2nd drabble

Rasanya air mata jungkook ingin jatuh begitu saja melihat lautan manusia didepannya. berteriak, bersorak untuknya, untuk grupnya. Ribuan lightstick menjadi penerang ruangan gelap. Jungkook ingin membungkuk saat itu juga, berterima kasih pada setiap cinta yang dia dapatkan dari fansnya.

Ketika ia melihat teman-temannya yang lain juga menahan air mata mereka, rasanya jungkook ingin tertawa sedih. Mereka selalu bilang tak akan menangis karena mereka adalah laki-laki, tapi hoo seok bahkan sudah tersedu-sedu dengan taehyung disampingnya , mengusap punggung salah satu hyungnya itu. Nam joon tengah memberikan pidatonya, yoongi menunduk mendengarkan apa yang dikatakan nam joon, begitu juga dengan seok jin.

Lalu, ketika jungkook melihat keruang kosong disisinya, ia hanya bisa terdiam dan kembali menahan air matanya, seharusnya disisinya tak ada ruang kosong, seharusnya ada satu orang lagi yang menangis dipanggung ini, seharusnya ada jimin disana. Tapi tak ada lagi selain mereka berenam.

Ketika namjoon mengakhiri pidatonya dan digantikan oleh seok jin, jungkook kembali tersadar dari apa yang ia pikirkan sejak tadi. Jungkook tak mengatakan apapun, ia takut air matanya jatuh setelah kata pertama yang ia ucapkan. Meski begitu banyak hal yang ingin ia sampaikan untuk fansnya, teman-teman grupnya, dan jimin.

Ia hanya menggenggam mic nya dengan erat, melampiaskan keinginannya sendiri untuk melebur kata-kata yang ada dipikirannya sekarang ini. ketika ia menolehkan kepalanya kearah kiri, pandangannya bertemu dengan taehyung. Jungkook mengulas senyum tipis mengetahui arti pandangan taehyung untuknya. Tahyung pun pasti merasakan hal yang sama, kekosongan. Meskipun mereka berenam dan stadion itu penuh oleh ribuan orang, selalu ada yang kosong saat salah satu yang seharusnya bersama mereka kini tidak ada.

Ketika saatnya mereka sama-sama membalikkan badan untuk melihat layar big screen, jungkook tak menyadari sudah satu tetes airmatanya yang jatuh begitu saja saat layar itu menunjukkan sosok jimin. Tiba-tiba terasa ada yang ingin dikeluarkan dari hatinya, sesuatu yang selama ini mengganjal dan membuatnya tak tau harus melakukan apa.

Sosok itu yang selalu tersenyum dengan mata kecilnya, mungkin jimin selalu menebar kebahagiaan disetiap senyum yang ia berikan padanya, pada fans mereka, pada siapapun yang melihatnya. Semua kenangan yang terekam dari awal mereka debut, hingga saat terakhir jimin bersama mereka terputar dilayar itu. Setiap moment yang akhirnya jungkook baru sadari sangat berarti dan menyenangkan berada didekat jimin.

Tak ada yang tak menangis, video berdurasi lima menit itu ditonton dengan isakan membernya dan juga fans mereka, taehyung sudah menunduk sejak tadi, hooseok terisak dipunggung jin dan yoongi yang dingin sekalipun menangis disana. Sekuat apapun jungkook berusaha menahan, rasa sesak didadanya tak bisa ia tahan. Meskipun jungkook sudah menggigit bibirnya, ia tak mampu lagi menahan isakannya.

Tak ada yang mampu berbicara setelahnya, sesudah video berakhir mereka masih terlebur dalam kesedihan, baru beberapa saat kemudian nam joon membuka suaranya lagi.

"itu jimin kami"

"jimin kami"

Yoongi menimpali, lalu mereka kembali terdiam untuk beberapa saat.

"aku tau tak ada yang tak menangis sekarang ini,ah… jimin selalu khawatir kalau kalian menangis"

Yoongi mengusap kasar pipinya yang basah, ia menunduk namun tetap memegang mic didekat mulutnya.

"dua bulan yang lalu, aku dan jimin sempat berbincang, kami membicarakan banya hal…. Saat itu, jimin bilang ia merasa sangat bahagia karena bisa memberikan cintanya untuk kalian dan mendapatkan cinta kalian juga… terima kasih telah mencintai jimin kami…"

Yoongi membungkuk hormat kemudian menunduk lebih dalam, ia tak bisa berkata-kata lagi, tangannya yang memegang mic ia simpan disisi badannya. Kemudian, suara sorakan kembali terdengar lebih keras, memanggil satu nama yang sedari tadi mereka bicarakan.

"jimin sudah melakukan yang terbaik selama ini, terima kasih jimin ah, hyung mencintaimu, kami mencintaimu"

Mungkin jika jimin melihatnya, ia akan tersenyum haru mendengar kata-kata itu keluar dari yoongi.

"jimin, dia satu-satunya yang seumuran denganku digrup, karena itu aku menjadi lebih nyaman bercerita padanya, dia selalu mendengarkan dan memberiku masukan yang baik…ada beberapa waktu dia merasa tertekan, tapi jimin selalu bisa menahannya dengan baik,dia selalu bilang, dia memiliki kami dan kalian, jadi untuk apa merasa khawatir?"

"jimin hyung…"

Suara jungkook bergetar saat menyebut nama itu, untuk sesaat jungkook tak melanjutkan kata-katanya.

"jimin hyung selalu memarahiku kalau aku tidak tidur tepat waktu, tapi dia tak pernah benar-benar marah… jimin hyung, selalu memaafkanku meskipun aku bersikap kurang ajar padanya"

"dan juga, ada beberapa waktu yang benar-benar kurindukan dan sangat ingin kuulangi lagi jika bisa, sekarang aku baru sadar bahwa setiap detik yang kami habiskan bersama sangat berarti"

"dimanapun hyung berada, kami selalu mencintaimu, hyung aku mencintaimu…beristirahatlah disana dan perhatikan kami"

Jimin tidak ada disana untuk mereka, tapi jimin melihat mereka dari suatu tempat yang sangat jauh sekali, tempat yang tak bisa jungkook bayangkan sebelumnya. Jungkook merindukannya, sangat.

Dan hari itu, konser ditutup dengan lagu baru yang diciptakan oleh yoongi untuk jimin.

Hoo seok masih menangis saat mereka kembali keruang ganti, para staff keluar untuk memberi mereka waktu menenangkan diri. Bagaimanapun mereka tau masa sulit yang sedang dihadapi oleh artis mereka. Taehyung dengan sabar menenangkannya meski ia sendiri masih sedikit terisak, yoongi sudah duduk namun menundukkan kepalanya. Ketika jungkook memperhatikan mereka satu-persatu, ia juga kembali menangis. Bangtan tak lengkap tanpa jimin, member yang lain pun pasti merasa seperti itu. Semua terasa berbeda, masih terasa berat untuk percaya bahwa jimin sudah meninggalkan mereka, meninggalkan mimpinya yang belum sepenuhnya terpenuhi, meninggalkan fansnya yang ia cintai. Dan jimin tak akan pernah kembali lagi.

Jimin tak akan berdiri dipanggung yang sama lagi dengan mereka, tak akan ada suara jimin dilagu mereka selanjutnya. Dan jungkook sangat kehilangannya, hingga sebulan kepergiannya, jungkook masih bisa merasakan kesedihan yang luar biasa dihatinya, seperti ribuan jarum menusuknya saat ia melihat peti mati jimin terkubur dalam tanah dan jungkook tak bisa mencabutnya dengan mudah. Duka kehilangan jimin, berapa lamapun akan menyakitkan saat jungkook ingat.