DON'T GO!

Part 5

By : Ichizuki Takumi

Pairing : Sekai/Kaihun, HunHan/Hanhun, Krishun, slight Chanhun

Pairing bisa bertambah seiring berjalannya cerita

Disclaimer: EXO milik Tuhan, orang tua, dan agensinya. Saya hanya meminjamnya sebagai karakter tokoh saja.

Rated : T

Genre : Romance, Angst

WARNING: YAOI, UKE!SEHUN

Happy reading~

.

.

Sehun mendudukkan dirinya di sofa single di ruang tamu kecil miliknya. Kepalanya tersandar pada sandaran sofa, mencoba mengistirahatkan tubuhnya. Sebenarnya dia tidak melakukan kerja berat hari ini, tapi berurusan dengan namja bernama Luhan itu membuat seluruh tubuhnya menjadi lelah.

Sehun merasa terganggu karena sedari tadi Kai, yang berada di ruangan yang sama dengannya, selalu mengganti channel TV di hadapannya. Dia melirikkan matanya tanpa merubah posisi, kemudian menghela napas panjang saat mendapati sahabatnya sedang cemberut. Ayolah, tak ada yang lebih buruk dari ini kan?

"Kau kenapa?"

Sehun mencoba menjadi sahabat yang perhatian. Menanyakan hal-hal yang sekiranya dilakukan oleh seorang sahabat.

"Kemana saja kau?"

Wajah Kai semakin ditekuk dan Sehun tahu apa yang harus dia lakukan. Bersabar. Ya, bersabar. Disaat seperti ini dia harus bersabar, kalau tidak, sudah pasti benda yang ada di dekatnya akan melayang karena ditendang.

"Aku..." Sehun mencoba mencari jawaban yang tepat sebagai alasan. Setidaknya agar sahabatnya tidak terlalu marah padanya.

"Pergi dengan Luhan?"

Belum sempat Sehun menjawab, Kai sudah mengatakan jawaban yang benar untuk semua alasan yang akan ia keluarkan.

"Gara-gara kau meninggalkanku, namja mengerikan itu selalu mengikutiku."

Baiklah, ucapan Kai terlalu hiperbolis (hipebola). Baekhyun bukanlah namja mengerikan seperti yang dikatakannya barusan.

"Bukankah itu bagus? Kau bisa mendekatinya dengan mudah."

"Apa maksudmu?"

"Carilah pacar, Kai. Kau membutuhkannya. Kau bahkan belum pernah pacaran sama sekali. Baekhyun sepertinya orang yang baik, kau bisa memulai hubungan dengannya."

Kai ingin mengatakan sesuatu, tapi dia tidak sanggup untuk menyuarakannya. Dia ingin sekali berteriak di hadapan sahabatnya kalau orang yang dia cintai sekarang ada dihadapannya.

Hanya Oh Sehun, dan selamanya Oh Sehun yang ia cintai. Tapi kenapa sahabatnya sama sekali tidak menyadari hal itu? Ataukah sebenarnya Sehun menyadarinya dan pura-pura tidak tahu? Hal ini membuatnya ragu.

"Baiklah kalau itu maumu. Aku akan melakukannya."

"Aku yakin kau akan bahagia, Kai," Sehun tersenyum. Senyum yang sangat disukai Kai. Senyuman penuh arti. Namun sayang, senyuman itu karena sesuatu yang tidak diinginkan olehnya.

Kai dan Sehun menolehkan kepalanya saat mendengar ketukan dari pintu depan. Mereka saling memandang, kemudian Sehun beranjak dari tempatnya untuk membukakan pintu.

Sehun belum sempat melihat siapa tamunya, karena tubuhnya sudah ditarik dalam sebuah pelukan. Yang dia tahu, orang yang memeluknya memiliki tubuh yang tinggi dan aroma tubuh seperti...

"Kris hyung?"

Sehun mendongakkan kepala, memastikan orang yang memeluknya adalah Kris. Setelah melihat wajah Kris yang ada di atas kepalanya, Sehun segera melepas pelukan itu.

"Ah, bajumu jadi kotor hyung," sebenarnya tak ada noda sama sekali di kemeja mahal Kris.

Namja tinggi itu kembali menarik Sehun dalam dekapannya.

"Bisakah kalian mencari tempat lain? Rasanya panas disini," interupsi dari Kai membuat mereka tersadar.

Sehun kemudian menarik pergelangan tangan Kris untuk membawanya ketempat yang lain.

.

XOXO

.

Sehun mengayunkan ayunan yang didudukinya dengan pelan. Dia menunduk menatap sepatunya, seolah itu adalah hal paling menarik saat ini. Bunyi gesekan dari besi berkarat mengisi keheningan kala itu. Mulutnya tertutup, tak ingin mengeluarkan sepatah katapun. Meski orang di sampingnya menatapnya dengan pandangan penuh harap, tapi dia tidak bisa memberi harapan palsu lagi. Dia tidak bisa mengambil jalan ini.

"Sehun."

Suara berat itu mengalun lembut dalam gendang telinganya. Dia menghentikan gerak tubuhnya, menghasilkan bunyi 'ngik' panjang. Didongakkan kepalanya menatap bintang yang malu-malu muncul di angkasa. Dia selalu menyukai saat memandang bintang, tapi tidak disaat seperti ini.

"Aku tidak bisa."

Namja disampingnya berdiri mendengar keputusannya. Dia merasa kecewa dengan apa yang baru saja ia dengar.

"Jika kau memintanya, aku akan bersamamu."

Pundaknya dicengkram, membuatnya memandang tepat ke mata namja itu. Tatapan itu mencoba meyakinkannya, namun dia menundukkan kepala dan menggeleng pelan.

"Aku tidak bisa egois."

Dia dapat merasakan tubuhnya dipeluk erat, sampai ia merasa sesak untuk mengambil udara, namun dia tetap melingkarkan tangannya di tubuh namja yang memeluknya.

Dia tidak bisa egois untuk memiliki namja itu, tapi entah kenapa di sudut hatinya merasakan sesuatu yang lain. Perasaan asing yang tidak ingin dia rasakan. Semakin dalam pelukan itu, membuatnya semakin berat untuk melepasnya.

Ini bukan perasaan cinta, tidak, dia tidak ingin mengakuinya. Sejak kapan seorang Oh Sehun memiliki hati setelah kejadian itu? Hatinya sudah mati, ia ingin membakar habis perasaannya. Dia tidak boleh memiliki perasaan itu. Perasaan itu hanya membuatnya hancur.

"Kau harus menerimanya, hyung. Kau harus menerima pertunangan itu."

Ucapan lirih itu hanya dibalas dengan pelukan yang semakin erat. Membuatnya kembali dalam dekapan hangat di malam yang dingin.

.

XOXO

.

'DRRRT' 'DRRRT'

Getaran itu membuat tangannya bergerilya mencari ponsel yang ada disampingnya. Matanya masih terpejam saat melihat pesan yang dia terima dari orang yang tak dikenal. Jam di layar ponselnya masih menampilkan pukul lima kurang, dengan malas ia menggeser tombol kunci dan mulai membaca pesannya.

'Datanglah kemari, sekarang.'

Matanya langsung melebar saat melihat nama di akhir pesan.

'Luhan.'

Dengan tergesa dia bangun dari tempat tidurnya. Dia pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Diambilnya jaket yang ada di lemari kemudian memakainya asal di perjalanan menuju pintu depan.

"Mau kemana pagi-pagi begini?"

Suara gaduh yang ia hasilkan sepertinya membuat sahabatnya terbangun. Dia memandang Kai yang masih kesulitan membuka matanya.

"Aku ada proyek penting."

"Siapa lagi kali ini? Luhan?" dia dapat mendengar nada tak suka dari sahabatnya, namun dia tetap melanjutkan menali sepatunya. "Hentikan semua ini, Sehun, sebelum kau menyesalinya."

"Kau tidak perlu khawatir, aku yang memegang kendali."

Dia berdiri dan mengetukkan ujung sepatunya ke lantai dua kali.

"Aku berangkat sekarang. Jangan merindukanku. Annyeong~"

"Ya!"

Dia segera melesat dari sana tak mau mendengar omelan Kai karena sudah menggodanya.

.

Kai terdiam ditempatnya. Dia akui, dia memang merindukan sahabatnya yang dulu. Selalu bersama kemanapun mereka berada. Dan tidak ada kepalsuan.

Semua ini gara-gara namja sialan itu.

Kai mengepalkan tangannya saat mengingat masa-masa itu.

.

XOXO

.

Untuk pertama kalinya dia merutuki rumah Luhan yang begitu besar, karena dia harus berlari untuk sampai ke kamar si namja arogan.

Dia menyandarkan tubuhnya di depan pintu untuk mengatur nafasnya yang memburu. Setelah sedikit normal, dia membuka pintu kamar dengan pelan, melirik ke dalam kamar. Detik selanjutnya dia membuka pintu itu dengan kasar.

'APA-APAAN INI!'

Dia ingin meneriakkan kalimat itu, namun kali ini dia hanya bisa meneriakkannya dalam hati.

Ditatapnya seorang namja baby face, sedang tidur dengan tenang dengan selimut tebal berwarna putih menutupi tubuhnya. Sangat indah memang, wajahnya seperti bayi yang sedang tertidur. Kalau saja tidak dalam situasi seperti ini, mungkin dia akan mengagumi setiap keindahan itu. Namun kali ini berbeda.

Dia berdiri tepat di samping ranjang King size, matanya menatap malas sehingga menampilkan poker face-nya.

"Hyung..."

Dia memanggil namja yang tertidur itu dengan pelan. Namun tidak ada respon sama sekali.

"Luhan hyung..."

Dipanggilnya lagi, namun kali ini sambil menendang ranjangnya.

"LUHAN!"

Kali ini dia berteriak karena tidak mendapati namja itu melakukan pergerakan.

Karena kesal, akhirnya dia menarik selimut dan mengguncang tubuhnya dengan brutal.

"Ya! Ireonna! Ireonna! Ireonna!"

Padahal Sehun sudah berteriak dan mengguncang tubuhnya, namun Luhan belum bangun juga.

"Ya! Rusa pemalas!"

'BRUK'

Dia tidak sengaja menendang Luhan. Sungguh. Sebenarnya dia sengaja, tapi dia tidak sengaja menendangnya hingga terjatuh.

Tamatlah riwayatnya.

"Ughh..."

Rintihan itu bukan seperti suara rusa lagi baginya, namun suara itu layaknya harimau yang ingin menerkam kelinci kecil, dan sialnya dia merasa dirinyalah kelinci kecil itu saat ini.

Keringat dingin mengucur dari pelipisnya. Ini masih pagi, dan udara masih dingin, namun keringat itu terus saja mengalir. Tangannya sudah dingin saat melihat kepala yang menyembul dari balik ranjang. Dia tidak berani menggerakkan tubuhnya sama sekali.

"Kau sudah datang? Bisa kau bersihkan ruangan ini?"

Dia tersentak saat tidak menerima bentakan atau hujatan dari namja itu, dia malah merasa perkataan Luhan begitu lembut saat memintanya. Sebenarnya nada suaranya biasa saja, namun karena tidak biasanya, Sehun jadi merasa suara itu begitu lembut.

Dia melihat Luhan yang kembali ke ranjangnya dan menarik selimut sampai ke dada.

Kakinya melangkah mendekat. Ia kibaskan tangannya di hadapan namja itu. Tak ada pergerakan. Napasnya kembali teratur. Ingin sekali rasanya memukul kepala itu, tapi dia masih sayang nyawa hanya sekedar melakukannya.

Dia menghela napas, kemudian mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan.

'WTF'

Dia pagi-pagi datang kemari hanya untuk membersihkan kamar ini? Oh, ayolah... perasaan kemarin kamar ini begitu rapi sampai debu sekecil pun tak terlihat, tapi kenapa sekarang jadi seperti kapal pecah?

Namja ini memang unik, dia ingin mengurungnya kalau saja diperbolehkan untuk memelihara manusia.

Lagi, dia menghela napasnya. Untuk kali ini dia akan mengalah. Setidaknya sampai namja itu bertekuk lutut di hadapannya.

.

XOXO

.

Butuh waktu yang cukup lama baginya untuk membersihkan ruangan itu, dan kini dia ingin segera pulang. Setidaknya setelah membangunkan tuan muda yang telah menyuruhnya melakukan semua ini.

"Luhan hyung."

Sehun mengguncang bahu Luhan pelan, takut terbawa emosi seperti tadi. Namun seperti yang dia prediksikan, tidak ada respon sama sekali.

"Hyung, aku sudah membersihkannya, sekarang aku akan pulang."

Belum sempat ia menegakkan tubuhnya, sebuah tangan sudah menariknya dengan kuat hingga membuatnya jatuh menindih namja di hadapannya.

Dia menatap mata yang masih terpejam. Bulu matanya begitu lentik, alisnya tebal, dan hidungnya mancung. Dia tersentak saat jarak antara bibir mereka begitu dekat. Napas hangat namja itu menerpa wajahnya.

Keadaan ini... dia sering melihatnya di film-film. Seorang namja menarik yeoja yang berusaha membangunkannya. Setelah itu wajah mereka saling mendekat dan menyentuhkan bibir masing-masing.

Tidak.

Sehun menggelengkan kepala karena pikiran liarnya. Tidak, kali ini berbeda. Meski dia sudah bisa dikatakan berpengalaman dalam berciuman, tapi dia tidak pernah bisa membayangkan berada di posisi seperti ini dengan namja bernama Luhan.

Dia merasakan tubuh dibawahnya bergerak. Mata indah yang tadi tertutup kini mulai terbuka dengan perlahan. Terdiam disana dan melihat keindahan itu adalah satu-satunya pilihan terbaik yang dipikirkan Sehun.

"Apa yang kau lakukan disini? Kau berusaha menciumku?"

Dia langsung bangkit mendengar suara dingin namja di hadapannya. Sepertinya Luhan sudah kembali normal.

"A-aku..."

"Kau menjadi pacarku, bukan berarti boleh menciumku tanpa izin."

"Tunggu, bisa kujelaskan-"

"Tidak perlu menyangkal. Aku sudah melihat semuanya."

"Aku tidak-"

"Sekarang buatkan aku sarapan."

Luhan bangkit dari tidurnya dan beranjak menuju kamar mandi.

"Tapi-"

"Kau pacarku kan? Kau harus belajar menjadi calon istri yang baik."

Dengan itu Luhan menutup pintu kamar mandi dan menyalakan shower.

"Tapi, AKU NAMJA!"

Lagi pula, hubungan mereka hanyalah sandiwara. Meski Sehun yang memulai sandiwara itu, tapi tidak seharusnya Luhan mengatakan hal yang membuatnya merinding.

Sehun tidak peduli lagi, dia sudah kehilangan kesabaran. Dihentakkan kakinya ke lantai, kemudian menendang meja kecil disampingnya.

'PYAR'

Dia melotot saat vas kecil yang tadinya ada meja kini tergeletak di lantai, bukan tergeletak, tapi pecah.

'GAWAT!'

Sepertinya suara shower sedikit meredam suaranya. Tak mau ambil pusing lagi, Sehun segera melarikan diri dari sana, meninggalkan bukti tetap di tempatnya.

.

XOXO

.

"Minumlah."

Seperti sebelumnya, paman Lee selalu menawarinya untuk minum teh.

"Terimakasih."

Dia meminum tehnya, kemudian kembali meletakkan kepalanya di atas meja.

"Apa tuan muda sudah bangun?"

Sehun mengangguk sebagai jawaban.

"Ini pertama kalinya tuan muda bangun sepagi ini sejak lima tahun lalu."

Sehun menatap jam dinding di ruangan itu, kemudian kembali meletakkan kepalanya. Pukul 06.10. Dia menguap dengan lebar tanpa menutupinya.

"Sepertinya kau kelelahan. Maafkan aku, sepertinya aku mengirimkan pesan itu terlalu pagi."

"Jadi, paman yang mengirimkan pesan itu?"

Dia melihat paman Lee mengangguk. Tangannya mencengkram rambutnya frustrasi.

"Paman, apa Luhan memang sulit dibangunkan?"

Pertanyaan itu yang sedari tadi ingin ditanyakannya. Dia melihat paman Lee mangangguk lagi kemudian meneguk tehnya.

"Tidak ada yang bisa membangunkannya. Dia bekerja terlalu keras sampai larut malam, aku pun tidak tega untuk membangunkannya."

'Jadi aku hanya kelinci percobaan?'

"Hahaha... jangan berpikiran seperti itu," Paman Lee tertawa, tapi Sehun merasa tidak ada hal lucu yang perlu ditertawakan. "Ada hal penting yang ingin kukatakan padamu. Tuan muda tidak suka orang lain menyentuh ranjangnya..."

Sehun menelan ludahnya gugup. 'Aku melakukannya... dua kali,' pertama saat dia datang ke rumah besar ini, dan kedua baru tadi saat dia membangunkan Luhan.

"...tuan muda juga tidak suka orang lain menyentuh barang-barangnya."

'Aku bahkan memecahkan barangnya,' kini tubuh Sehun panas dingin. Kenapa paman ini tidak memberitahunya sejak awal?

"Kuharap kau tidak melakukan hal itu," Paman Lee tersenyum, senyum yang sangat tulus. Namun seperti ejekan di mata Sehun.

"T-tentu saja tidak, hahaha..." Sehun meminum tehnya untuk meredakan kegugupannya. "Paman, sepertinya aku tidak bisa membuatkan sarapan untuk Luhan, aku ada kelas pagi. Tolong sampaikan maafku."

Sehun harus segera melarikan dari rumah terkutuk itu. Kalau tidak, dia tidak tahu bencana apa yang akan menimpanya nanti.

.

XOXO

.

"Kai sudah pulang duluan."

Pulang duluan? Tidak biasanya Kai meninggalkan latihan dancenya.

"Kupikir dia ingin berkencan dengan pacar barunya."

"Pacar?"

Sejak kapan Kai mempunyai pacar?

"Begitulah," namja itu menggaruk leher sambil tersenyum malu-malu. "Sepertinya kalian sudah putus. Menjalin hubungan denganku tidak terlalu buruk."

Minho, namja tinggi di hadapanku ini kabarnya memiliki perasaan padaku. Tapi aku tidak tahu kalau ternyata kabar itu benar.

"Aku harus segera pergi. Terimakasih, hyung."

Segera kubalik badanku seolah tak mendengar perkataannya. Dapat kurasakan tatapannya yang masih tertuju pada punggungku. Bagaimana ya... sepertinya ini dosaku karena memiliki tubuh ramping dan wajah yang kelewat manis. Sepertinya Tuhan begitu membenciku hingga memberikan wajah cantik ini di tubuh namjaku.

.

Aku tak menemukan Kai dimanapun, biasanya dia akan menungguku di tempat biasanya. Dia juga tidak meninggalkan pesan padaku.

Tunggu, kata Minho tadi Kai pergi dengan pacar barunya? Memangnya siapa orang yang dekat dengan namja dingin seperti dia- jangan katakan itu... Baekhyun-

"Kyaaa~"

Teriakan itu mengganggu pikiranku. Siapa sih di siang hari yang terik ini teriak-teriak seolah hanya mereka yang punya telinga?

Kulihat segerombolan yeoja mengejar seekor rusa kecil yang ketakutan. Seolah rusa itu adalah hal paling menarik dari pada emas, berlian, dan batu perunggu. Lupakan yang terakhir.

Gerombolan itu menuju kearahku. Rusa yang dikejar itu terlihat seperti Luhan, benar, itu memang Luhan. Dan dia melihat ke arahku.

GAWAT!

Sekarang aku sedang menghindarinya, kenapa malah bertemu disaat yang tidak tepat seperti ini?

Wajahku segera kututup dengan hoodie yang kupakai, berharap namja itu tidak melihatku. Meski percuma karena pandangan kami sudah bertemu, setidaknya aku sedang berusaha. Dengan sedikit do'a yang kurapalkan, semoga aku terhindar dari makhluk mengerikan itu.

Sepertinya Dewi Fortuna sedang tidak memihakku. Nyatanya sebuah tangan, yang kuyakini tangan si rusa jelek, menarikku kuat dari belakang.

"Berhenti disana!"

Teriakan itu mungkin bisa membuat telingaku tuli karena saking kencangnya. Deru napasnya dapat kudengar dengan jelas. Jeda yang dia buat, ia gunakan untuk mengambil pasokan udara.

"Sudah kubilang aku memiliki pacar, kalian jangan mengejarku lagi!"

"Kami tidak peduli!"

Teriakan salah satu yeoja menimbulkan teriakan lain yang mendukung perkataannya.

"Kalian gila? Aku memiliki pacar dan kalian tidak peduli?"

Luhan menggeram kesal. Dapat kurasakan cengkramannya pada pinggangku menguat. Sedari tadi dia menyembunyikan badannya dibalik tubuhku. Aku tidak tahu kalau dia setakut ini pada yeoja-yeoja itu.

"Sehun, kau berjanji akan membantuku."

Luhan berbisik di telingaku. Mendengar suaranya yang memelas, akhirnya aku luluh juga. Tidak tega melihatnya seperti itu. Rusa arogan yang biasanya menindasku, kini seperti anak kucing yang jatuh dalam got.

"Aku pacarnya Luhan, ada perlu apa kalian dengan namjaku?"

Perkataanku membuat mereka yang tadinya melemparkan gomabalan-gomabalan menjijikkan kini terdiam. Segera kumanfaatkan waktu ini untuk meneruskan perkataanku.

"Kami saling mencintai, apa kalian ingin memisahkan kami?"

Ini terdengar seperti drama Romeo dan Juliet, tapi aku tidak punya pilihan selain mengucapkan kata-kata menjijikkan ini. Sebelumnya aku memang sering mengucapkan kata-kata romantis, itu pun hampir tiap hari. Tapi sejak bertemu namja arogan ini, entah kenapa aku ingin muntah mendengar kata-kataku sendiri.

"Aku tidak akan melepaskan namjaku. Aku sangat mencintainya. Ku mohon pada kalian..."

Kugunakan wajah memelas, alis yang sedikit diturunkan, bibir mewek, dan mata yang sedikit sembab. Tak lupa tangan yang saling bertautan seakan mengharapkan sesuatu.

Mereka terlihat berpikir. Sepertinya sedikit luluh juga pada jurus aegyeoku. Dan tanpa berkata apa-apa mereka mulai membubarkan diri.

Aku menghela napas. Luhan yang berada di belakangku juga menghela napas lega. Tapi tubuhku kembali tegang saat masih ada satu orang yang tertinggal.

"A-apa maumu?"

Kenapa jadi tergagap? Tidak ada yang perlu ditakutkan kan?

"Aku akan mengawasimu."

Yeoja itu menunjuk kearahku, lebih tepatnya kearah namja yang berada di belakangku. Kemudian dia melirikku tajam, seakan mengatakan padaku untuk berhati-hati. Setelah itu dia pergi meninggalkan kami, membuatku menghela napas lagi.

"Kenapa mereka begitu mengerikan? Apa mereka punya dendam padamu?"

"Entahlah. Yang pasti mereka hanya menginginkan hartaku."

Luhan meninggalkanku disana. Dia berjalan menuju arah parkiran.

Tidak ada ucapan terimakasih?

"Hyung, tunggu."

.

.

.

.

TBC

.

.

Annyeong...

Sebelumnya aku ingin minta maaf. Aku tidak tahu ternyata hampir dua minggu tidak update. Seingatku terakhir kali mengupdate ff ini tgl 5 lalu, tapi setelah kulihat lagi ternyata tgl 31agustus. Mianhae... apakah kalian masih menunggu ff ini?

Terimakasih sudah membaca sampai chap ini. Juga terimakasih sudah mereview, memfollow dan memfav ff ini. Masukan dari kalian selalu kutampung ^^

Satu lagi, chingudeul tahu fan page sehun bubble tea? Aku adalah salah satu admin disana. Mungkin sebagian dari kalian sudah kuundang untuk me-like-nya. Itu memang fp baru, jadi belum terlalu aktif. Kalau kalian menyukai sehun dan ingin berbagi dengan teman2, mungkin kalian bisa jadi admin disana. Atau kalian ingin berbagi apapun tentang Sehun, chingu juga bisa mengirimkannya kesana. Hahahaaa...

Okeh, cukup sampai disini.

Sampai jumpa di chap depan ^^

Annyeong...