I NEED U
[Sequel of RUN]
by miaridara/outout
.
[Jeon Jungkook x Kim Taehyung]
Slight!MyungTae, YoonMin, NamJin, and jomblo Hoseok
I only own the plot
.
.
.
Chapter 2
−Moonlight
Di bawah sinar bulan yang begitu terang ini, aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Jika pada akhirnya akan datang seseorang di kehidupanmu selain aku. Jangan ragu untuk memilihnya. Karena aku tidak lebih dari sebuah bulan yang berharap bisa berdekatan dengan sang matahari.
.
.
Jimin bersiul pelan ketika ia memasuki ruang dance. Dengan semangat ia meletakan beberapa barang yang ia bawa setiap hari, tentu saja pentungan terkasihnya yang sekarang berubah menjadi sedikit kecil itu ia bawa di tangan kanannya. Saat kelulusan SMA dulu, pentungan tercintanya dicopet oleh seseorang yang tak dikenal, padahal pentungan itu adalah penyimpan kenangan-kenangan yang terjadi selama hidupnya ini.
Ibunya yang menemukan Jimin pulang dengan wajah seperti gelandangan itu memutuskan untuk membelikan pentungan mini untuk Jimin. Meskipun kecil, Jimin berjanji untuk selalu mencintai pentungannya dengan baik.
"Park pendek Jimin, sedang apa kau disini?" suara Yoongi yang tengah berdiri menyender di pintu memandang Jimin penuh tajam
"Aku akan latihan dance. Kenapa?"
Yoongi mengangkat dagunya tinggi-tinggi, mengarahkannya pada sebuah papan kecil di atas pintu dengan bertuliskan Drama Club. Jimin segera memutar tubuhnya dan terkejut karena mendapatkan beberapa anggota klub drama yang sekarang tengah memandangnya aneh.
"K-kenapa tulisannya jadi berubah?"
"Sejak aku tampan pun tulisannya tidak pernah berubah. Kau yang seenaknya masuk, bodoh"
Wajah Jimin memerah saking malunya. Ia buru-buru keluar dari sana sebelum benar-benar akan mati. Dia juga tidak memperdulikan kenapa pula Yoongi ada disana, bukankah seharusnya ia berada di ruang lab?
Sial! Jimin malu sekali.
.
.
Miniatur piano berwarna hitam itu tersimpan rapih di meja kerja Jungkook bersebelahan dengan figura mini dengan wajah Jungkook saat kecil disana. Ruangan kerja yang di dominasi dengan warna biru langit itu adalah saksi bisu bagaimana sibuknya seorang Jeon Jungkook di usianya yang masih sangat muda. Orang-orang yang seusianya mungkin lebih sering bermain-main di luar sana. Bersenang-senang dan menghabiskan waktu.
Tapi Jungkook tidak. Ia lebih suka seperti ini.
Setidaknya dengan menyibukan diri, Jungkook dapat lupa pada hal-hal yang menyaikiti hati dan pikirannya.
"Tuan Jeon, Anda akan melakukan pertemua di Grand Hotel dengan Presdir Kim Jongwoon pada pukul satu siang. Lalu setelah itu Anda akan melakukan peresmian cabang perusahaan yang baru di daerah Busan. Kemudian−"
"Jam berapa aku free?" sela Jungkook
"−Anda bebas jadwal pada pukul sepuluh malam setelah menghadiri acara grand opening music di gedung music culture"
Jungkook menatap jam dinding yang tengah menunjuk pada angka 11. Ia lalu menatap pria paruh baya yang bekerja sebagai sekretarisnya itu. "Siapkan aku jas dan mobil. Aku akan pergi menemui seseorang"
Sebelum membuka pintu, pria paruh baya itu bersuara. "Anda akan kembali pada pukul berapa?"
"Aku akan kembali jam satu"
"Baik. Saya akan menyiapkan jas dan mobil Anda"
Jungkook berjalan dengan cepat menuju lift. Ia akan menemui Taehyung di kampus. Untuk sekedar mengobrol dengannya. Jungkook ingin memperbaiki hubungan mereka yang merenggang karena dirinya yang sempat menghilang.
Jungkook harap Taehyung mau menyambutnya dengan baik.
.
.
Pegang tanganku. Akan ku bawa kau menuju masa depan yang indah.
Membaca puisi-puisi pendek yang terangkum di dalam buku kecil itu membuat hati Taehyung bergetar. Ia tidak pernah mendapatkan kata-kata yang terdengar gombal itu oleh seseorang. Bukan. Bukan berarti Taehyung mengharapkannya. Hanya saja ia ingin sekali-sekali merasakan bagaimana terbang ke angkasa karena kata-kata romantis yang diberikan padanya.
"Peluk tubuhku. Akan ku bawa kau menuju kehangatan cinta"
Taehyung mendongakkan kepalanya karena mendengar suara seseorang yang mengatakan beberapa penggalan kalimat puisi yang sempat Taehyung baca di halaman sebelumnya.
Kim Myungsoo tengah berdiri di depannya.
"Kau suka membaca buku berisi puisi-puisi pendek itu?" tanya pria berambut hitam itu
Taehyung mengangguk. "Aku suka membacanya. Kau juga tahu itu?"
Myungsoo mendudukan tubuhnya di sebelah Taehyung. Ia menunjukkan buku-buku mini dengan beberapa judul yang menggambarkan karakteristik seorang pujangga. Taehyung menatap buku-buku itu dengan terpana. Tidak menyangka ada orang lain yang suka membaca puisi seperti dirinya.
"Keren. Kau mengoleksinya?"
"Aku punya banyak di rumah"
Perbincangan dengan satu tema yang kedua orang itu sukai berlangsung dengan sangat seru. Taehyung yang paling heboh menceritakan hobi dan kesukaannya. Sesekali Myungsoo akan menimpalinya dan tertawa ketika mendengar hal-hal lucu yang diceritakan Taehyung.
Tanpa mereka sadari, empat pasang mata tengah memandang mereka dengan pandangan yang sulit diartikan.
Jungkook dan Hoseok menatap interaksi mereka dengan pandangan berbeda. Hoseok dengan pandangan risih dan Jungkook yang memandang kedua orang itu dengan datar. Dalam hati Jungkook yang terdalam, ia merasa sakit. Mengapa Taehyung menorehkan luka di hatinya? Mengapa ia begitu mudah menyayat dan menghancurkan harapannya selama ini? Kedua orang itu mungkin hanya dekat. Jungkook berusaha menanamkan pikiran positif. Dan kemudian ia teringat.
Dirinya tak sedekat itu dengan Taehyung.
Cemburu? Jungkook mengakuinya. Ia memang cemburu melihat bagaimana Taehyung bisa bertingkah biasa saja dengan yang lain. Bisa tertawa lepas, tersenyum sangat manis dan menceritakan sesuatu yang membuat semua orang berada di sekitarnya tertawa. Sedangkan dengannya Taehyung tidak seperti itu. Lelaki itu hanya bisa tersenyum gugup, berbicara dengan canggung dan memalingkan muka.
Pada hakikatnya bulan memang tak bisa berdampingan dengan matahari. Benar 'kan?
.
.
"Aku pernah bilang padamu, Jeon. Taehyung bukan orang yang mudah"
"Tapi dia mudah menerima orang lain"
"Itu karena sifat Taehyung memang begitu"
"Lalu kenapa dia tidak menerimaku seperti yang lain?"
Jimin diam. Pertanyaan Jungkook memang ada benarnya. Taehyung, sahabatnya itu memang senang bersosialisasi, ia punya banyak teman di daerah dan tempat yang berbeda-beda. Pria, wanita, anak kecil bahkan para orang tua pun bisa berteman dekat dengan Taehyung. Lalu kenapa Taehyung terlihat canggung jika bersama Jungkook?
Apakah karena Jungkook pernah hilang? Apakah karena Taehyung masih terbebani dengan perasaan Jungkook dua tahun lalu?
"Aku rasa dia terbebani perasaanku. Lalu aku menghilang. Dan semakin membebani hidupnya" nada suara Jungkook melemah
"Kau jangan berpikir begitu, Jeon. Bisa jadi karena kalian memang sudah lama tidak bertemu" Jimin sedikit menenangkan Jungkook, walau dia sendiri pun tidak yakin dengan ucapannya
"Taehyung... Dia pernah merindukanku?" Jungkook bertanya sembari menoleh pada Jimin
Jimin mengulum bibirnya gugup. Tidak tahu harus menjawab pertanyaan itu bagaimana. Taehyung sama sekali tidak pernah membicarakan Jungkook, bertanya pun hanya pada saat ia tak mendapati Jungkook pulang dari Tokyo, setelah itu tak lagi bertanya. Jimin sendiri tidak tahu dengan apa yang ada di dalam hati Taehyung selama dua tahun ini.
Pernahkah nama Jungkook terselip di hatinya? Pernahkah Taehyung merindukan Jungkook?
"Aku..."
"Kau ragu-ragu. Jawaban yang bisa ku pastikan sendiri adalah Taehyung yang tidak pernah merindukanku"
Jimin menunduk.
"Benar 'kan?"
Suara itu. Suara paling lemah yang Jimin pernah dengar. Dan ini adalah suara Jungkook, si tuan tampan yang gagah nan mempesona. Memperdengarkan suara lemah yang meringis hati Jimin. Harus melakukan apa dirinya?
"Kau mencintai Taehyung?"
"Ya. Sangat"
"Kalau begitu, buat dia juga sangat mencintaimu"
.
.
−TBC
Mendadak gue kena WB dan males. Jadi chap dua cuma ini (udah gue bilang kalau fic ini kadang panjang kadang pendek). Sorry dan thanks buat yang udah review, baca, fav, follows, gue cinta kalian:*
Naikin semangat gue dong^^
p.s chapter 3 bakal gue update hari minggu, jadi review yaa~
