Perhatikan tanda Flashback
.
.
Chapter 7
−My Son
Aku siap mati kapanpun, hanya saja beri aku waktu untuk merajut kenangan bersama putra kesayanganku.
.
.
Seokjin menatap penuh khawatir pada Jungkook yang sekarang tengah berdiri di balkon apartementnya. Lelaki yang lebih muda darinya itu menghubunginya tiba-tiba dan meminta dirinya untuk cepat-cepat datang menuju apartementnya yang tidak begitu jauh dari kantor. Ketika Seokjin datang, keadaan apartement yang biasanya terlihat rapi itu mendadak hancur. Sofa terbalik, foto dan lukisan yang pada awalnya tergantung itu jatuh dan berserakan di lantai. Seokjin sempat berpikir kalau ini memang bagian dari amukan Jungkook.
Tapi melihat lelaki itu hanya diam di balkon dan memintanya untuk datang cepat. Rasanya ada sesuatu yang aneh. Apakah ada perampok yang datang? Tapi jika iya pasti barang-barang berharga milik Jungkook sudah tak ada sekarang. Sedangkan semua itu masih ada dan hanya tercecer dimana-mana.
"A—apa yang terjadi?"
Tubuh Jungkook berbalik. Seokjin terperangah ketika mendapati wajah itu basah dengan kedua matanya yang memerah.
"J—jungkook, ada apa denganmu? Kenapa seperti ini?!" Seokjin langsung menahan tubuh Jungkook yang hampir limbung
Jungkook tak bersuara. Matanya meneteskan liquid bening yang membuat Seokjin semakin tak mengerti dan juga panik. Sebenarnya apa yang telah terjadi hari ini? Ia tahu Jungkook sedikit bermasalah dengan Taehyung, adiknya. Tapi apakah ini memang ada kaitannya dengan Taehyung?
Ah, ngomong-ngomong tentang adiknya itu, ia sama sekali belum mendapatkan pesan. Biasanya Taehyung akan mengiriminya pesan saat sore, menandakan bahwa ia sudah pulang. Mungkin ia pergi bersama teman-temannya yang lain, pikir Seokjin mencoba untuk tetap berpikir positif. Lagipula Taehyung juga sudah besar.
"Seokjin hyung"
"Ya Jungkook, ceritalah padaku" Seokjin mengusap lembut puncak kepala Jungkook
"Kau sudah sangat dekat dengan Ayah 'kan?"
Seokjin terdiam sebentar. Ia berdeham pelan, "Ya. Lagipula aku memang asisten pribadi Ayahmu. Sudah pasti aku dekat. Ada apa?"
"Bisakah kau ceritakan padaku apa yang pernah Ayah lakukan dulu?"
"M—maksudmu? Ayahmu punya banyak cerita, Jungkook"
Jungkook mendongakkan kepalanya. Dan warna hitam pada bola matanya itu semakin terlihat pekat, Seokjin hanya mendapati kegelapan disana. Tanpa cahaya. Tanpa sinar.
"Apa yang telah dia lakukan dulu pada Kim Namjoon?"
Dan Seokjin hanya bisa terkejut. Terlalu terkejut mendapati fakta bahwa Jungkook bertanya perihal itu.
Karena Jeon Junghwan memang pernah menghancurkan hidup seorang Kim Namjoon.
.
Flashback On
.
"Kau memang hebat, Namjoon. Aku akan memberimu hadiah setelah kita pulang nanti. Kau ingin mampir untuk makan sesuatu?" Junghwan bertanya pada sosok pemuda yang berjalan beriringan dengannya
"Tidak perlu paman, kurasa aku sudah terlalu merepotkanmu hari ini" Namjoon menolak halus penawaran Junghwan. Meski ia sebenarnya memang sedang ingin sekali memakan semangkuk ramyun yang sangat pedas. Tapi ia masih tahu diri.
Junghwan tertawa. Pria tampan yang berwibawa itu menggelengkan kepalanya dan kembali mengajak Namjoon untuk mampir sebentar ke kedai ramyun favoritnya. Namjoon tentu saja tidak bisa menolak.
"Omong-omong, ku dengar kau sudah mendaftarkan diri menjadi polisi"
"Ya"
"Aku sangat terkejut. Karena kupikir kau sama sekali tidak akan menanggapi pendapatku. Kau memang punya masa depan dibagian kepolisian, Namjoon"
"Tapi kemampuanku masih kurang. Dan rasanya sedikit tidak mungkin"
Junghwan menepuk pelan puncak kepala Namjoon. "Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, Namjoon. Kau mempunyai impian yang tinggi. Kau mempunyai kemampuan yang bahkan sangat luar biasa. Kau jenius. Dan aku akan membantumu untuk mendapatkan apa yang kau raih"
Namjoon terdiam. Junghwan tersenyum.
"Hubungi aku jika kau sudah meraihnya"
.
.
"Aku ucapkan selamat padamu, Namjoon. Kau sudah mendapatkan jabatan impianmu itu. Kerja kerasmu selama ini tidak sia-sia."
"Paman Junghwan, aku sangat berterimakasih padamu. Kalau bukan karena kau, aku pasti tidak tahu akan jadi seperti apa. Terimakasih banyak" ucap Namjoon berkali-kali, ia membungkuk hormat pada Junghwan yang tengah berdiri di hadapannya
Junghwan mendatangi kantor kepolisian dimana saat ini Namjoon sudah resmi menjadi salah satu anggota polisi di daerah Seoul. Junghwan tersenyum bangga, ia menggendong Jungkook yang terlihat tidak mengerti.
"Tidak perlu seperti itu, Namjoon. Aku memang sudah seharusnya membantumu. Jungkook, beri ucapan selamat pada Namjoon hyung"
Jungkook mengangguk cepat, "Selamat ya, Namjoon hyung. Hyung tampan sekali pakai seragam itu"
Namjoon tersenyum haru. Ia tidak tahu harus bagaimana membalas budi pada Junghwan. Selama ini Junghwan sudah membantunya dalam segala hal. Karena ekonomi yang kurang, Namjoon memutuskan untuk mencari pekerjaan meskipun ia masih sekolah. Tapi ia kemudian bertemu dengan pria bermarga Jeon itu di sebuah gang dimana Junghwan tengah diserang oleh beberapa orang yang katakanlah preman kampungan.
Semenjak itu Junghwan selalu mendatanginya. Memberinya beberapa uang untuk keperluan hidup. Membiayai sekolah hingga memberinya pelatihan khusus untuk menjadi seorang polisi.
Ia akan membayar itu semua nanti.
.
.
Night
Namjoon membuka seragam polisinya. Ia baru saja menyelesaikan berkas melelahkan yang sudah sangat menguras pikiran dan tenaga. Beberapa teman polisinya memberi salam pada Namjoon saat Namjoon melewati mereka untuk menuju tempat parkir. Ia akan pulang lebih cepat karena ia sudah berjanji pada adik perempuannya yang paling kecil bahwa ia akan membawakan satu paket cokelat.
Namjoon bersiul di sepanjang gang menuju rumahnya. Kacamata hitamnya ia lepas tatkala membuka pagar yang terbuat dari besi itu.
Tapi, setelah melihat apa yang ada di depan matanya, Namjoon berharap ia buta.
Isi rumahnya penuh dengan darah, tubuh Ayah dan Ibunya tergeletak di lantai tepat di depan tubuh adik kecilnya yang menunduk. Namjoon hanya melihat darah disana. Jantungnya berdebar keras, dadanya sesak dan matanya panas.
Setelah itu, Namjoon jatuh dengan mengeluarkan teriakan pilu yang mengadu.
.
.
Afternoon
"Anda yakin akan melakukannya, Tuan Jeon?"
Junghwan menghela nafasnya, ia melirik foto mendiang istrinya yang terpajang rapi di sudut ruangan dekat sebuah jam. Seorang pria paruh baya berdiri di belakang tubuh gagahnya.
"Lakukan. Lenyapkan mereka yang bisa saja menghancurkan reputasiku"
"Tapi, keluarga Kim adalah—"
"Aku tahu. Karena itulah aku ingin kau melenyapkan keluarganya. Namjoon adalah seorang polisi, meski ia bisa ku peralat, ia tetap seorang polisi yang tak bisa menyembunyikan seorang penjahat begitu saja"
Pria paruh baya itu terdiam.
"Malam ini. Habisi semuanya sebelum Namjoon pulang"
"Baik"
Dalam hati, Junghwan berbisik, meminta maaf pada Namjoon atas apa yang akan dia lakukan. Jika Namjoon akan datang membunuhnya, Junghwan siap.
.
Flashback Off
.
"B—bagaimana Kim Namjoon tahu bahwa yang membantai keluarganya adalah Ayahku?" Jungkook bertanya, ia tak habis pikir kenapa Ayahnya tega melakukan itu setelah ia membantu Namjoon untuk meraih impiannya.
"Karena Namjoon tahu semua yang telah Ayahmu lakukan. Dari mulai transaksi ilegal, korupsi yang telah ia lakukan, sabotase dan yang lain. Namjoon tahu itu, tapi sebagai balas budinya ia menyembunyikan perihal itu dengan baik. Nama Ayahmu tetap bersih. Tapi, saat kau pergi ke Jepang, sabotase yang pernah Ayahmu lakukan terkuak. Dan Junghwan berpikir bahwa meskipun Namjoon berada di pihaknya, itu tak menjamin."
Jungkook tak habis pikir dengan Ayahnya itu. Bagaimana bisa Ayahnya tega membantai sebuah keluarga hanya karena anak dari keluarga itu adalah polisi dan ia takut semua rahasai gelapnya itu terbongkar.
"Kenapa harus membantai?! Tidakkah dia punya cara lain?!"
Seokjin diam. "Itu jalan terakhir. Akan lebih baik kalau Namjoon membencinya dan menaruh dendam pada Ayahmu"
Persimpangan empat muncu di dahi Jungkook. "Apa?"
"Lagipula, Ayahmu hanya tidak ingin nama Namjoon ikut kotor karena telah menyembunyikan rahasia gelapnya padahal Namjoon adalah seorang polisi, yang sudah seharusnya menangkap penjahat sepertinya"
Jungkook semakin tidak mengerti.
"Orang jahat tak sepenuhnya hidup seperti penjahat, Jungkook"
.
.
Jimin menatap penuh harap pada seorang polisi bertubuh ideal yag sekarang tengah merokok di depannya. Kesampingkan dulu perihal ia yang sangat membenci asap rokok, ia sedang benar-benar butuh bantuan polisi yang wajahnya sangat tampan ini.
"Ayolah, polisi Wu, saya benar-benar membutuhkan bantuan Anda. Teman saya telah diculik seorang psikopat. Anda harus menyelamatkan teman saya, polisi Wu, saya mohon"
Polisi bernama lengkap Kris Wu itu melirik Jimin malas, meski sebenarnya tatapan tajamnya itu menyiratkan banyak makna. Well, mendapati ada bocah dengan wajah imut yang memohon dengan suara yang begitu menggoda itu membuat Kris menahan segala gejolak gairahnya.
Apalagi ada seorang bocah lain yang menatapnya dengan tatapan membunuh yang datang bersama dengan lelaki mungil yang sangat imut dan manis ini. Tidak lupa bocah lain yang malah sedang menyusut ingusnya yang terus menangis tanpa henti.
Itulah kenapa Kris menganggap mereka bocah walaupun ia tahu mereka itu para mahasiswa. Well, dia jenius. Remember that.
"Polisi Wu~" kali ini Jimin memberi tatapan mautnya yang sukses membuat Kris terbatuk asap rokoknya sendiri
"Polisi yang bertugas untuk menangkap penculik sedang tidak ada disini" Kris berucap malas
"Lalu kau itu apa? Pengemis yang menyamar menjadi polisi?"
Lagi-lagi Kris terbatuk karena tertohok keras karena perkataan yang diucapkan oleh bocah berkulit putih yang sepertinya menaruh benci padanya.
"Aku polisi lalu lintas. Enak saja kau bilang aku pengemis"
"Lalu dimana polisi yang bertugas untuk menangkap polisi itu" Jimin kembali bertanya dengan nada polos, Yoongi sempat berpikir Jimin hanya sedang akting supaya polisi mesum itu membantunya
"Polisi yang biasanya bertugas sudah mengundurkan diri. Dan polisi lain menangani kasus lain. Kau bisa meminta bantuan polisi yang ada di daerah lain"
"Maksudmu hiks Kim Namjoon?" Hoseok bersuara
"Ya. Kalian pintalah bantuan dari dia, walaupun sudah mengundurkan diri mungkin dia bisa membantu kalian"
Jimin mengangguk mengerti. Ia kemudian meminta alamat Namjoon pada Kris—Polisi dengan rambut pirang itu dengan tidak tahu malunya malah membubuhkan nomor ponselnya di belakang kertas itu, serta meminta Jimin untuk menghubunginya yang tentu saja Jimin iyakan—dengan mata tajam Yoongi mengawasi semua tindakan Kris yang sangat tidak mencerminkan seorang polisi.
Apa perlu seorang polisi melakukan kedipan-kedipan menjijikan pada masyarakat yang membutuhkan bantuan?
"Semoga kalian bisa menyelematkan teman kalian!" seru Kris saat ketiga makhluk menggemaskan itu—Yoongi tidak termasuk—menjauh dari mejanya
"Aku benar-benar tidak percaya kalau pria itu polisi" Hoseok bergumam
"Dia itu pengemis mesum yang menyamar" ini suara Yoongi
"Oi! Aku dengar itu bocah!"
Dan Yoongi hanya mengangkat bahunya tak peduli.
.
.
Junghwan menatap sendu pada deretan foto yang tersimpan rapi di atas meja kerjanya. Fotonya dengan Soyeon saat mereka masih berpacaran, lalu foto pernikahan mereka, foto saat Jungkook pertama kali lahir, foto Jungkook saat memegang sebuah piala dan foto istrinya sebelum pergi.
Sebenarnya, kalau ia boleh jujur untuk sehari saja, ia ingin bertemu Jungkook dengan baik. Tanpa ada tatapan benci yang terarah dari mata anaknya itu. Tanpa ada pembicaraan tak mengenakan yang ada di antara mereka.
Junghwan ingin ada pembicaraan yang normal, entah itu tentang tempat liburan impian atau pembicaran antara Ayah dan Anak, seperti keluarga lainnya.
Junghwan tahu kesalahan sepenuhnya ada padanya. Jungkook membencinya adalah sesuatu yang wajar. Tapi ia cukup lelah menjadi musuh terbesar bagi anaknya sendiri. Perkembangan Jungkook tak sepenuhnya ia tahu. Mungkin ia terlihat baik, tapi bagaimana kesehariannya? Bagaimana ia makan? Bagaiamana ia minum? Siapa saja temannya?
Suara gaduh terdengar dari luar ruangannya. Junghwan berdiri. Dan bergegas membuka pintu untuk melihat ada kejadian apa di malam-malam begini.
Pria yang masih terlihat tampan itu memakai kacamatanya saat mendapati beberapa anak buahnya tengah bertarung dengan seseorang yang tak terlihat dengan jelas. Karena cahaya yang minim dan mata minusnya.
Salah satu anak buahnya mendekati Junghwan, wajahnya panik.
"Ada apa?"
"Tuan—Tuan lebih baik bersembunyi. Kim Namjoon datang"
Kedua mata hitam Junghwan mebelalak. Jadi, Namjoon datang untuk membunuhnya hari ini? Tidakkah waktu ingin memberinya sedikit jeda?
Ketimbang memilih untuk pergi, Junghwan malah bergerak untuk mendekati keributan itu—mendekati Namjoon. Anak buahnya yang tadi mengikuti Junghwan dengan panik, takut akan terjadi apa-apa pada tuannya.
"Kim Namjoon, kau datang?"
Suara ribut itu langsung berhenti. Namjoon, yang memakai pakaian serba hitam langsung menegapkan tubuhnya. Wajahnya tak begitu jelas karena tertutup sebagian oleh topi yang ia pakai. Dengan pelan, Namjoon melangkah mendekati Junghwan yang berdiri dengan pakaian jas kerjanya yang belum sempat diganti.
"Aku datang" suara rendah Namjoon terdengar setelah keheningan sempat melanda
"Aku sudah lama menanti giliranmu"
"Kau bajingan!"
Junghwan tersenyum. Dan Namjoon semakin benci padanya.
"Kau sudah mempersiapkan segalanya?"
"Nyawaku sudah ku persiapkan! Tapi sebelum itu, aku akan membunuhmu lebih dulu!"
"Kau cukup berani, Namjoon. Aku tahu kau pemberani"
Namjoon berdecih, "Jelaska padaku apa yang telah kau lakukan! Jelaskan!"
Junghwan membenarkan letak kacamatanya. "Aku telah membunuh semua keluargamu. Itu adalah salah satu langkah menuju kesuksesanku. Seharusnya aku juga membunuhmu, tapi tidak ku lakukan karena aku sudah menganggapmu sebagai anakku sendiri"
"Persetan dengan semuanya! Kau bajingan keparat!"
"Aku memang bajingan. Kau padahal tahu itu 'kan? Apalagi yang kau harapkan, Namjoon? Selama ini kau telah menyembunyikan penjahat yang sebenarnya"
Namjoon terengah karena amarah. Junghwan tetap tenang, seakan-akan ia sudah siap jika harus mati hari ini di tangan pemuda yang memang sudah ia anggap sebagai anak sendiri. Perlahan tangan kanan Namjoon mengangkat senjata pistol yang ia bawa. Mengarahkannya tepat pada dada Junghwan yang bidang.
Namjoon tidak takut. Tapi tangannya gemetar. Sekelebat bayangan kebaikan yang pernah Junghwan berikan padanya terlintas. Melihat Junghwan seakan melihat wujud ayahnya sendiri.
Dan apakah ia tega menembaknya?
Junghwan memejamkan matanya sebentar. Lalu kemudian tersenyum pada Namjoon, berharap Namjoon akan mengenang senyumnya dengan baik.
"Tembak aku. Kim Namjoon"
.
.
.
.
T B C
Sorry for too late update and typo(s). I hope you all like this chap. Please, give me a support((=
