Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
New Life, Love and Trouble
by Vylenzh
[Sakura/Sasuke]
A/N: Udah 'long time ago' ya? Haha. Selamat membaca, deh! Semoga suka^^
.
.
.
Chapter 04: Nightmare
.
.
.
Sehari setelah sidang perceraian kedua orangtuanya, Sakura pergi dengan perasaan campur aduk dalam hatinya. Satu-satunya tempat yang ia pikirkan saat itu adalah rumah kekasihnya. Ia ingin mencurahkan seluruh keluh-kesahnya, dan merasakan sapuan lembut tangan Sasori serta pelukan hangat yang biasa Sasori lakukan kepadanya. Sasori, satu-satunya obat yang ia miliki, untuk menenangkan diri dari segala kekacauan yang ada di keluarganya.
Tapi, ketika Sakura sampai di rumah Sasori, Sakura menyadari bahwa mimpi buruknya belum berakhir. Mimpi buruknya terus berlanjut menghantuinya dan mengekor layaknya bayangan.
Sesaat, Sakura lupa bagaimana caranya menangis.
Sesaat, Sakura lupa bagaimana caranya berteriak.
Sesaat—untuk sesaat itu, Sakura melupakan atensi lain di sekelilingnya selain ia dan …
"Sasori-kun?" bisiknya lirih—nyaris tak bersuara. Namun, ia tahu orang di hadapannya, yang kini sedang ber—ber ...
Sakura tak bisa mengeja kata itu. Dia memejamkan matanya, ketika matanya terbuka, ia hanya memandang dingin wajah Sasori yang memanggilnya dengan suara cemas, khawatir dan takut bercampur jadi satu. Sakura berganti memandang sosok di sebelah Sasori yang kini juga memandangnya dengan raut penasaran dan … puas?
Sakura menghela napas pelan, lalu membalikkan badan dan pergi dari tempat itu—tak peduli. Ya, Sakura tak perlu peduli. Bukankah hidupnya memang sudah kacau? Menambah satu kekacauan lagi, tak akan jadi beban bagi Sakura.
Saat itu, Sakura berpikir tak akan jadi masalah.
Tapi … Sakura terlalu tenang. Dia lupa, Sasori adalah obatnya. Dan ketika obatnya pun ikut serta menghilang, Sakura tak lagi mengenal dirinya.
.
.
...
.
.
"SASUKE BAKA!" Sakura menyumpah keras di sore hari yang cukup cerah itu, yah, sayangnya secerah apapun sore itu, Sakura meratapi mood-nya yang benar-benar sedang buruk—selalu buruk, sebenarnya, karena kisah pacarannya dengan Sasuke—ditambah keisengan yang dialaminya di rumah juga. Sudah sial jadi pacar jadi-jadian di sekolah, Sasuke masih menambah daftar kejahatannya kepada Sakura di rumah.
Sakura meremas kertas di tangannya. Kedua langkah kakinya terhentak menuju kamar Sasuke. Ia membuka keras kamar Sasuke dan geram melihat empunya kamar sedang asyik duduk di kasur dengan sebuah buku di pangkuannya. Sasuke terlihat tenang, nyaman dan tak berdosa. Tapi Sasuke sudah melakukan dosa besar kepadanya! Geram Sakura dalam hati.
Sasuke mengangkat alisnya melihat Sakura. "Ada apa?" tanyanya tanpa basa-basi.
Sakura berjalan ke arahnya, lalu melempar remasan kertas di tangannya ke arah Sasuke. Sasuke hanya memandang malas kertas itu—seolah sudah tahu apa isi kertas itu.
"KAU BENAR-BENAR!" Sakura berteriak nyaring. "SIAPA YANG MENYURUHMU MENYENTUH PAKAIAN DA—MILIKKU, HAH?" Sakura nyaris menyebut kata memalukan itu. Bukan berarti memalukan sih, tapi tetap saja menyebut kata 'pakaian dalam' di hadapan orang asing terasa memalukan. Apalagi di hadapan Sasuke. Oh, Sakura tak bisa membayangkan rasa malunya. "Kau benar-benar brengsek! Memangnya siapa yang peduli dengan pendapat mesummu itu?! Ha! Aku tidak mengerti apa isi kepalamu selain hal-hal tidak masuk akal dan bodoh, dan menjijikkan itu!"
Sasuke mendengarkan petuah Sakura dalam diam. Lalu, dia meraih kertas yang dilemparkan Sakura kepadanya dan membukanya. Seringai lebar terlihat di wajahnya ketika membaca tulisannya; "Sakura, kupikir kau harus meredam amarah dan keras kepala milikmu itu. Mungkin itu yang menghambat laju pertumbuhan-'mu'. Ckck sayang sekali."
Sasuke meletakkan kertas itu beserta buku di pangkuannya ke sisi kasur di sebelahnya. Dia berdiri lalu memandang Sakura yang masih menatapnya marah.
"Aku tidak merasa aku salah," ujar Sasuke tanpa dosa.
Mendengar jawaban Sasuke, Sakura semakin geram dibuatnya. Dia menunjuk Sasuke di dadanya, iris hijaunya lurus memandang iris kelam Sasuke. "Kau—kau tidak merasa bersalah? Kau menyentuh milikku, sesuatu yang seharusnya tidak kausentuh. Itu privasi! Dan kau menambah tulisan opini menyebalkanmu itu! Kau melanggar hak pribadi orang lain!"
"Aku hanya berusaha membantu." Sasuke mengangkat bahunya enggan—seringai masih terlukis di wajahnya. "Aku kan tidak, atau belum diberitahu tidak boleh menyentuh pakaian dalammu, Sakura. Aku hanya berusaha membantu mengangkat jemuran. Bukankah aku anak baik?" tanyanya jenaka.
"BAIK? Kausebut dirimu 'baik'?"
"Sempurna, seharusnya." Sasuke menggumam pelan. "Tapi jika aku sebut diriku sempurna, itu terlalu membanggakan diriku. Yah, walaupun itu benar."
"Bukan itu inti pembicaraan kita, Uchiha Sasuke!" ucap Sakura sebal. Dia menurunkan jarinya dari dada Sasuke. "Aku peringatkan, Uchiha Sasuke. Sekali lagi kau menyentuh pakaianku. Aku akan membunuhmu." Sakura berbalik lalu dengan hentakan marah, dia menutup pintu kamar Sasuke dengan bunyi debuman keras.
Seringai Sasuke menghilang tepat setelah Sakura pergi dari kamarnya. Pelan, tangan kanan Sasuke terangkat menyentuh dadanya. Debaran aneh muncul di sana, dan Sasuke jujur tak menyukainya. Debaran aneh itu mulai muncul sejak Sasuke melihat tangisan Sakura dalam tidurnya—yang tentu, Sakura tak tahu akan hal itu.
Sasuke sedikit tahu arti debaran aneh itu, atau mungkin sungguh tahu jawabannya.
Sasuke mendesah pelan berusaha menghilangkan rasa menyesakkan di dadanya. Ini salah. Taruhan yang ia jalani harusnya berefek ke Sakura, bukan dia. Padahal waktu taruhan tinggal seminggu lagi, dan Sasuke harus melakukan apapun untuk membuat Sakura menyatakan cintanya.
Tapi … itu terlalu mustahil—karena kini perasaan Sasuke pun terlibat di dalamnya.
.
.
.
.
Sakura memasuki kelas 11-2 dengan absennya antusiasme. Wajahnya datar, bosan dan sebal. Apalagi sebabnya kalau bukan sosok pemuda yang kini sedang merangkulnya dengan senyum miringnya itu?
Pacar.
Pfft—memikirkannya saja membuat Sakura ingin memukul pemuda di sebelahnya ini sejauh mungkin. Kalau bisa sampai tak ada jejaknya yang tersisa. Sayang, Sakura harus menahan diri.
Sakura mengedarkan pandangannya seantero kelas, iris hijaunya terjatuh ke satu-satunya teman—atau mungkin sekarang mantan teman. Pandangan mereka sesaat bertemu sebelum diputus oleh Hinata yang mengalihkan pandangannya ke buku tulisnya. Sejak tersebarnya hubungannya dengan Sasuke, Hinata memang seakan tak ingin dekat-dekat dengannya lagi. Hinata selalu menghindar ketika Sakura ingin menemuinya. Sakura benar-benar merasa kehilangan, karena satu-satunya teman yang mau mendekatinya ketika masa bullying-nya hanyalah Hinata. Sekarang Hinata pun tak mau melihatnya lagi.
Sentuhan ringan di bahunya, membuyarkan pemikirannya. Pandangannya beralih ke Sasuke yang memandangnya heran. Tapi bungsu Uchiha itu tak bertanya apapun. Dia melakukan hal yang biasa ia lakukan seminggu ini—menemaninya hingga ke bangkunya, membantunya meletakkan tasnya, lalu mengecup keningnya—yang Sakura tahu hanya akting! Tapi, kecupannya … Sakura tak bisa membohongi dirinya. Kehangatan melingkupi dadanya ketika kecupan itu mendarat di keningnya—dan bayangan seseorang selalu muncul di benaknya.
Sesuatu yang membuatnya tenang dan … sakit secara bersamaan.
Sakura memandang Sasuke yang tersenyum kepadanya—sesaat jantungnya berdegup aneh, tapi Sakura segera mengenyahkan pemikirannya. Itu palsu! Gumam Sakura kepada dirinya sendiri. Namun, matanya tak berhenti mengekor Sasuke yang menuju ke bangkunya sendiri.
.
.
.
.
"—salah satu murid dari Program Pertukaran Pelajar akan belajar di kelas ini selama enam bulan ke depan," ucap Kakashi. "Jadi, saya harapkan yang terbaik dari kelas ini dan teman baru kalian ini." Kakashi menghentikan ucapannya lalu memandang ke luar kelas. "Silakan masuk."
Seorang gadis masuk ke dalam kelas. Seluruh perhatian segera tertuju kepada murid pertukaran pelajar itu. Senyum lebar menghiasi wajahnya—walaupun terlihat jelas kegugupan yang tampak di matanya. Dia berdiri canggung di depan kelas menghadap ke seluruh anak kelas 11-2.
"Halo, semua. Namaku Tenten, dari Suna—"
Ketika seluruh perhatian tertuju pada murid baru berambut coklat itu, Sakura tak bisa menyembunyikan rasa kagetnya. Ia menggigit bibir bawahnya kuat, dan tangannya terkepal meremas roknya.
Tidak … tidak mungkin.
Sakura tak habis pikir. Dari semua sekolah yang tersebar di Konoha dan Suna—yang Sakura yakini cukup banyak jumlahnya, tidak mungkin sekolah itu kebagian di sekolah barunya ini. Tidak masuk akal! Tidak mungkin!
Tapi, gadis yang kini sedang memperkenalkan dirinya—dan sekolahnya—itu jadi bukti nyata bahwa apa yang ia takutkan benar-benar terjadi. Sakura dan sekolah lamanya, ia berniat melupakannya tapi kenapa kebetulan selalu menghadangnya. Kenapa bagian dari memori terkelamnya yang berusaha ia lupakan kini datang di hadapannya, menjadi bagian dari kehidupan barunya?
Tentu, Sakura mengenal Tenten. Walaupun di sekolah lamanya ia tak begitu kenal dekat dengannya lagipula ia pun tak sekelas dengannya, tapi popularitas Tenten sebagai murid kesayangan para guru karena kerajinan dan kepandaiannya itu sampai ke telinga Sakura, berbanding terbalik dengan Sakura yang juga memiliki popularitas tersendiri di sekolah lamanya, hanya saja bukan karena kecerdasannya tapi—
Suara tepukan tangan mengakhiri kenangan Sakura akan sekolah lamanya. Dia menatap Tenten yang kini berjalan ke arah bangku yang kosong. Namun, Sakura menyadari arah pandang Tenten sebelum menuju ke bangkunya.
Tenten menatapnya—dan ia terlihat agak kaget sebelum tersenyum tipis lalu mengangguk ringan kepadanya.
Sakura tidak membalas senyum Tenten. Ia ingin membalasnya tapi bibirnya terasa kaku. Ketakutan segera merayapi punggungnya ketika sekelebat ingatan memenuhi kepalanya, dan sebuah kalimat mendengung di dalamnya, "Beberapa minggu lagi ada seleksi untuk program pertukaran pelajar. Aku akan mencoba ikut seleksi itu. Bagaimana denganmu, Sakura? Ingin mencobanya? Mungkin kita bisa jadi partner nanti."
Dia memejamkan matanya berusaha mengenyahkan kenangan itu dan memastikan dirinya bahwa bukan dia yang berada di sini. Tentu bukan dia. Bukan Sasori. Itu hanya kenangan beberapa bulan yang lalu, dan Sakura tak yakin Sasori jadi ikut seleksi atau tidak—hubungannya dengan Sasori setelah perbincangan itu memburuk. Terlalu buruk hingga Sakura tak yakin apakah ia berani menemui Sasori—menemui mimpi buruknya.
.
.
.
.
"Haruno Sakura, 'kan?"
Sakura mendongak, mendapati Tenten kini sudah ada di hadapannya. Sakura mengangguk kaku lalu tersenyum. "Lama tak berjumpa, Tenten."
"Ah, ternyata benar kau! Aku pikir, aku salah orang tadi. Aku tidak terlalu yakin," ucap Tenten. "Aku cukup kaget mendengar kabar perpindahanmu. Sangat mendadak, apalagi kita sudah di pertengahan semester."
Sakura mengerutkan dahinya. "Kabar perpindahanku … tersebar?"
Tenten mengangguk. "Aku mendengar, err, beberapa rumor mengenai alasan kenapa kau pindah. Tapi kupikir itu cuma rumor konyol. Aku yakin kau memiliki alasan kuat kenapa kau pindah, dan bukan karena rumor konyol itu."
Sakura seharusnya tak perlu penasaran atau tahu, tapi, mulutnya telah terbuka menanyakan rumor yang dimaksud Tenten.
"Rumor itu mengenai alasanmu pindah. Katanya kau pindah karena sakit hati diputuskan Akasuna-san setelah Akasuna-san memergokimu berselingkuh—itu cuma rumor konyol, kau tahu, jangan masukkan ke dalam hati," tambah Tenten ketika melihat raut wajah Sakura yang berubah pias.
"Aku baik-baik saja," ucap Sakura menenangkan. "Hanya saja, ya, itu benar-benar rumor tak berdasar." Sakura ragu, tapi ia pun menanyakannya—untuk memastikan rasa penasarannya. "Kau tahu siapa yang menyebarkan rumor itu?"
Tenten terlihat ragu untuk menjawabnya, tapi ia mengangguk. "Aku tahu, karena itu cukup heboh. Em, sehari setelah kau pindah, Konandatang ke sekolah dengan wajah beruraian air mata, dan ia mengatakan sesuatu tentang kau sakit hati dan selingkuh, semacam itu."
"Oh."
Konan.
"Kau tidak apa-apa, Sakura?"
Sakura tersenyum dan mengangguk. "Aku baik-baik saja." Dia berdiri dari duduknya. "Hanya … butuh ke toilet," ucap Sakura. "Aku duluan ya, Tenten."
"Eh, Sakura," panggil Tenten. Sakura berhenti lalu membalikkan badannya. "Kupikir kau ingin tahu, seorang lagi yang datang bersamaku kemari adalah Akasuna-san. A-aku tak bermaksud mencampuri masalah kalian, tapi apabila yang lalu belum selesai itu akan terus mengganjal. Jadi, aku pikir sebisa mungkin kau harus menyelesaikan beban di masa lalu."
Sakura terdiam, memejamkan matanya dan mendesah pelan. "Aku tahu, Tenten," balasnya kemudian. "Terimakasih." Dia pun berbalik lagi dan melanjutkan langkahnya, menahan gejolak perasaan tak nyaman di dadanya.
Dia di sini.
Sasori di sini.
Mimpi buruknya kembali.
.
.
.
.
Sasuke mengamati kepergian Sakura, lalu berganti memandang ke anak pertukaran pelajar itu. Sasuke sadar bahwa kedua orang itu saling mengenal, atau justru adalah teman sekolah. Namun, yang membuat Sasuke heran adalah kemungkinan bahwa Sakura merasakan ketidak-nyamanan terhadap Tenten. Sakura seakan bukan melihat teman lama, tapi melihat hantu yang kembali menerornya.
Sasuke memang tak mendengar perbincangan antara Sakura dan Tenten tadi, tapi dari emosi yang terlihat di wajah Sakura tadi, Sasuke yakin itu bukan perbincangan menyenangkan.
"Oi, Sasuke."
Sasuke menengok ke Gaara yang memandangnya dengan tak acuh. "Apa?"
"Kau tahu, beberapa hari ini kau terlihat aneh."
"Maksudmu?"
Gaara memiringkan kepalanya, berdecak sesaat. "Sesuatu, ada sesuatu yang salah denganmu."
"Jangan bicara yang aneh-aneh."
"Aku melihatmu, Sasuke," ucap Gaara dengan seringai di wajahnya. "Kau selalu mengamati gadis pindahan itu sejak, hm, beberapa hari lalu, kurasa."
"Gaara, taruhanmu—"
"Kau akan kalah," potong Gaara. "Aku yakin seratus persen. Waktumu tinggal seminggu lagi, tapi aku tidak melihat kemajuan yang berarti dari gadis itu terhadapmu. Yang aku lihat malah sebaliknya. Kau … menyukainya, eh, Sasuke?"
"…"
"Aku bisa membatalkan taruhan itu, jika kau keberat—"
"Jangan konyol. Aku pasti akan memiliki mobilmu," ujar Sasuke seraya berdiri dari duduknya. "Hanya sedikit lagi … aku hanya perlu mencari kelemahannya dan mendapatkannya."
"Kau yakin? Aku tidak akan menawarkan untuk membatalkan taruhan ini lagi. Ini kesempatan terakhirmu."
Tangan Sasuke terkepal. Ia berjalan ke luar kelas, tapi sebelum itu ia berkata, "Aku tidak bisa menarik perkataanku, janji tetaplah janji, dan aku akan menepatinya."
.
.
.
.
Sasuke ke luar dari kelas dengan perasaan tak menentu. Ada perasaan tak menyenangkan ketika ia memutuskan untuk melanjutkan taruhan ini. Sebagian hatinya ingin berhenti, tapi ego di dalam dirinya menolaknya. Sasuke bukan tipe orang yang bisa seenaknya mengingkari janji. Taruhan itu … tetaplah janji yang sudah ia dan Gaara sepakati. Jika ia menghentikannya maka harga dirinya pun ikut dipertaruhkan.
Sasuke menggelengkan kepalanya frustasi. Ia akan berbelok menuju toilet—untuk meredam kepalanya dengan mengguyur air, tapi terhenti ketika ia melihat dua sosok—yang satu asing tapi yang satunya, sangat ia kenal.
Dua sosok itu berhadapan dalam diam.
"Aku … " Pemuda berambut merah itu membuka mulutnya, matanya lurus memandang gadis di hadapannya. "Sakura, aku … aku mencintaimu. Masih, dan selalu."
Ketika kalimat itu terdengar, satu-satunya hal yang Sasuke pikirkan sekarang adalah memukul pemuda berambut merah itu, namun kemudian ia sadar, memangnya dia siapa? Sasuke siapa bagi Sakura? Mereka pacaran karena paksaan dari Sasuke, dan itu hanya status tak berarti.
Sasuke tak memiliki hak apapun terhadap Sakura.
Kemudian perasaan lain bangun dari dalam diri Sasuke. Tiba-tiba saja ia merasakan ketakutan untuk mendengar jawaban dari Sakura. Sasuke tak bisa mendengarnya. Sasuke tak ingin mengetahuinya. Ini tak lebih seperti mimpi buruk, di mana satu-satunya keinginan yang ada adalah terbangun dan menghilang dari tempat ini.
.
.
.
.
-tbc-
A/N: Sangat lama untuk melanjutkan fanfic ini, aku rasa sudah setahun lebih, dan itu bener-bener harus menggali lubang buat ingat plot fanfic ini yang sebagian besar sudah aku lupakan. Maafkan aku sekali lagi~
Dan terimakasih apabila (ada) yang masih menunggui fanfic antah-berantah ini. Semoga kalian menyukainya. Tidak berharap lebih, tapi aku tetap mengharapkan review kalian kalau berkenan. Juga terimakasih yang sudah mereview di chapter sebelumnya. Aku sangat senang dengan apresiasi kalian. Maaf belum sempet balas satu persatu.
Sekali lagi terimakasih, dan maaf. Sampai jumpa lagi. Bye~ ^^
