DON'T GO!
Part 8
By : Ichizuki Takumi
Pairing : Sekai/Kaihun, HunHan/Hanhun, Krishun, slight Chanhun
Pairing bisa bertambah seiring berjalannya cerita
Disclaimer: EXO milik Tuhan, orang tua, dan agensinya. Saya hanya meminjamnya sebagai karakter tokoh saja.
Rated : T
Genre : Romance, Angst
WARNING: YAOI, UKE!SEHUN
Happy reading~
.
.
.
Sehun membuka kedua mata. Dia segera terbangun saat tidak mengetahui dimana dirinya berada. Namun hal itu malah membuat kepalanya terasa pusing. Dia mengerang tertahan.
Matanya memicing karena ruangan yang redup, hanya diterangi oleh lampu tidur. Dia akan membuka selimut ketika menyadari dirinya tidak memakai baju. Tangannya meraba tubuh, mencoba memastikan kalau penglihatannya tidak salah. Sampai dia menyadari bagian bawahnya juga tidak memakai apapun. Dia telanjang. Disebuah kamar yang tidak diketahuinya. Kemudian otak yang menurutnya jenius, ia gunakan untuk mengingat kejadian apa yang telah terjadi.
"Kau sudah bangun?"
Seseorang duduk di sofa dengan cangkir di tangan kanan. Uap yang mengepul menandakan kalau cairan yang berada dalam cangkir itu masih panas.
Kenapa Sehun tidak menyadari ada seseorang disana?
"Si-siapa?" tanya Sehun panik karena cahaya yang terlalu redup sehingga hanya terlihat siluet hitam. Dia mengeratkan selimut ditubuhnya sedikit takut.
Orang itu meletakkan cangkirnya di meja, kemudian berjalan mendekat.
"Kau melupakanku?"
Menyadari suara itu, dan sosok yang mulai terlihat di penglihatannya, sontak Sehun langsung berdiri dan melompat memeluk orang itu. Melupakan fakta bahwa tubuhnya polos saat ini.
"Kris hyung! Aku takut sekali, kukira kau orang jahat," Sehun mendekap erat leher Kris hingga pemuda itu kesulitan bernapas.
"Kau mencoba menggodaku, Hunnie?"
Seperti dilema, Kris antara senang dan menahan diri. Kapan lagi mendapat pelukan dari orang yang kau cintai dalam keadaan polos seperti itu. Dia sedikit ragu, apakah sebaiknya dia membalas pelukan Sehun atau tidak. Tentu dengan senang hati dia ingin membalasnya. Tapi dia namja baik-baik. Dia tidak mungkin memanfaatkan keadaan ini untuk menyentuh tubuh Sehun.
"Ma-maaf."
Sehun menyadari dia sedang tidak berpakaian, segera kembali bergelung di balik selimut.
"Tapi hyung, kenapa aku bisa seperti ini?" wajah Sehun sudah semerah tomat ketika mengatakannya. Dia bahkan tidak berani menatap orang yang kini duduk di kursi dekat ranjang.
"Kemarin kau membasahi pakaianmu. Jadi aku menaruhnya di laundry," ucap Kris dengan wajah tanpa dosa.
"Hanya itu? Dan kau tidak memberiku pakaian ganti?"
Sedikit banyaknya Sehun berharap akan ada drama romantis antara dirinya dengan Kris saat dia tertidur. Namun melihat wajah Kris yang datar seperti tembok apartemennya yang mengelupas, membuat Sehun melenyapkan semua pikiran romantis yang ada di otaknya.
"Jangan salah paham, a-aku hanya tidak ingin mengambil kesempatan disaat kau tidak sadar."
Kris mengalihkan pandangannya. Wajahnya memanas mendengar perkataannya sendiri. Tak jauh beda dengan seseorang yang tak jauh darinya. Wajah Sehun memerah karena malu mendengar ucapan pemuda itu.
"Bukankah kau yang melepas pakaianku?" ujar Sehun pelan, mencoba menelan rasa malunya. Namun semburat merah masih menempel di pipinya.
"Eh, benar juga. Hahahahahahaa..."
Wajah Sehun berubah datar saat mendengar kalimat terakhir yang dikatakan Kris dengan tawa yang dipaksakan.
BUGH
Sebuah bantal melayang dengan indahnya mengenai wajah rupawan keturunan keluarga Wu.
.
.
XOXO
.
.
"Lama menungguku... Jongin?"
Jongin memandang pemuda yang duduk dihadapannya. Tatapannya tajam. Kepalan tangannya semakin mengerat.
"Hei, jangan menatapku seperti itu. Kau seperti ingin memakanku. Hahaha..."
"Aku sedang tidak bercanda."
Tao yang tergelak mencoba menghentikan tawanya melihat aura hitam disekitar Jongin.
"Ok, ok... Ada perlu apa memanggilku?" tanya Tao setelah memesan minuman.
Cafe yang mereka tempati tidak begitu ramai. Mereka merasa sedikit bebas apabila ingin berkelahi atau sekedar mengumpat.
"Kau melanggar perjanjian."
"Pasti Hun-Hun yang mengatakannya." Tao melipat tangannya di dada. "Jangan salah paham, aku tidak sengaja bertemu dengannya di jalan."
"Kau bisa menghindarinya."
"Jangan egois Kai. Aku hanya menggunakan hak-ku untuk menggunakan jalan yang dibangun oleh pemerintah."
Jongin semakin menggeram kesal menghadapi pemuda dihadapannya. Dia merasa kalau pemuda itu tidak pernah menanggapi perkataannya dengan serius.
"Kau tau kan waktumu tidak banyak," ucap Tao.
Kepala Jongin tertunduk. Dia menyadari benar apa yang dikatakan Tao saat ini.
"Tidak masalah kalaupun kau tidak bisa melunasinya. Lagi pula Hun-Hun sekarang semakin manis. Dan... bibirnya juga lembut," Tao menyeringai sambil mengusap bibirnya mengingat lembutnya bibir Sehun.
Jongin melotot mendengarnya. Tiba-tiba hatinya merasa panas. Tanpa sadar sebuah tinjuan mendarat di pipi kiri Tao dengan keras.
BUGH!
Nafasnya memburu karena kesal. Tatapan tajam tertuju pada pemuda dihadapannya yang malah terkekeh menerima pukulan.
"Kuanggap ini tidak terjadi." Tao berdiri menyamakan pandangannya dengan Jongin. "Perlu kau ingat. Waktumu tinggal sebulan lagi. Saat hari itu tiba, kau tidak memiliki hak sedikitpun bahkan melihat sosoknya. Sampai jumpa, Kim Jongin."
Tao meninggalkan tempat itu setelah mengatakan kalimat terakhir.
Tubuh Jongin merosot. Kedua tangannya memegang kepala yang serasa ingin pecah.
Itu tidak akan terjadi. Perkataan Tao barusan tidak akan terjadi. Meski harus menjual harga sendirinya, Jongin rela. Asal Sehun tidak jatuh ke tangan si brengsek yang sudah menghancurkan hati orang terkasihnya. Dia tidak ingin melihat orang yang dicintainya menderita.
"Sial!" umpatnya.
.
.
XOXO
.
.
Luhan berlari dengan panik untuk mencari tempat sembunyi. Nafas terengah dan keringat membasahi pakaiannya.
"Sial, perempuan memang menakutkan."
Dia mencoba mengambil napas saat berada di belokan koridor, namun langkahnya kembali terpacu ketika suara gaduh semakin mendekat ke arahnya.
"Sehun, kau dimana?" ucapnya dengan napas terengah.
.
XOXO
.
Sehun meminum tehnya dengan tenang. Setelah mendapat pakaiannya kembali, dia bermaksud untuk segera pulang, namun pemuda di hadapannya mencegah dan meminta waktu untuk bicara.
"Sudah merasa lebih baik?"
"Begitulah. Saking kesalnya sampai aku lupa dengan masalahku sendiri."
Kris tersenyum melihat tingkah Sehun yang kekanakan. Dia memang tidak pernah bosan kalau itu menyangkut pemuda di hadapannya.
"Mau menceritakannya padaku?"
"Aku tidak ingin mengingatnya lagi," Sehun mengerling kearah lain. Sebisa mungkin menghindari tatapan lembut dari pemuda di hadapannya.
"Baiklah kalau begitu, aku tidak akan bertanya lagi."
"Hyung, bukankah kau sudah punya istri? Bagaimana kalau dia tau kita ada di hotel?"
"Kami masih bertunangan. Kumohon, jangan membahasnya," Kris memijat keningnya, bahkan Sehun dapat melihat jelas aura tertekan memancar darinya.
"Apakah dia jahat? Cerewet dan suka ngomel?" tanya Sehun penasaran.
"Malah sebaliknya. Dia wanita yang sempurna. Sopan dan baik hati. Namun…" Kris menghentikan ucapannya, melihat ekspresi Sehun yang penasaran dengan kelanjutannya. "-obsesinya yang mengerikan."
Sehun memiringkan kepala, tanda tak paham dengan ucapan Kris.
Mengerti ketidak pahaman itu, Kris mengeluarkan sesuatu dari dalam tas kerjanya.
"Kamera?"
"Ya. Bahkan dia memberiku benda ini untuk merekam kegiatan kita berdua."
"Dia tahu diriku?"
"Dia tak sengaja melihat fotomu dalam dompetku. Jika tidak menuruti keinginannya, aku bisa dimakan hidup-hidup. Sehun, tolong bantu aku," ujar Kris dengan muka memelas.
Sungguh, Sehun merasa ekspresi itu sama sekali tidak cocok dengan karisma yang selama ini Kris tunjukkan.
"A-apa yang bisa kubantu?" tanya Sehun takut. Ia risih dengan tatapan memelas yang ditampilkan di wajah maskulin pemuda di hadapannya.
"Lahirkanlah anak untukku," ujar Kris serius dengan kamera di tangan, siap merekam.
"Hah?"
BUGH
Sebuah pukulan mendarat dengan manis di wajah tampan Kris.
.
XOXO
.
"Dia pasti gila, dia pasti gila. Apa Kris hyung jadi seperti ini karena berpisah denganku? Tidak. Pasti kepalanya terbentur. Aku menyesal pernah menjadikannya mantan. Tapi uangnya sayang kalau dilewatkan."
Sehun bergumam sendiri setelah keluar dari hotel dan berniat untuk pulang.
"Kai pasti mengkhawatirkanku karena pesan kemarin. Aku harus minta- mmm" tiba-tiba Sehun ditarik dan mulutnya di bekap saat melewati sebuah gang sempit.
"Sssstt… ini aku."
'Luhan hyung?'
Sehun mengangguk tanda agar Luhan melepaskan bekapannya.
"Apa yang hyung lakukan disini?"
"Ceritanya panjang. Kemana saja kau? Aku hampir mati karena perempuan gila itu."
"Apa hyung tertangkap?" Sehun melihat penampilan Luhan yang berantakan. "Kau terlihat mengerikan," lanjutnya saat mendapati kancing baju yang pakai Luhan tinggal satu dibagian bawah, jejak bibir berwarna merah di kerah, rambut acak-acakkan, dan bekas kemerahan seperti cap tangan di lengan kanan. Pemuda yang lebih pendek darinya itu seperti habis di amuk masa.
"Bahkan dua kali. Dan dua kali pula nyawaku hampir melayang," Luhan menghela napas lelah. "Belikan aku minuman di toko seberang jalan itu. Aku belum berani keluar. Pastikan mereka tidak melihatmu. Kalau melihatmu sendirian, aku yakin kau akan mengalami hal yang sama. Dalam arti lain."
Sehun bergidik membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya. Matanya beralih saat Luhan mengeluarkan dompetnya. Ah, bicara soal dompet, kira-kira foto siapa yang ada di dalam benda itu? Tapi, tentu saja isi dari benda suci berbau uang itu tidak lepas dari penglihatannya.
Detik berikutnya Sehun berdecak kecewa karena isi dari dompet Luhan bahkan tak cukup untuk membeli tiga gelas bubble tea. Namun matanya kembali membulat saat menyadari sesuatu.
"Hei, apa yang kau lakukan? Kembalikan!" teriak Luhan saat tiba-tiba Sehun menyambar dompetnya dan menjauhkan benda itu dari pemiliknya.
Luhan mencoba meraih miliknya kembali, namun karena gang sempit di sela gedung yang bahkan hanya cukup untuk lewat satu orang, ditambah tangan Sehun yang panjang, menyebabkan Luhan yang menempelkan tubuhnya pada punggung Sehun menyerah setelah pemuda yang lebih tinggi itu menemukan apa yang menyita perhatiannya.
"Hyung…"
"Ya, Sehun," jawab Luhan pelan, dengan dagu yang ia sandarkan pada pundak Sehun.
"Lulu- hyung?"
Kali ini Luhan tidak menjawab.
"Lulu hyung? Kau Lulu hyung?"
Sehun menoleh. Jarak antara wajah mereka berdua sangat dekat. Tanpa sadar Sehun meneteskan air matanya.
Luhan tersenyum lembut. Kemudian membisikkan sesuatu di telinga Sehun.
"Uljima…"
Sehun segera berbalik dan memeluk Luhan hingga pemuda itu jatuh terlentang. Sedangkan Sehun menangis dipelukannya.
Luhan meraih dompet yang dipegang Sehun dan memandang foto yang ada disana.
Foto mereka berdua saat kecil. Ketika mereka berada di panti asuhan. Waktu itu Luhan jauh lebih tinggi dari Sehun, namun waktu merubah semuanya sekarang.
Luhan tersenyum miris mengingat kenangan itu. Tangannya terangkat, dengan lembut ia usap rambut pemuda yang selama ini ingin dia jaga. Pemuda yang masih betah menangis dipelukannya.
.
.
.
TBC
.
.
.
Yuhuuu… merindukanku? *slap*
Oke, maafkan diriku yang telah menelantarkan ff ini setelah sekian lama. Sebenarnya chapter ini sudah jadi sejak dulu kala. Hanya saja, prinsipku, kalau upload chapter ini aku harus sudah menyelesaikan chapter berikutnya. Tapi untuk saat ini, chapter berikutnya belum kutulis, karena memang belum ada waktu dan ilham yang menghampiri diriku. Ok, abaikan.
Sebenarnya saat ini (sebelum menulis note ini) aku ingin pergi tidur. Aku mencoba mengecek akunku di FFN yang sekian lama tidak kubuka. Dan hatiku tersentuh oleh komenan kalian yang meminta melanjutkan FF ini. Aku tidak menyangka kalian begitu menanti kelanjutannya T.T *oke sy lebay* hahahhaaa
Untuk chap selanjutnya aku akan sedikit demi sedikit menulisnya. Tolong beri aku semangat *slap*. Entah kenapa, tambah umur malah tambah alay *abaikan*.
Dan tentu saja aku masih suka melihat baby HunHun. Adakah yang berbaik hati ngasih link yang khusus upload video sehun yang lengkap? Bukan foto ya, tapi yang video. Barang kali bisa jadi moodbooster buat nulis ff tentang hunhun lagi ^^
Oiya, promosi dikit ya XD. Follow Ig: "unoshoppu" ya. Bisnis kecil-kecilan ^^ hehee
Terimakasih sudah membaca. Tiap huruf di kotak review dapat memberiku semangat. Terimakasih teman-teman *kecupkecup*
