New Life, Love and Trouble
Story by Vylenzh
Naruto © Masashi Kishimoto
[Sakura/Sasuke]
Warning: AU, OOC, Typo(s) de el el.
A/N: Flashback selesai! ^^ dan siap menuju konflik—psst, juga saingan Sasuke.
.
.
Chapter 03: Masa Lalu
.
.
"Kau menyakitiku, sialan!" Sakura tidak pernah semarah ini dalam hidupnya. Ia dikhianati oleh dua orang yang paling ia percayai, dan yang paling parah adalah saat dimana dia membutuhkan orang-orang itu, mereka malah menyakitinya.
"..."
Pemuda di hadapannya diam, tidak membalas perkataan Sakura yang makin membuat Sakura geram. Wajahnya memerah menahan amarah.
"Kau brengsek, benar-benar brengsek. Aku membencimu. Aku tidak ingin melihatmu lagi!"
Sakura tak bisa lagi menahan amarah di dadanya. Tangannya pun melayang menampar wajah mulus dari pemuda dengan surai merah itu. Dia mengacungkan jari telunjuknya di hadapan pemuda itu lalu berkata dengan sinis.
"Jangan pernah muncul di hadapanku lagi, brengsek. Kita putus!"
Dan dia pun meninggalkan tempat itu, melangkahkan kedua kakinya menjauh dari sebuah kenyataan yang menamparnya keras-keras. Meninggalkan sebuah luka yang amat dalam, pun meninggalkan pemuda itu—masa lalunya.
.
.
_o_o_
.
.
Drrt—suara dering sebuah ponsel mengusik tidur dari seorang Sakura Haruno. Ia mengeluh pelan mendengar ponselnya yang sedari tadi tak berhenti berbunyi. Saat dering ponselnya berhenti berbunyi, Sakura bernapas lega dan berniat melanjutkan tidurnya. Namun, sedetik kemudian ponselnya bergetar kembali.
"Akh!" Sakura mengerang sebal. Dia dengan wajah kesal dan cemberut mengambil ponselnya dan menerima panggilan telepon tersebut. Awalnya dia akan memaki siapapun orang yang meneleponnya pagi-pagi tapi ucapannya seketika terpotong saat sapaan—coretmenjijikkancoret—terdengar di telinganya.
"Morning baby."
Sakura memutar kedua bola matanya dan membuat mimik mukanya seakan mau muntah.
"Jangan memanggilku dengan kata menjijikkan itu, Uchiha." Ya, telepon itu dari Sasuke. Tidak perlu berpikir lama siapa orang yang berani memanggilnya seperti itu.
"Uchiha? Apakah semalam kurang jelas, hm? Panggil aku Sasuke, Sakura."
"Ha ha ha lucu sekali." Sakura berkata sarkatis. "Apa maumu menggangguku pagi-pagi?"
"Pagi? Kau tidak lihat jam? Apakah kau terlalu bersemangat pagi ini hingga lupa jam? Cepat bangun dan bersiaplah."
"Ap—"
Tiit—sambungan telepon terputus. Sakura mengerang sebal. Apa sih mau Uchiha muda satu ini, dan apa maksudnya dia menelepon saat mereka berada di dalam satu rumah? Sakura sungguh tidak bisa menebak jalan pikiran Sasuke.
Saat ia akan mematikan ponselnya, ia baru menyadari ada dua pesan baru.
Pertama dari teman barunya, Hyuuga Hinata—satu-satunya alasan yang membuatnya menerima tembakan Sasuke.
"Sakura-chan, kau berangkat kan hari ini? Aku menunggumu di sekolah. Jangan sampai telat ya."
Hinata sungguh baik. Sakura tersenyum dalam hati membaca pesan tersebut. Jujur, baru kali ini ia merasakan memiliki 'teman'. Tidak, bukan berarti dulu ia tidak memiliki teman. Hanya saja, saat di Suna, orang-orang di sekelilingnya selalu memakai topeng. Teman-temannya di Suna ada saat mereka membutuhkannya, tapi saat tidak butuh—bagi mereka, Sakura bukanlah siapa-siapa.
Ia mengeluh panjang mengingat kehidupannya dulu. Lalu, ia berganti ke pesan lainnya.
"Sakura?"
Dahinya berkerut membaca pesan baru dari nomor yang tidak dikenal dan hanya berisi satu kata 'Sakura?'.
"Pasti hanya orang iseng," gumam Sakura sebal. Dia meletakkan kembali ponselnya ke atas meja yang berada di sebelah kasurnya, tak sengaja kedua matanya menangkap jam yang tergeletak di atas mejanya dan itu sukses membuat kedua matanya membulat kaget.
"A-aku telaaat! Sial!"
Dan Sakura pun segera berlari ke kamar mandi.
.
.
.
.
"Kenapa Rin-nee tidak membangunkanku?" tanya Sakura saat dirinya sudah sampai di meja makan dengan Rin dan Sasuke yang sudah menghabiskan sarapannya.
"Loh. Aku kira kau tidak berangkat hari ini, Sakura." Rin menjawab seraya berdiri dan mengambil piring kosongnya serta piring Sasuke dan ditaruhnya di tempat pencucian piring.
Sakura tidak membalas ucapan Rin, ia segera mengambil sepotong roti dan bersiap mengolesinya selai namun tangan Sasuke menghentikan gerakannya.
"Apa yang kaulakukan?" desis Sakura.
"Hn." Sasuke menangkap pergelangan tangan Sakura, lalu menatap Rin yang ganti menatap mereka dengan penasaran. "Kami akan berangkat. Ittekimasu." Setelah berkata seperti itu, Sasuke melangkahkan kedua kakinya keluar rumah, dengan Sakura yang mengikutinya secara terpaksa.
"Hei, apa yang kaulakukan, bodoh?" maki Sakura seraya berusaha melepas pegangan Sasuke di lengannya. "Lepas, Sasuke no baka!"
Teriakan Sakura tak berhenti hingga mereka berada di luar rumah dengan Sasuke yang memaksa Sakura masuk ke mobilnya. Rin yang masih terpaku di tempatnya menatap mereka bertanya-tanya.
"Mereka berdua... kenapa?" Rin menggelengkan kepalanya. "Dasar anak muda."
.
.
.
.
Sakura sangat membenci pemuda di sebelahnya. Dia sungguh membencinya, tanpa atau dengan alasan. Di dalam perjalanan ke sekolah, mobil berwarna biru metalik itu tampak hening, Sakura mana mau memulai pembicaraan dengan Sasuke. Walaupun status mereka kini sudah berubah menjadi sepasang kekasih.
Damn! Memikirkan bahwa dia dan Sasuke sudah berpacaran membuat kepalanya sakit.
"Sakura." Panggilan Sasuke membuyarkan lamunan dan umpatan di dalam kepala Sakura. Dia melirik singkat lalu kembali melihat jalanan tanpa menyahut panggilan Sakura.
"Sakura..."
"..."
"Sayang?"
"..."
"Pinky?"
Sakura mendelik sebal mendengar panggilan Sasuke. "Jangan memanggilku yang aneh-aneh, Sa—"
"Manis?"
Ucapannya terpotong saat Sasuke masih melanjutkan panggilannya. Kedua mata Sakura tiba-tiba berair dan ingatannya terlempar ke masa lalu. Ke seseorang yang dulu dianggapnya berharga kemudian melukainya.
.
.
"Kau sangat manis sekali, Sakura."
"Manis?" Sakura mengangkat alisnya heran, kepalanya menengadah, melihat sang kekasih yang tampak memainkan rambut merah mudanya.
"Hm. Mungkin kau tidak menyadarinya karena sikap kasarmu tiap hari—"
"Hei, aku tidak kasar!" Sakura memajukan bibirnya kesal memotong ucapan sang kekasih.
Kekasihnya yang memiliki surai berwarna merah itu tertawa. Lalu melanjutkan ucapannya, "Kalau kau tersenyum, kau terlihat sangat manis sekali."
"Kau bercanda." Sakura mengelak walaupun dalam hati dia tersipu malu mendengar ucapan kekasihnya. Wajahnya bahkan memerah.
"Karena itu, setelah ini aku akan memanggilmu 'Manis'."
"I-itu menjijikkan. Jangan panggil aku seperti itu," sahut Sakura kesal. Ia tak bisa membayangkan bagaimana kesehariannya nanti jika tiap hari kekasihnya selalu memanggilnya 'Manis'.
"Aku akan tetap memanggilmu seperti itu, Manis." Kekasihnya menyeringai jahil lalu dengan cepat mencuri ciuman di kening Sakura. "Aku menang lagi."
"Sasori-kun!"
.
.
Kedua manik hijau Sakura terpejam mengingat salah satu kenangannya. Ia memijat pelipisnya berusaha mengenyahkan kenangan tersebut.
"Hei, kau tak apa-apa?" Sasuke melirik singkat Sakura yang tiba-tiba terdiam.
"Tidak. Tidak apa-apa," sahut Sakura pendek. Dia memalingkan mukanya ke luar jendela, jalanan lebih menarik untuknya ketimbang wajah dari Sasuke.
Sasuke mendesah panjang. Gadis di sebelahnya tidak mudah ditebak dan itu membuatnya sedikit frustasi. Kalau begini caranya, bisa-bisa ia gagal dalam taruhan dengan Gaara. Dan motor sport kesayangannya jadi taruhan.
"Aku menantangmu—"
Sasuke mendengus geli mengingat taruhan itu.
"—pacari gadis Suna itu dalam dua minggu ini. Buat dia mencintaimu dan mengatakannya di depan umum."
.
.
.
.
Sakura segera melepas sabuk pengaman dan membuka pintu mobil lalu keluar tanpa menoleh kepada sang pengemudi sesampainya mobil tersebut di tempat parkiran. Dia tidak memakai kacamata hari ini, gantinya soft-lens bening yang menampakkan warna hijau emerald. Helaian merah mudanya membingkai wajahnya yang dipoles make-up tipis itu. Kedua belah bibirnya terkatup rapat, dan langkahnya tampak lebar dan... berat.
Sial! Dia mengumpat dalam hati. Segalanya tampak berubah di sekelilingnya setelah statusnya bersama Uchiha itu. Orang-orang di sekelilingnya memang masih tidak mengacuhkannya, seperti biasa. Namun tidak ada tatapan sinis yang ia terima seperti dua minggu belakangan.
"Uchiha sialan itu membuktikan ucapannya, hm?" Dia bergumam lirih. Tatapannya menyapu ke sekelilingnya dan segalanya seakan kembali ke hari pertama ia kemari, dimana orang-orang belum menatapnya sinis dan mengabaikannya seakan-akan tak ada atensi dirinya di sana.
"Kau memang pacar yang jahat, Sakura."
Langkahnya terhenti, manik hijaunya beralih ke Sasuke yang tampak menyeringai di sebelahnya. Tangan Sasuke tiba-tiba beralih ke pinggangnya dan menariknya ke dalam dekapan Uchiha bungsu itu. Punggungnya menyentuh dada sang Uchiha dan entah karena alasan apa degupan jantungnya menjadi lebih cepat.
"Dengar aku Sakura." Suara Sasuke terdengar lirih, hembusan napas hangatnya di dekat telinganya menghantarkan sengatan-sengatan kecil di dadanya. Ia terpaku di tempat, kalimat yang sebelumnya ia susun di otaknya buyar karena tindakan Sasuke. "Kau pacarku sekarang. Jika satu kali lagi aku melihatmu mengabaikanku... aku tidak main-main. Sungguh. Teman barumu itu, si Hyuuga mungkin akan kembali menjadi bahan bully sesekolahan. Ingat itu, Sayang."
Sial!
Sakura menatap tajam Sasuke yang sudah memisahkan diri darinya. Pemuda itu menaikkan kedua sudut bibirnya, senyuman itu tersirat ejekan kepada Sakura yang tak dapat membalas ucapannya.
"Ayo. Kita harus mengumumkan hubungan baru kita. Aku tidak mau ada seseorang yang mengganggu milik Uchiha," ucap Sasuke seraya menarik lengan Sakura dan gadis musim semi itu tak dapat melakukan apapun selain menyumpah kepada Sasuke di dalam hatinya.
.
.
.
.
"A-ano, Sakura-chan." Panggilan Hinata menghentikan acaranya memakan roti yang baru dibelinya. Dia menggigit roti tersebut lalu menatap Hinata yang menatapnya penuh tanya di hadapannya. "A-apa gosip itu benar? Kau berpacaran dengan Uchiha Sasuke?"
"Hm." Dia tidak menyetujuinya, pun tidak menyanggahnya. Menyanggahnya dengan bukti-bukti pagi tadi percuma saja. Sasuke dengan seenaknya menariknya berjalan bersamanya ke kelas lalu menebarkan senyum sialannya itu kepada setiap anak yang lewat.
Tak perlu menjadi jenius untuk tahu pikiran orang-orang bahwa dia dan Sasuke ada 'apa-apa'. Uh, Sakura mendesah kembali dan menjatuhkan kepalanya ke meja kantin.
"Hinata... bagaimana ini?"
"Sakura-chan, a-apakah kau tidak senang? Uchiha Sasuke-san sangat tampan dan dia idola sekolah. K-kau seharusnya senang bukan?"
Mendengar ucapan Hinata, Sakura menegakkan kembali kepalanya. Dia menatap kedua iris lavender Hinata lalu mendengus. "Senang? Oh Tuhan. Aku menderita!" serunya dengan sebal. Dia mengabaikan rotinya yang belum habis sepenuhnya lalu mengerucutkan bibirnya. "Kau harusnya tahu Hinata. Baru satu hari saja aku seperti hidup di neraka. Bersama dengan pemuda menyebalkan itu dan patuh kepada setiap perkataannya sangat menggangguku."
"Kalau begitu kenapa kau mau menjadi pacarnya?"
"Itu karena—" Ah, Sakura tidak bisa mengatakannya. Tidak mungkin bila alasannya adalah karena gadis di hadapannya, satu-satunya yang mau mendekatinya dan menjadi temannya sehingga menerima bully juga sebelum ini.
"Apakah karena aku?" tanya Hinata dengan sorot mata pedih.
"Ti-dak. Hinata, bukan—" Sakura tidak tahu harus menjelaskan bagaimana. Mengetahui Hinata mengerti keadaan sekarang membuatnya sulit untuk berkata. Hinata pasti merasa tak enak kepadanya. Oh, Sakura kau jahat sekali. "Hinata, aku—"
"Maaf, Sakura-chan," ucap Hinata tiba-tiba. Dia berdiri dengan wajahnya yang tertunduk, poninya menutupi wajahnya sehingga membuat Sakura tak bisa menebak bagaimana perasaan Hinata sekarang. "Aku harus pergi. Maaf," ucapnya sebelum berlari meninggalkan kantin dengan Sakura yang terpaku di tempat duduknya.
Sakura mendesah kembali. Kepalanya tertunduk di atas meja dan mengumpat dalam hatinya. Kehidupannya di Konoha sungguh tak terduga. Sial!
.
.
.
_o_o_
"JAWAB AKU MEBUKI! SIAPA PRIA ITU?!"
"Dia hanya rekan bisnis! Harus berapa kali aku bilang, hah?!"
"Rekan bisnis kau bilang?" Suara tawa Kizashi terdengar datar. Dia menatap tajam istrinya tersebut. "Bagaimana bisa rekan bisnis menyentuhmu dan kau justru tertawa senang dengan tindakan 'rekan bisnis'-mu itu?"
"ITU BUKAN URUSANMU!" Mebuki berteriak. Raut mukanya sudah menandakan emosi yang tak bisa ia tahan. "Aku muak, Kizashi! MUAK dengan segala tingkahmu."
"Oh, begitukah? Baiklah." Kizashi berkata datar. "Kita cerai."
Mebuki membelalakkan kedua matanya. "Ti-tidak, Kizashi. Pikirkan Sakura, dia anak kita. Aku minta maaf. Sungguh, aku menyesal. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku mohon jangan ceraikan aku."
"Tidak." Kizashi mendesah pendek. Dia memalingkan mukanya, tidak berniat mengamati air mata yang keluar membasahi wajah istrinya tersebut. "Keputusanku sudah bulat, Mebuki. Aku akan segera mengurus perceraian kita. Dan Sakura akan ikut aku ke Konoha. Aku tidak mungkin meninggalkannya di Suna dengan ibunya yang bahkan tak memikirkan anaknya."
"Tidak, Kizashi!" Mebuki berseru marah. "Aku tidak bisa hidup dengan Sakura. Dia—"
"Bukankah kau masih bisa hidup dengan selingkuhanmu dan uangku?" potong Kizashi. "Aku akan tetap membiayai hidupmu setelah perceraian kita, tapi satu! Jangan usik anakku. Sakura—"
Gadis berhelaian merah muda itu menutup rapat pintu ruang kerja ayahnya—memotong ucapan ayahnya yang tak perlu ia dengar lagi selanjutnya. Cukup! Ia tak bisa mendengarnya lebih jauh lagi. Pada intinya keluarganya telah rusak dan tak akan ada lagi kehangatan yang pernah keluarganya miliki. Semuanya musnah hanya dalam hitungan menit.
Dengan gemetar, dia meraih ponsel yang berada di sakunya dan tanpa pikir panjang ia menekan 2—speed-dial kekasihnya. Tak sampai hitungan menit, suara seorang lelaki yang amat dibutuhkannya kini menjawab.
"Ada apa Sakura? Tak biasanya jam segini kau menelepon."
"Sasori-kun, aku mohon datanglah ke rumahku," ucapnya. Ia menggigit bibir bawahnya menahan tangis. "Please..."
Jeda cukup lama sebelum Sasori membalas ucapan Sakura. "Maaf, Sakura. Hari ini aku tak bisa. Aku ada urusan..."
"Aku mohon."
"Maaf."
Klik—sambungan telepon terputus. Sasori memutuskan teleponnya begitu saja tanpa mendengar satu dua patah kata dari bibir Sakura.
Sakura menurunkan ponselnya dari telinga lalu menangis dalam diam. Dia tidak menyangka kekasihnya, Sasori akan mengabaikannya seperti ini. Belum lagi memutus hubungan telepon begitu saja. Dia... berubah. Sasori telah berubah.
Mengabaikan denyut perih di dalam dadanya, dia menekan speed-dial angka tiga.
"Maaf, nomor yang Anda tuju—"
Berulang-ulang, dan balasan tetap sama. Nomor yang ia tuju tetaplah tak aktif. Sakura menggeram marah. Dia melempar ponselnya asal. Tubuhnya gemetar dan tangisnya sudah tak bisa ia tahan.
Semua orang menjauh.
Segalanya hilang.
Satu-satunya yang ia sesali saat ini adalah ia tak bisa melakukan apa-apa. Dan Sakura tak menyangkalnya bahwa dia lemah. Dia tak berdaya menghadapi cobaan terberat dalam hidupnya ini.
_o_o_
.
.
.
Selama hidupnya dia selalu bermain-main. Serius? Pfft—bungsu Uchiha itu tak pernah tahu ada kata 'serius' di dalam kamusnya. Meninggalkan rumahnya dan memutuskan hidup sendiri bersama sang bibi—dan paman yang jarang berada di rumah—adalah keputusan terbesarnya yang membuat orangtua sekaligus kakak menentangnya. Tapi ia tak peduli, melepaskan diri dari belenggu Uchiha lah yang bisa membuat dirinya lebih bebas, dan ia bangga akan hal tersebut.
Akan tetapi setelah datangnya gadis pemilik marga Haruno itu segala hal di sekeliling Sasuke demi sedikit tampak berubah. Belum banyak memang, tapi mungkin nanti. Semoga.
Semuanya memang tetap sama. Sasuke masih menganggap gadis cerewet itu berisik, aneh, pemarah dan bahan taruhan untuk motor kesayangannya. Gadis itu lekat dengan predikat berisik dan pemarah. Namun, predikat tersebut seakan tak ada artinya saat ia melihat liquid bening yang mengalir di wajah gadis itu. Dia terdiam, berdiri di depan pintu kamar Sakura yang tertutup dan mata hitam jelaganya menatap Sakura yang meringkuk di balik selimut dengan tetes air mata yang keluar.
Wajahnya basah dengan keringat dan sesekali Sakura mengigau kecil, sangat lirih hingga tak terdengar olehnya. Dan wajahnya yang tersiksa itu...
Sasuke mendengus pelan. Entah dari mana, Sasuke menyimpulkan Sakura yang pemarah itu bukanlah jati diri sebenarnya. Dia memakai topeng, selalu. Orang-orang tidak akan pernah tahu apa yang berada di balik dinding tebal yang dipasang oleh gadis musim semi itu.
Dengan pelan, Sasuke mendekati ranjang dimana Sakura tertidur. Pelan, dia mendudukkan dirinya di tepi kasur, menatap wajah sang Haruno. Tangannya bergerak hati-hati menyelipkan beberapa helai rambut Sakura ke belakang telinga, kemudian ibu jarinya bergerak menyeka air mata Sakura.
"Haruno Sakura." Sasuke mengeja nama itu lirih lalu menatapnya dengan sorot mata dalam. "Siapa dirimu sebenarnya?"
Tak pernah ada jawaban dari pertanyaan Sasuke. Waktu yang terus melaju, detik yang terus berdetak meninggalkan pertanyaan itu di dalam kegelapan panjang. Dan Haruno Sakura masih berdiri di sana—terkungkung dalam kekosongan masa lalu.
.
.
.
-tbc-
Special thanks:
Miss. M (Maaaaaf. Lama banget update-nya.), KonoHaru (Terimakasih, dan maaf lama.), GaemSJ (Ah, sayang aku nggak jago buat friendship dan sepertinya nggak bakal terlalu digali friendship-nya. Maaf nggak bisa update cepat.), suket alang alang (Sudah update. Sori lama. Maaf banget.), hanazono yuri (Maaf nggak bisa update kilat. Huhu.), NikeLagi (Sasuke kan demi motor kesayangannya. Dia nggak jahat banget kok hehe.), Thasya Rafika Winata (Ah, maaf lama. Sori bangeeet.), Re UchiHaru Chan (Udah nggak flashback lagi jadi mungkin SasuSaku udah ada kembangnya/eh maksudnya perkembangan.), rina (Moga masih penasaran.), dan AN Style (Punya, di chapter ini terjawab kan walaupun saingannya belum nongol.)
Dan seluruh favers & followers.
Maaf lama. Aku beneran minggu-minggu kemarin malas buka file fanfic MC lama, malah pengennya bikin yang baru mulu/plak/ tapi chapter tiga N2LT untungnya udah setengah cerita di chap ini. Jadi dilanjutin aja. Pendek memang tapi sesuai kebutuhan cerita dengan plot baru yang aku buat. Ya, ada sedikit perubahan plot yang awalnya aku susun. Seharusnya chapter ini masih flashback dan ada satu 'gangguan' lagi sebelum Sasori muncul tapi aku memutuskan untuk mempercepatnya. Semoga tidak aneh yaa...
Akhir kata.
Review?
