LITTLE DEVIL CAFE
Goo Junhoe adalah namja SHS dengan sikap ramah dibalik wajah dinginnya. Namun perlahan ia menampakkan sisi lain dari dirinya saat bertemu dengan Kim Jinhwan. Seorang namja imut sahabat Bobby. Sikap itu perlahan membuat Jinhwan bingung sendiri. Tapi dibalik semua itu ia sadar bahwa ia sudah terjerat pesona setan cilik ini dan ia tidak bisa lepas darinya
.
.this is an IKON slight BTS WINNER story with official pair. no need to talk much, happy read. leave coment if you want and don't give blame word. 하기 싫다면 집가, if you don't like there's a cross sign and click then. DYO own this story
.
Setan kecil adalah jenis setan yang paling cantik atau tampan. Tugas utamanya adalah menggoda manusia. Dan juga merupakan sebutan untuk namja yang suka membingungkan yeoja, … ah tidak. Bahkan dia juga kerap membingungkan para uke. Lebih tepatnya setan kecil adalah namja yang suka membuat orang lain tergila gila.
.
Jinhwan meembuka matanya perlahan dan berkedip untuk menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam retina matanya. Ia tersentak pelan saat menyadari ia tidak berada didalam kamar kumuh miliknya. Namun tak lama ia sadar bahwa mulai kemarin ia tinggal dicafe bersama dengan sang pemilik. Ngomong ngomong dimana Junhoe? Kenapa Jinhwan tidak mendapatinya disampingnya?
Jinhwan menoleh ke arah jam dinding dan menunjukkan pukul 9. Ia menyingkap selimut kemudian berjalan menuju kamar mandi. Kebetulan hari ini jadwal kuliahnya kosong dan ia tidak tahu harus melakukan apa karena sejak ia memutuskan bekerja dicafe, ia tidak mau menerima job sampingan lainnya.
Setelah selesai membersihkan dirinya Jinhwan berjalan kebawah menuju café yang masih tutup karena jam sekolah akan dimulai 30 menit lagi. Ia membuka lemari es dan mengambil susu lalu menuangnya kedalam gelas. Tak sengaja matanya menangkap sticky note berwarna biru dipintu lemari es.
Sudah bangun? Mian aku tidak membangunkanmu dan berangkat duluan. Aku ada jadwal rapat OSIS pagi ini. Dan ada sandwich di kulkas, panaskan jika kau ingin memakannya.
PS. Jangan lupa pasang wigmu karena pegawai lain biasanya datang lebih pagi untuk beres beres
Jinhwan membulatkan matanya dan segera berlari keatas untuk mengganti bajunya setelah melepas kertas itu dan membawanya. Sial, kenapa Junhoe memasang sticky note itu dikulkas café? Bagaimana jika nantinya ada pegawai yang membaca? Jinhwan memukul kepalanya pelan saat menyadari jika yang membawa kunci café hanya dia dan Junhoe. Orang yang tinggal didalam café. Dan ia masih ingat jika semalam ia sendiri yang mengunci pintunya.
"Dasar bodoh! Uuh, aku harus memakai dress lagi?" ucap Jinhwan sambil membuka almari dimana Junhoe meletakkan baju yeojanya.
Kau sedang mencari baju untuk hari ini? Jangan gunakan dress, pakai kaos yang nyaman dan celana pendek dan jangan lupa rambut panjangmu. Sampai bertemu nanti Jinny
Jinhwan mendesis jengkel saat mendapat note lagi tertempel pada sekat baju.
"Dia benar benar mempermainkanku. Dasar setan cilik menyebalkan, awas saja kau nanti!" ucap Jinhwan kemudian menuruti perintah note itu dan mengambil celana pendek serta kaos sedikit kebesaran miliknya.
X
Junhoe keluar dari ruang rapat dengan wajah lelah, hampir 3 jam pagi ini dan ia terpaksa absen 2 jam pelajaran untuk membahas festival sekolah tahun ini. Hanbin yang berjalan disampingnya menepuk pelan bahunya.
"Kau bekerja keras hari ini. Percayalah semua akan berjalan dengan baik," hibur Hanbin membuat Junhoe tersenyum pelan.
"Ah, apa benar Jin…Jinny noona bekerja dicafemu? Dan dia menginap disana?" Junhoe menoleh pada Hanbin dan menaikkan alisnya. Membahas Jinny membuat moodnya membaik dengan cepat.
"Kukira kau sudah tahu yang sebenarnya, Kim Hanbin. Yang kau maksud Jinhwan kan? Dan tentang pertanyaanmu, Ya untuk keduanya." Ucap Junhoe membuat Hanbin memandangnya dengan terkejut.
"Kau…tidak marah? Kau sudah tahu kalau dia namja?"
"Aku tahu, dan ya kemarin aku sempat marah. Tapi itu tak masalah karena dia sudah menjelaskannya padaku," Hanbin menghela nafas lega saat tahu hal itu.
"Tapi, kau tidak mengerjainya kan? Demi tuhan dia itu uke paling polos dan tidak bisa melawan. Dan aku tahu dari Bobby hyung jika kau…. Sebenarnya adalah gay!" Junhoe melotot saat Hanbin mengatakan hal itu.
"Sssh, jangan keras keras. Aku tidak mau uke disini mengetahuinya. Bisa mati aku jika aku ketahuan gay tanpa seorang kekasih," ucap Junhoe dengan wajah menoleh kesana kemari mengantisipasi jika ada seseorang yang mendengar. Beruntung koridor sangat sepi karena pelajaran sedang berlangsung.
"Arraseo, aku tahu itu. dan jika kau mempermainkan Jinhwan hyung secara berlebihan, aku berjanji akan menjadikanmu makanan obang. Ingat itu," Junhoe berdecak pelan mendengar ancaman Hanbin.
"Ck, pengancam"
"Hello, mirror yourself Goo." Cibir Hanbin membuat Junhoe memandang malas.
X
Jinhwan membuka pintu café setelah mendapat pesan jika Bobby ingin berkunjung ke cafenya.
"Uh oh, hai. Aku harus memanggilmu bagaimana kali ini?" Bobby menaikkan alisnya melihat Jinhwan yang memakai wig dengan pakaian santai.
"Kau mau mengerjaiku juga seperti setan itu? Ck aku baru sadar dia benar benar menyebalkan." Gerutu Jinhwan lalu mnegunci lagi pintu depan dan duduk di meja pelanggan.
"Aku sudah memperingatkanmu kemarin bukan? Jadi bukan salahku. Dan , kau bilang kau sudah menjelaskannya pada Junhoe yang sebenarnya. Tapi kenapa masih memakai wig bahkan saat café masih tutup?" tanya Bobby sambil memandang Jinhwan yang sepertinya bad mood.
"Karena setan itu bilang jika biasanya pegawai lain akan datang lebih awal untuk beres beres." Bobby terkekeh dan memegang perutnya saat mendengar ucapan Jinhwan.
"Datang lebih awal? Untuk beres beres? Puahahahahahah hyung, kau tahu tidak jika dia sedang mengerjaimu? Cafenya buka saat makan siang nanti dan pegawai akan datang satu jam sebelum itu. dan sepagi ini, pftt kau berdandan astaga" Bobby mati matian menahan tawanya dan Jinhwan sudah berada dipuncak emosinya. Dia berjanji akan menghajar namja itu jika ia pulang nanti.
"Aish, kenapa aku menganggapnya seperti malaikat kemarin? Aaaaaaa" pekik Jinhwan kesal sambil melepas wignya dan melemparkannya ke lantai. Bobby tertawa terbahak bahak melihat Jinhwan yang sedang kesal.
"Geurae, tertawa saja sepuasmu Kim Bobby!" dengus Jinhwan sambil cemberut.
"Arraseo arraseo, mianhae. Ppft nanti aku akan membantumu membalasnya." Ucap Bobby membuat Jinhwan menoleh dan mengangguk dengan senyum lebar. Astaga, Jinhwan terlihat seperti anak kecil yang mendapatkan barang keinginannya.
X
Jam istirahat Junhoe menyibukkan dirinya diperpustakaan untuk mencari tugas karena ia melewatkan dua jam perlajaran tadi pagi. Matanya terlihat serius dengan buku tebal didepannya.
"Junhoeya, apa kau sedang sibuk? Kau mengerjakan apa?" Junhoe menoleh saat mendapati Hanna duduk didepannya dengan senyum lebar dan centil.
"Jangan berisik, aku sedang sibuk jadi jangan ganggu aku." Ucap Junhoe acuh lalu kembali fokus pada bukunya. Hanna mempoutkan bibirnya mendengar ucapan Junhoe yang memang bisa dibilang tidak ramah itu.
"Kenapa ucapanmu tidak ramah sekali? Aku tahu kau sedang sibuk, tapi setidaknya ucapkan dnegan nada yang lembut," Junhoe mendongak lagi dan memandang Hanna dengan senyumnya yang manis.
"Kurasa aku harus menyelesaikan ini sebelum bel berbunyi, jadi bisakah kau diam disana dan tidak mengangguku?" Hanna tersenyum dan mengangguk antusias sebelum Junhoe memasang kembali wajah dinginnya dan fokus pada tugas didepannya.
Belum ada lima menit Junhoe mengerjakan tugas dan kali ini dia merasakan gangguan dari tatapan Hanna didepannya. Ia merasa yeoja itu menatapnya dengan tajam dan intens. Belum sempat ia bertanya, ia merasakan pelukan dari belakang dan membuatnya terkejut.
"Junhoe oppa, kau sedang sibuk ya? Ayo makan dulu, tadi kan kau belum sarapan," Junhoe menoleh begitu mendengar suara pelan yang sangat ia kenal.
"Jinny, apa yang kau lakukan disini? Dan what the…" Junhoe kehilangan kata katanya saat melihat Jinhwan dengan seragam sekolahnya dan demi tuhan rok yang dipakainya sangat pendek. Sial, dari mana ia dapat ide selicik ini untuk mengganggunya disekolah?
"Junhoeya, siapa yeoja centil ini?" Hanna memandang dengan tatapan sinis pada Jinhwan dan dibalas Jinhwan dengan kecupan ringan dipipi Junhoe.
"Kau melupakan morning kissmu tadi. Dan, siapa yeoja ini. Aku takut dengan tatapannya," ucap Jinhwan dengan nada manja dan memeluk lengan Junhoe. Junhoe yang tidak siap dengan kejadian ini hanya bisa bertingkah seperti orang bodoh.
"Apa? Morning kiss?" pekik Hanna membuat pengunjung perpustakaan yang lain memandanganya dengan kesal. Bahkan penjaga perpustakaan menunjuk sebuah informasi yang mengisyaratkan untuk tidak berisik. Hanna dan Junhoe menunduk meminta maaf pada semua orang.
"Kita bicarakan diluar," ucap Junhoe kemudian membereskan bukunya dan menarik Jinhwan keluar diikuti Hanna.
"Jadi siapa dia Junhoeya?" tekan Hanna pada Junhoe yang masih memandang Jinhwan dengan pandangan tak percaya.
"Dia…"
"Yoo, kenapa kalian masih disini? Ayo kita makan dulu," ucapan Junhoe terpotong oleh Bobby yang melambai dari kejauhan bersama Hanbin.
"Kim Bobby," desis Junhoe jengkel. Ia tahu bahwa ini semua pasti ide dari kelinci gila milik Hanbin itu.
"Eoh, ada Hanna. Kenapa wajahmu seperti itu? apa kau terkejut karena melihat yeoja imut itu?" ucap Bobby membuat Hanna memandang tajam padanya dan Junhoe yang memijat pelipisnya yang berdenyut.
"Siapa dia oppa?" tanya Hanna dengan cepat.
"Kau tidak tahu? Dia adalah kekasih Junhoe. Kudengar mereka baru jadian kemarin dan ya, kau tahu tidak jika mereka sekarang tinggal bersama?" ucap Bobby membuat Hanna melebarkan matanya dan menatap Junhoe meminta penjelasan. Junhoe benar benar mengutuk Bobby dan ingatkan ia untuk menyiksa kelinci ini nanti.
"Mianhae Hanna, itu memang benar. Dia Jinny, kekasihku" ucap Junhoe sambil merangkul pundak Jinhwan yang hanya sebatas dadanya. Hanna memandang Jinhwan dengan sinis dan tersenyum remeh.
"Kau…suka tipe yeoja sependek ini?" twitch, perempatan berkedut pelan dikening Jinhwan. Ia tidak terima jika ada yang mengatainya pendek.
"Itu…"
"Apakah pendek merupakan halangan untuk memiliki namja tinggi? Tidak bukan? Lagipula Junhoe tidak pernah mempermasalahkan tinggi badan selagi aku bisa menghangatkan ranjangnya dengan baik," ucapan polos Jinhwan membuat membuat Junhoe tersedak ludahnya dan terbatuk. Astaga, mulut Jinhwan benar benar pedas saat ia marah. Dan lihatlah wajah Hanna, speechless dan tidak percaya.
"Jinny, kurasa kita harus memberikan minum pada Junhoe. Lihat wajahnya memerah karena tersedak," ucap Bobby. Jinny mengangguk kemudian menarik Junhoe menuju ke kantin.
"Maldo andwae, tidak mungkin itu kekasih Junhoe dan dia bilang apa tadi? Menghangatkan ranjang? Apa Junhoe namja seperti itu? Tidak itu pasti karena yeoja itu yang jalang," ucap Hanna kemudian berjalan menjauh.
X
Flashback
Bobby memberikan sepasang seragam yang baru saja ia pinjam dari Jangmi, sepupunya yang juga bersekolah sama dengan Junhoe dan Hanbin.
"Kau yakin ini muat? Dan rencanamu ini berhasil?" Bobby mengangguk, ia yakin jika Junhoe akan takhluk dengan penampilan imut Jinhwan nanti. Karena ia tahu Junhoe itu gay dan fantasinya pasti berkeliaran kemana mana saat tahu namja yang ia suka melakukan cosplay.
"Kau tidak akan kecewa hyung. Dan baju itu tentu saja muat. Baju itu baru dan Jangmi bilang jika ia salah membeli baju karena dikerjai. Ia membeli satu angka dibawah ukurannya. Jadi ia memberikan baju itu padamu. Dia juga berpesan jika nantinya kau melihat siapapun mendekati Junhoe, kau harus membuat mereka jera dan menjauh dari Junhoe," Jinhwan mengernyit memandang Bobby.
"Memangnya kenapa?"
"Jangmi itu juga teman Junhoe dan dia tidak mau yeoja centil menempel pada Junhoe." Jinhwan mengangguk pelan. Ia tahu Jangmi dan ia percaya pada Bobby.
"Lalu apa namja itu mengatakan sesuatu tentang orientasinya padamu kemarin?" ucap Bobby membuat Jinhwan meneleng dan mengangguk.
"Dia bilang dia itu bisex dan dia masih bingung dengan orientasi seksnya, wae?" Bobby mengumpat pelan kemudian menggeleng.
'Goo brat, apa apaan dia itu? Apa dia berencana mengerjai Jinhwan hyung lagi? Tidak bisa dimaafkan' batin Bobby sambil menunggu Jinhwan selesai berdandan.
Flasback off
Dan disinilah mereka. Menyamar sebagai siswa sekolah sini dan mengerjai Junhoe dengan penampilannya yang terlalu … atraktif?
"Aku tahu kau yang merencanakan semua ini, Bobby hyung!" desis Junhoe begitu ia menghabiskan sebotol air dengan cepat.
"Bagus jika kau tahu, karena aku yang memintanya. Kau pikir aku tidak bisa membalasmu hm? Seenaknya saja kau mengerjaiku lagi!" ucap Jinhwan dengan bibir manyun. Ekspresi Junhoe langsung berubah menjadi little devil begitu memandang wajah merajuk Jinhwan.
"Aaa, jadi kekasih kecilku ini yang merencanakannya? Sepertinya kau harus dihukum nanti," smirk Junhoe berkembang dan Jinhwan memandanganya dengan wajah menantang.
"Sudahlah sudah, kalian tidak malu apa bertengkar seperti itu didepan semua siswa? Aku bahkan ingin segera keluar dari sini," ucap Hanbin malas sambil memandang kerumunan orang yang kebanyakan adalah fans Junhoe.
"Aku juga ingin pergi." Ucap Jinhwan sambil berusaha menyembunyikan wajahnya saat sadar banyak siswi dan namja uke yang memandangnya dengan tajam dan sinis. Junhoe yang tahu ketakutan Jinhwan berdiri dan menarik Jinhwan kedalam pelukannya.
"Hyung, aku perlu bicara berdua dengannya dan bisakah kau bilang pada sonsaengnim jika aku masih sibuk mengurus festival? Aku ada diruang detensi jika kalian ingin menemui kami," bisik Junhoe pada Hanbin. Hanbin mengangguk dan Junhoe pergi dengan Jinhwan dipelukannya.
X
"Kurasa aku kalah Kim Jinhwan," bisik Junhoe sambil memeluk pinggang ramping Jinhwan yang berada dipangkuannya. Sesekali bibirnya menjelajah tengkuk Jinhwan yang terekspos karena rambut panjang itu disibakkan Junhoe kesamping. Jinhwan mati matian menahan desahannya karena perlakuan Junhoe.
"Jun… hentikan. Kita berada disekolah."
"Tidak perlu cemas baby, ruang detensi merupakan teritori mutlak bagiku dan tidak ada yang boleh masuk kemari tanpa izin dariku. Jadi, sekarang boleh kukatakan jika aku menyukaimu? Ah ani, aku mencintaimu. Dan kau harus menjadi kekasihku," Jinhwan menahan tangan Junhoe yang bergerilya diatas pahanya.
"Tidak, aku tidak mau. Kau sangat menyebalkan dan aku sangat membencimu," ucap Jinhwan sambil menahan desahan.
"Sssh, hati hati dengan kata itu karena sekali kau bilang membenciku maka kau sama saja dengan memberitahuku untuk berusaha keras dalam membuatmu tenggelam dalam cinta dan pesonaku. Apa kau sudah siap?" Jinhwan menggigit bibirnya saat tangan Junhoe merangsek masuk ke dalam rok pendeknya.
"Ssshh mmhh hentikan Junh…" desah Jinhwan pelan.
"Katakan kau mencintaiku baru aku akan berhenti," Jinhwan menggeleng pelan dan mendongak.
"Katakan atau aku akan mengerjaimu lagi," Jinhwan tetap menggeleng karena ia masih belum yakin Junhoe benar benar menyukainya.
"Baiklah, kau yang memilih," Junhoe mengangkat tubuh Jinhwan dan meletakkannya diatas meja. Ia menyingkap rok Jinhwan dan menurunkan short serta celana dalam Jinhwan. Seringainya muncul saat melihat milik Jinhwan yang setengah menegang.
"Junhoe stop," Jinhwan berusaha meronta namun usapan Junhoe pada miliknya membuatnya bergetar dan merintih pelan.
"Nah babe, take your punishment," Junhoe menundukkan kepalanya dan mengecup paha dalam Jinhwan hingga membuat namja itu menggelinjang dan merapatkan kakinya. Junhoe melebarkan kembali kaki Jinhwan dan mengecup milik Jinhwan pelan. Membuat sang empunya mendesah dan meremas rambut Junhoe dengan keras.
"Kesempatan terkahir, Kim Jinhwan. Katakan kau mencintaiku sekarang atau…"
"Mmh yah… akuh mencintaimu, aku mencintaimu Goo Junhoe," Junhoe mendongak dan menyeringai lebar saat melihat raut kacau Jinhwan.
"Good, setelah ini kau harus menyiapkan mental dan tubuhmu untuk tenggelam dalam pesona dan cintaku baby. Tapi milikmu terbangun, bagaimana ini? Haruskan aku menghisapnya?" Jinhwan memandang Junhoe dan mengangguk dengan malu. Junhoe terkekeh pelan sebelum menghisap milik Jinhwan membuat Jinhwan mendongak dan merintih pelan.
"Anh Junh.." Junhoe memainkan pelan twinsball Jinhwan sementara mulutnya menghisap dengan kuat. Remasan dan desahan Jinhwan membuat Junhoe semakin bersemangat dalam mengerjai kekasih barunya ini.
"I'm about to cum Junh…" Junhoe yang mengerti ucapan Jinhwan semakin menghisap kuat milik Jinhwan.
"Laporan untuk, what the fuck…" Seunghoon membuka pintu detensi dan mematung melihat seorang yeoja terbaring pasrah diatas meja dengan kaki mengangkang lebar dan Junhoe yang berada diantara kedua kaki itu.
Junhoe melepas bibirnya dari milik Jinhwan dan menatap Seunghoon dengan tajam, mengisyaratkan namja itu untuk pergi dan tidak pernah kembali. Jinhwan yang merasakan klimaksnya tertunda mengerang pelan dengan sexy dan menutup wajahnya agar Seunghoon tidak melihat wajahnya.
"Look, I'm sorry Junhoe ya. Tapi laporannya…"
"Letakkan dimeja OSIS dan keluar dari tempat ini. SEKARANG." Desis Junhoe tajam membuat Seunghoon tergagap dan segera keluar dan menutup kembali pintu detensi.
"Aku malu… kenapa dia bisa masuk? Bukankah tadi kau bilang sudah mengunci pintunya?" cicit Jinhwan pelan dengan wajah yang masih tertutup kedua tangannya.
"Dia juga pengurus OSIS dan wakil detensi. Pintunya sudah kukunci dan tidak ada yang bisa membukanya kecuali tiga orang. Aku, Hanbin dan namja tadi. Mianhae membuatmu seperti ini," Jinhwan membuka tangannya dan memandang Junhoe. Jinhwan mengangguk pelan kemudian merapatkan kedua kakinya.
"Biarkan aku menyelesaikannya, pasti sakit kan?" Jinhwan mengangguk dan membiarkan Junhoe kembali pada posisi awalnya.
"I'll be quick, jangan tahan desahanmu karena ruang ini kedap suara," Jinhwan mengangguk dan menggigit bibirnya mnegantisipasi perlakuan Junhoe.
"Uuunghh aah" Jinhwan mendongak dan mendesah saat Junhoe melahap habis miliknya dan menghisapnya dengan kuat. Junhoe hanya ingin Jinhwan segera keluar.
"Mmmhh…cumh aah…" Jinhwan meremas rambut Junhoe dan mendorong kepala Junhoe semakin dalam saat ia keluar. Junhoe menelan semua cairan Jinhwan dan tersenyum melihat Jinhwan yang kesusahan mengatur nafas.
"You're such an cute girl…" Jinhwan memandang Junhoe dengan mata memicing disela helaan nafasnya yang memburu.
"I'm…hah hah not…hah an girl," ucap Jinhwan susah payah diantara deru nafasnya. Membuat Junhoe terkekeh dan mencium bibir Jinhwan dengan lembut. Junhoe membenarkan celana dan short Jinhwan lalu merapikan roknya dan menuntun Jinhwan untuk turun dari meja.
"Kakiku lemas," ucap Jinhwan pelan sambil menyandarkan dirinya pada Junhoe.
"Baiklah, istirahatlah disini sementara aku akan mengurus namja tadi hm. Saranghae Kim Jinhwan" ucap Junhoe mengecup pipi Jinhwan kemudian keluar dari ruang detensi.
Sekeluarnya Junhoe dari situ, Jinhwan meraba wajahnya yang memanas karena ingat apa yang baru saja dilakukan Junhoe padanya. Ia tersenyum dan mmejamkan matanya. Ia sungguh bahagia karena Junhoe menyukainya juga. Tapi ia masih agak ragu karena Junhoe adalah namja yang suka mengerjai orang.
"Nado saranghae Junhoeya" bisik Jinhwan sambil menutup wajahnya dengan malu.
X
"Apa? Kau … maldo andwe. Dimana pikiranmu sampai melakukannya diruang detensi ha? Kau tahu Seunghoon itu bukan namja yang mudah diajak kerja sama," maki Hanbin membuat Junhoe menutup kedua telinganya dengan jari. Mengabaikan makian Hanbin.
"Astaga dasar bocah, lalu dimana Jinhwan hyung?" Bobby menggeleng pelan saat Junhoe menunjuk kedalam ruang detensi yang tertutup rapat.
"Dia mungkin tertidur," sahut Junhoe acuh.
"Oh sesange, aku benar benar sebal memiliki ketua OSIS cabul macam dirimu, Goo Junhoe!" Junhoe menaikkan alisnya dan memandang Hanbin.
"Kau hanya belum tahu saja seberapa cabul kekasihmu itu dibanding diriku," Hanbin melotot dan memandang Bobby yang pura pura tak melihatnya.
"Apa yang kalian sembunyikan? Katakan padaku," ucap Hanbin memandang tajam keduanya. Bobby mendelik dan mengumpat Junhoe saat pandangan Hanbin tak mengarah padanya.
"Tanyakan pada kekasihmu, aku tidak ikut ikutan." Ucap Junhoe sembari mengangkat kedua tangannya.
"Yaak, satu satunya yang harus bertanggung jawab itu kau! Kenapa jadi melemparnya padaku?" balas Bobby tak terima membuat Hanbin memjamkan matanya dan memijit kepalanya. Menghadapi dua orang yang bertengkar merupakan ujian tersendiri untuk Hanbin. Ditambah lagi jika yang bertengkar adalah Goo dan Kim ini.
"Jika kalian tidak mau mengaku, tidak ada jatah untuk kalian karena aku akan membawa Jinhwan hyung pulang ke apartemenku yang lama." Ucap Hanbin membuat keduanya melotot dan protes tak terima.
"Jangan bawa Jinny ku karena itu salah kelinci gila ini," ucap Junhoe lalu masuk ruang detensi dan menguncinya.
"Yaak Goo brat, kembali kau…" teriak Bobby sambil mengejar Junhoe yang lebih dulu menutup pintu detensi.
"Jadi Kim Bobby, ada yang ingin kau jelaskan tentang semua ini?" ucap Hanbin sambil bersedekap didepan Bobby.
"Aa…aah itu… itu…" Hanbin menaikkan alis dan dagunya menantang Bobby.
Junhoe menatap Jinhwan yang sedang tertidur disofa dengan senyuman yang lembut. Namja itu begitu mengagumi sosok cantik didepannya. Dan ia beruntung bisa mendapatkan namja itu. Masalahnya sekarang hanya Seunghoon. Bagaimana ia bisa menyelamatkan reputasi baiknya sebagai ketua OSIS?
"Persetan dengan namja itu. Jika dia berani menggangguku, maka aku tak akan segan meski dia juga anggota OSIS," gumam Junhoe pelan kemudian mengambil jaketnya dan menyelimuti kaki Jinhwan.
X
Junhoe dan Jinhwan berjalan pelan menyusuri lorong yang cukup sepi siswa berlalu lalang karena jam pulang sudah berdering sejak 30 menit yang lalu. Mereka sengaja pulang terakhir mengingat tadi saat istirahat Jinhwan membuat sekolah gempar dengan kedatangannya sebagai kekasih Junhoe.
"Apa nanti benar tak apa? Pantatmu bisa sakit," Jinhwan mendengus dan memukul lengan Junhoe dengan kesal.
"Berhenti menggodaku dengan bahasa frontal semacam itu, Goo Junhoe. Aish" Junhoe mengusap lengannya dan meminta maaf pada Jinhwan yang cemberut dan berjalan mendahului Junhoe ke parkiran. Junhoe tersenyum pelan kemudian menyusul Jinhwan yang berdiri agak jauh darinya. Mereka berhenti tepat dideretan sepeda dan Jinhwan menunggu Junhoe yang sedang mengambil sepeda merah miliknya. Junhoe berhenti didepan Jinhwan dengan sepedanya dan memandang Jinhwan dengan tatapan penuh penyesalan dan senyum lebar.
"Aku benar benar membencimu Goo," Junhoe mengatupkan kedua tangannya tanda ia meminta maaf pada Jinhwan.
"I love you too swetty," ucap Junhoe membuat Jinhwan mendengus dan berjalan mendekati Junhoe. Junhoe melepas tangannya dari stang sepeda agar Jinhwan bisa duduk di rangka besi didepan tempat duduknya. Jinhwan duduk perlahan dan berpegangan pada stang sepeda dengan erat.
"Sakit?"
"Tentu saja pabo," balas Jinhwan ketus membuat Junhoe berinisiatif melepas jaketnya yang lumayan tebal.
"Kau mau apa?" tanya Jinhwan bingung melihat Junhoe sibuk sendiri.
"Berdiri sebentar," ucap Junhoe kemudian meletakkan jaket itu pada rangka besi didepannya saat Jinhwan berdiri.
"Bagaimana? Masih sakit?" Jinhwan menggeleng pelan dengan semburat tipis menghiasi pipinya. Hal itu membuat Junhoe tersenyum kemudian memakai tasnya kembali. Junhoe mengayuh sepedanya pelan dan Jinhwan memekik pelan saat merasa pergerakan sepeda yang tidak stabil.
"Goo Junhoe jangan main main, aku masih ingin hidup," ucap Jinwhan disela teriakannya. Junhoe sendiri sudah tertawa sejak ia mulai mengayuh sepedanya tadi.
"Aku tidak akan menyakitimu, karena tubuhmu itu sangat berharga. Jadi kau tidak perlu khawatir," ucap Junhoe membuat Jinhwan menggerung dengan manja. Ia kesal dengan sikap namja itu tapi ia tak bisa berbuat apapun karena takut dengan laju sepeda yang kencang.
Tak sampai 10 menit mereka sudah sampai dicafe. Dan surprise untuk mereka melihat banyak fans Junhoe yang sudah berada didalam café dan memandang mereka dengan tajam.
"Wow, beritanya cepat sekali menyebar?" ucap Junhoe pelan sambil memarkir sepedanya. Jinhwan sendiri menunduk begitu tiba dicafe karena ia menyadari banyak mata yang menusuk lewat pandangan mereka. Junhoe mengambil jaketnya yang masih dipegang Jinhwan dan memakaikannya pada namja itu lalu menuntunnya masuk kedalam café.
"Junhoe yaa, siapa dia?"
"Benar dia yeojamu?"
"Kenapa kau memilihnya? Apa aku kurang cantik? Lihatlah dia begitu pendek," gasp, Jinhwan mendongak dan memandang tajam pada seorang yeoja dengan name tag Hyori yang baru saja mengatainya pendek. Jinhwan akan mendamprat yeoja itu jika saja Junhoe tidak membelai pipinya dan menggeleng. Junhoe menarik Jinhwan ke lantai atas untuk mengganti baju.
"Istirahatlah dikamar, aku akan menangani kekacauan dibawah." Jinhwan menggeleng dan menahan tangan Junhoe yang hendak pergi meninggalkannya.
"Aku disini untuk bekerja, bukan untuk lebih membebanimu" ucap Jinhwan pelan sambil menatap pada Junhoe. Junhoe menghela nafasnya saat tahu ia tak bisa menolak keinginan Jinhwan.
"Baiklah, tapi berdiri didepan kasir bersama Hyejin atau bantu Jin hyung didapur. Mengerti?" Jinhwan mengangguk dan mengganti bajunya kemudian ikut turun dengan Junhoe.
"Kalian benar benar, aku terkejut saat mereka datang beramai ramai kemari dan menanyakan siapa yeoja yang bersamamu disekolah tadi. Dan demi kue kueku yang enak, mana aku tahu apa yang terjadi disekolahmu?" gerutu Seok Jin atau biasa dipanggil Jin saat Junhoe menghampirinya dan memakai apron pelayan.
"Mianhae hyung, aku sendiri juga terkejut. Yeoja ini benar benar suka menggoda," Jinhwan mendelik pada Junhoe yang melempar wink padanya. Junhoe tersenyum kemudian keluar dari dapur dan mulai melayani para tamu. Jinhwan sendiri juga langsung keluar ke kasir saat Jin menatapnya menelisik dari atas ke bawah.
"Eonnie, apa eonnie baik baik saja?" Jinhwan mengangguk mendengar pertanyaan Hyejin. Hyejin menghela nafas lega sambil mengusap dadanya.
"Syukurlah jika begitu. Karena aku tahu sebrutal apa fansnya Junhoe. Oh ya, ngomong ngomong sejak kapan eonnie berpacaran dengannya? Dan…astaga kalian semalam menginap berdua disinikan?" Jinhwan langsung membekap mulut Hyejin karena seorang yeoja menghampiri meja kasir dengan pandangan tajam pada Jinhwan.
"Meja nomor 14, berapa bill nya?" tanya customer itu dengan sinis.
"Uum, meja nomor 14… semuanya 20.000 won." Ucap Jinhwan pelan sambil melihat pada layar didepannya. Customer itu mengambil uang dan melemparkannya pada Jinhwan kemudian pergi tanpa mengatakan apapun.
"Gamsahamnida," ucap Jinhwan sambil tersenyum dan menunduk sopan. Hyejin mengernyit kasihan saat melihat Jinhwan tetap profesional meski diperlakukan seperti itu.
"Eonnie…"
"Gwenchana, aku sudah terbiasa dengan yang seperti itu." ucap Jinhwan sambil tersenyum dan memasukkan uang kedalam mesin. Jinhwan mengalihkan pandangannya dan mendengus pelan saat melihat Junhoe tersenyum dengan ramah dan membiarkan para pelanggan itu menyentuh tangannya. Hyejin mengikuti pandangan Jinhwan kemudian terkekeh pelan.
"Eonnie cemburu ya? Aii kwiyeowo," ucap Hyejin sambil mencolek pipi Jinhwan.
X
Café tutup pukul 9 malam. Jin dan Hoseok selesai berganti baju dan sedang menunggu Taehyun yang belum selesai.
"Noona, benar tadi kau datang kesekolah Junhoe dan mengaku didepan semua fansnya?" Hoseok bertanya dengan wajah antusias. Sedari tadi ia ingin bicara dengan Jinhwan mengenai hal ini. Tapi pelanggan tak henti hentinya datang untuk memastikan berita Junhoe yang sudah menyebar. Beruntung Jinhwan pindah ke dapur setelah pukul 4 sore tadi. Jika tidak bisa berlubang tubuhnya dipandangi para uke kelaparan yang sedang mencari dirinya.
"Hosiki, bisa kau diam dan berhenti membahas hal itu? Jinny sudah kelelahan," balas Jin sambil memutar matanya malas. Rekannya ini memang selalu kekanakan. Jinhwan tersenyum mendengar pembicaraan keduanya.
"Baby, naiklah keatas dan bersihkan dirimu lalu pergi istirahat. Biar aku yang kerjakan sisanya." Ucap Junhoe muncul dari depan dengan setumpuk piring dan gelas. Jinhwan menggeleng dan menyusul Junhoe kedapur. Meninggalkan Hoseok yang mengedipkan matanya menggoda Jinhwan tapi sayang sekali namja imut itu tidak melihatnya.
"Biarkan aku membantumu. Aku juga bekerja disini. Aku tidak mau bayaranku dipotong," ucap Jinhwan lalu menubruk punggung Junhoe karena namja itu berhenti mendadak. Junhoe meletakkan baki berisi piring kotor itu dan berbalik menatap Jinhwan.
"Aku tahu kau sudah lelah. Jangan paksakan dirimu. Lagipula besok kau ada jadwal kuliah pagi bukan?" Jinhwan menggeleng keras.
"Besok kau juga harus sekolah. Setidaknya jika dikerjakan berdua akan lebih cepat selesai bukan?" Junhoe memejamkan matanya kemudian menatap Jinhwan dalam.
"Besok aku dispen masuk siang untuk festival. Jadi tidak masalah aku bangun kesiangan. Sekarang cepat naik dan mandi. Sana," Junhoe mendorong Jinhwan hingga ia berada didepan tangga. Hoseok dan Jin menatap dengan penasaran sementara Taehyun terkekeh melihat wajah cemberut Jinhwan. Hyejin dan Jina mengacungkan kepalan tangannya menyemangati Jinhwan dari bawah dengan kikikan mereka. Membuat Jinhwan tambah mendengus dan naik keatas.
"Kami duluan Jun, istirahatlah dengan baik dan jangan 'bermain' terlalu larut," ucap Jin tak acuh membuat Junhoe mendelik.
"Yaah hyung, apa apaan bicaramu itu?" balas Junhoe sambil mengantar mereka kedepan.
"Jangan lupa pengamannya. Aku belum mau menjadi ahjushi," sahut Hoseok membuat Jin menggeplak kepalanya. Dan Junhoe yang terkekeh.
"Kau tidak lihat ada yeoja disini ha? Paboya," ucap Taehyun sambil menggeleng malas sementara Jina dan Hyejin menutup telinga mereka dengan jari.
"Lalalala kami tidak dengar, tenang saja." Balas keduanya kesal. Hoseok hanya meringis sambil mengelus kepalanya yang berdenyut.
X
Hampir Jinhwan menutup matanya saat ia mendengar pintu terbuka dan Junhoe masuk dengan kemeja putih dan celana hitam tanpa apron.
"Junhoe, tadi aku sudah menyiapkan air hangatnya. Mungkin sudah dingin lagi." Ucap Jinhwan sambil duduk diatas ranjang dengan mata setengah terpejam.
"Gomawo, nanti akan kupanaskan lagi. Tidurlah duluan, matamu seperti terkena lem," kekeh Junhoe kemudian mengelus dan mengecup pipi Jinhwan. Membuat namja itu tersenyum dengan mata terpejam. Junhoe berjalan ke almari dan mengambil baju ganti kemudian memandang Jinhwan yang sudah berbaring diranjang dengan mata terpejam erat.
"Mungkin besok giliran appa dan umma yang akan datang kemari menghakimiku, astaga… apa salahku?" gumam Junhoe sambil berjalan kekamar mandi.
Junhoe keluar dengan rambut basah dan sepasang kaos putih serta celana pendek berwarna hitam. Ia mengeringkan rambutnya dengan handuk kemudian berjalan keranjang. Junhoe merebahkan dirinya dan terkejut saat Jinhwan langsung memeluknya dengan erat. Junhoe tersenyum dan balas memeluk tubuh kecil itu. Melindunginya dari udara dingin.
X
Jinhwan baru saja selesai membuat sarapan dan kembali ke kamar untuk mengambil tasnya. Ia tersenyum saat mendapati raut damai Junhoe yang sedang tertidur. Jinhwan berjalan pelan menghampiri Junhoe kemudian mengecup bibirnya dengan cepat. Ia takut mengganggu tidur namja itu.
"Morning little devil," bisik Jinhwan kemudian berjalan keluar dan turun kebawah. Ia harus berangkat kuliah pagi ini. Jinhwan membuka pintu dan matanya membola saat mendapati sepasang namja didepan pintu.
"Oh, syukurlah pintunya terbuka. Terima kasih nak, dan dimana pemilik cafe ini?" tanya namja mungil dengan ramah.
"O..oh aa..." Jinhwan tergagap pelan dan naja mungil itu langsung mencibut pipinya dengan gemas.
"Aigoo aigoo, kau imut sekali. Siapa namamu?" Jinhwan meringis sambil mengusap pipinya.
"Yeobo, ingat kita kemari untuk menemui Junhoe. Hilangkan kebiasaanmu yang suka mencubit pipi anak orang," Jinhwan tersentak dan memandang kedua orang itu.
'Kenapa mereka mencari Junhoe? Apa mereka mengenalnya?' batin Jinhwan sambil menatap keduanya.
"Ah iya maaf, kemana Junhoe? Apa kau pegawai baru? Aku belum pernah melihatmu," Jinhwan mengangguk kemudian menyilahkan keduanya masuk.
"Junhoe sedang tertidur diatas. Akan saya bangunkan sebentar," namja mungil itu segera berdiri mendahului Jinhwan.
"Biar aku saja yang bangunkan," Jinhwan mengernyit pelan namun mengikuti kemana namja mungil itu berjalan. Jinhwan memandang dari kejauhan saat namja itu mencoba membangunkan Junhoe.
"Yaa, iroena. Kau tidak pergi sekolah eoh? Kau mau membolos?" Junhoe hanya bergumam tanpa membuka matanya. Membuat namja yang membangunkannya berdecak malas.
"Aku sudah bilang padamu aku masuk siang hari ini sayang, bisakah kau tidak menggangguku untuk 20 menit kedepan? Kau bisa berangkat duluan bukan?" namja itu membulatkan matanya saat mendengar suara rendah Junhoe. Dengan cepat namja itu memukul pipi Junhoe dan membuat namja itu membuka matanya.
"Um...umma," ucap Junhoe kaget sambil melebarkan matanya. Jinhwan tersentak saat tahu bahwa yang baru saja ia persilakan masuk adalah kedua orang tua Junhoe. Junhoe bergegas duduk dan matanya membulat saat melihat Jinhwan berdiri didekat pintu dan appanya yang tepat berada didepan pintu.
"Mwo, Kau terkejut melihat umma? Jadi bisa kau jelaskan siapa yang kau panggil sayang itu?" Junhoe mengucek matanya dan mengabaikan pertanyaan ummanya. Ia menguap pelan kemudian turun dari ranjang. Membuat namja yang berstatus ummanya itu mendesis jengkel.
"Goo Junhoe, umma bertanya padamu"
"Morning umma, kau bisa pergi kuliah sekarang. 30 menit lagi kau akan terlambat," ucap Junhoe kemudian berjalan kearah Jinhwan dan mengecup keningnya lalu mendorong namja itu keluar. Bahkan sebelum ummanya sempat membuka mulut.
X
Junhoe mendengarkan pertanyaan Jinwoo dengan wajah malas.
"Umma, aku bisa terlambat jika aku menjelaskannya sekarang. Aku berjanji nanti aku akan menjelaskannya dan mengajaknya menginap dirumah. Bagaimana?"
"Astaga anak ini, umma hanya bertanya tentang anak tadi. Kenapa kau menciumnya? Sedangkan para pegawaimu bilang kekasihmu itu yeoja." Junhoe memutar matanya. Terkadang ia juga kesal saat kepekaan berfikir ummanya melambat.
"Itu sama saja yeobo. Kau tahu putramu, dan dia tidak akan ingkar pada ucapannya. Biarkan ia pergi kesekolah." Ucap Mino membuat Jinwoo mendengus pelan.
"Arraseo, sana pergi dan jangan lupa janjimu untuk membawanya kerumah nanti malam," Junhoe tersenyum lebar dan mengangguk. Ia memajukan wajahnya dan mengecup pipi Jinwoo dan Mino bergantian.
"Yaksokhae umma, aku pergi sekolah dulu." Ucap Junhoe kemudian turun dari mobil.
"Kau terlalu memanjakan putramu, tuan besar Goo," cibir Jinwoo membuat Mino terkekeh pelan.
TBC
hallo, lama tidak muncul setelah sekian lama. ampun, jangan bantai saya. kkkk oh ya. surprise untuk kalian semua para JunHwanShipper. ottae? cukup 'anget' kan? mana diruang detensi pula #grin. oh ya Dyo mau bilang kalau mungkin mulai dari chap ini Dyo gak bisa lanjutin ff ini dan yang lainnya. mianhae jeongmal. tapi kalian nggak perlu cemas kok. ada temen yang katanya sih 'adik'ku yang akan megang semua FF ku khususnya ff ikon. setengah chap ini yang buat dia. termasuk semi M nya. trus kemarin yang nanya akun fb sama wattpad maaf banget aku nya sibuk hehe. nanti aku tanyain sama Dav deh. Oh, dia pesen katanya kalo ada yang mau masuk ke grup Fb, kalian bisa sertakan nama akun fb kalian dikomentar. tapi satu yang perlu kalian pahami, dia itu suka nge SWEEP member yang nggak ikut rulenya. kemaren dia bilang udah ada satu ff judulnya dimension pairing Junhwan sama Sichul. dan ff yang dia buat bukan cuma YG aja. jadi kalau kalian (maaf sebelumnya) biasa fanwar hehe, mending jangan masuk. kecuali kalian bener bener pengen baca FFnya dia. maaf ya panjang lebar begini. nanti kalo Dyo udah sempet lagi Dyo akan nerusin kok. tapi untuk sementara waktu ini biarkan Dav yang pegang :) see you and Let's Get Dumb
N.B : sorry for the typo and give review please, see you next chapter.
Thanks to : park soohee, thinki, hazelzel
