Takut

Sebuah fanfiksi dengan kandungan sop uler~ *ditabok*

Mystic Messenger masih milik Cheritz~ Terinspirasi dari buku Marriage : Third Edition-nya Blood & Blood~


Rika

V, ini aku.

Aku ingin bertanya tentang banyak hal kepadamu. Hal-hal yang harusnya tak terpenjara di dalam pikiran dan meracuniku. Meracuni hubungan kita. Menjadi racun bagi semuanya.

V, apakah kau tahu artinya rasa peduli? Rasa cinta? Sayang?

Dengan cinta, lubang yang dalam di hati dapat ditutupi. Rasa dahaga dan lapar akan terpuaskan. Saat kita memberikan cinta, seharusnya hati kita tak merasa kosong. Seharusnya hati kita akan terasa lebih penuh. Meskipun begitu, aku tidak bisa merasakan apa-apa.

'Cintailah dirimu sendiri sebelum mencintai orang lain', katanya, namun aku tak sanggup. Kehidupanku tak sebahagia yang aku inginkan, meskipun aku telah dilimpahi oleh kasih sayang tiada batas. Aku tak bisa memaafkan diriku sendiri. Memaafkan masa laluku. Memaafkan lingkungan sekitarku. Memaafkan orang-orang di dalamnya.

Mengapa kau mencintaiku, V? Apakah aku pantas dicintai olehmu? Akankah kau selalu mendukung dan peduli padaku, tak peduli apapun yang kupilih untuk diriku? Untuk kita?

Kini kau berubah, V. Kau selalu mengkritik apa yang kulakukan. Kau tak lagi percaya dengan apa yang kuyakini. Apakah kau tak lagi mencintaiku?

Meskipun begitu, kau tetap ada di sana. Di tempat di mana aku berada, di mana mataku menangkap bayanganmu secara langsung. Dalam diam, kau memberikan apa yang dapat kau berikan. Bahkan kau berikan cahayamu untuk membuktikan bahwa kau masih setia bersamaku, di dalam kegelapan yang terhampar di hadapan.

Apakah itu adalah bukti bahwa kau mencintaiku?

Andai saja aku tahu akan begini jadinya, aku akan menolak semuanya. Menolak cintamu. Menolakmu. Menolak takdir yang demikian pahit. Namun, bagaimana caranya aku dapat mengatakan tidak? Aku akan merasa jauh lebih kesepian lagi tanpa kehadiran cinta. Pada akhirnya, aku akan kembali mencarimu untuk melengkapi kebahagiaanku.

V, harusnya kita hidup bahagia…


V

Rika… Ini aku.

Seharusnya aku mengungkapkan ini padamu dari jauh-jauh hari, tapi tidak apa-apalah. Semoga pada suatu hari nanti kau akan menemukan ini.

Rika, sejak saat aku pertama kali mengenalmu, saat itu pulalah aku telah menyerahkan segalanya untukmu. Tubuhku, jiwaku, hatiku, pikiranku… itu menjadi milikmu sekarang, meskipun kau tidak memintanya. Meskipun kau tak akan menerimanya.

Salah satu pertanyaanku telah terjawab. Tidak. Aku tidak peduli lagi pada diriku sendiri, karena diriku telah menjadi bagian darimu. Menjadi dirimu. Aku akan melakukan apa saja untuk mewujudkan kebahagiaan yang kau inginkan. Kau bisa menghukumku apabila kau dapati aku tak mampu memberikanmu apa yang kau mau.

Rika, dua kutub pribadimu saling berseberangan, meskipun aku tetap mencintai keduanya. Aku ingin sisi gelap itu hanya kita berdua saja yang tahu, karena sepertinya semua orang lebih suka menerima orang-orang baik.

Mengapa?

Karena di dunia yang jahat ini, mereka bergantung kepada orang-orang yang menawarkan kebaikan. Tanpa matahari, dunia akan menjadi gelap gulita. Tata surya akan mati. Takkan ada lagi kehidupan.

Meskipun begitu, matahari tetap bersinar tak peduli seperti apa perangai manusia-manusia di bawah kolong langit yang dinaunginya. Aku ingin mencintaimu, matahariku, seperti sang surya. Terus memberikanmu kehangatan tanpa peduli seperti apa dirimu di masa lalu, seperti apa dirimu saat ini dan seperti apa dirimu di masa depan.

Aku tidak takut lagi akan kesendirian, karena kebahagiaanku telah kau lengkapkan. Karena diri kita telah menjadi satu, meskipun aku belum sempat melingkarkan cincin di jari manismu. Saat aku menemukanmu, aku tak perlukan yang lain lagi. Aku memang tak sempurna, namun kehadiranmu telah menyempurnakanku. Aku juga ingin menyempurnakanmu, melihatmu tersenyum lembut dengan sepenuh hati seperti saat itu. Aku ingin kau bahagia, Rika...

…Karena kita tercipta untuk bahagia bersama.