New Life, Love and Trouble

Story by Vylenzh

Naruto © Masashi Kishimoto

[Sakura/Sasuke]

Warning: AU, OOC, Typo(s) de el el.


.

.

Chapter 02: Hari baru?

.

.


Berdecak sebal, Sasuke mengulangi, "Jadi pacarku, anak baru."

Sorakan dan suitan dari anak-anak lelaki kelas 11-2 semakin keras mewarnai 'tembakan' dadakan Sasuke, sedangkan anak-anak perempuan berteriak tak rela.

"Bagaimana? Kau pasti mau kan?" Sasuke bertanya percaya diri seraya menyunggingkan senyumnya.

"Kau..." Sakura mengawali. "Gila ya? Minggir! Aku mau lewat," jawab Sakura jengah. Ia berjalan melewati Sasuke yang mematung memikirkan bahwa Uchiha Sasuke—dirinya—baru saja ditolak mentah-mentah oleh seorang gadis.

Duduk dengan tenang di bangkunya Sakura tak menyadari pandangan dari seluruh anak kelas yang menatapnya kagum—karena berani menolak Sasuke, tak percaya—karena baru ditembak Sasuke, sinis—karena berani menolak Sasuke, penasaran—karena baru ditembak Sasuke dan lain-lain sebagainya. Apapun pandangan mereka alasan dibaliknya adalah sama karena berani menolak Sasuke dan baru ditembak Sasuke.

Oh, sungguh beruntungnya Sakura.

Atau... tidak?

.

.

.

"Kau gila ya Sasuke?" Gaara menggelengkan kepalanya tak percaya akan tindakan Sasuke di kelas tadi.

Kini, Sasuke dan Gaara berada di atap sekolah. Dan lagi-lagi membolos di kelas padahal mereka baru saja masuk. Ck ck, benar-benar anak nakal.

Mengangkat bahu tak peduli, Sasuke membalas, "Kupikir akan mudah."

"Kau memang gila dan terlalu over percaya diri."

Sasuke tertawa singkat membalas ucapan Gaara. Detik berikutnya dia tersenyum sinis memikirkan suatu rencana.

"Kau akan menjadi milikku Haruno. Tinggal menunggu waktunya saja," desis Sasuke pelan dengan kepercayaan diri yang terpasang jelas di wajahnya.

.

.

.

Haruno Sakura tak tahu kutukan apa yang mengenainya di Konoha ini. Kutukan kesialan kah? Oh Tuhan, dia bisa gila dengan segala hal yang menimpanya. Sejak si sialan Uchiha itu menembaknya, tidak ada yang mau mendekatinya. Jadi, hari barunya ini dilewati tanpa teman. Menjadi orang baru di tempat asing tanpa seseorang yang bisa diajaknya untuk mengobrol membuatnya seperti terasingkan. Dia seperti alien yang kesasar di Bumi dan tak tahu bagaimana jalan pulang—anggaplah seperti itu, Sakura sungguh tak tahu jalan keluar untuk masalahnya ini.

Yang paling parah adalah Uchiha Sasuke selalu mendekatinya sejak penembakan itu membuatnya jengah dan bosan menatap wajah tampan nan brengsek itu.

"Berhentilah mengikutiku, Uchiha!" teriak Sakura sembari memutar tubuhnya menatap sang Uchiha bungsu itu menampakkan seringai memuakkannya.

"Tapi aku ingin mengikutimu."

"Kau sungguh gila! Berhentilah bermain-main, Uchiha! Gara-gara kau, tak ada yang mau mengajakku berkenalan!" marah Sakura.

"Oh benarkah?" Sasuke pura-pura menyesal. "Aku tak tau. Tapi mungkin kau berniat jadi pacarku?"

"Pacar?" Sakura mendengus jijik. "Kau pikir aku semurahan itu? Jangan gila, Uchiha dan bangunlah dari kegilaanmu."

Sakura pun berbalik dan melanjutkan langkahnya. Sasuke tak mengikutinya tapi menggeram kesal dengan tingkah Sakura yang sok jual mahal itu.

"Aku mungkin tak bisa menaklukanmu dengan mudah, Haruno, Tapi dengan paksa, mungkin?" desis Sasuke lalu berbalik—berjalan berlawanan arah dengan Sakura.

.

.

.

Hari pertama yang gagal! Tidak terbayangkan sebelumnya bahwa hari pertamanya akan semengerikan ini. Sakura tidak salah kan kalau ia menyalahkan Sasuke dalam hal ini? Karena berkat dialah Sakura jadi melalui hari pertamanya dengan berbagai macam tatapan tak mengenakan dari seluruh penghuni sekolah. Belum lagi dengan adanya coretan-coretan yang ada di atas mejanya tadi.

"Kau siapa sialan? Beraninya mencuri pangeran kami!", "Pergilah dari sekolah kami!", "Kau pel*cur menjijikkan! Mati saja sana.", dan banyak lagi yang membuat kepala Sakura sakit membacanya.

"Aku pulang," salam Sakura seraya masuk ke dalam rumah yang tampak sepi. Dia berjalan ke meja makan dimana ada selembar kertas disana. Sakura mengambilnya dan membaca pesan yang ditinggalkan oleh Rin.

"Sakura, aku ada keperluan sebentar. Ada makanan di kulkas. Kau tinggal menghangatkannya. Makan dengan baik ya. Dan sepupu Rin-neechan sepertinya akan pulang hari ini. Hati-hati ya di rumah. Sampai nanti—Rin"

Setelah membacanya Sakura meletakkan kertas tersebut ke atas meja lalu berjalan ke kulkas. Namun, sebelum membukanya ada suara pintu terbuka dan menutup kembali. Siapa? Apakah Rin?

Sakura kembali ke ruang depan dan terkejut mendapati seorang pemuda yang juga memandangnya kaget. Dan dua-duanya hanya bisa melontarkan satu kalimat yang sama.

"Apa yang kaulakukan disini?"

"Apakah kau stalker? Kenapa kau bisa berada disini?" tanya Sakura kemudian—bertanya lebih lanjut akan kedatangan Uchiha Sasuke yang tak ia duga. Detik berikutnya ia tersadar akan sesuatu. "Tidak mungkin," ucapnya seraya menutup mulutnya. "Kau—"

Sasuke menghela napas dan memandang 'bahan taruhannya' yang tampaknya kaget akan kedatangannya. Ia awalnya juga kaget tapi sepertinya ia memahami situasi ini.

"Ternyata kau yang menumpang. Oh, sungguh kebetulan," ucapnya sinis.

"Oh, tidak!" desis Sakura tak percaya bercampur kesal.

"Oh ya. Suatu kebetulan yang indah kan, Haruno? Bagaimana? Kau senang bisa lebih dekat denganku?" Sasuke maju perlahan mendekati Sakura yang tiba-tiba merasa ketakutan. Dan sialnya dinding di belakang Sakura membatasi pergerakannya. Dia berdiri mematung dengan Sasuke yang sudah tepat di hadapannya dengan seringai menyebalkan miliknya.

Mendekatkan wajahnya ke telinga Sakura, ia berkata, "Dengar Haruno. Aku masih belum menyerah menjadikanmu pacarku. Jadi, nikmatilah hari-harimu di sekolah nanti. Lalu sebuah saran untukmu, lebih baik kau segera menerimaku atau... neraka."

Memundurkan lagi kepalanya, ia melihat wajah Sakura sudah memerah. Dengan seringai tipis dia menepuk kepala Sakura singkat. "Senang bertemu denganmu. Moga harimu menyenangkan." Lalu ia berbalik dan menuju ke kamarnya tanpa melihat sosok gadis di belakangnya yang merosot jatuh dengan ekspresi wajah antara marah, malu dan lelah.

Sakura merutuki dirinya yang tak bisa berbuat apapun. Dia lemah! Sial! Sakura mencoba bangkit dan menarik napas untuk menenangkan dirinya sendiri. Kemudian kedua matanya tertuju ke kamar Sasuke.

"Kau pikir aku akan menyerah begitu saja Uchiha? Tidak. Aku tidak selemah itu. Dasar sialan!"

.

.

.

Hari-hari telah berlalu dengan sendirinya, waktu terus bergerak maju tanpa lagi menoleh ke belakang. Sayangnya, bagi Sakura waktu seakan berhenti di tempat meninggalkan dirinya dalam kungkungan neraka di balik gerbang HILIS—sekolah barunya.

Sakura hanya bisa merutuki nasib sialnya di HILIS ini dengan begitu banyaknya bullying yang ia terima dari kumpulan gadis penggila Uchiha sialan itu. Dan hari ini ia telah menerima guyuran air di bilik toiletnya. Sialan! Siapapun yang melakukannya dia benar-benar tak main-main dengan Sakura.

Di perjalanannya menuju lokernya untuk mengambil baju ganti, seluruh tatapan mengarah kepadanya, antara tatapan kasihan, jijik, cemooh dan oh masa bodo'! Sakura tidak peduli, ia hanya perlu cepat-cepat ke lokernya mengambil baju ganti dan berganti pakaian. Ia sudah kedinginan!

"Haha! Apa kau belum mandi, Haruno? Sampai harus mandi di sekolah segala." Sebuah ejekan meluncur dari mulut seorang gadis yang Sakura tak tahu namanya. Sakura hanya melengos jengkel lalu cepat-cepat membuka lokernya yang sudah berada di hadapannya.

Namun, yang di dapatinya dalam lokernya adalah sampah! Oh Tuhan, Sakura ingin menangis melihatnya. Dia marah, sebal, jijik dan benci melihat apa yang ada di dalam lokernya.

"Astaga Haruno! Sekarang kau mengoleksi sampah? Apa belum cukup kau mandi di sekolah?" Sahutan dari seseorang yang cukup sering di dengarnya akhir-akhir ini, si Uzumaki merah itu.

Sakura melirik tajam Karin dan dua penguntitnya itu—Ino dan Shion. "Kau yang melakukannya?" tanyanya marah.

"Hahaha, kau bilang apa, eh, Haruno?" Karin mengibaskan rambutnya tak terima lalu tersenyum mengejek ke arah Sakura. "Sepertinya kau harus pulang dengan—" Manik merah Karin menatap tubuh Sakura yang basah dengan seringainya. "—tubuh seperti itu. Aku turut kasihan," ucapnya datar diakhiri tawa lebar.

Kedua manik hijau Sakura menatap ke dalam lokernya yang kini berbau menjijikkan. Ia mengernyitkan hidungnya melihat ada cairan hijau menjijikkan di atas baju olahraganya. Kemudian ia ganti memandang tubuhnya yang basah, Karin benar, mungkin dia harus pulang dengan keadaan memalukan seperti ini.

Menutup lokernya dengan keras ia berbalik menatap Karin dengan marah. "Kau sudah keterlaluan, Uzumaki. Memangnya aku salah apa hah? Sampai kau memperlakukanku seperti ini?!" Ia berteriak kesal—memandang dengan sorot tajam sekaligus marah kepada Karin dan antek-anteknya itu.

Karin melenggang ke hadapan Sakura, berhenti di jarak 2 meter dengan Sakura. "Kau bertanya apa salahmu?" Tersenyum tipis ia melanjutkan, "Kau mendekati Sasuke kami! Kau yang anak baru tiba-tiba ditembak oleh pangeran kami! Apa yang sebenarnya kaulakukan kepada Sasuke?! Apakah kau memantrainya, sialan?!"

Jawaban Karin malah membuat Sakura tertawa sangat keras. Meskipun tawanya hampir seperti paksaan karena mendengar jawaban aneh Karin.

"Ya ampun! Bodoh sekali jawabanmu, Uzumaki. Aku? Aku mendekati Uchiha sialan itu? Memangnya siapa dia sampai aku harus mendekatinya? Bahkan jika dia anak presiden pun aku tak akan mau mendekati Uchiha sialan itu! Camkan itu, Uzumaki!"

"Kau—siapa kau sampai berani-beraninya mengatai Sasuke kami sialan, dasar pelacur menjijikkan!" Karin menatap marah kepada Sakura bahkan tangan kanannya sudah terangkat nyaris menampar pipi mulus Sakura jika tidak ada tangan yang menangkapnya.

"Berhenti!"

Karin menatap kaget ke pemilik tangan tersebut, Uchiha Sasuke.

"S-sasuke-kun?"

.

.

.

Ketika pertama kali mendengar kabar kalau Karin dan Sakura sedang bertengkar dengan melibatkan namanya, Sasuke acuh tak acuh. Ia tak peduli dan merasa itu bukan urusannya. Memang apa pentingnya sampai dia harus menonton pertengkaran konyol antar dua gadis itu? Haha, Sasuke mana mau peduli terhadap hal konyol seperti itu.

Tapi, lama kelamaan duduk bersantai tanpa mengerjakan apa-apa juga membuat Sasuke bosan apalagi Gaara yang hari ini belum menampakkan batang hidungnya. Dia tak punya teman main. Mendecih sebal, dia pun bangkit dan berjalan ke arah tempat pertengkaran dua gadis itu.

Dan sesampainya disana ia terkejut mendapati dirinya menghalangi Karin menampar Sakura setelah mengatainya. Haha, ya ampun apa yang terjadi kepadanya sebenarnya?

"S-sasuke-kun?" Karin tergagap memanggilnya, sepertinya antara takut dan kaget mendapati dirinya disini.

"Cukup Uzumaki." Sasuke melepaskan cengkeramannya berbarengan dengan Karin yang menurunkan tangannya. "Dan sebaiknya kau pergi. Kalian juga. Tontonan selesai," ucap Sasuke sembari mengitari kerumunan yang langsung patuh mendengar perkataannya tak terkecuali Karin cs. Kerumunan pun telah bubar meninggalkan dirinya dan Sakura.

Dia berganti melihat kondisi Sakura yang tampak kacau dengan tubuhnya yang basah dari ujung kepala hingga kaki dan tatapan kemarahannya. "Haruno... kau sepertinya tampak—em kacau?"

"Bukan urusanmu, Uchiha." Sakura ganti memandang marah ke arahnya.

"Hn... sepertinya itu urusanku. Bukankah namaku tadi dibawa-bawa? Atau ada Uchiha lain di sini, hm?" Sasuke melanjutkan, "Dan sebaiknya kau segera ganti baju atau kau akan sakit, Haruno."

Sakura diam mendengar perkataan Sasuke. Dia menghela napas panjang lalu berjalan menjauhi Sasuke.

"Haruno! Kau mau pergi kemana? Apa kau berharap aku mengambilkan baju ganti di lokermu, eh?" Sasuke berdecak kesal, tapi langkah kakinya mengarah ke loker Sakura. Membuka loker yang tak terkunci itu ia mendapati sampah dan cairan entah apa di atas baju olahraga Sakura. Oh, sepertinya Sasuke tahu yang terjadi.

Dia menutup kembali loker Sakura, dia langsung berbalik dan mengejar langkah Sakura hingga berada di belakangnya. Melepas jas almameternya, dia menyampirkan jasnya ke bahu Sakura yang langsung berhenti berjalan.

Memutar tubuhnya, Sakura menatap sengit ke arah Sasuke.

"Apa maumu Uchiha?" tanya Sakura sembari akan melepas jas Sasuke yang segera ditahan tangan Sasuke.

"Jangan salah paham dulu dan tetap pakai jas milikku itu. Pertama, aku sedang tak berbuat baik. Kedua, aku hanya merasa kasihan—kau sepertinya akan flu dengan tubuh basahmu itu. Ketiga, jangan membuatku sampai ditanyai oleh Bibi Rin tentang kondisimu itu. Keempat, kau bisa memakai baju ganti milikku."

Sakura mendecih lalu menatap lurus tepat ke kedua manik hitam Sasuke. "Aku sedang tak mengemis bantuan darimu, Uchiha. Kau pikir siapa dirimu, eh?"

"Aku Uchiha Sasuke dan aku sedang memerintahkanmu untuk mematuhi ucapanku. Mengerti? Oh, tidak. Kau harus mengerti. Karena kupikir kau tak punya siapapun disini untuk menolongmu selain aku bukan?"

.

.

.

Gosip tentang dirinya dan Sasuke semakin memanas sejak dirinya ditolong oleh Sasuke di kejadian sewaktu dia basah. Belum lagi, ada saksi mata yang melihatnya memakai baju ganti yang dipinjamkan oleh Sasuke. Astaga, tidak bisakah Sakura sehari saja tenang di sekolah barunya ini? Baru seminggu loh dia disini dan sepertinya ia sudah memliki musuh yang tak perlu dihitung berapa jumlahnya.

Dan tokoh lain yang juga jadi perbincangan hangat di HILIS kini tampak anteng-anteng saja di meja makan. Tampak tidak terganggu dengan Sakura yang frustasi akan kehidupannya ini.

"Ehm, cuma perasaanku saja atau kalian memang sedang bertengkar?" Tangan Rin menyangga salah satu kepalanya, kedua matanya melirik ke Sakura yang memandang tajam ke Sasuke, dan Sasuke yang sejak pertemuan pertamanya dengan Sakura tampak dingin dengannya—atau seperti itulah yang Rin tahu.

Tak ada yang menjawab, Sakura sibuk dengan makanannya dan Sasuke yang tak berniat menjawab pertanyaan Rin.

"Ehem!" Rin berdehem cukup keras untuk mendapat perhatian dari dua anak yang menumpang di rumahnya ini. Untungnya, Sakura dan Sasuke cukup sadar untuk tidak membuat Rin kesal atau mereka akan luntang-lantung di jalan.

Mendapati dua pasang mata kini telah memandangnya, Rin meneruskan, "Aku rasa kalian tidak cukup akrab benar?"

"Hn."

"Apa ada alasannnya?"

"Hn."

Rin menggertakkan giginya kesal. "Sasuke, kau bisa menjawabnya dengan benar, hm?"

Sasuke mengangkat bahunya tak peduli, ia sudah selesai dengan sarapannya. Kini dia tampak bersiap berangkat sekolah.

"Sasuke!" Rin berseru kesal diabaikan oleh sepupu dinginnya itu. Hah...

"Apa sih?" Sedang Sasuke jengah juga diinterogasi seperti ini, di mata Rin dia yang salah karena tidak membangun hubungan yang baik dengan Sakura. Lah, Sakura saja terus menghindarinya. Gimana dia mau dekat coba?

"Berangkat sama Sakura."

Sakura tergelak mendengar ucapan Rin, dia segera menggeleng menolak. "Tidak perlu, oneesan. Aku bisa berangkat sendiri."

"Kau dengar kan? Aku berangkat."

"Berangkat kemana, hah?" Rin berteriak. "Sakura, Sasuke. Tanpa pertanyaan kalian harus berangkat bersama. Titik!"

.

.

.

Dan disanalah dua tokoh utama kita berada kini—berada di dalam satu mobil dengan keadaan yang teramat hening bagi keduanya. Tak ada satu pun yang berniat membuka percakapan bahkan hal sepele sekalipun. Yang kepala biru, terhalang oleh egonya, yang kepala pink ogah bicara dengan si kepala biru.

Tapi pada intinya dua kepala berbeda warna itu memiliki kekeras kepalaan yang sama-sama besar.

Sakura memandang keluar jendela, sepasang manik hijaunya tak berniat memandangi sang 'sopir'. Pemandangan Konoha di luar jendela lebih indah dipandang baginya. Daripada memandangi si brengsek di sebelahnya.

Sasuke yang merasa diabaikan merasa kesal karena mungkin hanya Sakura satu-satunya gadis yang berada di mobilnya dan tak menganggap dirinya ada. Cih, sialan memang.

Akhirnya, Sasuke berdeham agak keras. Namun, Sakura masih tetap mengabaikannya. Gadis ini benar-benar membuatnya kesal.

"Hei," panggil Sasuke keras.

Lagi. Tak dianggap.

"Hei—"

"Aku punya nama, Uchiha! Bukan 'hei'." Sakura bersungut-sungut kesal membalas Sasuke. Ia memalingkan mukanya kembali setelah menatap Sasuke.

"Kau tak berminat mengucapkan terimakasih?"

Sakura tertawa sinis mendengarnya. "Kau gila ya? Kenapa aku harus berterimakasih ketika aku sudah merasa mual berada disini terlalu lama."

"Hn... berarti kau mau turun?"

"Kau tau, kenapa harus bertanya?"

"Oh, baiklah," ucap Sasuke lalu membanting stir-nya ke tepi jalan dan berhenti dengan mendadak membuat jantung Sakura nyaris copot melihat kelakuan Sasuke.

"HEI! KAU GILA?! MAU MEMBUNUHKU ATAU APA, HAH!"

Sasuke memandang Sakura—tak peduli dengan perkataannya, ia berkata, "Turun."

"A-apa?!"

Sasuke tersenyum amat tipis lalu berkata, "Turun. Kau merasa mual kan berada disini? Aku tak ingin mobilku ini terkena muntahanmu jadi bisa kau turun? Selagi aku masih baik, Haruno."

"Tapi jarak sekolah masih jauh dari sini," ujar Sakura kesal.

"Aku tak peduli. Cepatlah turun, aku tak mau telat."

"Kau—"

"Apa? Brengsek? Sialan?" potong Sasuke bosan.

"Akh!" Sakura mengerang kesal. Ia membuka pintu mobil kasar dan turun masih dengan menyumpahi Sasuke. Setelah pintu tertutup, tanpa berkata apapun Sasuke melajukan mobilnya meninggalkan Sakura yang dengan marah memandang mobil Sasuke.

Menghembuskan napas panjang, ia mencoba menenangkan hatinya. Jangan seperti ini Sakura. Dia tidak berhak kau pikirkan. Ini adalah keputusan terbaik untuk tidak semobil dengannya. Benar, ini keputusan terbaik. Sakura mencoba berdamai dengan hatinya yang bergemuruh kesal.

Selain itu, daripada memikirkan si-pantat-ayam itu, lebih baik dia mencari kendaraan untuk ke sekolah. Namun, sebelum itu ia melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Kedua sudut bibirnya pun naik dengan perlahan memikirkan rencana gilanya.

.

.

.

Sakura tak tahu bagaimana ia bisa berakhir di depan loker anak-anak HILIS di jam pelajaran sedang berlangsung. Atau intinya bagaimana dia bisa berakhir membolos pelajaran dengan sekantung tomat di genggamannya dan tatapan sinisnya ke loker-loker di hadapannya.

Mengambil salah satu tomat merah segar yang dibelinya di perjalanan tadi, ia menimbang-nimbang akan melemparnya ke loker yang mana. Sebagian besar loker di hadapannya sudah terbuka menampakkan isi loker gadis-gadis yang seingatnya sering mengganggunya termasuk Karin dan teman-temannya. Ia tersenyum semakin lebar lalu bersiap melempar tomat pertamanya ke loker Karin. Niat sudah di depan mata, ia pikir segalanya agar berjalan sesuai rencana, namun tangannya yang memegang tomat berhenti di udara—dipegang oleh tangan seseorang, tangan dari si Uchiha.

"Apa yang kau lakukan?" desis Sakura marah seraya menatapnya tajam.

Sasuke berdehem. "Seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Apa yang kau lakukan dengan tomat-tomat itu?"

"Bukan urusanmu."

"Aku tau," balas Sasuke lalu mengambil tomat yang ada di tangan Sakura dan memakannya tak menghiraukan tatapan marah Sakura.

"Apa—"

"Kau mau balas dendam, hm?" potong Sasuke cepat.

"Tidak."

"Aku melihatnya ya."

Sakura memutar bola matanya mendengar jawaban membosankan Sasuke. "Pergilah, kau tak ada urusan disini."

"Sebenarnya ada," koreksi Sasuke lalu mengambil kantong berisi tomat di tangan Sakura. "Aku selalu ada urusan apabila itu menyangkut buah kesukaanku."

"Hah?"

"Terimakasih," ucap Sasuke lalu memakan tomat keduanya dari kantong berisi tomat yang kini telah berpindah ke tangannya.

"Kenapa kau memakannya, sialan!"

"Lapar. Dan kenapa kau mau membuang makanan enak ini?"

Sakura mendecih sebal. "Siapa yang mau membuang apa?"

"Aku melihatmu tadi akan melempar tomat ini ke loker-loker disana itu."

"Tidak."

"Iya."

"Ah sudahlah!" Sakura berseru sebal sedangkan Sasuke menatapnya geli. Ia menghentak-hentakkan kakinya kesal lalu pergi menjauh. Oh, ia benar-benar kesal. Rencananya dihancurkan oleh pantat ayam! Sialan! Benar-benar sialan!

Eh, omong-omong bagaimana dengan tomat yang dibelinya tadi? Tidak mungkin Sasuke akan memakannya semua kan? Atau Sasuke akan membuangnya?

Ah, peduli amat Sakura dengan pemuda itu.

Sakura tak peduli! Sungguh tak peduli.

.

.

.

Untuk pertamakalinya, Sakura menginjakkan kakinya di perpustakaan HILIS. Ia mengangguk sejenak kepada petugas perpustakaan yang menatapnya sesaat setelah dia masuk. Kemudian langkah kakinya membawanya ke salah satu deretan rak buku yang berisi novel. Tatapan matanya lalu tertuju ke salah judul novel yang berada tak jauh dari dirinya. Ia akan mengambilnya namun tangan seseorang pun turut akan mengambilnya.

"E-eh. Ha-haruno-san?" Suara gemetaran dari si pemilik tangan tadi membuat Sakura mengalihkan pandangannya ke si pemilik suara tersebut.

Pemilik suara itu adalah seorang gadis dengan helaian indigo dan kedua mata lavender yang balas menatapnya terkejut. Er, Sakura sebetulnya tak mengenalnya.

"...siapa?"

"Eh, maaf," ucapnya gelagapan. "A-aku Hinata. Hinata Hyuuga, teman sekelas Haruno-san."

"Ah, benarkah?" tanya Sakura terkejut. Sebenarnya ia tak mengetahuinya. Sungguh ia tak tahu bahwa gadis bernama Hinata ini adalah teman sekelasnya. Betapa jahatnya dia.

"Aduh, maaf ya tidak mengenalimu," lanjut Sakura seraya tertawa ringan.

"Ti-tidak apa-apa kok, Haruno-san. Sudah biasa." Hinata berkata seakan itu sudah hal lumrah baginya.

"Aku sungguh minta maaf, Hinata. Dan panggil aku Sakura. Mau?" ucap Sakura seraya mengangsurkan salah satu tangannya menunggu dibalas oleh Hinata yang menatapnya terkejut. Loh, kenapa Hinata terkejut? Bukankah ini hal biasa untuk menjalin hubungan pertemanan kan?

Selain itu, Sakura tanpa ragu mengajak Hinata berteman karena ia tahu dari sejak ia pertama melihatnya, Hinata bukan gadis seperti Karin atau yang lainnya. Ia juga yakin bahwa gadis di hadapannya ini bukanlah salah satu gadis yang mengganggunya kemarin atau kemarinnya lagi. Mungkin ini saat yang tepat ia memiliki seorang teman di kehidupannya yang baru.

"Kau ingin membuat tanganku kebas, Hinata?" ujar Sakura menggembungkan kedua pipinya.

"Eh maaf." Hinata segera membalas uluran tangan Sakura. "Salam kenal, Ha—eh, Sakura-san. Senang berkenalan denganmu," balas Hinata sembari tersenyum tipis.

"Senang juga berkenalan denganmu, Hinata. Terimakasih mau mendekatiku ya," ujar Sakura terkekeh pelan.

Hinata tersenyum mendengar ucapan Sakura yang terdengar seperti gurauan. Hinata pikir ketika pertamakalinya Sakura mengenalkan dirinya di kelas, Sakura adalah tipe gadis seperti Karin yang dingin dan semacam itulah tapi dugaannya salah. Sakura sangat hangat dan menyenangkan. Mungkin sifat aslinya tertutupi oleh hari-harinya yang tak mengenakan.

Hinata senang dapat mengenal Sakura. Ia bersyukur akan hal tersebut dan tak akan menyia-nyiakannya.

.

.

.

-tbc-


Haloooo... Maaf lama ya. Moga tidak mengecewakan.

Balas Review (yang lain cek PM ya)

Miss. M (sudah lanjut. Maaf flashback dulu ya soalnya akan jadi lubang besar/? kalau nggak di flashback. Terimakasih sudah mau nunggu—masih minat kan?), akimari13 (karena Naruto punya peran lain. Hehe. Masih dirahasiakan tepatnya. Gaara walaupun bukan peran utama bakal jadi penentu hubungan SasuSaku. Ditunggu ya...), hachiko desuka (udah dilanju. Masih setia nunggu kah?), Rani (sudah. Masih berminat nunggu?) dan Choi (semangat kok. Lanjut nih.)

Mungkin akan banyak yang protes karena masih flashback. Aku membuatnya bukan tanpa alasan. Flashback disini akan menjelaskan kenapa mau-maunya Sakura nerima tembakan Sasuke. Mungkin akan satu atau dua chapter lagi flashbacknya. Aku harap sih kalian tidak bosan atau jenuh. Atau malah lewatin—aku nggak berharap.

Semoga kalian tetap menikmatinya. Aku berterimakasih untuk semuanya. Kalian adalah penyemangatku :)

Review again?