Je T'aime
.
.
.
Haruno Sakura, Kaneshiro Goshi
.
.
.
Naruto, B-Project
.
.
.
©Aomine Sakura
.
.
.
DILARANG COPAS DALAM BENTUK APAPUN! JIKA TIDAK SUKA DENGAN ADEGAN ATAU CERITA YANG DIBUAT AUTHOR, SILAHKAN KLIK TOMBOL BACK! DLDR!
Selamat Membaca!
oOo
Sakura membuka matanya ketika cahaya matahari masuk ke dalam kamarnya. Sebuah tangan memeluknya dari belakang dan menyadarkannya. Jika ini bukan di kamarnya.
Ini di kamarnya bersama suaminya. Kaneshiro Goshi.
Masih terekam jelas dalam ingatannya, ketika Kaneshiro membawanya menemui tim B-Project dan memperkenalkannya sebagai calon istrinya. Seketika apartemen tempat B-Project bernaung heboh. Banyak dari mereka yang menganggap jika Kaneshiro sedang mabuk.
Tetapi, suaminya itu mewujudkan semuanya. Mereka menikah tidak lama kemudian. Pesta sederhana yang tidak diketahui banyak orang. Mereka menikah secara diam-diam. Itu yang diminta oleh manager B-Project sebagai syaratnya.
Bagi Sakura, pernikahan yang dilakukan sembunyi-sembunyi bukanlah masalah untuknya. Sakura mengerti, jika Kaneshiro adalah idola yang sedang naik daun dan B-Project sedang merintis karirnya. Apa jadinya jika muncul berita jika Kaneshiro Goshi sudah memiliki istri?
Bisa-bisa suaminya kehilangan fans yang mendukungnya. Tanpa seorang fans, idola tidak akan bisa berdiri.
Dan disinilah dirinya sekarang, berada di kamar miliknya dan suaminya. Kaneshiro meminta kepada ketuanya untuk menyewakannya satu kamar untuk mereka. Kaneshiro yang tadinya sekamar bersama Aizome, membuat sahabat suaminya itu mengungsi karena kamar mereka digunakan olehnya dan suaminya.
Saat Kaneshiro membawanya pindah ke apartemen B-Project. Pria berambut hitam itu menanyakannya tentang dekorasi kamar yang diinginkannya. Suaminya mengatakan jika ingin membuatnya nyaman dan merasa seperti di rumah.
Dia tidak menginginkan apapun. Berada di sisi suaminya saja sudah membuatnya bahagia.
Ketika dirinya menemani Kaneshiro berlatih, kamar mereka sudah berubah total. Entah bagaimana ceritanya, piano miliknya yang ada di cafe bisa berada di kamar mereka. Juga di dinding kamar mereka terdapat foto-foto pernikahan mereka.
Kaneshiro yang membuat ini semua dan Sakura tidak bisa melakukan apapun selain memeluk suaminya dengan erat.
Mendudukan dirinya, Sakura memandang jam di dinding. Ini masih pukul enam pagi dan biasanya anggota B-Project belum terbangun.
Mungkin, dia bisa membuatkan sesuatu untuk sarapan.
.
Kaneshiro Goshi membuka matanya dan tidak menemukan istrinya di sampingnya. Kepalanya terasa pusing setelah tidur. Dia berlatih keras kemarin dan kelelahan setelah malam panas mereka berakhir. Ini sudah hampir pukul delapan, dia kesiangan. Sudah pasti teman-temannya sudah mulai berlatih.
Hal pertama yang dia lakukan adalah mencari istrinya. Biasanya Sakura selalu ada di kamar saat dirinya bangun, entah mengapa sekarang istrinya tidak ada di kamar. Hal itu membuatnya khawatir.
Menyusuri apartemennya yang luas, langkah kakinya menuju ruang makan. Dia bisa mendengar suara keributan di dapur. Masih dengan setengah nyawa yang terkumpul, Kaneshiro masuk ke dapur.
Pemandangan di hadapannya membuat matanya terbuka lebar. Disana, istrinya sedang kerepotan membagikan masakan yang dibuatnya. Hikaru menyodorkan mangkuknya, meminta tambah nasi pada istrinya.
"Ada apa ini?"
"Oh- Goshi-kun!" Sakura tersenyum. "Ingin sarapan?"
"Kane-chin beruntung sekali bisa memiliki Kura-chin." Hikaru berucap sembari mengunyah makanannya. "Dia pintar sekali memasak."
"Cih." Kaneshiro mendenguskan wajahnya dan memeluk Sakura dari belakang. "Maka dari itu aku menikahinya."
"Mou, Gochin sudah pamer kemesraan pagi-pagi," ucap Yuta.
Sakura tidak bisa menahan wajahnya yang memerah. Biar suaminya adalah orang yang cuek, tetapi suaminya adalah orang yang romantis.
.
"Huwaa.. aku kekenyangan." Hikaru menepuk perutnya dengan wajah senang.
"Kau rakus sekali, Hikaru." Tatsuhiro menimpali.
"Ck, untung saja Sakura sudah menyisakan makanan untukku. Aku tidak habis pikir dengan perutmu," ucap Kaneshiro. Terlihat jelas jika pria itu sangat kesal.
"Sudah, sudah, kita mulai berlatih saja." Masunaga menengahi.
.
Sakura berkutat di dapur, dia ingin membuat beberapa kue dan cookies untuk anggota B-Project. Setelah menikah dengan Kaneshiro, dia memberikan cafe miliknya kepada Ino. Tidak memberikannya, lebih tepatnya Ino yang mengelolanya. Sesekali dirinya datang untuk melihat keadaan.
Saat mengetahui jika pemuda yang bernama Yo adalah Kaneshiro Goshi. Ino langsung mengomeli Kaneshiro habis-habisan. Kaneshiro balik melawan dan membuat perdebatan sengit diantara keduanya. Ino yang cerewet dan Kaneshiro yang cuek tetapi mudah naik darah, kombinasi yang bagus untuk membuat telinga mendadak tuli.
Dia juga berhenti dari kuliahnya. Bukan karena apa, Kaneshiro yang memintanya. Di tidak bisa menolaknya, jadi sekarang kegiatan barunya adalah membuat kue untuk anggota B-Project dan membuatkan makan malam untuk mereka. Sesekali dia menemani suaminya saat sedang ada acara diluar.
Saat dia sedang membuat adonan. Dia dikejutkan dengan seseorang yang berdiri di pintu dapur.
"Sakura, ada yang ingin aku bicarakan denganmu."
.
.
Tsubasa memandang anggota B-Project yang berlatih. Mereka sudah semakin kompak dan Tsubasa benar-benar senang dengan hal itu. Banyak tawaran masuk untuk meminta anggota B-Project mengisi beberapa acara.
Setelah konser mereka di Raizin, nama B-Project semakin di kenal.
"Tsubasa-chan, bagaimana dengan latihan mereka?" Yashamaru masuk ke dalam ruang latihan.
"Terlihat sangat baik."
"Hai' mohon perhatiannya." Yashamaru menghentikan latihan mereka. "Aku akan memberitahu tentang tawaran yang masuk ke B-Project. Karena Ryuuji masih sakit, untuk saat ini beberapa tawaran untuk Kitakore akan di cancel."
Mereka semua terdiam, mendengarkan kelanjutan kata-kata manager mereka.
"Dan aku memiliki pekerjaan untuk MooNs dan juga Thrive," ucap Yashamaru. "Jadi, Thrive akan melakukan pemotretan untuk pakaian pria di gunung Fuji, sedangkan MooNs akan mengisi acara di salah satu talkshow. Acara akan dilaksanakan secara bersamaan."
"Eh? Lalu, aku bagaimana?" tanya Tsubasa. Dia tidak mungkin bisa mendampingi mereka semua."
"Bagaimana jika Sakura yang mendampingi Thrive, bukankah Sakura juga istri dari Goshi."
Kaneshiro terlihat tidak peduli. Sedangkan Yuta begitu bersemangat.
"Itu benar, Yashamaru-san."
Yashamaru terlihat tidak suka, dia mencoba memikirkan jalan keluar untuk masalah ini.
"Apa dia bisa diandalkan?"
"Hah? Kau bicara apa, Yashamaru-san?" tanya Kaneshiro dengan pandangan tidak suka. "Jika dia tidak bisa diandalkan, aku tidak akan menikahinya."
"Baiklah, baiklah, sudah diputuskan."
.
Sakura tersenyum senang ketika mengeluarkan kue dari dalam oven. Dia selesai membuat beberapa kue untuk anggota B-Project. Dia senang sekali membuat berbagai kue untuk mereka.
Saat meletakan kue buatannya diatas meja. Dia nyaris melompat ketika melihat siapa yang berdiri di depan pintu dapur.
"Da-Daikoku-san." Sakura sedikit membungkukan badannya.
Daikoku Shuji mematikan rokoknya dan mendudukan dirinya di salah satu kursi. Dia meletakan topinya diatas meja dan membuat Sakura gelagapan.
Bagaimana tidak? Ketua tempat grup suaminya bernaung datang kemari. Siapapun pasti akan terkejut.
"Mau ocha? Aku baru saja membuat kue." Sakura mencoba mencairkan suasana dan meletakan ocha di hadapan Daikoku dan juga beberapa kue.
"Sejak kapan kamu bisa memasak?" tanya Daikoku meneguk ochanya. "Aku ingin mendengar banyak tentangmu. Goshi tidak mau menceritakan tentangmu padaku."
"Eh? Kenapa Goshi-kun tidak mau menceritakanku?"
"Karena dia tertutup. Diantara yang lainnya, Goshi adalah pribadi yang tertutup. Tidak ada yang tahu tentangnya. Tetapi, karena kamu dia bisa membungkukan kepalanya."
"Hah?" Sakura memandang pria dihadapannya dengan pandangan bingung.
"Sudahlah. Duduk disini dan ceritakan padaku tentang dirimu."
.
"Terima kasih atas makanannya!"
Sakura tersenyum dan mulai membenahi meja makan yang kotor. Tsubasa sesekali membantunya dan dia merasa pekerjaannya terasa ringan. Membuatkan makanan untuk sepuluh orang bukanlah hal yang mudah. Tetapi, dia menyukai perannya.
Suaminya sedang mandi ketika dirinya sampai di kamar. Merebahkan dirinya di ranjang, Sakura merasa bebannya menghilang. Tidak ada yang menyenangkan selain berbaring di ranjang setelah seharian berada di dapur.
Sepuluh menit kemudian, Kaneshiro muncul dengan balutan handuk di pinggangnya. Matanya memandang istrinya yang terlelap. Menuju lemarinya, dirinya memakai pakaian rumahannya.
Dengan pelan, dia berbaring di sisi istrinya. Cantik. Istrinya sungguh cantik dan dirinya bersyukur menikahi Sakura. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya tanpa Sakura.
Banyak hal sudah mereka lalui bersama, meski mengenal dalam waktu yang singkat. Dan karena kehadiran Sakura, dia mampu melupakan Izumi. Setelah pernikahannya dengan Sakura berlangsung, dia sudah jarang berhubungan dengan Izumi lagi.
Tangannya terjulur untuk mengusap pipi gembil itu dengan lembut. Ah, andaikan Sakura tahu jika dirinya mencintai Sakura. Sangat.
"Umh.." Sakura menggeliat. Kemudian emerald yang indah itu terlihat. "Goshi-kun?"
"Apa aku membangunkanmu?" Kaneshiro bertanya.
"Tidak." Sakura bisa mencium bau harum sabun dan shampoo menguar dari tubuh suaminya. Dia sangat menyukai bau itu, bau khas milik suaminya.
"Sakura, Yashamaru-san memintamu untuk menjadi pendamping Thrive besok," ucap Kaneshiro. "Kami ada pemotretan di gunung Fuji besok."
"Hah? Kenapa aku?" Sakura memandang Kaneshiro dengan pandangan tidak percaya. Sepertinya dia baru saja bermimpi, tidak mungkin dirinya menjadi pendamping Thrive. Lalu, kemana Tsubasa?
"Kemana Tsubasa-chan?"
"Dia akan mendampingi MooNs. Kami ada acara di hari yang sama."
"Souka." Sakura menganggukan kepalanya dan membelai dada bidang suaminya dengan lembut. "Kalau begitu kamu harus istirahat, Goshi-kun."
"Hm.."
.
Yuta menguap lebar dengan wajah yang mengantuk. Ini masih pukul tiga pagi dan dia harus bangun untuk berangkat ke gunung Fuji. Di sebelahnya, Aizome memandang jam di tangannya dengan kesal. Ini sudah pukul tiga lewat dan Kaneshiro belum keluar.
"Dimana Goshi?!" Aizome mengetukan sepatunya ke lantai.
"Mungkin dia sedang bercinta dengan Kura-chin."
"Yuta!"
Tak berapa lama Kaneshiro muncul dengan Sakura. Kaneshiro memakai jaket miliknya dan membawa sebuah tas besar. Pandangan Aizome tertuju pada tas yang dibawa Kaneshiro.
"Goshi, lama sekali!" Aizome mengusap tangannya. "Kamu tidak tahu, disini dingin sekali."
"Maafkan kami, Aizome-kun." Sakura menanggapi. "Aku harus menyiapkan beberapa keperluan untuk di bawa ke gunung Fuji."
"Karena Gochin sudah ada disini, sebaiknya kita segera berangkat." Yuta menguap sebelum masuk ke dalam mini van mereka.
Sakura tersenyum dan membusungkan dadanya. Ini adalah saatnya dia menunjukan bahwa dirinya juga bisa mendampingi Thrive. Dia menghirup udara sebelum tersenyum.
"Yosh! Semangat!"
.
Gunung Fuji ternyata lebih dingin dari yang dibayangkan. Mereka harus memakai baju yang berlipat-lipat agar terhindar dari dingin. Bahkan, napas mereka sendiri seperti uap.
"Ah! Thrive!" ketua pelaksana tersenyum. "Selamat datang."
"Selamat pagi, saya Haruno Sakura yang akan mendampingi mereka."
"Oh, nona Sakura."
Mereka semua membungkukan badannya sopan.
"Pemotretan akan dimulai setengah jam lagi, persiapkan diri kalian."
"Baik!"
Sakura tersenyum dan berjalan menuju van mereka. Dia mencoba mengambil tas yang dibawanya, jika saja Kaneshiro tidak mengambilnya terlebih dahulu.
"Goshi-kun." Sakura menatap suaminya. "Terima kasih."
Aizome mendudukan dirinya di salah satu kursi dan merapatkan jaketnya. Dia tidak mengerti, mengapa kru yang berada disini bisa tahan dengan udara dingin seperti ini.
"Dingin sekali." Yuta mengusapkan kedua tangannya.
"Aku membuatkan kalian jahe hangat." Sakura menyerahkan gelas berisi jahe hangat kepada ketiganya.
"Kamu memang cocok menjadi manager kami dari pada istri Goshi." Aizome meminum jahe hangat buatan Sakura.
"Rasanya energiku terisi kembali!" Yuta tersenyum. "Ayo, kita harus melakukan pemotretan sebelum matahari mulai meninggi."
.
Suara jepretan kamera terdengar. Sakura berdiri dan tersenyum memandang suaminya yang sedang berpose dengan pakaian pria. Menurut apa yang dikatakan Tsubasa kepadanya. Ini adalah pemotretan untuk majalah busana pria.
Dia bahkan bisa melihat dengan jelas otot-otot milik suaminya yang terbentuk dengan jelas. Diantara semua anggota B-Project, suaminya dan Nome Tatsuhiro yang paling rajin olah raga.
Tiba-tiba saja pipinya merona merah. Dia baru menyadari jika suaminya sangat seksi. Padahal mereka selalu bercumbu, tetapi dia baru menyadari kelebihan suaminya.
"Kerja bagus." Sakura tersenyum dan menyerahkan selimut kepada mereka. "Udara akan semakin dingin meski matahari meninggi, sebaiknya kalian menghangatkan diri di dalam van."
Kaneshiro menerima selimut dari istrinya dan mencium puncak kepala itu dengan lembut. Dia begitu bahagia bersama dengan Sakura. Berkat istrinya, semua keperluannya teratasi.
.
.
Kaneshiro memandang kearah jalanan. Setelah melalui hari yang panjang, akhirnya mereka bisa pulang. Untung saja ini adalah pemotretan untuk pakaian lelaki, jadi dia tidak perlu melakukan pose yang aneh-aneh.
Dia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi istrinya ketika melihatnya berpose seperti anak kucing yang lucu. Jika hanya tertawa dia tidak akan keberatan, bagaimana jika istrinya itu akan meninggalkannya?
Tidak. Kaneshiro menggelengkan kepalanya. Istrinya tidak akan melakukan hal seperti itu.
Tangan kanannya mengusap rambut istrinya dengan lembut. Istrinya itu kelelahan setelah menyiapkan segala keperluan Thrive. Istrinya pulalah yang berlari kesana kemari untuk mengambilkan semua keperluan milik Thrive.
"Aku mencintaimu, Sakura."
oOo
"Goshi-kun, apa jadwalmu hari ini?"
Kaneshiro memakai pakaiannya dan menatap Sakura yang masih bergelung dalam selimut. Istrinya itu masih telanjang dan hanya di tutupi selembar selimut tebal yang menghangatkannya selama tertidur.
"Entahlah, mungkin aku ada rekaman hari ini." Kaneshiro mendekati Sakura dan mengecup bibir peachnya dengan lembut. "Jika jadwalnya tidak berubah."
"Boleh aku ikut denganmu?" Sakura merajuk manja. "Aku tidak ingin ditinggal sendirian disini. Aku kesepian."
Kaneshiro mengangkat satu alisnya. Seingatnya, Sakura tidak pernah semanja ini semenjak mereka menikah. Tiba-tiba saja istrinya menjadi manja seperti ini dan itu membuatnya sedikit curiga.
"Sakura, apa kepalamu terbentur sesuatu?"
Sakura mengerucutkan bibirnya. Di matanya, kata-kata suaminya adalah penghinaan untuknya.
"Memangnya jika aku kesepian kepalaku terbentur sesuatu?"
Mengangkat satu alisnya kembali, dia merasa aneh dengan tingkah istrinya. Rasanya ada sesuatu yang merasuki istrinya hingga seperti itu.
"Baiklah, kamu boleh ikut denganku."
.
.
Sakura menatap suaminya yang terlihat berbeda dengan headphone yang terpasang. Dia tidak pernah bosan melihat suaminya bernyanyi yang sedang bernyanyi itu. Ada sesuatu yang aneh yang membuatnya suka ketika memandang suaminya bernyanyi.
Dia jadi teringat dengan masa lalunya. Saat dimana suaminya itu masih bernyanyi di cafe miliknya. Saat itu dirinya tidak mau mengakui jika suaminya itu sangatlah tampan.
Menatap suaminya yang terus bernyanyi seolah tidak memiliki beban. Membuat perutnya bergejolak, rasanya ada sesuatu yang mendesak di dalam perutnya untuk memuntahkan seluruh makanannya.
"Hoek!"
Kaneshiro menghentikan nyanyiannya dan melepas headphone yang digunakannya. Sakura sudah berlari menuju toilet dan memuntahkan semua isi perutnya.
"Kita hentikan dulu." Kaneshiro langsung keluar dari ruangan dan menuju toilet.
Sakura memandang wajahnya yang terlihat pucat. Entah mengapa dia merasa mual sekali, apalagi setelah dia menemani suaminya pemotretan di gunung Fuji.
Membasuh mulutnya dengan air. Dia menarik napas panjang. Dia harus segera keluar, jika tidak suaminya pasti akan menjadi khawatir.
"Sakura, kamu kenapa?" tanya Kaneshiro ketika istrinya keluar dari toilet.
"Tidak tahu. Mungkin aku hanya masuk angin." Sakura tersenyum dan membelai pipi Kaneshiro dengan lembut. "Tidak usah terlalu di pikirkan. Sebaiknya kita segera kembali ke dalam."
.
.
Kaneshiro membiarkan istrinya tidur menyandar padanya. Selama perjalanan menuju apartemen mereka, Sakura tertidur. Dirinya tidak keberatan istrinya menyandar pada pundaknya.
Memandang wajah Sakura, Kaneshiro tersenyum tipis. Dalam hidupnya, dia tidak pernah berfikir bisa menikah dengan seorang Haruno Sakura. Selama ini, dia hanya memikirkan karirnya dan juga Izumi. Dalam benaknya, dia tidak pernah membayangkan akan memiliki istri secantik Sakura.
Mendaratkan ciuman di dahi milik Sakura, kemudian dirinya memandang keluar jendela mobil.
oOo
Sakura membuka matanya dan menemukan dirinya berada di dalam kamarnya. Hari sudah mulai malam dan rasanya perutnya bergejolak.
Telinganya bisa menangkap suara ketikan. Dan memandang sekelilingnya, Sakura bisa melihat suaminya sedang duduk di sofa dan mengenakan headphone.
"Goshi-kun, ada apa?" Sakura memeluk suaminya dari belakang. "Tumben sekali kamu belum tidur."
"Laguku di curi."
Sakura mengedip-ngedipkan matanya.
"Bagaimana bisa?"
"Aku tidak tahu." Kaneshiro menyandarkan bahunya. "Manajemen sedang mengurusnya. Kami sedang membuat lagu baru dalam waktu beberapa jam ini dan aku menuliskan liriknya."
"Aku akan membantumu."
Kaneshiro membiarkan Sakura mendengarkan lagu baru milik B-Project dan membantunya memikirkan liriknya. Dia bersyukur memiliki Sakura saat ini.
.
.
.
"Apa kamu yakin dengan diagnosisnya?" tanya Sakura.
Uzumaki Karin menganggukan kepalanya. Dia memandang sahabatnya dan menyandarkan punggungnya. Sedangkan Sakura membaca kertas yang diberikan Karin.
"Apa karena kamu menikah, lalu kamu melupakan semua yang telah kamu pelajari?" Karin bertanya. "Hasilnya benar jika kamu positif hamil."
Sakura terdiam. Dia terus memandangi kertas yang dibacanya. Karin memandang Sakura dengan pandangan bertanya.
"Sakura, apa yang terjadi? Kenapa kamu tidak terlihat senang?"
"Karin." Sakura memandang sahabatnya. "Aku harus bagaimana?"
.
.
Sakura berjalan dengan lesu dan tak tentu arah. Bagaimana ini? Apa yang harus dia lakukan?
Tidak. Dia bukannya tidak senang dengan kehamilannya. Tetapi, ada sesuatu yang mengganggunya. Pembicaraannya dengan seseorang.
"Are? Sakura-chan!"
Menolehkan kepalanya, dia bisa melihat anggota MooNs dengan formasi lengkap. Hikaru melambaikan tangannya kearahnya dan mereka menghampirinya.
"Hikaru-kun? Kalian? Apa yang kalian lakukan disini?" Sakura benar-benar terkejut.
"Kamu sendiri, apa yang kamu lakukan disini?" tanya Masunaga.
"Kami kesini untuk memeriksakan Hikaru." Tatsuhiro menjelaskan.
"Etto.." Sakura tidak tahu harus mengatakan apa. Dia tidak menyangka akan bertemu dengan mereka disini.
"Apa ini?" Mikado mengambil amplop di tangannya dan membacanya. "Kamu dinyatakan.. hamil."
Kelima anggota MooNs memandangnya. Sakura menjadi gugup. Menggigit bibirnya, Sakura mencoba untuk menyembunyikan rasa gugupnya.
"Itu.. sebenarnya.." Sakura segera membungkukan badannya. "Aku mohon, jangan katakan pada Goshi-kun."
Masunaga menepuk pundak Sakura.
"Sebenarnya, apa yang kamu sembunyikan dari kami semua?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sakura duduk sembari memegang ujung baju yang dikenakannya. Di hadapannya anggota MooNs duduk dan memandanginya. Dia tidak tahu, apa dia harus mengatakan yang sesungguhnya atau tidak.
"Sakura, katakan pada kami yang sebenarnya."
"Sebenarnya, aku tidak diperbolehkan untuk hamil." Akhirnya, dirinya menceritakan semuanya.
"Apa ketua yang mengatakannya padamu?" Tatsuhiro angkat bicara.
"Bukan." Menundukan kepalanya, Sakura bahkan tidak berani menatap mereka semua. "Ketua Shuuji bahkan sangat baik dan mendukungku bersama Goshi-kun. Tapi Yashamaru-san, dia tidak mengizinkanku untuk hamil."
"Tidak mungkin." Hikaru memandang Sakura dengan pandangan tidak percaya. "Yashamaru-san tidak mungkin mengatakan itu."
"Aku tahu, kalian pasti tidak akan mempercayaiku. Tapi itulah kenyataannya."
"Apa sebaiknya kita bicarakan dengan Kaneshiro?" tanya Momotarou.
"Jangan!" Sakura segera menyahut. "Aku takut Yashamaru-san akan marah. Dia bilang, jika aku hamil, aku akan mengganggu Goshi-kun dalam bekerja. Aku mohon, kalian jangan katakan hal ini pada siapapun."
Masunaga memandang teman-temannya.
"Baiklah. Kami akan rahasiakan ini."
oOo
"Lagu kalian sangat bagus, dengarkan ini."
Tsubasa memutar lagu baru mereka dan bisa melihat ekspresi kebahagiaan di setiap wajah anggota B-Project. Sakura yang berdiri di depan pintu tersenyum. Dia bisa melihat ekspresi kebahagiaan di wajah suaminya dan Sakura menyukai itu.
Tangannya mengusap perutnya dengan lembut. Pikirannya berkecamuk dan tak tentu arah.
"Aku yakin, kita akan sukses di konser Dome," ucap Kitakado.
"Aku juga yakin." Tsubasa meyakinkan.
Ponsel miliknya bergetar dan Tsubasa membaca pesan yang masuk.
"Hidupkan televisi?" mengambil remote tv, Tsubasa menghidupkan televisi.
B-Project, di pindahkan ke perusahaan besar!
Mereka semua bagaikan patung. Seluruh Jepang langsung heboh dengan berita yang muncul ini.
Sakura terdiam. Perasaannya mengatakan sesuatu yang buruk akan terjadi.
.
.
.
.
.
"Kalian memang akan dipindahkan ke perusahaan besar dan kami juga baru saja mendengarnya." Daikoku buka suara.
"Apa Yashamaru tidak mengatakannya pada kalian?" tanya Shuuji.
"Kami juga baru mendengarnya." Tsubasa angkat bicara.
Pintu ruangan terbuka dan Yashamaru muncul dengan senyumannya.
"Semuanya! Kebetulan sekali kalian berkumpul disini!" Yashamaru menyapa kalian semua.
"Yashamaru, apa maksudnya ini?" tanya Hikaru.
"Kenapa kami dipindahkan ke perusahaan besar?" Yuta ganti bertanya.
"Aku memang sengaja melakukan itu."
"Kenapa kamu melakukan itu?" Kitakado memandang Yashamaru.
"Aku ingin membuat kalian lebih bersinar. Tidak. Jika kalian di pindahkan ke perusahaan besar, semua orang akan mengenal B-Pro. Kalian akan menjadi bintang, bagaimana?"
Mereka semua saling berpandangan dan terlihat sinar kebahagiaan di mata mereka. Kitakado memandang ketua mereka, mencoba meminta pendapat.
"Aku tahu ini sangat mendadak, tapi apa yang dikatakan Yashamaru itu benar. Jika kalian pindah ke perusahaan besar, kalian akan semakin bersinar."
"Kami tidak akan memaksa." Shuuji memandang mereka semua. "Keputusan ada di tangan kalian."
Kitakado membungkukan badannya diikuti yang lainnya. Sebagai tanda jika mereka menerima tawaran dari manager mereka.
"Terima kasih banyak, ketua."
Yashamaru tersenyum.
"Baiklah, jika kalian memang akan pindah ke perusahaan besar. Masukan semua ponsel kalian kesini."
Mengeluarkan sebuah tas, semua anggota B-Project memasukan ponsel mereka ke dalam tas yang di bawa Yashamaru.
"Jika kalian ingin melangkah ke tempat yang lebih tinggi, tinggalkan semua yang kalian miliki saat ini."
.
.
.
.
Sakura memandang suaminya yang memasukan bajunya ke dalam koper. Perasaannya tak menentu saat ini. Suaminya akan meniti kariernya ke jenjang yang lebih tinggi. Tetapi, itu artinya suaminya akan meninggalkannya.
"Aku janji tidak akan meninggalkanmu."
Memandang suaminya, bahkan Kaneshiro tidak memandangnya. Tidak. Kaneshiro bukannya tidak ingin memandang istrinya. Dia hanya tidak mau menangis saat ini. Dia tidak ingin istrinya melihatnya sedang menangis.
"Saat aku sukses nanti, aku akan menjemputmu. Kita akan membangun semua mimpi kita bersama-sama."
Sakura tidak bisa menahan air matanya. Kaneshiro menghentikan kegiatannya dan membawa Sakura ke dalam pelukannya.
Meski berat, tetapi ini adala mimpinya. Mimpinya bersama dengan teman-temannya yang dia bangun dari sepuluh tahun yang lalu.
"Maafkan aku, Sakura."
.
.
.
.
.
.
.
.
Tsubasa merasakan kesepian ketika anggota B-Project pergi. Dia mencoba mencari kesibukan sendiri untuk mengisi harinya. Dia merasa senang Sakura mau menemaninya, akan tetapi..
"Kenapa kamu harus pergi, Sakura-chan?"
Sakura memandang Tsubasa sebelum tersenyum.
"Aku bukan siapa-siapa disini, Tsubasa-chan. Aku istri Goshi-kun, tetapi Goshi-kun tidak bekerja disini kembali. Jadi, aku akan kembali ke cafeku."
Tsubasa tidak bisa melakukan apapun selain memeluk Sakura. Selama Sakura berada disini, dia seperti memiliki seorang teman. Meski Sakura adalah istri Kaneshiro Goshi.
"Aku akan mengunjungimu di cafe, Sakura-chan."
Sakura menganggukan kepalanya dan memeluk Tsubasa sekali lagi.
Hidup mereka yang baru akan dimulai hari ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Aku mulai bosan." Yuta mengeluh kepada semua teman-temannya. "Kita hanya berlatih dan berlatih, tetapi tidak ada tawaran yang masuk."
"Aku juga mulai bosan," ucap Mikado.
"Bagaimana jika kita menelpon Tsubasa?" Kitakado memberi usul.
"Usul yang bagus."
Ryuuji mengambil telepon dan mencoba menghubungi Tsubasa. Namun bahkan telepon tidak tersambung keluar. Sambungan telepon mereka di putus.
"Percuma," ucap Ryuuji. "Sambungan telepon ini diputus."
"Kita harus menemui Yashamaru." Hikaru angkat bicara.
Tiba-tiba pintu terbuka dan Yashamaru muncul.
"Ada apa ini?"
"Keluarkan kami dari sini, Yashamaru-san." Hikaru memandang Yashamaru.
"Apa maksud kalian?" tanya Yashamaru. "Apa kalian tidak mau mendengar berita baiknya dulu?"
Mereka semua terdiam. Yashamaru kemudian melanjutkan.
"Perusahaan memutuskan untuk membatalkan konser kalian di Dome. Perushaaan melewatkan kesempatan ini dan sebagai gantinya kalian akan melakukan konferensi pers di pesawat besok."
"Tapi, kami sudah membuat lagu." Kaneshiro mengeluarkan kertas berisi lagu mereka.
"Ah, kasihan sekali. Harus menulis lagu sendiri dan mencari komposer dalam waktu dekat." Yashamaru mengambil kertas dari tangan Kaneshiro dan menyimpannya. "Disini, kalian tidak akan seperti itu. Kalian memiliki staff yang luar biasa. Dan kalian tidak akan bertindak yang aneh-aneh."
Ketika Yashamaru keluar dari ruangan mereka. Kitakado hanya bisa menarik napas panjang. Sebagai seseorang yang paling dewasa, dia harus mengambil keputusan yang terbaik.
"Kenshiro-san." Masunaga memanggil Kaneshiro. "Aku ingin bicara denganmu."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Keneshiro Goshi mengguyur tubuhnya di bawah shower. Rasanya, dia ingin membunuh seseorang saat ini. Bagaimana mungkin bisa, seseorang yang sangat dia percayai melakukan hal ini padanya? Dia benar-benar marah ketika mendengar apa yang Masunaga katakan.
"Sakura sedang hamil, Kaneshiro-san. Aku bertemu dengannya di rumah sakit. Dia menyembunyikan kehamilannya karena Yashamaru-san yang menyuruhnya."
Mematikan shower, Kaneshiro keluar dari kamar mandi. Matanya memandang dirinya di cermin.
Benarkah kehidupan seperti ini yang dia inginkan?
Tidak. Bukan kehidupan seperti ini yang dia inginkan.
Besok, semuanya akan berubah.
oOo
"Terima kasih atas kunjungannya."
Sakura sedikit membungkukan badannya ketika pelanggannya pergi.
Saat dirinya kembali ke cafenya, Ino sangat terkejut. Dan gadis berambut pirang itu tak henti-hentinya berbicara. Kini, kehidupannya yang lama kembali.
"Istirahatlah dulu, Sakura." Ino menghampiri sahabatnya. "Kamu sedang hamil, jangan terlalu berat bekerja."
"Tidak, Ino. Aku belum lelah."
"Jangan membantah, Sakura! Aku akan menutup cafenya."
Sakura menarik napas panjang dan membuat sebuah susu hangat. Mendudukan dirinya di salah satu kursi, matanya memandang jam yang menunjukan pukul setengah dua belas malam.
Sebentar lagi pergantian tahun akan terjadi. Dan rasanya ia ingin menangis sekarang. Hormon ibu hamil membuat moodnya buruk dan dia membenci kondisinya sekarang.
Seharusnya, dia bersama dengan suaminya disini. Mereka bisa merancang malam pergantian tahun yang indah, melihat kembang api atau pergi ke kuil. Tetapi, semuanya hanya angan-angannya saja.
Suaminya tidak ada disini, untuk menikmati pergantian tahun bersamanya.
"Sakura?!"
.
.
.
.
.
"Yatta! Akhirnya kita bisa tampil di Tokyo Dome!" Yuta berteriak kegirangan. "Bagimana denganmu, Go-chin?"
"Aku harus pergi." Kaneshiro memandang semua teman-temannya. "Terima kasih untuk semuanya, tapi aku harus segera pergi."
"Pergilah, Goshi." Kitakado memandang salah satu temannya itu. "Temui Sakura-chan."
Kaneshiro menganggukan kepalanya dan dengan cepat berlari keluar dari ruang ganti. Dia tidak peduli dengan orang-orang yang dia temui atau yang mengenali dirinya. Persetan dengan semuanya, dia harus menemui istrinya.
Cafe Je T'aime terasa sangat jauh. Padahal dia sudah sekuat tenaga berlari di tengah salju yang turun dan orang-orang yang berkerumun untuk menikmati kembang api pergantian tahun. Bahkan dia tidak mengingat jika hari ini adalah pergantian tahun.
Tubuhnya terasa sangat dingin, padahal dia sudah berlari cukup jauh. Dia tidak akan menyerah, dia akan terus berlari hingga bertemu dengan istrinya dan mengatakan semuanya.
Jika dia tidak akan meninggalkan istrinya lagi.
Cafe Je T'aime sudah terlihat di depan mata. Dan dengan satu hentakan, dia membuka pintu Cafe.
"Sakura?!"
.
.
.
.
Sakura memandang tidak percaya siapa yang berdiri di depan pintu Cafe. Ino yang sedang menyapu bahkan sampai tidak mengedipkan matanya.
"Go-Goshi-kun?"
Kaneshiro langsung memeluk istrinya dengan erat. Mengabaikan Ino yang memandang mereka dengan pandangan tidak percaya.
"A-apa yang kamu lakukan disini?" tanya Sakura.
"B-Project membatalkan kontraknya untuk pindah ke perusahaan besar. Kami akan tetap di Gandara Music, dan aku tidak bisa meninggalkanmu."
"Go-Goshi-kun?"
Suara kembang api terdengar di langit malam kota Tokyo. Kaneshiro melepaskan pelukannya dan memandang wajah Sakura. Dia baru menyadari, jika dia sangat merindukan istrinya.
Mendekatkan wajahnya, Kaneshiro memagut bibir Sakura dengan lembut. Disinari oleh cahaya kembang api yang bersinar indah, mereka saling melepas kerinduan.
oOo
"Goshi-kun, kita dimana?"
Sakura meraba pentup mata yang dipakaikan suaminya untuknya. Suaminya bilang, dia memiliki sebuah kejutan, jadi dirinya harus menutup matanya. Dengan menaiki mobil milik suaminya, entah sekarang dibawa kemana dirinya.
Dan ketika penutup matanya dibuka, cahaya langsung masuk ke dalam matanya. Membuatnya harus beradaptasi dengan cahaya yang masuk.
Ketika dirinya menyadarinya, dia berada di sebuah halaman rumah minimalis.
"Dimana ini, Goshi-kun?"
"Ini rumah baru kita, apa kamu suka?"
Sakura memandang suaminya dengan pandangan tidak percaya.
"Yah." Kaneshiro menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Pipinya merona merah. "Aku merasa jika kita seharusnya membangun keluarga kita sendiri."
"Aku menyukainya." Sakura tersenyum dan menarik tangan suaminya. "Bagaimana jika kita mulai menata rumah baru kita?"
Kaneshiro membiarkan istrinya menarik tangannya masuk ke rumah baru mereka. Mau jarak memisahkan mereka seperti apa, Kaneshiro tahu, jika dia hanya mencintai istrinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
..
.
.
.
-Owari-
Tamaaaaattttt! TTvTT cerita ini dibuat untuk merayakan B-Project yang udah tamat :( jadinya Saku gaada tontonan lain :( dan karena itu, iseng-iseng Saku Download Bungou Stray Dog dan akhirnya suka.. apalagi sama Dazai Osamu itu wahahahaha..
Sekian cuapcuap aneh dari Saku, sampai ketemu dicerita yang lain!
-Aomine Sakura-
