.

Tidak lama kemudian, Eunhyukkie sudah terlibat dalam pembahasan panjang lebar mengenai teori-teori psikologi dengan Yoona-ssi, yang ternyata sedang mengambil S2 Jurusan Psikologi. Aku sama sekali tidak paham apa yang mereka bicarakan.

"Bagaimana makanannya?" tanya Kyuhyun dengan suara pelan sehingga hanya aku yang bisa mendengarnya.

"Enak," jawabku, sambil memasukkan suapan terakhir ke dalam mulutku. Setelah menelan dan meminum teh hijau milikku, aku memberanikan diri menanyakan pertanyaan yang sudah berputar-putar di kepalaku selama satu jam terakhir.

"Berapa hutangku untuk biaya dry cleaning?" tanyaku pelan sambil menatapnya tenang.

Sebenarnya, yang ingin aku tanyakan adalah 'mengapa kau belum menghubungiku?'

Kyuhyun menyandarkan punggungnya ke kursi dan menatapku bingung.

"Untuk sweater-mu," lanjutku.

Kyuhyun masih menatapku bingung.

Aku terpaksa menambahkan, "Sweater-mu yang super mahal, yang terkena darah waktu itu?"

"Oh... sweater itu. Aku sudah bilang kau tidak perlu mengkhawatirkannya. Seingatku, sweater itu sudah aku kirim ke Goodwill."

"Kau menyumbangkan sweater Armani-mu ke Goodwill?" nada suaraku meninggi karena terkejut.

Untung saja Changmin-ssi sedang ke toilet sehingga dia tidak mendengar ucapanku. Dan anggota yang lain tengah sibuk berbicara dengan yang lainnya.

Orang bodoh mana yang akan menyumbangkan sweater Armani-nya ke organisasi yang menerima sumbangan pakaian. Meskipun sweater itu sudah terkena noda darah, tetap saja itu sweater Armani!

Aku bahkan terlalu sayang untuk sekedar membeli satu yang termurah dari merek terkenal itu karena penghasilanku yang tidak seberapa.

Kyuhyun memandangku dengan pandangan geli.

"Sweater itu sudah tua, Sungmin-ssi. Lagi pula, bahannya terasa gatal. Hari itu aku terpaksa memakainya karena aku kehabisan pakaian," jelasnya berusaha untuk tidak tertawa.

"Oh, tapi..." ucapku ragu.

"Itu sweater cadangan yang sengaja aku simpan di mobil, berjaga-jaga saja jika aku membutuhkan pakaian ganti," jelas Kyuhyun lagi.

Aku mengangguk menerima penjelasannya itu, meskipun aku tetap bingung bagaimana mungkin seseorang bisa memiliki sweater semahal Armani dan tidak mengenakannya sesering mungkin.

"By the way, apa kalian ingin mendengar apa yang terjadi padaku sewaktu aku pergi kunjungan ke rumah sakit jiwa?" Kudengar suara Yoona-ssi.

Kualihkan perhatianku kepada adik perempuan Kyuhyun itu.

"Ketika kau berfikir bahwa kau juga sudah mulai gila?" Changmin bertanya dengan nada mengejek, yang di ikuti suara tawa kami semua.

"Mau dengar atau tidak?" omel Yoona kesal.

"Baiklah, adikku yang cantik. Silahkan mulai ceritanya," ucap Kyuhyun. Aku menoleh dan menatap Kyuhyun, yang ternyata sedang tersenyum padaku.

Aku membalas senyumannya dengan canggung.

Cukup Cho Kyuhyun! Mungkin aku yang akan gila nanti!

"Baiklah. Dengarkan ceritaku sampai selesai, oke?" Yoona-ssi menarik nafas dalam, bersiap untuk bercerita.

"Profesor Duncan adalah orang paling gila yang pernah aku temui sepanjang hidupku. Dia mengajak kami bertemu salah satu pasiennya, namanya Jim. Ia agak kurang waras karena percaya dirinya sudah meninggal." Yoona-ssi memulai ceritanya.

Kulihat Eunhyukkie dan Ryeowook-ssi saling tatap, kemudian tersenyum.

Sepertinya aku tidak perlu khawatir keluarga Kyuhyun tidak akan cocok dengan keluargaku.

Oke, Lee Sungmin, stop.

Aku mencoba mengontrol imajinasiku yang mulai kacau dan kembali memfokuskan pikiranku pada cerita Yoona-ssi.

"Ada beberapa perawat yang mencoba menjelaskan kepada Jim bahwa dia masih hidup. Jika dia sudah meninggal maka mereka tidak akan bisa melihat atau menyentuhnya. Nah, Prof. Duncan berkata ke kami, mahasiswanya, untuk mengobservasi selama dia menangani masalah ini. Lalu dia mendekati si Jim itu, meraih salah satu lengan pria itu, kemudian membuat goresan kecil pada kulitnya dengan menggunakan pisau bedah kecil steril yang ada di deretan peralatan medis hingga menyebabkan lengan pria itu terdapat luka irisan kecil yang mengeluarkan darah segar. Gila bukan?" Suara Yoona-ssi semakin meninggi karena antusias.

Aku pun melipat kedua tanganku di atas meja, tertarik dengan cerita itu dan menunggu Yoona-ssi melanjutkan ceritanya.

Tiba-tiba kudengar suara Changmin-ssi yang baru kembali dari toilet. "Sedang membicarakan apa?" tanyanya sambil duduk kembali di kursinya.

"Aku sedang cerita tentang kunjunganku ke Rumah Sakit Jiwa," jawab Yoona-ssi dengan nada tidak sabar.

"Oh... itu cerita gila. You guys would love it," ucap Changmin-ssi sambil tertawa.

"Chwang... you mind?! Aku sedang menceritakannya!" seru Yoona-ssi dengan nada merajuk.

Changmin-ssi mengangkat tangannya tanda menyerah.

Kulihat semua orang di meja itu, kecuali aku dan Eunhyukkie, saling pandang dengan senyuman yang tertahan dan tatapan penuh pengertian.

Rupanya hal yang cukup biasa bagi Yoona-ssi dan Changmin-ssi bertengkar, dan Changmin-ssi lah yang biasanya akan mengalah.

Setelah yakin Changmin-ssi tidak akan mengeluarkan kata-kata yang akan mengganggunya, Yoona-ssi melanjutkan ceritanya.

"Jim memperhatikan lengannya yang sudah berdarah. Tidak banyak memang. Perhatiannya kemudian beralih ke Prof. Duncan, lalu ke para perawat sebelum akhirnya ke kami, para mahasiswa yang sedang memandanginya, dengan mulut ternganga tentunya. Bukannya menyadari dia masih hidup, Jim malahan mulai berteriak-teriak 'Orang mati bisa berdarah! Orang mati bisa berdarah!' sambil berlari-lari keliling ruangan."

Yoona mengakhiri ceritanya sambil tertawa keras, dan kami pun ikut tertawa bersamanya.

"Ada yang mau dessert?" Kudengar suara Jongwoon-ssi bertanya, setelah suara tawa reda.

Aku sudah terlalu kenyang sehingga menolak tawarannya, begitu juga semua orang yang duduk di meja itu.

Jongwoon-ssi kemudian berdiri dan menuju toilet.

"Jadi, darimana asalmu dear?" tanya Heechul-ssi padaku. Kulihat Hankyung-ssi dan yang lainnya juga sedang menatapku ingin tahu.

"Saya dari Ilsan," jawabku sopan.

"Oh, itu dekat dari Seoul! Apakah orangtuamu ada di sini atau mereka tinggal di Korea?" tanya Heechul-ssi lagi.

Ini mungkin hanya imajinasiku saja, tetapi aku merasa ia sedang menginterogasiku untuk melihat apakah aku calon 'istri' yang sesuai untuk anaknya.

Calon istri? Hah! Pacaran saja belum.

"Mereka tinggal di Korea," jawabku, sambil tersenyum.

"Seberapa sering kamu pulang ke Korea?" tanyanya perhatian.

"Sekali setiap tiga tahun."

"Tiga tahun sekali?" teriak Heechul-ssi terkejut. "Mereka pasti sangat merindukan kalian dan begitu juga kalian. Aku mengerti, hidup berjauhan dengan orangtua memang sangat berat," lanjutnya dengan nada prihatin.

Tentu saja aku merindukan orangtuaku dan juga negara kelahiranku. Tapi, mau bagaimana lagi? Pekerjaanku yang sangat menyita waktuku serta biaya yang tidak murah membuatku dan Eunhyuk harus ekstra bersabar untuk bisa bertemu dengan orangtua kami.

"Tidak semua orangtua bersikap berlebihan sepertimu, Eomma,"Changmin-ssi berkata dengan nada sarkas, yang diikuti dengan bunyi 'whack' dan kata, "Owww... Eomma," ketika tangan Heechul-ssi bersentuhan keras dengan belakang kepalanya.

"Seharusnya aku cukup membesarkan Ryeowook, Kyuhyun dan Yoona saja, sedangkan kau ku tinggalkan di Korea bersama Halmeonimu jika melihat sikapmu yang lost control seperti ini! Kembaranmu saja tidak se-menyebalkan dirimu!" omel Heechul-ssi dengan nada kesal.

Pada saat itu barulah aku sadar bahwa Yoona-ssi dan Changmin-ssi ternyata anak kembar.

Apa boleh buat, mereka tidak terlihat terlalu mirip. Changmin-ssi bertubuh tinggi menjulang dengan wajah yang terlihat nakal sedangkan Yoona-ssi bertubuh mungil nan ramping dan berwajah polos.

Namun cara mereka berinteraksi terlihat lebih dekat daripada kakak-beradik pada umumnya. Mereka terlihat lebih bisa memahami satu sama lain tanpa harus mengeluarkan kata-kata.

Sekali lagi aku tersenyum melihat semua interaksi dalam keluarga Kyuhyun, mereka terlihat seperti satu keluarga yang utuh dan bahagia, seperti keluargaku.

Agh! Aku merindukan Eomma dan Abeoji!

Dari sudut mataku kulihat Jongwoon-ssi yang baru kembali dari toilet, kemudian aku melihat Ryeowook-ssi yang berdiri sambil menggendong Jongin yang sudah tertidur.

"Sepertinya kami harus segera pergi. Kami harus menghindari macet jika ingin sampai ke Atlanta sebelum malam," ujar Ryeowook-ssi.

"Ryeowook-ssi tidak tinggal di Winston?" tanyaku pada Kyuhyun.

"Tidak ada dari kami yang tinggal di sini. Hanya orangtuaku saja," jawab Kyuhyun.

Sebenarnya aku ingin menanyakan di mana Kyuhyun tinggal namun terpaksa ku batalkan karena Changmin menepuk bahu Kyuhyun.

"Senang bertemu denganmu big brother! Tapi sepertinya kita harus berpisah. Aku ada shift pagi besok."

Di sudut lain kulihat Yoona sedang memeluk dan mencium kedua orangtuanya.

"Berjanjilah kau akan sering menghubungi kami. Kau jarang sekali mengunjungi keluargamu," ucap Heechul-ssi sambil memegang wajah Yoona di antara kedua telapak tangannya.

"Aku bertemu Chwang setiap hari," balas Yoona-ssi cuek.

"Dia saudara kembarmu, itu tidak bisa dihitung."

Kudengar Heechul-ssi mengomentari dengan kesal.

Changmin-ssi dan Yoona-ssi terkekeh-kekeh.

Eunhyukkie menarik tanganku dan menanyakan tentang tagihan makanan kami.

Oh, aku sampai lupa!

Aku mencoba menarik perhatian salah seorang waiter untuk menanyakan bon makanan kami.

Kyuhyun yang melihatku sedang melambaikan tangan bertanya, "Kau memerlukan sesuatu?"

"Ya, aku ingin meminta tagihan makananku," balasku, sambil tetap melambaikan tangan kepada waiter.

Kyuhyun menarik tanganku turun dan tidak melepaskan genggamannya. "Kau jangan khawatir soal itu. Jongwoon hyung sudah membayar semuanya," ucapnya.

"Jongwonn-ssi?" tanyaku terkejut.

Kyuhyun mengangguk. "Kalau begitu, sebaiknya aku bertanya padanya berapa yang harus ku bayar," ucapku dan siap beranjak menuju Jongwoon-ssi yang sedang mengangkat Jongin dari pelukan istrinya.

Kyuhyun menarik tanganku yang masih digenggamnya.

"Don't worry about it." Kyuhyun menatapku tajam.

"Apa kau yakin?" tanyaku ragu.

Tiba-tiba Kyuhyun memanggil kakak iparnya itu lalu bertanya dengan suara sedikit keras.

"Jongwoon hyung, Sungminnie ingin bertanya apakah kau keberatan membayar makan siangnya?"

Aku rasanya ingin mencekik Kyuhyun pada saat itu juga.

Mengapa dia harus menanyakan secara langsung begitu kepada jongwoon-ssi dengan suara sekeras itu seolah aku terlalu perhitungan dengan uang?

Aku memang sangat berhati-hati dengan uangku, tetapi aku tidak mau orang lain tahu tentang itu.

Dan lagi, Sungminnie? Sejak kapan panggilannya padaku menjadi semanis itu?!

Mau tak mau wajahku merona, dan aku bisa mendengar cekikikan yang berasal dari Eunhyukkie yang hanya berdiri diam membiarkan hyungnya dipermalukan. Dasar adik durhaka!

Untungnya Jongwoon-ssi hanya tertawa dan Ryeowookssi yang menjawab, "Makan siang ini kami yang traktir."

Kemudian Ryeowook-ssi melangkah ke arahku dan memelukku sambil berkata, "Happy new year. Senang bertemu denganmu, Sungmin-ssi."

Aku tidak punya pilihan selain mengucapkan terima kasih, membalas pelukannya dan mengatakan hal yang sama.

Ryeowook-ssi kemudian berputar untuk memeluk dan mencium semua anggota keluarganya, lalu memeluk Eunhyukkie.

Setelah itu, Ryeowook-ssi melangkah ke luar restoran diikuti oleh Jongwoon-ssi yang menggendong Jongin. Jongwoon melambaikan tangannya sebelum menghilang dari pandanganku.

Sebelum aku bisa pulih dari sikap hangat Ryeowook-ssi terhadapku, Yoona-ssi tiba-tiba memelukku, diikuti Changmin-ssi, sedangkan Seunggi-ssi, pacar Yoona-ssi hanya melambaikan tangannya sambil tersenyum tersipu-sipu.

Aku baru ingat, sepanjang makan siang tadi aku tidak mendengarnya berbicara sama sekali.

Kemudian mereka berjalan bersama keluar dari restoran.

Aku pun berpamitan dengan Kyuhyun dan kedua orangtuanya. Meskipun Hankyung-ssi hanya menyalami tanganku dan Eunhyukkie, Heechul-ssi memelukku dan Eunhyukkie dengan hangat dan antusias.

Aku dan Eunhyukkie hanya bersalaman dengan Kyuhyun. Kemudian kami berjalan ke luar restoran bersama-sama dan berpisah dengan keluarga Kyuhyun di depan pintu.

Eunhyukkie berjalan tanpa suara di sampingku, tetapi aku tahu dia tidak sabar menunggu sampai kami ada di dalam mobil dan membahas semua kejadian siang ini.

Aku dan Eunhyukkie masuk ke dalam mobil, kemudian kuhidupkan mesin dan menyalakan pemanas.

Dari kaca spion kulihat Kyuhyun berjalan menuju Mercedes berwarna hitam, diikuti oleh Hankyung-ssi yang sedang menggandeng Heechul-ssi.

Melihat mereka yang masih mesra itu aku teringat Eomma dan Abeojiku yang juga selalu bergandengan tangan ke mana pun mereka pergi.

Akhirnya, mereka masuk ke dalam mobil.

Aku masih tetap menunggu karena mesin mobilku masih terlalu dingin. Eunhyukkie menekan tombol radio mobil untuk mencari siaran yang melantunkan lagu-lagu yang enak untuk menemani perjalanan kami.

Tiba-tiba ponselku berbunyi.

Kulirik layar untuk mengetahui siapa yang meneleponku, tetapi di layar hanya tampil tulisan "private".

Sambil mengerutkan kening kujawab panggilan itu. Eunhyukkie buru-buru mengecilkan volume radio dan menatapku penuh tanda tanya karena melihat wajahku yang bingung.

"Hello," jawabku ragu.

"Hei, apakah kau berencana tidak segera meninggalkan tempat parkir itu?"

Kudengar suara berat Kyuhyun dari ujung telepon.

Aku sempat tersedak sebelum berkata, "Kyuhyun-ssi?"

Kini Eunhyukkie menatapku dengan mata terbelalak.

"Yes, ini aku," jawab Kyuhyun, kemudian ia tertawa. "Jadi? Apa kau masih lama?" lanjutnya.

"Memang ada apa?" Aku masih tidak bisa menebak alasan mengapa dia meneleponku dan menanyakan hal itu.

"Eomma tidak membiarkan kami pergi sampai dia melihat mobil kalian sudah dalam perjalanan pulang dengan aman." Suara Kyuhyun terdengar sedang mencoba menahan tawa.

Kemudian kudengar bunyi sesuatu dan suara bernada kesal yang agak teredam, seperti ada tangan yang menutupi speaker telepon Kyuhyun.

Kudengar suara Kyuhyun lagi, "Eomma mengatakan bahwa dia senang bertemu denganmu dan adikmu. Dia berharap bisa bertemu lagi dengan kalian."

Kini nada Kyuhyun terdengar sedikit terpaksa.

Aku berusaha tidak menelaah setiap perkataan yang diucapkan Kyuhyun kepadaku, dan akhirnya aku berkata, "tolong katakan pada Eomma dan Abeojimu, aku sangat berterima kasih atas sambutan mereka yang ramah. Aku juga senang bertemu dengan mereka."

"Mereka bisa mendengarmu karena teleponnya on speaker. Sebaiknya kalian bergerak sekarang, karena ada mobil yang menunggu tempat parkir kalian," lanjut Kyuhyun.

Aku melirik ke kaca spion untuk mengkonfirmasi apa yang Kyuhyun katakan. Kulihat ada sebuah Mustang warna hitam sedang menunggu.

"Oh, ya. Baiklah. Sampai jumpa," ucapku.

Aku buru-buru menutup telepon kemudian memberikannya kepada Eunhyukkie. Dan dia langsung memasukkan ponselku ke dalam tasku.

Buru-buru kualihkan persneling mobil dari "P" ke "R", dan mundur dari tempat parkir. Kubunyikan klakson satu kali sebelum meluncur ke Jalan Bethesda menuju arah Country Club, jalan di mana apartemenku berada.

.

.

Dalam perjalanan pulang menuju apartemen, Eunhyukkie terus menerus memuji Kyuhyun dan keluarganya.

"Oh Hyung! He's so perfect! Tidak heran kau sangat tertarik padanya. He is nice. Aku kira tipe pria sepertinya sudah punah, ternyata aku salah. Dan kau benar, hyung, matanya... Oh, my God... lebih tajam dari pedang!"

"Sepertinya kau yang lebih bersemangat bertemu dengannya dibandingkan aku?" tanyaku, agak bingung melihat reaksi Eunhyukkie yang menggebu-gebu.

"Tentu saja hyung! Aku tidak percaya hyung sudah membuang waktu tiga tahun hidup bersama Kim Jungmo, pria brengsek yang tidak tahu diri itu, sedangkan ternyata ada seorang Cho Kyuhyun di dunia ini. Aku yakin ini takdir."

"Takdir?" tanyaku ragu.

Eunhyukkie seakan-akan tidak mendengar keraguanku, dia melanjutkan usahanya meyakinkanku.

"Iya hyung! Takdir, jodoh. Aku yakin Hyung dan Kyuhyun itu berjodoh. Buktinya, kalian bertemu setelah hyung berpisah dengan Jungmo. Kemudian kalian kembali dipertemukan dalam keadaan yang berbeda-beda. Ini jelas petunjuk dari Tuhan bahwa kalian itu berjodoh. Kyuhyun-ssi itu adalah takdir hyung. wah, ini hadiah ulang tahun dan tahun baru yang sempurna untuk hyung!"

Aku terpaksa tertawa mendengar penjelasan Eunhyukkie.

"Keluarganya juga sepertinya menyukai hyung, terutama Changmin-ssi. Dia sungguh lucu. Sayangnya usia kami agak jauh, jika saja usia kami sedikit saja mendekati, mungkin kami bisa menjadi teman."

"Yeah, he's cute," balasku. Changmin memang tipe pria yang Eunhyuk suka. Tinggi, atletis dan ceria.

"Cute? Dia itu tampan dan keren hyung!" teriak Eunhyuk. "Well, anyway... setidaknya hyung sudah mendapatkan nomornya sekarang. Jadi, hyung bisa menghubunginya."

"Aku tidak memiliki nomor Changmin-ssi," balasku bingung.

"Aduuuhhh... bukan Changmin-ssi, Hyung..." Eunhyukkie terdengar gemas. "Maksudku Cho Kyuhyun. Tadi kan dia menghubungi hyung. Jadi, nomornya pasti tercatat di log panggilan ponsel hyung," katanya dalam satu tarikan napas.

Aku harus menahan diri untuk tidak mengakui bahwa aku tidak memilikinya karena Kyuhyun menggunakan private number saat menghubungiku tadi.

Eunhyukkie yang melihat ekspresi wajahku pun bertanya, "ada apa hyung?" dengan nada curiga.

Aku menelan ludah sebelum menjawab, "Dia menggunakan private number, jadi... aku tidak mungkin bisa menghubunginya."

Aku menunggu ledakan kemarahan Eunhyuk sampai di telingaku.

Namun ternyata yang keluar dari mulut Eunhyuk hanya, "oh... ya sudah. Tapi, hyung sempat meminta nomornya kan tadi saat berbicara dengannya? Atau mungkin kartu namanya?"

Aku memahami logika berpikir Eunhyukkie. Pada dasarnya untuk situasi lain mungkin itu yang akan kulakukan, tetapi tidak untuk kali ini.

Melihatku tidak juga menjawab, Eunhyukkie mengerlingkan matanya, "jangan bilang..."

Aku menggeleng pasrah.

"Kartu nama?"

Aku menggeleng sekali lagi.

"Oh maaannnn... Hyung sungguh payah!" omel Eunhyukkie.

Ya, aku memang bodoh!

.

(Sungmin POV END)

.

.

TBC

.

.

Mianhamnida #deep bow

Maaf Hasu lama ga update ff. Baik yang ini maupun yang lainnya.

Hasu habis sakit DBD, jadi harus dirawat di rs selama 7 hari T.T#Curcol dikit nih.

Kemarin baru aja pulang, and malem ini harus nyuri2 kesempatan buka laptop buat update ni ff. Kalo ketahuan ortu, bisa dibakar nih laptop (enggaklah paling diceramahin doang)

Sekali lagi, minhae chingudeul.

Ini anggap aja penebusan 2 minggu yang terlewat.

Semoga puas ya ^.^

Untuk ff yang lain, Insya Allah, semoga bisa segera di update.

Akhir kata,

Keep reading^.^

Gomawo

.

.

RyeoTa Hasu