Well, gue nggak nyangka sama respon fic ini, gue pikir bakal banyak yg ga suka mengingat ini pertama kalinya gue bikin fic sejenis gini. Temen gue yang baca fic ini sekilas aja ngatain gue mesum, sial banget...
Udah cukup gue ngoceh disini deh, oh ya gue Cuma ngasih tau kalo fanfic di chapter kali ini gue ngejelasin lebih dari sisi Sakura meski gue tetep pake sudut pandang orang ketiga. Kalau di chapter awal gue dominan jelasin dari sisi Sasuke
Oke baby, Happy Reading.. ^_^
.
.
.
SHUT UP, AND DANCE UNDER THE RAIN
Chapter 2
.
.
.
Disclaimer Naruto by Masashi Kishimoto
.
.
.
Rate M
WARN Lime/Lemon explisit maybe, penuh dengan kalimat umpatan yang kasar
just for 18+
Bagi yang ngerasa di bawah umur jangan main kesini,
Atau dosa di tanggung sendiri xD
.
.
.
Fanfic ini dan segala kekurangannya
so
DLDR (Don't Like Don't Read)
Just click back oke !
.
.
.
o0o
.
.
.
.
Sakura
Beberapa bulan telah berlalu saat kejadian itu menimpa dirinya, dan Sakura tidak bisa melupakannya. Ia menatap jijik tubuhnya yang terpantul dari cermin besar di hadapannya. Ia sangat menyesal karena tidak bisa menjaga dirinya dan membiarkan pria brengsek yang paling di bencinya menodai kehormatannya yang selama ini ia jaga baik-baik.
Setelah kejadian itu, ia tidak masuk ke kampusnya selama satu minggu dan terus menghindari kontak apapun yang akan membuatnya bertemu bajingan itu lagi. Ia juga tidak bisa lagi menatap mata safir yang biasanya selalu memandangnya hangat itu. Ia tidak ingin melihat pria yang di cintainya kecewa jika mengetahui kekasihnya tidur dengan sahabatnya. Ia tidak sanggup.
Dari pada ia melihat Naruto kecewa karena penghianatannya, meski itu tidak murni ia lakukan atas keinginannya sendiri. Tapi tetap saja, ia berhianat. Ia memutuskan untuk mengakhiri pertunangan mereka. Meski ia harus merasa bahwa kini jiwanya kosong dan hatinya hancur berkeping-keping.
Uchiha Sasuke
Pria stoik yang menjadi pangeran kampus dan di puja hampir semua gadis di kampus kecuali dirinya tentu saja. Ia bahkan tidak mengerti, apa yang dilihat wanita-wanita itu dari bajingan brengsek yang suka mempermainkan wanita seenak hatinya seperti Sasuke.
Dan mengingat tentang sosok Sasuke hanya membuatnya memutar kembali memori tentang kejadian itu. Membuat wajahnya memerah, bukan hanya memerah karena malu tapi juga karena marah.
Meskipun ia tidak menikmatinya, tapi ia tetap bisa merasakan rasanya. Rasa sakit saat penis itu mengoyak selaput daranya. Rasa terhina saat penis besar dan panjang itu menghujam keras dan dalam dirinya. Juga amarah saat dirinya begitu mengetahui bajingan itu menumpahkan spermanya di dalam rahim miliknya.
Sakura refleks menyentuh perut rata miliknya, pandangannya menyendu. Ia jelas mengingat bagaimana depresinya dirinya saat mengetahui bahwa ia tengah hamil anak dari bajingan itu. Dirinya bahkan telah beberapa kali hampir mencoba menghabisi nyawa bayinya sendiri.
Tapi pelukan dan air mata Ino sahabatnya menyadarkan dirinya. Bahwa bagaimanapun brengseknya ayahnya, bayi itu tetaplah tidak bersalah dan tidak patut menerima hukuman dari dirinya. Secara perlahan, kini ia bisa menerima dengan tulus kehadiran bayi yang bergelung nyaman di dalam rahimnya. Ia bahkan telah jatuh cinta padanya saat ia mendengar detak jantungnya yang lemah itu untuk pertama kali.
Dan atas desakan dari Ino juga ia mau menemui Sasuke dan meminta pertanggung-jawaban pria itu. Ia tidak akan meminta pria itu menikahinya, karena demi Tuhan ia tidak sudi jika harus menghabiskan sisa hidupnya dengan pria semacam Sasuke. Ia hanya ingin Sasuke mengakui dan membiarkan ia memberikan marga pria itu pada anaknya kelak.
.
.
.
Sakura melihat Sasuke yang mengernyit saat mendengar ucapannya. Sial, harusnya ia tidak menuruti Ino untuk menemui bajingan ini. Ia bisa menghidupi bayinya seorang diri dengan harta yang ia warisi dari orang tuanya yang telah meninggal. Ia juga tidak membutuhkan nama Uchiha sialan tersemat ke dalam nama yang akan anaknya miliki nanti.
"gugurkan dia Sakura, jangan bermimpi aku akan mengakui dia sebagai anakku dan kau bisa menggunakan nama keluargaku seenaknya saja. Aku bahkan tidak yakin jika dia benar-benar anakku, mungkin saja jalang sepertimu tidur dengan banyak pria seperti si dobe itu misalnya, meski akulah yang mengambil keperawananmu malam itu".
Dasar bajingan, ia memang sudah menduganya. Tapi saat mendengarnya langsung keluar dari mulut bajingan itu tetap saja rasanya sangat sakit. Sakura ingin sekali menendang selangkangan Sasuke hingga pria itu jadi impoten dan tidak bisa menggunakannya lagi untuk memperkosa gadis manapun.
"terkutuklah kau bajingan. Aku tidak pernah membiarkan siapapun menyentuhku bahkan Naruto yang merupakan pria yang kucintai. Tapi, bajingan yang tidak memiliki otak dan hati sepertimu mana mengerti" Wanita itu tersenyum sinis sebentar sebelum melanjutkan ucapannya "dari awal memang tidak pernah mengharapkan pria sepertimu akan menyetujuinya, lagipula aku tidak sudi anakku yang berharga akan memakai nama keluarga dari ayahnya yang menjijikkan ini. Tapi setidaknya aku mencobanya karena permintaan sahabatku".
Sakura langsung membalikkan tubuhnya dan melenggang pergi meninggalkan Sasuke dengan rahangnya yang masih mengeras karena marah. Tapi, sebelum wanita itu benar-benar menghilang dari pandangan Sasuke, dia berbalik dan berkata "Selamat tinggal Bajingan, ku harap kita tidak akan bertemu lagi"
.
.
.
Semenjak itu Sakura pindah ke Suna dan melahirkan putri cantiknya yang kemudian ia beri nama Sarada. Entah itu keberuntungan atau kesialan bagi Sakura karena putrinya mewarisi sebagian besar gen ayahnya. Rambut hitamnya, manik hitamnya, kulit putihnya yang cenderung pucat. Sarada memiliki wajah yang sangat cantik seperti jelmaan seorang dewi yunani.
Dia adalah gadis kecil yang sangat manis di hadapannya, tapi busuk jika di belakangnya. Ia sungguh menyesal karena gadis itu mewarisi mulut tajam darinya dan Sasuke yang pandai melontarkan omong kosong yang membuat siapapun bahkan dirinya sendiri menutup mulut.
Tapi, bagaimanapun rupa dan sifat Sarada ia sangat menyayangi putri kecilnya itu. Bahkan hanya dengan memandang wajah putrinya, mampu kemarahan dan kebenciannya pada Sasuke seolah menguap begitu saja. Karena bagaimanapun tanpa bajingan itu ia tidak akan memiliki Sarada.
Meski ia sudah tidak membenci Sasuke, dirinya tidak pernah berharap pria itu akan muncul kembali di hadapannya seperti saat ini. Ia merasa jantungnya seakan jatuh ke lantai saat pria pantat ayam itu berjalan mendekat ke arahnya dengan seringai memuakkan di wajahnya.
Brengsek ! Sakura mengumpat keras saat ia melihat tangan Sasuke menggenggam tangan putrinya. Sisa amarah nyatanya masih ada di hati Sakura. Tanpa sadar ia menyentakkan tangan Gaara yang tadi menggenggamnya. Oh, ia bahkan melupakan kenyataan bahwa pria merah yang akhir-akhir ini bersikap aneh itu tengah mengajukan lamaran kepadanya.
Sakura berjalan dengan langkah lebar ke arah putrinya dan ayah brengsek putrinya. Tangannya mengacung ke arah pria berwajah datar itu.
"apa yang kau lakukan dengan putriku bajingan?" Sasuke tersenyum miring ke arah Sakura.
"ehm.. menemuimu mungkin, dan kalau kau lupa dia juga putriku Sakura"
Taukah kalian? Pernyataan yang baru saja di umumkan oleh Sasuke membuat Sakura ingin tertawa terbahak-bahak. Apa yang bajingan itu katakan? Dia mengakui bahwa Sarada putrinya. Ada apa dengan otaknya?
Senyum sinis muncul di wajah Sakura "dia hanya putriku seorang. Kau sudah tidak berhak mengakui bahwa dia putrimu lagi setelah kau menyuruhku membunuhnya dulu. Lagipula dia tidak membutuhkan ayah seorang bajingan sepertimu"
Deheman kecil menginterupsi percakapan kedua orang itu. Sakura menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Sial, dia melupakan kehadiran putrinya disini.
"mama, kupikir ada seseorang disini yang pernah mengatakan bahwa umpatan itu tidak diijinkan?" Sakura mengerjap saat mendengar kalimat yang diucapkan putrinya dengan wajah polos. Wanita bersurai pink itu langsung berjongkok dan menatap wajah putrinya dengan raut menyesal.
"maafkan mama sayang, mama sungguh tidak sengaja berkata buruk di hadapanmu" Sarada tersenyum manis "tak apa mama"
Sasuke mengernyit melihat interaksi ibu - anak di hadapannya ini. Sial, Sakura dan putrinya ternyata bermuka dua, membuat Sasuke mendengus keras.
"bagaimana kau bisa bertemu baj.. er.. paman Sasuke ini sayang?" pertanyaan Sakura membuat Sasuke lagi-lagi mendengus keras.
"kami tanpa sengaja bertemu di lantai bawah, kemudian berbasa-basi sebentar dan dia membawaku kemari untuk menjemputmu dan membuatkan dia keluarga yang sebenarnya"
Jawaban Sasuke membuat Sarada memutar bola matanya dan Sakura tertawa sarkatis "aku tidak berbicara denganmu brengsek, dan apa yang kau maksud dengan keluarga yang sebenarnya? Dia sudah hampir mendapatkannya sebelum kau datang dan merusak rencanaku dan Gaara"
Gaara? Astaga, Sakura melupakan pria itu dan saat ia berbalik dia melihat pria merah yang menjadi sahabatnya saat ia pindah ke Suna itu tengah memandang dirinya dan Sasuke dengan raut tak suka yang sama sekali tidak disembunyikan.
"er.. Gaara, perkenalkan dia Sasuke" Sakura memutuskan untuk saling mengenalkan kedua pria yang berdiri tegak dan saling berhadapan di sampingnya.
"jadi ini pria brengsek yang membuatmu dan Sarada harus hidup menderita" ucapan bernada benci yang di keluarkan Gaara membuat Sakura memutar mata.
Menurutnya Gaara terlalu berlebihan, ia dan Sarada tidak hidup menderita selama ini. Oke, dirinya memang sedikit kerepotan karena harus bekerja dan merawat Sarada sekaligus.
Oh ia juga memang sempat khawatir pada Sarada saat ia tau gadis kecilnya itu harus menerima hinaan dan cercaan dari teman-teman dan tetangganya karena tidak memiliki papa. Tapi, semua itu sirna saat ia melihat Sarada-nya hanya memutar bolanya sambil menyeringai angkuh dan berkata "urusi urusanmu sendiri dan gunakan mulutmu itu dengan bijak. karena apa? Ucapan kalian tidak akan berpengaruh padaku"
Saat itulah ia harus berterima kasih pada Sasuke yang telah mewariskan sifat menyebalkan miliknya pada putri mereka.
"berbicaralah dengan sopan pada papaku paman Gaara" suara lembut itu membuat Sakura tersadar dari lamunannya. ia melihat putrinya yang masih menyipitkan matanya, memandang tidak suka pada Gaara dan kemudian ia mendengus bosan saat ia melihat Sasuke tersenyum miring.
"mama, aku sudah menemukan papa dan ia juga mengakui kalau aku putrinya. Ia juga sudah meminta maaf padaku atas kesalahannya tanpa kuminta. Jadi kupikir mama harus menepati janji yang mama ucapkan padaku"
Sakura menghembuskan nafas berat, ah.. janji yang mengatakan bahwa dia akan memberikan keluarga lengkap dengan papa kandungnya jika mereka bisa bertemu lagi. Janji yang ia ucapkan saat putrinya meneteskan air matanya untuk pertama kalinya karena ia yang selalu menghindar saat Sarada bertanya tentang Sasuke padanya.
Wanita itu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lembut pada putrinya "ia Sayang, papa dan mama akan menikah dan kita akan menjadi keluarga seperti yang kau inginkan"
Sakura terharu saat melihat putri kecilnya itu tersenyum lebar dengan mata yang berkaca-kaca dan kemudian memeluknya erat-erat. "terima kasih mama, aku menyayangimu"
Setelah membalas pelukan putrinya dan berkata bahwa ia juga menyayanginya wanita itu kemudian berdiri dan memandang Gaara dengan raut wajah menyesal "maafkan aku Gaara, seperti yang telah kau dengar barusan. Aku sudah berjanji untuk memberi putriku keluarga dengan menikahi Sasuke, jadi aku tidak bisa menikah denganmu. Aku menyayangimu sebagai seorang sahabat Gaara, dari dulu dan sampai sekarang."
Dan ia melihat dengan jelas raut kecewa yang muncul di manik jade pria yang telah menemaninya sejak ia berada di Suna itu. "tapi, bukankah pria ini sudah menyakitimu Sakura?"
Ia tersenyum kecut "aku tau, tapi aku terlalu menyayangi putriku dan lebih memilih untuk bersama pria brengsek ini selamanya asal putriku bisa bahagia"
Sakura bisa bernafas lega saat melihat senyuman yang muncul di wajah tampan sahabat merahnya. Gaara mengusap kepalanya lembut sebelum menariknya kedalam pelukan hangat yang selalu disukainya. "baiklah, sudah kuduga kalau aku akan di tolak. Berbahagialah Sakura, jika pantat ayam itu bersikap brengsek sekali lagi katakan saja padaku dan aku akan dengan senang hati membunuhnya untukmu"
Ucapan Gaara membuatnya tersenyum dan mengangguk di pelukan pria itu sebelum ia merasakan tubuhnya di tarik. Membuat pelukan Gaara terlepas paksa darinya. Ia mengernyit saat merasakan tangan kekar lain di bahunya. "aku akan menjaganya mulai sekarang mata Panda, jadi jangan menyentuh wanitaku lagi" Sakura dan Sarada mendengus bersamaan saat mendengar kalimat posesif Sasuke.
.
.
.
Sakura tersenyum saat melihat Sasuke mengusap pelan kepala Sarada yang kini sudah terlelap di kamarnya. Ia tidak bisa melarang pria itu saat ia berkata bahwa ia akan mengantarnya dan putri mereka pulang. Lagipula mereka punya beberapa hal penting yang harus di bicarakan.
Ia menyadari jika kini ia harus terbiasa dengan keberadaan pria itu di hidupnya. Ia ikut bahagia saat melihat Sarada malam ini sering tersenyum karena biasanya gadis kecil itu jarang menampilkan ekspresi seperti itu.
"sarada sudah tertidur beberapa menit lalu kalau itu yang ingin kau ketahui" ia sedikit terkejut saat mendengar ucapan Sasuke yang masih memandang lembut putri mereka.
"aku bisa melihatnya Sasuke. Kurasa ada beberapa hal yang harus kita bicarakan tentang apa yang telah terjadi hari ini. Ikuti aku" setelah mengatakan hal itu Sakura langsung berjalan ke arah ruang tengah rumahnya setelah memastikan bahwa pria itu mengikutinya.
Ia menyuruh Sasuke duduk di sofa terlebih dahulu sementara dia mengambil dua gelas coklat hangat dan kemudian memberikannya satu pada pria itu.
"jadi apa yang membuatmu mengubah pikiranmu Sasuke? Bukannya dulu kau tidak menginginkan Sarada, kau bahkan tidak mengakuinya anakmu" ia mengernyit dahinya saat melihat Sasuke tersenyum.
"sebenarnya aku tau bahwa kau memang mengandung anakku dulu, Aku mengeluarkan benihku di dalam rahimmu kalau kau ingat"
Emosi Sakura mulai meningkat saat mendengar jawaban Sasuke "lantas kenapa kau menyuruhku membunuhnya dulu brengsek?"
Sasuke meringis "yah, dulu aku memang seorang bajingan yang hanya ingin bersenang-senang Sakura. Aku hanya berpikir kau hanyalah salah satu dari wanita-wanita jalang yang berusaha menjebakku dengan mengatakan bahwa kau hamil anakku"
Sakura benar-benar murka kali ini "ah, kenapa aku bisa melupakan fakta kalau kau seorang pria brengsek Sasuke. Jika kau tidak ingin banyak wanita yang hamil karenamu, harusnya kau bisa menjaga baik-baik penismu tetap di tempatnya bajingan."
"hei.. aku tidak pernah meminta mereka menghangatkan ranjangku selama ini. Mereka sendiri yang mengangkang-kan kaki mereka di hadapanku" dan buru-buru pria itu menambahkan saat melihat pandangan tajam Sakura yang di arahkan kepadanya "er.. tentu saja kecuali dirimu Sakura, aku memaksamu. Aku mengakuinya".
"aku tidak suka tatapan benci yang kau arahkan kepadaku dan malah menatap lembut kepada Naruto. Demi Tuhan, tidak ada yang memandangku seperti sebelumnya. Aku bahkan tidak mengenalmu sebelumnya dan hanya tau kau tunangan Naruto"
Sakura lagi-lagi mengernyit "apa yang kau harapkan dariku Sasuke? Aku memang membenci pria sepertimu yang tidak menghormati wanita sama sekali. Berbeda sekali dengan sahabatmu Naruto, karena sikapnya itu juga aku jatuh cinta padanya."
Sasuke mengedikkan bahunya pelan "wanita-wanita yang berada disekitarku hanyalah seorang penjilat Sakura. Mereka tidak tulus kepadaku, yang mereka lihat hanya wajah, tubuh dan hartaku. Jadi untuk apa aku menghormati mereka?"
Sakura mendengus "kau dan rasa percaya dirimu yang memuakkan, lalu bagaimana dengan Karin? Bukankah dia sedang mengandung anakmu, apa kau serius menyuruhnya untuk mengaborsi kandungannya?"
Sasuke menghela nafasnya pelan saat mengingat tentang wanita merah yang jalang itu "tentu saja Sakura, dia tidak mengandung anakku. Dia tidur dengan semua pria yang di temuinya. Lagipula aku selalu menggunakan pengaman saat tidur dengannya dan wanita-wanita jalang lain. Em.. mungkin ada kalanya aku lupa tidak mengenakannya. Tapi, aku bersumpah dia tidak mengandung anakku. Berbeda denganmu, aku sadar saat aku memperkosamu tanpa pengaman dan mengeluarkan semua benihku di dalam dirimu. Aku minta maaf, aku masih terlalu bodoh saat itu. Kau tau? Aku selalu memikirkanmu dan anak kita selama ini, meski aku tidak berusaha mencarimu. Lagipula aku percaya bahwa kita pasti bertemu lagi."
Sakura masih ternganga saat Sasuke selesai berbicara. Wow.. bukankah itu tadi kalimat yang panjang sekali? Seingatnya Uchiha Sasuke yang di ketahuinya itu hampir seperti orang bisu saking iritnya saat ia berbicara. Sepertinya ia harus memberi pria itu penghargaan. Tapi narasinya tadi masihlah tidak bisa membuatnya puas dan emosinya masih tinggi. Ia menghela nafas pasrah, lagipula apa yang bisa di harapkannya dari pria macam Sasuke.
"baiklah, aku percaya padamu Sasuke. Sekarang aku akan mengatakannya padamu. Kita menikah hanya karena putri kita, kau tidak perlu bersikap seperti seorang suami padaku. Kau hanya harus bersikap seperti ayah yang baik pada Sarada. Aku tidak melarangmu untuk kembali pada wanita-wanitamu, dan kau juga tidak berhak melarangku dengan pria-ku. Kita bebas seperti sebelumnya"
Ia sedikit tersengal saat merasakan tatapan Sasuke yang sangat tajam. Jauh lebih mengerikan daripada yang pernah dia ingat. "tidak Sakura! Kita akan menikah dan bersikap seperti pasangan suami istri lainnya. Kau istriku dan aku suamimu juga ayah Sarada. Aku sudah berjanji pada Sarada aku akan berubah untuknya dan untukmu. Tidak ada wanita dan pria lain di kehidupan kita"
Sakura mengangkat alisnya "kau yakin? Kupikir kau akan senang dengan keputusanku tadi"
Sasuke masih memandangnya tajam "tidak Sakura. Kalian berdua jauh lebih berharga dari wanita-wanita jalang itu. Lagipula kau satu-satunya wanita yang bisa benar-benar memuaskanku"
Wajah Sakura memerah mendengar kalimat Sasuke. Pria sialan!
"tapi, kita tidak saling mencintai Sasuke"
Sasuke tersenyum lembut, dan senyumnya itu membuat jantungnya berdebar keras. Oh apa yang terjadi padanya?
"aku mencintaimu Sakura. Dulu aku tidak mengakuinya, tapi 12 tahun kepergianmu aku merasa hatiku hampa dan sekarang aku merasa penuh. Jadi ku pikir ini sudah cukup untukku tau kalau aku mencintaimu, dan aku pasti akan membuatmu mencintaiku sama seperti kau mencintai Sarada"
Sakura ikut tersenyum karenanya, hatinya mulai menghangat "ku harap seperti itu"
.
.
.
o0o
.
.
.
Tbc
.
.
.
o0o
.
.
.
Kalo boleh curhat, rasanya gue pengen ngakak pas inget gue ngetik chapter fic ini di temenin sama lagunya si mbak 'Iyeth Bustami – Laksamana Raja Di laut'. Aneh kan? Dan ga nyambung banget, tapi bodo amat lah, gue nyaman aja sih karena gue lagu ngidam (kayak lagi hamil aja xD) dengerin lagu melayu, entah kenapa xD
Gue juga mau mengeluh nih. Berapa kalipun gue baca ulang cerita gue, selalu aja ada typo yang nyempil. Yang gue pikirin dan yang gue ketik kadang gak sinkron.
Gue ngetik ceritanya di lappy nih, padahal gue udah pelototin berkali-kali sampe mata gue sakit dan gue pikir udah bener meski tetep gak sempurna (karena kesempurnaan hanya milik Tuhan semata). Tapi pas udah gue publish pake hape, kadang ada beberapa kata yang tiba-tiba ngilang entah kemana.
Well intinya, gue minta maaf atas banyaknya kekurangan cerita gue ini. Mohon maklum ya, gue bukan penulis profesional, lagipula gua juga masih belajar.
.
.
.
Oke, gue akan sedikit menjawab atau menanggapi review kalian
Sasuke kena penyakit kelamin?
Er.. pengennya sih gitu. Tapi udah kejawab kan kenapa dia gak kena penyakit kelamin. Dia pake pengaman saat nidurin cewe-cewe jalang meski beberapa kali ia lupa. Dan khusus untuk Saku dia gak pake pengaman, makanya jadi deh Sarada xD
Umur Sarada 12 tahun dan dia ngomongnya vulgar banget (gak cocok banget sama usianya)
Hahaha emang ga cocok sih. Tapi Sarada hanya menggunakan mulut busuknya disaat tertentu aja. Sama kayak Sakura, jadi mereka berdua tuh kesannya bermuka dua. Kadang bisa manis banget kalo ngomong, kadang juga pedes banget. Tergantung sikon.
Apa karin benar-benar hamil anak Sasuke?
Sasuke sangat yakin kalo anak Karin itu bukan anaknya. Gue juga yakin kok xD kan si Karin disini jalang banget, dia itu hyperseks. Jadi dia tidur dengan siapapun yang dia mau. Dan lagi, Sasu pake pengaman gays..
Sasuke di bikin sengsara
Pengen banget deh gue bikin gitu, tapi ntar ceritanya malah tambah panjang dong. Kan gue ga bikin ceritanya panjang. Lagipula kasian Sarada dong kalo dia lebih lama lagi dapet papa xD
Usaha ayah anak itu untuk menggagalkan Sakura menikah dengan Gaara
Ga perlu usaha kok. Karena kemunculan Sasuke yang nggandeng Sarada aja udah bisa bikin Sakura jantungan. Sarada hanya perlu memunculkan ekspresi memohon dan voila... Sakura nurut, sama kayak Sasuke yang juga langsung nurut sama dia di pertemuan pertama mereka.
Bikin Sarada di perkosa?
Oh no, gue ga tega bikin anak kecil yang diperkosa. Kalo mamahnya kan seenggaknya udah gede xD
Perlembut bahasanya pake kata-kata sinis atau sindiran
Er.. kayaknya gue ga bisa deh. Maaf ya, gue ga pinter kalo soal sindir-menyindir. Gue terbiasa langsung ngomong nyablak gitu, meski kasar banget kedengerannya. Dan itu berpengaruh sama tulisan gue hehe. Sorry ya..
.
.
.
Thanks to:
Dianarndraha, Asiyah Firdausi, neripyon, Nurulita as Lita-san, ame to ai, williewillydoo, Kagaaika Uchiha, Mustika 447, donat bunder, UchiHaruno Sya-chan, HitsugayaWaifu, Laifa, IndahP, Joanna Kathrina 37, kakikuda, , Jamurlumutan462, Hyuugadevit-Cherry, akasuna no hataruno teng tong, star5riridscure, Greentea Kim, Kirara967, yana kim, Groovie, Yoshimura Arai, Guest, dina h, RyukiNamikaze, A panda-chan, hanazono yuri, keziaf, yo cherry here, , fuji, Sri Savers, KatoNamiga29, Shinma Hanasaki, zarachan, Blue Aurey, Pearl-kun, Dewindz, Caesarpuspita, yume
.
.
.
Thank you so much juga buat yang fav/foll fic ini ^_^
Jadi gimana kawan? Semoga chapter ini memuaskan dan ga bikin kecewa...
RnR please ^_^
