I NEED U
[Sequel of RUN]
by miaridara/outout
.
[Jeon Jungkook x Kim Taehyung]
Slight!MyungTae, YoonMin, NamJin, and jomblo Hoseok
I only own the plot
.
.
.
Chapter 5
−Imperfection
Aku tidak sempurna, seperti apa yang selama ini mereka katakan tentangku. Tapi aku punya cinta, cinta yang hanya akan kutujukan untukmu.
.
.
Myungsoo memang bukan mahasiswa populer, seperti halnya Jimin yang terkenal dengan kemampuan menarinya, Taehyung dengan permainan pianonya, Yoongi dengan segala pengetahuan tentang musik (namun tetap bersikukuh ingin menjadi seorang dokter saraf) dan Hoseok dengan kemampuan menari yang satu tingkat lebih hebat dari Jimin.
Myungsoo hanya mahasiswa biasa. Dia hanya dilahirkan dengan ketampanan yang luar biasa tanpa adanya kemampuan apa-apa.
Tapi kalau berpujangga, Myungsoo adalah juaranya. Dia senang merayu, senang menggoda, senang berpuisi pada seseorang yang diincarnya.
Dan Taehyung adalah target paling manis yang pernah Myungsoo temui.
.
.
"Aku tidak suka pada si Myungsoo itu"
Jimin datang dengan membawa sebotol air mineral dan langsung duduk di sebelah Hoseok dan Yoongi. Yoongi yang sedang melahap kimbap milik Hoseok hanya mengeryitkan dahi.
"Kenapa? Dia 'kan baik" Hoseok berpendapat
Jimin memutar bola matanya malas. "Semua orang pasti terlihat baik. Tapi ternyata busuk" ucapnya sembari menekankan kata busuk
"Kau hanya iri karena tidak setampan dia" ledek Yoongi
"Kenapa harus iri? Aku juga tampan kok" balas Jimin agak sewot
"Sudahlah sudah. Kau tampan kok" Hoseok melerai
Jimin tersenyum mendengar ucapan Hoseok dan Yoongi mendecih karena merasa itu tidak sesuai kenyataan. Jimin tampan? Iya dia memang tampan, tapi jika dibandingkan dengan kingkong.
"Jungkook tidak kemari lagi?" Yoongi bergumam, entah bertanya pada siapa
Suara sepatu yang berlari itu membuat ketiga orang yang tengah duduk menolehkan kepala ke belakang. Taehyung dengan snapback hitam di kepalanya tengah berlari menuju mereka. Senyumnya melebar. Sangat lebar hingga membuat Yoongi ingin sekali melakbannnya. Taehyung memang selalu tersenyum, bahkan di masa-masa sulitnya sekalipun.
Tapi senyuman lebar seperti itu? Yoongi tahu ada yang mencurigakan.
"HAI SEMUA!"
Hoseok tertawa mendengar suara Taehyung yang bersemangat sekali di pagi hari ini. "Eiy, kau dapat uang ya? Semangat sekali"
"Aku dapat banyak hadiah!" riang Taehyung sembari menunjukan beberapa kotak hadiah berbeda warna yang ada di dalam tas punggungnya
Jimin dan Hoseok menatap hadiah-hadiah itu dengan takjub. Sedangkan Yoongi hanya melihat itu dengan malas. Ia tidak merasa iri, sungguh. Ia hanya merasa ada yang aneh dengan semua hadiah itu. Taehyung memang terkenal, dia juga sering mendapat hadiah di hari-hari tertentu, tapi hingga sebanyak ini di hari yang sama sekali tidak ada perayaan apapun? Yoongi mendongak melihat Taehyung yang masih tersenyum sumringah.
"Dari siapa hadiah-hadiah itu? Penggemarmu?" tanya Yoongi
Taehyung menggeleng. "Bukan"
"Lalu?"
"Dari Myungsoo!"
Ah, Yoongi jadi menaruh curiga pada lelaki itu.
.
.
"Presdir, Tuan Jeon Junghwan memanggil Anda ke ruangannya"
Jungkook mendongakkan kepalanya, bertemu pandang dengan sekretarisnya. Menatap heran kenapa Ayahnya memanggilnya.
"Jam berapa? Aku sedang sibuk mengerjakan beberapa proposal"
"Tua Jeon Junghwan meminta Anda untuk datang ke ruangannya sekarang juga. Beliau mengatakan bahwa ada hal penting yang harus dibicarakan dengan Anda" tuturnya
Jungkook menghela nafasnya sebentar sebelum berdiri dari kursi empuknya. Ia berjalan lebih dulu melewati sekretarisnya.
Ruangan milik Ayahnya terletak di lantai 5, sehingga ia harus menaiki lift karena ruangan kerjanya berada di lantai 10. Perbedaan lantai itu memang Jungkook sendiri yang meminta. Alasannya karena ia tidak mau terlalu dekat dengan Ayahnya di kantor. Ia tidak mau semua orang beranggapan bahwa Jungkook sukses karena Ayahnya. Memang, perusahaan ini adalah perusahaan turun-temurun dan Ayahnya yang selama ini bekerja. Tapi sekarang, Jungkook juga bisa membuat perusahaan−yang hampir saja bangkrut−ini bisa semakin berjaya.
Beberapa karyawan yang dilewati Jungkook membungkuk sopan padanya. Mereka semua tersenyum pada Jungkook meskipun Jungkook hanya memasang wajah datar. Para karyawan memang seperti itu 'kan? Terlihat sangat sopan, santun dan begitu ramah. Tapi jika Jungkook sudah jauh dari mereka, pasti bibirnya yang tadi tersenyum itu akan berubah menjadi bibir penggosip.
"Lihat, tuan kaya raya itu, makin sombong setiap harinya"
"Dia tidak akan bisa sekaya ini tanpa Ayahnya. Tapi berlagak lebih hebat"
Tapi, tentu saja ada beberapa karyawan yang berhati malaikat. Yang menganggap Jungkook memang mempunyai sifat seperti itu sejak kecil.
"Hush! Kalian mau dipecat karena membicarakan dia? Kalau sudah dapat surat pemecatan baru menyesal"
Jungkook tidak pernah peduli. Entah kebencian dari orang-orang itu terlihat jelas ataupun sembunyi-sembunyi. Jungkook sudah biasa menerimanya. Ia hanya menganggap mereka itu hanya anjing yang meminta tulang, jika diberi tulang tidak akan menggonggong lagi. Sekejam itu Jungkook menyamakan mereka dengan anjing.
Jungkook memang kejam. Dia tidak punya hati.
Karena hatinya sudah diambil oleh satu-satunya manusia yang Jungkook samakan dengan malaikat. Jungkook tidak peduli jika hatinya tidak kembali lagi. Selama hati itu ada pada malaikatnya, Jungkook rela.
.
.
"Maaf ya, aku ada janji makan siang dengan Myungsoo"
Ucapan penuh nada menyesal itu terdengar di taman belakang kampus. Yoongi, Jimin dan Hoseok berniat untuk mengajak Taehyung makan siang bersama karena mereka sudah lama tidak berkumpul−sebenarnya hanya Taehyung saja yang tidak pernah ikut. Bahkan Jungkook, yang notabenenya baru kembali saja sudah sering kumpul bersama mereka untuk sekedar mengobrol hal-hal yang tidak jelas.
Jimin yang kebetulan berdiri di sebelah Taehyung hanya berdecak kesal karena sahabatnya mengatakan alasan yang ada Myungsoonya. Semenjak dekat dengan lelaki itu, Taehyung mulai lupa pada mereka.
"Kapan-kapan saja ya" Taehyung bersuara lagi
"Kapan-kapan yang pastinya kau akan menolaknya lagi. Sudahlah, pergi saja dengan Kim Myungsoo si pujaan hatimu itu" nada kesal dari Yoongi membuat Taehyung terhenyak
"Lain kali aku pasti bersama kalian kok"
"Kalau masih bersama dengannya, lain kali itu tidak akan pernah ada. Apa perlu aku merekamnya untuk membuktikan padamu bahwa kau selalu menolak ajakan kami dan lebih memilih bersama si Myungsoo itu" timpal Jimin, ia juga kesal karena Taehyung sudah lebih banyak menghabiskan waktu dengan si tukang perayu ulung itu
"Kalian tidak suka aku berteman dengannya?" tanya Taehyung dengan suara pelan
"Kalian terlihat tidak seperti teman. Kau dan dia bahkan terlihat seperti sepasang kekasih! Kalau kau memang lebih senang bersama si perayu itu, lebih baik kau beri kepastian pada Jungkook! Katakan padanya kalau selama ini kau tidak ada rasa padanya! Kau tidak lihat kalau Jungkook menderita seperti itu?!" bentak Jimin
Hoseok menelan ludahnya kala melihat raut wajah Taehyung berubah kesal.
"Kenapa kau bawa-bawa nama dia?! Kau tidak tahu aku juga menderita karenanya!"
Jimin mendecih. "Tae, sadarlah! Setahun lalu kau mengatakan padaku bahwa kau merindukan Jungkook. Kau bilang kau hanya akan jatuh cinta pada Jungkook dan akan menunggunya kembali. Aku ingat kau bilang itu saat mabuk karena habis merayakan perpisahan sekolah. Tapi sekarang? Setelah Jungkook kembali, apa yang kau lakukan padanya?!"
Taehyung membulatkan matanya. "A−aku berkata... begitu?"
"Mungkin aku harus mengatakan yang sebenarnya padamu"
Yoongi menatap Jimin tajam. "Kau tidak boleh mengatakannya, Park Jimin! Jungkook tidak mengizinkannya!"
"Dia harus tahu yang sebenarnya, Min Yoongi! Taehyung harus tahu kenapa Jungkook terlambat pulang!"
"Apa? Sebenarnya ada apa dengannya? Katakan padaku, Jim!"
Jimin menghela nafasnya, memejamkan mata lalu membukannya setelah benar-benar yakin dengan keputusannya untuk mengatakan sesuatu yang bernamakan rahasia milik Jungkook. Kalau Taehyung tidak diberitahu, selamanya Taehyung tidak akan mengerti. Selamanya Jungkook juga akan semakin menderita. Dan tidak akan pernah ada persatuan di antara mereka.
Jadi, hari ini. Jimin akan mengatakan yang sebenar-benarnya.
"Jungkook..."
Taehyung menunggu dengan tidak sabar.
Katakan pada Taehyung, aku mencintainya
"Jungkook melakukan operasi cangkok jantung di Tokyo−"
Kedua mata berwarna cokelat itu melebar. Lebih dari sekedar terkejut. Kedua telapak tangannya menutup mulut. Dan tubuh kurusnya bergetar.
Katakan padanya, aku pasti akan kembali. Aku akan berjuang, aku akan berusaha untuk bisa menemuinya lagi.
"−dia datang terlambat, karena dia sempat koma. Setelah bangun, dia langsung bergegas kesini untuk menemuimu, Tae"
Jimin memandang Taehyung dengan sendu. Hoseok dan Yoongi menunduk.
"Jungkook sangat mencintaimu"
Aku sangat mencintainya.
.
.
"Aku memintamu datang kesini, karena ada sesuatu hal penting yang harus kau dengar dan tahu" Junghwan memandang putra semata wayangnya itu dengan tajam
Nampak tak ada pancaran sayang disana. Tidak seperti kebanyakan para Ayah yang memandang Anaknya dengan perasaan sayang. Di kedua mata yang sama hitamnya dengan Jungkook itu hanya ada gelap.
"Aku ingin kau menjaga dirimu, sebaik-baiknya"
"Ayah melakukan hal kotor lagi?" tebak Jungkook dengan datar, jika Ayahnya berkata begitu, pasti ada sesuatu hal kotor yang dilakukan Ayahnya
"Itu bukan hal kotor. Aku melakukannya untuk kebaikan keluarga." Tandas Junghwan, sedikit terhina dengan perkataan Jungkook
"Sudah berapa banyak orang yang Ayah lenyapkan hanya untuk terus mendapatkan kemewahan? Bukankah itu lebih dari sekedar kotor? Ah tidak..."
Kilatan marah itu terlihat di kedua mata Junghwan.
"...Itu menjijikan"
BRAK!
Gebrakan meja terdengar keras di ruangan itu. Junghwan bangkit dengan amarah yang memburu. Tidak menyangka bahwa Jungkook akan seberani ini padanya.
"Jaga ucapanmu, Jeon Jungkook!"
Raut wajah Jungkook semakin dingin. "Ayah memintaku untuk berhati-hati. Itu karena Ayah tidak ingin kehilangan si penghasil emas ini 'kan? Ayah tidak ingin aku mati karena Ayah masih butuh aku sebagai penggeruk uang. Ayah hanya ingin uang, Ayah tidak pernah peduli dengan apa yang terjadi padaku! Bahkan jika aku mati... hanya uang yang akan Ayah tangisi!"
"JEON JUNGKOOK!"
Jungkook tertawa melihat reaksi Ayahnya itu.
"Memang benar 'kan? Setelah tahu bahwa aku punya banyak potensi untuk menghasilkan banyak uang, Ayah mulai mencari cara agar keberhasilanku tidak terhambat"
Kali ini kilatan marah itu juga terlihat di kedua mata Jungkook. "Tapi cara Ayah kotor! Ayah membunuh beberapa keluarga yang bersangkutan dengan polisi hanya karena Ayah tidak ingin tertangkap telah melakukan sesuatu yang salah 'kan?! Aku tahu semua hal kotor yang Ayah lakukan! Aku tahu semuanya!"
"Diam! Aku tidak menyuruhmu berbicara tidak sopan padaku! Aku tidak pernah mengajarkanmu begitu, Jungkook!"
"Memang benar. Ayah memang tidak pernah mengajarkanku, karena Ayah memang tidak pernah peduli padaku sejak dulu. Kau tidak lebih baik dari dia!"
Junghwan tertohok. Kilatan marah yang bercampur dengan air mata itu membuat Junghwan tak bisa berkutik. 'Dia' yang dimaksud Jungkook adalah Ibunya sendiri.
"Aku benci kau dan dia!"
Pintu ruangan itu tertutup keras saat Jungkook sudah berlari dari sana. Meninggalkan Junghwan dengan segala penyesalannya. Tubuh tegap dan gagah itu merosot jatuh ke kursi empuk miliknya. Kedua tangannya meremas rambut fustasi.
Junghwan meneteskan air mata kala mengingat perkataan mendiang istrinya dulu. Saat istrinya yang begitu cantik itu menyerahkan Jungkook sepenuhnya padanya.
.
Flashback On
.
"Jaga Jungkook untukku. Jagalah dia dengan baik" Soyeon tersenyum lemah pada Junghwan, tangan yang lembut itu membelai wajah Junghwan dengan sayang
"Kau bisa melewatinya, sayang. Kau bisa" Junghwan menyemangati
Nafas Soyeon tersendat, wajah cantik itu nampak pucat. Tapi dimatanya, Soyeon tetap terlihat cantik seperti bidadari meskipun Junghwan belum pernah melihat rupa bidadari itu seperti apa.
"Aku bisa bertahan sampai hari ini, Junghwan. Besok, Tuhan yang menentukannya. Apakah aku akan tetap hidup bersama kalian atau kembali disisiNya. Aku akan berjuang sebisa mungkin, agar aku bisa bertemu kalian lagi. Agar bisa berkumpul bersama Jungkook dan dirimu" suara dengan nada lemah itu menggetarkan hati Junghwan, lelaki tampan itu tanpa sadar telah meneteskan air matanya dan jatuh di pipi Soyeon
Soyeon tersenyum saat menyeka lembut air mata Junghwan.
"Kau adalah Ayah yang hebat. Jangan menangis"
.
.
"Ibu! Jangan tinggalkan aku bu!" tangisan anak kecil itu menjadi satu-satunya suara yang terdengar
Di rumah sederhana dengan dikelilingi taman bunga itu nampak menyedihkan. Jungkook kecil yang sedang menarik gaun panjang milik Ibunya itu menangis karena Ibunya akan pergi. Beberapa koper dan tas telah berjejer rapi di dekat sebuah mobil. Soyeon dengan wajah yang dibuat marah itu berbalik dan memandang Jungkook tajam.
"Menyingkir dariku! Kau bukan anakku! Kau itu sampah!"
Dengan sedikit kasar, Soyeon melepaskan tarikan tangan mungil Jungkook dari gaun ungu panjangya. Melangkah dengan cepat sembari membawa beberapa kopernya untuk dimasukan ke dalam mobil.
Jungkook kecil berlari mengejar Ibunya. "Ibu! Jangan tinggalkan Jungkook! Jungkook ingin bersama Ibu, Jungkook sayang Ibu!"
Soyeon memejamkan matanya, menahan luapan air mata yang memberontak untuk keluar. Tidak. Dia tidak boleh menangis di hadapan Jungkook. Dia tidak boleh merusak aktingnya ini. Dia tidak boleh membuat Jungkook tidak bisa melepaskannya.
Sebenci apapun Jungkook setelah ini, Soyeon tidak mau membuat Jungkook tenggelam dalam bayang-bayang gelap kematiannya. Soyeon rela menanggung sepenuhnya kebencian itu.
Junghwan berdiri di depan pintu dengan perasaan tak karuan. Mendengar tangisan Jungkook membuat dirinya tidak kuat menahan tangis. Melihat istrinya yang sedang berusaha untuk membuat Jungkook menjadi benci. Padahal Junghwan tahu, Soyeon tak mampu melakukan itu jika bukan karena penyakit yang memembuatnya menderita ini.
Hari ini, istrinya itu akan melakukan operasi jantung. Soyeon, yang memang sudah tahu kemungkinan terburuknya, tidak ingin Jungkook meratapi kematian Soyeon nanti. Ia ingin Jungkook tetap hidup tanpa harus terpuruk dalam bayang-bayang kematian Ibunya.
Dan membuat Jungkook menanamkan rasa bencinya pada Soyeon adalah jalan terpahit yang Soyeon putuskan.
"Ibu! Jangan tinggalkan Jungkook! IBU!"
Teriakan Jungkook pecah kala mobil yang dinaiki Soyeon melaju kencang meninggalkan bocah kecil itu berdiri di tengah jalan. Wajah dan baju bergambar power ranger yang sekaranga iapakai itu sudah basah karena air mata yang tak henti-hentinya mengalir.
Junghwan buru-buru mendekati anak lelakinya dan memeluk Jungkook dengan erat. Jungkook menangis sekencangnya disana. Tidak mengerti kenapa Ibunya tega meninggalkan ia bersama sang Ayah. Bukankah Ibunya sangat menyayanginya.
Di dalam mobil, Soyeon menumpahkan tangisnya yang sedari tadi tertahan. Sang supir yang melihat kejadian tadi itu jadi ikut iba.
Raungan menyedihkan itu menjadi nyanyian paling mengerikan yang pernah supir itu dengar.
.
.
"Maaf, tapi kami tidak bisa menyelamatkannya"
Kalimat yang diucapkan dokter itu sanggup membuat Junghwan berteriak kesetanan. Tidak peduli dengan teriakan para suster, Junghwan merengsek masuk ke dalam ruangan dimana Soyeon terbaring kaku. Wajah cantik itu sangat pucat. Kulitnya menjadi sangat dingin.
Junghwan menangis disana. Sampai seorang suster menyerahkan sebuah surat pada lelaki itu. Dengan gemetar Junghwan membuka surat dengan warna biru yang terdapat gambar hati kecil di ujungnya.
Untuk suamiku dan juga Ayah yang hebat, Jeon Junghwan
Aku menulis surat ini sebelum aku melakukan operasi. Aku hanya takut bahwa aku tidak bisa mengucapkan selamat tinggal padamu. Jadi kubuatkan surat ini.
Junghwan, tolong bisikan kata maaf dariku pada Jungkook saat ia sudah tertidur. Kau tahu aku tidak benar-benar ingin membuatnya membenciku. Aku sangat menyayanginya, aku sangat mencintai putra kecil kita.
Jangan buat dia menangis, karena aku pasti akan memarahimu dari sini. Jangan buat dia kelelahan, selalu buatkan dia susu agar dia tubuh tinggi sepertimu. Ajak dia bermain ke tempat-tempat yang menyenangkan. Ah, dia pernah bilang padaku bahwa dia ingin dibelikan koleksi power rangers yang pernah ia lihat di toko mainan saat kami belanja bersama. Kau bisa membelikan itu untuknya 'kan?
Junghwan, jagalah Jungkook dengan baik.
Ceritakan semua ini pada Jungkook, saat putra kecil kita sudah dewasa. Saat putra kesayangan kita sudah benar-benar mengerti. Aku tahu Jungkook sangat mirip denganmu. Saat masih SMA dulu, kau selalu kalut saat aku menceritakan sesuatu yang buruk. Ceritakan padanya, saat dia sudah mengerti bagaimana rasanya kehilangan.
Sebentar lagi aku akan melakukan operasi. Doakan saja aku agar aku bisa hidup dengan tenang di surga.
Salamkan rasa sayangku pada Jungkook. Aku sangat mencintaimu. Aku sangat menyayangi kalian berdua.
Love,
Jeon Soyeon
.
Flashback Off
.
.
.
T B C
Halo guys, sorry baru update siang ini. Biasanya update subuh,tadi buru-buru banget untuk langsung cus ke tempat mengemban tugas. Bahkan hampir lupa buat update fic ini/nangis di pojokan/. Btw, untuk yang nebak kalo laki-laki misterius itu adalah Myungsoo, kalian benar sekali. Dan untuk yang nebak Tae akan diculik Myungsoo pun itu sangat tepat. Emang gue kaga bakat bikin yang misterius/nangis di jamban/
Ga pernah bosen gue ucapin terimakasih ke kalian semua yang sudah sempat membaca, memfollow, memfavoritkan dan mereview cerita gue. Kalian sangat luar biasa/cium atu-atu/
Sampai jumpa di chap depan yah~~
Review ne?*^_^*
