I NEED U
[Sequel of RUN]
by miaridara/outout
.
[Jeon Jungkook x Kim Taehyung]
Slight!MyungTae, YoonMin, NamJin, and jomblo Hoseok
I only own the plot
.
.
.
Chapter 4
−Always
Bahkan jika aku tak bisa melihat indahnya dunia, tak bisa mendengar merdunya suara, tak bisa berkata-berkata, tak bisa meraba dan tak bisa berjalan lagi. Aku akan mencintaimu, selalu.
.
.
Taehyung ingin pergi sekarang juga.
Diam bersama seorang Jeon Jungkook di sebuah ruangan yang sepi ini membuat Taehyung merinding, teringat dengan sebutan vampire yang dulu ia sering tujukan pada Jungkook. Mengingat itu, Taehyung jadi semakin merinding. Bagaimana jika dia digigit?
"Aku tak suka basa-basi" Jungkook memulai
Taehyung menyernyitkan dahi tanda tidak mengerti. "Apa maksudmu?"
"Aku sudah pulang, tapi kau menghindariku"
"Aku tidak menghindarimu"
"Kau menghindariku. Aku bisa melihatnya dari mata dan semua tingkahmu. Katakan padaku, kenapa kau menghindariku?" Jungkook bertanya dengan nada yang sedikit tinggi, membuat Taehyung terlonjak kaget
"Aku tidak menghindarimu, Jungkook! Aku hanya..."
Jungkook mendecih, untuk pertama kalinya. "Hanya apa? Kau jelas-jelas menghindariku. Aku tahu aku memang pulang terlambat dari yang seharusnya. Tapi kau menyakitku, Kim. Kupikir kau akan menyambutku dengan bahagia karena kau merindukanku. Tapi lihat apa yang terjadi. Tersenyum padaku pun kau serasa enggan!"
Nafas Jungkook tak beraturan. Luapan emosinya sudah ia utarakan. Ia ingin Taehyung mengerti sekali saja, bahwa Jungkook butuh sebuah kepastian. Apakah Taehyung benar-benar jatuh cinta padanya seperti yang pernah lelaki itu katakan sebelum dirinya pergi. Ia hanya ingin tahu, apakah ia harus terus berjuang atau berhenti di tengah jalan.
"Aku tidak mengerti, Jeon. Kau yang bersalah disini! Kau yang meninggalkan aku lama sekali, dan kau berharap aku akan bahagia saat menyambutmu? Kau pikir aku selembek itu?" Taehyung menatap Jungkook dengan marah
"Kau tidak ingat dengan apa yang kau katakan padaku dulu?"
Taehyung menaikan salah satu alisnya. "Apa yang pernah aku katakan padamu?"
"Kau pernah bilang padaku, bagaimana jika ternyata kau juga jatuh cinta padaku. Kau tahu apa yang ku pikirkan saat di Tokyo?"
Taehyung menutup mulutnya.
"Kau! Hanya kau yang aku pikirkan! Bahkan saat aku akan operasi−" Jungkook tiba-tiba menghentikan kalimatnya, ia sudah kelepasan bicara
"Operasi? Operasi apa?" Taehyung bertanya dengan bingung. Jungkook diam.
"Operasi apa Jeon? Jawab aku!"
Taehyung mendorong tubuh Jungkook ke belakang saat ia tak mendapat jawaban apapun. Jungkook tak membalas, ia hanya memandang Taehyung dengan kosong. Seakan-akan nyawanya telah pergi tepat ketika ia telah tanpa sengaja membongkar rahasia yang ia jaga sendiri.
"Kau tidak perlu tahu. Kau tidak perlu peduli" tegas Jungkook dengan nada paling dingin yang pernah Taehyung dengar
Taehyung tersentak, tidak menyangka jika Jungkook akan mengatakan hal-hal menyakitkan seperti itu. Lalu Jungkook berjalan pelan−sedikit tertatih−menuju pintu untuk pergi dari sana, karena dirinya tidak kuat harus berada di dalam suatu ruangan bersama seseorang yang sangat ia cintai sekaligus sangat menyakiti hatinya.
Karena Jungkook takut ia malah membenci sosok Taehyung di atas rasa cintanya.
"Apa kurang jelas?" ucap Jungkook tiba-tiba
Lagi-lagi Taehyung mengerti.
"Aku kembali. Aku bernyanyi. Aku menciummu. Apa kurang jelas?"
Jungkook tertawa miris. Ia mengangkat tangannya dan meletakannya di dada. Taehyung menahan nafas ketika melihat mata hitam itu sedikit berkaca-kaca. Serapuh inikah Jungkook?
"Kau menyakitiku. Tapi aku mencintaimu, selalu"
.
.
Ruangan itu sangat gelap. Hanya ada penchayaan dari lampu yang mulai meredup. Seorang lelaki dengan memakai topi dan juga kacamata hitam itu memasuki ruangan yang nampak tidak terawat. Pintu kayu itu sudah reot dan menimbulkan suara yang membuatnya seperti di film-film horror. Lantai yang juga terbuat dari kayu itu sudah mulai lapuk dimakan rayap.
Lelaki yang tak diketahui identitasnya itu mengeluarkan sebatang lilin dan juga korek api. Setelahnya ia menyalakan lilin itu untuk menerangi ruangan sempit dengan beberapa tikus yang berlarian di sudut-sudut.
Lilin yang berada digenggamannya itu menerangi sebuah papan dengan beberapa foto seorang lelaki manis yang semuanya dilingkari spidol merah berbentuk hati. Lelaki bertopi itu menyeringai ketika menyentuh salah satu foto.
"Kau tahu kenapa aku begitu tergila-gila padamu?" gumamnya bermonolog
Spidol berwarna merah miliknya yang tersimpan di meja kecil dibawah papan itu mulai kembali membuat hati pada beberapa foto yang sebelumnya tak ada coretan apa-apa. Tulisan-tulisan bernada cinta juga tertulis rapih di bawah foto-foto itu.
"Itu karena kau sangat manis. Dan aku ingin sekali memakanmu untuk diriku sendiri"
Lelaki bertopi itu kemudian melepas salah satu foto dimana disana terdapat lelaki manis tengah tersenyum memakai sebuah jas hitam dan berdiri di dekat sebuah pohon.
"Kim Taehyung, aku akan mendapatkanmu. Jadi tunggu saja dan duduk manis, sayang"
.
.
Taehyung melepas sepatunya dengan lemas dan menyimpannya asal-asalan di rak sepatu. Mantel cokelatnya ia sampirkan di gantungan dengan lemah. Berjalan tanpa rasa minat menuju sofa berwara putih. Merebahkan dirinya disana dengan nyaman. Merasa lelah dengan hidupnya yang sekarang.
"Aku ingin mati saja sekarang" gumam Taehyung dengan suara imut yang menggemaskan
Ponsel di dalam saku celananya bergetar. Dengan malas Taehyung mengeluarkannya dan menerima panggilan tanpa melihat dengan jelas siapa yang malam-malam begini meneleponnya.
"Halo−"
"Taetae! Kau sudah makan?! Ayo kita makan di kedai milik ayah Hoseok!"
Jimin dan segala kehebohannya.
"Aku malas"
"Kau ini bagaimana sih? Hoseok bilang dia akan menggratiskan makannya untuk malam ini pada kau, aku dan Yoongi. Jadi, jangan sia-siakan kesempatan langka ini"
"Apa Jungkook juga disana?" tanya Taehyung sedikit penasaran
"Hoseok sudah mengundangnya tadi. Tapi Jungkook sepertinya sedang sibuk sekali. Kenapa memangnya?"
Taehyung menggeleng tanpa sadar. "Aku sedang lelah sekali, Chim. Aku baru saja pulang dari mengajar les"
Suara desahan nafas terdengar, Taehyung tahu pasti Jimin sedang cemberut sekarang. "Kalau begitu nanti aku akan datang ke rumahmu. Kau istirahat lah"
"Hm. Titip salam pada Hoseok dan Yoongi"
"Oke. Selamat malam, Tae"
Taehyung tersenyum lemah. "Selamat malam, Chim"
Ponsel berwarna putih itu Taehyung letakan di atas meja. Ia mulai memejamkan matanya untuk tidur. Namun suara pemberitahuan pesan membuat Taehyung langsung membuka matanya dengan kesal.
Sebuah nomor tak dikenal.
Sender: 010-xxxx-xxx
Selamat malam, Taehyung^^
Sudah makan?
(KM)
Persimpangan tiga tercetak jelas di dahi Taehyung. "KM?". Sebuah nama terlintas dipikirannya.
"Kim Myungsoo kah?"
.
.
"Kim Taehyung tidak datang?" suara Jungkook terdengar, Jimin yang tengah menyantap ramyun besarnya menoleh dengan mulut penuh
"Hidah!"
Tak!
Yoongin memukul kepala Jimin dengan sumpit yang ada di tangan kirinya. "Telan dulu baru bicara!" nasehatnya dengan mata yang melotot tajam
"Kasar sekali" Jimin menggembungkan pipinya, membuat Hoseok langsung mencubit pipi itu dengan gemas
"Taehyung tidak datang, dia bilang dia lelah sekali habis mengajar les piano" tutur Yoongi sembari mengaduk sebentar ramyun pesanannya
"Tadinya kupikir dia akan langsung datang kesini karena aku bilang gratis. Dia kan orang nomor satu yang akan berbaris paling depan untuk sebuah makan gratis yang enak" sahut Hosoek, merasa bingung dengan ketidakdatangan Taehyung di kedai milik ayahnya
Jungkook hanya memandang Hosoek dengan tatapan kosong lalu mulai menaruh minat pada satu mangkok ramyun miliknya yang baru saja datang. Kepulan asap panas dari ramyun itu menggugah selera Jungkook, dia sudah lama tidak mencicipi ramyun Korea. Saat di Tokyo dia memang menyantap banyak aneka ramen yang sangat enak. Tapi dari negara sendiri tentu jauh lebih enak.
"Ngomong-ngomong, dengar berita tentang penculikan di TV tidak?" Hoseok bersuara dengan sedikit heboh
"Penculikan apa?" tanya Jimin yang tetap sibuk dengan makanannya
"Ada penculikan anak kecil, manis sekali. Aku melihat fotonya dan rasanya aku ingin sekali menangkap penculik itu, kemudian−blablablablablabla−"
Jungkook tak mendengarkan cerita Hoseok dengan baik. Pikirannya hanya tertuju pada Taehyung. Sedang apa dia sekarang? Apakah dia sudah makan? Begitu banyak pertanyaan yang ingin Jungkook tanyakan. Begitu juga tentang perasaan Taehyung selama ini. Apakah dia benar-benar jatuh cinta pada Jungkook seperti yang pernah dia katakan dulu? Jungkook menggelengkan kepalanya sedikit frustasi.
Kalau dipikir-dipikir, Taehyung jadi seperti ini mungkin juga karena kesalahannya. Dia pergi lama sekali dari apa yang sudah ia janjikan, tanpa ada sedikitpun kabar dari Jungkook pada Taehyung. Tapi bagaimanapun juga Jungkook tidak menyangka bahwa dia akan kembali lama sekali. Operasi cangkok jantungnya memang berhasil, tapi koma selama setengah tahun itu membuat Jungkook tak bisa berbuat apa-apa.
Saat dokter mengatakan kalau dia sudah koma lama sekali, hal yang langsung Jungkook pikirkan adalah Taehyung. Setelah meyakinkan diri ia langsung menuju sekolah di Tokyo dan mengurus ujian yang telah ia lewati begitu saja. Jungkook bahkan belajar hingga larut malam supaya ia lulus dengan cepat. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa dia koma. Dia koma selama itu? Pantas saja saat bangun tubuhnya terasa remuk dengan berbagai macam alat−yang ia tidak tahu apa−terpasang di tubuhnya.
Setelah lulus, ia langsung pulang ke Korea. Namun ayahnya langsung memberikan setumpuk pekerjaan pada Jungkook karena saat itu perusahaan yang dikelola ayahnya sedang dalam masa krisis dan Jungkook adalah satu-satunya pahlawan. Tak ada satupun keluarga yang mengetahui Jungkook melakukan operasi kecuali supir pribadi dan walinya di Tokyo.
Pada akhirnya setelah dua bulan lebih berkutat dengan dunia perusahaan, Jungkook bertemu kembali dengan Hoseok, itupun tidak sengaja. Hoseok dengan segala sifat hebohnya menerjang tubuh Jungkook hingga pemuda yang sekarang beranting hitam itu jatuh dengan sangat tidak elit. Hoseok bahkan menangis dengan keras kala Jungkook berkata sedikit kasar padanya karena bokongnya sangat sakit.
Jungkook pikir bertemu dengan Hoseok saja sudah cukup untuk sekarang, dengan ia yang akan mencari Taehyung dan mengawasinya dari jauh sampai ia benar-benar berani untuk bertemu dengan pemuda manis itu.
Tapi ternyata Takdir melawan rencana Jungkook dengan hebatnya. Jungkook yang tengah mengontrol jantungnya harus bertemu dengan Taehyung dan temannya yang lain saat di rumah sakit. Takdir sepertinya memang tidak menyukainya. Kurang tampan apa Jungkook?
"−Penculik macam apa yang tega menculik anak imut itu. Kalau sapai tertangkap, aku akan menghabisinya dan menjadikannya bahan ramyun" celotehan Hoseok ternyata masih berlanjut
Jimin mengernyit jijik. "Aku akan berhenti makan di kedaimu, kalau begitu jadinya"
"Aku 'kan hanya bercanda, ntet"
"Lagipula, penculik itu tak ada yang tidak tega, Hoseok. Entah itu anak kecil ataupun lansia, dia akan menculik korbannya untuk mendapatkan tebusan yang banyak" sahut Jungkook, mencoba ikut dalam obrolan aneh itu
Yoongi mengangguk-anggukan kepalanya, "Aku setuju dengan Jungkook"
Hoseok mendecih, lalu kemudian ia memajukan wajahnya ketika mengingat sesuatu. Lelaki dengan gaya yang aneh itu meminta semua temannya untuk mendekat. Karena ia akan berbicara dengan suara pelan.
"Kalian dengar tentang polisi yang paling malas di Korea?"
"Oh! Kim Namjoon?!" seru Jimin yang langsung mendapat pukulan keras dari Yoongi dan Hoseok, Jungkook tertawa kecil melihatnya
"Jangan keras-keras, bodoh bantet! Kau mau ada yang menangkap kita karena kita membicarakan polisi saat makan ramyun?"
"Aku hanya reflek" bisik Jimin dengan raut wajah menyesal
"Memangnya ada apa dengan polisi berlesung pipi itu?" tanya Yoongi tak memperdulikan Jimin yang masih cemberut
Hoseok memasang raut wajah paling serius dengan suara yang paling pelan. Untuk pertama kalinya Jungkook merasa ingin sekali tertawa keras melihat bagaimana misteriusnya Hoseok dan bagaimana keponya seorang Yoongi dan juga Jimin.
Jungkook tidak sekepo kedua orang itu. Dia hanya sekedar ingin tahu.
Sedikit banyak ia juga mengetahui siapa Kim Namjoon itu. Polisi paling malas yang pernah ia dengar, namun polisi itu juga polisi paling berbahaya. Banyak kasus sulit yang pernah ia pecahkan dengan mudah. Sifat malasnya sering sekali menunda pekerjaan hanya untuk menyelesaikan tidurnya yang tertunda. Tapi tanpa diketahui orang banyak, polisi itu pasti sudah menyelesaikan tugasnya dengan cepat dan sukses. Itulah kenapa petinggi kepolisian tidak pernah mau memecatnya karena pekerjaan yang ia lakukan selalu tuntas dengan baik.
"Berita yang ku dengar, dari bibiku−" Hoseok melanjutkan
"Bibimu tak pernah benar" Yoongi menyela dengan cepat
"Kali ini percayalah. Bibiku bilang, Kim Namjoon sudah mengundurkan diri dari kepolisian"
Enam pasang mata itu langsung melebar ketika mendengar lanjutannya Hoseok.
"Kim Namjoon mengundurkan diri?!"
Kalau sudah begitu, siapa yang akan menggantikan pekerjaan baiknya. Kenapa Kim Namjoon mengundurkan diri? Apakah karena masalah pribadi?
Kalau begitu jadinya, kejahatan pasti akan semakin sering terjadi.
.
.
"Merokok saja kau, Namjoon. Sudah merasa sangat bebas?" tanya Jackson pada pria yang tengah duduk santai di atas kursi di balkon rumahnya dengan rokok terselip manis diantara dua jarinya
Pria bernama Namjoon itu tak menjawab. Ia hanya memandang langit malam yang hanya di selimuti beberapa bintang. Gelap. Namun Namjoon sudah terbiasa dengan gelap.
"Semua orang membicarakanmu. Kenapa kau mengundurkan diri? Apa karena kau ingin sering bermalas-malasan tanpa harus menguras tenaga lebih banyak? Atau... karena kau bosan?"
Namjoon menyeringai tipis. Ia membuang puntung rokok yang sudah habis dan menginjak-nginjaknya pelan. Lalu berdiri hendak turun. Tapi kemudian ia berbalik untuk melihat Jackson yang masih menunggu jawabannya.
Namjoon menyeringai tipis.
"Aku hanya ingin hidup tanpa mengurusi orang lain. Hidupku saja tidak terurus selama ini"
"Tapi kau sudah−"
"Aku rindu kehidupan damai" Aku rindu keluargaku
Tapi Jackson tahu benar apa yang menyebabkan Namjoon mengundurkan diri dari jabatan yang paling ia banggakan itu. Jabatan yang menjadi impian Namjoon sejak kecil.
Karena kemarin, keluarga yang sangat Namjoon cintai, habis dibantai oleh suruhan seseorang yang paling ia benci seumur hidup.
Jeon Junghwan.
Jackson yakin, Kim Namjoon pasti akan menghabisinya.
.
.
.
.
T B C
KENAPA CERITANYA JADI BEGINI SIH?/tarik nafas, buang nafas/ gue ga tahu harus bilang apa ya. Gue ngetik dari apa yang gue pikirin aja/abis nonton HOTD sih(?)/
Well, Namjoon udah nongol disini. Taehyung pianis, Jungkook pengusaha, Jimin dancer, Hoseok penerus kedai ramyun ayahnya, Suga itu sebenernya jadi produser musik, di kampus doang tapi -_- (di chap satu dia sok-sokan ngelamar ke rumah sakit, dan ditolak, karena pas wawancara aja malah ngajak perang), Namjoon jadi polisi (entah kenapa gue pengen banget dia jadi polisi, kece ) dan Seokjin belum muncul. Untuk profesi Seokjin, di RUN dia jadi karyawan di perusahaan ayahnya Jungkook, jadi gue memutuskan di INU juga sama, supaya keterkaitan ceritanya pas.
Gue mematok fic ini cuma sampe 10 chapter aja (entah kurang atau lebih) yang pasti KookV pasti akan bersatu (ya iyalah).
Btw, makasih banyak gue ucapkan untuk siapapun yang sudah membaca cerita ini sampe chap 4. Meskipun gue tahu ini ga jelas banget, tapi makasih yaaa, gue gatau bagaimana jadinya kalo tanpa kalian /nyusut ingus/
So, sampai ketemu di chapter berikutnya!
Review ya~~
