Blind Date
by RyeoTa Hasu
(Original Story by AliaZalea)
Cast :
Lee Sung Min (27-28 y.o)
Cho Kyu Hyun (35 y.o)
Lee Hyuk Jae aka Eunhyuk (25 y.o) as Sungmin's younger brother
Park Jung Soo aka Leeteuk (26 y.o) Sungmin's Blind Date Agent
Kim Jung Mo (32 y.o) as Sungmin ex. Boyfriend
.
.
Disclaimer :
This original story is from Blind Date Novel by AliaZalea
Hasu hanya me-remake-nya dengan Kyumin sebagai main Cast dengan beberapa perubahan dan penyesuaian
Kyumin dan Cast lainnya milik Tuhan YME, Orang tua dan Agensi
Hasu hanya meminjam namanya untuk kepentingan cerita
.
Rate :
T
.
Warning :
Boy's Love / YAOI, OOC, MPREG, hurt/comfort, Typo menjamur
.
.
DON'T LIKE? DON'T READ!
MAKE IT SIMPLE
HAPPY READING ^.^
.
.
Chapter 7
o.o.o.o.o.o.o.
.
.
(Sungmin POV)
.
Aku terbangun karena mendengar nada dering dari ponselku yang tergeletak di meja nakas samping tempat tidurku. Tanpa melihat ke layarnya aku langsung menjawab panggilan itu.
"Yeoboseyo," ucapku dengan suara serak khas bangun tidur.
"Sungmin? Ah, mianhae karena telah mengganggu tidurmu. Aku hanya ingin menepati janjiku untuk menghubungimu jika aku telah tiba."
Begitu mendengar suara berat itu rasa kantukku seketika langsung hilang.
"Kyuhyun?! Ah, gwaenchana. Apa kau tadi terlambat?" tanyaku dengan khawatir karena dia terlambat setengah jam dari rencananya semula.
"Tidak, aku sampai tepat waktu," jawab Kyuhyun dengan nada tenang.
Samar-samar aku mendengar suara yang mengumumkan sesuatu melalui speaker. Sepertinya Kyuhyun masih ada di bandara.
"Apa kau mengebut saat mengemudi tadi?" tanyaku dengan nada khawatir yang tak ku sembunyikan.
"Ya... sedikit," jawabnya sambil terkekeh-kekeh. Aku yakin dia tengah menyeringai sekarang, kebiasaannya yang entah sangat ku sukai.
Mau tidak mau aku tertawa juga mendengarnya.
"Berhati-hatilah Kyuhyun," ujarku dengan suara setenang mungkin.
Kyuhyun tertawa.
"Tentu, sweety. Sampai bertemu di kencan kita hari minggu nanti. Berdandanlah yang cantik,oke?" ucapnya diikuti dengan tawa kecilnya yang berdenting merdu.
"Yak! Aku ini pria bukannya wanita. Setidaknya kau harus bilang, 'tetaplah terlihat tampan dan manis Sungmin', begitu!" seruku sedikit gemas.
Terdengar kembali suara tawanya yang renyah.
"Ne, ne. Sungminku yang tampan dan manis. Ah! Tidak sabar menunggu hari minggu nanti! Aku sudah merindukanmu, bagaimana ini..." ujarnya dengan nada yang manis yang sontak membuatku merona. Dadaku berdesir hangat.
"Araseo. Sampai bertemu hari minggu, Kyu! hati-hati!" jawabku dengan setengah berteriak.
Setelah itu, aku langsung memutuskan panggilannya.
Kuletakkan ponselku begitu saja di atas tempat tidur dan mengusap pipiku yang terasa panas, mencoba menenangkan diriku yang terkena efek kata-kata manisnya di telepon tadi.
Ugh... Cho Kyuhyun memang benar-benar...
Tiba-tiba ponselku berbunyi lagi. Kulirik nama yang tertera di layar. Eunhyukkie.
"Wae?" tanyaku to the point.
"Apa dia masih di apartemenmu, hyung? Atau..." terdengar nada ragu namun ingin tahu dari seberang telepon.
Dalam hati aku menggeram.
Dasar Lee Hyukjae. Ikan mesum.
"Dia sudah pergi, Lee Hyukjae. Tadi dia baru saja menghubungiku untuk memberitahuku bahwa dia sudah tiba di New York," jawabku dengan sedikit ketus.
"Ooo..." Meskipun hanya itu responnya, namun aku tahu dia menginginkan penjelasan yang lebih dariku.
Hah! Susahnya memiliki adik yang protektif!
"Jadi? Apa yang telah terjadi semalam?" desaknya tanpa basa-basi.
"Ya, kami tidur bersama," ucapku. "Maksudku, tidur dalam arti tidur yang sebenarnya, sleeping, di tempat tidurku," lanjutku buru-buru sebelum dia salah paham.
"Kau yakin hanya itu yang terjadi, hyung?" tanyanya dengan nada curiga yang mendesak.
Mau tidak mau aku pun menceritakan kejadian semalam, lengkap dengan ciuman pertama kami yang membara dan nyaris membuat Kyuhyun membatalkan kepergiannya serta membuatku mengingkari prinsipku sendiri.
"Oh... My... God," respon Eunhyukkie. "Kalian sudah sejauh itu? Daebak hyung! good job!"
Aku tidak tahu apa dia memuji atau justru menyindirku, tapi kurasa yang pertama karena berikutnya aku mendengar kekehan senangnya seperti saat mendapatkan kiriman uang bulanan dariku.
"Sepertinya Hyung dan Cho Kyuhyun itu sangat bersenang-senang ya! Ah! Mungkin aku akan mengurangi kunjunganku ke tempat Hyung untuk memberikan kalian privasi. Ehm, tapi jika kalian ingin membuatkanku keponakan, Minnie hyung harus memberitahuku sebelumnya agar aku bisa bersiap-siap untuk menjadi pamannya, ne?" Eunhyukkie lalu tertawa dengan leluconnya sendiri.
"Lee Hyuk Jae! Jangan sembarangan bicara! Kami belum akan sejauh itu kok!" seruku tegas. Enak saja bicara sembarangan. Memangnya aku murahan apa?!
Ugh! Aku jadi membayangkan yang tidak-tidak. Gara-gara si mesum anchovy!
"Hehe... Mianhae Hyung..." Eunhyuk terkekeh.
"Ehm, Eunhyukkie, kira-kira aku harus membuat apa untuk kencan kami hari minggu nanti?" tanyaku bingung. Aku memang yang mengusulkan ide ini, tetapi aku juga belum tahu akan membuat apa untuk kencan makan malam kami itu.
Tidak mungkin kan aku membuat makanan yang biasa-biasa saja. Ini adalah kencan pertama kami sebagai sepasang kekasih kan
BLUSH
Memikirkan status kami saja, selalu membuatku blushing parah. Kekasih...
"Kencan? Jadi kalian akan berkencan lagi hari minggu besok?" pertanyaan Eunhyukkie menyadarkanku dari aksi blushing-ku.
Akhirnya kami berbicara panjang-lebar tentang menu untuk kencanku nanti. Dan Eunhyukkie mengusulkan sebaiknya aku membuat makanan yang mudah tetapi enak agar kencan kami ini tidak terkesan terlalu formal.
"Oke, untuk masalah menu makanan sudah siap. Hah... untung saja kau menghubungiku, Hyukkie," ujarku lega. Adikku ini memang selalu bisa menjadi teman diskusiku, meskipun terkadang sarannya sedikit tak masuk akal.
"Tentu saja, Lee Hyuk Jae," jawabnya dengan nada congkak. "By the way, si Cho itu... dia sudah bisa dikategorikan sebagai HOT, kan?" pancing Eunhyuk dengan nada menggoda yang disengaja. Dasar! Bocah ini!
"VERY HOT," sahutku kemudian tertawa.
Aku lalu terdiam sesaat. Tiba-tiba saja sesuatu muncul suatu pemikiran di benakku.
"Mmm, Hyukkie..." ucapku ragu.
"Apa Hyung?"
"Eh, tidak ada apa-apa," elakku langsung. Tiba-tiba saja aku merasa ragu.
"Ada apa Lee Sungmin-ssi?" ujar Eunhyuk penuh penekanan, memaksaku untuk berkata jujur.
"Hhh... Aku bingung. Sekarang kan aku sudah berkencan dengan Kyuhyun, apa itu berarti... aku harus berhenti mengikuti kencan yang diadakan GBD?"
"Apa?! Tentu saja harus Hyung!" seru Eunhyukkie tegas. "Jika Hyung tetap berkencan, itu namanya selingkuh, SELINGKUH. Hyung tidak akan ada bedanya dengan si brengsek Kim itu!" lanjutnya berapi-api.
"Aku juga tak berniat untuk selingkuh, Lee Hyuk Jae! Aku hanya... rasanya sayang... aku kan sudah membayar uang pendaftaran yang tidak sedikit untuk kontrak setahun di GBD. Dua ribu dollar Eunyukkie. Coba kau kurs ke won. Dua Jutaan won Eunyukkie!" belaku tak kalah berapi-api. Uang yang ku dapatkan dengan kerja kerasku itu akan melayang sia-sia jika tak dimanfaatkan. Ugh! Ini gara-gara taruhan sialan itu!
Seperti dugaanku, Eunhyukkie tertawa keras.
"Sudahlah Hyung. Ikhlaskan saja uang itu. Lagipula, bukankah penggantinya sepadan, hyung? seorang pria se-perfect Cho Kyuhyun menjadi kekasihmu. Kau justru mendapatkan keuntungan yang berlebih kan, Hyung?"
Memang yang dikatakannya itu benar. Lagipula, aku terpaksa mendaftar ke GBD gara-gara kalah taruhan dengannya. Dapat atau tidaknya jodoh, aku sebenarnya tidak terlalu memikirkan itu.
Ya... tapi siapa yang menyangka aku bisa bertemu Kyuhyun, meskipun bukan lewat kencan GBD, tetapi kami bisa resmi berkencan berkat GBD juga, dengan akal cerdik Kyuhyun tentunya (dan kepolosan diriku).
" Sepertinya kau benar, Hyukkie. Semoga saja dia memang yang terbaik untukku."
.
.
Blind Date
.
.
Hari Sabtu berlalu lebih lambat daripada biasanya.
Tentu saja alasan utamanya adalah karena aku tidak sabar menunggu hari Minggu tiba.
Sesekali aku menyentuh bibir dengan jari-jariku untuk meyakinkan jika Kyuhyun memang telah menciumku pagi itu.
Aku mencoba mengingat-ingat "rasa"-nya di mulutku. Aku ingat napasnya beraroma citrus.
UGH!
Selama ini aku tidak pernah begitu terobsesi dengan siapa aku berciuman. Jadi, mengapa sekarang aku terobsesi oleh ciuman seorang Cho Kyuhyun?
Hah... itu mungkin karena aku terlalu terobsesi pada Kyuhyun sehingga segala sesuatu yang berhubungan dengannya membuatku seperti ini.
Micheoso... kau sudah gila Lee Sungmin!
Belum cukup sampai disitu, kegilaanku semakin menjadi ketika aku melangkah ke kamar mandi dan menemukan baju tidur Kyuhyun yang masih ada di gantungan baju. Handuknya tergantung di sebelah handukku, sikat gigi dan pisau cukurnya ada di atas wastafel, serta peralatan mandinya masih ada berdampingan dengan peralatan mandiku di samping bathtub.
Sepertinya karena terburu-buru Kyuhyun lupa jika dia telah meninggalkan barang-barang pribadinya di sini.
Seluruh kamar mandiku dipenuhi aroma Kyuhyun. Aroma yang membuatku betah berlama-lama di kamar mandi meski hanya sekedar merenung dan meresapi aromanya.
Ugh, aku benar-benar akan menjadi gila!
Buru-buru kuangkat pakaian kotornya serta menyambar handuknya dan membawanya ke luar kamar mandi untuk kemudian melemparkannya ke dalam keranjang baju kotor. Semua barang milik Kyuhyun itu harus dicuci secepatnya supaya bisa mencegahku menciuminya setiap saat.
Setelah aku bisa sedikit menenangkan diri, aku memutuskan untuk menghubungi Leeteuk-ssi. Aku membutuhkan penjelasan darinya mengenai Kyuhyun karena aku yakin dia memiliki peran penting dalam hubungan kami.
"Jadi, bagaimana Sungmin-ssi?" tanya Leeteuk-ssi langsung dengan nada antusias yang tidak disembunyikannya.
"It was good," jawabku setenang mungkin.
"Just good?" nadanya terdengar ragu.
"Oke, very good," balasku menyerah.
"Jadi?" todongnya meminta penjelasan lebih lanjut.
Tunggu, mengapa jadi dia yang menyudutkanku seperti ini?
"Sebenarnya Leeteuk-ssi, ku rasa ada yang harus kau jelaskan lebih dulu kepadaku, mengenai Cho Kyuhyun dan... kencan kemarin. Apa dia benar klien GBD? Sejak kapan? Apakah kau tahu jika dia mengenalku sehingga kau menjadikannya pasangan kencanku? Apakah kau kenalannya di GDB yang membantunya memberikan informasi pribadi mengenai diriku? Apakah,"
"Sungmin-ssi, perlahan, tolong... kau bisa meminta penjelasan dariku tetapi... tolong satu persatu. Kau menanyakan berbagai pertanyaan di saat yang bersamaan tanpa jeda, aku hampir tidak dapat menangkap apa saja pertanyaan yang kau ajukan itu. Maaf," Leeteuk-ssi memotong rentetan pertanyaan yang begitu saja keluar dari mulutku tanpa mampu ku tahan lagi.
Yah, aku memang membutuhkan penjelasan, dari sisi Leeteuk-ssi sebagai agenku tentunya. Sepengetahuanku, GBD menjamin kerahasiaan data pribadi kliennya, jadi ku rasa, ada unsur kepentingan pribadi yang terlibat disini, dan aku harus mengetahui semuanya.
Aku membutuhkan kepastian bahwa aku tidak menjadi korban permainan dari Kyuhyun ataupun GBD. Itu akan membantuku lebih mempercayai Kyuhyun.
"Baiklah. Jadi, aku menunggu penjelasanmu Leeteuk-ssi," ujarku memberinya kesempatan untuk menjelaskan.
Dan Leeteuk-ssi pun akhirnya menjelaskan bagaimana hubungannya dengan Kyuhyun.
Ternyata GBD adalah salah satu klien Kyuhyun yang menggunakan salah satu software database ciptaan Kyuhyun. Sedangkan Leeteuk-ssi adalah hoobae Kyuhyun di Universitasnya dulu. (a.n : ceritanya Leeteuk lebih muda dari Kyuhyun)
Hubungan mereka cukup akrab. Dan tentu saja, Leeteuk-ssi lah yang telah memberikan (baca: membocorkan) informasi mengenai semua aktivitas 'kencan' ku dengan semua klien GDB berikut hasil dari kencan itu.
Dengan kata lain, aku seperti dikhianati oleh agenku sendiri.
Oh my God! Kebaikan apa yang telah ku lakukan di kehidupanku yang dulu?
Aku menghela nafas keras berusaha menenangkan diri dengan semua informasi yang telah ku terima itu.
Oke, aku tak bisa menyalahkan Leeteuk-ssi begitu saja karena kenyataannya Kyuhyun-lah yang telah melibatkannya dalam 'urusan'nya.
"Baiklah, Leeteuk-ssi, aku mengerti. Tenang saja, aku tidak marah. Sebenarnya, aku justru berterima kasih atas kesediaanmu untuk ikut terlibat dalam rencana konyol 'pria' itu," ujarku dengan nada tenang.
Terdengar helaan nafas lega disana. Aku yakin dia merasa lega setelah tahu aku tak marah dan takkan menuntutnya atas tuduhan pelanggaran etika dan privasi.
Tentu jika hasilnya berbeda aku mungkin akan menuntutnya. Tetapi, karena ini adalah Cho Kyuhyun, dan kenyataannya aku juga tertarik pada pria itu, aku tak akan mempermasalahkan hal itu.
"By the way, Leeteuk-ssi, jika tidak keberatan aku ingin memberikan usulan mengenai restoran," ujarku mengalihkannya dari topik pembicaraan mengenaiku dan Kyuhyun.
Kemudian aku menceritakan pengalaman yang ku alami di restoran Perancis itu.
Leeteuk-ssi tak mampu menahan tawa gelinya mendengar komentarku tetapi kemudian dia memastikan GBD tidak akan menggunakan restoran itu untuk kencanku berikutnya.
"Berbicara tentang dating, date selanjutnya adalah di hari Jumat minggu depan. Namanya Park Yoochun-ssi, seorang composer dengan tinggi 178 sentimeter. Kalian akan bertemu di B. Christopher's Steakhouse di Burlington pukul tujuh malam. Bagaimana Sungmin-ssi?" tanya Leeteuk membicarakan kencanku berikutnya.
Oh, ya! Aku lupa! Aku harus mendiskusikannya mengenai kencanku berikutnya itu.
Sebelum aku kehilangan keberanianku, aku akhirnya berkata, "Leeteuk-ssi, apakah klien-klien GBD akan terus berkencan dengan orang lain meskipun mereka sudah menemukan orang yang tepat? Atau setidak-tidaknya mendekati orang yang mereka inginkan?"
Leeteuk-ssi terdiam sejenak sebelum menjawab.
"Setiap klien GBD memiliki keputusan yang berbeda-beda. Beberapa dari mereka akan terus dating dengan orang lain, tetapi ada juga yang memutuskan untuk berhenti. Mereka memilih untuk memanfaatkan waktu bersama orang yang tepat yang sudah mereka temukan."
"Menurutmu, mana yang lebih efektif? Maksudku, seberapa besar kemungkinannya mereka akhirnya akan menikah jika mereka membuat pilihan tersebut?"
"Kedua-duanya cukup efektif." Leeteuk-ssi terdengar ragu.
Aku tahu, mungkin dalam peraturan perusahaannya, GBD menetapkan para agen blind date tidak boleh memberikan pendapat yang akan menyebabkan klien mereka menjadi bias dalam situasi apa pun. Hal ini juga mungkin untuk mencegah adanya tuntutan hukum yang dilayangkan oleh klien yang frustrasi karena tidak berhasil mendapatkan pasangan yang ideal karena mengikuti nasihat agen mereka.
"Baiklah, aku akan bertanya bukan sebagai klienmu tetapi... sebagai seseorang yang mempercayaimu dan membutuhkan pendapatmu. Jadi, mana yang menurutmu lebih efektif... untukku?" akhirnya aku mengajukan pertanyaan itu juga.
Sebagai seseorang yang telah memiliki pengalaman yang cukup di bidang ini, ditambah lagi kenyataan bahwa dia telah menikah, aku yakin dia pasti memiliki pendapat yang bisa ku pertimbangkan dan ku percayai.
Aku mendengar Leeteuk-ssi menarik napas sebelum berkata, "jika kau menanyakan pendapatku secara pribadi mengenai... dirimu, aku yakin Kyuhyun-ssi adalah orang yang tepat untukmu, Sungmin-ssi. Jadi, sebaiknya kau berhenti mencari dan manfaatkanlah waktu yang kalian miliki untuk saling mengenal. Aku memang tidak terlalu mengenal Kyuhyun-ssi, tetapi sebagai salah seorang yang mengenalnya, aku yakinkan dia adalah pria yang baik dan bertanggung jawab. Dia sangat menghargai orang lain dan terutama keluarga dan orang-orang yang dekat dengannya. Dia bahkan menganggapku seperti adiknya sendiri. Kyuhyun-ssi bercerita jika kau telah bertemu dengan keluarganya saat tahun baru kemarin bukan? Ya, dia bercerita padaku tentang beberapa pertemuannya denganmu dan aku tak dapat menahan tawa saat melihat rona bahagia di wajahnya itu," Leeteuk-ssi menjeda sejenak penjelasannya.
"Dia sungguh-sungguh menyukaimu, Sungmin-ssi. Aku bisa melihatnya dari caranya menceritakan mengenai dirimu dan segala pertemuannya denganmu. Sebagai temannya, tentu aku mendukungnya karena aku juga tahu kau adalah pria yang baik. Itu adalah alasan mengapa aku bersedia membantunya untuk memberitahu semua kegiatanmu terkait GBD. Sama sekali tidak ada niat buruk apapun dariku, Sungmin-ssi. Percayalah, Kyuhyun adalah yang terbaik yang bisa ku temukan untukmu. Ini adalah intuisiku sebagai agen Blind Date."
Aku menutup mataku dan memohon kepada Tuhan agar perasaanku tentang Kyuhyun serta dugaan Leeteuk-ssi tidak meleset.
Sekarang yang harus aku lakukan adalah memastikan apakah Kyuhyun memang sosok pendamping yang terbaik untukku.
"Leeteuk-ssi, aku sudah memutuskan... mengenai kencan-kencanku di GBD..."
.
.
Blind Date
.
.
Hari Minggu pun tiba.
Aku sudah keluar rumah sebelum pukul sembilan pagi untuk membeli semua keperluan makan malam di Fresh Market. Aku memutuskan untuk membuat Samgyeopsal dan Kimchi jjigae. Sedangkan untuk penutupnya, aku akan membuat tiramisu. Aku beruntung karena Fresh Market di Wiston ini lengkap dengan semua bahan makanan yang dibutuhkan untuk menu masakan Korea.
Jujur saja, sepanjang hari aku tidak bisa berhenti tersenyum dan jantungku berdetak lebih cepat daripada biasanya. Beberapa kali aku harus menenangkan diri agar tidak terkena serangan jantung dan berusaha menahan senyumku agar tak terlalu terkembang. Orang-orang bisa mengira aku sudah gila.
Tapi sebenarnya aku tidak peduli. Aku hanya tahu bahwa selama 24 jam terakhir ini merupakan waktu paling membahagiakan dalam hidupku selama delapan bulan ini.
Ini semua karena pria tampan nan unik bernama Cho Kyuhyun.
.
.
Setelah merendam irisan pork belly dengan bumbu-bumbu kemudian menyimpannya dikulkas agar bumbu meresap, aku beralih untuk membuat Kimchi jjigae serta saus Samgyeopsalnya. Setelah itu aku membuat tiramisu cake.
Akhirnya, sekitar jam tiga siang semuanya telah siap. Jadi, begitu Kyuhyun datang nanti, aku hanya perlu menghangatkan Kimchi jjigae-nya dengan hotpot dan berkonsentrasi memanggang dagingnya.
Aku lalu membereskan apartemenku agar terlihat lebih rapi, termasuk kamarku, mungkin saja Kyuhyun akan kembali menginap disini. Setelah itu aku beralih mencuci semua tumpukan pakaian kotorku dan juga sprei serta bed cover, termasuk pakaian kotor dan handuk Kyuhyun.
Ketika semua urusanku dengan tumpukan cucianku selesai, terdengar nada dering ponselku. Aku langsung berlari ke meja ruang tv untuk mengambil ponselku. Aku melirik sekilas ke jam yang tergantung di ruang tv, pukul lima sore.
Tertera nama kontak 'Kyunnie' di layar ponselku.
"Kyuhyun?" Meskipun aku tahu itu adalah Kyuhyun, entah mengapa aku merasa harus memastikan jika benar dia yang menghubungiku.
"Tentu saja, the one and only Cho Kyuhyun in your live, Sungminie."
Suara berat namun seksinya terdengar dari seberang telepon memunculkan kembali rona di wajahku. Otomatis senyum lebar terkembang dari bibirku.
Aku tertawa kecil untuk menyembunyikan kegugupanku karena kata-kata manis penuh kenarsisan darinya itu.
"Apa kau sudah mendarat Kyu?" tanyaku dengan nada yang tenang, berusaha terdengar tidak terlalu antusias.
"Begitulah. Aku baru saja mendarat di Raleigh. Aku sedang menuju ke Winston sekarang. Satu setengah lagi mungkin aku akan tiba," ujarnya. "Apa kau ingin sesuatu? Wine? Softdrink? Atau yang lain?"
"Nothing. Just you," jawabku spontan.
Ups!
Aku baru saja akan meralat kata-kataku namun Kyuhyun mendahuluiku dengan berkata, "Aku senang mendengarnya. Baiklah tunggu aku, Minnie."
Kemudian dia langsung memutuskan panggilannya.
"OH MY GOD!" gerutuku. "Neo micheoso Lee Sungmin!" erangku.
Sepertinya mulai sekarang aku harus sungguh-sungguh memperhatikan kata-kata yang keluar dari mulutku jika aku sedang berbicara dengannya.
Sebaiknya aku bergegas mandi untuk mengembalikan kewarasanku.
.
.
Karena aku ingin kencan kami ini tidak terlalu formal, aku memutuskan untuk mengenakan jeans dan sweater pink berkerah v favoritku serta menata rambutku dengan acak, santai namun tetap terlihat rapi.
Setelah selesai bersiap-siap, aku menuju dapur untuk mempersiapkan makan malam.
Aku sedang mengeluarkan daging dari kulkas setelah selesai menata meja makan ketika terdengar bel pintu apartemenku berbunyi.
Tanpa melihat interkom aku langsung membuka pintu dan harus menahan napas ketika melihat Kyuhyun berdiri di depan pintu dengan smirk di wajah tampannya. Tubuhnya dibalut sweater abu-abu yang ditutupi mantel hitam. Dibalik sweaternya, terlihat kerah kemeja berwarna putih. Rambutnya acak-acakan, mungkin sengaja di tata seperti itu, terlihat keren dan seksi. Di tangannya terdapat sebotol wine yang ku perkirakan adalah wine mahal dilihat dari desain antik botolnya serta merek yang samar-samar terlihat olehku.
Oh! Dia berkali-kali lipat terlihat lebih tampan dari pertemuan terakhir kami. Aku tak yakin akan bisa bersikap normal malam ini.
"Sungmin?" suara berat Kyuhyun menyadarkanku dari sesi keterpanaanku akan penampilannya. Wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajahku dengan mata tajamnya yang mengarah tepat ke kedua mataku.
Dengan gugup aku menjauhkan memundurkan tubuhku untuk menciptakan jarak sekaligus gestur untuk mempersilakannya masuk.
Saat dia melewatiku, aku bisa mencium wangi cologne yang bercampur dengan aroma maskulin khas miliknya. Aroma yang sudah ku rindukan sejak kemarin.
Oh! Sadarlah Lee Sungmin! Jangan sampai aku bersikap memalukan di hadapannya.
Kyuhyun langsung menuju dapur setelah menaruh wine di atas meja makan. Aku mengikutinya ke dapur dan kembali berkutat pada pork belly yang akan ku panggang.
Kyuhyun datang tepat pada waktunya.
"Kau membuat Samgyeopsal?" tebaknya saat kembali ke dapur setelah sebelumnya pergi menggantungkan mantelnya di gantungan mantel di dekat pintu apartemen.
"Dan Kimchi Jjigae," tambahku. Aku menatapnya untuk melihat reaksinya setelah mengetahui jika aku membuat makanan favoritnya.
Berterima kasih kepada Leeteuk-ssi yang dengan baik hati memberitahuku beberapa hal yang diketahuinya tentang Kyuhyun.
"Jinjja? Oh Sungminnie, itu semua adalah makanan favoritku!" serunya sambil menghampiriku. Tangan kirinya meraih pinggangku kemudian tanpa ku duga dia memberikan kecupan di dahi serta kedua pipiku, sebelum berakhir di bibirku.
Hanya kecupan manis yang singkat namun sanggup membuatku membeku.
Dengan jarak sedekat ini membuat pikiranku kembali terobsesi pada tubuh seksinya itu. Membuatku semakin jatuh dalam pesonanya.
Ini tidak baik!
"Ehm, sebaiknya kau duduk saja Kyu. aku akan menyiapkan makan malam kita dengan cepat karena aku yakin kau pasti sangat lapar," ujarku berusaha tenang sambil perlahan melepaskan diri dari rangkulannya, meski kemudian aku merasakan kehilangan setelah jauh dari tubuhnya yang kekar dan hangat itu.
"Baiklah, aku tidak akan mengganggumu karena jujur saja aku memang lapar," jawabnya sambil melangkah menjauh kemudian duduk di salah satu kursi di meja makan yang menghadap langsung ke tempatku berdiri.
Aku melanjutkan niatku untuk memanggang dagingnya. Setelah menyiapkan panggangannya di atas kompor dan terlihat sudah panas, aku mulai memanggang dagingnya.
Sembari menunggu dagingnya matang, aku mengambil dua hotpot yang telah ku siapkan. Aku menuang Kimchi jjigae ke dalam hotpot-hotpot itu kemudian memanaskan hotpotnya di kompor yang tidak terpakai.
"Bagaimana dengan Training-nya?" tanyaku sambil mengawasi Kimchi Jjigae dan dagingnya. Selain itu, aku harus menjaga agar suasananya tidak menjadi hening karena itu akan menambah kegugupan yang sejak tadi ku rasakan.
"Tidak terlalu baik. Aku harus kembali ke sana akhir bulan ini."
"Jinjjayo? Memang ada masalah apa?" tanyaku penasaran. Kasihan sekali Kyuhyun, baru saja kembali tetapi harus kembali pergi.
Aku tak bisa membayangkan betapa melelahkan pekerjaannya itu.
"Yah... Para atasan di perusahaan-perusahaan itu ingin meng-upgrade sistem mereka, tetapi para pegawainya sepertinya kurang setuju. Mereka bersikeras untuk tetap menggunakan sistem yang lama. Padahal, sistem baru yang ku perkenalkan justru mempermudah pekerjaan mereka dan cara menggunakannya juga tidak sulit. Aku tak mengerti apa masalahnya," jelas Kyuhyun sambil mengacak-acak rambutnya yang memang sepertinya sengaja di tata acak-acakan membuatnya semakin berantakan dan terlihat semakin seksi.
Oke cukup, fokus Sungmin. Aku kembali memfokuskan diriku sebelum aku membuat daging-daging lezat itu hangus.
"Apakah para pegawainya rata-rata berusia diatas 40 sampai 50 tahun?" tanyaku lagi. Mungkin saja penyebabnya adalah faktor usia. Biasanya para pegawai yang telah berusia cukup tua mengalami kesulitan dalam beradaptasi terhadap sistem baru. Setidaknya itu yang pernah terjadi di kantorku.
"Tidak juga. Kebanyakan dari mereka masih berusia sekitar 30-an tahun. Mengapa?"
"Jika memang begitu, mungkin mereka hanya perlu waktu untuk menyesuaikan diri. Aku yakin pada akhirnya mereka akan menyukai sistem yang baru itu," ucapku sambil tersenyum untuk memberikan dukungan kepadanya.
"Tentu saja. Aku adalah Cho Kyuhyun. Aku pasti bisa meyakinkan mereka," ujarnya penuh percaya diri.
"Ya,ya. Kau pasti bisa. Aku percaya kau adalah Cho Kyuhyun," responku sambil mematikan kompor kemudian mengangkat hotpot-hotpot itu dan membawanya ke meja makan. Satu hotpot yang porsinya sengaja ku taruh lebih banyak ku letakkan di hadapan Kyuhyun sementara yang satunya di sebelahnya, bagianku.
Setelah itu aku kembali ke kompor untuk mengangkat daging dan menatanya di besar. Setelah semuanya siap, aku membawa piring besar berisi daging itu ke meja makan, berdampingan dengan selada, saus dan pendamping samgyeopsal lainnya.
Aku kembali ke dapur untuk mengambil dua gelas wine.
Setelah mengambil gelas wine yang sangat jarang ku pakai itu, aku kembali ke meja makan dan mengambil tempat duduk di sebelahnya.
"Hmm, aku bisa menebak rasanya hanya dengan aromanya ini. Mmm, pasti enak!" puji Kyuhyun sambil menghirup aroma daging panggang itu.
"Kau bisa memberikan penilaian setelah mencobanya Kyu."
Aku mengambil selembar daun selada kemudian menaruh daging yang telah ku celupkan saus ke dalam selada. Setelah membungkusnya, aku menyodorkannya pada Kyuhyun.
Kyuhyun menatap bergantian pada bungkusan selada dan diriku dengan wajah bingung.
"Wae?" tanyaku bingung.
Kyuhyun hanya menggeleng sambil tersenyum tipis sebelum kemudian menyambut bungkusan selada itu ke dalam mulutnya.
Sambil mengunyah dia memejamkan matanya, mungkin meresapi rasanya.
"Dagingnya... matang sempurna. Sausnya... enak," komennya sambil terus mengunyah. Tanpa mampu ditahan senyum lebar mengembang diwajahku, merasa senang dengan pujiannya.
Dia membuka matanya kemudian menatapku tajam, "semakin enak karena berasal dari suapan tanganmu yang penuh cinta, Sungminnie," lanjutnya diakhiri dengan kedipan genit.
UGH! Pria ini... kapan dia akan berhenti menggodaku?!
"Syukurlah jika kau menyukainya. Habiskan semuanya, ok?" ujarku sambil menyendok Kimcho Jjigaeku.
"Kau juga harus menerima suapanku, Sungmin. Ini adalah kencan kita kan?" saat aku menoleh Kyuhyun sudah menyodorkanku daging yang telah dibungkus selada karyanya.
Aku menatapnya curiga.
"Ayolah, Sungminnie, ini masakanmu sendiri kan? Mana mungkin aku akan meracunimu?" ujarnya memaksa.
Pada akhirnya aku menerima suapannya.
Aku terdiam.
Apa benar ini buatanku?
Sausnya, enak! Dagingnya, rasa bumbu dan matangnya sempurna.
Hmm... apa ini karena disuapi Kyuhyun ya? Rasanya berkali lipat lebih enak dari samgyeopsal yang biasa ku makan.
"Enak kan?" tanyanya sambil tersenyum.
Aku hanya mengangguk sambil mengunyah.
Kyuhyun tersenyum puas kemudian beralih mencicipi Kimchi Jjigae.
"Hmm, Sungminnie... kau adalah pria paling berbakat yang pernah ku temui selain Ryeowook hyung. Kau memiliki karir yang bagus, kau cantik dan manis, aroma tubuhmu menenangkan, dan masakanmu pun enak, sangat enak," pujinya sambil menatapku dalam. "Kau adalah pria terlezat yang pernah ada dalam hidupku, sungguh."
Pria terlezat?
Ugh! Bukan hanya aku yang gila, pria ini juga!
Aku kan manusia bukan makanan!
"Jangan bercanda Kyu. habiskan makananmu," elakku sambil tergesa membungkus daging kemudian memakannya dengan semangat untuk menyembunyikan rona merah yang belakangan ini setia untuk berada di wajahku.
Aku tahu dia tengah menyeringai puas sekarang karena kembali berhasil menggodaku.
Akhirnya kami menghabiskan makan malam kami dengan saling menyuapi daging dan Kimchi Jjigae.
Setengah jam kemudian makanan di meja makan habis tak tersisa.
"Mmh, setiap aku memakan semua makanan yang kau masak rasa kenyang yang ku rasakan terasa begitu puas dan memberikanku kebahagiaan. Apa karena kau memasaknya dengan hati?" komentarnya sambil menuangkan wine di masing-masing gelas. Disodorkannya satu gelas ke arahku.
Aku tertawa mendengar gombalannya itu.
"Yang jelas aku memasaknya dengan api kompor, Kyu. Hatiku bukan bara api yang bisa mematangkan makanan," elakku berusaha tak terpengaruh rayuan gombalnya itu.
Kyuhyun terkekeh. Kami bersulang dan meneguk wine masing-masing.
Hmm, benar dugaanku. Rasa wine ini begitu khas dan nikmat, hanya wine berusia tua yang berharga mahal yang memiliki rasa se-perfect ini.
"Wine yang enak, apa ini mahal Kyu?" tanyaku penasaran.
"Tidak juga. Ini hadiah dari klienku. Wine 1938," jawabnya acuh sambil kembali menyesap winenya.
1938? Itu kan mahal! Semakin tua wine-nya, semakin mahal harganya. Koleksiku saja yang paling mahal hanya ada dari tahun 1995-an.
Baik sekali klien-nya itu?!
"Mau makanan penutup?" tanyaku sambil berjalan menuju kulkas untuk mengeluarkan tiramisu.
"Itu apa?" tanyanya ingin tahu sambil memandang tiramisu yang ada di tanganku.
"Tiramisu."
"Tiramisu? Handmade?" tanyanya tak percaya.
"Ya. tadi siang aku membuatnya. Semoga saja rasanya enak," ujarku tak terlalu yakin. Aku memang bisa membuat beberapa macam kue, tapi aku tak yakin ini sesuai dengan seleranya.
"Oh, Lee Sungmin. Apa kau berniat membuatku semakin jatuh cinta padamu? Kau bisa dalam segala hal, kau ugh..." Dia kemudian menatapku seolah-olah diriku adalah pemberian Tuhan yang paling sempurna untuknya.
Aku hanya tertawa sambil berjalan ke ruang tv untuk menyembunyikan rona merah diwajahku yang sepertinya akan permanen ada disana. Kyuhyun tak henti-hentinya melakukan dan mengatakan hal-hal yang membuatku merona. Ulahnya itu bisa membuatku mati mendadak karena serangan jantung akibat terlalu sering merona dan debaran jantung yang begitu cepat.
"Kita makan di ruang tv saja. Kau bawa wine-nya oke?" ujarku tanpa menoleh padanya.
Ku dengar langkahnya yang mengikutiku ke ruang tv.
Ku letakkan loyang tiramisu berukuran 25 serta dua piring kecil dan dua sendok kue di atas meja di ruang tv kemudian duduk di sofa. Tanganku sudah menggenggam pisau kue.
Kyuhyun menaruh botol wine serta dua gelas wine kami di atas meja, berdampingan dengan kue lalu mengambil tempat tepat disebelahku. Jarak kami yang kembali berdekatan berhasil membuat jantungku kembali berdetak kencang, padahal tadi sudah berhasil ku tenangkan. Aroma tubuhnya yang tertangkap penciumanku merasuk dalam.
Aku mengeleng-gelengkan kepala untuk menyadarkan diri.
Aku memotong tiramisu itu dalam ukuran sedang untuk Kyuhyun, satu yang pasti ku tahu tentang Kyuhyun, selain kecintaannya pada game, selera makannya sangat besar, bahkan meskipun baru saja memakan hidangan utama dalam porsi besar. Untung saja tubuhnya tidak gemuk namun berisi dengan ukuran yang proporsional, sesuai dengan tubuh tingginya, membuatnya menjadi seksi.
Sedangkan untukku, aku memotong dalam ukuran kecil, bukan bermaksud jaga image, tapi aku memang biasa memakannya dalam potongan kecil, jika memang kurang baru aku akan kembali mengambil dengan potongan yang lebih besar.
Ku berikan bagian Kyuhyun padanya, yang diterimanya dengan senang hati.
Dia menyendok tiramisunya dengan suapan besar dan memakannya dengan semangat.
"Hmm, sempurna. Tidak terlalu manis, namun lembut dan..." dia menatapku menggoda, "manis sepertimu, Sungmin."
Aku hanya tertawa mendengarnya.
Aku memakan tiramisuku dengan suapan besar, mengikutinya.
"Mmh, enak!" seruku sambil tersenyum senang. Ini memang pas, lembut dan tidak terlalu manis, pas rasanya.
Jemari Kyuhyun tiba-tiba saja meraih daguku, membuatku menghadapnya. Wajahnya mendekat. "Ada cream di sana," ucapnya sebelum kemudian mencium sudut bibirku, mengambil cream yang tertinggal di sana.
Aku hanya terdiam dengan mata terbelalak.
Dia menjauhkan wajahnya dan menghadiahiku smirk tampannya.
OH! Apa yang baru saja terjadi?!
Jujur saja, apa yang baru saja dia lakukan itu merupakan hal paling romantis dan seksi yang pernah dilakukan seseorang terhadapku.
"Ehm, gomawo," ucapku pelan. Aku mengalihkan wajahku dan beralih menenggelamkan diriku dalam tiramisuku. Aku memakan tiramisuku dalam diam.
Ku dengar kekehan kecil darinya. Sialan! Cho Kyuhyun mesum!
"Ehm, jadi, apakah... kau berencana menginap di sini atau kau akan langsung pulang ke Wilmington?"
"Ya, tergantung..." ujarnya ambigu.
"Tergantung apa?" tanyaku bingung sambil menoleh padanya.
"Apakah kau bisa berjanji tidak akan mengambil semua selimutnya?" ujarnya. Wajah Kyuhyun terlihat serius sampai kedua alisnya terangkat.
"Selimut? Apa waktu itu..."
"Ya, kau mengambil semua selimutnya hingga aku kedinginan. Untung saja aku tidak sakit," sambungnya langsung dengan sok bijak.
Aku tertawa melihat tingkahnya itu.
"Oke, aku berjanji tidak akan mengambil semua selimutnya," ucapku sambil menyilangkan tanganku di dada.
"Oke, jadi... aku akan menginap di sini malam ini."
Aku mengangguk, untunglah tadi aku telah mengganti sprei dan bed cover serta merapikan kamarku.
"Mm, Kyu," ujarku tiba-tiba, tanpa menatapnya. Sebenarnya aku merasa agak canggung menanyakan pertanyaan yang sempat membuatku penasaran, tetapi akhirnya aku memberanikan diri karena sangat penasaran.
"Wae?" Aku bisa merasakan bahwa dia sedang menatapku, tetapi aku menolak membalas tatapan itu dan memfokuskan perhatian pada tiramisu-ku yang tinggal sedikit.
"Errr... aku hanya penasaran. Sebenarnya waktu itu... waktu kau menginap di sini... kau tengah bermimpi apa?"
Akhirnya aku tanyakan juga. Aku memang sangat penasaran. Sebenarnya, mimpi apa yang menyebabkan Kyuhyun menyebutkan namaku di dalam tidurnya?
"..."
Kyuhyun diam, tidak memberikan jawaban apapun padaku.
Akhirnya aku putuskan untuk menatap wajahnya.
Aku tidak salah lihat? Wajahnya merona?
"Pipimu... kau merona?!" tanyaku tercekat.
"Apa?! Tidak!" elak Kyuhyun, nadanya terdengar sedikit tajam. Dia mengalihkan wajahnya, namun percuma karena aku telah melihatnya.
Dia sungguh merona?! Kenapa?
"Jangan bohong. Tuh, wajahmu malah semakin merona," tuduhku sambil menunjuk wajahnya.
"Aku tidak merona!" elaknya keras.
Dia makin merona! Apa jangan-jangan...
"Apa kau... memimpikan aku?" tebakku dengan nada tak percaya. Dalam hati aku hara-harap cemas menunggu jawabannya.
"..." Dia hanya diam.
"Kau bahkan mengigau dengan menyebut namaku. Berkali-kali."
Aku mendengarnya menggeram.
Dia menutup mulutnya rapat-rapat. Dari gerakan mulutnya aku tahu dia sedang menggigit-gigit bagian dalam bibirnya. Dia kelihatan sangat bersalah.
"Kau bahkan menarikku ke pelukanmu dan tidak melepaskanku," lanjutku terus menyerangnya.
"Benarkah?!" serunya berteriak terkejut sambil menatapku.
"Ya. Meskipun aku telah mencoba melepaskan diri beberapa kali, tetapi kau justru mengeratkan pelukanmu. Dan setelah aku kelelahan berusaha melepaskan diri darimu, akhirnya aku ketiduran, di dalam pelukanmu."
Kyuhyun menatapku dengan mata terbelalak. Melihat reaksinya, aku curiga dia sudah salah paham.
"Asal kau tahu saja, aku bukan tipe yang mencari kesempatan dalam kesempitan jadi..."
"Aku tahu, aku tahu," potongnya. "Awalnya aku sempat bingung karena saat terbangun kau berada di atas tubuhku, dan aku memeluk tubuhmu. Tetapi pada akhirnya aku berfikir, mungkin saja saat kau tengah tertidur di sampingku, aku mengigau kemudian menarikmu dalam pelukanku. Makanya, aku langsung bangun dan membenarkan posisimu karena takut kau salah paham. Tetapi ternyata... itulah yang terjadi. Aku memang mengigau dan... memang aku yang menarikmu, dan ternyata kau mengetahuinya. Mm, maaf..." lanjutnya.
Oh, dia salah tingkah! Lucunya!
"Ehm, jadi? Apa benar kau..."
"Ya. Aku memang... memimpikanmu," jawabnya sambil mengalihkan wajahnya seolah malu.
Memang apa yang terjadi dalam mimpinya? Apa sesuatu yang memalukan?
"Oh, ya? Memang, mimpi yang seperti apa?" tanyaku lagi. Jujur, aku jadi semakin penasaran, mengapa dia harus malu mengakui jika dia bermimpi tentangku.
"Ya... ada banyak hal," balasnya datar.
"Contohnya?" desakku.
"Ugh, bisakah kita tidak membahas tentang ini lagi? Aku lelah! Perjalanan yang sangat melelahkan, dan sekarang aku mengantuk," ujarnya mengalihkan pembicaraan.
Hah, tampaknya aku memang harus menyerah untuk mendapatkan penjelasan. Aku juga kasihan padanya, terlebih dengan wajah lelah dan mengantuknya itu.
"Oke, baiklah. Jadi, jam berapa kau harus pergi besok?" tanyaku mengganti topik.
"Jam berapa kau akan berangkat kerja?" Kyuhyun terlihat mengembuskan napas lega dengan pergantian topik ini. Dia menaruh piringnya yang telah kosong di meja kemudian merenggangkan lengannya hingga melampaui tubuhku.
"Setengah delapan pagi, kenapa?" tanyaku balik.
"Baiklah, besok kita berangkat bersama," ujarnya pasti sambil merangkulkan lengannya di bahuku, menarikku lebih dekat padanya. Kemudian dia menyenderkan kepalanya di atas kepalaku, otomatis kepalaku bersender ke tubuhnya.
Meskipun bisa menolak, namun pada akhirnya aku memutuskan untuk menyamankan diri dalam pelukannya itu.
"Apa kau mau tiramisu lagi?" tanyaku.
"Emm, emm," gumamnya sambil menggelengkan kepalanya. "Aku maunya dirimu," bisiknya serak.
Ehm. Aku yakin dia memang sudah kelelahan karena dia jadi berbicara yang tidak-tidak. Membuatku membayangkan yang iya-iya saja.
"Sepertinya kau sudah sangat lelah, Kyu. Lebih baik kau istirahat saja. Jika kau mau mandi, handukmu ada di kamar mandi, sudah ku cuci bersih. Piyamamu juga ada, di gantungan dekat bathrobe, sudah ku cuci juga. Peralatan mandimu juga masih lengkap di kamar mandi," ujarku sambil melepaskan diri darinya.
Kemudian aku berdiri sambil mengambil sisa tiramisu serta piring-piring kotor untuk ku bawa ke dapur.
Kyuhyun masih terduduk diam di sofa ruang tv saat aku kembali dari dapur.
"Kenapa hanya disitu? Sana kau mandi, lalu istirahat. Lihat, wajahmu kusut seperti itu," ujarku sambil menariknya agar berdiri. "Ayo."
Kami pun berjalan bersama menuju kamar tidurku sambil bergandengan tangan.
Kulepaskan genggaman tangan kami ketika kami masuk kekamar tidur.
"Jja, mandi sana. Aku akan membereskan dapur dulu. Setelah itu aku akan menyusulmu untuk tidur." Aku mendorongnya ke arah kamar mandi. Kyuhyun hanya menurut saja.
"Apa kau akan tidur bersamaku?" tanyanya sambil meraih wajahku dengan tangan kekarnya dan menatapku dalam.
"Memang aku akan tidur dimana lagi?" tanyaku retoris sambil memutar mataku bosan. Kyuhyun tersenyum sebelum mendekatkan wajahnya dan mengecup kening, hidung dan berakhir dengan kecupan manis di bibirku.
"Aku akan menunggumu, Min," bisiknya tepat di wajahku. Hembusan nafas hangatnya menggeleyarkan syaraf-syaraf tubuhku.
Sebelum aku menjadi semakin gila, aku harus menjauh darinya walau hanya sesaat.
"Sudah sana mandi," ucapku sambil menjauh darinya kemudian melangkah ke luar kamar tidur.
Di dapur, aku langsung menghirup nafas panjang untuk menenangkan debaran jantungku. Berada di dekat Kyuhyun akan membuat kerja jantungku menjadi maksimal. Ini tidak baik.
Aku akui aku memang menyukainya. Siapa yang tidak menyukai pria sepertinya?
Tetapi... debaran ini, perasaan hangat ini, salah tingkah ini...
Apa mungkin... aku jatuh cinta padanya? Secepat ini?
.
.
Blind Date
.
.
Setelah hari itu, secara tidak resmi Kyuhyun mulai tinggal di apartemenku jika dia tengah berada di Winston.
Setelah menghabiskan banyak waktu dengannya, aku mulai menyadari perasaanku padanya.
Kini aku yakin, aku memang telah mencintainya.
Namun aku belum berani untuk mengatakan perasaanku padanya, meskipun dalam setiap kesempatan ketika kami bertemu, dia tak henti-hentinya mengungkapkan perasaannya, betapa dia mencintaiku. Bahkan di sela-sela godaan dan rayuannya, tak henti-hentinya dia menyelipkan ungkapan cintanya padaku.
Bukannya aku ragu, tetapi... aku takut. Aku takut jika perasaanku ini belum sedalam perasaannya padaku. Aku takut perasaan kami belum setimpal.
Dan tiba-tiba saja, ketika kami sedang bersantai dengan aku dalam pelukannya di sofa ruang tv di apartemenku, Kyuhyun membuat kejutan dengan memintaku menghabiskan akhir pekan bersamanya di Wilmington untuk merayakan ulang tahunnya yang akan jatuh pada tanggal 3 Februari nanti. Dia bahkan rela datang menjemputku pada Jumat malam dan akan mengantarku pulang pada Minggu sorenya.
Ketika kutanyakan alasan dari ajakannya itu, dia hanya menjawab, "kita sudah cukup lama saling mengenal, Sungminnie. Aku cukup mengetahui segala sesuatunya tentang dirimu. Bahkan hampir setiap saat ketika di Winston aku menginap di apartemenmu ini. Aku juga sudah mengenalkanmu dengan keluargaku, jadi... sekarang aku ingin kau melihat rumah dimana aku tinggal selama ini. Lagipula, akhir pekan nanti adalah hari ulang tahunku, aku ingin melaluinya dengan orang yang spesial dalam hidupku, yaitu kau Sungminnie."
Coba, dengan penjelasannya itu, bagaimana mungkin aku bisa menolak?
"Ehm tapi Kyu..."
"Apa kau takut? Kau takut aku akan khilaf dan menyerangmu?" tebaknya langsung.
"Bukan begitu, tapi..."aku bingung bagaimana harus menjelaskan keraguanku ini. Bukan aku tak mempercayainya tapi... aku justru tak mempercayai diriku sendiri.
Bersama dengan pria seperti Kyuhyun... yang membuatku terobsesi selama berhari-hari... aku tak yakin akan sanggup mempertahankan prinsipku itu. Aku takut akan tergoda olehnya.
"Jujur saja Sungminnie, apa kau ingin tahu apa yang aku mimpikan pada malam ketika aku menginap disini dan menyebut namamu waktu itu?" tanyanya. Entah mengapa, tiba-tiba saja Kyuhyun mengatakan itu. Jujur, aku hampir saja melupakan hal itu.
Meskipun bingung namun aku memutuskan untuk mengangguk karena memang masih penasaran.
"We were having sex,"ujarnya pelan. "Great sex," sambungnya.
Oh, oh... APA?!
Ketika aku masih juga tidak bereaksi, Kyuhyun melanjutkan ucapannya.
"Aku tidak tahu mengapa aku bisa bermimpi seperti itu. Itu... itu terjadi begitu saja. Dan apa kau tahu? Perasaanku semakin campur aduk ketika aku terbangun disaat aku hampir mencapai puncak kegiatan itu, dan aku menemukan dirimu dalam pelukanku dengan milikku yang mengeras menyentuh butt seksimu itu. Rasanya aku hampir gila! Aku nyaris menerkam dirimu jika saja kesadaran tidak segera menghampiriku."
Aku menarik napas terkejut, dan harus menutup mulutku dengan tangan.
Aku refleks beringsut menjauh darinya.
Aku menatapnya lekat, mencari jejak kebohongan dimatanya.
Tidak, dia berkata jujur. Dia tidak membohongiku.
Ugh!
Sebenarnya, aku tahu bahwa sangat wajar bagi pria dewasa seperti kami ketika bangun tidur junior kami akan dalam keadaan tegang, tetapi... jika pada kenyataan yang dialami Kyuhyun... itu... penyebabnya adalah diriku... dia terangsang karena aku...
Apa yang harus ku lakukan?
Aku ingat apa yang Kyuhyun katakan pagi itu ketika dia menghentikan sesi intim kami. Dia berusaha keras menahan dirinya karena takut memaksakan kehendaknya padaku. Dia menghargai diriku, menghargai prinsipku.
"Coba kau pikirkan, apa selama ini aku melakukan hal yang tidak kau inginkan? Apa aku terlihat mencoba menyerangmu? Mencoba melecehkan dirimu? Tidak kan? Selama ini, aku selalu menghargai prinsipmu. Karena aku tulus mencintaimu. Aku bukan pria brengsek yang hanya menjalin hubungan karena mengharapkan seks dengan pasangannya. Bagiku, seks adalah pelengkap, yang terpenting adalah... perasaan yang kita miliki di dalam hati kita. Aku mencintaimu, dan... aku berharap kau juga mencintaiku, Sungminnie." Kyuhyun menggenggam wajahku di antara kedua telapak tangannya dan menatapku dalam.
"Aku mencintaimu dan menghargai semua prinsipmu itu. Aku takkan memaksamu, Sungminnie. Aku takkan melakukan apapun yang tidak kau inginkan."
Aku menelan ludah.
Yah, memang. Selama hubungan kami ini, dia tidak mencoba mencuri-curi kesempatan untuk melakukan yang tidak-tidak padaku.
Kami hanya berciuman, ehm, sedikit bercumbu, tapi hanya sebatas itu. Tidak sampai menyentuh bagian-bagian yang bersifat pribadi dari diri masing-masing.
Kami saling menahan diri. Lebih tepatnya mungkin, dia yang berusaha keras menahan dirinya.
Ugh! Aku jadi merasa bersalah padanya.
Kyuhyun melepaskan genggamannya pada wajahku kemudian menyandarkan tubuhnya pada bantal sofa.
Kami terdiam dalam pikiran kami masing-masing.
Kemudian aku melihat dia mengernyitkan keningnya.
"Sungminnie," panggilnya pelan.
"Ne? Wae geurae, Kyu?"
Dia kembali terdiam. Dia masih mengernyitkan keningnya.
Aku tahu dia ingin menanyakan sesuatu kepadaku, tetapi tidak tahu bagaimana cara mengungkapkannya.
"Ada Apa Kyu? apa aku ingin menanyakan sesuatu?" tanyaku.
"Hmm..."
"Cho Kyuhyun?" panggilku mendesaknya.
Dia menghela nafas keras, kemudian menghadap kearahku sebelum melontarkan pertanyaannya.
"Keputusanmu untuk tidak melakukan seks sebelum kau menikah, apa alasanmu sebenarnya, Sungminnie? Kau adalah pria, tetapi..." Kyuhyun tidak bisa menyelesaikan pertanyaannya.
Ini bukan yang pertama kalinya aku harus menjelaskan prinsipku. Jungmo dulu juga pernah mengajukan pertanyaan yang sama.
Aku menarik napas panjang sebelum memulai penjelasanku.
"Bagiku, "lanjutku, "hubungan seksual di luar pernikahan tidak bisa memberikan jaminan apapun terhadap hakku. Terutama karena sebenarnya... aku adalah seorang Male pregnant, itu berarti aku tidak ada bedanya dengan kaum wanita. Aku bisa hamil dan melahirkan, meski harus melalui operasi caesar. Jadi, resiko yang ku hadapi sama dengan resiko yang dihadapi para wanita itu. Eommamu dan Hyung-mu juga seorang Male Pregnant, kan? Jadi kurasa kau bisa mengerti penjelasanku. Belum lagi dengan adanya penyakit yang bisa menular melalui seks bebas itu, HIV/AIDS misalnya. Lagipula, meskipun sebenarnya dulu Jungmo pernah berdalih bahwa kami bisa menggunakan alat kontrasepsi, misalnya kondom, atau aku meminum pil KB, tetapi... entah mengapa aku tetap merasa tidak yakin dan merasa bahwa melakukan hal itu adalah salah. Tetapi yang jelas, yang sebenarnya adalah... aku ingin memberikan diriku, tubuhku, pada orang yang ku anggap tepat untuk diriku. Pria yang aku yakini akan menjadi soulmateku. Pasangan sejatiku. Aku hanya... berusaha untuk menghargai diriku sendiri."
Kyuhyun mendengarkan penjelasanku dengan seksama. Dia memandangku dengan teduh dan penuh pengertian.
Uh! Dia memang sungguh telah membuatku jatuh hati padanya. Sikap gentle-nya itu...
Berbeda dengan Jungmo, dia mengatakan semuanya di depanku tanpa sungkan. Dan aku menghargai kejujurannya itu.
"Aku mengerti, Sungminnie... terima kasih telah bersedia menjelaskannya padaku."
Dia mendekatkan diri ke arahku dan meraihku kembali dalam pelukannya.
"Aku juga. Terima kasih karena mau mengerti diriku," balasku sambil menyamankan diri dalam pelukannya.
"Hm, by the way, jujur saja ya Sungmin-ah, apakah kau... tidak pernah merasa penasaran tentang seks? Apa kau benar-benar belum pernah... maksudku, sebagai manusia normal yang memiliki kebutuhan seksual, terutama diusiamu yang sudah matang dan dewasa, pasti ada kalanya kau merasakan gejolak seksual dan ingin melampiaskannya bukan? Apalagi kita adalah pria yang biasanya memiliki hormon seksual lebih riskan daripada wanita," ujarnya dengan nada ingin tahu yang tak disembunyikannya.
Aku tertawa mendengar ucapannya yang blak-blakan itu. Cho Kyuhyun memang pria sopan namun sedikit blak-blakan. Tapi itu lebih baik dibandingkan dia menahan semuanya dalam pikirannya dan berspekulasi yang tidak-tidak tentangku, seperti yang dilakukan Jungmo.
"Tentu saja bohong jika aku berkata tidak pernah memikirkan hal tentang seks seumur hidupku ini. Aku juga manusia normal yang memiliki hormon seksual dan butuh pelampiasan. Tetapi, ada banyak cara untuk menjawab rasa penasaran dan melampiaskannya."
"Misalnya?" tanyanya lagi. Kali ini dia menatapku dengan pandangan menuduhnya yang menggelikan.
"Apa kau serius bertanya hal ini, Kyu?" tanyaku sambil membelalakan mataku dan menatapnya malas.
Oh, come on, pembicaraan macam apa ini?!
"Ya, aku serius. Aku ingin tahu, Lee Sungmin. Jujur saja, aku pernah melakukan seks meski hanya beberapa kali saja. Lebih tepatnya, aku telah kehilangan keperjakaanku ketika berumur sembilan belas tahun dengan seorang wanita. Sebenarnya hal itu tidak sengaja karena saat itu aku mabuk. Dia seorang senior di kampusku yang terobsesi padaku namun aku sama sekali tak tertarik padanya karena aku hanya berfokus pada kuliahku saja. Kemudian dia menjebakku, membuatku mabuk dan akhirnya... terjadilah hal itu. Untung saja dia tidak hamil karena ternyata dia sempat mengenakan kondom padaku. Dan sejak kejadian itu, aku tak pernah berani memulai hubungan dengan siapapun, baik wanita maupun pria. Dan kemudian, pada akhirnya aku sadar jika ternyata aku ini gay saat entah bagaimana aku tertarik pada salah satu klienku dari Kanada, seorang pria yang memiliki wajah manis dan tubuh mungil. Kami pun menjalin hubungan, dan bisa dibilang dia adalah pengalaman seks pertamaku dengan pria. Namun hubungan kami tidak bertahan lama, karena setelah sebulan berhubungan, akhirnya kami memutuskan untuk berpisah."
"Mengapa hanya sebulan?" tanyaku penasaran.
"Dia memutuskan untuk kembali ke Korea. Dan aku tak pernah bertemu dengannya lagi setelah itu. Aku tak tahu dimana tempat asalnya di Korea. Jika dipikir-pikir, aku hampir tak mengetahui apapun tentangnya selain nama dan pekerjaannya." Kyuhyun tersenyum ketika menjawab pertanyaanku. "Oke, kembali pada pertanyaanku. Karena aku sudah menjawab pertanyaanmu, giliranmu menjawab pertanyaanku," tuntutnya.
Aku menghela nafas, menyerah.
"Tentu kau tahu mengenai blue film dan masturbasi kan?" tanyaku retoris.
Kyuhyun menatapku tidak percaya.
"Hanya itu? Hanya itu pengalamanmu tentang seks?" tanyanya memastikan.
Aku mengangguk malas. Memang ada apa dengan hal itu?
"Well... sejujurnya aku merasa lega dan... bersyukur. Jika memang kau yakin dengan diriku dan kita akan menikah nantinya... aku akan menjadi yang pertama untukmu. Itu suatu kebanggaan untukku. Dan sebenarnya aku jadi merasa bersalah karena kau bukan yang pertama untukku. Tapi aku pastikan, kau adalah yang terakhir Sungmin. Aku adalah tipe setia. Lagipula, hanya dengan dirimu aku akan merasa kenyang."
Aku sontak tertawa keras mendengar ucapannya itu.
Awalnya kami hanya berbicara mengenai alasannya mengundangku ke rumahnya, lalu tentang mimpinya, lalu tentang prinsipku. Dan tiba-tiba saja, kami jadi berbicara yang bukan-bukan.
Awalnya Kyuhyun menatapku bingung karena aku tertawa. Namun akhirnya dia ikut tertawa bersamaku.
Aku kembali menyamankan diriku dalam pelukannya.
Kyuhyun mempererat pelukaannya dan mencium keningku.
"Kyu," panggilku.
"Hmm?" gumamnya sambil menyurukkan wajahnya di helaian rambutku.
"Baiklah, aku akan pergi. Aku mau pergi ke Wilmington, ke rumahmu," jawabku mantap.
Aku bisa merasakan Kyuhyun yang mengembuskan napas lega.
Semoga ini keputusan yang tepat.
.
(Sungmin POV END)
.
TBC
.
.
Finally, I can come back here...
I MISS YOU SO MUCH ALL READERS! #kecupsatusatu
Berapa lama ya? yang pasti lama banget ya?! #itunyadar
I'm so sorry. Hasu minta maaf karena menghilang cukup lama, bahkan ada yang nge-review Innalillahi ngira Hasu wafat (jangan dulu dong, dosa masih banyak!)
Alhamdulillah, Hasu sehat wal afiat.
Hanya ya... biasalah... urusan pribadi.
Ternyata membutuhkan waktu lebih lama dari seharusnya. #AUDITohAUDIT
Dan jujur aja Hasu sedih pas baca review2 kalian di ff Hasu.
Ya, mau gimana lagi, pekerjaan harus diutamakan. Kalau ga, mau makan apa? T.T
Tapi semua udah beres kok. (Mudah2an)
Sengaja update ff ini dulu karena ga terlalu sulit ngedit2nya.
U/ Too Far, tinggal 20% lagi, karena konfliknya akan di se-sederhanakan jadi sedikit banyak akan beda dari novelnya.
Jadi, mohon doanya aja, ya.
Hasu update ini jam 2 pagi setelah bikin laporan Audit, jadi kalau ada typo, maaf, otak udah ga sinkron. %)
Sekian aja deh, Hasu ngantuk.
Happy 71th Indonesia's Independence Day ^.^ #TELAT
Saengil Chukkae juga Kim Kibum, our Snow white (Maaf telat)
Last,
Keep Reading ^.^
Gomawo
Ryeota Hasu
