BLIND DATE?
by RyeoTa Hasu
(Original Story by AliaZalea)
Cast :
Lee Sung Min (28 y.o)
Cho Kyu Hyun (35 y.o)
Lee Hyuk Jae aka Eunhyuk (25 y.o) as Sungmin's younger brother
Park Jung Soo aka Leeteuk (26 y.o) Sungmin's Blind Date Agent
Kim Jung Mo (32 y.o) as Sungmin ex. Boyfriend
.
.
Disclaimer :
This original story is from Blind Date Novelby AliaZalea
Hasu hanya me-remake-nya dengan Kyumin sebagai Main Cast dengan beberapa perubahan dan penyesuaian
Kyumin dan Cast lainnya milik Tuhan YME, Orang tua dan Agensi
Hasu hanya meminjam namanya untuk kepentingan cerita
.
.
Rate :
T
.
.
Warning :
Boy's Love / YAOI, OOC, MPREG, Typo menjamur
.
a.n :
Jeongmal mianhamnida untuk very late updatenya.
Ada koreksi, ada koreksi.
Ryeowook muncul dua kali, pertama sebagai temen kerja Sungmin di chap sebelumnya, yang kedua di chap kemaren sebagai kakak Kyuhyun. Itu bukan lupa tapi sengaja ^.^
Hasu pengen aja suami Hasu aka Ryeowook muncul lagi di sini meski cuma cameo, hehe.. gpp kan? Tapi peran dan umur mereka beda kok. #peace
Trus, buat umur Yoona and Changmin, iya Hasu ngaku itu salah. Harusnya umur mereka 32 tahun. Lupa di edit hehe...
Ini adalah chapter terpanjang dari semua chapter yg ada di ff Hasu. Sengaja di bagi dua chapter biar kalian ga bingung bacanya. Ya, ff ini kan udah ga update dua minggu kan? Anggap aja setoran dua minggu ^.^
Jadi, siapin kopi n cemilan biar ga bosen ya, hehe
Dan informasi juga untuk ff "Too Far Series" mudah2an bisa di update dalam beberapa hari lagi soalnya belum rapi sama sekali, kerjaan kantor banyak banget seminggu ini full ngurusin kantor soalnya mo audit keuangan besar2an, jadi ga sempet ngedit ff sama sekali. #curcol %(
Buat yang minta Hasu untuk update ff on time seminggu sekali, jeongmal mianhae untuk saat ini ga bisa dulu karena urusan kerjaan yang sangat banyak, Hasu kan bukan pengangguran dan kerjaan kan juga penting buat masa depan Hasu, jadi Hasu dahulukan ya. ^.^
Tapi Hasu akan disempetin sebisanya, yang jelas ga bisa dipastikan harinya akan sama dan teratur, jadi mohon pengertiannya. #BOW
Yang jelas, Hasu ga akan hiatus dulu kok, hutang ff masih banyak soalnya, hehe
Terakhir, jeongmal gomawo juga untuk doa-doa dan saran dari kalian semua. Ya, semoga Hasu ga sakit lagi, dan ga ada halangan lagi, amin...
Oke itu, aja pengumuman dari Hasu, dibaca boleh, ga dibaca ya gpp. ^.^
.
.
DON'T LIKE? DON'T READ!
MAKE IT SIMPLE
HAPPY READING ^.^
.
.
Chapter 5
o.o.o.o.o.o.o.
.
.
(Sungmin POV)
.
Eunhyukkie telah kembali ke Washington D.C. untuk melanjutkan risetnya. Aku kembali sendirian di apartemenku.
Leeteuk-ssi dan timnya di GBD, yang dulu masih cukup optimis dapat menemukan pasangan ideal untukku dalam waktu kurang dari enam bulan kini mulai terdengar khawatir karena aku belum juga menemukan satu date pun yang "HOT".
Tetapi, untungnya Leeteuk-ssi dan timnya tetap pantang menyerah.
Dan hari-hari berikutnya, aku pun sudah kembali tenggelam dengan kencan-kencan lainnya, meskipun selalu diakhiri dengan kekecewaan.
Tentu saja karena pikiranku penuh dengan satu orang yang terus menerus membuyarkan konsentrasiku.
Jika saja Kyuhyun menghubungiku... mungkin pikiranku tidak akan sekacau ini.
Sejak pertemuan terakhir kami hingga sekarang aku selalu melonjak dari kursi setiap kali mendengar ponselku berbunyi. Aku akan menatap ponselku penuh harap dan berakhir kecewa ketika mengetahui bahwa telepon itu bukan dari Kyuhyun.
HAH!
Cho Kyuhyun! Kau membuatku gila!
.
.
Aku sedang mengganti-ganti channel TV ketika kutemukan talk show yang membahas tentang Scott Peterson, suami pembunuh istri yang sedang hamil besar agar bisa menikahi selingkuhannya. Acara itu kemudian membahas tentang beberapa indikasi yang bisa kita ketahui pada orang yang selingkuh.
Bagi seseorang yang mungkin menjadi selingkuhan seorang pria tetapi tidak mengetahuinya, beberapa ciri kebiasaan pria seperti itu bisa dikenali.
Pertama, pria itu akan datang dan pergi dengan tiba-tiba.
Kedua, hidupnya terkesan misterius dan penuh rahasia.
Ketiga, pria itu biasanya yang menghubungi kita, tetapi kita tidak bisa menghubungi dia.
Entah mengapa, pikiranku langsung tertuju kepada Kyuhyun dengan sifat misteriusnya itu.
Aku bertemu dengannya secara tiba-tiba di Fresh Market ketika dia menegurku untuk menanyakan bahan salad, padahal pada saat itu ada beberapa orang yang cukup berdekatan denganku yang bisa dia tanya. Mengapa harus aku?
Lalu seperti pesulap, dia muncul sebulan kemudian ketika aku mengalami masalah dengan mobilku, dan tanpa diminta dia segera membantuku.
Kemudian, lagi-lagi seolah dia telah menguntitku alih-alih seperti kebetulan semata, Kyuhyun menolongku di pelataran parkir Embassy Suites saat berhadapan dengan Jungmo.
Dan terakhir, pertemuan kami di restoran saat tahun baru kemarin.
Kebetulan-kebetulan yang terlalu sering terjadi.
Dan semua tanda-tanda itu... sesuai dengan yang dikatakan di talk show itu.
Tapi, jika aku ini memang calon 'selingkuhannya', mengapa dia berani memperkenalkanku kepada keluarganya?
Atau jangan-jangan... mereka semua itu sebenarnya bukan keluarganya?
Oh, my God!
Apakah Cho Kyuhyun itu sebenarnya seorang penjahat yang buron dan sedang dikejar polisi?
Atau seorang suami yang sedang mencari selingkuhan pria karena menyadari dia seorang 'bi'?
UGH!
Ok. Sepertinya aku terlalu berlebihan.
Ini tidak baik.
Aku harus mencari suasana baru untuk menjernihkan pikiranku.
.
.
Blind Date
.
.
Aku harus bersiap-siap untuk kencan selanjutnya dengan Marcus Cho, seorang computer programmer berusia 35 tahun dengan tinggi 180 sentimeter.
Cho...
Ugh... entah mengapa aku jadi trauma mendengar nama itu.
Ketika mendengar deskripsi tentang date-ku itu dari Leeteuk-ssi, sejujurnya aku merasa agak ragu.
Sebagai seorang computer programmer, dalam bayanganku pria itu akan terlihat seperti kutu buku dengan tubuh yang tinggi nan kurus, kulit yang pucat karena kurang terkena sinar matahari serta memakai kacamata berlensa tebal.
Ugh! Sangat jauh dari deskripsi pria idealku.
Tapi, pada akhirnya aku setuju untuk melakukan kencan ini karena Leeteuk-ssi mengatakan bahwa pria ini sangat mendekati pria idealku. Bahkan Leeteuk-ssi sangat antusias membujukku untuk menyetujui kencan ini, sedikit memaksa lebih tepatnya.
Yah... kurasa tidak buruk juga untuk mencoba.
Mungkin ini kesempatanku untuk membuang bayangan Cho Kyuhyun dari pikiranku dan mencari figur pria 'Cho' yang baru dalam hidupku.
Mungkin saja dugaan Leeteuk-ssi benar. Yah, dia kan sudah ahli dalam hal ini.
.
.
Aku memasuki pelataran parkir sebuah restoran Perancis, tempat pertemuan kami, tepat pukul 12.45.
Hari ini aku hanya bekerja setengah hari karena aku sudah bekerja overtime dari hari Senin sampai Kamis lalu. Jadi, aku bisa pulang terlebih dahulu ke apartemen untuk berganti pakaian yang sedikit lebih baik selain seragam kerjaku untuk kencan hari ini.
Aku memilih memakai kemeja soft pink dengan celana bahan berwarna putih. Agar tidak terlalu terlihat feminin, aku menambahkan dasi berwarna putih yang ku ikat longgar untuk memberikan kesan santai namun tetap rapi. Aku juga membawa mantel berwarna cream karena udara diluar sangat dingin.
Mr. Marcus Cho itu setuju untuk bertemu di Winston, hal yang sangat aku syukuri karena aku tidak akan berani mengemudikan mobil ke luar kota dengan salju setebal ini. Saat ini musim dingin ini memang sedang mencapai puncaknya dan salju sangat tebal di jalanan. Jadi aku harus ekstra hati-hati mengemudikan mobilku agar tidak tergelincir.
Setelah mengenakan mantel dan memastikan bahwa penampilanku masih sempurna seperti ketika aku meninggalkan rumah, aku pun keluar dari mobil.
Aku terpaksa mengenakan kacamata karena ada iritasi di mata kananku. Mengikuti saran dokter, aku akan mengenakan kacamata selama satu minggu sampai iritasi di mataku reda. Biasanya aku selalu mengenakan lensa kontak setiap kali keluar rumah selama beberapa tahun terakhir ini, itulah yang menjadi penyebab mengapa mataku iritasi sekarang.
Sebenarnya, aku merasa sedikit tidak nyaman ketika harus mengenakan kacamataku kembali.
Salah satu alasan mengapa aku tidak pernah mengenakan kacamata ketika keluar rumah adalah karena menurut Jungmo aku terlihat seperti kutu buku, itu bukan penampilan yang ingin aku perlihatkan sebagai seorang financial analyst yang sukses.
Jika aku mau, sebenarnya aku bisa saja tidak mengenakan kacamata, tetapi semuanya akan terlihat kabur. Dan aku ingin melihat wajah teman kencanku secara jelas agar tidak terjadi salah paham nantinya. Satu-satunya yang terbaik adalah mengenakan kacamata.
Dengan langkah sedikit canggung aku memasuki restoran dan langsung disambut Maitre d' restoran, yang berbicara dalam bahasa Perancis. Aku langsung memberitahu siapa diriku kepadanya dalam bahasa Inggris.
Untungnya Maitre d' itu mengerti bahwa aku tidak bisa berbahasa Perancis sehingga dia langsung meresponku dengan bahasa Inggris.
"Oh, great... you're here. Your date is already here," ucapnya antusias. Dia mengulurkan tangan untuk mengambil mantelku yang ku lepaskan kemudian menggantungkannya di gantungan mantel yang tersedia di dekat pintu masuk.
Aku langsung melirik jam tanganku untuk memastikan aku tidak terlambat.
Jam tanganku menunjukkan pukul 12.55.
Mmmhhh... kelihatannya date-ku ini tipe yang memilih lebih baik datang lebih awal daripada terlambat.
"This way please," ucap Maitre d' itu sambil mengantarkanku melewati beberapa meja yang sudah terisi.
Kami berjalan menuju meja yang terletak di samping jendela, di mana seorang pria berambut dark brown sedang duduk menyandar pada kursi. Tubuh kekarnya yang berkemeja biru muda terlihat santai. Aku sampai di meja yang sudah dipesan.
Maitre d' itu menyapa date-ku, yang duduk membelakangiku dalam bahasa Prancis. Aku agak terkejut ketika mendengar suara date-ku, yang membalas sapaan itu dalam bahasa Perancis yang fasih.
Suaranya... seperti pria itu...
Dan ketika dia berdiri kemudian membalikkan tubuhnya, seketika aku seperti terkena serangan jantung.
"Annyeong, Sungminnie," ucapnya pria sambil tersenyum sangat manis.
"Cho... Kyuhyun?!" seruku tak percaya.
Ini sungguhan?!
"Oh... both of you know each other?" tanya Maitre d' itu yang kini sedang menatap kami
berdua dengan mata melebar.
Kemudian kudengar Kyuhyun menjawab Maitre d' itu dengan bahasa Perancis lagi sambil melirik ke arahku lengkap dengan smirk yang tersungging di wajahnya.
Maitre d' itu tertawa dan mengangguk, kemudian meninggalkan meja kami dengan penuh senyum.
Kyuhyun kemudian menarik kursi yang ada di seberang kursinya dan mempersilakanku duduk di situ. Aku hanya menuruti kemauannya karena masih terlalu terkejut menyadari date-ku adalah dia, Cho Kyuhyun.
Disisi lain, aku juga sedikit kesal karena aku tahu dia dan Maitre d' itu baru saja membicarakan diriku, tetapi aku tidak bisa memahaminya karena tidak mengerti bahasa Perancis.
Kyuhyun kembali duduk ditempatnya. Dia menatapku sambil tersenyum.
"Tenangkan dulu dirimu, Lee Sungmin, tarik nafas yang dalam," ucapnya, masih dengan senyum manisnya.
Aku menarik napas dan merasakan otakku mulai berfungsi kembali dengan bantuan oksigen.
Tapi sepertinya, aku belum bisa menjernihkan pikiranku. Semua ini terlalu tiba-tiba dan seolah disengaja.
Cho Kyuhyun, teman kencanku? Hanya kebetulan atau... memang ini disengaja?
"Permainan apa yang sedang kau mainkan, Cho Kyuhyun-ssi?" desisku sambil menatapnya tajam.
Wajahnya tetap tenang, tidak terintimidasi oleh tatapanku.
"Permainan apa? Apa maksudmu, Sungmin-ssi?" tanyanya tenang.
"Siapa kau sebenarnya? Bagaimana kau bisa ada disini? Bagaimana kau tahu aku akan ada disini? Bagaimana kau tahu aku menjadi klien GBD? Apa kau memata-mataiku? Apa kau seorang stalker? Apa sebenarnya maumu?" tanyaku beruntun.
Kyuhyun menatapku aneh, seolah aku baru saja mengatakan ada alien yang jatuh ke bumi.
Namun, alih-alih menjawab pertanyaanku, Kyuhyun justru tertawa. Tertawa terbahak-bahak seolah aku sedang melontarkan lelucon padanya.
Melihatnya tertawa aku sudah siap melemparkan buku menu yang tadi ditinggalkan Maitre d' di meja ke wajahnya.
Bagaimana mungkin dia menganggap semua pertanyaanku sebagai lelucon yang patut ditertawakan?
Aku tidak pernah seserius ini dalam hidupku, dan aku tidak pernah semarah ini kepada siapapun dibandingkan kemarahanku kepada pria dihadapanku ini.
Bahkan kemarahanku pada Jungmo tidak ada apa-apanya dibandingkan ini.
Apa dia sungguh menganggap aku ini mainannya yang menghiburnya?
Dan aku semakin merasa tidak nyaman karena beberapa orang mulai menatap kearah kami dengan tatapan penasaran.
Karena Kyuhyun tidak juga berhenti tertawa, akhirnya aku terpaksa menegurnya, "apanya yang lucu?!" sambil menatapnya tajam.
"Kau, Sungmin-ssi," jawab Kyuhyun sambil terkekeh.
Ku hadiahi dia dengan tatapan tajam terbaikku. Dan kekehannya berhenti, namun dia tak berhenti tersenyum sembari menatapku dalam, membuatku risih dan bingung.
Apa sebenarnya maunya?!
Seorang waiter datang dan menanyakan pesanan kami dalam bahasa Perancis, tetapi aku memintanya kembali saja beberapa menit lagi.
Dalam hati aku mengingatkan diriku untuk tidak lupa berpesan kepada Leeteuk-ssi agar tidak lagi mengatur kencanku di restoran ini. Aku merasa seperti orang bodoh karena semua waiter disini berbicara dalam bahasa Perancis yang sama sekali tidak aku pahami.
"Mengapa kau mengira aku sebagai stalkermu, Sungmin-ssi?" tanyanya akhirnya, masih dengan senyum, ani, tapi smirk mengagumkan yang kini tersungging indah di wajah tampannya.
Oke, fokus Sungmin!
"Karena kau penuh dengan rahasia, Cho Kyuhyun-ssi" jawabku tanpa berpikir lagi.
"Aku tidak memiliki rahasia," jawabnya dengan tenang, dan dari tatapan matanya menunjukkan jika dia memang mengatakan yang sebenarnya.
Ck, tapi aku masih belum percaya padanya. Dia terlalu mencurigakan.
Waiter yang tadi, yang bernama Pierre, kembali lagi untuk menanyakan pesanan kami. Aku langsung menunjuk beberapa tulisan berbahasa Perancis yang ada di menu, tanpa tahu apa yang aku tunjuk. Semoga saja bukan makanan yang aneh.
Seperti pada Maitre d' tadi, Kyuhyun juga berbicara dalam bahasa Perancis dengan Pierre. Mereka kelihatannya sedang berdiskusi mengenai semua menu yang tersedia di restoran ini.
Kemudian Pierre terlihat seperti menanyakan sesuatu kepada Kyuhyun sambil mengarahkan tatapannya padaku selama beberapa detik. Kyuhyun ikut melirikku, lalu tersenyum kepada Pierre sambil menggeleng. Setelah itu, mereka berdua tertawa.
Aku sudah siap mencekik mereka berdua karena, meskipun aku tak mengerti apa yang mereka katakan, tapi dari cara mereka menatapku, mereka pasti tengah membicarakanku.
Oke, Cho Kyuhyun, ternyata ini sifat aslimu, hah!
Kemudian Kyuhyun terlihat menunjuk salah satu makanan yang ada di buku menu, setelah itu tersenyum kepada Pierre lagi.
Pierre mengulangi pesanan kami, kemudian berlalu sambil tersenyum.
Mungkin ini hanya imajinasiku saja, tetapi sepertinya ada sesuatu yang aneh di balik senyuman itu, dan aku yakin akulah penyebabnya.
"Mengapa dia menatapku seperti itu? Apa yang sebenarnya kau bicarakan dengannya?" desisku sambil menatapnya galak.
Kyuhyun hanya menggeleng sambil tetap tersenyum. "Bukan masalah besar," jawabnya diakhiri seringai jahil.
Oke, ada yang dirahasiakannya dariku.
Lihat, akan ku bongkar semuanya, Cho Kyuhyun!
"Jadi? Kau belum menjawab semua pertanyaanku, Cho Kyuhyun." Aku mengingatkannya pada rentetan pertanyaan yang ku ajukan di awal tadi.
"Pertanyaan?" ulang Kyuhyun sambil menatapku sedikit bingung.
"AH! Jadi tadi kau bertanya? Ku pikir kau sedang menyanyi rap tadi," ujarnya dengan nada tenang seolah sedang mengatakan diluar cuacanya cerah, padahal jelas-jelas salju tengah turun membuat udara menjadi semakin dingin.
Aku mengertakan gigiku menahan geram. Pria satu ini...
Untuk saja dia tampan dan aku menyukainya, jika tidak...
Oke, fokus Sungmin, fokus.
"Aku serius, Cho Kyuhyun-ssi!" seruku dengan nada menahan kesal. Dan semakin kesal karena Kyuhyun justru bersikap santai seolah tak bersalah.
Aku menatap Kyuhyun dengan pandangan kesal yang akhirnya membuat Kyuhyun menyerah.
"Arraseo, arraseo. Silahkan ulangi interogasimu, dan perlahan saja Sungmin-ssi. Aku akan menjawab SEMUANYA dengan baik" ujar Kyuhyun sambil tersenyum manis.
Dah, yah... senyum itu sukses mengurangi 'sedikit' rasa kesal yang aku rasakan. Hanya sedikit ya, karena dia masih memiliki hutang penjelasan padaku.
"EHEM," aku berdeham untuk mengumpulkan keberanianku. "Jadi, apakah namamu memang Cho Kyuhyun?" tanyaku dengan tatapan tajam penuh curiga.
"Ya, namaku Cho Kyuhyun."
Aku masih menatapnya dengan padangan curiga, antara percaya dan tidak percaya.
Melihat cara pandangku, Kyuhyun mengeluarkan dompetnya kemudian menunjukkan kartu identitasnya padaku sambil berkata, "lihat? Cho Kyuhyun. Namaku di Amerika adalah Marcus Cho. Aku asli berwarganegara Korea dan telah menetap cukup lama disini bersama keluargaku."
Aku memperhatikan nama dan foto yang ada di kartu identitasnya.
Cukup valid. Kartu itu asli.
Ok, dia tidak berbohong soal namanya.
"Ok, aku percaya," jawabku akhirnya.
Dia tersenyum mendengar responku.
"Oh, tapi ini belum selesai, Cho Kyuhyun-ssi," ujarku langsung.
"Tentu, lanjutkan pertanyaanmu, Sungmin-ssi," ucapnya santai dengan gestur mempersilahkan.
"Lalu, mengenai mereka... ehm... yang saat tahun baru lalu kau kenalkan sebagai keluargamu..."
"Mereka memang keluargaku, Sungmin-ssi," potong Kyuhyun.
Aku menatapnya sungguh-sungguh, menunggu penjelasannya.
"Mereka sungguh keluargaku yang sebenarnya, tidak ada penipuan. Bumonimku asli, Ryeowook hyung juga hyung kandungku, Jongin anak kandungnya, dan si kembar juga adikku yang benar-benar asli. Semua yang terjadi hari itu sungguhan, Sungmin-ssi," jelas Kyuhyun sambil tersenyum meyakinkan. Dengan sikapnya yang masih tenang dan selalu keren.
"Oh, baiklah," responku singkat. Jadi aku memang bertemu keluarganya.
Jika dia memang berniat jahat, tidak mungkin dia memperkenalkan keluarga besarnya itu secara lengkap dan terbuka. Aku masih ingat betapa ramah dan hangatnya keluarga Kyuhyun padaku dan Eunhyukkie.
Aku meraih gelas berisi air mineral yang disediakan dimeja lalu menenggaknya hingga habis untuk menenangkan diriku.
Kyuhyun tidak berkomentar apapun. Dia hanya memanggil Pierre dan memintanya mengisi gelasku yang telah kosong.
"Ada lagi Sungmin-ssi?" tanyanya setelah dia merasa aku telah tenang.
"Apa sebenarnya tujuanmu menemui ku disini? Tunggu, aku belum selesai," potongku saat ku lihat dia akan menyela. "Apa kau sungguh-sungguh klien GBD? Sejak kapan? Dan... apa kau sudah mengetahui jika teman kencanmu hari ini adalah... aku?" lanjutku.
Ok, bola sudah dilempar...
Ku harap dia menjawab semuanya dengan kejujuran.
Kyuhyun menatapku dengan tatapan tajamnya yang selalu menghanyutkanku, tatapan yang seolah memintaku untuk percaya dengannya.
"Baiklah Sungmin-ssi, aku akan mengatakan yang sejujurnya padamu," dia sengaja menjeda ucapannya untuk melihat reaksiku.
Aku memberinya isyarat untuk melanjutkan ucapannya.
"Aku baru bergabung dengan GBD dua minggu yang lalu. Dan alasanku bergabung dengan agensi ini adalah..." dia menatapku tepat di pupil mataku, memaku pandanganku. "Dirimu Sungmin-ssi. Aku sengaja menjadi klien GBD untuk mendekatimu."
APA?!
Aku menatapnya kaget.
Apa dia serius?!
"Ya, aku telah menyelidiki semua tentangmu, Sungmin-ssi. Pekerjaanmu, tempat tinggalmu, keluargamu, bahkan keanggotaanmu di GBD," lanjutnya, yang membuatku semakin membelalak terkejut.
Dia menyelidikiku? Seorang Cho Kyuhyun menyelidikiku?
Kenapa?
"Aku tertarik padamu, Sungmin-ssi. Sangat," ujarnya seolah menjawab pertanyaan yang ku gumamkan dalam hatiku.
"Sejak pertemuan pertama kita, aku menyadari bahwa aku tertarik padamu. Dan aku pun langsung menyelidikimu."
Dia melanjutkan ceritanya. Mengungkap kebenaran demi kebenaran yang selama ini disembunyikannya dariku.
Pertemuan pertama? Maksudnya di fresh market waktu itu?
.
(Sungmin POV END)
.
.
(HASU POV)
.
"Pertemuan pertama?" ulang Sungmin sambil menatap Kyuhyun menuntut penjelasan lebih lanjut.
"Ya, sejak pertemuan pertama kita. Aku langsung berusaha mencari tahu siapa dirimu dengan menggunakan semua koneksi yang ku miliki. Dan akhirnya aku menemukan dan mengetahui semuanya tentangmu," jawab Kyuhyun dengan nada sangat tenang.
Kyuhyun memang berniat sejak awal untuk mengatakan yang sejujurnya pada Sungmin hari ini, tentang semua yang disembunyikannya terkait Sungmin dan dirinya.
"Tapi, setelah mengetahui semuanya, aku berusaha untuk menahan diriku. Aku memilih untuk menunggu, menunggu saat yang tepat untuk mendekatimu. Selain itu, aku juga ingin meyakinkan diriku sendiri akan perasaanku padamu."
Kyuhyun menjeda sejenak untuk melihat reaksi Sungmin.
Sungmin hanya terduduk diam, mendengarkan semua penjelasannya dengan tenang, kelewat tenang.
Padahal tadinya, Kyuhyun berfikir Sungmin akan langsung mendampratnya begitu mengetahui jika Kyuhyun telah menyelidiki tentang dirinya, secara tidak langsung menjadi stalker Sungmin sejak pertemuan pertama mereka.
Jika Kyuhyun yang berada di posisi Sungmin, Kyuhyun pasti akan langsung mengamuk dan memaki-maki orang yang menempati posisinya sekarang.
Sejujurnya, ketenangan Sungmin sedikit membuat Kyuhyun khawatir jika setelah Sungmin mengetahui semuanya, Sungmin akan menjauhinya.
Dan tentu Kyuhyun tak akan membiarkan semua itu terjadi.
"Lalu, pada akhirnya aku mengambil keputusan... aku akan mendekatimu secara perlahan. Karena aku telah mengetahui jika kau menjadi klien dari GBD, aku berusaha keras menahan diriku. Kebetulan saja aku memiliki kenalan di GBD, dia memberikanku beberapa informasi mengenai dirimu dan semua itu sangat membantuku untuk bisa mengenalmu lebih jauh. Dan jujur saja, aku sangat lega saat mendengar bahwa kau tidak pernah mengadakan pertemuan kedua pada semua pria yang pernah di pasangkan oleh GBD padamu. Well, kecuali untuk pria bernama Kim Jonghoon alias Yesung yang seorang Composer itu."
Sungmin masih terdiam, tidak yakin bagaimana harus bereaksi terhadap semua kebenaran yang telah Kyuhyun beritahukan tadi.
Seorang pria tampan, yang selama beberapa bulan ini sukses membuat hari-hari Sungmin menjadi tidak tenang karena terpesona pada pria itu, mengatakan jika pria itu sangat tertarik pada Sungmin dan bahkan mencari tahu semua hal tentang dirinya. Lalu pria itu juga merencanakan untuk mendekati dirinya dalam rangka untuk mengenal dirinya lebih jauh.
Itu berarti...
Mereka sama-sama tertarik satu sama lain kan?
"Oke, aku mengerti. Jadi, semua pertemuan kita selama ini? Apa itu sengaja atau..." Sungmin sengaja memotong ucapannya sebagai isyarat bagi Kyuhyun untuk melanjutkan penjelasannya.
"Pertemuan kita saat di jalan tol itu, sebenarnya aku mengikutimu saat mendengar kau akan mengadakan pertemuan kedua dengan si 'composer' itu. Dan sepertinya Tuhan berpihak padaku, ban mobilmu kempes, dan itu memberiku kesempatan untuk bisa muncul lagi di hadapanmu. Tuhan telah memberikan jalan untukku."
'Jadi itu bukan kebetulan?!' batin Sungmin terkejut. 'Pantas saja, terlalu aneh untuk disebut kebetulan bisa bertemu di jalan tol yang sangat sibuk itu, dan jarang sekali ada yang sudi memberikan pertolongan pada orang asing disana. Ternyata Kyuhyun memang ada disana untuk mengikutiku!'
Entah mengapa, hati Sungmin merasa hangat mendengar kenyataan itu. Kyuhyun sangat peduli padanya. Itulah mengapa Kyuhyun seolah selalu ada saat dia membutuhkan bantuan, seperti pahlawan bagi Sungmin.
Kyuhyun memperhatikan raut wajah Sungmin yang perlahan berubah. Pertanda dia tidak marah pada Kyuhyun. Atau setidaknya tidak akan mengamuk untuk saat ini.
"Ehm. Lalu, untuk pertemuan di hotel itu... sebenarnya itu kebetulan. Aku tidak menyangka jika kita akan bertemu disana. Terlebih pada kondisi dimana kau kembali akan dipermalukan oleh mantanmu yang brengsek itu jika saja aku tidak muncul dan menolongmu."
Sungmin dapat melihat raut wajah Kyuhyun yang berubah geram menahan emosi. Dan lagi-lagi Sungmin entah mengapa merasa senang karena reaksi Kyuhyun itu seolah dia merasa kesal hingga begitu membenci Jungmo yang telah menyakiti Sungmin, meskipun Kyuhyun bukanlah siapa-siapa bagi Sungmin.
Sungmin berdeham sebelum berkata, "sejujurnya juga... aku sangat bersyukur karena kau ada disana dan menolongku, Kyuhyun-ssi. Bahkan kau mengorbankan wajah dan tubuhmu hingga terluka demi membela diriku, aku merasa bersalah padamu, Kyuhyun-ssi," dengan nada prihatin dan sedih.
Kyuhyun menggelengkan kepala memprotes Sungmin.
"Kau tidak perlu merasa bersalah. Itu memang kewajibanku untuk membelamu. Seharusnya aku tahu dari awal jika kau akan berada disana dan bertemu dengan pria brengsek itu," Kyuhyun menahan kepalan tinjunya di atas meja, yang tak luput dari pandangan Sungmin. "Mungkin aku bisa mencegah dia mengganggumu."
Sungmin buru-buru mengelak.
"Itu coincidence, Kyuhyun-ssi. Aku juga tidak tahu jika dia ada disana. Aku juga terkejut dan jujur saja aku sedikit panik. Tapi berkat kehadiranmu... aku bisa tenang."
Sungmin menundukkan wajahnya untuk menyembunyikan wajahnya yang merona.
Namun terlambat karena sejak tadi Kyuhyun tak sekalipun mengalihkan pandangannya dari Sungmin sehingga dia menyadari rona merah itu.
Kyuhyun menyunggingkan smirknya.
Pada saat itu pesanan mereka tiba, menyelamatkan Sungmin dari situasi canggung yang tiba-tiba terjadi.
Namun tak lama Sungmin langsung menatap pesanannya dengan mata melebar karena terkejut.
Karena tadi terlalu kesal Sungmin hanya asal tunjuk saja di buku menu, suatu hal yang sangat dia sesali sekarang.
Makanan yang ada di hadapannya tampilannya seperti makanan yang sepatutnya tidak dimakan manusia.
Yuck...
' ini?! Apa ini makanan?!' batin Sungmin panik dan bingung. Dia tak mungkin memakan makanan yang tak jelas apa jenisnya itu. Mendadak dia kehilangan selera makannya. Lebih baik Sungmin kelaparan daripada harus memakan makanan antah berantah yang mungkin sebenarnya lebih cocok untuk makanan kucing piaran tetangga apartemennya.
Kyuhyun menahan tawanya melihat Sungmin yang memandang makanan di hadapan pria imut itu seolah melihat alien dihidangkan di mejanya sebagai makanan. Dia hanya tersenyum penuh arti.
Dengan luwesnya Kyuhyun bergerak menukar piring yang ada di hadapan Sungmin dengan piringnya yang berisi potongan daging steak berlumur saus. Aromanya langsung mengembalikan selera makan Sungmin.
"Eh... eh...?" Sungmin menatap Kyuhyun bingung dan memegang piring pesanannya yang sudah setengah terangkat oleh tangan kiri Kyuhyun.
"Kau memesan makanan yang salah. Percayalah kau tidak akan sanggup menelan makanan ini," jelas Kyuhyun sambil menunjuk pesanan Sungmin dengan gerakan kepalanya karena kedua tangannya sedang memegangi piring.
Sungmin membenarkan dalam hati.
Dia pun akhirnya melepaskan genggamannya pada piring dan membiarkan Kyuhyun menukarnya dengan hidangan yang sebenarnya di pesan Kyuhyun.
"Memangnya itu apa?" tanya Sungmin sambil menunjuk pada makanan pesanannya yang kini berada di hadapan Kyuhyun.
"Ini tĂȘte de veau vinaigrette," jawab Kyuhyun pendek.
Sungmin menatap Kyuhyun tajam, isyarat agar Kyuhyun menjelaskannya dalam bahasa Inggris.
Dalam hati Sungmin mulai menyesal karena tidak pernah belajar bahasa Perancis ketika kuliah.
"TĂȘte de veau artinya kepala anak sapi, tapi bisa juga diterjemahkan otak sapi. Jadi, ini adalah olahan dari otak sapi," jelas Kyuhyun dengan tenang dan santai seolah memberitahu itu adalah makanan biasa yang layak makan.
Sungmin melongo.
'Otak... sapi?!' batinnya shock. 'Aku telah memesan otak sapi dan nyaris memakan itu?! OH GOD!'
Kyuhyun tersenyum tipis, merasa terhibur dengan reaksi Sungmin.
"Sudahlah, makanlah steakmu itu. Setidaknya kau menyukai steak kan?" ucap Kyuhyun menyadarkan Sungmin dari shocknya sambil menunjuk lamb steak yang ada di hadapan Sungmin dengan garpu.
Sungmin memperhatikan bagaimana Kyuhyun dengan cueknya memasukkan sesuap 'makanan dari otak sapi' yang ada di hadapan pria itu ke dalam mulutnya. Dia tidak terlihat ada masalah dengan makanan itu sama sekali.
Sungmin mengalihkan pandangannya sebelum selera makannya hilang.
Oke, Kyuhyun mungkin memang pria teraneh yang pernah dikenalnya karena pria itu bisa memakan otak sapi dengan santai seolah begitu menikmati makanan itu.
Euw... Sungmin lebih baik merasa mual karena lapar dari pada merasa mual karena makanan itu.
Sungmin memotong steaknya dan menyuapnya dengan sedikit ragu. Tapi kemudian ekspresinya berubah.
'ENAK!'
Sejujurnya, ini adalah steak daging kambing terenak yang pernah Sungmin makan. Dia tidak menyesal telah bertukar makanan dengan Kyuhyun.
"Bagaimana rasanya?" tanya Kyuhyun membuka percakapan. Dia kembali menyuap makanan ajaibnya.
Sungmin menelan makanan yang ada di dalam mulutnya sebelum kemudian menjawab.
"Enak juga."
"Syukurlah," respon Kyuhyun. Dia kembali menyuap makanannya dengan gaya yang anggun.
Mereka makan dalam diam.
Sungmin menghentikan makannya lalu meminum air mineralnya.
"Kau hebat ya bisa berbahasa Perancis? Pasti kau sangat pintar, Kyuhyun-ssi," ujar Sungmin kembali membuka percakapan.
Kyuhyun mengangkat bahunya. "Begitulah. setidaknya cukup untuk sekadar memahami menu restoran ini sehingga tidak salah memesan," ujarnya di akhiri smirk.
Sungmin mengangguk pelan sambil menahan kesal dalam hati. Dia tahu Kyuhyun sedang meledeknya.
"Ya, maaf karena aku tidak mengerti bahasa Perancis. Jika ini restoran Jepang mungkin aku tidak akan salah karena aku cukup menguasai bahasa Jepang. Sayangnya aku belum sempat belajar bahasa Perancis karena bahasa itu cukup sulit untukku. Maaf karena merepotkanmu," ujar Sungmin dengan nada sedikit menyesal. Dia memutuskan mengalah karena kenyataannya dia memang ceroboh dan telah merepotkan Kyuhyun.
"Tidak apa. Aku sudah biasa," jawab Kyuhyun tenang. Sungmin mendelik mendengar jawaban Kyuhyun yang seolah menuduh Sungmin selalu merepotkan Kyuhyun.
"EHM" Kyuhyun berdeham untuk mengakhiri percakapan yang sepertinya akan berakhir dengan pertengkaran jika dilanjutkan.
"Jadi, Sungmin-ssi... Seperti yang ku katakan di awal, alasanku mendaftar ke GBD dan menghadiri kencan hari ini adalah karena aku ingin meningkatkan hubungan kita. Ku harap kau tidak keberatan dengan tujuanku itu." Kyuhyun langsung mengeluarkan kartu AS yang sejak tadi sengaja di tahannya untuk dikeluarkan di akhir.
Sungmin menatap Kyuhyun antara bingung dan ragu.
"Hubungan macam apa yang kita bicarakan di sini?" tanya Sungmin hati-hati.
"Tentu saja dating, dan aku sangat serius, Lee Sungmin. Aku ingin menjalin hubungan yang lebih denganmu."
Sungmin masih menatap Kyuhyun ragu.
Dan akhirnya, Sungmin memutuskan untuk menanyakan pertanyaan yang telah ditahannya sejak tadi.
"Jika kau memang... serius ingin berhubungan denganku, mengapa kau belum juga menghubungiku? Aku sudah memberimu kartu namaku yang terdapat nomor ponselku kan? Kau juga sepertinya sudah mengetahui hampir semua tentang diriku. Jadi? Apa alasanmu?"
"Apa kau menginginkan aku untuk menghubungimu?" tanya Kyuhyun ragu dengan wajah bingung, entah sungguhan atau hanya pura-pura.
Untuk saat ini Sungmin sulit untuk mempercayai pria di hadapannya itu.
"Tentu saja! Memangnya untuk apa lagi aku memberikan nomor pribadiku padamu?!" seru Sungmin.
Dan tiba-tiba Sungmin membelalak kaget.
Dia kelepasan mengungkapkan apa yang dipikirkannya!
Sungmin tidak percaya telah mengatakan unek-uneknya selama ini.
Berarti, secara tidak langsung Sungmin baru saja memohon kepada Kyuhyun menghubunginya. secara tidak langsung Sungmin telah mengakui perasaannya terhadap pria dihadapannya itu.
"Ah, lupakan. Aku salah bicara!" Sungmin langsung meralatnya. Dia menundukkan wajahnya untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah sempurna.
'SUNGMIN PABBOYA!' makinya dalam hati sambil dengan kalap menyuap potongan daging yang dipotongnya besar.
"UHUK..." Sungmin hampir tersedak daging yang buru-buru dikunyahnya.
Bergegas diraihnya gelas air putihnya dan meminumnya dalam sekali teguk.
Kyuhyun berusaha keras menahan tawa yang akan meledak melihat sikap salah tingkah Sungmin.
"Ehm... kau tidak apa-apa, Sungmin-ssi?" tanyanya dengan nada khawatir.
Sungmin hanya meresponnya dengan mengangguk. Dia enggan mendongakkan kepalanya karena malu. Dia sukses bertindak bodoh berulang kali di hadapan Kyuhyun.
"Ehm, maafkan aku, Sungmin-ssi. Sebenarnya aku berpikir... kau sama sekali tidak tertarik padaku, jadi... aku menahan diriku untuk menghubungimu. Ya, kecuali satu kali saat orang tuaku memaksaku di parkiran restoran waktu itu. Aku takut kau merasa terganggu denganku," ujar Kyuhyun tulus sambil menatap Sungmin lembut dan hangat.
Sungmin menatap Kyuhyun sambil memicingkan matanya. "Kau bahkan menghubungiku dengan menggunakan private number seolah kau tidak ingin aku mengetahui nomormu. Jika kau memang tertarik padaku, kau tidak akan melakukan itu, Kyuhyun-ssi," balasnya datar. Sungmin meletakkan peralatan makannya.
Dia sudah tanggup meneruskan makannya dengan situasi yang semakin aneh ini.
Kyuhyun menatap Sungmin sambil menahan senyuman lebar yang hampir saja terkembang, wajahnya terlihat terhibur mendengar jawaban Sungmin.
"Oh, tidak. Jadi terjadi kesalahpahaman disini," ujar Kyuhyun sambil meraih salah satu tangan Sungmin yang berada dimeja dan menggenggamnya ringan.
Sungmin mendongakkan kepalanya menatap Kyuhyun.
"Salah paham?" ulang Sungmin bingung. Namun dia membiarkan Kyuhyun menggenggam tangannya, karena dia merasakan kehangatan dari genggaman tangan Kyuhyun yang lebih besar dan kekar dari tangannya.
"Ya, salah paham. Aku berfikir kau tidak tertarik padaku, sedangkan kau juga mengira aku hanya mempermainkan dirimu, kan?" tebak Kyuhyun.
Sungmin hanya mengangguk mengiyakan.
"Well, tentu saja tidak mungkin aku mempermainkan dirimu, Sungmin-ssi. Tidak mungkin kan aku berinisiatif menemuimu hari ini jika aku hanya berniat main-main denganmu? Aku serius menyukaimu, Sungmin-ssi. Aku ingin menjalin hubungan yang lebih serius denganmu."
Kyuhyun mengeratkan genggamannya pada tangan Sungmin, namun tidak sampai menyakitinya.
Sungmin mengerlingkan matanya untuk mencerna penjelasan Kyuhyun. Kemudian dia menghela napas keras sebelum berkata, "sebenarnya, aku berulang kali mencoba menghubungimu setelah tahun baru. Tetapi karena kau menggunakan private number, ya... teleponku tidak pernah bisa tersambung. Aku seperti orang gila berulang kali melakukan hal yang percuma seperti itu."
Sungmin menarik tangannya cepat dari genggaman Kyuhyun kemudian melipat kedua tangannya di depan dada sambil memalingkan wajah dari Kyuhyun. Dia sengaja memasang wajah kesal untuk membuat Kyuhyun merasa bersalah.
"Kau... mencoba menghubungiku?" Kyuhyun benar-benar terkejut. "Meskipun kau tahu itu tidak akan tersambung?" tanyanya dengan nada tak percaya.
"Hmm..." jawab Sungmin singkat.
Dia masih enggan memandang Kyuhyun untuk membuat Kyuhyun semakin merasa bersalah.
'Kau harus menyadarinya Cho Kyuhyun! Kau telah membuatku nyaris gila selama beberapa hari ini! Kau harus bertanggung jawab!' seru Sungmin dalam hati.
"Kalau begitu, aku pinjam ponselmu," ucap Kyuhyun tiba-tiba.
"Apa? Untuk apa?" Kini giliran Sungmin yang menatap Kyuhyun dengan pandangan terkejut.
"Just give it to me, please," pinta Kyuhyun.
Meskipun bingung, Sungmin menuruti permintaan Kyuhyun. Diserahkan ponselnya pada Kyuhyun, yang dengan cepat langsung melakukan sesuatu dengan ponsel itu, lalu mengembalikan ponsel itu pada Sungmin, yang menerimanya dengan bingung.
Kyuhyun beralih merogoh sakunya untuk mengambil ponselnya.
Setelah membuka kuci kemudian menekan sekali pada layarnya, Kyuhyun mendekatkan ponselnya ke telinga.
Tiba-tiba ponsel dalam genggaman Sungmin bergetar, menandakan adanya panggilan masuk. Sungmin menatap layar ponselnya, tertera nama sang pemanggil, "Kyunnie" di layar ponselnya.
'KYUNIE?'
Sungmin mengalihkan pandangannya pada Kyuhyun yang masih betah menempelkan ponselnya di telinganya.
Kyuhyun memberikan isyarat untuk Sungmin agar menjawab panggilan itu.
Meskipun tidak yakin, Sungmin memutuskan untuk menjawabnya.
Terdengarlah suara berat dari seberang telepon yang berkata, "kau sangat manis, Sungmin-ah."
Ucapan yang sama yang didengarnya berasal dari Kyuhyun yang duduk di hadapannya dan tengah tersenyum lebar padanya.
Sungmin menjauhkan ponselnya kemudian memutus panggilan itu. Kyuhyun juga menjauhkan ponselnya setelah mendengar tanda panggilan yang terputus.
Mereka saling bertatapan. Kyuhyun dengan senyum lebarnya dan Sungmin dengan wajah bingung bercampur tak percaya.
Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka, tetapi sebuah pengertian terlintas di pikiran mereka masing-masing.
Dan saat itu juga Sungmin merasakan panas dari dalam tubuhnya, seolah-olah darahnya tiba-tiba mendidih.
Sungmin tidak tahu sudah berapa lama mereka saling terdiam, sampai tiba-tiba Kyuhyun tersenyum manis sambil berkata dengan pelan. "Apa yang kau pikirkan, Lee Sungmin?"
Sungmin hanya menggeleng pelan. Masih belum tahu harus berkata apa pada Kyuhyun.
"Mmm, mengenai nama kontakku di ponselmu... kau bisa menggantinya jika kau tak suka. Aku hanya bercanda, ku harap kau tidak marah," ujar Kyuhyun masih mempertahankan senyumnya untuk menyembunyikan kegugupan yang tiba-tiba menyerangnya.
Sungmin masih tidak bereaksi apapun. Dia hanya menatap ponselnya dalam diam.
"Sejujurnya, Sungmin-ah, aku tidak pernah mencoba mendekati seseorang yang membuatku tertarik sebelumnya. Jadi... saat aku menyadari bahwa aku tertarik padamu, aku tidak yakin dengan semua yang ku lakukan padamu selama ini. Aku minta maaf jika menurutmu tindakanku selama ini salah dan membuatmu bingung, Sungmin-ah," lanjut Kyuhyun sambil menatap Sungmin penuh harap.
Sungmin mendongakkan wajahnya dan menatap Kyuhyun dalam diam, mencoba mencerna penjelasan Kyuhyun secara perlahan agar dia tidak salah paham lagi.
Dan entah mengapa Sungmin mengabaikan nada bicara informal serta panggilan akrab yang Kyuhyun lontarkan padanya, padahal belum ada kesepakatan diantara mereka untuk berbicara informal satu sama lain. Semua berjalan natural dan seolah wajar.
"Oh God. Ternyata apa yang mereka katakan memang benar." gumam Kyuhyun sambil mengacak rambutnya asal.
"Apa? Siapa?" tanya Sungmin pelan.
"Ryeowook hyung dan Changmin. Mereka memperingatkanku jika kau pasti akan tersinggung dengan semua tindakan bodoh yang ku lakukan selama ini. Oh, stupid Cho! Aku tahu kau pantas untuk marah dan memakiku, aku layak menerimanya," ujar Kyuhyun sambil menundukkan wajahnya dan meremat rambutnya kasar.
Sungmin menatap Kyuhyun dengan pandangan sendu. Dia merasa bersalah telah membuat Kyuhyun merasa bersalah karena sikap diamnya.
Sejujurnya Sungmin sama sekali tidak merasa tersinggung maupun marah pada Kyuhyun. Dia hanya... ya... bingung. Dia bingung dengan semua kenyataan yang diketahuinya hari ini. Dia bingung bagaimana harus menanggapi semua itu.
Kemudian tanpa kata Sungmin melambaikan tangannya untuk menarik perhatian Pierre.
Kyuhyun yang melihat gerakan Sungmin menatapnya bingung.
"Apa yang kau lakukan?" tanyanya.
"Aku ingin meminta bill," jawab Sungmin singkat.
"Kau akan pergi? Begitu saja?" tanya Kyuhyun tak percaya.
"Bukan aku saja, kau juga, Kyuhyun-ssi," balas Sungmin. "Kita membutuhkan tempat yang lebih privasi untuk berbicara," lanjut Sungmin sambil tersenyum tipis.
"How is everything?" tanya Pierre, yang tiba-tiba sudah berdiri di samping meja mereka. Dia terlihat bingung melihat kedua piring mereka yang masih setengah penuh.
Sungmin dan Kyuhyun tersenyum ramah kepadanya.
"It was delicious," ujar Kyuhyun singkat.
"Yes, very delicious," sambung Sungmin. "Bisa kami minta bill-nya?" pinta Sungmin lembut.
Pierre kemudian berlalu. Dia kembali beberapa menit kemudian dengan membawa dua tagihan.
Seperti restoran-restoran lainnya yang telah direkomendasi GBD, restoran ini juga tahu bahwa mereka akan membayar tagihan mereka masing-masing.
Sebelum Sungmin mengambil dompetnya, Kyuhyun mendahului Sungmin dengan mengeluarkan beberapa lembar uang dan meletakkannya di nampan bill sambil berkata, "keep the change," lalu dia berdiri.
Kyuhyun beralih ke tempat duduk Sungmin dan menarik kursinya pelan, mempersilahkan Sungmin untuk beranjak.
Tanpa berkata apapun, Sungmin beranjak dari duduknya. Setelah melempar senyum ramah pada Pierre, mereka pun melangkah beriringan keluar restoran. Berhenti sesaat di dekat pintu masuk untuk mengambil mantel mereka kemudian mengenakannya, mereka melanjutkan langkah keluar restoran.
Mereka menghentikan langkah mereka ketika sudah berada di luar restoran.
"Kita lanjutkan pembicaraan kita di apartemenku saja. Kau pasti tahu kan?" ujar Sungmin dengan nada sedikit menyindir.
"Crowne Park Apartment, lantai 3 nomor 101," jawab Kyuhyun pasti.
"Oke, kita bertemu disana," putus Sungmin kemudian melangkah menuju mobilnya.
Kyuhyun juga berjalan menuju mobilnya yang diparkir cukup jauh dari mobil Sungmin.
Mereka pun beriringan pergi meninggalkan lahan parkir restoran Perancis itu menuju apartemen Sungmin.
.
(Hasu POV END)
.
.
