…aku…

Sebuah fanfiksi di dalam sopiler~

Mystic Messenger masih milik Cheritz~ Terinspirasi dari buku Marriage : Third Edition-nya Blood & Blood~

Warning : Kamu sudah sampai di sini? Selamat! Chapter ini banyak micinnya!


Unknown

Siapa aku?

Saat ini aku telah sampai pada sebuah titik di mana aku kehilangan kesadaran akan diriku sendiri. Jangankan memahami orang lain, memahami diriku sendiri saja aku sudah tak sanggup lagi. Sudah malas. Jangan tanya yang tidak bisa dijawab, deh.

Apa yang bisa diharapkan dari diriku? Hah! Aku saja ragu apakah aku bisa menjalani hidup sebagai diriku sendiri!

Sepanjang usiaku, yang kuingat adalah betapa terkurungnya aku di dalam cangkang kosong yang disebut 'tubuh' itu. Semasa kecil, tubuh ringkihku terus menerus diperlemah oleh cengkeraman tangan ibuku, yang menjadikan aku dan saudara kandungku sebagai pelampiasan emosi dan pemeras harta lelaki yang sembarangan menaruh benih di rahim wanita itu. Ayah kandung kami.

Aku tak mampu melawan. Aku takut dibuang karena aku tidak menurut.

Aku sangat menyukai langit tinggi yang terpampang di hadapanku saat saudaraku membawaku keluar untuk berjalan-jalan. Kaki-kakiku yang rapuh karena lama tak dibawa melangkah mengikuti jejak kakinya perlahan. Lihat, langit dengan gumpalan-gumpalan permen kapas tertempel di tiap sudutnya. Permen kapas yang senantiasa bergerak dan berubah-ubah bentuk, tak peduli akan pendapat manusia yang berdiri di bawah kolongnya. Aku ingin mencicipi rasa permen kapas itu. Aku mengulurkan tanganku ke atas, mencoba meraihnya, namun saudaraku menahan tanganku.

Aku tak mampu melawan. Aku takut ia marah dan tak lagi menyayangiku karena aku tidak menurut.

Kemudian, saudaraku menghilang. Dia pergi terlalu lama. Aku ditinggalkan. Dia lenyap. Tiada. Jiwaku mati. Tak ingin hidup lagi. Saat aku merasa bahwa ajalku sudah mendekat, yang tiba adalah seorang malaikat. Penyelamat. Ia meyakinkanku untuk ikut dengannya untuk menemui kebahagiaan abadi.

Aku tak mampu melawan. Aku takut kehilangan kesempatan karena aku tidak menurut.

Aku pun menjalani hidupku sebagai kaki tangan Sang Penyelamat. Orang kepercayaan yang diberikan kesempatan terhormat untuk mengantarkan pesan yang teramat penting. Undangan menuju pesta yang sebenarnya. Pesta tiada akhir. Aku melaksanakan tugasku dengan setia, berharap akan mendapatkan kebahagiaan yang seutuhnya dari Sang Penyelamat. Pada akhirnya, aku hanyalah satu di antara entah berapa bidak yang dikorbankan. Diinjak sang Ratu untuk menunaikan tugas.

Aku tak mampu melawan. Aku takut tidak diterima karena aku tidak menurut.

Semua serasa berputar. Semuanya gelap. Riuh. Pekikan. Tembakan. Merah. Genangan. Tangisan.

Aku tak mampu melawan. Aku takut.

Aku tak punya apa-apa lagi. Bahkan namaku pun tak lagi menjadi milikku.

Lalu untuk apa kau ingin mendekatiku? Mengapa kau menginginkan sebuah jalan untuk kau tempuh hanya berdua denganku?