Disclaimer © Hajime Isayama


Armin sering kali melirik gadis blonde pucat itu dari kursi makannya diam-diam ketika makan malam. Dia selalu duduk dengan dua orang jangkung yang menjadi kawannya. Rainer dan Bertold. Tidak jauh dari posisi mejanya, Armin selalu menduga-duga apa yang dipikiran gadis itu ketika melihatnya selalu diam dengan ekspresi dingin.

Armin Arlert.

Dia pernah hampir mati ditelan Titan, namun Eren menyelamatkannya.

Dia pernah putus asa dalam sebuah harapan, dan gadis itu menolongnya.

Membawanya kembali bangkit dengan asa, bahwa mereka akan melihat laut bersama-sama penuh bahagia. Jadi Armin kembali merajut harapannya yang sirna. Menjalani hari penuh tragedi disekitarnya.

Annie Leonhardt.

Gadis berambut pirang pucat dan memiliki ekspresi sedingin es. Wanita tangguh yang nyatanya tidak lebih tangguh dari Mikasa. Armin menyukainya.

Menyukai Annie.

Mereka pernah duduk bersisian dengan menyandarkan punggung pada pohon besar di lapangan. Tepat pada saat istirahat. Ada kesunyian yang damai. Armin larut dalam pikirannya. Dia memikirkan apa yang akan terjadi esok, bagaimana dia menanganinya dan bagaimana cara agar semua siklus perputaran dunia ini tidak hanya berlanjut pada Titan yang menyerang dinding.

Di sampingnya Annie hanya diam. Terduduk dengan wajah datar.

"Hei Annie." Armin membuka percakapan. Dengan ekspresi ramah dan senyum lebar di wajahnya yang manis.

Gadis itu menoleh. Dia menatap Armin tanpa ekspresi. "Hn?"

Si Arlert tersenyum kian lebar, dia meremas jemari yang ada di pangkuannya bertanda gugup. "Apa nanti kau mau melihat laut bersamaku?"


.

.


Armin menutup matanya rapat. Dadanya terasa sesak. Rasa panas mengalir di kelopak matanya dan membuat aliran sungai kecil di pipi. Netra sewarna samudera itu masih terhalangi. Armin enggan membuka kelopak matanya barang sedetik.

Jemarinya mengelus kristal mengeras sang Female Titan di hadapannya.

"Hei Annie, apa kau masih mau melihat laut bersamaku?"


Salam hangat-,

Panda Merah