Takut
Sebuah fanfiksi yang disajikan dengan sopiler~
Mystic Messenger masih milik Cheritz~ Terinspirasi dari buku Marriage : Third Edition-nya Blood & Blood~
Warning : 'Rika-noona' :'3
Yoosung
Oh, h-hai! Ahaha, akhirnya kita bertemu juga! Senang berjumpa denganmu!
…Er, penampilanku tidak apa-apa, 'kan? Hehehe… Terima kasih!
Tujuanku untuk menemuimu adalah untuk memberitahumu sesuatu mengenai diriku. Aku merasa malu, sih, harus mengungkapkan hal seperti ini padamu, tapi aku harap kamu mau mendengarkanku meskipun hanya sekali ini saja. Err… aku mulai saja sekarang sebelum suasana makin kaku, ahaha…
Sejujurnya, aku takut akan pertemuan. Pertemuan adalah awal dari segalanya, bukan? Orang-orang datang dan pergi, berkembang menjadi pribadi-pribadi yang berbeda setiap waktu, namun kenangan akan pertemuan masih menetap dan tidak berubah. Aku menyadarinya sejak aku kehilangan sosok Rika-noona dan Sally, anjing kesayanganku. Alasan mengapa mereka berdua menjadi bagian berharga dalam kehidupanku adalah karena saat aku bertemu mereka, aku mendapatkan sumber kebahagiaan. Begitu bahagianya, sampai saat mereka pergi aku merasa hancur.
Rika-noona mengambil ruang yang cukup besar di dalam jiwaku. Ia adalah keluargaku. Idolaku. Panutanku. Di saat ia menangis tersedu-sedu di sampingku, aku hanya bisa berdiri di tempatku dan tidak melakukan apa-apa saat memandangi jasad Sally yang meninggal karena kecelakaan. Apa yang dapat kulakukan saat melihat sakit yang dialami? Apakah upayaku akan membantunya? Tidak ada yang bisa kulakukan. Aku menyesal. Setelah Sally pergi, Rika-noona pun tiada. Meninggal karena bunuh diri, katanya. Rasa sakitnya cukup untuk menyisakan luka yang teramat dalam di hatiku. Pernah sekali terpikir olehku, mengapa bisa bertemu jika akhirnya harus berpisah? Jika kamu, yang tanpa sengaja bertemu denganku beberapa hari lalu, menjadi bagian terpenting dalam hidupku, apakah nanti aku akan sehancur itu saat kamu pergi?
Aku takut.
Rasa menyesal itu masih menguasaiku sampai saat ini. Aku yakin kamu pasti kesal karena aku selalu membicarakan Rika-noona saat bersamamu. Kamu mungkin akan berkata "Relakan sajalah! Cepatlah move-on!" atau sejenisnya, namun seberapa mudahkah bagiku untuk mengubah pikiranku, perilaku dan perasaanku? Apakah pernah terpikir olehmu?
Yang bisa kulakukan untuk meredakan rasa sakit itu sementara adalah menyibukkan diriku dengan hal-hal lain yang membuatku bahagia. Dengan bermain LOLOL, misalnya. Semua orang di sekelilingku mengeluh karena bagi mereka aku terlalu kecanduan game. Aku membayangkan jika pusat rehabilitasi bagi pecandu game benar ada, Jumin-hyung dengan senyum setannya akan mengirimku ke sana dengan persetujuan orangtuaku. Benar-benar akhir dunia!
…Apa kamu juga menganggap bahwa kecintaanku pada game itu salah?
Aku agak takut mendengar responmu, sih. Aku takut tersinggung dan melukai perasaanmu untuk membela diriku. Aku juga kurang suka kritikan, karena bagiku mereka memberi kritikan tanpa tahu seperti apa hidup yang kujalani dan aku tidak bisa terus-terusan membela diriku sendiri.
Err… Apa bagimu aku terlalu emosional? Aku tidak ingin terlihat lebay di depan orang-orang, tapi aku tidak mampu memendam semuanya sendirian dalam waktu yang lama. Apa yang harus kulakukan saat orang-orang kelihatan tak setuju dengan apa yang kulakukan? Apakah melakukan hal yang kuanggap benar saja belum cukup? Aku ingin didengar, tapi apa yang harus kulakukan agar bisa mendengar orang lain dengan sama baiknya? Apa aku harus menjadi 'anak anjing' yang manis agar kamu menyayangiku? Ngomong-ngomong soal anjing, Rika-noona juga sangat menyayangi Sally…
Semua ini membuatku merasa buruk. Seakan-akan… lebih baik tak usah bertemu sekalian kalau tahu begini jadinya.
…Aku minta maaf kalau kamu tersinggung karena kata-kataku barusan.
Kamu adalah orang yang sangat baik, seperti Rika-noona! Aku juga ingin menjadi orang yang terbaik bagimu, namun karena rasa takut dan ragu ini langkahku terhambat. Maka itu, aku ingin membicarakan ini denganmu.
Aku yakin dua kepala selalu lebih baik dari satu kepala. Maukah kamu menolongku mengatasi masalah ini bersama?
