Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto


New Life, Love and Trouble

by Vylenzh

[Sasuke/Sakura]

Warning: AU! School-life! OOC! And many more.


.

.

Chapter 05: Obat

.

.


"Sakura, aku … aku mencintaimu. Masih, dan selalu."

Sakura memandang kilau hazel yang balas menatapnya penuh kerinduan. Dia menggigit bibir bawahnya—menahan gejolak rindu ketika takdir mempertemukannya lagi dengan Sasori. Tapi … ia tidak bisa lagi memercayai kalimat yang keluar dari mulut Sasori.

Sakura telah ia khianati. Dirinya telah disakiti dengan teramat dalam hingga menimbulkan torehan luka yang sampai sekarang masih membekas.

" … pembohong," ujarnya pelan. Dia memejamkan matanya, menahan air mata yang memaksa menerobos keluar. "Kau pikir aku sudi dan percaya mendengar omong kosongmu? Kutekankan sekali lagi, Akasuna Sasori, bahwa kau dan aku sudah berakhir. Aku tidak peduli dan tidak ingin mengetahui apa yang ingin kauucapkan," ucapku setelah membuka mataku kembali.

Mata Sasori membulat, terluka. Tapi Sakura tidak peduli. Rasa sakit yang telah Sasori torehkan melebihi apa yang sudah ia rasakan.

"Aku mohon, Sakura," pinta Sasori. Tangannya terangkat, meraih bahu Sakura. "Aku mencintaimu."

"Jangan katakan lagi," desis Sakura marah. Dia menepis tangan Sasori lalu membalikkan badannya, berniat untuk pergi dan mengakhiri perbincangan ini, tapi lengannya ditahan Sasori. "Lepas!" Sakura memekik, tapi genggaman Sasori teramat kuat.

"Aku tidak akan membiarkanmu pergi sebelum mendengarkan penjelasanku."

"Penjelasan apa lagi yang perlu kudengar, hah?! Kau … dan omong kosongmu, enyahlah! Aku membencimu!" Manik hijau Sakura telah berkaca-kaca, jika ia lebih lama di sini, bertatap muka dengan Sasori, Sakura yakin air matanya akan menerobos keluar dari pertahanannya.

Sakura tak ingin menangis—apalagi di hadapan Sasori. Matanya mengerjap pelan lalu mengalihkan perhatiannya dari manik hazel Sasori berharap menemukan sesuatu yang lebih menarik dibandingkan mata yang dulu pernah membuatnya bertekuk lutut itu, namun yang tak ia duga, Sakura justru bertemu pandang dengan Sasuke.

Sasuke berdiri tak jauh darinya, memandangnya—dan Sasori—dengan raut tak terbaca di wajahnya. Kemudian, dia melangkahkan kakinya menuju ke arah Sakura dan Sasori. Langkahnya pelan namun pasti dan Sakura pikir Sasuke akan berhenti, tapi nyatanya Sasuke hanya berjalan melewatinya tanpa satu pun kata terucap dari bibir yang selalu mengejeknya itu.

Entah apa yang sedang dipikirkan Sakura, tiba-tiba ia sudah mengulurkan tangannya yang bebas dari genggaman Sasori menuju kemeja bagian belakang milik Sasuke lalu menggenggamnya—menahan gerak laju Sasuke.

Sasuke diam. Melirik Sakura dari ekor matanya.

" … aku mohon." Kemudian dua kata itu meluncur begitu saja dari mulut Sakura. Iris klorofilnya menatap punggung Sasuke dan tangannya yang menggenggam erat kemeja Sasuke. "Aku mohon, Sasuke," ulangnya lagi.

Lalu Sasuke membalikkan badannya, tangan Sakura pun terlepas dari genggamannya di kemeja Sasuke. Iris hitamnya menatap Sakura lalu berganti ke salah satu lengannya yang masih digenggam Sasori. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Sasuke menarik lengan Sakura yang masih digenggam Sasori.

Seulas senyum kemudian tercetak di wajah Sasuke. "Jangan mengganggu pacarku. Urusi urusanmu sendiri, dan—" Sasuke menatap Sasori yang memandangnya bingung, ia tersenyum miring lalu menggenggam tangan Sakura. "—enyahlah."

.

.

.

.

Kehangatan menjalari tubuhnya—mengalir dari jari-jemari yang saling bertautan dengannya. Untuk pertamakalinya Sasuke merasakan perasaan hangat yang melingkupi dadanya hanya dengan sekedar sentuhan tangannya dan Sakura. Sebelumnya, Sasuke sudah seringkali melakukannya—tentu hanya sekadar akting, tapi kali ini Sasuke merasakan perasaan lain—perasaan untuk melindungi gadis yang kini berjalan di belakangnya dengan kepala tertunduk itu.

Setelah berjalan cukup jauh, langkah kakinya berhenti di pelataran taman belakang sekolahnya. Untungnya, taman tersebut kini tidak ada orang selain dirinya dan Sakura. Satu-satunya hal terakhir yang Sasuke inginkan adalah puluhan mata yang memandangnya dan Sakura.

Agak tidak rela, Sasuke pun melepas genggamannya di tangan Sakura. Kemudian ia menuntun Sakura ke salah satu bangku panjang yang berada di taman itu. Setelah mereka mendudukkan diri di sana, kesunyian mendatangi mereka. Sasuke maupun Sakura sepertinya tidak memiliki niat untuk memecahkan keheningan di sekelilingnya.

Kadang kala, kesunyian adalah obat paling mujarab untuk melupakan rasa sedih.

Ucapan kakaknya, tiba-tiba terngiang di kepala Sasuke. Sebuah kalimat yang diucapkan kakaknya hampir bertahun-tahun yang lalu ketika Sasuke menemukan kakaknya di dalam kamarnya sendirian dalam kegelapan.

"Terimakasih."

Lamunan Sasuke terpecah ketika mendengar ucapan Sakura. Dia menoleh, menatap kepala Sakura yang masih tertunduk.

"Terimakasih untuk tadi," ulang Sakura lagi.

Sasuke mendesah. Dia beralih menatap daun-daun yang berguguran di sekelilingnya. "Mantan pacarmu."

Bukan sebuah pertanyaan—ya, Sasuke memang tak perlu jawaban. Percakapan yang ia dengar tadi sudah cukup menjadi jawaban.

"Kalian sepertinya memiliki hubungan yang rumit di masa lalu. Benar 'kan?"

Sakura mengangkat kepalanya—memandang Sasuke gusar. "Bukan urusanmu," jawabnya kemudian.

Sasuke mengangkat bahunya. "Aku pun, yah, tak peduli," ucapnya dusta. Sasuke bohong kalau ia tak penasaran dengan masa lalu Sakura. Sasuke ingin mengoreknya dan mengetahui sisi terdalam Sakura yang disembunyikannya rapat-rapat.

"Kau tahu—" Sasuke tampak ragu untuk melanjutkan kalimatnya. Kepalanya kembali menatap iris klorofil Sakura. "—aku tak akan menertawakanmu apabila kau mau menangis."

Setelah itu, suara isakan terdengar dari taman tersebut.

.

.

.

.

Sakura termasuk seseorang yang jarang menangis. Namun, sekali dirinya menangis, Sakura sulit untuk menghentikan laju air matanya—seakan-akan bulir-bulir bening itu tiada habisnya. Dulu, apabila ia menangis, satu-satunya orang yang dapat menghentikan tangisannya adalah Sasori. Pemuda berambut merah itu akan menepuk punggungnya lembut lalu mengucapkan kalimat-kalimat menenangkan yang seketika akan membuat tangisannya berhenti.

Obat—begitulah dulu julukannya untuk Sasori.

Ironisnya kini yang tertinggal baginya hanyalah luka. Obat yang telah meninggalkan luka yang teramat dalam baginya.

Idiot. Sakura memaki dirinya sendiri, seraya mencoba menghapus air mata yang sudah terlanjur keluar tadi. Isakannya telah berhenti, tapi buliran bening itu masih setia membasahi wajahnya.

"Ingusmu tuh keluar."

Ucapan Sasuke segera menghentikan gerakan tangannya. Dia menatap Sasuke sekian detik sebelum berteriak, "BAKA!" beserta kepalan tangannya yang meluncur ke tubuh Sasuke kuat.

Pekik kesakitan menambah warna di siang hari yang cerah itu—yang tanpa Sakura sadari juga menghentikan laju air matanya.

Obat, mungkin tanpa Sakura sadari ia telah menemukan obat barunya. Obat yang sedikit berbeda jauh jenisnya dengan obatnya terdahulu.

Obat yang sedikit nakal dan menyebalkan.

.

.

.

.

"Ayo bolos." Ucapan Sasuke menghentikan langkah Sakura menuju kelas.

Gadis dengan mahkota merah mudanya itu membalikkan tubuhnya dan melipat kedua tangannya di dada. "Kau perlu kuberikan pukulan lainnya?"

Sasuke meringis, tangannya tanpa sadar menyentuh perutnya yang masih sedikit nyeri akibat pukulan Sakura tadi. "Terimakasih," ujar Sasuke sarkatis.

"Lalu apa maksud perkataanmu?"

Sasuke berdecak tak sabar. Tanpa persetujuan Sakura, dia telah meraih lengan Sakura dan menariknya menjauhi ruang kelas.

"HEI!"

"Diamlah. Aku bosan mendengarmu berteriak terus," ucap Sasuke sebal.

Sakura meronta mencoba melepas pegangan Sasuke yang cukup erat itu, tapi setelah mencoba kesekian kalinya, ia pun menyerah. Dalam hatinya pun, ia menyetujui bahwa masuk kelas saat ini tidak akan memperbaiki suasana hatinya.

Mungkin sesekali bolos, tak apa. Gumamnya dalam hati.

Tatapannya pun turun menuju tangan Sasuke yang menggenggam lengannya, kemudian beralih ke punggung tegap Sasuke yang tanpa ia sadari telah menjadi kebiasaannya beberapa hari ini.

.

.

.

.

"HAHAHA!" Sakura terduduk di salah satu bangku di dekatnya lalu kembali melanjutkan tawanya.

Sasuke yang masih berdiri menatapnya tajam, ia ingin membungkam tawa gadis itu tapi kepalanya masih pusing akibat sebuah wahana yang baru ia naiki tadi.

"Oh, astaga." Sakura menghentikan tawanya, menatap Sasuke iba. "Aku tak tahu kau takut terhadap ketinggian. Jadi itu alasanmu tadi menolak sewaktu aku memintamu menaiki roller coaster?" Sakura berdecak. "Seharusnya kau jujur, Sasuke. Aku bisa naik itu sendiri."

"Diamlah," ucap Sasuke kesal. Ia pun ikut mendudukkan dirinya di sebelah Sakura. Matanya terpejam berusaha mengurangi rasa mual yang masih ia rasakan.

"Kau yakin kau tak apa-apa?"

Pertanyaan Sakura dijawab sebuah anggukan ringan Sasuke.

Melihat wajah Sasuke yang pucat, Sakura pun agak merasa khawatir. Tangannya terulur lalu menyentuh kening Sasuke, sontak mata Sasuke terbuka dan memandangnya.

"Apa yang kaulakukan?" desis Sasuke. Dia menurunkan tangan Sakura dari keningnya.

Dahi Sakura berkerut, mata hijaunya menelisik Sasuke. "Kau demam," ucapnya. Dia mendesah pelan. "Lebih baik kita pulang saja. Aku tak yakin bisa membawamu pulang kalau kau nanti pingsan, atau kemungkinan buruk lainnya yang bisa terjadi."

"Aku tak selemah itu," balas Sasuke. Dia berdiri lalu mengulurkan tangannya pada Sakura. "Ayo. Masih banyak wahana yang belum kita naiki."

"Sasuke—"

"Ck! Cepatlah. Aku paling benci menunggu," potong Sasuke kesal. Tangannya masih terulur. "Aku baik-baik saja. Demam seperti ini tidak akan membuatku pingsan—jika itu yang kautakutkan."

Ragu masih menyelimuti hati Sakura, tapi ketika emarld-nya bersitatap dengan onyx milik Sasuke, keraguannya lenyap. Tangannya pun terangkat menyambut tangan Sasuke yang sedari tadi terulur. Ia menggenggamnya erat lalu berdiri.

Seulas senyum tertarik dari dua sudut bibir Sasuke, yang dibalas dengan senyuman lebar Sakura. Mereka pun bersisian berjalan menuju wahana-wahana lainnya yang ingin mereka naiki selanjutnya. Mereka mengobrol, saling mengejek dan tertawa seolah-olah mereka melupakan pertikaian yang terjadi selama beberapa minggu yang lalu.

Untuk saat ini, Uchiha Sasuke dan Haruno Sakura melupakan seluruh kejadian di masa lalu, masalah yang masih membayangi mereka dan tertawa sebebas-bebasnya—meninggalkan semuanya di belakang, dan hanya akan menyadari atensi satu sama lain.

.

.

.

.

Pukul delapan malam, mobil Sasuke terlah terparkir rapi di halaman depan rumah Rin. Sasuke maupun Sakura masih di dalam mobil, diam. Tak ada satupun pembicaraan berlangsung di antara keduanya sejak meninggalkan taman hiburan tadi.

Sakura berdeham pelan. "Sepertinya Rin-nee belum pulang," ucapnya seraya melihat rumah yang telah ia tinggali hampir satu bulan itu.

"Hn. Mungkin," balas Sasuke.

Sakura menggigit bibir bawahnya lalu menoleh ke Sasuke. Dia mengalihkan pandangannya lalu berkata pelan, "Terimakasih untuk hari ini. Aku … sungguh senang."

"Sakura," panggil Sasuke.

Sakura mengangkat kembali wajahnya, dan iris klorofilnya segera bertemu dengan iris gelap milik Sasuke yang memandangnya dengan raut tak terbaca.

"Apa?" tanya Sakura penasaran—mencoba mengartikan raut Sasuke. "Sasuke, ap—"

Sakura tak pernah menyelesaikan ucapannya.

Sentuhan lembut di bibirnya menghapus semua kalimat yang sudah Sakura susun di kepalanya. Matanya membola kaget dengan apa yang Sasuke lakukan. Tangannya ingin memberontak, mendorong jauh-jauh Sasuke darinya. Tapi … jantungnya berdegup kencang, tubuhnya seakan bereaksi di luar nalar.

Tanpa Sakura sadari, matanya telah terpejam dan tangannya—tangan yang sempat ia pikirkan untuk mendorong Sasuke, kini mengalungkan diri di leher Sasuke, dan ia pun memperdalam ciuman itu.

.

.

.

.

IDIOOOOT!

Sakura menggeram pelan. Kepalanya terbenam di balik bantalnya. Tubuhnya tertutupi seluruhnya oleh selimut. Sakura meringis mengingat lagi kejadian semalam. Ia sungguh tak habis pikir terhadap dirinya sendiri. Atau apa yang merasuki dirinya hingga berbuat seperti itu. Seharusnya saat Sasuke menciumnya ia segera mendorongnya, bukannya malah membalas ciumannya.

Sakura merutuki dirinya sendiri. Dan pagi hari ini, ia pasti tak mampu bersitatap dengan Sasuke. Ia pasti merasa canggung!

Oh tidak, tidak! Seharusnya Sakura merasa marah! Sasuke dengan tidak sopannya menciumnya. Tapi bukankah Sakura pun membalasnya? Jadi yang salah siapa? Sakura atau Sasuke?

Sakura mengerang pelan. Ia bangun dan mengusap wajahnya kasar, merasakan kebingungan yang nyata. Tangannya beralih menatap ponselnya yang tergeletak di meja kecil samping kasurnya.

Tiba-tiba tangannya merasa gatal. Dia pun meraih ponselnya dan mengecek notifikasi ponselnya. Ada beberapa pesan dan beberapa panggilan telepon yang tak penting. Sakura melihat notifikasi pesan lainnya, tapi pesan dari orang yang telah membuatnya uring-uringan semalaman tidak ada.

Aneh.

Sejak pengumuman pacarannya dengan Sasuke, bungsu Uchiha itu tak pernah absen mengirimkan pesan padanya setiap pagi.

Tidak, Sakura bergumam pada dirinya sendiri. Bukan berarti ia mengharapkan pesan-pesan dari Sasuke. Hanya saja, sesuatu seakan 'kosong' tanpa pesan-pesan itu. Sakura menebak-nebak apa yang terjadi hingga Sasuke melupakan rutinitas paginya itu.

Sakura menggelengkan kepalanya menyerah. Ia melempar ponselnya asal lalu berdiri dan menuju kamar mandi. Sebaiknya ia bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Tidak lucu jika dia bolos hanya karena kejadian semalam—atau justru hanya karena Sasuke.

Sungguh tidak masuk akal!

.

.

.

.

Keanehan berikutnya yang Sakura dapati adalah keabsenan Sasuke di meja makan padahal waktu sudah menunjukkan pukul tujuh kurang sepuluh menit. Sasuke tak pernah setelat ini dan Sakura bingung—tunggu! Ada apa sih dengan dirinya hari ini? Kenapa ia begitu peduli pada Sasuke? Bukankah itu bukan urusannya Sasuke mau melakukan apa.

Sakura—untuk kesekian kalinya—merutuki dirinya sendiri.

Mencoba mengabaikan perasaan risau di hatinya, ia pun berniat duduk yang ditundanya ketika Rin memanggilnya.

"Sakura?"

"Iya, Rin-neesan?"

"Bisa kau cek ke kamar Sasuke? Tidak biasanya dia belum bangun padahal sudah sesiang ini," pinta Rin.

Sakura mematung mendengar ucapan Rin. "Eh, baiklah," jawab Sakura setelahnya. Ia pun kembali ke lantai dua di mana kamar Sasuke berada. Langkahnya berat dan penuh keraguan. Ia ingin berbalik dan melarikan diri, tapi Rin pasti akan mencurigainya kalau ia melakukan hal tersebut.

Sakura menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan—berharap mengurangi degup jantungnya yang berpacu cepat sebelum membuka pintu kamar Sasuke. Tangannya kini sudah berada di kenop pintu, ia memutarnya perlahan lalu membukanya.

Kedua matanya menyipit mendapati kegelapan di kamar Sasuke. Dia pun masuk lalu mencari saklar lampu. Setelah menyalakan lampu di kamar Sasuke, pandangannya lurus tertuju ke arah Sasuke yang masih terbaring di kamarnya—tertidur.

"Hei, Sasuke?" panggil Sakura ragu. Dia mendekat, berdiri di sebelah Sasuke. Kedua matanya terpejam, tapi Sakura bisa melihat keringat yang membasahi wajahnya yang pucat.

Satu kesimpulan pun muncul di kepalanya.

"Sasuke?" panggilnya lagi. Namun, hanya suara rintihan kecil yang terdengar dari mulut Sasuke. "Oh, astaga." Sakura berdecak khawatir. Tangannya kini sudah berada di kening Sasuke yang teramat panas.

Sasuke demam.

"Sudah aku bilang 'kan kemarin?!" Sakura menggerutu kesal. Dia segera berbalik untuk memberitahu Rin kondisi Sasuke tapi sebuah tangan mencekal lengannya.

" … jangan pergi."

Sakura berbalik. Manik gelap Sasuke memandangnya dalam.

" … jangan pergi. Tetap di sini," pinta Sasuke sekali lagi.

Jika kata-kata itu keluar dari mulut Sasuke beberapa hari yang lalu mungkin Sakura akan mengabaikannya dan tak memiliki kewajiban untuk peduli. Tapi, Sakura menyadari kini keadaan telah berbeda, dan perasaan ganjil melingkupi hatinya—suatu perasaan yang mendorongnya untuk mengikuti apa yang hatinya—dirinya inginkan.

Seulas senyum tipis pun terbentuk di wajah Sakura. Dia balas menggenggam tangan Sasuke yang berada di lengannya. Tanpa keraguan, dia pun berkata, "Aku tak akan pergi."

.

.

.

.

-tbc-


A/N: Halo~ bertemu lagi! Masih setia kah menunggu? ^^

Thanks!

hanazono yuri; zarachan; Asuka Kazumi; Guest; Nurulita as Lita-san; ; Wu Lei II; Mustika447; dhianarndraha; Guest

Dan semua yang masih menanti fanfic ini.

Sekali lagi, terimakasih semua. Tanpa kalian yang menanti fanfic ini (thanks sqchn yang sudah mereview di chap 3 dan mengingatkanku akan eksistensi fanfic ini), aku mungkin sudah melupakan fanfic ini dan tak akan melanjutkannya lagi. Hehe. Arigatou gozaimasu~!

Akhir kata.

Kalau berkenan, review? :)