DON'T GO!

Part 3

By : Ichizuki Takumi

Pairing : Sekai/Kaihun, HunHan/Hanhun, Krishun, slight Chanhun, slight KaiBaek

Pairing bisa bertambah seiring berjalannya cerita

Disclaimer: EXO milik Tuhan, orang tua, dan agensinya. Saya hanya meminjamnya sebagai karakter tokoh saja.

Rated : T

Genre : Romance, Angst

WARNING: Pair yang ditulis di awal bukan berarti pair utama. Dan pair utama bukan berarti harus bersama. Yaoi. BL. BoyxBoy.

Happy reading~

.

.

.

Sehun masih betah berdiri di koridor itu. Dia menunggu waktu yang tepat untuk menemui namja yang sudah menarik perhatiannya kemarin. Kebetulan sekali, sekarang Kris sedang sibuk, jadi dia bisa dengan bebas menggaet namja lain.

Sehun mengeluarkan kepalanya dari balik tembok untuk yang kesekian kalinya. Kali ini senyumnya melebar saat menyadari namja yang ditunggunya berjalan ke arahnya. Dia menyiapkan diri, merapikan pakaian dan menyisir rambutnya dengan jari.

"Hwaiting!" gumamnya pelan untuk menyemangati diri sendiri.

Sehun dengan percaya diri berjalan keluar dari persembunyiannya. Dia menatap namja di depan yang sibuk dengan buku tebalnya. Dengan sengaja Sehun menabrakkan pundaknya pada namja itu.

'BRUK'

'Aww!' jerit Sehun dalam hati.

Sepertinya Sehun terlalu keras menabrak pundak namja itu, sehingga buku tebal yang dibawanya kini jatuh tepat di atas kaki Sehun. Sialnya lagi sisi keras buku itu yang jatuh terlebih dahulu.

"Jeosonghamnida," ujar Sehun cepat, sesekali meringis menahan sakit. Kaki kanannya ia jinjitkan ke belakang berharap dapat menghilangkan rasa sakitnya.

Namja yang berada di depan Sehun, kini menatapnya. Dia menghiraukan permintaan maaf Sehun dan mengambil bukunya. Di usapnya buku itu untuk menghilangkan debu yang menempel. Dia melirik Sehun lagi, kali ini hanya sekilas, kemudian berjalan pergi.

Apa Sehun baru saja tak diacuhkan?

Sehun mengedipkan matanya dua kali, untuk mencerna apa yang terjadi, kemudian membalikkan badannya menghadap punggung namja itu.

"Tunggu..." kali ini Sehun panik. Dia berusaha untuk memanggil namja itu. "Ru-Ruhan-ssi?" Sehun sedikit lega saat namja itu menghentikan langkahnya dan dengan perlahan membalikkan tubuhnya.

Sehun langsung mendekati namja yang kini menatapnya dengan pandangan datar.

"Ruhan-ssi, benar, itu namamu-kan?" Sehun mencoba menangkap ekspresi wajah namja di hadapannya. "Kau mengingatku? Kemarin kau tidak sengaja menabrakku."

"Aku tidak mengenalmu," namja yang lebih pendek dari Sehun itu kemudian membalikkan tubuhnya. Sebelum dia beranjak dari tempatnya, dia menyempatkan diri untuk menolehkan kepala tanpa memandang langsung kearah Sehun. "Namaku Luhan, bukan Ruhan," dengan itu dia berjalan menjauhi tempat itu.

Sedangkan Sehun hanya berdiri disana, menatap tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

'Apa yang terjadi?'

Sudah kubilang dia tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

.

XOXO

.

Sehun berjalan gontai menuju kantin di gedung seni. Jam segini biasanya Kai sudah stand by di kantin itu.

Sehun menghampiri Kai yang duduk di pojok ruangan. Tapi kali ini dia menemukan Kai bersama dengan seseorang.

"Aku tidak tahu kau punya teman baru," kata Sehun begitu dia mendudukkan dirinya di hadapan Kai. Ia menilai orang yang berada di samping Kai dari atas sampai bawah. Dari penampilannya, Sehun dapat menyimpulkan kalau namja itu bukanlah orang kaya.

"Dia bukan temanku," jawab Kai sinis. Sepertinya, moodnya tidak bagus saat ini.

"Ah, jeoseonghamnida, kukira kau temannya Kai," Sehun menundukkan kepalanya pada namja di samping sahabatnya. Dia merasa malu karena sudah sok kenal dengan namja asing itu.

"Sebenarnya, aku kenalan Kai-ssi," jawab namja itu.

"Benarkah?" kini Sehun melirik Kai sinis karena tadi sudah membuatnya salah tingkah.

"Beberapa minggu lalu Kai-ssi sudah menyelamatkanku dari perampok," ujar namja itu dengan tatapan kagum yang dia arahkan pada Kai. Dan Sehun menyadari hal itu.

"Wah... Kai memang namja yang baik," meski berat untuk memuji sahabatnya, tapi Sehun harus membuat pamor Kai baik di mata orang lain. Agar Kai bisa menggaet namja kaya seperti yang dia lakukan tentunya.

Sehun melirik Kai yang sedari tadi hanya memakan makanannya. Sama sekali tidak tertarik dengan namja di sampingnya.

"Ah, Oh Sehun imnida," Sehun menyodorkan tangannya.

Namja asing itu memandang tangan Sehun yang berada di hadapannya, kemudian menjabat tangan itu. "Byun Baekhyun imnida," ujarnya dengan senyum manis di wajah.

"Kau juga kuliah disini?" tanya Sehun setelah melepaskan tangannya.

"Ne," Baekhyun mengangguk. "Aku berada di jurusan kedokteran."

Sehun kembali menatap penampilan Baekhyun. Pasti namja di hadapannya ini adalah anak beasiswa. Penampilannya sederhana seperti mahasiswa kebanyakan.

"Kau pasti sangat pintar," balas Sehun antusias.

"Aniyo..." ujar baekhyun malu-malu.

Sehun kembali berpikir. Jurusan kedokteran, berarti Baekhyun berada di jurusan yang sama dengan Luhan. Artinya Sehun bisa memanfaatkan namja yang baru dikenalnya ini. Setidaknya sedikit.

"Baekhyun-ssi, emm... apa kau mengenal namja bernama Luhan?" meski ragu, pada akhirnya Sehun menanyakannya juga.

Mendengar pertanyaan Sehun pada namja asing di sampingnya, Kai langsung menatap Sehun tajam. Dia yakin kali ini Sehun sedang mengincar namja kaya lagi.

"Luhan? Ah, putra tunggal pemilik RS. Seoul? Aku hanya tahu tentangnya, tidak mengenalnya. Kami berada di kelas yang berbeda. Apa kau mengenalnya?" kali ini Baekhyun yang bertanya.

Benar dugaan Kai, sekarang Sehun sedang mengincar namja kaya lagi. Dia melirik tidak suka pada sahabatnya. Dia mencoba mengirim pesannya lewat tatapan agar Sehun tidak berurusan dengan namja kaya lagi. Sudah cukup dengan Kris sebagai sumber uang kali ini.

"I-itu..." Sehun salah tingkah. Kenapa dia harus menanyakannya saat ada Kai? Lihat tatapan mematikan itu, seolah dapat menusuk Sehun. Meski Kai tidak berkata apa-apa, namun Sehun dapat merasakan tatapan tidak suka darinya.

.

XOXO

.

Sepulang dari kelasnya, Sehun langsung menghampiri Kai yang duduk di bawah pohon. Dia mendudukkan diri di dekat Kai.

"Wajahmu jelek kalau seperti itu," sindir Sehun. Sedari tadi dia melihat wajah Kai yang cemberut. Lama-lama dia juga merasa jengah.

"Cepat pulang," Kai beranjak dari duduknya diikuti oleh Sehun. Wajahnya tambah ditekuk saat melihat seorang namja menghampiri mereka berdua.

"Annyeong, Kai-ssi," ujar Baekhyun.

"Annyeong Baekhyun-ssi," Sehun tersenyum menanggapi sapaan Baekhyun.

"Panggil hyung saja. Aku dua semester di atasmu," balas Baekhyun dengan senyum manisnya.

"Baekhyun hyung," ujar Sehun.

Sehun ikut tersenyum saat melihat senyum manis Baekhyun.

"Tunggu Kai," dia mengejar Kai yang langsung berjalan pergi.

Kini mereka bertiga berjalan beriringan, dengan Kai berada di tengah.

Sesekali Sehun melirik Baekhyun yang sedang menatap malu-malu pada Kai.

Sehun menangkap virus-virus cinta yang sedang bertebaran. Dia menyunggingkan senyumnya. Tapi senyumnya luntur saat melihat wajah Kai yang datar.

'Dasar tidak peka,' batin Sehun dengan dengusan kecil.

"Kai-ssi, aku pamit pulang dulu," ujar Baekhyun menghentikan langkah Kai dan Sehun. Saat ini mereka berada di gerbang kampusnya.

"Tidak usah terlalu formal hyung," ujar Sehun. Dia menyikut Kai agar setidaknya dia mengucapkan sepatah kata.

Baekhyun tersenyum kearah Kai dan berjalan menjauhi mereka. Sedangkan Sehun, sedari tadi dia melambaikan tangannya mengiringi kepergian Baekhyun yang menyebrangi jalan.

"Dia namja yang baik," Sehun tersenyum sambil menyenggol sahabatnya. Dia berpikir kalau Baekhyun akan cocok dengan Kai.

Detik berikutnya mata Sehun melebar, kemudian menatap Kai yang ekspresinya tidak berubah, dan kembali menatap arah kepergian Baekhyun yang menaiki mobil mewah.

"Kau tidak bilang kalau dia orang kaya," tuntut Sehun.

Kai hanya mendengus dan kembali berjalan menuju arah apartemennya.

"Aku tidak peduli."

"Sepertinya kau tidak suka dengan namja itu," ujar Sehun, dia mencoba menyamakan langkahnya dengan Kai.

"Mana mungkin aku bisa berbuat baik pada stalkerku sendiri."

"Stalker? Jadi kau marah karena itu," Sehun mengangguk pelan. Sedikit lega karena bukan dirinya yang membuat Kai marah.

"Setelah kupergoki, dia malah terang-terangan mengikutiku," ujar Kai kesal.

Sehun terkikik melihat ekspresi kesal sahabatnya. Wajahnya sangat lucu kalau sedang kesal seperti itu. "Tapi, aku tidak menyangka kalau kau punya penggemar."

"Apa maksudmu? Dari dulu aku sudah punya banyak penggemar. Kau saja yang bodoh," maksud Kai dengan kata 'bodoh' disini, karena Sehun sama sekali tidak memandangnya sebagai namja. Padahal banyak namja maupun yeoja yang ditolaknya, namun Sehun tidak juga mengerti.

"Kupikir dia namja yang baik, kenapa kau tidak dengannya saja?"

"Kau berkata seperti itu bukan karena dia kayakan?"

"Te-tentu saja bukan. Sebelum aku tahu dia orang kayapun aku sudah berpikir seperti itu," sebenarnya Sehun sedikit berpikir karena Baekhyun orang kaya. Tapi dia juga tidak berbohong telah berkata seperti itu pada sahabatnya.

Kai mendengus dan kembali berjalan. Moodnya benar-benar jelek hari ini.

"Kai, ayo kita bersenang-senang. Sudah lama kita tidak pergi bersama," ujar Sehun sambil merangkul bahu Kai.

"Aku sibuk," jawab Kai singkat.

"Bohong. Aku tahu kau tidak ada jadwal hari ini."

"Pergi saja dengan Ruhanmu," sindir Kai.

"Kau tahu ya, hehe..." sebenarnya Sehun sudah tahu kalau Kai tahu bahwa dia sedang mengincar Luhan. Perkataannya hanya sekedar basa basi saja. "Namanya Luhan, bukan Ruhan," tambahnya membenarkan pengucapan sahabatnya.

"Apa peduliku," Kai sama sekali tidak tertarik dengan nama namja yang baru saja dikatakan oleh sahabatnya.

"Ayolah Kai... aku juga ingin beli bubble tea," kali ini Sehun merengek, mengingat beberapa hari ini dia tidak meminum minuman favoritnya.

"Tidak. Aku mau tidur dirumah saja."

Sehun kesal kemudian menarik Kai sampai membuatnya berhenti berjalan.

"Kalau begitu aku sendiri yang akan pergi," dengus Sehun. Dia berjalan dengan cepat meninggalkan Kai.

"Kenapa kau mengikutiku?" tanya Sehun pada Kai yang berjalan di belakangnya.

"Apartemen memang menuju kesana," Kai memutar matanya.

Menyadari kebodohannya, Sehun langsung berbalik dan mengambil jalan yang berlawanan. Dia menghentak-hentakkan kakinya kesal. Lebih baik ke toko buble tea yang jauh dari apartemennya, dari pada malu pada sahabatnya.

Beberapa langkah ke depan, kemudian Sehun merasakan seseorang merangkul pundaknya.

"Setelah dipikir-pikir, Bubble tea tidak buruk juga untuk hari yang panas ini," Kai mengucapkannya dengan senyum diwajah. Sehun ikut tersenyum melihatnya.

.

XOXO

.

Kai mengelus rambut Sehun pelan. Setelah seharian bermain di game senter, Sehun langsung terlelap di pangkuan Kai saat sampai dirumah.

Kai mengamati wajah tidur Sehun, mulai dari mata, alis, hidung, dan bibir. Masih sama seperti pertama kali dia bertemu dengan Sehun. Tapi dia mendengus miris mengingat sifat Sehun yang dulu dengan sekarang sangatlah berbeda. Sehun yang polos dan periang kini berubah menjadi Sehun yang penuh tipu daya.

Kai tidak menyangka waktu bisa membuatnya berubah seperti ini. Dia merindukan Sehun yang dulu, namun dia tetap mencintai Sehun yang sekarang.

Sejak kecil mereka tidak bisa terpisah satu sama lain. Dimana ada Kai disitu ada Sehun, dan sebaliknya, dimana ada Sehun disitu pasti ada Kai.

Saking dekatnya hubungan mereka sampai tidak ada yang mau mengangkat mereka menjadi anak. Karena mereka selalu berbuat ulah saat salah satu dari mereka akan diangkat anak. Tidak beruntungnya lagi, tidak ada orang tua yang ingin mengangkat dua anak sekaligus saat itu, dan banyak anak lain seusia mereka yang lebih penurut.

Menginjak usia remaja mereka memutuskan untuk tinggal bersama, meninggalkan panti asuhan agar tidak menjadi beban. Mereka bekerja sambilan di toko-toko kecil. Berkat kepintaran mereka, mereka sama-sama mendapat beasiswa di sekolahnya.

Mereka hidup bahagia, sampai sesuatu merubah sifat Sehun secara drastis. Saat itu Kai merasa gagal untuk melindungi Sehun. Dia merasa tidak mampu menjaga orang yang dicintainya. Dia hanya mampu memeluk Sehun yang menangis dan terpuruk. Sungguh, dia tidak ingin melihat air mata Sehun lagi. Dia akan melakukan apa saja asal Sehun tidak bersedih. Agar Sehun bahagia. Dan, agar Sehun selalu bersamanya.

.

Kai mengecup puncak kepala Sehun. Dia kembali mengusap rambut Sehun dan menatapnya dengan lembut.

Kali ini Kai mendekatkan wajahnya dan menempelkan bibir mereka. Dia dapat merasakan betapa lembutnnya bibir Sehun di bibirnya sendiri. Bibir mungil itu terasa begitu manis di indera pengecapnya. Dia tidak ingin membaginya dengan orang lain, tapi dia tidak punya kekuatan untuk melakukannya. Dia terlalu lemah. Dia tidak sanggup memberikan apa yang Sehun inginkan. Dia tidaklah lebih dari sekedar sahabat di mata Sehun.

Kai melepaskan kecupannya, mengusap bibir basah yang baru dicecapnya. Dengan perlahan dia mengangkat Sehun ala bridal dan membawanya menuju kamar Sehun. Dia tidak ingin membangunkan Sehun saat tertidur, karena Kai sangat menyukai Sehun dalam keadaan seperti ini. Wajahnya begitu polos dan tidak ada kepalsuan.

.

XOXO

.

Pagi itu di gedung kedokteran sudah ramai dengan teriakan para yeoja.

Sehun hanya mendengus sebal saat melihat Luhan, namja yang ingin ditemuinya, dari tadi berlari kesana kemari hanya untuk menghindari serbuan penggemarnya.

'Tidak bisakah mereka bersikap biasa saat melihat namja keren yang kaya?' dengus Sehun dalam hati. Tidak seharusnya Sehun berkata seperti itu, karena pada kenyataannya dia juga menginginkan namja keren yang kaya itu. Hanya cara mendekatinya saja yang berbeda.

Sehun menarik Luhan kedalam toilet saat namja itu berbelok kearahnya. Dia menatap Luhan yang terduduk sambil tersengal di hadapannya. Pandangan Luhan kini juga tertuju ke arahnya. Mereka saling menatap sampai Luhan memecah keheningan itu.

"Aku selalu melihatmu disini, kau bukan anak kedokteran kan?" ujar Luhan, tak menghiraukan langkah kaki yang berlari melewati tempat itu.

Sehun tertohok, kenapa Luhan bisa tahu kalau dia bukan anak kedokteran? Apa wajahnya sama sekali tidak pantas untuk jadi anak kedokteran?

Sehun mengedarkan pandangannya ke segala arah tapi bukan ke mata namja di hadapannya. Alasan apa yang sebaiknya ia gunakan?

"Aku hanya kebetulan lewat, dan tidak sengaja melihatmu," ujar Sehun. Dia berjongkok di samping Luhan, detik selanjutnya dia hanya dapat memutar bola matanya tatkala namja di hadapannya malah berdiri. Sehun kembali berdiri dan mengikuti namja itu keluar dari toilet.

Luhan menghentikan langkahnya dan menghadap kearah Sehun. " Kau tidak perlu melakukannya lagi, aku bisa mengatasi masalahku sendiri," kemudian dia pergi dari sana, menghilang di ujung lorong.

Sehun masih terdiam memandang arah kepergian namja itu. Baru saja, dia tidak mendengar ucapan terimakasih dari namja itu, tapi malah mendengar omelan bernada dingin yang di tujukan padanya.

'WHAT THE-'

Pikiran Sehun terpotong saat ia merasakan sepasang tangan yang memeluk pinggangnya dari belakang.

Sehun menolehkan kepalanya dan terkejut saat mendapati Kris menyandarkan kepala di pundaknya.

"Hy-hyung..." Sehun panik. Bagaimana Kris bisa menemukannya disini? Kemudian kepalanya menoleh kearah koridor dimana Luhan menghilang dan kembali menatap Kris. Dia takut kalau Kris tahu bahwa dia baru saja menemui namja lain.

"Tadi ada yang melihatmu kesini," seolah tahu pemikiran namja didekapannya, Kris menjawab dengan diselingin kecupan kecil di leher Sehun.

Sehun melepas dekapan Kris dan membalikkan tubuhnya untuk menatap namja itu.

"Bagaimana dengan urusanmu? Apa sudah selesai?" tanya Sehun. Kali ini air mukanya sedikit serius.

Kris tersenyum memandang wajah khawatir kekasihnya. Dia mencium pipi Sehun sekilas kemudian membawa tubuh itu dalam dekapannya.

"Sudah tak ada masalah lagi, justru perusahaan kami yang diuntungkan dari masalah itu," Kris mengelus rambut Sehun, dia begitu merindukan aroma namja di dekapannya.

"Syukurlah, aku senang mendengarnya," Sehun memang senang karena Kris tidak bangkrut, tapi dia benar-benar merasa lega karena Kris baik-baik saja.

Kris melepaskan dekapannya. Dia memegang pundak Sehun agar namja itu memusatkan perhatian padanya.

"Aku punya kejutan untukmu."

Sehun menatap bingung namja di hadapannya yang malah memberikan senyuman padanya.

.

XOXO

.

Sehun berpikir kejutan yang dikatakan Kris adalah makan malam romantis atau jalan-jalan ke luar angkasa, namun khayalannya langsung buyar saat Kris membawa dirinya ke masion milik orang tua namja itu.

Dan saat ini Sehun sedang menundukkan kepalanya di bawah tatapan orang tua Kris.

Awalnya Kris ingin mengenalkan Sehun, kekasihnya, pada kedua orang tuanya. Dia menginginkan sapaan hangat dari orang tuanya untuk kekasihnya. Tapi kenyataannya, orang tua Kris menentang hubungannya dengan Sehun karena latar belakang Sehun yang tidak jelas.

Kris menatap iba kearah Sehun. Bukan maksudnya untuk membuat malu Sehun di hadapan orang tuanya. Dia hanya ingin hubungannya direstui, tapi jalan pikiran kedua orang tuanya terlalu klasik, mereka tidak merestui hubungannya dengan Sehun hanya karena Sehun bukan dari kalangan atas.

"Anak muda, sebaiknya kau pulang sekarang," ujar ayah Kris pada Sehun yang masih menunduk.

"ABONIM!" Kris kembali berteriak. Dia tidak menyangka kalau ayahnya akan mengusir Sehun.

"Saya permisi dulu tuan Wu," Sehun membungkukkan badannya pada tuan dan nyonya Wu.

"Sehun..." Kris ingin mengatakan sesuatu, tapi tak sepatah katapun yang keluar dari kerongkongannya. Dia merasa sangat bersalah pada kekasihnya. Dia tidak tahu kenyataan bahwa dia sudah dijodohkan dengan putri rekan bisnis ayahnya.

"Aku baik-baik saja, hyung," Sehun berkata tanpa menatap Kris. Dia tidak ingin dikasihani. Dia tidak mau melihat mata Kris yang menatap iba padanya.

"Tuan Lee akan mengantarkanmu," ujar tuan Wu.

"Terimakasih atas kebaikan tuan, tapi saya tahu arah jalan pulang," dengan itu Sehun melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu.

"Apa yang abonim lakukan!" teriak Kris untuk yang kesekian kalinya setelah Sehun menghilang dari pandangannya.

"Aku sudah menemukan jodoh yang cocok untukmu," ujar tuan Wu yang masih duduk santai di sofa empuknya.

"Selama ini aku selalu menuruti perintah abonim, tapi aku tidak menyangka abonim akan sehina ini-"

"Yi fan, jaga bicaramu!" kali ini nyonya Wu angkat bicara. Dia tidak bisa mengambil pilihan selain diam sedari tadi. Dia juga tidak bisa membela anaknya karena keluarga Wu harus mempunyai keturunan, dan pasangan dari keluarga Wu harus dari orang terpandang.

Sebelumnya Kris tidak terlalu menghiraukan tradisi itu, tapi sekarang dia ingin mengutuk siapa saja yang telah membuat tradisi tersebut di keluarganya. Atau dia yang kurang beruntung hidup di tengah keluarga kaya ini? Kalaupun dia lahir di keluarga sederhana, mungkin dia juga tidak akan bisa mendapatkan Sehun.

Kris mengepalkan telapak tangannya. Dengan langkah menggebu dia meninggalkan tempat itu. Dia ingin menyusul Sehun. Dia merasa sangat bersalah karena kejutannya berakhir terbalik dengan dugaan awal.

Kris berdiri di luar pagarnya yang menjulang tinggi. Dia menolehkan kepalanya ke kiri dan kanan, tapi tidak ada Sehun disana. Dia masuk untuk mengambil mobilnya dan melajukannya menuju apartemen Sehun.

.

XOXO

.

Sehun menundukkan kepala dengan langkah terseok. Dia terus menyeret kakinya yang seakan berat untuk diangkat. Tangannya ia masukkan ke dalam jaket karena dingginnya udara. Raganya mungkin ada disini, tapi pikirannya sedang melayang entah kemana.

Sehun membelokkan langkahnya di sebuah tikungan yang sepi. Dia berdiri di depan tiang listrik pertama yang ditemuinya. Kepalanya masih menunduk, rambut coklatnya menjuntai menutupi mata.

'Dug'

'Dug'

Dia menendang pelan tiang listrik di hadapannya.

Namun lama kelamaan tendangan itu semakin kuat.

"Orang kaya sialan!" teriaknya.

Dia kembali menendang tiang listrik di hadapannya seolah itu adalah sesuatu yang harus bertanggung jawab atas kekesalannya.

"Kau pikir kau siapa? Dasar sombong!" kali ini Sehun berhenti menendang, giliran telunjuknya yang menunjuk nyalang tiang listrik di hadapannya.

"Babo! Seharusnya aku yang tertawa karena sudah memanfaatkan anakmu! Dasar tua bangka bodoh!"

Sehun kembali menendang tiang listrik itu. Kemudian mengambil sampah kardus di dekatnya dan melemparkannya kearah tiang tak bersalah di hadapannya.

"Rasakan itu, babo! Karena inilah aku selalu membenci orang-orang sepertimu! Tua bangka payah!"

Setelah puas mengeluarkan kekesalnnya, Sehun tersandar di tembok dekat tiang listrik yang tadi dihajarnya. Dia menekuk lututnya dan membawanya mendekat ke dada.

"Mianhae," ujarnya sambil mengelus sekilas tiang listrik itu. "Aku sedang kesal," seolah dapat mendengar, Sehun mengajak tiang listrik itu untuk mendengar curhatannya.

Sehun masih betah berdiam diri disana, sampai sebuah mobil mewah berhenti di hadapannya.

"Apa yang kau lakukan disini?"

Sehun mendongakkan kepalanya, detik selanjutnya dia langsung berdiri begitu mengetahui siapa yang menyapanya.

.

XOXO

.

.

.

TBC

.

Annyeong ^^

Mianhae apdetannya lama. Chap depan mungkin juga akan lama karena sudah mulai masuk. Apakah masih ada yang menginginkan cerita ini untuk dilanjutkan?

Terimakasih sudah membaca dan mereview fic ini. Setelah membaca review dari kalian, aku jadi merasa tidak enak kalau mengapdetnya lebih lama lagi. Jadi segera kuselesaikan chap 3 ini. Tapi jangan timpuk saya kalau banyak kesalahan di kata2nya dan banyak typo yang bertebaran. Aku hanya membacanya sekali. Tolong beritahu aku kalau ada typo, nanti akan kuperbaiki.

Sampai jumpa di chap depan.

Annyeong ^^