Takut
Sebuah fanfiksi. Masih mengandung sopiler~
Mystic Messenger masih milik Cheritz~ Terinspirasi dari buku Marriage : Third Edition-nya Blood & Blood. Iyah, yang nulis suami istri. So sweet bangeeeet~
Kang Jaehee
Ah, apa kabar? Aku harap kabarmu baik-baik saja. Kita sudah cukup akrab selama beberapa hari ini, jadi aku ingin mengungkapkan beberapa hal padamu mengenai hubungan kita.
…Ah, pertanyaanmu itu terlalu tiba-tiba. Aku tidak bisa menjawab apakah aku akan membawa hubungan ini ke jenjang yang lebih tinggi dan lebih dekat…
Karena kau sudah bertanya mengenai hal itu, kurasa lebih baik kita mendiskusikan ini bersama-sama. Tidak apa-apa, 'kan?
Sebenarnya, aku masih merasa belum siap menjalani hubungan yang menuntut tingkat komitmen tinggi. Aku belum menemukan maksud di balik konsep 'menyerahkan diri seutuhnya kepada orang lain'. Maksudku, menyerahkan diri seutuhnya kepada orang lain… Apakah itu semacam kontrak yang mengikat?
Aku masih ingat tentang satu hari yang bersejarah di dalam hidupku. Hari di mana Kang Jaehee menjual jiwanya kepada seorang iblis...
Maaf, aku terlalu berlebihan menggambarkannya, namun saat aku selesai menggoreskan tanda tanganku di atas kertas kontrak kerja itu, aku merasa aku telah menyerahkan seluruh kehidupanku untuk Tuan Han. Dimulai dari membantu mengerjakan berbagai proyek yang ia rencanakan, termasuk proyek-proyek yang melibatkan mamalia berkaki empat yang mengeong; mengingatkannya akan jadwal kegiatannya sehari-hari; mengatur jadwal rapat dan pertemuannya; juga membantu mengurus masalah-masalahnya yang tidak ada kaitannya denganku. Dan kau tentu tahu bagian terburuk dari bekerja di bawah komando Tuan Han Jumin selain pekerjaan yang menumpuk tiada henti, bukan?
Benar sekali. Elizabeth 3rd, sang makhluk berbulu kesayangannya. Menyebut namanya saja sudah membuat bulu kudukku berdiri.
Seperti yang kau ketahui, mengabdi selama dua tahun lebih kepada Sang Direktur ini berhasil menjungkir balikkan kehidupanku dan membuatku gila, tapi apa yang bisa kulakukan? Aku tetap butuh pekerjaan untuk bisa bertahan hidup dan aku sangat berhutang budi padanya karena ia memberikanku kesempatan baik.
Itu adalah salah satu alasan mengapa aku ragu untuk berkomitmen lebih serius dengan orang lain. Apakah nantinya saat aku menyerahkan hidupku untuk orang lain, aku tak bisa sebebas dahulu? Apakah aku harus mempertimbangkan pendapat orang lain dan bahkan mengalah demi kepentingannya? Aku juga memiliki batas-batas kompromi tersendiri. Sudah cukup rasanya aku ditekan oleh 'Bos dari Neraka' itu.
Kau tentu masih ingat dengan Nyonya Rembulan, sang mak comblang yang sempat meramal percintaanku. Ia berkata padaku bahwa aku tidak akan mampu menjalin hubungan cinta jangka panjang dengan siapapun. Dia benar, aku terlalu sibuk bekerja. Apa jadinya kalau aku menomor satukan hal lain selain pekerjaan? Tuan Han pasti akan segera memecatku. Dan apa gunanya juga hubungan personal itu bagiku?
Maaf, aku tidak bermaksud untuk meremehkan hubungan yang lebih akrab. Aku masih belum yakin akan manfaat yang kudapat dari hubungan akrab yang terjalin itu. Jika aku mempertanyakan mengenai keuntungan yang kudapatkan dari situ, tentu aku mengharapkan timbal balik. Ada yang harus aku berikan dan ada juga yang akan kau berikan, sama seperti saat bekerja. Karyawan digaji sesuai dengan kinerja yang ia berikan dalam memajukan perusahaan.
…"Bagaimana dengan Zen?"
Ah ya, aku memang sangat mengidolakannya. Aku mendedikasikan sebagian besar pendapatan, waktu luang dan perasaan kagumku yang bisa kuberikan untuk mendukungnya sebagai seorang penggemar. Ia telah mencerahkan hari-hariku dengan lakon dan nyanyiannya. Tentu saja, untuk mengapresiasinya harus ada yang kuberikan padanya. Aku selalu yakin akan prinsip itu sehingga untuk mengubah cara pandang seperti itu terasa aneh bagiku, namun jika kau ingin agar hubungan kita menjadi lebih dekat dari sekarang bukan karena mengejar timbal balik, aku rasa kita bisa menjadi sahabat karib, bukan? Sahabat adalah salah satu harta berharga manusia.
Sekarang, yang menjadi pertanyaan terbesarku adalah: bisakah kita saling terbuka dan menyesuaikan irama satu sama lain? Apakah tidak apa-apa bagimu untuk tidak mengikat janji manis dan tidak menjaminkanmu sesuatu yang mungkin tak bisa terpenuhi?
…Dan, akankah kau tetap ada di sisiku sampai aku yakin akan arti kehadiranmu dalam hidupku?
