I NEED U

[Sequel of RUN]

by miaridara/outout

.

[Jeon Jungkook x Kim Taehyung]

Slight!MyungTae, YoonMin, NamJin, and jomblo Hoseok

I only own the plot

.

.

.

Chapter 6

Darkness

Tolong tarik aku keluar dari jurang kegelapan ini

.

.

Myungsoo memandang heran Taehyung yang hanya mengaduk-ngaduk makanannya tanpa sekalipun dimakan. Sejak tadi memang Taehyung terlihat tidak bersemangat. Ap ada hal yang mengganggu lelaki manis itu?

"Apa sesuatu terjadi padamu?"

"Eh?" Taehyung mendongak kaget karena pertanyaan Myungsoo

Myungsoo tersenyum. "Apa terjadi sesuatu?" dia mengulangnya lagi dengan jelas

Taehyung menggeleng. "Tidak terjadi apa-apa. Aku hanya merasa...tidak enak badan"

"Kalau begitu sebaiknya kita pulang saja" kata Myungsoo

Taehyung lagi-lagi menggeleng, "aku masih baik-baik saja kok. Tidak mungkin kita menyia-nyiakan makanan mahal ini. Maaf ya, aku harap kau tidak marah"

"Tidak apa-apa. Aku hanya khawatir padamu, nanti biarkan aku mengantarmu pulang" ujar Myungsoo sembari menunjukan senyum penuh pesonanya

"Ah aku tidak mau merepotkanmu"

"Tidak. Aku malah akan senang kalau kau mau ku antar"

.

.

Jimin memandang Jungkook yang sedang mengaduk-ngaduk ramyunnya. Pemuda dengan pipi yang menggemaskan itu menatap penuh sayang pada ramyun yang harumnya begitu menggoda. Kenapa Jungkook tega menyia-nyiakan ramyun itu?

"Kau tidak kerja?" tanya Hoseok saat menemukan Jungkook ternyata ada di kedainya

"Jungkook sedang cuti" Jimin menyahut tanpa menoleh pada Hoseok, matanya hanya tertuju pada ramyun

Hoseok yang memperhatikan itu hanya memutar bola matanya malas. Ia berjalan ke belakang untuk menyiapkan ramyun Jimin. Dia tidak mau Jimin membanjiri kedainya dengan air liur. Menjijikan.

Seorang lelaki tiba-tiba duduk di sebelah Jimin. Bau asap rokok membuat Jimin mendesah, ia paling benci jika harus mencium bau ini. Saat berbalik untuk memberi sedikit wejangan pada orang yang merokok, Jimin langsung terlonjak.

"P−polisi Kim?!" pekiknya tertahan

Namjoon, yang merasa dipanggil, menoleh sebentar dengan mata yang menyorot malas. Lalu kemudian kembali memandang beberapa kaligrafi hangul yang tertempel di kedai itu. Jimin masih di alam kagetnya, sedangkan Jungkook malah sibuk memperhatikan tingkah laku Namjoon yang sangat tidak mencerminkan seorang polisi. Ralat, mantan polisi.

"Ramyun jumbo pedas, dua porsi"

Jimin dan Jungkook seketika melotot saat mendengar Namjoon memesan ada pelayan kedai.

"Pantas dia dipecat" bisik Jimin

Jungkook langsung menendang kakinya.

.

.

Yoongi, dengan segala rasa penasarannya mengikuti Myungsoo yang baru saja mengantar Taehyung pulang. Sedari tadi Yoongi harus menahan rasa muak saat menguntit kedua orang itu di restoran mahal. Belagak mentraktir Taehyung di restoran mahal, dasar tukang cari muka, cibir Yoongi dalam hati.

Awalnya Myungsoo berjalan di gang kecil seperti gang-gang biasa. Yoongi bahkan malah ingin sekali cepat pulang karena merasa tak ada yang aneh sama sekali.

Tapi ketika Myungsoo berbelok ke sebuah rumah reyot, Yoongi langsung memasang wajah waspada. Apalagi ketika Myungsoo mengeluarkan topi hitam dan memasuki rumah reyot itu. Siapa pula orang bodoh yang akan memasuki rumah yang bisa saja rubuh kapanpun?

Dengan rasa penasaran yang semakin bertambah itu, Yoongi berjalan pelan menuju sebuah jendela kecil yang sedikit mulai pecah.

Alangkah terkejutnya ia saat melihat Myungsoo berdiri di sebuah papan dengan banyak foto tertempel disana. Yoongi mungkin tidak akan terkejut jika foto-foto itu adalah foto-foto wanita berbikini. Tapi ketika menajamkan penglihatannya, wajah Taehyung adalah satu-satunya wajah yang ada di puluhan foto itu.

Dengan pelan Yoongi berjalan untuk melarikan diri sebelum Myungsoo menyadari kehadirannya. Ia harus memberitahukan ini semua kepada yang lain, terlebih pada Jungkook.

Karena melihat semua kenyataan mengerikan ini, Yoongi tahu bahwa Kim Myungsoo itu sangat berbahaya.

.

.

Jackson menghela nafasnya ketika memasuki rumah kecil yang ia tempati bersama Namjoon. Mereka berdua bersahabat sejak kecil, setelah impian mereka menjadi polisi tercapai, mereka memutuskan untuk mengumpulkan uang untuk membeli sebuah tempat tinggal.

Rumah sempit itu sangat sepi, tak ada Namjoon di manapun. Ketika berjalan melewati dapur, Jackson melongo karena begitu berantakan dan kotornya di sana. Cucian piring telah menumpuk dengan bungkusan makanan yang berserakan begitu saja.

Untung saja ia sudah hafal betul siapa itu Namjoon. Kalau tidak, mungkin sekarang ia telah memenjarakan orang itu dan menghukum mati Namjoon. No, itu terlalu kejam.

Satu-satunya tempat yang belum Jackson pastikan adalah ruangan di dekat kamar utama. Itu adalah ruangan pribadi milik Namjoon. Pertama kali mereka membeli rumah, ruangan itu kecil dan hanya dipakai untuk penyimpanan baju dan barang-barang lain. Tapi kemudian Namjoon memutuskan untuk menempati ruangan itu sebagai ruangan pribadi sekaligus tempat tidurnya. Mereka memang sudah biasa tidur di ranjang yang sama sejak dulu. Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Tapi karena Namjoon sangat sibuk sekali−saat ia masih jadi polisi−pria berlesung pipi itu ingin memiliki kamarnya sendiri. Katanya, agar bisa lebih berkonsentrasi. Padahal ketika Jackson mengintip beberapa kali untuk memastikan apakah alasannya itu benar, Namjoon selalu tertangkap tengah tertidur dengan bantal penuh air liur. Ewwhh.

Jackson membuka pintu ruangan itu dengan perasaan tak enak hati. Sedang melakukan apa Namjoon sekarang? Apakah dia sedang mengerjakan sesuatu? Atau mencari lowongan kerja?

Perlahan Jackson membuka pintunya.

Kedua mata Jackson langsung mendadak juling ketika mendapati Namjoon tengah merebahkan tidurnya sembari mengemut permen dengan keadaan kamar yang seperti kapal pecah. Baju, celana, bungkus rokok, bungkus ramyun dan sesuatu yang aneh bertebaran di atas karpet kecil bergambar pokemon.

Jackson sebenarnya heran kenapa Namjoon bermimpi menjadi seorang polisi dulunya. Dan ia bertambah heran karena kemalasan Namjoon sekarang malah semakin parah sekali.

Dengan kesal Jackson melempar sebuah map berwarna biru yng sedari tadi ia bawa pada Namjoon, tepat mengenai perut pria yang sekarang sedikit membuncit itu. Namjoon terlonjak kaget, namun langsung meraih map biru itu dan memandang Jackson yang sekarang tengah memasang wajah datar.

"Apa ini?" tanyanya bingung seraya mengangkat map itu

"Berkas yang kau inginkan kemarin. Aku bersusah payah memohon pada Tuan Jang untuk mencari info tentang orang yang kau cari. Dan kau membalasnya dengan menghancurkan rumahku?!"

Cengiran lebar Namjoon adalah jawabannya. "Aku 'kan sahabatmu, Jackson. Lagipula ini juga rumahku"

"Aku heran kenapa aku mau saja membantumu untuk melakukan hal seperti ini. Kalau bukan karena hutang balas budi, aku tidak sudi melempar diriku sendiri ke kandang harimau" gerutu Jackson kesal

"Kau memang sahabatku yang terbaik" Namjoon memandang Jackson dengan mata berbinar-binar

Jackson mendecih, pria berambut hitam itu memutuskan untuk keluar dari kamar berbau busuk dengan menutup pintunya kencang sekali. Tapi Namjoon masa bodoh, ia lebih memfokuskan dirinya pada map biru yang sekarang tengah ia genggam. Sembari membenarkan posisi duduknya, Namjoon mulai membuka map itu.

Mata sipitnya bergerak membaca setiap informasi yang ada di lembaran kertas berwarna putih yang sedikit kotor. Mungkin karena debu.

"Jeon Jungkook, 21 tahun. Pernah bersekolah di Seoul High School. Juara sekolah saat kelas 10. Mengikuti program pertukaran pelajar di Tokyo saat kelas 11. Huh, kenapa tidak ada keterangan setelah ini? Dia menghentikan sekolahnya?" Namjoon bergumam sendiri saat tak ada satu keterangan pun tentang kelanjutan pendidikan Jungkook

"Pewaris tunggal Jeon's Inc. Riwayat kesehatan, tidak ada penyakit. Ibunya menghilang saat umurnya masih 5 tahun"

Namjoon menaikan salah satu alisnya dan menggigit keras permen yang berada di dalam mulutnya. "Tsk! Informasi macam apa ini, kalau hanya ini aku juga bisa mencarinya sendiri... tapi aku malas"

Jari-jari besarnya memutuskan untuk membuka lembaran lain yang masih tersisa. Lembaran itu berisikan sebuah foto. Namjoon menerawang ke atas langit-langit kamarnya sebentar. Merasa tidak asing dengan wajah yang ada di foto itu.

"Orang ini..."

.

.

"Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri! Dia berdiri di depan kumpulan foto Taehyung! Dia pasti akan melakukan sesuatu yang membahayakan pada Taehyung!" tutur Yoongi dengan nada khawatir, setelah pulang dari acara menguntitnya, ia langsung datang ke kedai Hoseok saat Hoseok memberitahukan padanya kalau Jimin dan Jungkook berada disana sejak tadi. Tanpa berpikir dua kali, Yoongi langsung bergegas kesana dan sedikit berteriak heboh saat menginjakan kaki di kedai.

Hoseok langsung mengajak ketiga sahabatnya itu untuk naik ke kamarnya agar Yoongi bisa leluasa bercerita. Ia bisa-bisa dipecat oleh Ayahnya sendiri kalau membuat keributan di kedai.

Jimin langsung berdiri dan mengacung-ngacungkan jari telunjuknya pada Yoongi, lalu Jungkook dan Hoseok. "Benar 'kan apa kataku, si Myungsoo tukang perayu itu berbahaya! Aku pernah melihatnya berjalan mencurigakan di lorong, dan berhenti di depan loker Taehyung lalu memasukan seuatu yang aku tidak tahu itu apa. Saat aku mendekatinya dia gelagapan dan berkata itu hanya cokelat, tapi aku tidak percaya karena wajahnya tidak seperti orang yang akan memberikan hadiah kejutan! Dia juga selalu memasang seringaiannya ketika memandang Taetae! Aku benar 'kan, aku benar 'kan?!"

Jungkook menelan ludahnya dengan gusar. Hatinya sangat panik ketika mendengar cerita Yoongi tentang Myungsoo. Hoseok yang memang pada dasarnya orang heboh langsung ikut berdiri dan mondar-mandir sembari mengatakan;

"Ini gawat, kita harus menjauhkan Taetae darinya. Ini gawat, kita harus menjauhkan Taetae darinya. Ini gawat, kita harus menjauhkan Taetae darinya. Ini gawat, kita harus menjauhkan Taetae dari−"

Drrrtt... drrrrttt...

Jimin, Yoongi dan Hoseok langsung menatap ponsel Jungkook yang ada di atas meja kecil yang berada di sisi ranjang Hoseok. Ketiga orang itu langsung menyerbu Jungkook kala Jungkook menjawab sebuah panggilan tanpa nama yang masuk ke ponselnya.

"Halo?" Jungkook yang pertama memulai karena tak ada suara apapun selain desahan nafas yang tedengar

"Aku sangat tersanjung karena kau mau menerima panggilanku, Tuan Jungkook" suara dari seberang sana terdengar, bibir Jimin berkomat-kamit

"Ini suara Myungsoo. Ini suara si setan perayu itu" bisik Jimin

Terdengar sebuah tawa dari sana. Tawa yang sama persis seperti tawa orang gila.

"Siapa kau?" Jungkook bertanya, meskipun ia sudah tahu siapa

"Kau bertanya siapa aku? Ah, aku memang tidak terkenal, jadi rasanya tidak terlalu menyakitkan ketika kau sama sekali tidak mengenalku"

Jungkook mengernyitkan dahinya ketika nada suara itu terlihat seperti nada badut yang menyeramkan. Tawa terus terdengar, hampir saja membuat Jungkook berspekulasi bahwa orang ini sangat gila. Dan memang sangat gila.

Tapi kemudian suaranya kembali terdengar dengan nada dingin. "Aku Kim Myungsoo"

"Mau apa kau menelponku?" nada Jungkook masih tenang, meskipun ia sebenarnya panik juga

"Nah, kau memang sangat tidak suka berbasa-basi ya, Tuan Jungkook. Aku sebenarnya ingin sekali bermain kata denganmu dulu. Tapi sepertinya kau penasaran sekali"

"Cepat katakan apa yang kau mau!"

"..."

Hening. Tak ada suara. Jungkook mengecek ponselnya untuk memastikan apakah panggilan itu masih tersambung atau tidak. Tapi kemudian suara yang paling ia dan yang lain kenal itu terdengar.

"Jjungkook, ttolongh! Tolong akuhhmpphh!"

"Taehyung?!" seru keempat orang itu bersamaan

Lagi, suara tawa itu kembali terdengar. "Jeon Jungkook, pujaan hatimu ada bersamaku sekarang"

"Brengsek! Apa yang kau mau bedebah!"

"Calm down, aku hanya ingin bermain-main denganmu. Kau mau mengikuti aturan mainnya 'kan?"

"Sialan! Kau bedebah sialan!"

"Minggu. Kau punya waktu tiga hari untuk menebusnya. Jika kau tidak datang juga, Kim Taehyungmu, tidak akan bisa kau temui lagi. Ah, aku juga akan bermain sebentar dengan bidadarimu ini, kau tidak keberatan kan? Aku berharap kau tidak datang terlalu cepat, jadi aku bisa menikmati milikmu lebih lama. Selamat tinggal, Jeon Jungkook"

Pip. Sambungan itu terputus.

Nafas Jungkook memburu, amarahnya memuncak. Suaranya berdesis. "Sialan kau, Myungsoo. Kau ingi bermain denganku, huh? Lihat saja siapa yang nanti akan mati di bawah kakiku"

Jimin menelan ludahnya saat mendengar suara Jungkook. Yoongi langsung meraih ponsel Jungkook dan mengecek nomor yang tadi Myungsoo pakai untuk menghubungi lelaki itu. Dan Hoseok, tetap dengan segala kehebohannya.

"TAETAE MANISKU DALAM BAHAYA!"

.

.

.

.

T B C

Semakin tidak jelas, rite? I know. Maafkeun/nangis di pojokan/

4 chapter lagi fic ini akan tamat. Well, gue sangat tersanjung karena masih ada yang tetap bertahan untuk terus membaca cerita ini. Maaf, gue ga bisa bales satu-satu review kalian. Kesibukan gue ga bisa di ajak damai/cry. Tapi gue tetep baca review kalian kok, meskipun cuma pendek-pendek, gue tetep terenyuh. But, gue suka yang 'panjang' guys/kedip-kedipin mata/

And, sorry for too late update. Pas barusan liat youtube dan nyari BTS tiba-tiba inget sama fic gue dan ternyata belom di update. Harusnya minggu kemaren itu gue update 'kan ya? Euhhh maapin gue guys, gue bener-bener ga sempet, bahkan buat fangirlingan pun tak ada waktu. Untuk chap 7, gue ga bisa janji juga akan update seperti sebelumnya, pekerjaan semakin memborbardir hidup gue π_π

Terimakasih untuk semuanya. Sampai jumpa di chapter berikutnya!

Review, ne?^^