DON'T GO!
Part 4
By : Ichizuki Takumi
Pairing : Sekai/Kaihun, HunHan/Hanhun, Krishun, slight Chanhun, slight KaiBaek
Pairing bisa bertambah seiring berjalannya cerita
Disclaimer: EXO milik Tuhan, orang tua, dan agensinya. Saya hanya meminjamnya sebagai karakter tokoh saja.
Rated : T
Genre : Romance, Angst
WARNING: Pair yang ditulis di awal bukan berarti pair utama. Dan pair utama bukan berarti harus bersama. Yaoi. BL. BoyxBoy.
Happy reading~
.
.
.
Sehun berdiri di depan pintu apartemennya. Kepalanya menunduk mengingat kembali semua kejadian yang dialaminya hari ini. Dia mengerang dan mengacak rambutnya frustrasi saat kepalanya tidak bisa berpikir jernih dan mencerna semuanya. Tidak ingin lebih larut dalam pikirannya, Sehun segera membuka pintu di hadapannya.
"Kemana saja kau?"
Itulah sapaan pertama yang diterima Sehun begitu membuka pintu apartemennya yang sudah usang. Dia mendapati Kai sedang duduk di sofa tak jauh dari pintu depan, dengan pandangan yang masih tertuju pada televisi empat belas inch di hadapannya.
"Memangnya kenapa?"
Kali ini Kai mengalihkan pandangannya untuk melihat Sehun. Matanya mengekor gerakan sahabatnya yang menuju ke dapur.
"Tadi namja sombong itu mencarimu. Apa terjadi sesuatu?"
Kai mematikan televisi kemudian berjalan menuju dapur. Dia mendapati Sehun sedang menuangkan air hangat dari termos ke dalam baskom sedang, kemudian memasukkan kedua kakinya ke dalam air hangat tersebut dengan hati-hati.
"Tak ada yang perlu dikhawatirkan."
Kai melihat kaki Sehun yang sedikit memerah. Kulitnya yang putih membuatnya terlihat sangat kontras.
"Apa namja yang mengantarmu tadi Luhan?" Kai mendapati Sehun mengangguk, kemudian melanjutkan perkataannya. "Kenapa kakimu?"
Sehun tersenyum, senyum yang tidak ingin Kai lihat. Karena tidak ada ketulusan disana.
"Hanya lecet."
Setelah itu tidak ada percakapan yang berarti.
Kai terlalu tahu kalau Sehun ingin menyembunyikan lukanya sendirian. Kalau itu yang Sehun inginkan, maka Kai tidak akan memaksa. Dia juga sudah hapal sikap Sehun yang selalu melampiaskan kekesalannya pada sesuatu, dan menyembunyikan lukanya dari siapapun. Mereka sudah empat belas tahun hidup bersama, semua yang Sehun rasakan, pasti Kai juga bisa merasakannya.
.
Kai merebahkan tubuhnya di ranjang Sehun. Dia memejamkan mata dan memeluk pinggang Sehun dari belakang.
"Apa yang kau lakukan disini?" Sehun mencoba melepaskan pelukan sahabatnya, tapi Kai malah semakin memeluknya dan merapatkan tubuhnya. Ranjang yang kecil membuatnya terasa sempit jika digunakan berdua.
"Aku rindu sahabat kecilku," Kai menyamankan kepalanya di punggung Sehun. Menghirup aroma tubuh Sehun yang menguar, sampai ke rongga dadanya.
Sehun tersenyum mendengar nada manja dari sahabatnya. Dia tahu Kai mengkhawatirkan dirinya, hanya saja, dia tidak ingin membuat Kai khawatir dengan keadaannya.
Sehun mengingat kembali kejadian beberapa saat lalu. Saat dimana dirinya direndahkan oleh orang tua kekasihnya. Dia mungkin tidak punya orang tua, tapi dia masih punya tata krama. Dia mungkin tidak memiliki apa-apa, tapi dia masih punya harga diri.
Sehun membenci orang kaya. Sangat membencinya. Dia ingin memanfaatkan orang kaya yang tidak tahu diri seperti mereka. Mereka hanyalah manusia dengan tameng kertas bernilai dollar. Karena itulah seorang Oh Sehun ada untuk memanfaatkan mereka.
.
XOXO
.
Sehun melangkahkan kakinya memasuki kelas Luhan. Dari tadi dia menunggu kelas itu sampai kosong dan mengambil kesempatan saat Luhan masih setia dengan bukunya.
"Terimakasih untuk yang kemarin, Luhan hyung," Sehun mendudukkan dirinya di hadapan Luhan dengan senyum yang berkembang.
"Aku menolongmu, bukan berarti kau boleh memanggilku dengan tidak formal," Luhan melirik Sehun sebentar, kemudian kembali terfokus pada bukunya.
"Maaf..." Sehun jadi salah tingkah sekarang. Dia membenci saat canggung seperti ini.
Sehun melirik Luhan yang kembali dalam dunianya. Dia mengamati tiap lekuk wajahnya. Mata, hidung, dan mulut tertata dengan rapi, membuatnya terlihat sangat manis dan tampan di waktu yang bersamaan. Kacamata yang bertengger di hidung mancung namja itu membuatnya terlihat lebih berwibawa.
"Luhan hyung- maksudku, Luhan-ssi..." Sehun melirik ekspresi wajah Luhan, namun dia tidak menemukan perubahan yang berarti, kemudian dia melanjutkan kata-katanya. "Mungkin ini terlalu mendadak, tapi sepertinya aku menyukaimu sejak pertama kita bertemu. Maukah kau menjadi namjachinguku?" Kini Sehun tersipu malu, strategi yang sering dia gunakan untuk membuat namja bertekuk lutut di hadapannya.
"Apa untungnya bagiku?"
"Ehmm?" Sehun memandang Luhan dengan kedua alis terangkat.
Apa jurusnya tidak mempan? Apa mengungkapkan perasaan dengan wajah tersipu, sekarang sudah tidak jaman lagi? Kenapa Luhan sama sekali tidak tertarik padanya?
"Itu... anu, ehmm... ah- aku bisa menjauhkanmu dari fangirlmu!" saking semangatnya menemukan jawaban yang tepat, Sehun sampai melupakan kalau saat ini dia harus terlihat manis.
"Ah, maksudku, yah, begitulah..." Sehun tersenyum canggung, kemudian menurunkan pandangannya agar tidak menatap mata rusa di hadapannya. Dia merutuki kebodohannya, ingin sekali membenturkan kepala ke meja. Kalau seperti ini sudah pasti dirinya akan di tolak. Uh, kemana Sehun si penakhluk namja beruang yang biasanya? Baru kali ini dia merasa gagal meluluhkan hati seseorang.
Luhan berdiri dari duduknya, kemudian beranjak dari sana.
Kali ini Sehun benar-benar membernturkan kepalanya ke meja.
"Apa yang kau lakukan?" Sehun mendongakkan kepalanya mendapati Luhan yang berdiri di ambang pintu. "Cepat bawa tasku. Kita pulang sekarang."
Sehun membelalakkan matanya. Apa ini pertanda bahwa... "Kau menerimaku? Itu artinya kau menerimaku kan?" Sehun bertanya dengan senyum lebar di wajahnya. Dengan semangat dia menyambar tas Luhan yang masih berada di kursi dan menghampiri Luhan dengan wajah berharap.
"Hanya sampai perempuan-perempuan itu menyingkir dari hadapanku." Dengan itu Luhan membalikkan tubuhnya dan kembali berjalan.
Masih dengan senyum merekah, Sehun mengikuti Luhan dari belakang dengan tas Luhan tersampir di bahu kanannya.
"Kalau begitu mulai sekarang aku akan memanggilmu Chagi," Luhan menggeleng mendengar komentar Sehun. "Bagaimana kalau Baby?" Luhan menggeleng lagi. Kali ini Sehun sedikit berpikir. "Hannie? Deer? Bamby? Sarang? Sweetheart? Hyung?" Sehun menghentikan langkahnya karena tiba-tiba Luhan membalikkan badan dan menatapnya.
"Itu lebih baik," Luhan pun kembali berjalan.
Sehun sedikit terkejut, namun detik selanjutnya dia tersenyum. "Hyung~" panggilnya manja pada Luhan yang berjalan di depannya.
.
XOXO
.
Saat ini Sehun sedang berada di kamar Luhan. Duduk di ranjang king size berseprai putih dan tidak tahu harus berbuat apa. Sementara sang punya kamar sedang mandi di kamar mandi yang berada di dalam kamar tersebut.
Pulang sekolah tadi Sehun ikut mobil mewah Luhan, belum sempat ia mengagumi tiap detailnya tapi dia sudah sampai di halaman rumah besar milik namja itu. Rumahnya sangat besar dan mewah jika dibandingkan dengan apartemen bututnya. Karena Luhan tidak berkata apa-apa, jadi Sehun hanya mengikutinya dan sekarang dia berakhir di kamar namja itu.
Sehun menolehkan kepalanya saat pintu kamar mandi terbuka. Ia mendapati Luhan hanya dengan celana hitam panjang, topless, dan handuk putih yang digunakan untuk mengusap rambutnya yang basah.
Untuk sesaat Sehun menahan napas melihat pemandangan itu. Dia mengalihkan matanya saat pandangan mereka bertemu.
Sehun memainkan ujung kemejanya gugup saat merasakan Luhan berjalan mendekat. Kulitnya merinding saat napas hangat Luhan berada di lehernya dan rambut basah namja itu menggelitik telinganya.
"Apa yang kau lakukan di kamarku? Apa kau ingin mengintipku, atau..." tangan Luhan menyentuh lutut Sehun, kemudian naik mengelus pahanya.
"M-mianhae," Sehun segera berdiri membuat Luhan sedikit menjauh darinya. Dengan cepat dia berjalan keluar dan memutuskan untuk menunggu namja itu di ruang tamu. Mukanya pasti sangat merah sekarang.
.
XOXO
.
Luhan mendudukkan dirinya di depan Sehun, membuat pelayan yang berada di dapur keluar dan membawakan minuman untuknya. Dia meminum tehnya, kemudian menyandarkan tubuhnya di sofa dengan santai.
Sehun yang sedari tadi disana hanya terdiam menatapnya. Dia tidak tahu harus bicara apa agar namja di hadapannya ini merasa nyaman. Dia merasa namja itu berbeda dari namja yang pernah dipacarinya.
"Jadi, berapa yang kau inginkan sebagai imbalan?"
"Apa maksudmu?" Sehun merasa tersinggung dengan perkataan namja di hadapannya. Meski tujuannya memang uang, tapi dia tidak murahan, hingga dengan mudahnya Luhan berkata seperti itu.
"Aku hanya ingin memberi hadiah sebagai ucapan terimakasih, kenapa wajahmu seperti itu?"
Lagi-lagi Sehun berbuat bodoh, sama sekali tidak bisa membaca situasi. Harusnya dia tahu kalau namja dihadapannya ini sedikit arogan, jadi jangan terlalu berprasangka buruk.
"Kurasa itu tidak perlu, karena aku menyukaimu," Sehun tetap harus membuat namja itu bertekuk lutut di hadapannya.
"Aku memaksa," Luhan berkata dengan datar. Kemudian dia mengeluarkan dompetnya.
Sehun memperhatikan tiap gerak-gerik Luhan yang mengambil beberapa lembar won, yang dia yakini ada puluhan bahkan ratusan lembar won dengan nominal besar disana, dan menyodorkan uang itu padanya.
"Sungguh, aku tidak bisa menerimanya," tolak Sehun, meski batinnya ingin segera menyambar dan memasukkannya ke dalam kantong.
"Apa maksudmu? Aku hanya ingin kau membelikan sesuatu yang ada dalam daftar ini."
Sehun tidak menyadari ternyata di atas lembar uang itu ada kertas, yang mungkin, adalah daftar yang dimaksud Luhan.
Untuk kesekian kalinya hari ini, dia ingin membenturkan kepalanya ke meja. Kenapa dia sama sekali tidak bisa membaca jalan pikiran namja di hadapannya?
.
XOXO
.
Sehun membawa tas kertas berisi barang yang diinginkan Luhan. Kebanyakan benda dalam daftar itu adalah makanan. Kini Sehun tinggal mencari benda terakhir yang harus dia beli. Bubble tea. Kebetulan yang sangat menguntungkan, karena Sehun sangat menyukai bubble tea.
Saat menuju toko bubble tea, Sehun melihat seorang namja tinggi yang berdiri menatap estalase toko tersebut. Sesekali namja itu mengerutkan wajah dan mengelus perutnya, yang sepertinya lapar.
Sehun melewati namja itu dengan tidak peduli. Toh, dia tidak menganalnya.
Dengan semangat Sehun membuka pintu toko, membuat bunyi kling terdengar, kemudian dia menuju kasir dan memesan dua bubble tea. Yang satu untuknya, dan satu lagi pesanan Luhan.
Sehun mengedarkan pandangannya saat menunggu pesanannya. Dan kini pandangan Sehun tertuju pada namja yang berada di luar toko. Dia melihat namja itu menjilat bibir dan meneguk ludahnya beberapa kali. Membuat pelanggan yang dipandanginya merasa risih dan segera meninggalkan tempat itu.
Melihat hal itu, Sehun merasa kasihan pada namja disana. Dia jadi mengingat dirinya sendiri saat tak punya uang dan kelaparan.
"Minuman anda Tuan," ucapan seorang waitress mengalihkan pandangan Sehun.
"Terimakasih," Sehun tersenyum kemudian beranjak dari sana. Dia membawa bubble tea milik Luhan di tangan kirinya sedangkan miliknya di tangan kanan. Sungguh nikmat saat dia meneguk cairan coklat dengan bola-bola kecil di dasarnya. Harinya yang berat seakan lenyap saat minuman kesukaannya mengalir ke tenggorokannya.
Sehun keluar dari toko, mendapati namja tadi masih setia di tempatnya.
"Kau bisa mengganggu pelanggan jika terus berdiri disana."
Namja itu menolehkan kepalanya saat merasa seseorang berbicara padanya.
"Maaf?" suara berat namja itu begitu kontras dengan baby face-nya.
"Kau lapar?" bukannya menjawab kebingungan namja di hadapannya, Sehun malah menanyakan hal lain.
Namja itu mengangguk pelan. Sehun dapat melihat pandagan namja itu yang turun kearah minumannya. Lama-lama dia merasa iba juga melihat tatapan memelas itu.
"Kau mau?" namja itu mengangguk. "Untukmu," Sehun menyodorkan minuman di tangan kirinya. Dia tersenyum saat melihat betapa semangatnya namja itu meminum minumannya. Wajahnya seperti anak kecil, dan senyumnya begitu lebar.
"Terimakasih, kau penyelamatku."
Sehun hanya menganggukkan kepalanya sebagai respon. Dia tidak tahu kalau namja itu begitu lincah, melompat kegirangan, berbeda dengan sikapnya beberapa saat lalu. Satu lagi namja aneh yang ditemui Sehun.
"Aku akan mengingat kebaikanmu. Annyeong..." namja itu berlari sambil melambaikan tangannya meninggalkan Sehun.
Sehun tersenyum bangga karena dia bisa membantu sesamanya. Hidup menjadi orang miskin memang susah di jaman yang serba modern ini.
Sehun tersentak saat seorang namja paruh baya berjas hitam tak sengaja menyenggolnya, membuat bubble tea yang berada di tangan kanannya tumpah ke baju. Ini semua salahnya karena melamun di tengah jalan.
Setelah membersihkan bajunya yang tetap bernoda coklat, dan memandang bubble teanya yang tinggal setengah, Sehun berniat masuk kembali untuk membeli bubble tea pesanan Luhan, namun sesuatu menginterupsinya.
'Gawat, uangnya habis!'
.
XOXO
.
Sehun menghela napasnya kasar. Luhan sangat menakutkan kalau sedang kesal. Tadi, karena tidak punya uang yang cukup untuk membeli bubble tea, dia memberikan bubble tea miliknya yang tinggal setengah pada Luhan. Dia tidak tahu kalau Luhan begitu menyukai bubble tea, karena Luhan langsung menatapnya sinis dan memberi ceramah nan singkat yang membuatnya harus menunduk, tak berani memandang wajah namja itu. Dia sempat berpikir, apa seperti ini rasanya kalau dimarahi oleh seorang ayah?
Dan sekarang Sehun duduk di dapur dengan belanjaan bersamanya.
"Minumlah."
Sehun mendongak mendapati paman Lee, pelayan Luhan, menyodorkan cangkir berisi teh hangat padanya.
"Terimakasih, paman," Sehun tersenyum dan segera meminum tehnya.
"Kau anak yang manis," tuan Lee mengusap kepala Sehun dengan lembut, seakan Sehun adalah anaknya sendiri.
Cengiran Sehun semakin lebar saat mendapat pujian itu.
"Paman, apa Luhan selalu seperti itu?"
"Seperti itu bagaimana maksudmu?"
"Angkuh dan arogan," kali ini Sehun sedikit berbisik agar tidak di dengar oleh sang objek yang dibicarakan.
Tuan Lee tersenyum melihat tingkah Sehun yang sedikit lucu. "Sebenarnya dia anak yang baik, tapi akhir-akhir ini dia sedikit pendiam."
"Kenapa dia berubah?"
"Entahlah... dia juga jarang tersenyum sejak pindah kesini."
Sehun terlarut dalam pikirannya. Benarkah namja angkuh dan arogan itu namja yang baik? Dilihat dari garis wajahnya saja, Sehun dapat melihat tidak ada kebaikan disana. Tapi dia juga tidak boleh meragukan perkataan paman Lee yang sudah baik padanya. Siapa tahu Luhan sedang dalam masalah yang sulit.
"Anak muda, bajumu kotor, sebaiknya kau ganti baju. Kau bisa memakai baju tuan muda kalau mau," perkataan paman Lee membuyarkan lamunan Sehun.
"Tidak, terimakasih. Sebaiknya aku ganti baju dirumah saja," Sehun membungkuk dan pamit untuk pulang.
.
.
Beberapa saat kemudian Luhan memasuki dapur dan hanya mendapati paman Lee disana.
"Apa Sehun sudah pulang?"
"Lima menit yang lalu dia meninggalkan tempat ini. Apa tuan ingin mengantarnya?"
Luhan menggeleng, kemudian mendudukkan dirinya di kursi yang tadi diduduki Sehun. Dia meminum teh yang ada di hadapannya.
"Tuan, itu milik Sehun, biar kubuatkan lagi yang baru."
"Aku tahu. Kau tidak perlu membuatnya lagi."
Paman Lee hanya terdiam ditempatnya, memandang Luhan yang kembali menyesap tehnya, atau bisa dibilang teh milik Sehun.
.
.
.
.
TBC
.
.
Annyeong...
Ada yang masih ingat cerita ini?
Akhir-akhir ini aku sedikit sibuk, jadi belum sempat melanjutkan cerita ini. Jadi maaf kalau updatenya sangat lama. Aku akan mempersingkat cerita ini, agar cerita ini cepat selesai.
Terimakasih chingudeul sudah membaca dan menyempatkan diri untuk mereview fict ini. Kau tidak tahu betapa senangnya aku membaca review dari kalian.
Kuharap kalian masih mau membaca dan menunggu chapter berikutnya.
Gomawo all~
Annyeong...
With love: Ichizuki Takumi
