BLIND DATE?

by RyeoTa Hasu

(Original Story by AliaZalea)

Cast :

Lee Sung Min (28 y.o)

Cho Kyu Hyun (35 y.o)

Lee Hyuk Jae aka Eunhyuk (25 y.o) as Sungmin's younger brother

Park Jung Soo aka Leeteuk (26 y.o) Sungmin's Blind Date Agent

Kim Jung Mo (32 y.o) as Sungmin ex. Boyfriend

.

Disclaimer :

This original story is from Blind Date Novel by AliaZalea

Hasu hanya me-remake-nya dengan Kyumin sebagai main Cast dengan beberapa perubahan dan penyesuaian

Kyumin dan Cast lainnya milik Tuhan YME, Orang tua dan Agensi

Hasu hanya meminjam namanya untuk kepentingan cerita

Rate :

T

Warning :

Boy's Love / YAOI, OOC, MPREG, hurt/comfort, Typo menjamur

.

.

DON'T LIKE? DON'T READ!

MAKE IT SIMPLE

HAPPY READING ^.^

.

.

Chapter 9

o.o.o.o.o.o.o.

.

.

(Sungmin POV)

.

Hal pertama yang aku sadari adalah... aku sedang dalam keadaan di antara alam sadar dan tidak sadar.

Aku dapat mendengar bunyi bip... bip... bip... yang konstan dan terus-menerus, seperti bunyi air menetes dari keran yang tidak ditutup rapat.

Bunyi itulah yang membangunkanku.

Aku mencoba untuk mengatakan sesuatu dan meminta seseorang agar menutup keran itu, tetapi lidahku terasa berat dan kelu. Aku mencoba membuka mataku, usaha yang juga tidak membuahkan hasil.

Kutenangkan diriku dan berusaha membuka mataku sekali lagi. Kali ini aku berhasil membukanya sedikit, tetapi aku harus segera menutupnya kembali karena ada sinar terang yang tiba-tiba membutakan penglihatanku.

Ketika mataku tertutup lagi, aku baru sadar bahwa ada sesuatu yang menempel pada hidungku dan membuatku sulit bernapas.

Sekali lagi kubuka mataku, tetapi kini lebih perlahan.

Awalnya semuanya terlihat buram, namun akhirnya aku dapat menangkap warna dinding di hadapanku.

Putih keabu-abuan.

Bunyi bip... bip... bip... yang tadi ku dengar menjadi semakin keras.

Bunyi itu ternyata berasal dari sebuah mesin di sebelah kiriku. Garis hijau pada layarnya melonjak-lonjak setiap detik, menunjukkan aku masih hidup.

Aku sadar, aku terbaring di atas tempat tidur yang biasanya ada di rumah sakit.

Rumah sakit? Aku di rumah sakit?! Apa yang telah terjadi padaku?!

Aku mencoba berteriak, tetapi tak ada suara apapun yang keluar dari mulutku.

Mengapa aku bisa ada di sini?

Aku mendengar suara air dituang ke gelas. Tiba-tiba aku jadi merasa sangat haus.

Aku mencoba menelan ludah dan membasahi kerongkonganku, tetapi mulutku terasa bagai ada pasirnya sehingga aku harus bersusah payah untuk menghasilkan air liur. Ketika mulutku sudah terasa sedikit basah, kugerakkan lidahku untuk membasahi bibirku.

Samar-samar aku bisa mendengar suara orang yang berbicara, tetapi aku tidak bisa mendengar dengan jelas siapa yang berbicara dan apa yang dibicarakan.

Kualihkan perhatianku untuk mengenali sekelilingku.

Ada jendela besar di sebelah kananku dan rangkaian mawar merah muda, bunga favoritku, di atas satu-satunya meja yang bisa aku lihat.

Aku tidak bisa memastikan waktu yang tepat pada saat ini.

Sinar matahari yang masuk dari sela-sela tirai vertikal berwarna putih menunjukkan antara waktu siang atau sore, yang jelas bukan malam.

Perlahan kuangkat tangan kiriku dan terasa ada jarum menusuk pergelangan tanganku. Jarum infus.

Ada selang yang menghubungkan pergelangan tanganku itu dengan sebuah kantong cairan infus yang digantung pada tiang besi di samping tempat tidurku.

Ketika aku sedang menggerakkan tangan kananku untuk mencabut jarum itu dari pergelangan tangan kiriku, tiba-tiba aku mendengar suara orang berbisik, "He's awake."

Kualihkan tatapanku dari lenganku ke arah seorang wanita berambut pirang, yang dari pakaiannya menunjukkan identitasnya sebagai seorang perawat.

Tiba-tiba kulihat wajah Hyukkie, adikku, yang terlihat cemas. Kemudian dia tersenyum lebar karena melihatku sudah sadar dan buru-buru berjalan menghampiriku.

Perawat itu kemudian berdiri di sebelah kiriku dan menggenggam pergelangan tanganku.

"How are you feeling?" tanyanya kepadaku, masih dengan suara berbisik.

Aku sebetulnya ingin berteriak kepadanya agar mencabut jarum infus yang terasa menusuk-nusuk lenganku, tetapi yang keluar dari mulutku justru, "Wah... teh."

Kata yang ingin aku ucapkan adalah water, tetapi lidahku tidak bisa bekerja sama.

Untungnya perawat itu langsung memahami apa yang aku inginkan. Dia segera menyodorkan satu gelas plastik air putih dengan sedotan di dalamnya.

Aku berusaha mengangkat kepalaku sedikit agar bisa minum melalui sedotan yang bisa dibengkokkan. Eunhyukkie yang melihat apa yang sedang coba kulakukan membantuku dengan menopang kepala dan bahuku. Suster itu tetap memegang gelas di hadapanku. Pelan-pelan cairan dingin mulai membasahi kerongkonganku. Aku baru berhenti minum ketika gelas itu sudah kosong.

"Do you want more?" bisik perawat itu, setelah menyingkirkan gelas kosong dari hadapanku.

Aku menggeleng kaku dan menyandarkan kepalaku kembali ke bantal.

"I will telling to Doctor Smith that you are awake." Perawat itu lalu menghilang dari pandanganku setelah mengangguk kepada Eunhyuk.

Eunhyuk kemudian duduk di atas tempat tidur di sebelah kananku. Dia tersenyum sendu. Sejujurnya aku ingin bertanya, 'Aku ada di mana?'

Ketika aku mencoba berkata-kata, yang keluar dari mulutku hanya, "Gu...," dan aku kemudian terbatuk-batuk.

Eunhyuk buru-buru menuangkan air ke gelas plastik yang tadi, dan memintaku minum lagi hingga habis. Wajahnya terlihat khawatir.

"Jangan memaksakan diri Hyung! Lebih baik Minnie Hyung kembali beristirahat. Kita bicarakan nanti," katanya dengan suara agak bergetar dan menyingkirkan gelas kosong itu dari hadapanku.

Aku perhatikan Eunhyuk yang terlihat cukup tenang, tetapi aku tahu sebetulnya dia panik.

Aku bisa melihat kepanikan itu di matanya.

Aku mencoba tersenyum agar bisa menenangkannya.

Kusentuh benda yang menempel pada hidungku, yang ternyata adalah selang pernafasan. Jadi ini yang membantuku agar bisa bernafas dengan mudah.

Eunhyuk menggenggam tanganku dan menjauhkannya dari selang itu.

"Kita tunggu Uisanim datang. Jika beliau mengatakan Hyung sudah membaik, kita bisa melepasnya," jelasnya.

Setelah yakin aku tidak akan menarik selang itu dari hidungku, Eunhyuk melepaskan genggamannya dari tanganku. Dia kemudian mengelilingi tempat tidur dan menyingkap tirai kain putih di sebelah kiriku.

Ketika aku menoleh, kulihat kami tidak sendirian.

Ada seseorang yang sedang tidur di atas sofa. Aku tidak bisa melihat wajahnya, tetapi yang jelas sofa itu tidak bisa menampung tubuhnya yang tinggi besar sehingga kedua kakinya menjulur keluar dari salah satu sisi sofa.

Melihatku memusatkan perhatian kepada orang yang tertidur di sofa itu, Eunhyuk berbisik, "Dia tidak ingin pulang, padahal sudah aku katakan aku bisa menjaga Minnie sampai dia kembali lagi kesini."

Eunhyuk tersenyum ketika mengatakannya. Suaranya terdengar lebih pasti, dan dari balik matanya aku bisa melihat ada kehangatan di situ.

Siapa orang itu?

Aku menarik napas panjang ketika tiba-tiba beberapa hal mulai melintas kembali dalam memoriku.

.

(Flashback)

Aku tengah mencoba untuk menyusul Kyuhyun ke bandara, namun ternyata aku terlambat, pesawatnya telah lepas landas.

Disaat aku pergi meninggalkan bandara dan sedang menyeberangi jalan, tiba-tiba kudengar seseorang meneriakkan namaku. Suara itu berasal dari belakangku.

Ternyata itu Kyuhyun, dia memanggil namaku dari seberang jalan.

Lalu tanpa berfikir apapun aku bergerak menghampirinya. Dan sebuah mobil tiba-tiba melaju ke arahku dengan kecepatan tinggi.

Kemudian terdengar bunyi rem mobil yang sedang bersusah payah untuk berhenti.

Lalu, semuanya gelap.

.

(Flashback END)

.

Kutatap kembali tubuh tinggi besar itu, Cho Kyuhyun, yang masih tertidur di atas sofa.

Tiba-tiba seorang pria yang mengenakan jas putih dokter dengan rambut ubanan dan langkah sigap sudah memasuki ruangan diikuti perawat yang tadi.

Setelah dia cukup dekat, aku bisa membaca nama yang disulam pada jas putihnya. Roland Smith, M.D.

"Ahhh... our sleeping beauty is awake," ucap dokter itu dengan suara yang lembut. Aku hanya bisa meringis mendengar panggilannya padaku.

"Is he going to be alright?" tanya Eunhyukkie khawatir.

"Apakah Anda merasa pusing atau penglihatan agak kabur, Mr. Lee?" tanya Dokter Smith kepadaku, masih dengan suara yang lembut.

Aku menggeleng. "Just a little bit tired," ucapku pelan.

"Ya. Itu reaksi tubuh yang wajar setelah tidur terlalu lama," jelas Dokter Smith.

Jawabannya membuatku jadi bertanya-tanya, sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri.

"Badan Anda akan terasa sedikit kaku beberapa hari karena ada beberapa memar di tubuh Anda, tetapi tidak ada tulang yang patah," lanjut Dokter Smith.

Memar? Ada memar ditubuhku?

Semoga tidak permanen.

"Apa Sungmin Hyung sudah diperbolehkan pulang?" tanya Eunhyukkie lagi.

"Saya sarankan lebih baik apabila Mr. Lee menginap satu malam lagi, hanya untuk memastikan keadaan Anda telah membaik. Terkadang ada efek yang agak terlambat datangnya setelah terjadi benturan di kepala, seperti yang telah dialami Mr. Lee. Jadi kami akan memastikan keadaan Mr. Lee secara keseluruhan sebelum kami memperbolehkannya pulang."

Kulihat Eunhyuk mengangguk.

Aku menyentuh selang yang menempel pada hidungku, dan Eunhyuk yang melihat isyaratku langsung bertanya pada Dokter.

"Apakah Hyungku masih membutuhkan selang oksigen itu?"

"Apakah Anda mengalami masalah pernapasan, Mr. Lee?" tanya Dokter Smith kepadaku.

Aku menggeleng.

Dokter Smith langsung memerintahkan perawat agar mencabut selang oksigen itu secepatnya.

"Baiklah, jika Anda membutuhkan sesuatu, Anda bisa meminta pada Perawat Margie. Saya akan kembali besok pagi," ucap Dokter Smith sambil menunjuk perawat yang kini sedang tersenyum kepadaku.

Aku mengangguk, kemudian Dokter Smith berlalu diikuti si perawat.

"Oh! Ada sesuatu yang lupa ingin aku tanyakan kepada Dokter Smith. Aku akan segera kembali Hyung," ucap Eunhyuk yang kemudian langsung menghilang keluar dari kamar dan menutup pintu kamar rawatku.

Ketika ruangan sudah kosong kembali, aku baru menyadari Kyuhyun yang telah terbangun. Dia sedang berdiri di samping sofa sambil menatapku dengan tatapan ragu bercampur cemas.

"Hi." Aku rasanya ingin menendang diriku setelah mengucapkan kata itu.

Ada banyak sekali yang ingin aku katakan kepadanya, tetapi satu-satunya kata yang aku bisa ucapkan hanyalah "hi‟?

Tiba-tiba saja Kyuhyun sudah berdiri di samping tempat tidur sambil menggenggam tanganku.

Aku mencoba membalas dengan meremas tangannya, tetapi otot-ototku masih terlalu kaku.

"Mi, mianhae Kyu," ucapku akhirnya.

"Ssshhh... istirahatlah sayang. Kita bisa bicarakan semuanya nanti," balas Kyuhyun kemudian mencium tanganku yang digenggamnya.

"Tetaplah disini Kyu?" pintaku.

"Aku akan selalu disisimu, Sungminnie."

Kyuhyun lalu mencium keningku, dan aku pun kembali ke alam bawah sadar.

.

.

Ketika aku terbangun lagi, sinar matahari sudah tidak bersinar di luar sana.

Kamarku terlihat agak redup hanya dengan penerangan dari sebuah lampu tidur yang terletak di atas meja kecil di samping sofa.

Sudah tidak ada lagi selang yang menempel pada hidungku dan tidak ada jarum yang menusuk pergelangan tanganku. Perawat Marge rupanya telah melepaskan semua itu ketika aku masih tidur.

Kulihat Kyuhyun sedang tidur sambil duduk dengan membaringkan kepalanya di atas kasurku.

Kuangkat tanganku perlahan-lahan dan membelai rambutnya.

Perlahan Kyuhyun mulai bergerak di bawah belaianku. Pada belaian keempat Kyuhyun mengangkat kepalanya dan menatapku.

"Min," ucapnya dengan nada sedikit mengantuk.

Pada saat itulah aku sadar, wajah Kyuhyun terlihat sangat lelah. Ada garis hitam di bawah matanya dan ada kerutan-kerutan samar di keningnya. Terdapat juga sedikit rambut halus di sekitar rahangnya, sepertinya dia jarang bercukur.

Dia jadi terlihat lima tahun lebih tua hanya dalam waktu beberapa hari saja.

Kyuhyun meraih tanganku dan mendekatkannya pada hidungnya. Dia menarik napas dalam-dalam sambil menutup matanya.

"God, kau tak tahu betapa aku merindukan aroma ini," bisiknya.

"Kau terlihat sangat lelah Kyu," ujarku pelan dengan nada khawatir. Ada apa dengan pria tampan yang kucintai ini?

Kyuhyun membuka matanya ketika mendengar nada khawatirku.

"Sejak pertemuan terakhir kita, aku hampir tidak bisa tidur," kata Kyuhyun lirih.

Aku hanya bisa menatap Kyuhyun dengan perasaan bersalah yang besar dalam hatiku.

"Ada seseorang. Dia adalah seorang pria yang sangat manis dan menyenangkan. Dia juga memiliki prinsip yang sangat unik dan prinsipnya itulah yang membuatnya menarik. Kami baru sebulan ini berkencan secara resmi, namun aku telah jatuh cinta padanya sejak pertemuan pertama kami dan aku yakin tak akan pernah bisa hidup tanpanya. Jadi, akhirnya aku melamarnya pada hari ulang tahunku," ucapku Kyuhyun bernarasi. Kemudian dia mengedipkan matanya kepadaku.

Aku hanya bisa tersenyum padanya. Aku tahu siapa yang dia maksud, yaitu aku.

"Tapi sayangnya dia hanya diam saat aku melamarnya. Yah, memang aku juga salah karena semuanya terlalu mendadak. Pada akhirnya aku memberikannya waktu untuk mempertimbangkannya. Meskipun sebenarnya aku ingin sekali mendengar kata 'yes, I do' dari mulut pinkishnya yang manis itu."

Kyuhyun melanjutkan ceritanya dengan lebih serius. Aku sebenarnya ingin tertawa, tetapi dia langsung mengerlingkan matanya begitu melihat senyumku sehingga aku terpaksa menggigit bibir bawahku untuk menahan tawa.

"Ya, untungnya kesabaranku perlahan memberikan hasil yang cukup memuaskan. Hubungan kami berjalan ke arah yang lebih serius dan lebih dalam. Meskipun belum ada jawaban apapun yang keluar dari mulutnya, tapi dengan semua sikap hangat dan perhatiannya padaku, aku seolah bisa merasakan perasaannya yang sesungguhnya."

Padangannya tiba-tiba meredup.

"Namun tiba-tiba saja sesuatu hal yang buruk terjadi didepan mataku. Pria manis yang sangat aku cintai, yang sangat berharga dalam hidupku, meregang nyawa di depan mataku. Mobil sialan itu hampir merenggut nyawanya. Apa kau tahu bagaimana perasaanku? Aku merasa bahwa akulah yang mengalami kecelakaan itu. Meskipun tak ada luka fisik, tapi hatiku terluka, sangat dalam."

Kyuhyun mengeratkan genggamannya tanganku.

Aku berusaha menahan airmata yang akan keluar dari mataku. Karena kecerobohanku, aku telah membuatnya menjadi hampir hancur.

Ani... mungkin memang sudah hancur.

Lihatlah penampilannya sekarang yang sangat tidak seperti Cho Kyuhyun.

Ini membuktikan betapa dalamnya perasaan cinta Kyuhyun padaku. Apa lagi yang bisa ku ragukan darinya?

"Aku benar-benar hampir mati, kau tahu Sungminnie? Saat aku melihatmu tergeletak di aspal jalanan dan dikerumuni orang-orang, aku terpaku sesaat seolah melihat mimpi terburuk dalam hidupku. Dan yah... hampir saja aku menghabisi si pengemudi bodoh yang menabrakmu itu, jika saja dia bukanlah seorang pria tua yang seumuran dengan Abeojiku. Aku berusaha keras mengendalikan amarahku. Kemudian aku mendengar seseorang berteriak bahwa kau masih hidup, tanpa memikirkan apapun aku langsung merampas ponsel seseorang yang berada disitu kemudian menghubungi ambulans. Lalu Dokter... Dokter mengatakan kau HANYA mengalami sedikit memar dan akan baik-baik saja. Tapi nyatanya kau tak sadarkan diri selama 4 hari, yang tentu saja membuatku uring-uringan. Aku benar-benar takut kau takkan pernah sadar selamanya. Atau yang lebih parah, kau akan melupakanku. Aku takkan memaafkan diriku sendiri jika itu sampai benar-benar terjadi. Bagaimana aku harus menghadapi Eunhyuk? Bagaimana aku harus menghadapi orangtuamu? Dan yang terpenting, bagaimana aku menjalani hidupku tanpamu?! Aku tak bisa berfikir jernih selama 4 hari ini."

Aku terenyuh mendengar semua ceritanya itu. Jadi, ini sudah 4 hari?! Dengan kata lain aku koma selama 4 hari dan telah membuat Kyuhyun cemas seperti ini?!

Aku memaksakan diriku untuk duduk, Kyuhyun yang melihat gerakanku langsung beranjak meraih tubuhku. Dia mendudukkan dirinya di sisi tempat tidur kemudian menopang tubuhku dalam pelukannya dengan hati-hati.

Aku menyamankan diriku dalam pelukannya sembari membalas pelukannya erat.

"Mianhae, Kyu. Maaf karena telah membuatmu khawatir," bisikku. Ku hirup aroma tubuhnya yang khas. Entah apakah dia sudah mandi apa belum, tapi sisa-sisa aroma cologne-nya yang memabukkan merasuk dalam indra penciumanku.

Aroma yang kurindukan. Sangat kurindukan.

Kyuhyun hanya mengangguk dengan kepala yang disandarkan di pucuk kepalaku.

"Aku sangat merindukanmu, Sungminnie," bisiknya.

"Nado, Kyu. Aku juga sangat merindukanmu," balasku juga berbisik.

Kami terdiam beberapa saat, memuaskan diri menghirup aroma tubuh masing-masing.

"Sungmin," Kyuhyun menggumam memecah keheningan.

"Hmm," balasku dengan gumaman juga.

"Mengapa kau pergi ke bandara hari itu?" tanyanya. Aku terpaku mendengar pertanyaannya.

Ah! Aku hampir lupa dengan tujuanku hari itu!

Aku melonggarkan pelukanku agar bisa menatapnya.

Kyuhyun menatapku bingung namun penuh pengertian, menungguku memberikan jawaban.

"Hmm, sebenarnya sejak malam sebelumnya aku sudah menghubungi ponselmu tapi... kau sama sekali tidak mengangkat telepon dariku. Aku kembali menghubungimu esok paginya, tapi justru si 'veronica' yang menjawab. Kemudian aku juga sudah mengirimkanmu pesan, dan kau tak juga membalas pesanku. Aku pikir kau mungkin masih sibuk jadi... aku menghubungi kantor pusatmu barangkali aku bisa mengetahui sesuatu. Dan ternyata, menurut asistenmu yang bernama Jordan Kim, kau akan pergi ke Nice dan baru kembali akhir maret nanti. Aku panik dan tanpa berfikir panjang langsung pergi dari kantorku ke bandara sambil berharap jika aku belum terlambat untuk menghentikanmu pergi. Aku bahkan sampai lupa membawa ponselku," aku menjelaskannya sambil mengalihkan pandanganku karena malu.

Oh yeah! Tentu saja aku pantas malu karena saat itu penampilanku pasti sangat berantakan. Tak heran jika beberapa orang dibandara mengira aku adalah wanita yang patah hati. Sweater pink ku adalah penyebabnya, itu pasti.

Kyuhyun meraih wajahku dengan lembut agar menghadapnya. Dibelainya rahangku kemudian pipiku dengan lembut.

"Jadi, itu sebabnya kau terlihat begitu terkejut seolah melihat hantu saat aku memanggilmu? Dan kemudian kau begitu terburu-buru menghampiriku seolah takut aku akan menghilang, hmm?" ujarnya dengan nada menggoda diakhir.

Ugh! Bukannya serius dia malah menggodaku! Dasar Cho EVIL!

Alih-alih menjawabnya aku memilih kembali memeluknya erat kemudian menyembunyikan wajahku di dada bidangnya yang hangat.

Kurasakan badannya yang sedikit berguncang dan suara kekehan pelan dari mulutnya.

Cih! Menyebalkan!

"Sungminnie..." panggilnya lembut setelah puas menertawakanku.

Aku tak menjawab melainkan hanya menggeleng di dadanya.

"Sungminnie sayang... katakan padaku, sebenarnya apa yang ingin kau katakan hari itu sampai kau terburu-buru menyusulku hingga kau membahayakan nyawamu yang berharga ini, hmm?" ujarnya dengan nada membujuk.

Aku masih tak bergerak.

"Sayang..." Kyuhyun masih berusaha membujukku.

Setelah mengumpulkan keberanianku, aku menyerah dan melonggarkan pelukanku agar bisa menatapnya.

Dia menyunggingkan senyumannya yang paling manis dan paling tampan dari yang pernah ku lihat selama ini.

"Sebenarnya... aku... ingin..." aku sengaja memotong-motong ucapanku untuk melihat reaksinya.

Kyuhyun masih bertahan dengan senyuman mautnya itu, memberikanku kekuatan lebih untuk melanjutkan pengakuanku.

"Aku ingin mengajakmu bertemu hari sabtunya, yang berarti harusnya itu kemarin. Aku ingin... memberikan jawaban 'iya' untuk lamaranmu dan 'aku mencintaimu' untuk membalas pernyataan cintamu padaku. Dan juga..." aku menghentikan penjelasanku kemudian memberanikan diri mendekatkan wajahku untuk memberikan ciuman manis padanya.

Aku memberikan senyuman termanis yang bisa ku berikan padanya.

Saat ini wajahnya terlihat sangat lucu.

Senyumnya telah lenyap, tergantikan dengan wajah melongo (bodoh) yang belum pernah ku lihat darinya sebelumnya. Aku berusaha keras untuk tidak menertawainya meskipun ingin.

"Ta, tadi... kau bilang apa Sungmin?" tanyanya terbata sambil menatapku tak percaya.

Sumpah wajahnya benar-benar lucu, aku hampir tak mampu lagi menahan tawaku.

"EHEM," aku berdeham untuk menjaga suaraku agar normal.

"Aku mau menikah denganmu Kyu, dan tentu saja karena aku MENCINTAIMU. SARANGHAE CHO KYUHYUN!" seruku semangat dengan senyum cerahku yang maksimum.

Dan Kyuhyun dengan cepatnya menyambar wajahku dan menyerang bibirku dengan ciuman mautnya, yang ehm tentu saja sangat ku rindukan.

Jika saja aku tak membutuhkan yang namanya bernafas mungkin aku enggan mendorong Kyuhyun menjauh untuk melepaskan ciuman kami.

"So... kita akan menikah?" bisiknya dengan nafas sedikit terengah. Aku sendiri berusaha mengambil nafas sebanyak mungkin karena dengan sangat penuh cintanya Kyuhyun membuatku nyaris sesak nafas karena ciumannya tadi.

Aku hanya menjawabnya dengan anggukan malu-malu karena suaraku mendadak susah untuk keluar.

EHM... EHM...

Ok, masih ada suaranya.

Kyuhyun terkekeh kecil.

"Baiklah, jika kau sudah sehat, aku akan membicarakannya dengan orang tuaku dan juga keluargaku. Kemudian kita akan menemui orang tuamu, oke?" ujar Kyuhyun dengan nada pasti.

Oh? Aku lupa hal yang satu itu, orang tuaku!

"AH, Kyu! bagaimana dengan orang tuaku? Apa mereka tahu tentang kecelakaan yang kualami ini? Apa Eunhyuk memberitahu mereka?" tanyaku panik tiba-tiba. Aku tak bisa membayangkan betapa paniknya kedua orangtuaku jika tahu. Terutama Eomma.

Kyuhyun tersenyum menenangkanku.

"Tidak, aku dan Eunhyuk tidak memberitahu mereka. Yah, sebenarnya kami berencana akan memberitahu mereka jika kau tidak juga sadar besok. Berhubung sekarang kau sudah sadar, itu semua terserah padamu, apakah kau ingin mereka tahu atau tidak."

ANI! Lebih baik tidak! Bisa-bisa mereka akan langsung menyuruhku pulang ke Korea dan meninggalkan semua karierku jika tahu apa yang terjadi padaku.

Dan Kyuhyun... aku tak yakin apa mereka akan melepaskan Kyuhyun begitu saja jika mengetahui bahwa Kyuhyun ada kaitannya dengan kecelakaanku, meskipun tidak secara langsung.

"TIDAK! Maksudku tidak perlu. Aku sudah baik-baik saja. Aku tak ingin mereka khawatir. Yang penting sekarang aku baik kan?" aku tersenyum untuk meyakinkannya.

"Oke, baiklah," ujarnya menyerah.

Dia membaringkan tubuhnya di kasur kemudian menarikku untuk ikut berbaring bersamanya.

"Wae? Aku tak ingin tidur lagi. Aku sudah tertidur selama 4 hari. Itu lebih dari cukup Kyu," rengekku.

"Tapi kau tetap butuh istirahat. Setidaknya temani aku tidur. HOAM... Aku sangat butuh tidur sekarang," gumamnya sambil menyamankan diri di kasur.

Benar juga, dia terlihat sangat lelah. Jika yang dikatakan Eunhyuk benar, dia pasti telah menjagaku 24 jam selama 4 hari ini. Kini waktunya dia untuk beristirahat.

"Baiklah Kyu, tidurlah," ujarku menyamankan diri dipelukannya.

"Hmm, good night sweety," gumamnya.

Dan tak butuh waktu lama aku mendengar dengkuran halus darinya.

Wah! Dia sudah tertidur.

Sebaiknya aku juga tidur lagi, hmm... aroma tubuhnya, kehangatan tubuhnya membuatku mengantuk.

Mungkin tak apa aku tidur lagi, toh aku kan pasien disini.

.

(Sungmin POV END)

.

.

Blind Date

.

.

Sungmin menggeliat saat merasakan seberkas cahaya menimpa wajahnya. Dia membuka matanya sedikit sebelum kembali memejamkannya karena merasa silau dengan cahaya matahari yang merasuk melalui tirai jendela yang terbuka.

Kemudian dirasakannya kecupan di kening, pipi lalu bibir shape-M miliknya. Mau tak mau Sungmin kembali membuka mata untuk mengetahui siap pelaku yang telah mencuri kesempatan untuk menciumnya.

Dan...

Sesosok pria tampan dengan wajah cerah terpampang di depan matanya. Senyuman ani seringaian yang khas menghiasi wajah pria itu menambah kadar ketampanananya.

"Kyu," gumam Sungmin pelan.

"Good morning sweety," sapa Kyuhyun lembut sambil mengganti seringainya dengan senyuman manis membuatnya berkali-kali lipat lebih tampan lagi.

Sungmin membalas senyuman Kyuhyun dengan sama manisnya.

Kemudian Sungmin sadar, dia masih tertidur di dalam pelukan Kyuhyun, diatas ranjang rumah sakit.

Eh, tapi... penampiln Kyuhyun terlihat berbeda.

Sungmin mengamati dengan cermat penampilan tunangannya yang tampan itu.

Tidak ada lagi Cho Kyuhyun yang kuyu, kusut dan berantakan. Yang ada dihadapannya sekarang adalah seorang Cho Kyuhyun yang tampan, wangi dan keren.

"Kau... sudah tampan," hanya kalimat itu yang mampu keluar dari mulut Sungmin.

Kyuhyun terkekeh mendengarnya.

"Aku memang selalu tampan sayang," ujarnya sedikit angkuh sambil membelai acak helaian rambut Sungmin.

Sungmin berbalik melirik dirinya.

Baju ala pasien rumah sakit yang kusut, badan yang lengket karena keringat, rambut lepek, wajah kusut, dan mulut...

Oh, ya, Sungmin lupa, dia kan sudah koma selama 4 hari. Tentu saja dia belum mandi sejak 4 hari yang lalu, eh 5 hari jika hari dimana dia kecelakaan dihitung.

Ya, terakhir kali dia mandi adalah saat pagi sebelum dia berangkat kerja di hari nahas itu.

Sungmin merengut. Penampilannya berbanding terbalik 360 derajat dengan Kyuhyun.

Dengan malu Sungmin beringsut menjauh dari Kyuhyun kemudian berbalik memunggungi Kyuhyun.

Kyuhyun mengerutkan alis melihat tingkah aneh Sungmin.

"Waeyo sayang?" tanya Kyuhyun bingung.

"Aku malu," gumam Sungmin.

"Hm?"

"Kau sudah mandi dan wangi. Sedangkan aku... ugh..."

Kyuhyun tertawa mendengar gumaman Sungmin.

Kyuhyun beringsut mendekati Sungmin kemudian mendekapnya dari belakang.

"Kau tidak bau kok Sungminnie. Bagiku kau tetap cantik ukh, maksudku manis kok," ujarnya berbisik di telinga Sungmin, sembari mengusap lengannya yang mendapat cubitan maut Sungmin saat memuji Sungmin cantik.

"Tapi kan..."

Tepat pada saat itu pintu kamar rawat Sungmin terbuka dan muncul sosok Eunhyuk dengan membawa beberapa kantong plastik.

Tercium aroma makanan dari kantong-kantong plastik itu.

Dan seketika Sungmin merasa lapar.

"Ehm, sepertinya aku mengganggu, ya?" ucap Eunhyuk dengan nada tak bersalah. Seringai tersungging diwajahnya.

Dengan terburu-buru Sungmin melepaskan diri dari pelukan Kyuhyun, kemudian terduduk sambil salah tingkah.

Sedangkan Kyuhyun menyusul bangun namun bersikap sangat santai sembari membalas seringaian Eunhyuk. Tangannya kembali merangkul pinggang Sungmin dan mendekapnya longgar, tak memperdulikan lirikan maut Sungmin.

"Ehem, apa yang kau bawa Hyukkie? Sepertinya enak," ujar Sungmin untuk menghindarkan diri dari salah tingkah.

Eunhyuk berjalan ke pantry kecil yang ada di kamar rawat itu kemudian membongkar bawaannya.

"Aku membeli beberapa makanan untuk kita. Menurut Dokter, Minnie Hyung sudah boleh makan makanan biasa tapi belum boleh yang terlalu pedas. Jadi, aku belikan Hyung pumpkin cream soup, chicken tempura dan pumpkin jelly," jawab Eunhyuk menunjukkannya pada Sungmin. Kemudian ditatanya makanan-makanan itu di nampan.

"My lovely pumpkins! Gomawo Hyukkie!" seru Sungmin semangat.

Kyuhyun terkekeh melihat keceriaan Sungmin.

"Sepertinya kau sudah kembali sehat ya Sungminnie," ledek Kyuhyun sembari mengecup pipi Sungmin gemas.

Sungmin mencubit pelan lengan Kyuhyun yang masih melingkar di perutnya karena malu.

"Hyungku memang maniak labu, Kyu Hyung. Jadi jangan heran jika dia lebih memilih labu dibandingkan Hyung ya," Eunhyuk ikut meledek Sungmin.

"Lee Hyuk Jae!" seru Sungmin gemas.

"Tak masalah. Aku punya banyak cara untuk mendapatkan perhatian Sungminnie-ku," balas Kyuhyun santai. Kembali dicurinya kecupan di pipi chubby nan mulus Sungmin.

Dan kembali diberikan reward berupa cubitan manis dari Sungmin di lengan Kyuhyun. Kyuhyun hanya meringis merasakan perih-perih tapi enak dari cubitan Sungmin. Kyuhyun sedikit masokis sepertinya.

Eunhyuk hanya terkekeh melihat 'kemesraan' hyungnya dan calon kakak iparnya itu.

"Untuk Kyuhyun Hyung dan aku, ada Chicken Teriyaki, chicken soup, kimchi jjigae dan... samgyeopsal," lanjut Eunhyuk sembari menata makanan-makanan bagiannya dan Kyuhyun di nampan yang lain, berdampingan dengan nampan makan Sungmin.

"Wah! SAMGYEOPSAL! Kau yang terbaik adik ipar," seru Kyuhyun semangat sambil mengecup pipi Sungmin gemas, lagi.

"Samgyeopsal! Wah! Kalian curang!" protes Sungmin setengah merengek.

Kyuhyun dan Eunhyuk tertawa mendengar protes Sungmin.

Setelah Eunhyuk selesai menata semuanya, dia menaruh nampan-nampan itu di meja makan untuk pasien kemudian menariknya mendekat ke tempat tidur.

"Ini kan pumpin's day untukmu Hyung. Lagipula samgyeopsal ini khusus untuk calon kakak iparku sebagai simbol restuku untuk hubungan kalian," jelas Eunhyuk.

Sungmin terdiam sejenak mendengar penjelasan Eunhyuk. Ditatapnya bergantian antara Kyuhyun dan Eunhyuk.

"Aku sudah mendengar semuanya dari Kyuhyun hyung saat Minnie Hyung masih tidur. Minnie hyung sudah menerima lamaran Kyuhyun hyung kan? Kalau begitu aku juga akan memberikan restu untuk kalian. Ehm, dan... Kyuhyun Hyung juga sudah tahu kok proses galaunya Minnie hyung sebelum akhirnya menerima lamaran Kyuhyun hyung," Eunhyuk akhirnya yang menjelaskan.

"Eh?" Sungmin kembali menoleh ke Kyuhyun.

"Menurut Eunhyuk. Kau sempat galau gara-gara teringat perkataan mantanmu itu saat kalian berpisah dulu kan?" Kyuhyun ikut turun tangan menjelaskan.

Dan Sungmin ingat sesi curhatnya dengan Eunhyuk di telepon beberapa hari yang lalu sebelum kecelakaan.

"Aku juga ada disitu jika kau lupa sayang. Saat mantanmu dengan sangat pengecutnya memberikan sumpah serapah tak bermutu padamu. Hmm, tapi pada akhirnya itu takkan terjadi sayang. Karena aku berbeda dengannya, aku mencintaimu dengan tulus tanpa syarat," lanjut Kyuhyun sembari membalik tubuh Sungmin agar menghadapnya.

Dengan malu-malu Sungmin menatap Kyuhyun yang tengah menatapnya dengan lembut namun penuh tekad dan kesungguhan. Setelah sesi pengakuan cinta di akhir minggu paska lamaran, Kyuhyun jadi terlalu royal mengumbar pernyataan cinta. Tapi, yah... Sungmin menyukainya. Dia menyukai kejujuran Kyuhyun. Kejujuran yang tak mampu Sungmin lakukan lebih awal.

"Aku sebenarnya tak puas hanya memberi si brengsek itu pukulan kecil yang takkan memberikan bekas permanen itu. Ehm, ini memang terdengar cheesy tapi... balas dendam yang lebih menyenangkan adalah saat kau bisa membuktikan bahwa kau akan hidup bahagia tanpanya. Dan aku yang akan membahagiakan dirimu selamanya. Jadi, kau cukup percaya pada perasaanku dan juga perasaanmu. Mari kita hidup bahagia dan buat dia menyesal karena sudah menyia-nyiakan pria semanis dan sesempurna dirimu Sungminnie."

Sungmin terenyuh mendengar penjelasan Kyuhyun, yang semakin meyakinkan dirinya bahwa menerima lamaran Kyuhyun adalah keputusan yang tepat.

Dimana lagi dia bisa menemukan pria seperti Kyuhyun?!

Sungmin dengan segera mengangguk semangat.

"Tentu saja Kyu. Aku takkan lagi terpengaruh oleh dia. Semua hanya masa lalu. Kau adalah masa depanku," ujar Sungmin mantap.

"Itu baru Cho Sungmin tunanganku," seru Kyuhyun bangga.

"Ehm, maaf mengganggu sesi dramanya Minnie hyung, Kyuhyun hyung," dengan suka cita Eunhyuk merusak sesi romantis yang tengah berlangsung. "Seingatku nama Minnie hyung masih Lee Sungmin. Dan lagi... Minnie hyung kan baru sadar setelah 4 hari tertidur, jadi... Hyung belum mandi dan sikat gigi selama empat hari lho," ucap Eunhyuk cuek.

Sungmin yang baru tersadar langsung menutup mulutnya karena malu.

Melihat reaksi Sungmin, Eunhyuk dan Kyuhyun tertawa keras.

"Sudah ku bilang sayang, kau tak bau kok," ujar Kyuhyun setelah tawanya reda sembari mengecup sayang Sungmin.

Sungmin memilih beranjak sedikit menjauh dari Kyuhyun karena tahu diri.

"A, Aku mau mandi dan sikat gigi dulu. Eunhyukkie kau membelikanku peralatan mandi tidak?" Sungmin membelakangi Kyuhyun dan menolak menatap pria itu.

Sungmin jelas malu lah! Dari tadi dia asik mesra-mesraan sama Kyuhyun padahal dia belum mandi.

Oh! Memalukan sekali!

"Nanti makanannya keburu dingin Hyung! Sikat gigi saja," Eunhyuk berbalik kembali ke meja pantry kemudian mengeluarkan sikat gigi dan pasta gigi dari kantong plastik.

Sungmin langsung bangun dari tempat tidur dan bergegas mengambilnya dari Eunhyuk kemudian terburu-buru ke kamar mandi.

Sepeninggal Sungmin, Kyuhyun dan Eunhyuk tertawa puas meski tanpa suara agar Sungmin tidak mendengar tawa mereka.

.

Beberapa menit kemudian.

Sungmin akhirnya keluar dari kamar mandi.

Meskipun Eunhyuk mengatakan agar dia tak perlu mandi dulu, tapi Sungmin juga merasakan tubuhnya lengket dan ehm... cukup wangi juga ternyata.

Empat hari tidak mandi, bayangkan bagaimana wangi tubuhnya itu?!

Dan Sungmin pun memutuskan mandi kilat. Untung peralatan mandi Kyuhyun masih tertinggal di kamar mandi. Jadi Sungmin bisa meminta sedikit, rasanya Kyuhyun juga tidak akan keberatan.

Yah... tapi akibatnya, atau untungnya, tubuhnya jadi beraroma sama dengan Kyuhyun.

Tapi, Sungmin sejujurnya sangat senang karena tubuhnya kini diselimuti aroma Kyuhyun seolah Kyuhyun senantiasa memeluk tubuhnya.

"Hyung lama sekali sih! Kan tadi aku bilang tak perlu mandi!" omel Eunhyuk begitu Sungmin keluar dari kamar mandi.

"Aku juga butuh mandi Lee Hyuk Jae! EMPAT HARI! Kau pikir tubuhku sewangi apa?" ujar Sungmin sedikit sarkas.

Sungmin dengan cuek kembali ke tempat tidur dan duduk di samping Kyuhyun yang sepertinya sudah 'mencicipi' samgyeopsalnya.

"Sepertinya ada yang sudah lapar ya?" ledek Sungmin pada Kyuhyun yang hanya nyengir.

"Ah laparnya... baiklah selamat makan!" seru Sungmin kemudian menyerbu makanan bagiannya.

Dia berpesta labu di hari kesembuhannya. Yah, bersakit-sakit dahulu, nikmat kemudian.

Kyuhyun dan Eunhyuk menggelengkan kepala melihat nafsu makan Sungmin yang amazing.

"Jadi... kapan Kyu hyung akan melamar Minnie hyung secara resmi pada Appa dan Eomma?" Eunhyuk memulai topik pembicaraan ditengah-tengah sesi makan untuk menghindari suasana canggung mengingat ini pertama kalinya mereka bertiga berkumpul, dan sekaligus sesi mengakrabkan diri.

Sungmin hampir tersedak mendengar ucapan frontal Eunhyuk.

"Lee Hyuk Jae!" seru Sungmin sedikit kencang.

"Aku akan membicarakannya dengan kedua orang tua dan keluargaku dahulu. Sepertinya akhir bulan ini tidak terlalu lama juga," jawab Kyuhyun tenang dan yakin.

Kini justru Eunhyuk yang tersedak. Dia langsung menyambar salah satu gelas yang ada di hadapannya.

Sebenarnya Sungmin juga terkejut, tapi untungnya dia tidak sedang menyuap makanan sehingga tidak tersedak.

"Secepat itu?" tanya Sungmin dan Eunhyuk berbarengan.

"Wae? Lebih cepat lebih baik kan? Aku akan menunjukkan keseriusanku pada hubungan kita Sungmin. Lagipula, usiaku sudah sangat matang untuk menikah, begitupun juga dirimu kan sayang? Ah, tapi, apa orang tuamu tidak keberatan kan jika kau memiliki suami seorang pria?" tanya Kyuhyun dengan percaya diri.

Sungmin dan Eunhyuk memandang Kyuhyun dengan aneh.

"Kau baru bertanya itu sekarang setelah nekad melamarku, seriously Cho Kyuhyun?! Aku seorang male pregnant, tentu saja orang tuaku tahu jika aku ditakdirkan untuk memiliki suami alih-alih seorang istri. Begitu juga dengan Eunhyukkie. Justru karena itulah kedua orangtuaku sangat protektif mengenai pergaulanku dan ya... mengenai prinsipku dan Eunhyukkie bahwa No Sex Before Married, itu untuk melindungi diri kami juga. Itu bukan sekedar prinsip, tapi juga semacam asuransi," ujar Sungmin dengan sedikit gemas.

"Dan ku rasa Kyuhyun hyung akan dengan mudah mendapat restu dari Appa dan Eomma," sambung Eunhyuk.

"Oh ya?" tanya Kyuhyun penasaran.

"Tentu saja! Appa dan Eomma itu tahu mengenai perjalanan hubungan Sungmin hyung dengan si Kim itu. Dan termasuk juga bagaimana proses perkenalan Kyu hyung dengan Minnie hyung hingga kalian jadian. Yah, untuk lamaran sih belum karena aku ingin Minnie hyung atau Kyuhyun hyung langsung yang memberitahu Appa dan Eomma," jawab Eunhyuk tanpa dosa.

"Kau memberitahu Appa dan Eomma tentang aku dan Kyuhyun?" seru Sungmin tak percaya.

"Ayolah hyung... Mereka sangat khawatir dengan keadaanmu Minnie hyung, terutama paska putus dengan si Kim itu. Jadi ya... untuk menenangkan mereka aku menceritakan mengenai Kyuhyun hyung. Sejauh yang ku dengar dari Eomma saat di telepon, mereka menyambut baik Kyuhyun hyung. ditambah lagi saat aku memberitahu mengenai Kyuhyun hyung yang sangat menghargai prinsipnya Minnie hyung. Di negara se-bebas Amerika ini, sudah langka orang-orang yang mau mengerti prinsip kita, tak terkecuali si Kim itu. Kyuhyun hyung, kau tak perlu khawatir. Jika hyung ingin menikahi Minnie hyung besok juga mereka pasti setuju. Hyung itu calon mantu ideal yang paling diinginkan Appa dan Eomma."

Sungmin menutup wajahnya karena malu dengan betapa blak-blakannya si Eunhyuk. Adiknya itu sungguh-sungguh...

"Ah, tidak juga. Aku juga memiliki banyak kekurangan. Yah... semoga saja yang kau katakan itu benar. Tapi mengenai waktu pernikahan, aku akan menunggu sampai Sungmin siap saja. Aku hanya ingin melamar secara resmi pada kedua orang tua kalian sebagai janji seorang pria sejati. Aku takkan memaksakan kehendakku pada Sungmin. Kebahagiaan dalam hubungan kami, itu yang paling utama."

Dan Sungmin jadi terharu dan nyaris menangis mendengar ikrar Kyuhyun.

Kyuhyun menggenggam tangan kiri Sungmin dan mendekapnya di dada.

"Aku akan menunggu sampai kau siap sayang," ujarnya dengan efek-efek romantis di tatapan mata serta senyuman mautnya.

Sungmin nyaris meleleh.

"Ne, gomawo," gumamnya malu.

Eunhyuk tersenyum bahagia melihat momen indah dihadapannya.

Ah! Akhirnya hyungnya yang sensitif itu menemukan tambatan hati yang sempurna. Semoga saja mereka langgeng, doa Eunhyuk dalam hatinya.

.

.

Setelah sarapan pagi, Dokter datang kembali memeriksa Sungmin untuk memastikan keadaan Sungmin, kemudian Dokter menyatakan bahwa Sungmin sudah diperbolehkan untuk pulang.

Dengan semangat yang membara, Sungmin langsung mengganti baju pasiennya dengan baju yang sudah dibawakan Eunhyuk dari rumah.

"Akhirnya! Aku pulang juga!" serunya senang.

"Jangan senang dulu! Kau juga harus banyak istirahat sayang. Aku sudah menghubungi atasanmu, Mr. Josh. Dia memberimu izin seminggu untuk memulihkan keadaanmu," ujar Kyuhyun sembari membantu Eunhyuk merapikan barang-barang Sungmin.

"Apa?! Aku sudah baik-baik saja kok, Kyu. Aku tak perlu izin segala. Aku ini sudah gatal ingin bekerja," elak Sungmin sedikit merengek.

"Sudahlah Minnie hyung. toh, Kyuhyun hyung juga sudah mengambil cuti kan? Lebih baik kalian manfaatkan waktu libur kalian untuk bersenang-senang. Ya, mesra-mesraan sedikit lah, tapi jangan melewati batas ya! Ingat ya Minnie hyung, Kyu hyung!" diakhir kalimat Eunhyuk sedikit menggoda Sungmin.

"Apa sih!? Tentu saja tak mungkin aku kelewatan Hyukkie! Kecuali si mesum ini sih... bisa saja," sindir Sungmin sembari melirik Kyuhyun.

"Apa? Jangan salahkan aku, salahkan dirimu yang terlalu menggoda," Kyuhyun balik menggoda dengan memberikan wink.

Wajah Sungmin langsung memerah. Tak biasanya Kyuhyun bersikap genit begitu.

Apa benar dihadapannya itu Cho Kyuhyun kekasih, ani tunangannya yang biasanya cool?

Eunhyuk tertawa melihat sikap genit calon kakak iparnya.

"Cukup Kyu hyung. nanti saja mesra-mesraannya dirumah. Disini masih ada anak polos," ujar Eunhyuk dengan cengiran sok polos.

"Anak polos?" sindir Sungmin melirik sinis Eunhyuk. "Memang kau pikir aku tak tahu sudah sejauh apa kau dengan si Donghae itu?"

"Eh? Hehehe..." Eunhyuk menggaruk kepalanya asal karena malu.

"Apa semuanya sudah beres?" Kyuhyun menengahi perdebatan tak penting adik kakak dihadapannya.

"Sepertinya sudah, ya sudahlah. Ayo, aku sudah merindukan kasur empukku di apartemen. AH! Home sweet home!" gumam Sungmin sembari tersenyum membayangkan apartemennya yang mungil namun nyaman.

Kyuhyun membantu membawakan satu tas milik Sungmin. Sebelah tangannya yang bebas meraih tangan Sungmin untuk digandengnya.

Dengan segera Sungmin membalas menggandeng tangan Kyuhyun, dengan senyum manis yang tersungging di bibir masing-masing, mereka beriringan keluar dari kamar rawat itu.

Meninggalkan sang adik, Lee Hyuk Jae aka Eunhyuk yang menatap iri pada kakak dan calon kakak iparnya itu.

"Jadi teringat Donghae, ah... Bogoshipo Hae-ya..." gumamnya kemudian bergegas menyusul mereka.

.

.

Blind Date

.

.

Awal bulan Maret pun akhirnya tiba.

"Apa kau sudah siap, Kyu?" tanya Sungmin pada Kyuhyun yang berdiri disampingnya dengan lengan yang melingkar nyaman dipinggang Sungmin.

"Tentu saja, sangat siap," jawab Kyuhyun yakin.

"Kau tak perlu panik dan gugup Kyu. Kau kan sudah sering berbicara dengan mereka melalui telepon beberapa kali. Dan mereka terdengar sangat senang saat berbicara denganmu, jadi mereka pasti akan menerimamu dengan baik," ujar Sungmin lagi mencoba sebisa mungkin menenangkan Kyuhyun.

Kyuhyun mengecup pucuk kepala Sungmin sembari mengeratkan pelukannya di pinggang Sungmin.

"Tenanglah Sungminnie sayang. Aku baik-baik saja dan sangat tenang. Kau juga tidak perlu gugup dan panik, oke? Aku akan menghadapi mereka dengan sebaik mungkin. Aku sangat percaya diri," balas Kyuhyun dengan menahan tawanya. Sebenarnya perkataan Sungmin tadi membuktikan bahwa justru Sungmin-lah yang gugup dan panik.

"Ah, ya. Aku juga... baik-baik saja," ujar Sungmin sedikit merasa tenang setelah mendengar jawaban Kyuhyun.

'Tenanglah Sungmin. Ini bukan seperti kau melakukan kesalahan dan tengah menanti hukuman. Kau justru akan menyampaikan kabar gembira. Ayo! Percaya diri Lee Sungmin!' batin Sungmin menyemangati dirinya.

"Semoga saja mereka nyaman dengan perjalanannya," ujar Kyuhyun berharap.

Sungmin menatap Kyuhyun sedikit sinis.

"Tentu saja mereka akan menikmati perjalanan mereka Kyu. Penerbangan kelas eksekutif, mana mungkin masih ada kata 'tidak nyaman' disana?" ujar Sungmin sedikit sarkas.

Kyuhyun terkekeh mendengar nada sarkas Sungmin.

"Ayolah sayang, kau masih marah karena aku yang membayar biaya tiket pesawat mereka. Itu hanya tiket sayang. Sejujurnya jika kau tidak keberatan aku ingin sekali bisa menyewakan pesawat pribadi atau helicopter untuk mereka agar mereka tak perlu menempuh perjalanan yang lama dan membosankan. Tapi, ini saja kau keberatan, jadi yah..."

Sungmin membelalakan matanya dengan kesal.

"Cho Kyuhyun, aku tahu kau memang kaya dan sukses. Tapi aku dan keluargaku bukan tipe materialistis. Lagipula kita ini masih tunangan, uangmu ya milikmu. Jangan terlalu memanjakanku, aku tak suka, arraseo?" omel Sungmin.

"Tapi aku sudah menganggap mereka seperti orang tuaku juga, sayang. Lagipula, kau juga akan melakukan hal yang sama pada orangtuaku jika kau jadi aku kan?"

Sungmin masih mempertahankan wajah kesalnya meskipun argumen Kyuhyun masuk akal juga.

"Oke, oke sayang, aku mengerti maksudmu," jawab Kyuhyun mengalah. Dikecupnya singkat bibir pinkish Sungmin untuk meluluhkan hati tunangannya itu agar tidak merajuk lagi.

Saat ini Sungmin dan Kyuhyun memang tengah berada di pintu kedatangan Bandara Raleigh.

Mereka tengah menunggu kedua orangtua Sungmin yang akan datang dari Korea Selatan ke North Carolina.

Sesuai dengan ikrar tak langsung yang dikatakan Kyuhyun dirumah sakit waktu itu, mereka sudah meminta kedua orang tua Sungmin untuk datang ke North Carolina atas undangan Kyuhyun di awal bulan Maret.

Sebelumnya, dua hari paska kepulangan Sungmin dari rumah sakit, setelah Kyuhyun menang dalam membujuk Sungmin, akhirnya dengan berani dan percaya diri Kyuhyun menghubungi kedua orang tua Sungmin di Korea untuk pertama kalinya via video call. Dan dia memperkenalkan diri sebagai kekasih Sungmin. Syukurlah, Tuan dan Nyonya Lee bisa menerima Kyuhyun dengan senang hati. Bahkan dalam beberapa kali kesempatan saat Kyuhyun menghubungi mereka lagi, Nyonya Lee dengan sangat antusias dan terang-terangan memuji Kyuhyun sebagai calon menantu idaman , kemudian secara tersirat menanyakan kapan dia akan melamar Sungmin secara resmi pada mereka.

Dan jadilah, awal bulan Maret mereka sepakat bahwa kedua orang tua Sungmin akan datang ke North Carolina atas undangan Kyuhyun, sekaligus mengunjungi anak-anak mereka, Sungmin dan Eunhyuk, yang telah lama merantau di Amerika dan jarang mereka kunjungi.

Dan tentu saja, Kyuhyun yang membayar semua biaya perjalanan kedua orang tua Sungmin, termasuk sewa kamar hotel bintang lima terbaik di Winston yang letaknya tak jauh dari apartemen Sungmin. Hal itulah yang membuat Sungmin kesal pada sikap keras kepala Kyuhyun dan segala argumen-argumen meyakinkan pria itu yang ingin dianggap sebagai calon menantu yang baik dan bertanggung jawab. Namun akhirnya Sungmin mengalah karena kalah argumen dengan Kyuhyun. Yang terpenting orangtuanya mendapatkan yang terbaik dan memiliki pandangan baik pada Kyuhyun.

Tidak lama kemudian Sungmin melihat sosok kedua orang tuanya yang berjalan bersama-sama keluar dari pintu kedatangan.

Aboejinya tengah mendorong trolley yang berisi dua koper besar dan satu tas travel berukuran sedang. Sementara disampingnya Nyonya Lee tengah memeriksa ponselnya yang saat di pesawat dia matikan.

"Itu mereka, Kyu," bisik Sungmin yang tiba-tiba kembali gugup.

Kyuhyun mengikuti arah pandang Sungmin dan langsung mengenali pasangan Lee itu. Ya, Sungmin memang telah menunjukkan foto kedua orang tuanya dan Kyuhyun langsung hafal wajah mereka. Naluri seorang pebisnis menuntutnya untuk mengingat wajah orang-orang yang dikenalnya atau pernah ditemuinya dengan cepat.

Saat Nyonya Lee mendongak dan menyadari keberadaan Sungmin dan Kyuhyun, beliau langsung menaruh ponselnya asal di tas kemudian setengah berlari mendekati Sungmin lalu memeluknya erat. Eomma Sungmin memeluknya dengan sangat erat dan agak lama seolah tak mau melepaskan Sungmin. Tuan Lee aka Abeoji Sungmin hanya mengangkat bahunya kemudian menyusul istrinya itu dan menunggu gilirannya memeluk Sungmin dengan sabar.

Setelah Nyonya Lee melepaskan pelukannya, barulah Tuan Lee memeluk Sungmin.

"Bagaimana kabarmu sayang, apa kau baik-baik saja? Bagaimana juga kabar Eunhyukkie?" tanya Tuan Lee.

"Kami berdua baik-baik saja Appa," jawab Sungmin. "Appa dan Eomma juga baik-baik saja kan?"

"Tentu saja. Appamu ini meskipun sudah tua tapi masih sangat sehat," seloroh Tuan Lee sambil tertawa kecil.

Sungmin dan Nyonya Lee ikut tertawa sementara Kyuhyun hanya tersenyum.

"Eomma juga baik-baik saja sayang," Eomma Sungmin juga menjawab sambil kembali mendekati anaknya kemudian mencubit pipi Sungmin gemas.

"Kau sedikit terlihat lebih chubby? Sepertinya nafsu makanmu baik-baik saja," ledek Nyonya Lee.

"Eomma," rengek Sungmin. Tuan dan Nyonya Lee tertawa mendengar rengekan Sungmin.

Anak sulungnya itu tak berubah, tetap manja meskipun sudah dewasa.

"EHM," Kyuhyun berdeham, dan Sungmin baru ingat dengan keberadaan Kyuhyun. Orangtuanya membuatnya melupakan Kyuhyun.

Tuan dan Nyonya Lee menoleh pada Kyuhyun kemudian mengerling pada Sungmin.

"Ah, ya! Eomma dan Appa. Ini Cho Kyuhyun ehm kekasihku. Tentu Eomma dan Appa sudah pernah melihatnya melalui video call kan?" Sungmin memperkenalkan Kyuhyun pada kedua orangtuanya dengan sedikit gugup.

"Selamat datang, Tuan dan Nyonya Lee. Saya Cho Kyuhyun. Senang bisa berkenalan langsung dengan Tuan dan Nyonya Lee," ujar Kyuhyun jelas, tegas dan tenang. Tentu juga dengan senyuman tersungging diwajah tampannya.

Nyonya dan Tuan menatap Kyuhyun lekat-lekat. Sedangkan yang ditatap masih bersikap tenang dan mempertahankan senyuman ramahnya.

Disisi lain Sungmin merasa gugup melihat cara pandang kedua orangtuanya pada Kyuhyun.

.

.

TBC

.

.

Mianhae atas keterlambatan updatenya. #DEEPBOW

Hasu lupa bikin pengumuman kalau Hasu ga bisa update ff dalam waktu dekat.

Selama beberapa minggu ini Hasu ada perjalanan dinas ke Jayapura dan baru pulang kemarin.

Mungkin dari kalian ada yg tau kalau sinyal internet disana itu senin-kamis alias langka banget.

Hasu susah banget mo update ff disana. Karena mendadak dan belum pernah, Hasu ga tau kalau ternyata bakal sesusah itu u/ akses internet.

Sekedar searching di Go*gle aja susah T.T

Jadinya Hasu Cuma bisa bikin drafnya dulu.

Dan malam ini setelah beres-beres, baru bisa update ff nya.

Jeongmal mianhae sekali lagi.

And thank you very much untuk kesabaran kalian yg masih nungguin ff ini and ff Hasu yg lain.

Juga buat yang udah ngingetin Hasu via pm dan Line and kotak review.

Mian, Hasu cuma bisa baca lewat hp tp ga bisa bales karena akses internetnya T.T

Okelah, selamat menikmati.

Untuk chap lanjutannya akan diupdate sabtu ne.

Ff lain juga nyicil ya updatenya, mohon pengertiannya ^.^

Soalnya besok masih kerja (kerja mulu T,T)

Last,

Keep Reading ^.^

Gomawo

Ryeota Hasu