YOONMIN
Setengah jam yang lalu hujan berhenti mengguyur seoul, menyisakan kubangan dibeberapa titik jalan dan tetesannya pada daun-daun yang masih basah, tapi matahari belum juga Nampak, langit masih tertutup awan gelap, entah apakah itu pertanda akan hujan lagi atau tidak, cuaca akhir-akhir ini sulit dipahami, seperti Yoongi.
Pemuda itu tak juga muncul setelah satu jam Jimin menunggu di caffe, mereka berdua sudah membuat janji tapi sepertinya hanya Jimin yang ingat. Entah sudah keberapa kalinya Jimin menghela nafas, ia sudah mencoba menghubungi yoongi tapi nomornya sama sekali tak aktif. Jimin bosan tentu saja, menantikan hal yang tak pasti seperti ini, sudah ke empat kalinya Yoongi melupakan janjinya, tapi Jimin masih juga memaafkannya. Bodoh memang menunggu seseorang yang jelas-jelas ingin mencampakkannya, sayangnya bagi Jimin sebelum ada keputusan diantara mereka berdua, Jimin akan tetap menunggunya.
Ketika gerimis datang lagi, Jimin jadi memiliki alasan untuk duduk lebih lama dibangkunya, ia memanggil seorang pelayan dan memesan kopi lagi, entah sudah cangkir keberapa yang ia pesan sekarang. Jimin tidak mempedulikan berapa banyak kafein yang ia tenggak hari ini, karena setidaknya dengan meminum kopi ia merasa Yoongi didekatnya, karena Min Yoongi suka kopi. Jimin menyangga dagu dengan tangan kanannya, matanya memperhatikan setiap tetesannya yang jatuh kebumi, semakin lama semakin deras.
"sudah keempat kalinya eh?"
Jimin menoleh ketika suara Taehyung menyapa telinganya, ia hanya menampakkan senyum tipis saat Taehyung mengambil tempat duduk didepannya, Taehyung pemilik caffe ini, jadi ia bebas duduk dimanapun.
"sudah berapa cangkir hari ini?"
Tanyanya ketika salah satu pelayannya mengantarkan pesanan Jimin.
"entahlah, tidak ingat"
Taehyung tersenyum samar ketika melihat bagaimana tatapan Jimin pada kopi didepannya, tentu saja Taehyung paham, karena Taehyung sendiri sangat mengenal Jimin. Ia mendesah pelan dan menyandarkan punggungnya pada kursi, Jimin terlihat menoleh kearahnya.
"bodoh, kau seharusnya langsung menemuinya, kau tau akan begini kan?"
Menemuinya ya? Tidak, Jimin belum berani menemuinya langsung. Apa yang akan Jimin lihat kalau dia yang menemuinya duluan, Yoongi selalu melarangnya datang keapartemennya, yoongi melarangnya menemuinya tanpa membuat janji. Tapi ketika mereka sudah membuat janji, selalu Yoongi yang melupakannya, yoongi akan bilang kalau ia tertidur , atau alasan yang paling sering adalah deadline lagunya sebentar lagi dan ia tidak bisa meninggalkan studio musiknya.
Apakah music lebih penting dari Jimin? Kenapa Yoongi bisa mengabaikannya begitu saja hanya karena partitur-partitur lagu brengsek itu? Bukankah seharusnya, setidaknya sekali saja Yoongi mengajaknya kencan? Seperti pasangan lainnya. Tapi berjalan ditepi sungai han, menikmati dinner romantic, berbagi pelukan saat hujan, atau duduk berdua tanpa gangguan apapun adalah hal yang mustahil. Karena meskipun mereka pernah duduk berdua, tak lebih dari lima belas menit kemudian Yoongi akan mendapat telepon dan meninggalkannya. Jimin tidak ingat kapan terakhir kali mereka benar-benar seperti sepasang kekasih.
"jimin, jangan hanya diam, memangnya kau mau seperti ini sampai kapan? Pergi saja dengan Jungkook, dia lebih mempedulikanmu daripada si brengsek itu"
Jimin tidak bisa marah saat Taehyung berucap kasar seperti itu meskipun hatinya merasa sakit, bukan pertama kalinya Taehyung menyebut Yoongi brengsek, karena setiap kali Jimin duduk disana dan bertemu Taehyung, dia akan selalu mengatakan kalau lebih baik Jimin meninggalkan Yoongi kemudian mengencani Jungkook, pemuda yang lebih muda dua tahun darinya. Meski Jungkook baik, hanya saja Jimin belum bisa memberi sedikit ruang hatinya untuk Jungkook, selama masih ada Yoongi.
Jungkook memang selalu menemaninya, selalu datang saat Jimin membutuhkan seseorang, dan selalu yang paling peduli padanya, perlakuannya pada Jimin sangat berbeda dengan Yoongi. Kadang tanpa sadar, Jimin mengharapkan bahwa yang selalu menemaninya adalah Yoongi, lalu kemudian dia akan tersadar bahwa sekali lagi itu tidak mungkin. Yoongi bahkan mungkin sudah tidak peduli lagi padanya, mungkin Jimin baginya hanya angin lalu.
"kau lihat diluar sana Jimin, masih banyak yang lebih baik darinya! Melepaskan satu orang bukan masalah yang berat, memang akan sakit pada awalnya tapi semua itu akan berlalu seiring berjalannya waktu, kau tidak perlu menunggunya seperti ini, kau tidak perlu terus memikirkan orang yang tak pernah memikirkanmu"
Seperti ada pisau menggores hatinya, rasanya pilu dan juga menyakitkan. Entah itu karena ucapan Taehyung atau karena Jimin sadar bahwa semua yang dikatakn Taehyung adalah benar.
"jimin"
"Taehyungah" Jimin tidak bisa lagi hanya berdiam disana, mendengarkan setiap ucapan Taehyung yang intinya hanya satu, lepaskan Yoongi dan mulai hidup baru. Jimin tidak bisa tinggal lebih lama atau dia akan menangis disana. Satu hal yang dibencinya adalah menangis didepan orang.
"kurasa aku memang harus menemuinya"
YOONMIN
Jimin basah, meskipun ia memakai jaket untuk melindungi tubuhnya. Tapi jarak dari caffe Taehyung ketempat ini cukup lumayan dan gerimis cukup membuatnya basah dan kedinginan. Nafas Jimin tertahan beberapa detik saat melihat bangunan didepannya. Ia pernah ketempat itu sekali, setelah itu tak pernah lagi Jimin menginjakkan kakinya disana. Ia mencoba menenangkan dirinya sendiri, meyakinkan hatinya bahwa sekarang adalah saatnya. Terus diam bukanlah jalan terbaik, Jimin butuh kepastian.
Ia masuk, melewati lorong dengan dinding dipenuhi poster-poster beberapa artis terkenal, sayangnya Jimin sama sekali tak berminat untuk melihatnya sedikitpun. Kakinya terus melangkah, berbelok kearah Kanan melewati beberapa ruangan berpintu kaca transparan kemudian berhenti diujung lorong, tepat didepan sebuah pintu. Tangannya bergetar ketika hendak menggapai gagang pintu, ia menariknya kemudian hendak meraihnya lagi. Beberapa kali seperti itu hingga akhirnya ia mundur dan bersandar pada dinding, menyadari bahwa dirinya belum siap.
Jimin belum siap menemui Yoongi disana, Jimin belum siap dengan reaksi Yoongi nantinya. Ia hanya terdiam disana, mengabaikan rasa dingin yang mulai menyerang kulitnya. Memikirkan bagaimana ia menjelaskan pada Yoongi kenapa ia disana, atau memikirkan untuk bertanya tentang hubungan mereka, Jimin tidak siap dengan jawaban Yoongi nantinya karena tanpa Yoongi beritahu pun Jimin sudah bisa menebaknya. Kemudian Jimin berdiri tegak dan menghampiri pintu, melihat dari kaca transparan itu, ada satu siluet tubuh yang ia kenali tengah duduk membelakangi pintu, berhadapan dengan monitor dan beberapa alat music. Jimin hanya bisa meraba kaca itu seakan yang ia sentuh adalah Yoongi, lalu Jimin tersenyum samar.
"aku tidak bisa Hyung"
Lirihnya, perasaannya sedang kacau sekarang. Antara mengatakannya atau tidak, Yoongi sekarang sudah berada dekat dengannya, Jimin hanya tinggal membuka pintu itu dan mereka bisa bertatap muka saat itu juga. Tapi Jimin terlalu pengecut untuk melakukan itu dan memilih meninggalkan studio music Yoongi, menembus gerimis lagi dan menjauh dari gedung.
YOONMIN
Dua hari yang lalu, setelah Jimin memutuskan untuk tak menemui Yoongi dan memilih untuk membiarkannya saja, ia pergi ke Busan, ke rumah neneknya. Jimin jarang kesana, dan hari itu ia tiba-tiba merasa sangat rindu pada sup kimchi buatan neneknya, ia kesana tanpa memberitau siapapun, bahkan orang tuanya. Ia menghabiskan waktu sehari semalam disana, dengan ponsel yang mati dan tanpa kabar. Ia merenungi kembali hubungannya dengan Yoongi, ia tak pernah main-main soal hubungan, Jimin selalu berusaha menjaga hubungannya dengan baik, sebisa apapun jika ada masalah Jimin akan mencari solusinya meski masalahnya pelik. Tapi, ketika alasan dari kerenggangan hubungannya dengan Yoongi adalah karena Yoongi bosan, Jimin tidak tau apa yang harus dilakukannya, hubungannya dengan Yoongi bukan sekedar satu atau dua bulan, mereka menjalaninya sudah lama dan sudah mengenal orang tua masing-masing, apa yang akan Jimin katakan kalau hubungannya dengan Yoongi berakhir?
Keesokan harinya, dipagi buta Jimin kembali ke Seoul, ia berpikir bahwa sudah saatnya ia harus tau keputusan Yoongi, Jimin tidak ingin terus-terusan menunggu, lebih cepat lebih baik meskipun akan sangat menyakitkan untuknya, ia bisa mengarang alasan kepada orang tuanya. Lalu, saat ia berada dalam perjalanan ke studio Yoongi, taksi yang ditumpanginya mengalami kecelakaan parah, dan Jimin tak ingat apapun setelahnya.
Kemudian hari ini, Yoongi datang setelah Taehyung memberitahukannya tentang keadaan Jimin, sebenarnya Taehyung mengirimnya pesan kemarin, tapi ponselnya baru aktif hari ini, seharian kemarin Yoongi mengurung diri diruang studio musiknya, bukan untuk membuat music, tapi merenungi hubungannya dengan Jimin yang terasa hambar. Yoongi tak merasakan lagi manisnya jatuh cinta pada Jimin, ia tidak lagi merasa bahwa Jimin adalah segalanya, Yoongi merasa ia sudah bosan dan berniat mengakhiri hubungannya dengan Jimin. Tapi pagi ini, saat ia mengaktifkan ponselnya dan membuka pesan dari Taehyung, ia tanpa sadar langsung berlari kerumah sakit.
Yoongi diam saja saat Taehyung tiba-tiba meninjunya, tepat dibagian pelipis kirinya. Ia hanya menatap Taehyung dengan perasaan bersalah, Yoongi tahu kesalahannya dan Taehyung pantas untuk marah dan memukulnya, tapi prioritasnya saat ini bukan untuk mendapatkan maaf Taehyung, tapi Jimin. Yoongi harus melihatnya, setidaknya untuk memastikan bahwa ini lelucon atau bukan. Jimin masih baik-baik saja saat terakhir kali Yoongi melihatnya di caffe Taehyung.
Sebenarnya, setiap Yoongi membuat janji, ia selalu datang tapi tak pernah menghampiri Jimin, justru ia akan berdiam diri disuatu tempat untuk memperhatikan Jimin. Menunggu hatinya berteriak untuk menghampiri Jimin dan memeluknya, tapi sayangnya tak terjadi apapun pada hatinya, ia tak merasa ingin bertemu dengan Jimin, ia tak merasa sangat merindukan Jimin seperti awal-awal mereka berkencan dulu, karena itulah Yoongi berniat untuk memikirkan kembali hubungannya dengan Jimin.
Yoongi meninggalkan Taehyung yang tengah ditahan oleh Jungkook dan memasuki ruang rawat Jimin. Kemudian didalam, saat Yoongi melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana tubuh Jimin tergeletak tak berdaya dikatil, kakinya tiba-tiba kehilangan tenaga, ia harus menahan dengan tangannya didinding agar tak terjatuh dan perlahan menghampirinya. Tangan Yoongi gemetar saat melihat dengan dekat bagaimana Jimin hidup dengan penuh alat bantu ditubuhnya, monitor disisi katil Jimin berbunyi teratur, kantong oksigen yang dipakai Jimin kembang kempis dengan konsisten. Tangannya bergerak, untuk membelai wajah Jimin yang terasa halus. Sudah lama Yoongi tak menyentuhnya seperti ini.
Rasanya hatinya bergetar kembali dan Yoongi tanpa sadar meneteskan airmatanya, kekasihnya tengah tak berdaya saat ini dan ia tak tau apa penyebabnya. Yoongi yang awalnya merasa hubungannya hambar, kini entah mengapa menginginkan Jimin kembali. Kembali tersenyum padanya, kembali bermanja dengannya, kembali kepelukannya.
"aku mencintaimu, aku mencintaimu sayang… bangunlah"
Yoongi baru menyadarinya, ia masih sama seperti dulu, mencintai Jimin. Ia masih menginginkan Jimin, dan ia masih ingin mempertahankan hubungannya dengan Jimin, ia tak akan pernah lagi jenuh pada hubungannya, ia tak akan lagi membiarkan Jimin menunggunya berjam-jam. Yoongi berjanji dalam hati bahwa setelah Jimin terbangun nanti, ialah yang akan dilihatnya pertama kali. Persetan dengan demo-demo music yang harus dibuatnya, Jimin lebih penting dari apapun didunia ini.
YOONMIN
Seminggu Yoongi tak pernah meninggalkan Jimin terlalu lama, ia hanya akan pergi mengantar baju kotornya ke laundry kemudian kembali ke ruangan Jimin, Yoongi tidur dan mandi disana, Yoongi tak pernah benar-benar menghirup udara bebas, ia selalu berada disisi Jimin. Yoongi membawa sebuah gitar untuk menjadi bahan membuat lagunya, jika lagu yang dibuatnya selesai ia akan menelepon seseorang untuk mengambilnya kemudian mengaransemennya secara penuh. Dan, beberapa lembar lagu yang berhasil dibuatnya semua tentang Jimin. Kalau ada waktu kosong, Yoongi akan memetik gitarnya, menyanyikan sebuah lagu meskipun ia sendiri sadar suaranya tidak terlalu bagus.
Kedua orang tua Jimin membiarkannya, mereka terharu dengan pengorbanan Yoongi tanpa tahu kejadian sebelum Jimin seperti sekarang, mereka tak pernah tahu kalau hubungan Yoongi dan Jimin hampir berakhir. Taehyung juga setiap hari menengoknya, ia tak marah lagi pada Yoongi, setelah melihat apa yang Yoongi lakukan seminggu ini diruang rawat Jimin.
"kau tidak lelah terus tidur hm? Apa mimpimu terlalu indah sampai kau tidak mau membuka matamu?"
Yoongi tengah keluar, menemui produser yang ngotot ingin bertemu dengannya, lalu dengan berat hati menitipkan Jimin pada Taehyung yang kebetulan datang.,dan sekarang hanya ada Taehyung dan Jimin yang masih dalam kondisi sama.
"Yoongi berubah Jimin, kau pasti akan sangat senang melihatnya, jadi bukalah matamu dan lihatlah Yoongi,kau tidak perlu menunggunya sekarang"
Ia meraih tangan Jimin dan mengusapnya. "kami merindukanmu Jimin"
Dan Taehyung terkejut saat mendapati Jari-jari Jimin bergerak ditangannya.
YOONMIN
Yoongi menghembuskan nafasnya setelah kakinya menapak tanah, ia menoleh kedalam caffe yang baru ia tinggalkan, lega karena pertemuan kali ini tidak selambat biasanya, akhirnya Yoongi bisa kembali kerumah sakit dan menemui Jimin meski kondisinya tak berubah. Yoongi mengangkat wajahnya untuk menatap langit, merasakan bagaimana sinar matahari menerpa kulitnya, rasanya sudah lama sejak Yoongi merasakan sinar matahari. Jimin selau mengatakan padanya kalau ia harus lebih sering keluar agar kulitnya tidak sepucat vampire, ia terkekeh mengingat bagaimana Jimin dulu menasehatinya sampai kesal karena Yoongi hanya mengiyakan tapi tak menjalaninya.
Yoongi kemudian berjalan, ia tersenyum kecil mendapati beberapa pasangan kekasih bergandengan tangan, mengingatkannya pada awal hubungannya dengan Jimin. Dulu, Yoongilah yang selalu menggandeng tangan Jimin lebih dulu dan tak pernah melepaskannya selama mereka bersama, Yoongi akan mencium Jimin setiap pemuda itu merajuk padanya, atau Yoongi akan memeluknya ketika cuaca Dingin. Rasanya sudah lama sejak terakhir Yoongi merasakan itu semua.
Kegiatannya terganggu saat ponselnya berdering, dan ketika melihat id pemanggil, Yoongi langsung mengangkatnya, setelah sebaris kalimat diucapkan Yoongi langsung berlari, beberapa kali menabrak orang yang dilewatinya tapi itu tak membuatnya menghentikan larinya.
YOONMIN
"Jimin sudah sadar"
Kalimat itu terus berada diotaknya sepanjang ia berlari, masa bodoh langkah larinya mengganggu orang-orang dirumah sakit, ia terlalu senang dan juga tak sabar melihat Jimin lagi. Ia merutuk mengapa bukan ia yang ada disana saat Jimin membuka matanya padahal ia sudah berjanji sendiri. Yoongi baru terengah-engah saat sampai didepan pintu ruang rawat Jimin. Ia membukanya, kemudian mendapati dokter, kedua orang tua Jimin dan Taehyung berada disana, menoleh ketika pintu dibuka begitu juga dengan Jimin, sosok yang dirindunya sekarang tengah melihatnya.
Mereka berinisiatif meninggalkan yoongi dan Jimin berdua, Taehyung menepuk pundak Yoongi dua kali sebelum akhirnya keluar.
"yoongi hyung"
Suara itu, sudah lama sekali rasanya Yoongi tak mendengar suara itu.
"kenapa baru bangun hah? Kau tau aku menunggumu terus"
Bibir Jimin bergetar, ia meraih tangan Yoongi dengan tangan lemahnya.
"maaf…maaf… aku menunggumu di caffe hyung, dan seharusnya-"
"sstt"
Yoongi merubah posisi tangannya menjadi menggenggam tangan Jimin, ia menyatukan keningnya dengan kening Jimin.
"apapun yang kau pikirkan saat itu, kau tidak perlu memikirkannya lagi Sayang…maaf… maaf karena selalu membuatmu menunggu dan membuatmu menderita, maaf karena berani mencoba memikirkan lagi hubungan kita, maaf…maaf karena aku tidak menjagamu dengan baik Jimin"
"hyung…"
"aku mencintaimu Jimin, Aku akan selalu mencintaimu, kau boleh membunuhku kalau aku berani meninggalkanmu"
Ucapnya dengan cepat, tak sadar bahwa Jimin menangis sekarang, tangannya menggenggam baju Yoongi seerat yang ia bisa.
"aku juga mencintaimu hyung, sangat mencintaimu…"
Yoongi bahagia mendengarnya, dan ia langsung mengecup bibir Jimin dengan lembut, tak ingin menyakiti Jimin meskipun sedikit.
Jimin tidak perlu lagi menunggu, karena setelah ini Yoongi akan selalu menjemputnya, Yoongi akan menunjukkan Jimin studio musiknya lagi, Yoongi akan selalu membuka pintu apartemennya untuk Jimin, Yoongi akan selalu berada disamping Jimin, menggenggam tangannya erat seperti saat mereka memulai hubungan, Yoongi akan selalu seperti itu.
YOONMIN
YOONMIN
YOONMIN
NEXT, kalian mau siapa?
