Part 2
o.o.o.o.o.o.o.
.
.
(Sungmin POV)
.
Aku sampai lebih dulu di apartemenku karena aku sengaja menyetir lebih cepat dari Kyuhyun.
Setelah masuk ke dalam apartemen, aku langsung membereskan ruang TV agar terlihat sedikit lebih rapi. Sejujurnya, aku belum sempat membersihkannya setelah Eunhyukkie pergi sekitar seminggu yang lalu.
Tepat setelah aku selesai beres-beres, kudengar bel apartemenku berbunyi. Sekadar untuk berjaga-jaga, aku melihat ke interkom dan bertanya, "Who is it?"
"Your future husband," jawab Kyuhyun dari luar apartemenku, membuat pipiku langsung merona.
Pria itu...
Buru-buru kubuka pintu dan mempersilakannya masuk.
Untuk menenangkan diriku aku langsung berjalan ke dapur.
"Kau ingin minum atau makan sesuatu?" tawarku sambil membuka kulkas untuk mengambil minuman.
"Air mineral cukup," jawab Kyuhyun dari arah belakangku.
Aku hampir saja menjatuhkan botol air mineral yang sedang aku pegang karena kaget mendengar suaranya yang terdengar persis di belakang telingaku.
"YAK.. kau mengagetkanku!" omelku sambil berbalik dan mengusap-usap dadaku.
"Sorry," ucapnya sambil tersenyum tanpa dosa.
Aku menyerahkan botol air mineral yang ku pegang padanya, kemudian beralih mengambil satu lagi di kulkas untukku.
Setelah itu aku berjalan kembali menuju ruang TV. Kyuhyun mengikutiku di belakang.
Aku duduk di ujung sofa ruang TV, dan tanpa menunggu hingga dipersilakan Kyuhyun duduk di ujung satu lagi.
Aku membuka botol air mineralku kemudian meminumnya beberapa tegukan untuk membasahi tenggorokanku yang mendadak terasa kering. Pikiranku sedang menyusun daftar pertanyaan yang akan ku ajukan pada Kyuhyun.
"Apartemen yang nyaman," ujarnya membuka membuka pembicaraan setelah meminum minumannya. Dia menyamankan duduknya sembari menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa. Tubuhnya sedikit miring menghadapku, salah satu kakinya terlipat di atas sofa dengan nyaman, membuat situasi sedikit santai untuk kami.
"Ya, begitulah," jawabku singkat.
Aku berdeham untuk memberinya isyarat bahwa aku akan memulai pembicaraan yang serius kami.
Kyuhyun yang mengerti isyaratku mengarahkan pandangannya lurus kearahku sembari menatapku lembut.
"Ehm, jika aku tidak salah ingat, kau pernah bilang bahwa kau tidak tinggal di Winston, apa itu benar?"
Kyuhyun mengangguk.
"Jadi, dimana kau tinggal?" lanjutku.
"Aku memiliki rumah di Wilmington, tetapi aku jarang menempatinya. Aku lebih sering menginap di hotel."
"Hotel? Mengapa bisa begitu?" tanyaku penasaran.
"Pekerjaan. Karena urusan pekerjaan, aku terpaksa harus pergi ke berbagai tempat sehingga aku lebih sering menginap di hotel dibandingkan di rumahku sendiri," jelas Kyuhyun sambil mengangkat bahu pasrah. Dia kembali meminum minumannya.
"Bukankah kau computer programmer?"
"Ya, sebenarnya bukan hanya membuat program untuk komputer. Aku juga membuat beberapa game secara freelance jika sempat."
"Benarkah? Sepertinya kau sangat mencintai bidang pekerjaan sebagai programmer ya?" Aku mengamati penampilannya.
"Jujur saja, penampilanmu tidak terlihat seperti seorang programmer. Kebanyakan para programmer yang sering ku temui itu memakai kacamata dengan lensa tebal, berbadan sangat ramping atau malah terlalu tambun, berpenampilan kacau dan buta fashion, lalu sangat serius dan sulit untuk diajak bercanda. Tapi dirimu," aku menunjuk penampilannya, "kau tidak memakai kacamata, memiliki tubuh yang atletis dan cukup kekar, memiliki selera humor yang lumayan, dan kau juga cukup mengerti fashion," Lanjutku sambil mengangguk-angguk membenarkan ucapanku.
"Benarkah?" Kyuhyun memandangi tubuhnya, kemudian beralih menatapku, menelusuri penampilanku dari atas hingga ke bawah, membuatku risih.
"Apa?" tanyaku melihat arah pandangnya.
"Kau juga, Sungmin-ah. Kau juga tidak terlihat seperti seorang financial analyst," jawab Kyuhyun sambil mengangguk.
"Maksudnya?" Suaraku terdengar sedikit tersinggung, tetapi Kyuhyun menganggap reaksiku lucu sehingga dia tertawa.
"Kau terlalu 'hot' untuk memiliki pekerjaan yang serius seperti itu."
Hanya dengan kata-kata itu, Kyuhyun telah memadamkan semua kemarahan yang baru akan muncul ke permukaan.
"Apa?"
"Ya... kecuali dengan kacamata yang kau kenakan itu, wajahmu jadi terlihat serius dan cerdas, tipikal seseorang yang kesehariannya berurusan dengan angka dan grafik," Kyuhyun menunjuk ke kacamata yang masih ku pakai.
Otomatis aku langsung melepas kacamataku.
"Hei, mengapa dilepas? Lihat, kau kembali menjadi Lee Sungmin yang manis dan polos," ujarnya sambil tertawa kecil.
Apa? Apa maksudnya aku seperti anak kecil atau remaja begitu?
Entah itu pujian atau hinaan. Tapi jika melihat bagaimana wajahku terasa hangat dan aku yakin wajahku merona, sepertinya bagiku itu adalah pujian.
"Ehm, aku tidak memerlukannya lagi. Sekarang aku bisa melihatmu dengan cukup jelas karena jarak kita tidak jauh," jelasku acuh.
"Tapi aku suka dengan penampilanmu tadi, kau terlihat lebih seksi," ujarnya dengan smirk yang tersungging tampan di wajahnya.
Aku seolah melihat serigala yang tengah menyeringai di hadapanku. Membuatku refleks menjadi waspada seolah dia akan menerkamku kapan saja.
Oke, cukup imajinasinya Sungmin.
"Ehm, jadi... seberapa sering kau bepergian untuk urusan pekerjaan?" aku memilih mengganti topik pembicaraan.
Aku bisa melihat raut wajah Kyuhyun yang sedikit kecewa karena aku seolah tidak terpengaruh oleh godaannya itu.
Namun kemudian dia segera mengatur ekspresi wajahnya dan menjawab pertanyaanku.
"Hmm, sekitar delapan bulan dalam satu tahun aku akan berkeliling ke berbagai kota di berbagai negara bagian yang berbeda. Terkadang juga hingga keluar USA."
"Delapan bulan?!" teriakku terkejut.
Waw! Dia itu sebenarnya programmer atau sales representative?
"Bukankah kau programmer? Yang aku tahu, biasanya programmer itu hanya duduk di belakang meja sehari penuh dan... mendesain program komputer? Tapi, kau?"
"Well, itu memang yang dikerjakan computer programmer pada umumnya. Sedangkan aku berbeda," Kyuhyun memasang wajah seriusnya yang tetap terlihat keren dan tampan.
Oke, fokus.
"Tetapi aku juga melakukan penginstalan serta mengadakan training terkait program-program tersebut kepada klien-klienku," lanjut Kyuhyun.
Penjelasannya memang masuk akal. Hal ini membuatku semakin penasaran.
"Memang biasanya kau pergi kemana saja?"
"Kebanyakan klienku berada di berbagai negara bagian di US dan Kanada, tetapi kadang-kadang aku harus pergi ke Eropa atau Asia jika memang ada masalah yang serius dan harus segera ditangani."
"Mengapa kau harus merepotkan dirimu untuk bepergian sampai sejauh itu? Memangnya tidak ada ahli-ahli lain yang bisa menyelesaikan masalah-masalah Itu selain dirimu? Bagian quality control misalnya? Tugas utamamu kan membuat programnya kan?" tanyaku heran.
Memangnya di perusahannya itu dia bekerja sendirian? Bukankah perusahaan computer program itu biasanya memiliki bagian yang bertugas khusus untuk memastikan produknya berfungsi dengan sempurna? Mengapa programmer-nya harus turun tangan sendiri mengurus program ciptaannya?
"Karena aku merasa bertanggung jawab atas pengoperasian semua program ciptaanku, baik computer program maupun software game yang ku ciptakan. Sekalian aku juga bisa melakukan evaluasi, mungkin saja ada yang tidak sesuai atau kecacatan pada programku itu."
Aku mengangguk. Cho Kyuhyun ternyata adalah tipe yang sangat totalitas pada pekerjaannya.
Tipe yang masuk dalam kriteria idealku.
Oke, ku akui dia adalah tipeku.
"By the way... Program apa saja yang telah kau ciptakan?" tanyaku lagi dengan nada penasaran.
"Beberapa program standar, seperti program yang biasanya digunakan dalam dunia finansial, lalu program pendataan untuk kantor pemerintahan, program pendataan karyawan perusahaan, juga beberapa software game petualangan dan fantasi."
Kyuhyun lalu menyebutkan salah satu software yang paling banyak digunakan oleh sebagian besar perusahaan perbankan dan bagian finansial perusahaan di seluruh dunia. Rogram yang juga digunakan di kantorku.
"Jadi kau yang mendesain software itu?!" teriakku terkejut. "Kantorku juga menggunakan program itu!" seruku.
Kyuhyun menyunggingkan smirk mengagumkannya yang selalu membuatku tak berkutik saat melihatnya. "Apa kau menyukai software ciptaanku itu?"
"Tentu saja! I love it. Sangat mudah mengoperasikannya dan sangat membantu pekerjaanku," jawabku dengan antusias dan nada penuh kekaguman yang tidak dapat kusembunyikan.
"Lalu bagaimana dengan orang yang menciptakannya?" tanyanya.
"Apa?" tanyaku bingung.
"Apa kau juga menyukai programmer yang membuat program itu?" tanyanya sambil menyeringai jahil.
Oh, shit! Dia mencoba menggodaku rupanya.
Sorry ya, kali ini aku tidak akan terjebak dengan mudah!
"Hm, by the way, apa sebenarnya alasanmu menjadi klien GBD?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.
Aku mendengarnya berdecih kesal. Hehehe... kali ini kita ikuti aturan mainku, Cho Kyuhyun.
"You're seriously asking me that question? Bukankah sudah ku jelaskan direstoran tadi?"
"Aku hanya memastikan kau berkata jujur. Jika seseorang berbohong, biasanya dia tidak akan mengatakan hal yang sama dua kali. Lagipula..."
Kyuhyun mengangkat alisnya, menunggu lanjutan perkataanku.
"Kau memiliki pekerjaan yang mapan dan penghasilan yang lumayan besar, kau memiliki rumah sendiri, kau memiliki keluarga yang sangat hangat dan memperhatikanmu, dan yang terpenting... kau hot," aku menarik nafas sebelum melanjutkan, "kau bisa mendapatkan pasangan yang lebih baik dan sesuai untukmu dibandingkan," aku menunjuk diriku, "pria biasa yang tidak ada apa-apanya sepertiku ini."
"Apa menurutmu begitu?" Kyuhyun terlihat sangat terkejut mendengar pernyataanku. Dia menatapku tajam seolah aku telah menyinggung perasaanya.
Tapi yang ku katakan itu kenyataan kan?
Tanpa kuduga tiba-tiba Kyuhyun menggeser duduknya ke arahku kemudian menarikku ke pelukannya. Setelah itu, ia menyandarkan tubuhnya ke sofa sambil masih memelukku.
Aku sempat terkejut dengan tindakannya, tetapi aku lebih terkejut lagi dengan reaksiku yang menerimanya dengan sepenuh hati.
Aku bisa mencium aroma tubuhnya yang maskulin. Kulitnya terasa hangat di bawah pipiku.
Aku menarik napas dalam-dalam mencoba mengingat hal-hal yang ada di sekelilingku pada detik ini dan menyimpannya di dalam memoriku agar bisa mengingatnya kembali di kemudian hari.
"Kau jangan pernah lagi merendahkan dirimu sendiri, Sungmin-ah," suara dalam Kyuhyun begitu dekat denganku. Dadanya terasa bergetar saat dia berbicara.
"Kau itu sempurna. Bagiku, kau adalah pria paling cantik, manis dan paling menarik yang pernah ku temui dalam hidupku. Aku belum pernah tertarik pada orang yang baru ku temui satu kali, tapi dirimu," Kyuhyun mendongakkan wajahku hingga kami saling bertatapan, "di hari pertama kita bertemu, aku langsung tertarik padamu, dan kemudian aku yakin bahwa kau adalah sosok yang selama ini ku cari untuk menemani hidupku." Lanjutnya sambil menatapku dalam.
Aku terhanyut dalam tatapannya itu. Dan mendengar penjelasannya itu, aku hampir tak mampu menahan air mataku karena terharu dan tak percaya.
Ini pasti mimpi...
"Ini bukan mimpi Sungmin-ah. Aku sungguh-sungguh tulus dan jujur mengatakan semuanya. Kau benar-benar sosok impianku," ujarnya seolah mendengar kata hatiku.
Oh my God! Cho Kyuhyun nyata berada di hadapanku, dan tubuh hangatnya itu tengah memelukku!
"Dan apa kau tahu bagian yang paling ku sukai dari semua pertemuan kita?" tanyanya sambil menatapku jenaka.
Aku menatapnya bingung, bagian yang mana maksudnya?
"Oh... ya, seharusnya aku mengatakannya dengan jelas. Aku sangat menikmati hari dimana kita bertemu di basement hotel malam itu. Bagian di mana kau mengobatiku, saat kau memberikan pukulan pada pria brengsek itu dan bagian disaat kau berkata padanya 'You need to grow up, Kim Jungmo. Wake up!'. Kau sangat keren hari itu!"
Aku tertawa ketika mengingat kejadian malam itu.
Tapi... tunggu!
Bukankah Kyuhyun sudah menghilang ketika aku meneriakkan kata-kata itu pada Jungmo?
Kutarik tubuhku dari pelukannya dan menatapnya curiga. "Darimana kau tahu tentang kata-kata itu? Bukankah kau sudah pergi saat itu?"
Kyuhyun terlihat salah tingkah ketika menjawab. "Well... sebenarnya aku masih ada disana. Aku berdiri di belakang truk ekspedisi yang besar. Jadi kau tidak menyadari keberadaanku," jelas Kyuhyun sambil menggaruk tengkuknya.
Aku bisa merasakan wajahku mulai memerah.
Tentu saja aku tidak akan bisa melihatnya jika dia tersembunyi oleh truk ekspedisi yang berukuran berkali lipat dari tubuhnya.
OH GOD! Memalukan!
Aku menutup wajahku yang memerah dengan kedua tanganku.
Namun Kyuhyun justru menarikku dalam pelukannya sambil terkekeh.
"Jangan malu. Kau sangat keren! Aku justru kagum dengan dirimu," ujarnya sambil membelai helaian rambutku dengan rambut.
Aku menyembunyikan wajahku di dadanya yang bidang.
Ugh! Pria ini! Kapan dia tidak membuatku meleleh?!
"Ehm, Sungmin-ah," Kyuhyun memanggil namaku dengan lembut.
Uhm, benar juga, sejak tadi dia memanggilku dengan akrab dan berbicara informal padaku. Memangnya kita sudah sepakat ya?
"Jadi bagaimana menurutmu?" sambungnya.
Aku mendongak menatapnya.
"Apa?"
"Kita. Apa aku setuju berkencan denganku?" ujarnya. Namun kemudian dia buru-buru meralat. " Ani, apa kau mau menjalin hubungan yang serius denganku?"
"Hubungan? Kita?" ulangku untuk memastikan bahwa aku tidak salah dengar.
Kyuhyun memutar bola matanya. "Kau mendengarnya dengan jelas, Lee Sungmin. Aku sudah mengatakannya berkali-kali."
"Umm..." aku beranjak dari pelukannya dan sedikit menjauhkan tubuhku untuk membiarkan diriku agar bisa berfikir jernih.
"Bagaimana?" tanyanya lagi.
Aku menarik nafas dalam sebelum menjawab.
"Jujur saja, Kyuhyun-ssi, jika kau bertanya 'apa aku tertarik padamu?', jawabannya jelas 'iya'. 'Apa aku menyukaimu?', aku juga akan menjawab 'iya'. Tapi, jika kau memintaku untuk berfikir ke arah yang serius, aku... aku membutuhkan waktu untuk bisa mengenalmu lebih jauh. Aku tidak ingin... mengulang kesalahan yang sama dan terluka untuk kedua kalinya."
Aku menatapnya sambil memberikannya senyum terbaikku.
"Jadi, jika kau memang ingin kita menjalin hubungan serius, aku bersedia. Tapi, kau juga harus memberikan kita waktu agar kita bisa mengenal diri kita satu sama lain lebih dalam dan lebih jauh. Bagaimana?" tawarku.
Aku yakin dengan keputusanku ini.
Ya, Lee Sungmin. Ini jawaban dari Tuhan untuk penantianmu selama ini.
Pria ini baik dan sangat sesuai dengan tipe idealmu.
Jangan sampai aku membuang kesempatan yang telah Tuhan berikan padaku.
Uhm, aku akan berusaha sebaik mungkin.
"Itu cukup adil," balas Kyuhyun sambil tersenyum puas.
Tiba-tiba terdengar suara perut yang berbunyi dengan cukup keras. Dan asalnya dari perut Kyuhyun.
"Kau lapar, Kyuhyun-ssi?" tanyaku sambil menatap wajahnya yang sedang tersenyum malu.
"Ya... sedikit. Kau ingat kan tadi kita tidak menghabiskan makanan kita?"
"Benarkah? Seharusnya kau memberitahuku sejak tadi, Kyuhyun-ssi. Tunggulah, akan ku buatkan sesuatu yang bisa kau makan." Aku langsung beranjak dari sofa dan berjalan ke dapur.
Kubuka lemari es dan memeriksa apa yang sekiranya bisa ku hidangkan dalam waktu singkat. Ada sisa lasagna yang aku buat kemarin, bulgogi beku serta salad.
Jelas dia tidak akan mau makan salad.
Jadi pilihannya hanyalah lasagna dan bulgogi.
"Kau mau lasagna atau bulgogi, Kyuhyun-ssi?" tanyaku dari dapur.
"Keduanya boleh. Aku sangat lapar ternyata," serunya sambil berjalan ke meja makan kemudian duduk di salah satu tempat duduk yang ada disana.
Aku tertawa kemudian mengeluarkan piring berisi tiga potong besar lasagna dan semangkuk besar bulgogi dari lemari es. Kulepaskan plastik wrap yang menutupi piring dan mangkuk itu, kemudian memasukkan lasagna beserta piringnya ke dalam microwave untuk dihangatkan. Sementara untuk bulgoginya, aku memindahkannya ke panci kemudian ku panaskan dengan kompor. Aku menambahkan sedikit merica untuk menambah aroma dan rasanya.
Kemudian aku mengambil dua mangkuk makan serta dua piring dari dalam lemari.
Setelah bulgoginya matang, ku tuangkan perlahan ke mangkukku dan Kyuhyun. Aku sengaja membuat porsi double untuk Kyuhyun karena melihat postur tubuhnya itu dia pasti memiliki porsi makan yang besar.
Dari sudut mataku kulihat Kyuhyun yang sedang memperhatikanku dengan lekat.
Pandangan mata tajamnya itu membuatku langsung merasa risi dan malu.
"Maaf ya Kyuhyun-ssi, aku hanya bisa memberikan makanan sisa untukmu. Sebenarnya aku bisa saja memasakkan sesuatu yang baru, tetapi ku rasa kau tidak akan sanggup menunggu lebih lama lagi," candaku, yang diikuti suara tawanya yang merdu.
Aku menaruh kedua mangkuk berisi bulgogi di meja makan. Satu yang porsinya lebih banyak di hadapan Kyuhyun, dan yang satu lagi di seberangnya, bagianku.
Kudengar bunyi dari microwave yang menandakan lasagna sudah siap dikeluarkan dari dalam microwave. Aku berbalik untuk mengeluarkan lasagna itu kemudian memindahkan satu potong dan meletakkannya di piringku, sedangkan dua potong lainnya ke piring Kyuhyun.
"Bisa tolong bawa piring-piring ini ke meja makan, Kyuhyun-ssi? Aku akan menyiapkan gelas dan peralatan makannya."
Kyuhyun langsung beranjak dari duduknya, kemudian mengambil kedua piring itu dari tanganku dan berjalan kembali ke meja makan.
Kuambil dua gelas minuman, dua set garpu, dan pisau dari dalam laci serta dua pasang sumpit. Setelah itu, kubuka kulkas dan mengambil satu botol air minum yang berukuran besar dan membawanya ke meja makan.
Aku menata peralatan makan di meja makan serta gelas minum untuk kami, kemudian aku mengambil tempat duduk di hadapannya.
"Silahkan makan, Kyuhyun-ssi. Semoga kau suka," ujarku sambil menuangkan air ke gelas kami masing-masing.
Tanpa berfikir dua kali, Kyuhyun langsung memakan lasagna bagiannya.
Dia menatapku sambil tersenyum senang. "Ini enak, Sungmin-ah. Sangat enak!" pujinya kemudian mengambil sepotong daging bulgogi dengan sumpit.
"Mmm, dagingnya empuk, rasanya pas. Makanan ini rasanya sempurna. Enak sekali!" Kyuhyun melahap makanannya hingga bersih tak tersisa.
Aku hanya tersenyum melihat cara makanannya yang begitu lahap. Sementara aku memakan makananku dengan perlahan sembari memperhatikannya.
Syukurlah jika kau menyukainya, Kyuhyun-ah.
"Hm, aku tak pernah memakan makanan seenak ini sebelumnya," ucapnya bersungguh-sungguh setelah meminum airnya.
"Bagaimana dengan otak sapi yang tadi? Bukankah itu sangat enak bagimu?" candaku sambil terkekeh.
"Ugh, kau bercanda?! Rasanya kayak itu bukan makanan untuk manusia," gerutunya.
"Penampilannya memang tidak meyakinkan kok," sambungku ikut berkomentar.
"Ya, kau memang pintar memilih makanan, Sungmin-ah" ujarnya kemudian tertawa ketika melihat ekspresi wajahku yang terlihat agak tersinggung.
"Jangan memulai pertengkaran, Cho Kyuhyun," ujarku memperingatkan.
Kyuhyun terkekeh sambil mengangkat tangannya menyerah.
"By the way, apakah kau yang membuat semua makan ini?" tanyanya sambil melirik wadah makanan di meja yang telah kosong.
Aku hanya mengangguk sambil tersenyum malu.
"Apa kau suka memasak?" tanyanya dengan wajah terkejut.
"Ya, begitulah. Dulu aku sering memasak untuk Jung..." Aku menghentikan kata-kataku yang baru saja akan menyebut 'Jungmo'. Kucoba memperbaikinya sebelum Kyuhyun sadar. "Untuk adikku, Eunhyukkie. Dia tikus percobaanku," sambungku langsung sambil terkekeh canggung.
Sekali lagi aku tidak bisa mengelabui seorang Cho Kyuhyun. Dari wajahnya dia tahu bahwa aku baru saja hampir salah bicara, tetapi untungnya dia tidak menanyakan hal itu.
"Apakah kau masih lapar? Atau kau ingin makan yang lain?" tawarku untuk menghilangkan rasa canggungku.
"Tidak, terima kasih. Aku sudah kenyang. Well, terima kasih banyak untuk makanannya."
Kyuhyun melirik jam tangannya sebelum berkata, "Well, sepertinya ini sudah sangat sore."
Aku melirik jam yang ada di ruang makan dan membelalakan mataku.
"Oh, sudah jam lima!" teriakku.
Kyuhyun mengangguk, kemudian menguap.
"Oh, kau pasti lelah, Kyuhyun-ssi. Maafkan aku karena telah banyak menyita waktumu," ujarku dengan nada menyesal. "Jadi, apakah kau akan kembali ke Wilmington setelah ini, atau kau akan tinggal bersama orangtuamu di Winston?"
"Hm, sebenarnya... jika kau mengijinkan, bolehkah aku menumpang tidur di sini beberapa jam saja? Itu jika kau tidak keberatan. Kedua orangtuaku sedang ada di Prancis bulan ini. Jadi, rumah mereka kosong. Aku sedikit tidak suka berada di rumah sendirian. Dan jika aku harus mencari hotel terdekat, aku tidak yakin bisa mengemudi dengan selamat."
Aku menatap wajahnya yang terlihat begitu lelah. Matanya begitu sayu, tatapannya tidak setajam tadi.
Ugh, maka mungkin aku tega mengusirnya.
Sudahlah, toh kami sama-sama pria. Yang penting kami tidak akan melakukan hal yang macam-macam.
"Uhm, ya... boleh saja. Aku juga kasihan melihat wajah mengantukmu itu, Kyuhyun-ssi," ujarku sambil mengangguk dengan yakin.
Dia tertawa mendengar komentarku. Kemudian dia kembali menguap, wajahnya kini terlihat tidak berdosa dan membuatku semakin tidak tega.
"Uhm, sebaiknya sekarang kau ke kamarku saja, Kyuhyun-ssi. Kau bisa beristirahat disana sementara aku akan membereskan semua ini," ucapku sambil mengangkat wadah-wadah dan peralatan makan yang kotor dan membawanya ke tempat cuci piring.
"Aku bisa tidur sofa. Itu sudah cukup," balas Kyuhyun sambil berdiri.
Aku berbalik menatapnya galak.
"Itu tidak akan terasa nyaman, Cho Kyuhyun. Percayalah padaku. Lagipula, setelah ini aku berencana untuk menonton tv, nanti kau akan terganggu olehku, Kyuhyun-ssi."
"Baiklah jika kau memaksa, aku takkan membantah," jawabnya pasrah kemudian menguap lagi.
"Bagus, ya sudah sana!" Aku lalu mendorong tubuhnya menuju ke kamarku. Setelah tiba didepan kamar, ku buka pintunya lebar-lebar.
"Masuklah dan istirahat. Jika kau ingin ke kamar mandi, kamar mandinya juga di dalam, pintu di sebelah lemari," jelasku. "Apakah kau membutuhkan pakaian ganti?"
"Tidak perlu. Aku membawanya, selalu tersedia di mobil untuk keadaan darurat." Kyuhyun kemudian keluar sebentar dari apartemen dan kembali beberapa menit kemudian sambil menenteng tas hitam yang ku perkirakan berisi perlengkapannya.
Dia lalu tersenyum kepadaku, kemudian menghilang ke dalam kamar tidurku.
Aku kembali kedapur kemudian mencuci peralatan makan yang tadi kami gunakan.
Ketika aku selesai, aku bisa mendengar suara shower dari kamar mandi kamarku.
Dengan perlahan aku mengintip ke dalam kamar tidur. Pemandangan dari jendela kamar tidur yang terbuka terlihat matahari yang sebentar lagi akan terbenam, dan hari akan menjadi gelap.
Aku langsung terburu-buru masuk ke kamar untuk menutup tirai jendela kemudian menyalakan lampu kamar.
Kulihat ada kaus berwarna putih dengan celana piyama berwarna abu-abu terbentang di atas tempat tidurku yang berukuran Queen. Pasti miliknya.
Aku sedang membereskan tempat tidur ketika Kyuhyun keluar dari kamar mandi hanya mengenakan boxer briefs berwarna putih bersih dan handuk ukuran sedang berwarna putih tergantung di lehernya.
Aku menarik napas terkejut. Sedangkan Kyuhyun hanya berdiri dengan tenang di depan pintu kamar mandi. Smirknya tersungging dengan tampan diwajahnya.
Aku langsung memalingkan wajahku.
Oke, kami memang sama-sama pria, tapi tetap saja... dia itu Cho Kyuhyun! Pria yang kusukai!
"Umm, maaf," ucapku sambil terburu-buru keluar dari kamar tidur dan menarik pintu kamar hingga tertutup.
Ketika sudah berdiri di ruang tamu baru aku bisa bernapas lagi.
Aku mencoba menenangkan dan mengingatkan diriku bahwa kami ini sama-sama pria.
Jadi, mengapa aku harus panik?
Mungkin karena dia adalah satu-satunya pria bertubuh bagus yang pernah ku lihat? Atau...
Cukup.
Kembalikan kewarasanmu, Lee!
Aku kemudian duduk di sofa dan menyalakan TV, mencoba mencari channel yang bisa menarik perhatianku.
Aku hampir saja loncat dari sofa ketika mendengar pintu kamar tidur dibuka.
"Sungminnie, apa jendelanya boleh ku buka sedikit?" tanyanya ragu.
"Errr... boleh saja," balasku singkat setelah terdiam beberapa saat dan hanya menatap tubuhnya yang kini telah tertutup kaus dan celana piyama.
Rasa kecewa karena tidak bisa melihatnya topless lagi muncul di kepalaku.
Cukup sudah otak mesummu, Lee Sungmin!
"Oke, terima kasih."
Aku hanya mengangguk.
"Kau ingin dibangunkan jam berapa?"
"Mm... sekitar jam dua pagi jika kau masih terjaga. Tapi aku sudah memasang alarm, jadi jika kau mau tidur, silahkan saja. Pintu kamar tidak aku kunci, kok."
"Jam dua pagi?" tanyaku kaget.
Sambil pelan-pelan mendekatiku di sofa, Kyuhyun menjelaskan situasinya.
"Iya. Pesawatku ke New York akan berangkat besok jam enam pagi dari Raleigh. Jadi, aku pikir sebaiknya aku berangkat sekitar jam setengah tiga dari sini agar tidak terlambat."
"Berapa lama kau akan ada di New York?"
"Hanya satu hari, aku kesana untuk memberikan training. Aku akan kembali minggu sore," jelasnya, sambil duduk di sofa dan menguap. Aku kasihan melihatnya. Dia pasti sangat mengantuk.
"Oh, baiklah," ucapku, lalu mengulurkan tanganku kepada Kyuhyun yang juga mengulurkan tangannya kepadaku. Aku kemudian menuntunnya menuju kamarku.
Kulepaskan genggamanku pada tangannya dan berjalan menuju jendela untuk membukanya sedikit agar ada udara segar yang masuk. Ketika aku berbalik badan, kulihat Kyuhyun sedang menatap tempat tidur sambil mengerutkan keningnya.
"Apa ada masalah dengan tempat tidur?" tanyaku ragu.
"Kau selalu tidur di sebelah kanan," ucap Kyuhyun sambil beralih menatapku.
Aku hanya mengangguk, masih bingung dengan maksudnya.
"Kalau begitu aku akan tidur di sebelah kiri. Jadi, jika kau ingin tidur sebelum aku bangun, kau bisa tidur di tempatmu."
Kyuhyun kemudian berjalan menuju sisi kiri tempat tidur dan menyingkapkan selimut, kemudian naik ke atas tempat tidur dan perlahan-lahan membaringkan tubuhnya.
"Ahhh... nyamannya," gumamnya.
Dia kemudian memutar kepalanya dan mencium bantal yang menopang kepalanya.
"And it smells like you," ucapnya ceria, kemudian tersenyum padaku.
Aku hampir saja menangis ketika mendengarnya mengatakan itu.
Dia benar-benar penuh perhatian dan peduli padaku.
Bahkan dulu Jungmo tidak pernah peduli di sisi mana aku tidur, aku yang biasanya harus mengalah dan tidur di sisi sebelah kiri ketika dulu dia menginap di apartemenku.
"Hm, ku harap bukan aroma yang aneh," balasku sambil melangkah mematikan lampu kamar.
"Tentu saja bukan. I love this smell. Aku pasti akan tidur nyenyak dan bermimpi indah," ujarnya sambil tersenyum menggoda.
Meskipun hatiku tiba-tiba berdebar-debar dengan kencang, aku berhasil mengucapkan selamat malam, mematikan lampu, dan meninggalkan kamar tidur dengan selamat.
Satu detik setelah aku melangkah kembali ke ruang tamu, ponselku berbunyi.
Aku buru-buru berjalan menuju ruang kerjaku yang terletak berseberangan dengan kamar tidur.
Ternyata Eunhyukkie yang menghubungiku.
"Jadi bagaimana kencannya?" todongnya langsung. Seperti biasa Eunhyukkie terdengar antusias.
Aku mengempaskan tubuh ke atas kursi.
"Kau tidak akan percaya dengan ceritaku."
"Memang ada apa Hyung?" Tiba-tiba Eunhyukkie terdengar khawatir.
"Aku memberitahumu bahwa date-ku hari ini bernama Marcuss Cho, kan?"
"Ya..., lalu?" jawaban Eunhyuk terdengar menggantung.
"Mau tahu namanya yang sebenarnya? Cho Kyuhyun, Marcuss Cho adalah nama Amerikanya," ucapku, menjawab pertanyaanku yang ku ajukan sendiri.
Hening sejenak di seberang. Kemudian terdengar dia menarik napas dan berteriak, "Nooo... Pria itu Cho Kyuhyun?! Pria brengsek yang menggantungmu itu, Hyung?"
"Ya," jawabku singkat.
"Yang nomornya tidak bisa dihubungi?"
"Yep."
"Yang mobilnya SUV perak?"
"Mm-ehm."
"Yang matanya tajam dan memiliki smirk yang keren?"
Aku sempat tertawa sebelum menjawab, "He-eh... itu dia adikku yang seksi."
"Bagaimana mungkin?!" teriaknya dengan nada tak percaya.
"Panjang ceritanya," jawabku ragu, apa harus menceritakannya sekarang atau tidak.
"Panjang bagaimana? Ceritalah Hyung!" pintanya.
Aku bisa mendengar bunyi keran air yang dinyalakan melalui speaker telepon. Kemungkinan besar dia pasti sedang membuat makanan tengah malam favoritnya, yaitu Ramyeon ekstra pedas.
"Kami berbicara panjang-lebar," ucapku.
"He-eh," jawabnya.
"Dia menceritakan yang sebenarnya tentang dia yang sudah tertarik padaku di pertemuan pertama kami," lanjutku.
"Oke, lalu?"
"Dia bilang dia sudah mencari tahu tentang diriku, merencanakan pendekatannya padaku, dan bla...bla...bla..." aku menceritakan semua yang terjadi di restoran dan pembicaraan di apartemenku tadi, minus hal-hal memalukan yang ku alami tentu saja.
"Well, Hyung... itu hebat... seperti yang di drama-drama."
Kudengar bunyi keran air dimatikan, dan aku yakin kini dia sedang mengangkat panci ke atas kompor.
"Dan percaya atau tidak, dia sekarang sedang tidur di atas tempat tidurku," ucapku tenang.
Pada saat itu juga aku bisa mendengar bunyi KLONTANG... yang cukup keras diikuti dengan makian Eunhyuk sebelum dia berteriak, "He is doing whaaattt?!"
"Dia. Sedang. Tidur. Di atas. Tempat tidurku," ulangku, sambil tersenyum.
Aku tahu seharusnya aku tidak mengganggu adikku ini, tetapi terkadang aku hanya ingin melihat atau mendengar reaksinya atas kata-kataku.
"Hyung... kau... kau tidak berfikir itu terlalu... uh... cepat untuk kalian? Umm..."
Untuk pertama kalinya adikku yang cerewet itu tidak bisa berkata-kata.
"Apa maksudmu, Lee Hyuk jae?! Dia hanya tidur, oke, dia menumpang tidur, disini, di apartemenku," potongku karena merasa pikirannya sudah terlalu jauh. Memangnya dia pikir hyungnya itu apa? Dia tentu sangat tahu dengan prinsipku kan?
"Oh? Mm," terdengar kelegaan di suaranya. Aku memutar mataku malas. Dasar anchovy mesum. "Syukurlah Hyung. Maaf karena berfikiran berlebihan," lanjutnya dengan nada menyesal.
"Dia itu harus terbang besok pagi ke New York dari Raleigh. Jadi, daripada pulang ke Wilmington, lebih baik dia menginap di sini," jelasku.
"Dia tinggal di Wilmington? Itu tempat yang bagus, Hyung!"
"Kau tahu darimana? Memang kau pernah ke sana?"
Aku mendengar bunyi plop... plop... plop...
Dia pasti sedang membersihkan tumpahan air dari pancinya dengan menggunakan napkin bukannya kain pel. Dasar jorok!
"Dawson's Creek. Salah satu lokasi shooting-nya di sana," jawab Eunhyuk dengan nada bangga.
Aku hanya tertawa kecil merespon jawabannya.
Kemudian kudengar Eunhyuk menarik sesuatu yang terdengar seperti kantong keripik.
"Kau tidak jadi membuat ramyeon?" tanyaku.
"Tidak, aku sudah tidak mood," omel Eunhyuk. Selang beberapa detik kemudian dia berkata, "bagaimana Minnie Hyung bisa tahu kalau aku akan membuat ramyeon?" dengan nada heran.
Aku tertawa sebelum menjawab, "Memang ada makanan lain yang bisa kau buat selain ramyeon?"
"Hehehe... benar juga," ucap Eunhyuk sambil terkekeh.
Kemudian kudengar bunyi krauk... krauk... krauk... dan aku langsung tahu jika dia pasti tengah memakan keripiknya dengan ganas.
"Lalu, apa kau akan tidur dengan dia, Hyung?" tanyanya penasaran setelah menghabiskan keripik di mulutnya. "Maksudku hanya tidur, ya tidur lelap... begitulah."
Aku tertawa kecil mendengar nada bicaranya yang terdengar bingung bagaimana mengatakan hal yang dipikirkannya.
"Tentu tidak, adikku sayang. Aku akan menunggunya hingga dia terbangun, barulah aku tidur. Aku takut akan khilaf jika tidur berdekatan dengannya. Dia terlalu menggoda, tapi itu terlalu cepat, Hyuk."
"Oh..." Entah mengapa suaranya terdengar kecewa, tetapi aku tidak berani menanyakan alasan di balik nada kecewanya itu.
.
.
Ketika aku selesai berbicara dengan Eunhyukkie, aku melihat ke layar ponselku yang menunjukkan sudah jam sembilan malam.
Perlahan-lahan aku bangun dari kursi dan berjalan ke luar ruang kerja.
Aku harus mandi.
Tapi, sayangnya semua bajuku ada di kamar, dan untungnya(?) satu-satunya kamar mandi di apartemen ada di dalam kamarku.
Mau tidak mau aku pun menuju ke kamarku.
Perlahan-lahan kubuka pintu kamar tidur. Semuanya cukup gelap kecuali penerangan dari sinar lampu jalan yang masuk melalui sela-sela tirai. Udara di dalam kamar tidur terasa lebih dingin dibandingkan di ruang tamu karena jendela yang terbuka.
Aku berjalan menuju lemari pakaian dan menyalakan lampu kecil yang ada di dalam lemari. Aku melirik ke arah tempat tidur untuk meyakinkan sinar lampu tidak mengganggu tidur Kyuhyun.
Aku tidak melihat ada gerakan apa pun. Aku juga tidak mendengar suara dengkuran. Rupanya dia tipe orang yang tidur seperti orang mati.
Kuambil piyama tidurku dan juga celana dalam, kemudian aku mematikan lampu dan berjalan menuju kamar mandi. Kunyalakan lampu kamar mandi dan bergegas masuk.
Tidak lama kemudian aku sudah ada di dalam bathtub, dan air panas pun mengucur dari shower membasahi seluruh tubuhku.
Ketika aku akan mengambil shampo, aku baru menyadari ada beberapa botol perlengkapan mandi yang bukan milikku.
Botol-botol itu semuanya merupakan brand terkenal.
Aku yakin satu botol produk itu bisa untuk membeli empat botol produk yang aku gunakan.
Kuambil botol shampo-ku dan menuangkannya sedikit pada telapak tanganku sebelum mulai mengusapnya pada rambutku. Lalu aku mengambil botol sabunku, menuangkan beberapa tetes pada sponge, kemudian mengusapkannya ke seluruh tubuh.
Selama melakukan itu semua, aku tidak bisa mengalihkan mataku dari perlengkapan mandi Kyuhyun yang terletak bersebelahan dengan produk mandiku.
Kemudian aku bergegas membilas bersih rambut dan tubuhku. Aku berdiri di bawah shower dan menikmati siraman air hangat yang cukup bisa membuatku terasa nyaman.
Beberapa kali aku melirik peralatan mandi Kyuhyun. Rasa keingintahuan mendorongku untuk melakukannya.
Akhirnya, aku menyerah dan mengambil salah satu botol, membuka tutupnya dan menghirup aromanya.
Aroma tercium adalah aroma Kyuhyun.
Aroma yang memabukkan dan membuatku serasa melayang.
Aku tidak tahu berapa lama aku berdiri di bawah shower dengan air yang masih mengalir sambil menciumi aroma dari botol itu.
Aku baru tersadar ketika aku mulai merasa kedinginan.
Aku harus segera menyudahi acara mandiku ini jika aku tidak ingin jatuh sakit.
Ku kembalikan botol ketempatnya dan mematikan keran shower. Kemudian melangkah keluar dari bathtub.
Kukeringkan semua bagian tubuh dengan handuk, kemudian menyapukan lotion ke seluruh tubuhku setelah itu bergegas mengenakan pakaian tidur.
Kukeringkan rambut dengan hair dryer, kemudian melangkah ke luar kamar mandi.
Kumatikan lampu dan berjalan sepelan mungkin menuju pintu untuk keluar dari kamar.
Tiba-tiba aku mendengar suara Kyuhyun yang bergumam memanggil namaku. Suara itu terdengar cukup jelas sehingga aku berpikir bahwa dia terbangun.
"Maafkan aku karena membuatmu terbangun," bisikku sambil berjalan menuju tempat tidur.
Ketika aku berada sekitar satu meter darinya, aku menyadari jika dia masih tertidur lelap.
Apa dia mengigau?
Aku langsung menggeleng, aku pasti salah dengar.
Sekali lagi aku berjalan sepelan mungkin menuju pintu.
Baru saja aku berjalan satu langkah, aku mendengar suara Kyuhyun kembali memanggil "Sungminnie..." dengan sedikit mendesah.
Karena penasaran, aku lalu beranjak ke atas tempat tidur untuk memastikan apakah dia masih terlelap atau tidak.
Aku menahan berat tubuhku dengan kedua lenganku.
"Kyuhyun-ssi? Apa kau masih tidur?" bisikku. Wajahku hanya sekitar lima puluh senti dari wajahnya.
Tiba-tiba tangan Kyuhyun terangkat dan memelukku dengan paksa.
"Hhhmmppp." Hanya itu yang yang keluar dari mulutku karena tiba-tiba aku sudah terbaring dalam posisi yang agak janggal.
Bagian atas tubuhku ada di tempat tidur, diatas tubuh Kyuhyun, sedangkan kedua kakiku masih tergantung keluar dari tempat tidur.
Sekarang aku yakin jika Kyuhyun mengigau.
Aku berusaha melepaskan diri tanpa membangunkannya.
Kudorong tubuhku untuk menjauhinya, tetapi Kyuhyun justru menarikku lebih erat. Kucoba menggulingkan tubuhku, namun juga tidak membuahkan hasil.
Kini posisiku justru menjadi terbaring sempurna di atas tubuhnya dengan wajahku tepat di dadanya. Hanya tinggal pergelangan kakiku yang masih menjulur keluar dari atas tempat tidur.
Aku terdiam selama beberapa detik untuk mempertimbangkan apa yang akan aku lakukan.
Bahkan dalam tidur aroma tubuhnya masih begitu kuat. Aku bisa merasakan detak jantungnya di bawah pipiku.
Kututup mataku untuk menghirup aromanya dalam-dalam. Memasukkannya ke dalam semua indraku dan menguncinya di dalam memoriku.
Kutarik napas panjang.
Dan aku pun terlelap.
.
(Sungmin POV END)
.
.
Blind Date
.
.
(Hasu POV)
.
Sungmin akhirnya terbangun beberapa jam kemudian oleh sinar lampu yang berasal dari kamar mandi.
Sungmin menyadari Kyuhyun sudah tidak ada di atas tempat tidur.
Sungmin menggeliat sambil memutar tubuhnya dan melihat siluet Kyuhyun yang sedang mengenakan pakaian di dalam gelap, hanya dengan bantuan sinar lampu kamar mandi yang pintunya dibiarkan setengah terbuka.
"Jam berapa sekarang, Kyu?" tanya Sungmin dengan suara serak karena masih mengantuk.
"Apa aku membangunkanmu, sleeping beauty? Maaf," ujar Kyuhyun dengan nada bercanda.
"Tidak apa," jawab Sungmin sambil merenggangkan lengannya, kemudian beranjak bangun dari tempat tidur dan menyalakan lampu kamar.
Dia memicingkan mata dan membiasakan dengan sinar lampu yang tiba-tiba menerangi kamar.
Diliriknya jam di atas nakas yang menunjukkan pukul tiga pagi.
"OH! Kau terlambat Kyu!" teriak Sungmin terkejut. "Maaf, aku lupa menyetel alarmnya," erang Sungmin penuh sesal.
Kyuhyun sedang memasukkan lengannya ke dalam sweater berwarna hitam dengan leher berbentuk V. Dia mengenakan kemeja putih dengan garis-garis biru di balik sweater itu. Dia berhenti sesaat dan menatap Sungmin sambil tersenyum tipis.
"Tidak apa, masih ada waktu," ucapnya sambil mengembangkan senyumnya, menenangkan Sungmin.
Sungmin hanya mengangguk kaku. Dia menundukkan wajah melihat senyum Kyuhyun yang terlihat sensual karena suasana kamar yang temaram, cahaya dari lampu kamar Sungmin memang agak redup, tidak terlalu terang, sehingga suasana kamar menjadi sedikit sensual dan membuat Sungmin menjadi gugup.
"Ehm, by the way... Apakah kau memiliki rencana hari Minggu malam?" tanya Kyuhyun sambil berjalan menuju tempat tidur. Kemudian duduk di atasnya dan mengeluarkan sepasang kaus kaki berwarna hitam dari suka celananya.
Sungmin mendongak, mengingat-ingat apakah dia memiliki rencana pada hari Minggu malam.
"Sepertinya aku tidak ada rencana apapun," jawab Sungmin yakin.
"Good. Sebenarnya aku berencana ingin mengajakmu makan malam untuk kencan pertama kita sebagai sepasang kekasih, Minnie," ujar Kyuhyun sambil menoleh menatap Sungmin dan tersenyum, sedikit menyeringai tepatnya.
"Oh... well... sepertinya itu akan menyenangkan. Baiklah," jawab Sungmin terbata-bata. Dia belum terbiasa dengan panggilan sayang yang digunakan Kyuhyun padanya.
Kyuhyun tersenyum melihat reaksi yang ditunjukkan Sungmin.
"Oke. Kalau begitu, kau yang memilih restorannya. Pesawatku akan mendarat sekitar jam empat sore di Raleigh. Aku akan sampai di sini sekitar jam enam sore."
Kyuhyun tidak menatap Sungmin ketika mengatakan itu semua, perhatiannya fokus pada kegiatannya memakai kaus kaki.
Mengetahui bahwa Kyuhyun harus menempuh jarak dua jam lagi untuk bertemu dengannya, Sungmin merasa tidak tega. "Apakah kau yakin? Apa kau tidak merasa lelah?"
Sepasang matanya langsung menatap Sungmin tajam.
Kyuhyun kemudian beranjak dari tempatnya dan berjalan mendekati Sungmin yang berdiri kaku di dekat saklar lampu.
Meskipun langkahnya perlahan, Sungmin merasa agak sedikit terancam sehingga dia pun mundur selangkah.
Melihat Sungmin yang melangkah mundur, Kyuhyun berhenti melangkah dan berdiri diam sambil menatap Sungmin dalam.
"Kita berkencan kan, Minnie?" tanyanya memastikan.
Sungmin mengangguk kaku.
"Dengarkan aku Sungminnie, aku tidak tahu apa yang kau pikirkan tentangku saat ini. Tapi... aku berharap kita bisa memulai pendekatan kita dari hari ini. Apa yang terjadi semalam... aku sangat menyukainya. Dan aku berharap itu akan terjadi lagi."
'Memang apa yang kami lakukan tadi malam?' pikir Sungmin bingung.
Seingat Sungmin mereka hanya mengobrol, lalu mereka makan malam. Setelah itu, Kyuhyun tidur dengan Sungmin di dalam pelukannya.
Sungmin langsung mengalihkan perhatian pada tubuhnya. Dia masih memakai piyama yang dikenakannya tadi malam, lengkap.
Sungmin menghela napas lega.
'Oh, mungkin maksudnya apa yang kami lakukan sebelum dia tidur,' batin Sungmin mengerti maksud Kyuhyun. 'Dasar kau telmi, Lee!'
Dan akhirnya Sungmin juga menyadarinya.
Kyuhyun pasti mengira Sungmin menolak ajakan kencannya dengan berdalih Kyuhyun akan kelelahan.
Padahal Sungmin hanya merasa tidak tega dan mengkhawatirkan Kyuhyun, dan bukan bermaksud menolak.
Mau tidak mau Sungmin pun tertawa.
Kyuhyun menatap Sungmin dengan tajam, dia sepertinya sedikit kesal dengan reaksi Sungmin.
"Mengapa kau tertawa, Lee Sungmin?" tanyanya datar.
Alih-alih menjawab, Sungmin hanya beranjak mendekati Kyuhyun dan memeluknya. Tubuh Kyuhyun sedikit terperanjat karena terkejut.
"Aku bukannya menolak ajakan kencanmu, Kyu. Aku hanya mengkhawatirkan dirimu. Kau pasti akan kelelahan setelah penerbangan dan perjalanan jauh, lalu masih harus pergi denganku. Tapi, jika kau tidak keberatan, tentu dengan senang hati aku akan menunggumu," ucap Sungmin pelan.
Pelan-pelan dapat Sungmin rasakan Kyuhyun yang membalas pelukannya.
Mereka berpelukan dalam diam. Saling menikmati suasana intim itu sembari menghirup aroma tubuh masing-masing.
"Kyu, apakah kau keberatan jika... kencan makan malam kita... di lakukan di apartemenku saja? Disini? Aku akan memasak sesuatu yang spesial untukmu, makanan kesukaanmu. Bagaimana?" Sungmin melonggarkan pelukannya dan mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah Kyuhyun.
"Kau... akan memasak? Untukku?" tanya Kyuhyun, nadanya terdengar ragu.
Mendengar nada tidak percaya Kyuhyun, Sungmin langsung melepaskan pelukannya.
"Aku yakinkan dirimu bahwa masakanku itu..." Sungmin mencoba membela diri, tetapi Kyuhyun langsung memotong kata-katanya, "bukan itu maksudku," geram Kyuhyun.
Sungmin menatap Kyuhyun dengan wajah bingung.
"Lalu? Kenapa?"
"Aku hanya berfikir bahwa ini adalah hal yang paling romantis yang pernah dilakukan orang lain padaku," ucap Kyuhyun dalam satu tarikan napas. "kau yang pertama, Sungminnie," lanjut Kyuhyun sambil membelai pipi Sungmin lembut.
Sungmin menatapnya dengan mata melebar. Wajahnya merona sempurna.
Dalam hati dia yakin, jika saja Eunhyuk ada disini dan mendengar apa yang Kyuhyun katakan tadi, Eunhyuk akan tertawa terbahak-bahak hingga sakit perut. Karena menurut Eunhyuk, Sungmin adalah orang yang paling tidak romantis di seluruh dunia.
Dan tentu saja, mendengar pujian dari Kyuhyun sukses membuat Sungmin terpaku dan tak mampu menyembunyikan rasa hangat di hatinya.
"Mm, aku akan mebuatkanmu kimbab segitiga untuk bekalmu," ucap Sungmin sambil beranjak melepaskan diri dari pelukan Kyuhyun.
Sungmin baru saja berjalan satu langkah ketika dia merasa pergelangan tangannya ditarik oleh Kyuhyun, dan yang Sungmin rasakan selanjutnya adalah sengatan listrik di sekujur tubuhnya.
Kyuhyun mencium bibirnya, menciumnya dengan intim dan dalam. Lidahnya bergerak menyapu bagian dalam mulut Sungmin. Tidak peduli bahwa Sungmin baru saja bangun tidur, dan penampilannya masih acak-acakan.
Sungmin hanya bisa mendesah tertahan sembari berpegangan pada kedua lengan Kyuhyun dengan sekuat tenaga untuk mencegah agar tubuhnya tidak merosot ke lantai.
Setelah tersadar dari keterkejutannya, Sungmin bereaksi dengan membalas ciuman ganas Kyuhyun.
Ketika Kyuhyun merasakan bahwa Sungmin membalas ciumannya, Kyuhyun menggeram tertahan sembari menyisirkan jari-jarinya pada rambut acak-acakan Sungmin, dan membuatnya semakin acak-acakan. Ciuman mereka pun semakin dalam dan intens. Saliva berguguran di sela-sela bibir mereka.
Dan tiba-tiba saja Kyuhyun menghentikan ciumannya, dia menggenggam bagian atas kedua lengan Sungmin, mendorong tubuh Sungmin pelan untuk menjauhinya, menciptakan jarak yang cukup untuknya.
Sungmin menatap Kyuhyun bingung sambil terengah. Wajahnya memerah dan nafasnya tersengal.
Melihat tatapan Sungmin yang bingung, Kyuhyun langsung berkata dengan menahan geraman, "sebaiknya kau segera ke dapur dan menyiapkan kimbab sialan itu, Minnie-ya. Aku harus menjaga jarak denganmu atau aku takkan mampu menahan diriku lagi." Kyuhyun membersihkan lelehan saliva yang ada di sekeliling wajah dan rahang sungmin dengan lembut. Pandangannya meneduh.
"Jika kita tetap mempertahankan situasi ini, aku tak yakin kau bisa tetap menjaga prinsipmu itu, Sungmin-ah. Dan aku takkan bisa pergi dari apartemenmu ini," lanjut Kyuhyun dengan suaranya yang terdengar serak, menahan gairahnya mati-matian.
Butuh beberapa detik bagi Sungmin untuk mencerna maksud Kyuhyun.
Wajahnya semakin merona. Dia akhirnya mengerti.
Kyuhyun, dia tidak menolak Sungmin. Kyuhyun hanya ingin menjaga Sungmin dan prinsip yang dipertahankan Sungmin mati-matian hingga harus mengorbankan hubungannya dengan Jungmo dulu.
'NO SEX BEFORE MARRIED'
Ya, karena Sungmin adalah male pregnant, dia harus berhati-hati dalam menjalin hubungan dengan siapapun, terutama pria tentu saja karena Sungmin gay.
Dan Kyuhyun hanya ingin memastikan agar tidak ada satu pun dari mereka yang melampaui batas.
Hati Sungmin merasa hangat.
Kyuhyun benar-benar baik dan peduli padanya. Perasaannya tulus pada Sungmin.
"Ehm, Kimbab ayam?" tanya Sungmin pelan sambil mengulurkan tangannya untuk membersihkan saliva yang ada di sekitar bibir Kyuhyun dan rahangnya.
"Hmm, tanpa sayuran," geram Kyuhyun pelan. Dia masih menatap Sungmin tajam dan ada percikan gairah yang tertahan di tatapan matanya.
Sungmin buru-buru melepaskan diri dari Kyuhyun dan langsung keluar dari kamarnya, melangkah menuju dapur.
Dengan cepat dikeluarkannya semua bahan untuk membuat kimbab dan Sungmin bergegas membuatnya sebelum Kyuhyun keluar dari kamarnya.
Tidak lama kemudian terdengar bunyi pintu kamar dibuka diikuti sosok Kyuhyun yang berjalan ke luar dengan membawa tas yang tadi malam dibawanya, bersamaan dengan selesainya Sungmin membuat kimbab.
"Susu atau orange juice?" tanya Sungmin sembari membungkus beberapa potong kimbab segitiga itu dengan plastik wrap agar mudah di bawa oleh Kyuhyun.
"Orange juice," jawab Kyuhyun sambil berjalan ke arah Sungmin.
Sungmin mengambil satu botol jus jeruk yang ada di dalam kulkas dan memberikan botol serta beberapa bungkus kimbab itu kepada Kyuhyun.
"Kau sebaiknya segera berangkat, sekarang sudah jam 3.30."
Sungmin mendorong Kyuhyun menuju pintu keluar.
Sungmin menolong Kyuhyun memegangi botol jus dan kimbab ketika Kyuhyun berlutut untuk mengenakan sepatunya.
Setelah Kyuhyun siap, Sungmin menyerahkan kembali bekal Kyuhyun itu, lalu membuka pintu apartemennya dan menemani Kyuhyun turun menuju ke lapangan parkir hingga menuju ke mobilnya.
Mobil Kyuhyun ternyata diparkir bersebelahan dengan mobil Sungmin.
Sungmin baru menyadari bahwa dia lupa tidak mengenakan jaket atau mantel, dan ketika angin dingin berhembus dan Sungmin menggigil.
"Sungmin, kau akan mati kedinginan nanti!" seru Kyuhyun yang melihat Sungmin menggigil.
"Aku tidak apa-apa," ucap Sungmin berusaha tersenyum meyakinkan, tetapi giginya sudah bergemeletuk tak mampu lagi menahan dingin.
Kyuhyun terburu-buru membuka pintu mobilnya, melemparkan tas ke bangku belakang dan meletakkan kimbab serta juice di dashboard. Dia kemudian menghidupkan mesin mobilnya dan menutup pintu mobil.
Kyuhyun memeluk Sungmin erat dan menariknya masuk kembali ke dalam lobi apartemen yang hangat karena pemanasnya menyala. "Kau baik-baik saja?" tanyanya khawatir.
Sungmin hanya mengangguk.
"Terima kasih untuk semuanya, Minnie..." ujar Kyuhyun sembari mengerat pelukannya sebentar kemudian melepas pelukannya.
"Hubungi aku jika kau telah mendarat di New York, ya," pinta Sungmin sambil tersenyum.
"Tentu saja. Sedetik setelah tiba, aku akan langsung menghubungimu," jawabnya sambil tersenyum. "Sampai bertemu hari minggu nanti?"
Sungmin mengangguk lucu.
Mereka terdiam sambil saling menatap dalam. Tampaknya Kyuhyun sedang mempertimbangkan apakah dia akan mencium Sungmin lagi atau tidak.
Namun kemudian Sungmin berinisiatif dengan menjijitkan tubuhnya, bertumpu pada jari-jari kakinya dan memberikan kecupan di pipi Kyuhyun dan bibirnya sekilas.
"Hati-hati," ucap Sungmin lembut.
Kyuhyun membalasnya dengan tersenyum lebar.
Kemudian Kyuhyun keluar dari lobi apartemen menuju mobilnya. Sebelum masuk mobil, Kyuhyun melambaikan tangannya pada Sungmin yang membalasnya dengan ceria.
Kemudian Kyuhyun memundurkan mobilnya dari tempat parkir itu dan berlalu pergi meninggalkan kepulan udara dingin yang berhembus.
Sungmin berbalik menuju ke lift, kemudian setelah sampai di lantai 3, dia kembali masuk ke dalam apartemen dan mengunci pintunya.
.
.
TBC
.
.
First, Hasu want to answer the question from "guest" who asked on "Too Far Series's Review". Because He/she asked in English, so Hasu will try answer with english and Indonesia. I hope he/she can understand what I was try to said with my broken English.
(Pertama-tama, Hasu ingin menjawab pertanyaan dari "guest" yang bertanya di review "Too Far Series". Karena dia bertanya dalam B. Inggris jadi Hasu akan mencoba jawab dengan dua bahasa. Hasu harap dia mengerti apa yang coba Hasu katakan dengan bahasa Inggris Hasu yang berantakan ini :D)
.
He/She asked this: (Dia bertanya ini: )
How you guys Kyumin Author can write about Kyumin? He's married already, lol and I tried to read Kyumin fanfic after he get married and can't even finish it because Saeun smilling face beside Sungmin in altar keep showing on my mind. Are you guys in denial?
(Bagaimana bisa kalian, penulis cerita Kyumin menulis tentang Kyumin? Dia telah menikah, lol (loud of laugh/tertawa terbahak)... dan aku telah mencoba membaca fanfic Kyumin setelah dia menikah dan bahkan tidak bisa selesai membaca karena wajah tersenyum Saeun di samping Sungmin di altar terus terbayang di ingatanku. Apa kalian dalam delusi (mengelak dari kenyataan)?)
.
Hasu ga tau apa dia juga nanya ke Author-nim Kyumin yang lain, tapi karena dia nanya di kotak review Hasu, Hasu akan jawab sebagai salah satu author Kyumin yang masih junior di FFn.
.
Hasu become Kyumin Shipper because I loved their relationship, for Hasu, their brothership is so sweet and inspirated.
Hasu have been read so many Kyumin fanfic from every site, with every genre and Hasu like all of them.
Hasu was a new Kyumin writer on FFn. The reason why Hasu created Kyumin stories because I like them as an Idol.
This site was named FFn or FanFiction. That's mean, every stories here was fiction or fake, not real, just from author imagination only.
So, altough Sungmin was already married with Saeun, but for me as Kyumin Shipper, Sungmin is still single, of course on imagination only as an Idol.
And it's not delusional, it's imagination. Everyone have imagination, right?
In reality, as a fan, Hasu was really happy if Sungmin choose Saeun as his wife, he's normal I know that. I hope they will live happily. But, as Kyumin shipper/Joyer, I still like Sungmin with Kyuhyun, and their brothership.
So, the reason why Hasu still created Kyumin stories because I want their sweet relationship will always live forever on Joyers mind.
My opinion, if you really wanna read Kyumin fanfic, don't think Sungmin as his real life but as his entertainment life as an idol. I think you can do that because I can ^.^
Don't thinking to much about that, ok?
(Hasu menjadi Kyumin Shipper karena Hasu menyukai ke-akraban mereka, bagi Hasu, kedekatan mereka sangatlah manis dan inspiratif.
Hasu telah banyak membaca ff Kyumin dari berbagai situs, dengan berbagai genre, dan Hasu menyukai semua ff itu.
Hasu adalah penulis ff Kyumin baru di FFn. Alasan mengapa Hasu membuat cerita tentang Kyumin karena Hasu menyukai mereka sebagai idola.
Nama situs ini FFn atau Fanfiction. Yang berarti, setiap cerita yang ada disini adalah fiksi atau bohongan, tidak nyata, hanya berasal dari imajinasi penulis saja.
Jadi, meskipun Sungmin telah menikah dengan Saeun, tapi bagiku, sebagai penggemar Kyumin, Sungmin masihlah single, tentu dalam imajinasi saja sebagai idola.
Dan ini bukan delusi atau mengelak dari kenyataan, tapi imajinasi. Setiap orang punya imajinasi kan?
Dalam kehidupan nyata, sebagai fans, Hasu sangat senang jika Sungmin memilih Saeun sebagai istrinya, Sungmin normal, Hasu tahu itu. Hasu berharap mereka hidup bahagia. Tapi, sebagai Kyumin Shipper, Hasu tetap menyukai Sungmin dengan Kyuhyun, dengan hubungan persaudaraan mereka.
Jadi, alasan mengapa Hasu tetap membuat ff Kyumin karena Hasu ingin hubungan akrab mereka yang manis akan selalu hidup selamanya dalam kenangan Joyers.
Pendapat Hasu, jika kau memang ingin membaca Kyumin fanfic, jangan bayangkan Sungmin dalam kehidupan nyatanya, tapi di kehidupan selebritinya sebagai idola. Hasu rasa kau bisa melakukannya karena aku bisa ^.^
Jangan terlalu difikirkan, ok?)
.
Itulah jawaban Hasu. Alasan para author yang lain mungkin berbeda, tapi intinya, kita sama2 menyayangi Kyuhyun dan Sungmin kan?
Oh,ya. Buat haters yang reviewnya selalu Hasu hapus, Hasu minta maaf. Sebagai gantinya, ini ada lagu untuk dirimu.
Hey Swag
Whatever you say
I'm here for my stories
Whatever my haters say
I'm real for my stories
(BTS – We on, RapMon part)
.
Jika tidak suka, buatlah cerita sendiri yang sesuai dengan keinginanmu, because this is my own style, oke?
Hasu terbuka dengan saran dan kritik yang membangun, tapi sampaikan dengan baik dan sopan bisa kan?
Dan terakhir, berdasarkan review dari Cho Kyuhyun, ehem, ide awal cerita "Blind Date?" ini emang murni dari novelnya, tapi jalan cerita di beberapa bagian tentu berbeda karena keadaan tokoh utamanya kan berbeda dengan di novel, dan inti ff ini juga berbeda dengan novelnya. Mungkin kedepannya akan sedikit beda dengan novel aslinya.
Ya, semoga kalian ga bingung nanti ya? ^.^
Thank you so much untuk semua reviewers dan yang telah memfavorit+memfollow ff ini nya. ^.^
Okelah, sekian saja karena Hasu harus balik kerja lagi sebelum ketahuan online di kantor :P
Keep Reading ^.^
Gomawo
.
.
RyeoTa Hasu
