Jongin merasa kalau sehun sudah tidak waras sekarang, teman sekolahnya itu benar-benar tak normal berani menyebutnya manis. Heol, jongin adalah laki-laki dan harga dirinya seakan terinjak dengan sebutan itu, Oh sehun selalu tau bagaimana caranya mengejutkannya dan juga membuatnya kesal setengah mati, ia merasa sudah salah menerima job ini. Jongin tak ingin lagi bekerja sama dengan sehun, setiap kali sehun membuka mulutnya maka jongin selalu menahan emosinya tak meledak. Dan jongin merasa puas sudah memberi sehun hadiah berupa tendangan di tulang kakinya, dan itu jongin lakukan setelah pekerjaan mereka berakhir kemarin, sayangnya masih ada beberapa hari lagi yang harus dihabiskannya dengan sehun.

Dan sekarang ini, jongin tengah memakai sunblocknya, pemotretan kali ini dilakukan dipantai. Meski matahari tak terlalu panas, tapi setidaknya kulitnya terlindungi, mereka akan berada di pantai selama beberapa jam dan jongin tidak ingin kulitnya bertambah hitam karena pekerjaan ini.

"kau tetap hitam sekalipun kau memakai satu botol sunblock jongin"

Suara menyebalkan itu kenapa selalu datang saat jongin ingin menikmati harinya, sudah lama ia tak melihat pantai dan ia ingin menikmatinya untuk beberapa saat saja, tapi sehun selalu berhasil merusak harinya.

"dan ngomong-ngomong, apa kau tidak berpikir sudah keterlaluan kemarin? Lihat, kakiku biru karena ulahmu"

ujar sehun, ia menunjukkan kaki kanannya yang sedikit biru, sumpah demi apapun jongin itu laki-laki jadi tendangannya cukup keras juga, jadi wajar kalau sehun sampai kesakitan seperti ini. Jongin hanya meliriknya, tak berminat untuk meminta maaf meski ada sedikit rasa bersalah, tapi kebanyakan sih ia merasa puas. Oh sehun memang harus diberi pelajaran kan?

"seharusnya kau berterima kasih karena aku pemotretanmu tak berjalan lambat, kalau aku sampai tidak bisa berjalan habis sudah kau dipenjara"

Jongin memutar bola matanya malas mendengar kalimat sehun yang berlebihan, anak itu memang tak pernah berubah, masih menyebalkan dan selalu berlebihan terhadap sesuatu.

"kakimu tidak patah atau retak sehun, kau hanya perlu mengompresnya selama beberapa hari dan lebamnya akan hilang"

Balas jongin dengan santai, ia malas melayani ocehan sehun, ia tidak ingin moodnya jadi buruk hari ini, pemotretannya kali ini harus ia lakukan tanpa bantuan dari sehun lagi seperti kemarin, mendengar sehun menyebutnya manis seperti mimpi buruk baginya. Taemin bahkan tertawa terpingkal-pingkal kemarin, dan jongin harap tidak ada lagi yang tau mengenai apa yang terjadi kemarin atau ia akan jadi bulan-bulanan. Well, bagi orang-orang dekat jongin, mereka sudah tau buruknya hubungan jongin dan sehun, sehun bukan orang yang asing. Selain jongin dan sehun adalah teman satu sekolah, rumah mereka dikorea juga hanya beberapa blok, orang tua mereka saling kenal, taemin juga berteman baik dengan hyung sehun.

Meskipun sehun dan jongin berbeda sekolah setelah high school, tapi beberapa kali mereka juga bertemu, dan jongin tak pernah bertemu lagi setelah ia ke Jepang. Terakhir kali jongin melihat sehun adalah empat bulan sebelum ia berangkat ke Jepang, jongin selalu berusaha sebisa mungkin tak bertemu dengan sehun.

"kau tidak berubah, aish..kenapa mereka ingin kau yang jadi modelnya"

Rutuk sehun, namun jongin tak menanggapinya, terlalu malas. Jika ia menanggapi rutukan sehun, mungkin mereka bisa berdebat lagi. Dan jongin yakin itu tidak akan berlangsung dengan cepat, Oh sehun selalu punya cara membuatnya kesal dan juga selalu punya hal yang perlu didebatkan dengan jongin.

hunkai

hunkai

hunkai

hunkai

Luhan memperhatikan mereka sejak awal sebenarnya, jongin dan sehun. Kedua orang itu tak pernah berubah, selalu berdebat setiap bertemu, ada saja perkataan sehun yang membuat jongin membalasnya dengan kata-kata sarkastik, tapi sehun tak pernah jera. Lucu juga melihat mereka yang tak pernah akur, pertengkaran mereka lucu, jongin juga mudah sekali dipancing oleh sehun.

Luhan membiarkan mereka, toh sehun dan jongin sudah terbiasa dengan suasana panas diantara mereka, perdebatan mereka juga hanya tentang hal-hal kecil. Malah lebih lucu lagi nantinya kalau meeka berdua akur, itu adalah hal yang luar biasa menurut luhan. Luhan jadi penasaran bagaimana mereka akur, duduk bersebelahan saja mereka saling mengejek, dan sekarang mereka harus bekerja sama untuk waktu yang cukup lama, ah…luhan menantikan kelanjutan hubungan mereka sebenarnya. Sehun dan jongin itu cocok, biasanya pasangan yang tak terlalu akur seperti mereka dalam sebuah hubungan pasti akan bertahan lama, sayangnya baik sehun atau jongin sepertinya belum tertarik satu sama lain selalin sebagai musuh bebuyutan.

"aish benar-benar, dia membuatku kesal! Aku belum pernah bertemu model sesusah jongin"

Sehun datang dengan menggerutu, ia mengambil sebotol air mineral didekat luhan dan meminumnya dengan rakus hingga hanya tersisa setengahnya. Kemudian menatap sengit jongin yang juga sedang beristirahat.

"dia masih amatiran sehun"

"tetap saja, kalau tidak tau harus bagaimana kan bisa tanya padaku, tapi dia malah marah-marah padaku"

"memangnya kau bilang apa padanya?"

"aku bilang ' kalau posemu masih jelek begitu,aku tidak akan mengambil fotonya' dan dia malah ngambek, dia masih seperti anak kecil"

Luhan terkekeh, ketika sehun mengatakan hal seperti itu bagi luhan malah dia yang terlihat seperti anak kecil, wajar saja kalau jongin kesal padanya. Jadi luhan merangkul sehun dan membawanya mendekat.

"ya, pantas dia marah kalau kau berkata seperti itu, seharusnya kau lebih sabar"

"tensi darahku sepertinya sudah naik menghadapinya"

Ujar sehun masih dengan nada ketusnya, ketika pandangannya bertemu dengan jongin ia segera membuang wajahnya dengan kasar, jongin juga mendengus kasar dan memilih mengabaikan sikap sehun yang menyebalkan menurutnya.

"kalau kau dan dia sama-sama tidak ada yang mau mengalah, pekerjaan kalian tidak akan cepat selesai, ya.. perlakukan dia lebih lembut lagi"

"dia bukan wanita"

"tapi kau pernah bilang padaku kalau sikapnya seperti wanita yang sedang PMS"

"hyung, itu hanya perumpamaan, kau ini"

"itu artinya kau pernah menghadapi yang seperti itu kan, buktinya kau tau bagaimana wanita kalau sedang PMS"

Sehun menggelengkan kepalanya, malas mendengarkan luhan yang bukannya membuatnya lebih baik malah jadi tambah buruk. Ia mendongakkan kepalanya, beberapa jam yang lalu matahari masih bersinar dengan teriknya dan sekarang mendung sudah menyelimutinya, mungkin sebentar lagi hujan, dan sepertinya sehun harus menunda pekerjaan mereka lebih lama. Sehun tidak suka ini, itu artinya akkan lebih lama lagi dia berhadapan dengan jongin.

hunkai

hunkai

hunkai

hunkai

Hujan, dan jungkook sedang berada dirumah jimin, duduk didekat jendela dan memperhatikan ribuan tetes air yang turun, aroma hujan dan juga aroma kopi yang jimin buat menjadi satu. Jungkook sangat menyukai suasana seperti ini, rasanya tenang dan damai, suara tetesan air seperti menjadi melodi penenang yang bisa membuatnya merilekskan pikirannya.

"untung kau sudah disini"

Jungkook menoleh dan tersenyum melihat jimin. Jimin terlihat begitu manis dengan kaos merah kebesarannya, ah, setiap kali jungkook melihat jimin ia seperti melihat malaikat dalam wujud manusia, dimatanya sosok jimin terlampau indah, setiap goresan kuas dikanvasnya tak bisa mengalahkan keindahan jimin yang sejati, meskipun orang-orang sering menawari lukisannya dengan harga tinggi, jungkook tak akan pernah menjualnya, jimin hanya untuknya, apapun yang berkaitan dengan jimin tak akan jungkook sia-siakan.

Jimin sduah duduk didepannya, ia melampirkan selimut ketubuh mereka berdua, tapi jungkook malah menarik tangannya untuk mendekat dan mendekapnya kemudian menyelimuti tubuh mereka berdua, jimin yang awalnya kaget hanya membiarkannya saja, seperti ini lebih hangat untuk mereka.

"euhm, kalau tidak kau akan mati bosan"

Jimin libur hari ini, dan jungkook datang karena tau jimin tak akan kemanapun untuk liburannya hari ini, jadi jungkook menemaninya. Dan beberapa saat setelah ia sampai, hujan turun dengan derasnya.

"padahal sekarang kan musim semi"

Gumam jimin

"terlepas dari itu kau menyukainya kan hyung? Kau selalu bilang suka hujan"

"karena itukah kau menyukainya juga?"

Jungkook tersenyum dan menggumam. Tangan jimin terangkat dan menuliskan namanya di kaca jendela yang berembun kemudian jungkook juga ikut menuliskan namanya disana.

"waktu kecil, aku dan adikku suka sekali menulis nama kami didinding"

"itu hal yang biasa untuk anak kecil hyung"

"dinding kamar kami penuh hanya dengan tulisan tangan kami jungkook, kau tidak melihat wajah ibuku dulu, beliau selalu marah-marah, tapi aku tak pernah berhenti melakukannya hingga aku lulus SHS"

Jimin tertawa sendiri, ingatannya kembali pada saat ia masih berada dibusan, jimin sangat rindu ibunya, adiknya dan juga ayahnya. Sudah lama, mungkin dua tahun ia tak melihat mereka, meski jarak jepang-korea tak jauh kalau memakai pesawat, tapi karena janji jimin sendiri, ia tak bisa pulang, pekerjaannya selanjutnya benar-benar ia tunggu. Jimin akhirnya bisa pulang dan melihat mereka.

"kau rindu mereka?"

Jungkook mengeratkan dekapannya dan menumpukkan dagunya dipundak sempit jimin, hembusan nafasnya yang hangat membuat jimin sedikit geli.

"lebih dari mereka merindukanku"

Jungkook mengerti. Jimin tak pernah melupakan keluarganya dalam setiap ceritanya pada jungkook, selalu terselip nama orang tua dan juga adiknya disetiap kesempatan mereka mengobrol seperti ini, jimin sangat menyayangi keluarganya.

"hyung, bagaimana kalau aku ke busan juga? Kampung halamanku juga disana"

"kuliahmu?"

"sudah masuk masa liburan"

"kerja sampinganmu?"

"aku bisa cuti"

Jimin bergerak, ia mengalihkan kepalanya untuk melihat jungkook

"kau tidak melakukannya karenaku kan jungkook?"

Jungkook lagi-lagi tersenyum, ia menarik jimin kedalam dekapannya kembali

"sayangnya iya"

Jimin tak berkata lagi, melarang jungkook tak akan ada gunanya. Jungkook tipe anak yang keras kepala dan sulit dilarang, ia akan melakukan apapun keinginannya.

hunkai

hunkai

hunkai

hunkai

Jongin tidak mengerti mengapa ia bisa berakhir menjadi sekamar dengan sehun, tidak ada yang bilang sebelumnya. Tiba-tiba saja ia sudah melihat sehun di kamar saat ia kesana, sedang rebahan dan tenggelam bersama musiknya, kalau jongin tau lebih awal ia akan meminta untuk bertukar kamar penginapan dengan yang lain, siapapun asal bukan dengan sehun, luhan juga boleh, sepupu sehun itu terlihat baik. Tapi jongin melupakan satu hal, bahwa yang mengatur kamar staff itu adalah luhan dan luhan sengaja membuat mereka sekamar dengan tujuan supaya jongin dan sehun bisa sedikit lebih akur.

Sehun juga sama terkejutnya dengan jongin, ia mengumpat tidak jelas setelah tau sekamar dengan jongin. Tentunya ia lakukan dibelakang jongin, sehun tidak ingin kakinya ditendang lagi kalau dia bicara kasar didepan jongin. Ia sempat menelepon luhan dan mengumpatinya tak jelas, tak peduli kalau luhan itu lebih tua darinya. Dan jawaban luhan malah semakin membuatnya ingin membanting ponselnya saat itu juga. Sekamar dengan jongin pasti akan membuat tidurnya tidak tenang.

Dan, sehun sudah bergerak tak tenang dikasurnya sejak tadi. Ia berguling-guling tak jelas kemudian mengerang. Ia lelah tapi matanya tak mau terpejam dengan baik, suara hujan membuatnya sulit memasuki alam bawah sadarnya. Ia mendudukkan tubuhnya dengan kasar, tak peduli kalau jongin akan memarahinya. Tapi, jongin tak ada dikasurnya saat sehun menoleh untuk melihat apakah jongin terganggu atau tidak. Lampu kamar mandi juga mati, sehun melihat jam di dinding, belum terlalu malam sebenarnya, tapi hujan yang tak berhenti sejak satu jam yang lalu membuat pekerjaannya terpaksa ditunda hingga besok. Awalnya tidak ada rencana menginap, tapi karena kondisi tak mendukung akhirnya mereka memutuskan untuk menginap semalam.

Sehun beranjak turun dari kasurnya dan melangkah kearah beranda, disana jongin terduduk dikursi dengan selimut menutupi tubuhnya dan matanya terpejam. Apa anak itu tidur? Bisa-bisanya jongin tidur diluar saat udara dingin seperti ini. sehun menghela nafas dan memilih mengabaikannya, ia mengambil sekaleng soda dari lemari makanan dan keluar ke beranda, ia hanya butuh udara segar, bukan untuk mengamati sikerbau jongin.

Sehun tidak terlalu suka hujan, baginya suasana dingin seperti ini hanya membuat perasaannya yang sepi bertambah sepi. Sehun tak pernah suka harus berada disatu tempat untuk waktu yang lama, ia tak suka terkurung seperti dirinya yang dulu. Saat masih harus menuruti segala kemauan orang tuanya. Meskipun tak buruk juga berada dibawah hujan, sehun ingat waktu kecil ia suka bermain hujan-hujanan, saat itu orang tuanya belum terlalu mengaturnya. Saat sehun beranjak memasuki JHS orang tuanya mulai memberinya batasan-batasan, melarangnya melakukan beberapa hal yang disukainya dan mewajibkannya melakukan yang dibencinya, sehun tak suka dikekang dan ia sempat kabur. Tapi orang tuanya selalu bisa menemukannya, hingga kemudian orang tua sehun semakin membatasinya dengan memberinya bodyguard, sehun merasa seperti dipasung meski dia masih bisa berjalan.

Sehun cukup senang keberadaannya tak diketahui oleh orang tuanya setelah seminggu ia kabur, mungkin mereka sedang kelabakan sekarang mencari keberadaannya, dan sehun harus berterima kasih dan juga meminta maaf karena sudah melibatkan luhan kali ini.

Sehun tak pernah ingin menjadi kris kedua dalam keluarga mereka, kris tetaplah kris. Dia berbakat dalam bisnis, bahkan diusia mudanya sekarang ia sudah jadi wakil CEO, meskipun posisi itu tak lepas dari peran keluarganya, tapi sehun tau kemampuan kris dalam mengolah bisnis keluarga sangat baik. Berhadapan dengan buku-buku manajemen dan keuangan bukanlah gaya sehun, ia selalu pusing menghadapi angka-anga yang tak bisa ia pahami dengan cepat. Sehun tidak bodoh, hanya saja kalau sehun tidak tertarik sehun tidak akan memperhatikannya. Kris memang mendukung keinginannya untuk menjadi photographer,karena kris tau kalau sehun berbakat dibidang itu, tapi tidak dengan kedua orang tuanya yang masih keukeuh menginginkannya menjalankan bisnis keluarga, apa kris saja tidak cukup?

Memikirkan keluarganya, sama saja dengan memikirkan kris. Hyungnya itu pasti sekarang juga khawatir padanya, meski sehun tau kris pasti paham mengapa ia melakukan hal nekad seperti ini, sehun merasa menyesal tak bisa memberitau apapun, sehun bahkan mengganti nomornya. Ia tak menghubungi kris sama sekali. Melihat kris bekerja dengan keras untuk menjadi kebanggan orang tua mereka, sehun sebenarnya sangat merasa menyesal tak bisa membantunya. Mau bagaimana lagi, jalan mereka berbeda, dan kris tak pernah memaksanya. Sekarang, bagaimana kabar hyung satu-satunya itu? Apa masih sibuk dengan berkas-berkas kantornya? Atau, mungkin kris sedang menjalani program perjodohan orang tuanya? Ah, orang tuanya terlalu kuno mengenai hal ini.

"haahh… I miss you hyung"

Jujur saja sehun merindukannya, kris adalah satu-satunya yang mendukungnya. Dan sehun bisa seberani ini juga karena kris yang selalu memotivasinya untuk tak pernah takut melakukan yang diinginkannya selama itu masih baik untuknya.

"kau masih adik hyungmu ternyata"

Sehun agak tersentak, ia menolehkan kepalanya pada jongin yang tengah menggeliat, apa anak itu mendengarnya.

"sedang apa kau?"

"tumben kau bertanya"

Jawab sehun ketus, ia kembali memandangi hujan, dan memilih mengabaikan jongin.

"hey, bisa tidak sih kau bersikap baik padaku?"

"kau juga tidak bersiap baik padaku kim jongin"

Jongin berusaha menahan kekesalannya sekarang, niatnya mengajak bicara sehun baik-baik malah membuatnya terlihat konyol. Jadi ia hanya diam saja, dan mengabaikan sehun juga. Mereka sama-sama diam, baik jongin atau sehun sama-sama memperhatikan hujan yang masih turun dengan deras. Hingga tiba-tiba suara petir menyambar mengagetkan mereka, jongin mengelus dadanya yang terasa berdetak lebih cepat karena kaget, tapi saat ia menoleh ia melihat sehun jongkook dengan menutup kedua telinganya, cola y ang sempat dipegannya jatuh dan tumpah, wajah sehun terlihat ketakutan. Jongin ingat, kalau sehun memang phobia pada petir, sehun pernah menangis saat JHS dulu karena terjebak hujan disekolahnya dan suara petir terus terdengar.

Jongin meninggalkan bangkunya, dan beranjak menuju sehun. Ia menyelimuti sehun dengan selimut yang ia pakai tadi. Sehun mengangkat wajahnya dan menatap jongin,yang ditatap hanya berdehem, suasana tiba-tiba berubah seperti ini, jongin jadi tidak tau harus mengatakan apa, apalagi sehun menatapnya dengan tidak biasa. Jongin tidak pernah lagi melihat wajah sehun yang ketakutan seperti ini. jauh dari kata menyebalkan.

"kalau tau phobia petir, seharusnya kau tetap didalam"

Jongin membantunya berdiri dan masuk kedalam, mendudukkan sehun dikasurnya sendiri kemudian ia beranjak menutup pintu. Saat jongin membalikkan badannya dan melihat sehun, suasana canggung terasa kembali. Ia beranjak menuju kasurnya dan membaringkan tubuhnya, mencoba memejamkan matanya tapi tak kunjung terlelap juga, jadi jongin membuka matanya dan malah melihat sehun masih duduk dengan posisinya yang seperti tadi, kedua tangannya masih menutupi telinganya.

"apa yang biasanya kau lakukan kalau seperti ini?" tanya jongin

Sehun menoleh, ragu untuk menjawabnya karena yang bertanya sekarang ini adalah jongin, kalau saja luhan yang ada disana, sehun akan meminta luhan melakukannya.

"memeluk seseorang"

Tenggorokan jongin rasanya tercekat mendengarnya, tadinya ia ingin menawari sehun bantuannya, tidak menyangka kalau ternyata yang bisa membuat sehun lebih baik adalah pelukan.

"a-apa kau baik saja kalau tidak ada yang memelukmu?"

Sehun menggeleng dengan ragu

"aku tidak bisa tidur"

Jongin menghela nafasnya, sepertinya ia harus menyingkirkan egonya.

"kau mau kalau aku yang memelukmu?"

Tanya jongin ragu-ragu, sehun menatapnya selama beberapa saat kemudian mengangguk. Jadi jongin beranjak dari kasurnya dan beralih kekasur sehun, kemudian sehun dengan canggungnya mendekat kearah jongin dan masuk kepelukan jongin. Atmosfirnya terasa sangat aneh bagi mereka berdua, baik jongin atau sehun sama-sama diam, hingga akhrinya beberapa saat kemudian mereka sama-sama terlelap.

hunkai

hunkai

hunkai

hunkai

Kecanggungan diantara sehun dan jongin benar-benar terasa hari ini, pagi tadi saat bangun jongin tak melihat sehun dan hanya mendapati note yang tertempel di atas bantalnya, hanya berisi ucapan terima kasih. Mereka tak berbicara banyak saat bertemu, bahkan tak berdebat seperti biasa, jongin melirik pada sehun saat ia sedang di make up sekarang, luhan terlihat khawatir didepannya, pastinya dia tau kalau sehun ketakutan semalam, dan jongin baru menyadari, mengapa ia tak memanggil luhan saja tadi malam dan malah menawarkan dirinya?

"kau baik-baik saja jongin? Kau terlihat tak banyak bicara hari ini"

Ujar sang penata rias, jongin menjawabnya dengan senyuman paksa dan gelengan.

Ia kembali melirik sehun dan tanpa sengaja pandangannya bertemu dengan sehun. Selama beberapa detik pandangan mereka terkunci satu sama lain, dan jongin menyadari sesuatu kalau sehun tak melihatnya dengan sengit seperti biasa, sehun melihatnya dengan berbeda hari ini. barulah ketika luhan juga melihat kearahnya, jongin mengalihkan pandangannya. Kemanapun asal tidak ke sehun atau luhan.

Jongin menghembuskan nafasnya, semoga hari ini berjalan dengan baik dan apa-apaan suasana seperti ini? ini tidak terlihat seperti mereka berdua seperti biasanya

hunkai

hunkai

hunkai

hunkai

"terjadi sesuatu semalam?"

Tanya luhan, ia masih terlihat khawatir pada sehun meski sehun bilang ia baik-baik saja.

"hu'um"

"tapi kau terlihat tidak baik-baik saja sehun, haruskah kita kedokter?"

"aku baik-baik saja hyung, sungguh"

Ujarnya, tangannya mengotak-atik kameranya, sedari tadi pandangannya terus tertangkap oleh jongin, aneh saja.

"kalian tidak bertengkar?"

"siapa?"

"kau dan jongin"

"apa kami harus selalu bertengkar?"

"tidak, hanya saja kupikir kau akan marah-marah padaku hari ini"

Sehun terdiam sesaat, ingatan tadi malam kembali terbayang. Bagaimana jongin berbicara lembut untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, dan bagaimana jongin yang mengusap punggungnya hingga ia terlelap.

"ah, ya…kenapa kau membiarkanku sekamar dengannya?"

"sengaja, supaya kalian sedikit akur, dan sepertinya aku berhasil"

Sehun mengangkat kepalanya hendak memarahi luhan, tapi luhan langsung pergi setelah mengucapkan itu. Jadi sehun hanya menghela nafasnya, ia sedang malas berteriak hari ini. dan ngomong-ngomong, tak buruk juga sekamar dengan jongin. Ia tersenyum penuh arti sekarang.

hunkai

hunkai

hunkai

hunkai

TBC

Sorry, aku lama banget lanjutnya, sempet kehilangan feel gegara kebanyakan tugas kuliah dan juga sibuk mantau BTS

Sorry buat yang hunkai shipper, masih suka exo kok saya J

Chap ini gimana? Saya agak banyakin words nya

Mengecewakan ga? Review ya kalau suka..

Hargai kerja keras author yang maksa otaknya jungkir balik nyari ide ini :-D

And by the way, saya sebenarnya seneng banget responnya baik buat ff ini

Sekali lagi saya juga minta maaf ga bisa bales reviewnya atau pertanyaannya satu satu, tapi semuanya akan terjwab kok di ff ini

Jadi sabar ya

Bye bye