DON'T GO!
Part 6
By : Ichizuki Takumi
Pairing : Sekai/Kaihun, HunHan/Hanhun, Krishun, slight Chanhun
Pairing bisa bertambah seiring berjalannya cerita
Disclaimer: EXO milik Tuhan, orang tua, dan agensinya. Saya hanya meminjamnya sebagai karakter tokoh saja.
Rated : T
Genre : Romance, Angst
WARNING: YAOI, UKE!SEHUN
Happy reading~
.
.
.
Sehun berjalan gontai menyusuri trotoar. Lagi-lagi dia harus membeli bubble tea untuk Luhan. Kalau seperti ini caranya, lama-lama dia bisa membenci minuman itu.
Tapi, tidak.
Dia terlalu menyukai bubble tea, hingga tidak tega untuk membencinya. Dia hanya benci orang yang menyuruhnya untuk membeli bubble tea. Itu saja.
Luhan kan orang kaya, kenapa tidak membeli mesin pembuat bubble tea saja. Atau menyuruh paman Lee untuk membuatkannya. Dia juga perlu menambah pelayan untuk rumahnya yang super besar itu. Masih bagus Sehun hanya disuruh untuk membersihkan kamarnya, kalau sampai disuruh untuk membersihkan seluruh isi rumahnya, kemungkinan bisa satu minggu Sehun menyelesaikan pekerjaan itu.
"Angel?"
Suara itu membuyarkan lamunan Sehun. Dia mendongakkan kepalanya, mendapati seorang namja yang menatapnya dengan senyum lebar.
"Angel?" Sehun menolehkan kepalanya ke kiri dan kanan, kemudian ke belakang. Tak ada apapun. Kenapa namja itu berteriak 'Angel'. Apa namja itu ingin bermain-main dengannya?
"Tak ada angel disini," ujar Sehun bingung.
Namja itu mendekati Sehun dengan semangat. Senyumnya sangat lebar, memperlihatkan deretan gigi yang putih dan rapi. Sepertinya Sehun butuh kacamata, terlalu silau melihat senyuman itu.
"Angel, kau masih ingat aku?"
Sehun menunjuk dirinya dengan bingung. Dia mendapat anggukan dari namja dihadapannya.
"Sepertinya kau salah orang. Namaku bukan Angel."
Sehun berusaha pergi, namun namja itu menghalangi jalannya.
"Kau memberiku bubble tea waktu itu."
Diamati lagi namja di hadapannya, dan berpikir keras.
"Oh... kau namja bubble tea?"
"Akhirnya kau mengingatku juga," namja itu tertawa girang dan bertepuk tangan.
Sehun heran, apa rahangnya tidak patah kalau terlalu banyak tertawa? Tawanya juga sangat lebar.
"Senang bertemu denganmu lagi, tapi aku harus pergi sekarang," Sehun berusaha berjalan kembali, namun namja itu tetap mengikutinya.
"Kau mau kemana?"
"Membeli bubble tea."
"Boleh aku ikut?"
Sehun menghentikan langkahnya, kemudian menghadap namja itu. Dia ingin menolak, tapi mendapat tatapan seperti anak anjing yang ingin dipungut, akhirnya dia hanya menganggukkan kepalanya.
"Yeiii... Angel, kau memang baik," namja itu merangkul bahu Sehun saking senangnya.
Sehun ingin menepis tangan yang ada di bahunya, tapi lagi-lagi dia tidak tega saat melihat tawa polos namja itu. Sepertinya namja bubble tea ini adalah namja yang baik.
Sepanjang perjalanan yang didengar Sehun adalah ocehan namja itu. Ternyata bukan tubuhnya saja yang panjang, tapi kata-kata yang dia keluarkan juga terlalu panjang. Dia sampai pusing mendengarnya. Yang jelas, dia hanya dapat menangkap kalau nama namja bubble tea itu Chanyeol, dia hidup sendiri, dan tidak mempunyai apa-apa. Untuk informasi lainnya, hanya dapat masuk ke telinga kiri dan keluar telinga kanan. Bahkan telinganya sekarang sudah panas saking banyaknya kata yang dia dengar. Dan otaknya sampai berdenyut karena terlalu banyak menerima informasi.
Tiba-tiba dia menghentikan langkahnya, membuat Chanyeol yang merangkulnya ikut berhenti.
Sehun tersenyum lebar saat mendapati Baekhyun dan Kai yang berdiri tak jauh darinya, hanya sedikit tertutupi beberapa kendaraan.
Dia melambaikan tangan saat Baekhyun menoleh kearahnya. Dia menyingkirkan tangan Chanyeol di pundaknya dan kembali melambaikan tangan dengan antusias sambil tersenyum lebar.
Sehun ingin berlari mendekati mereka, namun segera diurungkan saat Baekhyun menarik Kai pergi dari sana. Menaiki mobil mewah dan melaju melewatinya.
Sehun terdiam di tempatnya.
Apa tadi Baekhyun tidak melihatnya?
"Sepertinya dia tidak mengenalmu," ucapan dari namja disampingnya membuat Sehun tersadar dari pikirannya.
"Mungkin dia tidak melihatku."
Sehun tidak ingin terlalu memikirkannya. Tapi bagaimanapun ingin menepisnya, dia sangat yakin kalau tadi Baekhyun melihatnya.
Tidak- tidak... dia tidak boleh berpikiran buruk. Mungkin saja Baekhyun tidak menyadari keberadaannya. Tapi kenapa mereka hanya pergi berdua? Dan tidak mengajaknya?
Tunggu, apa Sehun baru saja berpikiran bodoh lagi? Jelas saja mereka tidak mengajaknya, mereka kan sedang berkencan, yang ada dia hanya akan menjadi nyamuk di hubungan mereka.
Tapi, tak dapat dipungkiri, di hati kecilnya, Sehun sedikit merasa cemburu. Mungkin dia baru menyadarinya sekarang, atau, dia hanya tidak ingin menyadarinya. Dan menepis rasa itu menjauh.
Sehun membenturkan kepalanya di tembok pagar dekat trotoar. Dia berusaha menghilangkan pikiran buruknya yang semakin lama semakin liar. Kenapa dia bisa berpikiran seperti itu. Dia harus membenarkan otaknya yang terlalu penuh dengan drama tragedi persahabatan yang sering dilihatnya di sinetron. Atau sebaiknya dia harus berhenti menonton sinetron?
"Apa yang kau lakukan?"
Chanyeol menatap bingung Angel-nya yang sedari tadi membenturkan kepala ke tembok.
Sehun menghentikan aksinya. Menatap tembok di hadapannya. Kenapa kebiasaan anehnya muncul disaat ada orang disekitarnya? Orang lain mungkin akan menganggapnya aneh.
Karena reflek, dia jadi tidak sadar telah melakukannya.
"Ah, aku hanya sedang menguji seberapa kuat tembok ini," Sehun terseyum, mencoba menyembunyikan alasannya yang tidak masuk akal. Mungkin bila dilihat secara fisik tembok itu lebih keras, namun jika di dalami lagi, kepala Sehunlah yang lebih keras. Dan orang sering menyebutnya 'keras kepala'.
Chanyeol menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Sepertinya alasan Sehun masuk akal juga baginya.
Senyuman Chanyeol bertambah lebar saat kedai bubble tea sudah berada di depan mata.
"Kali ini aku yang akan mentraktirmu."
Chanyeol terus tersenyum. Bahkan Sehun yang melihatnya saja merasa pegal. Tapi tetap saja senyuman itu selalu bertengger di wajah tampan namja itu. Bahkan saat memesan bubble tea pun senyumannya tak juga pudar.
"Pesanan anda, Tuan."
Chanyeol merogoh kantongnya, kemudian menarik keluar tangannya dari kantong. Dia merogoh kantong satunya, dan menariknya lagi. Kemudian dia mencari sesuatu di kantong belakang. Dan ekspresinya sedikit kecewa saat tidak mendapatkan apa yang dicarinya disana.
"Angel-ah..." Chanyeol tersenyum canggung dan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Itu-"
"Aku mengerti," Sehun menghela napas maklum, kemudian mengambil dompetnya dan membayar tiga gelas bubble tea yang telah dipesan. Kemudian segera beranjak dari sana.
"Gomawo, Angel-ah. Kau sudah menyelamatkanku dua kali. Padahal aku ingin mentraktirmu, tapi aku melupakan dompetku."
"Kau tidak perlu membayar minuman itu hyung, aku mengerti keadaanmu."
Chanyeol mengernyitkan alisnya bingung.
"Aku sungguh melupakan dompetku. Tadi aku-"
"Kau tidak perlu mengatakannya, hyung. Aku juga pernah mengalami hal seperti itu, tidak bisa membayar minuman sendiri. Dan itu sangat menyedihkan," Sehun menatap langit dengan pandangan melankolis.
"Tapi-"
"Sudah sampai."
Chanyeol memperhatikan rumah besar di hadapannya.
"Ini rumahmu?"
"Bukan. Ini rumah mons- ah, maksudku, ini rumah namjaku."
"Namja?"
"Ya, namjachingu. Kalau kau menganggapku aneh, aku bisa mengerti. Satu lagi, jika kau membutuhkan bantuan, aku akan siap membantumu kapan saja. Kita mempunyai nasib yang sama, jadi kau tidak perlu sungkan mengatakannya padaku. Sekarang aku harus segera pergi. Annyeong."
Sehun melambaikan tangannya sekilas kemudian memasuki gerbang besar rumah tersebut.
Sementara Chanyeol hanya terdiam disana. Memperhatikan gerbang tinggi yang tertutup secara otomatis.
.
XOXO
.
Anjing galak adalah salah satu hal yang ditakuti Sehun. Sekarang dia pikir rusa galak lebih menakutkan dari pada anjing galak sekalipun.
Sungguh, dia tidak habis pikir, kenapa ada orang dengan wajah malaikat, tapi kelakuan seperti iblis. Sangat dingin dan arogan. Kalau bukan karena kebutuhan perekonomiannya yang semakin hari semakin menipis, dia tidak ingin berurusan dengan namja ini. Kalaupun dia harus melepaskan namja rusa itu, dia harus menjauhinya secara baik-baik. Dia tidak ingin image-nya jelek di mata orang lain. Setidaknya dia harus berada di pihak yang menguntungkan.
Kali ini Sehun harus menyiapkan sushi untuk rusa jelek itu. Sebenarnya dia tinggal memotongnya dan menyiapkannya di piring, tapi yang membuatnya sebal adalah sikap Luhan yang menyuruhnya seolah dia pembantu di rumah ini. Ayolah, statusnya disini 'namjachingu', bahkan status itu bisa naik pangkat menjadi tuan rumah nantinya, tapi kenapa seolah perannya disini tidak lebih dari seorang pembantu pribadi rusa jelek itu.
Sehun menyelesaikan potongan terakhirnya. Dia memakan satu sushi di hadapannya. Lezat. Sushi adalah salah satu makanan kesukaannya. Apalagi sushi yang baru saja masuk ke mulutnya sangat enak. Dia ingin memakannya lagi, tapi mengingat tampang rusa jelek itu, dia jadi mengurungkannya.
Saking semangatnya mengangkat piring berisi sushi itu, karena teringat wajah jelek Luhan, dia sampai melemparnya karena tidak memegangnnya dengan benar.
'GAWAT!'
Sepertinya kata 'Gawat' sudah menjadi motto hidupnya akhir-akhir ini.
Kenapa dia selalu ceroboh tiap berhadapan dengan namja arogan itu. Ya Tuhan...
"Ahh..."
Sehun menarik tangannya yang berdarah karena pecahan piring yang dikumpulkannya.
"Apa yang terjadi?"
Sehun segera menyembunyikan tangan kanannya di belakang punggung begitu Luhan berdiri di hadapannya.
"Kemarikan."
Luhan menyodorkan tangannya meminta sesuatu pada Sehun. Sementara Sehun hanya menatap bingung pada tangan yang berada di hadapannya.
Karena tidak mendapat respon, Luhan segera menarik lengan kanan Sehun dan menariknya pergi.
"Bersihkan kekacauan ini," ujar Luhan pada paman Lee yang berada di ambang pintu.
.
Sehun menatap takut pada Luhan di hadapannya. Ekspresinya sangat serius saat mengobati lukanya. Dia sudah menyiapkan mental kalau nanti Luhan akan memarahinya.
Sehun menundukkan kepalanya takut saat Luhan selesai mengobatinya dan merapikan kotak obat. Kemudian Luhan berdiri tanpa mengatakan sepatah katapun pada Sehun.
"Hyung..."
Luhan menghentikan langkahnya dan melirik Sehun, menunggu namja itu mengatakan sesuatu.
"... kau tidak marah?"
"Untuk apa?"
Sehun menelan ludahnya gugup. Memberanikan diri mengakui kesalahan. Mengakui kesalahan sendiri itu memang sangat sulit.
"Aku sudah memecahkan barangmu," ucapnya lirih. "...dua kali," kali ini semakin lirih, sambil menundukkan kepala. Dia takut kalau disuruh untuk ganti rugi. Ingat, namja di hadapannya ini adalah orang kaya, dia yakin barang-barang yang berada di dalam rumahnya pun pasti sangat mahal.
Luhan membalikkan badannya, kemudian mendekatkan wajahnya pada Sehun yang duduk di ranjangnya.
"Asal kau tak memecahkan hatiku, tidak masalah," bisiknya di telinga Sehun. Kemudian beranjak pergi keluar kamar.
Sehun terdiam di tempatnya. Apa pendengarannya bermasalah? Apa rusa jelek itu baru saja menggodanya? Atau isi kepala rusa itu sedang konslet? Lalu kenapa dia merasa wajahnya memanas?
Sehun menepuk-nepuk wajahnya dengan kedua tangan, berharap segera sadar dari mimpi buruk yang dialaminya.
.
XOXO
.
Sudah beberapa hari Sehun sendirian duduk di sofa butut di apartemennya. Biasanya Kai akan duduk disampingnya sebagai sandaran kalau Sehun merasa lelah. Namun sekarang tidak ada siapa-siapa disampingnya. Kosong.
Akhir-akhir ini Kai selalu pulang malam. Tak jarang Sehun selalu tertidur di sofa saat menunggu Kai pulang, dan keesokan harinya dia mendapati dirinya berada di kamarnya sendiri. Namun dia tetap kecewa saat tidak mendapati Kai di apartemen. Kai sudah berangkat ke kampus duluan. Padahal hari masih sangat pagi.
Apa seperti ini rasanya menunggu? Biasanya tiap pulang dari kencan, dia selalu mendapati Kai menyambutnya di sofa sambil menonton TV. Meski sebagian besar sambutannya adalah sindiran, tapi dia tetap menikmatinya. Biasanya Kai juga selalu mengangkat ponselnya saat dia hubungi. Tapi sekarang Kai mengabaikan panggilannya. Sekalipun diterima, Kai akan mengatakan kalau dia sedang sibuk. Memangnya sesibuk apa dirinya? Apa menjalin hubungan dengan Baekhyun bisa sampai sesibuk itu?
Sehun menolehkan kepalanya saat pintu apartemennya terbuka. Dia tersenyum senang dan menghampiri Kai yang melepas sepatunya.
"Kau kencan dengan Baekhyun hari ini?"
Kali ini Kai yang melepas jasnya. Pakaiannya memang selalu rapi tiap pergi dengan Baekhyun.
"Aku bertemu dengan orang tuanya."
Kai berjalan menuju dapur, dan mengambil air putih yang berada di lemari pendingin.
"Orang tua?"
"Ya, mereka berniat menjodohkanku dengan Baekhyun."
'DEG'
Seharusnya ini adalah berita gembira, tapi kenapa rasanya ada yang mengganjal di hati Sehun?
"Bagaimana menurutmu?"
Kenapa Kai harus bertanya padanya?
"Benarkah? Kau beruntung Kai, aku iri," Sehun berusaha tersenyum.
"Apa aku harus menerimanya? Atau menolaknya?"
"Kau akan menyiakan kesempatan bagus kalau menolaknya."
Kai terdiam, meneguk minumannya sampai habis.
"Aku akan memikirkannya lagi."
Sehun memandang Kai yang berjalan ke sofa kemudian menekan remot TV.
Sehun mendudukkan diri di samping Kai dan meletakkan kepalanya di pangkuan namja itu. Sementara Kai, dengan pelan dia mengelus rambut Sehun. Membuatnya merasa nyaman.
Kai menatap Sehun yang mulai memejamkan mata. Dia tidak bosan memandang wajah Sehun yang tertidur. Garis wajahnya sangat tegas dan sempurna. Juga terlihat sangat manis dan tampan. Tak heran jika banyak namja maupun yeoja yang tertarik padanya.
Tiba-tiba pandangannya jadi sendu. Apa memang tak ada dirinya di hati Sehun? Apa dia harus menyerah untuk mendapatkan Sehun? Bahkan dia belum berusaha sama sekali untuk mendapatkan Sehun. Yang dia lakukan selama ini hanyalah berperan sebagai sahabat yang baik, yang selalu ada tiap Sehun membutuhkan.
Dia sama sekali tidak berusaha untuk mendapatkan hati Sehun. Dia hanya menunggu Sehun melihat kearahnya. Namun yang di dapatnya malah Sehun yang semakin menjauh.
"Apa ini pilihan yang tepat?" Kai menyingkirkan rambut yang menutupi kening Sehun, kemudian menciumnya.
'Saranghae,' bisiknya.
.
XOXO
.
Sehun berjalan keluar kampusnya. Pagi tadi, seperti pagi-pagi sebelumnya, dia mendapati dirinya tidur di kamar, dan tak mendapati Kai di apartemen. Dia pikir untuk sekali saja dia akan melihat Kai di pagi hari, namun hari ini pun tetap sama. Kai sudah pergi.
Sama halnya dengan hari sebelumnya, dia juga tidak mendapati Kai dimanapun. Tidak di klub menari, di kanting, maupun di atap. Tempat yang biasanya Kai datangi pun sudah Sehun datangi, namun sahabatnya tidak ada disana. Lama-lama Sehun curiga juga, apa Kai dijadikan budak seperti dirinya di rumah Baekhyun? Atau malah sebaliknya?
Ah, dia tidak ingin memikirkannya. Yang pasti sekarang dia harus membeli bubble tea sebelum pergi ke rumah rusa jelek.
"ANGEL!"
Sehun menolehkan kepalanya. Senyumnya terukir saat mendapati namja bubble tea yang beberapa hari ini tidak ditemuinya sekarang berada di gerbang kampusnya.
"Chanyeol hyung?"
Sehun berlari menghampiri Chanyeol yang bersandar pada mobil mewah.
"Apa yang kau lakukan disini?"
Sehun menyadari perubahan yang terjadi pada namja dihadapannya. Perubahannya sangat drastis. Bahkan dia dapat mencium parfum mahal buatan paris seperti milik Suho pada namja itu.
"Aku ingin mengantarmu kemanapun kau pergi."
Yang Sehun ketahui, senyuman namja itu tidaklah berubah. Tetap lebar seperti biasanya.
Sehun menolehkan kepalanya pada mobil mewah yang disandari Chanyeol. Dia tidak tahu mobil apa itu, yang pasti dia yakin kalau mobil itu sangat mahal.
"Kau bawa mobil siapa, hyung? Apa sekarang kau dapat pekerjaan?"
"Tentu saja ini mobilku. Kenapa kau bicara seperti itu? Ayo masuklah."
Chanyeol membukakan pintu belakang untuk Sehun, tapi Sehun keluar kembali saat menyadari ada seseorang di kursi kemudi.
"Hyung, kenapa kau menyuruh pamanmu mengemudi? Seharusnya kau yang mengemudi. Masih bagus pamanmu mau meminjamkan mobilnya untukmu."
"Tapi Angel-ah..."
"Atau jangan-jangan kau tidak bisa mengemudi?"
"Aku bisa."
"Kau tidak punya SIM?"
"Punya."
"Kalau begitu kemudikan mobil ini."
"Tapi..."
"Tak ada tapi-tapian!"
Dengan bibir yang sedikit manyun akhirnya Chanyeol duduk di kursi kemudi, sementara paman Chanyeol hanya tersenyum dan duduk di belakang bersama Sehun.
Padahal dia ingin terlihat keren di depan Sehun, tapi kenapa jadi begini?
"Kenapa tidak jalan? Katanya mau mengantarku ke kedai bubble tea, hyung?"
"Iya-iya..."
Sehun hanya menanggapi jawaban malas Chanyeol dengan senyuman.
.
Setelah memastikan Sehun keluar dari mobil, Chanyeol menoleh ke belakang dengan tatapan memelas.
"Paman, aku minta uang... aku ingin mentraktir Angel, bubble tea."
Paman itu menghela napas, kemudian mengambil selembar won dari dalam dompetnya.
"Tapi-"
Belum sempat menyuarakan sebuah kata, uang yang berada di tangannya sudah lenyap dan terdengar debaman pintu yang dibanting Chanyeol dengan semangat.
Hah... dia harus lebih bersabar kalau menghadapi Chanyeol.
.
"Apa ini gaji pertamamu, hyung?"
"Emm... begitulah, hahaa..."
Sehun menerima empat cup bubble tea, kali ini yang membayar adalah Chanyeol.
"Gomawo."
Chanyeol mengangguk semangat saat Sehun mengucapkan kata itu.
Mereka berjalan menuju pintu, namun pandangan Sehun tak pernah lepas pada seorang pria yang membentangkan korannya lebar-lebar. Karena penasaran, dia mengahampiri pria itu yang duduk tak jauh dari pintu keluar.
"Permisi tuan, boleh saya meminta koran anda yang bagian ini?"
"Silahkan."
"Joseonghamnida."
Sehun mendapatkan korannya dan segera keluar dari toko.
"Angel, apa yang akan kau lakukan pada koran itu?" tanya Chanyeol bingung. Saat berada di luar, Sehun segera memberikan cup bubble tea yang di bawanya pada Chanyeol, dan melihat gambar yang ada di koran tersebut.
Sehun mengamati gambar yang menjadi berita utama di koran tersebut. Meski sedikit tidak jelas, namun Sehun yakin dia mengenal pria yang ada di gambar itu. Pria yang menghadap kesamping sambil berjabat tangan dengan pria paruh baya. Pria itu terlihat seperti- "LUHAN!"
"Luhan? Siapa itu Luhan?" Chanyeol langsung bertanya saat Sehun memekik kaget.
Sehun masih sibuk dengan korannya. Dia berpikir, untuk apa namja jelek itu ada di berita utama koran ini? Kemudian dia melihat judul berita tersebut.
'Putra Keluarga "Xi" Cari Pendamping.'
Mata Sehun semakin melebar saat melihat judul yang tercetak besar di koran tersebut.
Sepertinya Sehun memang dalam masalah besar. Secara tidak langsung, dia sudah masuk ke dalam masalah yang sangat rumit.
.
.
.
TBC
.
.
.
Annyeong...
Lama tak berjumpa.
Akhir-akhir ini memang sedikit sibuk.
Sebenarnya chap ini sudah selesai dua minggu setelah chap sebelumnya di publish, tapi karena belum ku edit, koneksi internet tiba-tiba hilang, dan tidak sempat mengupdatenya, jadi baru sekarang kupublish.
Terimakasih untuk yang mau bersabar dan tetap setia menunggu ff ini.
Dan terimakasih untuk reviewnya. Kalian hebat!
Sampai jumpa lagi di chap selanjutnya (Jangan tanya kapan).
Gomawo all ^^
